Suatu hari, Adwi mengajak Anjani untuk jalan-jalan ke luar. Ia selalu tahu saja tempat-tempat yang indah untuk dikunjungi. Hari itu mereka pergi ke danau dan tengah duduk di atas bangku yang berada di tepian danau.
"Anjani, kamu tunggu aja ya, sebentar lagi uang yang aku kumpulin pasti cukup buat biaya pernikahan kita," ucap Adwi kepada Anjani.
"Iya A, aku tunggu kok," ucap Anjani dengan senyuman.
Hubungan Adwi dengan Anjani kini sudah berjalan selama 5 bulan. Mereka mulai serius dengan hubungannya dan sudah memiliki niat untuk segera menikah. Sudah sejak lama Adwi menabung, karena sedari awal ia memang sudah serius dengan Anjani.
"Mmm.. A, kalo aku kerja ke kota boleh gak?" Anjani sudah merasa bosan tinggal di rumah.
"Gak usah, kamu diem aja di rumah. Aku kan juga sering kasih kamu uang. Kalo kamu rasa uangnya kekecilan nanti aku tambahin lagi." Ucap Adwi.
"Bukan gitu A maksudnya. Aku juga pengen ikut nabung buat biaya pernikahan kita. Kalo aku juga ikutan nabung kan uangnya pasti cepet kekumpul." Jelas Anjani.
Anjani tidak ingin diam dan menunggu Adwi yang saat ini tengah berjuang sendirian. Ia juga merasa tidak enak dengan Adwi yang selalu memberikannya uang, padahal saat itu Adwi juga harus menabung untuk biaya pernikahannya.
"Mmm... kalo itu kemauan kamu ya udah, tapi kamu gak lama kan di sana?" Adwi pikir Anjani memang benar, mungkin saat ini Anjani sudah tak sabar ingin segera dihalalkan.
"Nggak kok A, kalo uangnya udah cukup aku pasti bakalan pulang. Setelah aku pulang kita bisa nikah dan gabungin hasil tabungan kita."
"Haha.. iya, iya, padahal aku juga gak papa nabung sendirian. Tapi emang sih penghasilanku di kampung gak seberapa. Kamu hati-hati ya di sana, jaga kesehatan, jangan bikin aku khawatir."
"Iya A, aku janji."
Anjani merasa senang karena Adwi mengizinkannya untuk pergi ke kota. Saat itu Anjani juga sudah mendapat izin dari kedua orang tuanya juga. Dengan niat yang tulus, akhirnya ia pergi lagi ke kota. Ia datang kembali ke Kota Bandung untuk mencari pekerjaan.
Tak butuh waktu lama, hari itu juga Anjani yang hanya seorang lulusan SD dipercaya untuk menjaga sebuah toko baju. Di tempat itu juga Anjani disediakan tempat untuk bermalam, jadi Anjani tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar kontrakan.
Tapi, tiba-tiba Anjani merasa gelisah.
'Apa aku bisa ya jauh-jauh dari A Adwi?'
Belum semalam ia berada di sana, dirinya sudah merasa ragu dengan keputusannya itu. Mengingat dirinya harus bekerja beberapa bulan di sana, ia merasa dirinya tidak akan sanggup. Karena selama di kampung, hari-hari berharganya selalu ditemani oleh Adwi. Ia merasa resah menyadari bahwa dirinya tidak akan tahu bagaimana kabarnya Adwi.
2 hari berlalu, Anjani tentunya melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Tapi di samping itu, hatinya merasa semakin tak enak, ia tak tahan jika harus berlama-lama tinggal di kota. Malam hari itu Anjani menangis resah, ia tak mau meneruskan pekerjaannya dan ingin segera pulang.
Anjani yang tidak ingin bekerja lagi itu memutuskan untuk kembali ke kampung. Sang majikan merasa kecewa dengan Anjani, padahal baru 2 hari ia bekerja di sana. Meskipun begitu, ia tetap mengizinkan Anjani untuk pulang dan memberinya ongkos pulang.
Pagi hari nya Anjani langsung pulang menaiki bis kota. Saat itu ia pulang tanpa mendapatkan apa-apa. Padahal ia sudah berjanji untuk membantu Adwi menabung, tapi ia juga tidak bisa memaksakan dirinya.
Akhirnya setelah berjam-jam di perjalanan Anjani sampai di kotanya. Ia berniat datang terlebih dahulu ke rumah Adwi untuk mengabarinya.
"Tok.. tok.. tok.."
"Assalamu'alaikum!"
Anjani tengah berada di depan pintu rumah Adwi, saat itu ia langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tak lama seseorang datang membukakan pintu, ia adalah mamihnya Adwi.
"Eh.. Neng Anjani, sini masuk," Mamih mempersilahkan Anjani untuk masuk dan duduk di sofa.
"Abis dari mana Neng? Kok bawa-bawa tas gitu?" Tanya Mamih melihat tas pakaian yang dibawa Anjani.
"Aku abis dari kota Mih, tadinya aku mau kerja di sana, tapi tiba-tiba aja aku ngerasa gak betah, jadi aku pulang hehe.."
"Loh? Kok kamu pergi gak bilang-bilang?"
"Eh? Anjani kira A Adwi udah ngasih tau ke Mamih."
"Nggak, dia gak ngasih tau apa-apa ke Mamih."
"Gitu yaa... o iya, A Adwi nya kemana Mih?"
"Kebetulan Adwi nya lagi gak ada di rumah, kayaknya dia lagi main sama temen-temennya."
"Ohh.. ya udah gak papa Mih, aku ke sini cuma mau ngasih kabar aja kalo aku udah pulang."
"Iya, iya, nanti Mamih sampe in sama Adwi."
Setelah memberikan kabar kepada keluarga Adwi, Anjani langsung pamit dan pulang ke rumahnya. Saat menampakkan wajahnya di rumah, tentunya orang rumah terheran-heran melihat Anjani sudah kembali dengan cepat.
Tapi saat itu mereka sama sekali tidak mempermasalahkannya, justru mereka senang karena Anjani tidak jadi pergi jauh lagi.
Esoknya, tiba-tiba bibinya Adwi datang ke rumah Anjani, ia datang diantarkan oleh sopir ojeg.
Anjani dan sekeluarga menyambut ramah kedatangan calon keluarga mereka itu. Bibinya Adwi datang dengan sebuah keperluan, saat itu ia meminta Emak dan Abah untuk ikut berkumpul karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.
'Jangan-jangan A Adwi udah siap ngelamar aku?' Gumam Anjani.
Anjani merasa gugup, tumben sekali bibinya Adwi datang jauh-jauh ke sini.
"Anjani, Pak, Bu, sebelumnya saya datang ke mari mau meminta maaf," ucap bibinya Adwi sambil merapatkan kedua telapak tangannya.
"Minta maaf apa toh Neng?" Emak merasa khawatir.
"Tadi pagi ada gadis yang datang ke rumah Adwi. Gadis itu datang untuk minta pertanggung jawaban Adwi, katanya dia sudah dihamili oleh Adwi. Saya juga tidak percaya dengan hal itu, tapi saya sudah pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa kandungannya dan hasilnya benar Pak, Bu, gadis itu sudah hamil selama 3 bulan," ucap bibinya Adwi.
Mendengar penjelasan itu, air mata mulai mengalir di pipi Anjani. Sekeluarga merasa tidak percaya akan hal itu, yang mereka tahu Adwi itu adalah anak yang baik, mana mungkin ia melakukan hal seperti itu.
Dan lagi, kehamilan wanita itu sudah berusia 3 bulan. Sedangkan Adwi dan Anjani sudah menjalin hubungan selam 5 bulan. Apakah selama ini Adwi memang benar-benar sudah berkhianat?
Setelah selesai memberikan kabar yang tidak menyenangkan itu, bibinya Adwi langsung pamit untuk pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments