"Anjani!"
"Ngapain A Adwi dateng ke sini? Udah nikahnya?! Kenapa gak tinggal aja di sana dekapin!"
Baru saja Anjani masuk ke dalam rumahnya ia segera melontarkan perkataan kasar kepada Adwi yang tengah duduk di sana. Adwi yang sedang dibentak itu hanya terdiam, ia merasa malu dan tidak bisa berkata apa-apa.
Meskipun selama ini Anjani menanti-nanti kedatangan Adwi dan ia percaya bahwa itu bukan salahnya Adwi, tetapi rasa kesal karena Adwi telah berani pergi ke rumah wanita lain masih belum terobati.
Emak yang melihat Anjani bersikap kasar kepada Adwi seketika langsung menenangkan Anjani. Sudah lama Adwi duduk di sana menunggu kedatangan Anjani. Tapi saat Anjani datang, ia malah menyambut Adwi dengan perilaku buruknya.
"Teh, udah atuh, dari pagi Adwi nungguin kamu. Jangan marah-marah gitu, Adwi kan juga gak mau kejadian ini terjadi." Ucap Emak kepada Anjani.
Dengan perasaannya yang masih kesal, Anjani ikut duduk di kursi. Saat itu Emak juga ikut duduk menemani mereka.
"Mak, aku dateng ke sini mau ngelamar Anjani. Itupun kalau Anjani masih bersedia nerima aku. Kalau Anjani bersedia, aku siap buat nikahin Anjani kapanpun Anjani mau." Ucap Adwi membuat Anjani tercengang.
Sebelum Emak berbicara, Anjani langsung melontarkan sebuah pertanyaan.
"Hah?! Bukannya tabungan A Adwi masih belum cukup buat biaya pernikahan kita?"
"Bapak aku yang mau nanggung semua biayanya kok. Apa kamu masih mau nikah sama aku?"
"Mau A! Mau!"
Seketika, rasa kesal yang ada di dalam hati Anjani mulai menghilang. Anjani menerima lamaran itu dengan perasaan yang amat senang. Ia langsung merencanakan kapan dirinya itu akan menikah.
Hari jum'at, ternyata Adwi sudah menikahi wanita yang memintai pertanggung jawaban kepada dirinya itu. Setelah selesai menikah, esoknya Adwi langsung pulang ke rumah Anjani.
Anjani tak henti-hentinya merasa senang, karena sebentar lagi ia dengan Adwi akan segera resmi menjadi pasangan suami istri. Setiap hari, Anjani yang merasa gembira itu terus saja memandangi dirinya di cermin, membayangkan bagaimana penampilannya di saat hari pernikahannya.
'Akhirnya A Adwi bakalan jadi milik aku sepenuhnya.' gumam Anjani di depan cerminnya.
"Anjani, ayo ikut aku ke rumah. Mamih aku udah nunggu buat nemenin kamu belanja."
Pagi hari, Adwi datang menjemput Anjani. Karena beberapa hari lagi pernikahan mereka akan segera diadakan, sekarang Anjani akan pergi berbelanja barang-barang seserahan untuk upacara pernikahannya.
"Neng, kamu kok gak beli make up?" Mamih heran, saat itu Anjani tidak teringatkan tentang make up sama sekali.
"Aku gak pake yang kayak gituan Mih, aku gak suka."
"Loh? Tapi kan itu juga harus ada. Yaudah, kalo kamu gak tau biar Mamih yang beliin."
Saat itu mamih dan Anjani pergi ke toko kecantikan. Mamih tidak membeli peralatan make up terlalu banyak, karena Anjani tidak suka berhias, jadi ia takut jika make up nya itu tidak Anjani pakai.
Setelah selesai membeli peralatan make up, mereka pergi ke toko lain untuk membeli sandal.
"Yang ini aja Mih," Anjani memilih sandal pendek berwarna krem yang terlihat anggun jika dipakai oleh dirinya.
"Apa? Sandal apaan ini? Udah, udah, simpen. Kamu pilih sandal yang lain yang lebih bagus. Gimana nanti kata orang-orang kalo seserahannya cuma gitu doang?"
Mamih tidak menyukai sandal yang dipilih oleh Anjani. Ia langsung ikut mencarikan sandal yang bagus karena Anjani tidak pandai memilih.
"Ini, ini, coba, pas gak di kaki kamu?" Mamih membawakan sebuah sandal hitam ber hak tinggi.
Anjani lalu mencobanya dan sandal itu juga terlihat pas. Tapi ia merasa tidak nyaman karena ukuran hak nya itu terlalu tinggi. Ia juga tidak suka dengan tampilan sandalnya yang terlihat glamor.
"Mmm.. Mih, aku gak biasa pake sandal yang tinggi kayak gini, aku takut jatoh."
Anjani ragu berkata. Barang-barang yang ia pilih sama sekali tidak dihiraukan oleh Mamih. Saat itu yang berbelanja bukanlah Anjani, tetapi hanya Mamih saja.
"Aahh, udah kalo udah dibeli, beli aja, terserah nanti mau kamu pake atau enggak."
Hari itu Anjani hanya mengikuti perkataan Mamih. Menurut Adwi, Mamih itu orangnya sensitif, ia mudah sekali tersinggung, jadi Anjani tidak berani menentang kehendak Mamih.
Akhirnya, hari pernikahan Anjani dengan Adwi tiba juga. Acara pernikahan mereka gelar di kampungnya Anjani. Semua keluarga Adwi yang berasal dari kota terlihat menarik perhatian. Pakaian mahal dan aksesoris mewah menempel di setiap bagian.
"Ih, apa gak malu ya pake baju yang kayak gitu?"
"Iya ya, keliatan ngejreng banget. Udah kayak penganten aja."
"Maklum lah, orang kota."
Tamu undangan dari kampung Anjani berbisik-bisik melihat penampilan mencolok keluarga Adwi. Di kampung, mereka yang datang ke acara pernikahan biasanya selalu memakai pakaian yang sederhana. Meskipun mereka pernah melihat beberapa orang kota yang berpenampilan seperti itu di acara pernikahan, tetapi mereka merasa tidak terbiasa.
Selain itu, desas-desus yang menjelek-jelekkan nama baik Adwi dan keluarganya terus bermunculan. Mereka tidak menyangka bahwa Anjani akan terus melanjutkan hubungannya hingga sampai ke pelaminan.
Setelah Anjani dan Adwi resmi menikah, mereka tinggal di rumah Anjani untuk sementara. Anjani merasa bahagia, Adwi yang sebelumnya sempat dingin kepada Anjani sekarang mulai membiasakan dirinya untuk akur dengan Anjani dan keluarganya.
Setelah beberapa hari tinggal di sana, Adwi merasa tidak enak dan takut merepotkan mertuanya. Selain itu, ada pekerjaan yang harus ia kerjakan di kampungnya. Jadi, Adwi memutuskan untuk membawa Anjani tinggal di rumahnya.
"Mak, Anjani mau pindah ke rumahnya A Adwi." Ucap Anjani kepada emaknya.
"Loh? Kenapa?"
"Adwi takut ngerepotin Mak kalo tinggal di sini terus." Jawab Adwi.
"Ehh.. padahal kalian gak ngerepotin kok. Tapi kalo kalian pengen pindah ya sudah, seorang istri memang harus ikut kemanapun suaminya mau."
Setelah mendapat restu Anjani dan Adwi pun langsung berangkat. Karena belum memiliki rumah sendiri, Adwi mengajak Anjani untuk tinggal di rumah orang tuanya.
Mamih dan Bapak menyambut riang kedatangan Anjani dan Adwi. Setiap hari, Anjani selalu bangun pagi, ia selalu gesit mengerjakan pekerjaan rumah tanpa menunda-nundanya. Anjani tak mau merepotkan mertuanya, ia juga tidak mau jika mertuanya itu tidak menyukainya jikalau Anjani bermalas-malasan.
Karena Adwi harus mulai mengurus lagi hewan ternak miliknya, pagi dan sore hari ia pergi ke kebun dan meninggalkan Anjani sendirian. Di rumah, Anjani juga sering membantu Adwi untuk membuat gula merah yang setelah itu akan mereka jual.
"A, orang tua Aa kok bisa ngasih biaya buat pernikahan kita? Memangnya orang tua Aa dapet uang dari mana?" Anjani yang sudah tahu bagaimana masa lalu Adwi merasa heran.
"Aku juga gak tau. Bapak aku itu sebenernya emang orang berada. Selain di sini, bapak juga punya kebun di desa desa lain. Bapak selalu dapat penghasilan banyak dari kebunnya itu. Tapi bapak sama sekali gak pernah ngasih ke aku." Jawab Adwi dengan wajah biasa.
Setelah beberapa hari tinggal di sana, Anjani merasa sedih. Adwi yang setiap malam selalu berada di sampingnya, kini selalu pulang dini hari. Setiap malam, Adwi selalu meninggalkan Anjani dan pergi bermain bersama teman-temannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Robiatul Adawiyah
nah loh ketahuan sipat asli ny s adwi
2021-10-31
1