"A, mau pergi ke mana lagi?!"
"Aku mau main lah. Kenapa? Mau ikut? Udah, diem di rumah, malu-maluin aja!"
Adwi yang selalu pulang larut itu, malam ini kembali pergi meninggalkan Anjani di rumahnya. Anjani mencoba melarang Adwi untuk tidak terlalu sering meninggalkan dirinya sendirian, meskipun di rumah ada Mamih dan Bapak, tapi Anjani hanya ingin ditemani oleh Adwi seorang.
Sebelumnya Anjani pernah berkata kepada Adwi, jika Adwi tetap saja keluar malam-malam, Anjani juga akan ikut keluar malam. Tapi, Adwi yang mendengar ancaman dari Anjani itu malah memarahi Anjani. Apa kata orang-orang jika seorang perempuan yang sudah bersuami keluyuran malam-malam.
Karena merasa bosan di rumah terus, Anjani pergi ke rumah tetangganya untuk sekedar mengobrol.
"Anjani, emang Adwi nya kemana?" Tanya salah seorang tetangganya.
"Gak tau Teh, tadi sih pergi, tapi Aa gak bilang mau kemana." Jawab Anjani.
Saat Anjani sedang asyik mengobrol di rumah tetangganya, tiba-tiba seorang ibu-ibu datang menghampiri mereka.
"Eh.. Anjani, itu si Adwi gak kamu larang apa?" Ucap ibu-ibu itu.
"Maksudnya Bu? Larang apa ya? Aku gak ngerti," Anjani kebingungan, apa sebenarnya yang sedang dibicarakan oleh ibu itu.
"Itu, si Adwi lagi nyawer di panggung!" jawab ibu itu.
"Maksudnya A Adwi lagi nyawer di acara dangdutan Bu?" Anjani merasa tidak percaya.
"Ya iya, masa kamu gak tau sih? Dari dulu kan kelakuan si Adwi emang kayak gitu! Masa kamu yang udah jadi istrinya gak tau?"
Anjani merasa terkejut, ia baru tahu jika Adwi memang seperti itu.
'Masa sih A Adwi orangnya kayak gitu?' Anjani masih tidak percaya.
Darpiada mempercayai omongan orang lain, Anjani lebih memilih untuk menentukan penilaiannya sendiri dengan mencari tahu kebenarannya dari si pelaku. Lantas, setelah Adwi pulang, Anjani langsung bertanya terlebih dahulu kepada Adwi.
"A, denger-denger, Aa suka nyawer artis di panggung ya?" Tanya Anjani kepada Adwi.
"Iya, kenapa emang? Kamu mau larang larang aku lagi?! Udah, kamu diem aja, lagian mana mungkin artisnya naksir sama aku!"
Meskipun hanya melakukan saweran, tapi Anjani merasa dikhianati. Karena, saat itu Adwi lebih memilih menghabiskan waktu dengan para biduan cantik dibandingkan dengan dirinya. Kedua pengantin baru itu berselisih, berlainan pendapat tentang masalah yang terjadi.
Anjani pikir Adwi tidak memedulikan dirinya dan hanya terus bersenang-senang dengan orang lain di luaran sana. Sedangkan Adwi, ia merasa dikekang dan dipaksa harus tetap tinggal di dalam rumah. Meskipun Adwi sering mendapat aturan dari Anjani, ia sama sekali tidak peduli.
Sejak saat itu, selalu terjadi pertikaian diantara keduanya. Anjani yang selalu tinggal sendirian di kamar hanya bisa memandang 4 sisi dinding kamarnya.
Terlihat gambar wanita bersayap yang terlukis di atas dinding. Lukisan itu terlihat vulgar dan dilukis dengan sangat cantik.
Anjani yang merasa kesepian itu juga ingin sedikit melukiskan isi hatinya. Tapi, saat ini tidak ada seorangpun yang bisa mendengarkan isi hatinya itu. Anjani bangkit dari kasurnya, ia mengambil sebuah pulpen dan mulai menyiratkan isi hatinya kepada dinding kamar yang saat ini sedang menemaninya.
Hari-hari berlalu, coretan-coretan yang ada di dinding sama sekali tidak pernah dihiraukan oleh Adwi. Anjani pikir dirinya memang sudah terlalu mengekang Adwi, mungkin jika ia berbicara secara halus, Adwi juga akan mengerti.
Mulai hari itu, perselisihan tak lagi terdengar diantara keduanya. Karena Adwi tetap keras kepala, terpaksa Anjani mengalah dan meyakinkan dirinya bahwa Adwi tidak akan berbuat yang macam-macam.
Istri yang penyayang itu selalu siap sedia mengerjakan pekerjaan rumah maupun membantu pekerjaan Adwi. Anjani rasa, ia sudah cukup ditemani oleh Adwi walau hanya di siang hari saja. Mereka menjalani hubungan yang harmonis, meskipun dalam lubuk hati, Anjani masih merasa berat membiarkan Adwi keluyuran tidak jelas.
Terkadang, Anjani dan Adwi berpindah tempat ke rumah Emak dan Abah yang ada di kampung. Mereka semua menyambut baik kedatangan Adwi dan Anjani.
Anjani dan Adwi yang tidak memiliki tempat tinggal itu sering berpindah-pindah dari kota ke kampung dan dari kampung ke kota.
Tapi, lama kelamaan Emak dan Abah yang rumahnya ikut ditumpangi itu merasa kesal. Selama ini Anjani dan Adwi yang sudah menikah hanya terus hidup menumpang kepada orang tuanya. Lantas, keduanya tak lagi tinggal di kampung, mereka pindah ke kota dan masih tinggal di rumah milik orang tuanya Adwi.
Suatu hari, Anjani merasa pusing, dan perutnya terasa kram seperti saat sedang haid. Tapi, saat itu Anjani sudah lama tak mendapati darah haid muncul dari organ intimnya.
"A, aku ngerasa gak enak badan deh," ucap Anjani kepada suaminya.
"Kamu kenapa?" Tanya Adwi merasa khawatir.
"Perut aku A, sakit, gak biasanya. Kayaknya aku hamil A." Anjani memegangi perutnya yang terasa kram itu.
"Hah? Yaudah kita harus cepet-cepet ke dokter."
Adwi segera membawa Anjani pergi ke dokter untuk diperiksa. Dan ternyata benar saja, saat itu dokter menyatakan bahwa ada seorang anak yang berada di dalam perut Anjani. Keduanya sangat bahagia mendapat kabar baik itu. Mereka berdua langsung memberikan kabar gembira itu kepada semua keluarganya.
Dikarenakan jalanan kampung lumayan terjal, mulai hari itu Anjani tak lagi berkunjung ke kampung, ia tetap tinggal di kota dan sesekali keluarganya yang di kampung datang ke kota untuk menjenguk Anjani.
Atas berkat jabang bayi yang ada di perutnya, Anjani semakin mendapat kasih sayang dari keluarganya. Adwi pun juga begitu, ia selalu siap tanggap membantu dan memenuhi apapun yang diinginkan oleh Anjani.
"A, nanti kalo bayi ini lahir Aa mau kasih nama apa?" Tanya Anjani yang saat itu sudah mengandung selama 8 bulan.
"Mmm.. apa ya? Ah! Gimana kalo kita kasih nama Riki? Bagus kan? Gak terlalu kepanjangan." Jawab Adwi antusias. Ia belum memikirkan nama panjangnya.
"Iya A, bagus kok, aku suka." Anjani merasa senang jika Anaknya diberi nama oleh ayahnya sendiri.
"Tapi.. kalo anaknya perempuan gimana A? Itu kan nama buat anak cowok?"
"Ahh.. aku yakin kok anaknya pasti laki-laki."
"Hehe.. iya deh A."
Hingga akhirnya, tiba juga hari dimana anak itu lahir. Sore hari, Adwi langsung membawa Anjani menuju ke rumah ibu bidan. Ia terus mendampingi Anjani di samping ranjangnya.
Wajah yang sedang menahan rasa sakit yang luar biasa itu akhirnya datang pada malam bulan purnama. Di tengah malam, Anjani berhasil mengeluarkan seorang bayi yang ada di dalam perutnya.
Bayi yang lahir secara normal itu dinyatakan sehat, ia memiliki tinggi dan berat badan yang ideal. Anjani dan Adwi terkejut, melihat anak mereka yang baru lahir itu langsung membuka lebar kedua matanya. Bayi itu melirik ke sana ke mari seperti orang yang sedang memastikan dimana keberadaannya.
Tapi, tingkah lucu bayi itu membuat kedua orang tuanya tertawa. Untungnya, proses persalinan itu berjalan lancar dan mereka pun bersiap untuk memberikan nama di akta kelahirannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments