Masa Lalu Adwi 1

Di siang hari yang cerah, Adwi kecil melihat bapaknya yang sedang bersantai di depan rumah. Saat itu terlihat bapak sedang duduk di kursi teras bersama ibu tirinya. Lantas Adwi berlari menghampiri kedua orang tuanya itu.

"Pak, sebentar lagi Adwi mau masuk sekolah. Belikan seragamnya ya Pak," pinta Adwi kepada bapaknya. Saat itu usianya sudah 7 tahun, ia akan mulai masuk ke sekolah dasar.

Mendengar permintaan Adwi, Bapak tidak langsung menjawab. Ia malah menolehkan pandangannya kepada sang ibu tiri. Saat itu terlihat ibu tiri melirik tajam ke arah Bapak.

"Pakai saja yang ada! Kamu kan juga punya baju putih!" Sahut ibu tirinya yang saat itu sedang mengandung 8 bulan.

"Iya Bu," ucap Adwi dengan wajah murung.

Memang, percuma saja ia meminta. Dan kali ini ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dengan perasaan kecewa, ia langsung berbalik untuk pergi ke rumah neneknya.

Rumah Nenek sangatlah dekat, yaitu tepat berada di belakang rumahnya Adwi. Di sana Adwi bisa merasa lebih tenang tanpa melihat wajah sang ibu tiri.

Sejak Adwi berusia 2 tahun, orang tuanya bercerai dan hak asuh jatuh ke tangan bapaknya. Semenjak itu juga, Adwi sama sekali tidak pernah melihat ibu kandungnya lagi. Kata Bapak, ibunya sudah menikah dan memiliki keluarga baru.

Dulu, Adwi diasuh oleh bapak dan neneknya. Meskipun tidak memiliki seorang ibu, tapi masih ada nenek, sosok pengganti ibu yang sangat Adwi sayangi. Nenek juga sangat menyayangi Adwi, sama seperti sayangnya ibu kepada anaknya.

Tapi, semenjak Bapak menikah lagi, hidup Adwi jadi melarat. Ia seperti seorang anak yang tak mendapat asuhan dari kedua orang tuanya. Semenjak ada ibu tiri di sisinya, Bapak ikut berubah, ia sudah tak lagi menunjukkan kasih sayangnya kepada Adwi.

Adwi sama sekali tidak mengerti, mengapa ibu tirinya itu tidak menyukainya. Padahal Adwi itu adalah anak yang tampan dan menggemaskan. Adwi rasa dirinya sudah taat kepada perintah orang tuanya, dan tidak pernah melakukan kesalahan. Meskipun sekarang hidupnya susah, tapi ia tidak pernah mengeluh dan cengeng.

Saat itu pernah, Bapak memberikan Adwi uang tanpa sepengetahuan ibu tiri. Bapak tidak berani memberikan lebih karena takut oleh sang ibu tiri. Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi Adwi merasa senang mengetahui bahwa dalam lubuk hati bapaknya, ia masih menyayangi Adwi.

Tiba saatnya hari dimana Adwi akan memulai kegiatan pertamanya di sekolah. Pagi hari yang dinanti-nanti itu, Adwi sudah bersiap-siap sendiri. Memakai baju putih dan celana pendek merah layaknya seorang pelajar SD.

Tak lupa, anak yang tampan dan baik hati itu berpamitan dengan kedua orang tuanya. Lalu Adwi berangkat dengan berjalan kaki menuju ke sekolahnya. Jaraknya tidak begitu jauh, kira-kira hanya 100 meter dari rumah.

Sepanjang perjalanan, Adwi merasa dikucilkan. Teman-teman sebayanya berangkat ditemani oleh orang tuanya, tetapi saat itu Adwi berangkat sendirian.

Meskipun begitu, Adwi merasa baik-baik saja. Ia tidak meminta diantar, dan orang tuanya pun tidak menawarkan untuk mengantar. Lagi pula untuk apa diantar? Adwi yang mandiri ini sudah tahu jalan menuju ke sekolah, dan ia pastinya akan berhati-hati.

Tapi, sepanjang perjalanan, desas-desus tak henti-hentinya terdengar di telinga Adwi.

"Kasian banget ya itu si Adwi, gak diurus apa ya?"

"Iya ih, padahal orang tuanya masih muda."

Adwi merasa sedih, ia selalu saja mendengar ocehan-ocehan buruk yang membicarakan tentang kedua orang tuanya. Tapi terkadang, ada juga orang yang menyemangati Adwi. Itu membuat Adwi merasa lebih baik, ia tahu mereka berkata seperti itu karena prihatin dengan keadaannya.

Sesampainya di sekolah, semuanya masuk memilih tempat duduk masing-masing bersama orang tuanya. Adwi yang tidak bersama walinya itu mendapat bangku di bagian paling belakang.

Tak berapa lama, Ibu Guru datang dan menyuruh para orang tua untuk menunggu di luar. Sesi perkenalan segera dimulai, satu per satu murid dipanggil ke depan.

"Adwi, ke depan!" Titah Bu Guru.

Absen pertama, Adwi berjalan ke depan sesuai dengan perintah Bu Guru.

"Perkenalk..."

"Kenapa kamu tidak memakai baju seragam?! Ini tempat untuk sekolah, bukan tempat untuk bermain!"

Sebelum Adwi selesai berbicara, tiba-tiba Bu Guru berdiri dan membentak Adwi.

Di pagi hari ini Adwi sudah membuat Bu Guru marah. Saat itu Adwi memakai seragam yang tidak sesuai dengan tata tertib sekolah, ia memakai kaos putih dengan garis-garis merah.

"Hahahaha!"

Semua murid tertawa dan berbisik-bisik melihat penampilan Adwi yang berbeda.

"Lihat! Tas nya aja pake kantong kresek!" Sahut salah seorang murid.

Hati Adwi terasa sakit, padahal bapaknya adalah orang yang mampu. Sebagai seorang guru agama, bapaknya Adwi juga terkenal sebagai bandar gula. Harta kekayaannya juga luas, kebun dan sawahnya melimpah dan berada dimana-mana.

Tapi Adwi yang merasakan sakit di dadanya itu sama sekali tidak meneteskan air matanya. Saat itu ia hanya diam, percuma saja ia mengeluh, semua tidak akan berubah dan ia sudah terbiasa dengan kenyataan pahit ini.

"Anak-anak, diam!"

Bu Guru yang telah memarahi Adwi kini mengerti dan merasa sangat bersalah. Ia pikir Adwi adalah anak yang nakal, parasnya yang elok dan tampan tak menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang tidak berada. Ia merasa malu kepada Adwi anak yang tegar itu. Lantas Bu Guru memeluknya dan menyemangatinya.

Hal itu membuat seisi kelas terkejut, mereka yang tidak mengerti apa-apa dititah oleh Bu Guru untuk tetap berhubungan baik dengan Adwi.

"Adwi itu anak yang istimewa, jangan mengata-ngatai hal buruk kepadanya ya," Bu Guru tersenyum dan membiarkan Adwi untuk duduk kembali di bangkunya.

Tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu, Adwi berjalan kembali menuju bangkunya. Adwi merasa bersyukur bapaknya masih bersedia mengeluarkan biaya untuk menyekolahkannya.

Dengan menghela nafas yang panjang, Adwi menunjukkan semangat belajarnya.

Pembelajaran selesai. Adwi ingin cepat-cepat pulang untuk menceritakan kabar besar kepada neneknya. Tentunya bukan cerita tentang bagaimana ia dimarahi oleh Bu Guru. Hari ini Adwi sangat bahagia, ia bisa belajar banyak hal baru, dan perlahan murid-murid juga mendekatinya. Ia merasa senang karena mendapat teman-teman baru.

Setiap harinya, Adwi sering belajar bersama neneknya. Orang tuanya tak pernah peduli dan memperhatikan bagaimana Adwi belajar ataupun bagaimana Adwi menjalani hidupnya di sekolah. Semua pengalamannya hanya Adwi ceritakan kepada neneknya.

Hingga sampailah pada hari kenaikan kelas. Tak di sangka-sangka di tahun pertamanya ini, Adwi yang tidak disukai oleh ibu tirinya itu menunjukkan keistimewaannya. Sebagai seorang anak laki-laki, ia meraih posisi peringkat kelas pertama.

Meskipun banyak kendala yang ia alami dalam hidupnya, tapi itu semua sama sekali tidak menyurutkan semangat Adwi. Bahkan Adwi mengerti bahwa itu semua lah yang membuat Adwi menjadi lebih baik saat ini.

Raut bangga sama sekali tidak tersirat di wajah kedua orang tuanya. Bahkan ucapan selamat pun tidak pernah terucap dari mulut mereka. Meski begitu Adwi tidak akan menyerah. Jika ia tidak bisa membuat orang tuanya bangga, maka biarlah ia membanggakan dirinya sendiri. Saat ini ia akan berjuang hanya untuk dirinya sendiri.

Terpopuler

Comments

Shinta Pku

Shinta Pku

kasian nya Adwi
sinilah jadi anak aku 😂

2021-11-23

0

lihat semua
Episodes
1 Jodohku?
2 Anjani Pulang
3 Dimarahi Emak
4 Abah Yang Baik Hati
5 Adwi Ke Rumah
6 Masa Lalu Adwi 1
7 Masa Lalu Adwi 2
8 Gerakan Berjalan
9 Ke Rumah Adwi
10 Memikirkan Malik
11 Hari Sabtu
12 Pergi Ke Kota
13 Penjelasan Keluarga Adwi
14 Emak Berubah Pikiran
15 Anjani Menikah
16 Kasih Sayang Adwi
17 Peri Kecil Di Malam Hari
18 Menyerahkan Laila
19 Tinggal di Negara Orang
20 Perselingkuhan?
21 Pesta Jamuan
22 Kabar Adwi
23 Meskipun Pedih
24 Untuk Keluargaku
25 Kembali Bertemu
26 Hasil Kerja Keras Berdua
27 Kebahagiaan Yang Mulai Terbilas
28 Mulai Menyadarkan Diri
29 Terpendam
30 Menjaga Keharmonisan
31 Terhubung
32 Bertemu Laras
33 Hasil Yang Dicapai
34 Beralih Profesi
35 Pemungutan Suara
36 Kedatangan Tamu
37 Saudara Tiri
38 Merebut Cucu
39 Menemui Laila
40 Pulang
41 Tour
42 Berenang
43 Kosong
44 Sadar
45 Dipilih Kasih
46 Emak Terpeka Deh
47 Cakap Angin Saja
48 Nasib Menjadi Kakak
49 Walau Begitu Aku Peduli
50 Siapa Paling Dewasa
51 Gaptek
52 Memang Tak Sayang
53 Anak Lagi
54 Perlukah?
55 Tak Mau Kalah
56 Telpon Mantan
57 Berakhir
58 Laila Kerja
59 Dari Bawah Dahulu
60 Hilang Satu
61 Mengatur Sendiri
62 Laila Pulang
63 Menghadiri Pesta
64 Baru Terungkap
65 Cemburu
66 Begitu Rupanya
67 Lanjut Berbisnis
68 Bersikeras
69 Iseng-iseng Berhadiah
70 Bertahap
71 End
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Jodohku?
2
Anjani Pulang
3
Dimarahi Emak
4
Abah Yang Baik Hati
5
Adwi Ke Rumah
6
Masa Lalu Adwi 1
7
Masa Lalu Adwi 2
8
Gerakan Berjalan
9
Ke Rumah Adwi
10
Memikirkan Malik
11
Hari Sabtu
12
Pergi Ke Kota
13
Penjelasan Keluarga Adwi
14
Emak Berubah Pikiran
15
Anjani Menikah
16
Kasih Sayang Adwi
17
Peri Kecil Di Malam Hari
18
Menyerahkan Laila
19
Tinggal di Negara Orang
20
Perselingkuhan?
21
Pesta Jamuan
22
Kabar Adwi
23
Meskipun Pedih
24
Untuk Keluargaku
25
Kembali Bertemu
26
Hasil Kerja Keras Berdua
27
Kebahagiaan Yang Mulai Terbilas
28
Mulai Menyadarkan Diri
29
Terpendam
30
Menjaga Keharmonisan
31
Terhubung
32
Bertemu Laras
33
Hasil Yang Dicapai
34
Beralih Profesi
35
Pemungutan Suara
36
Kedatangan Tamu
37
Saudara Tiri
38
Merebut Cucu
39
Menemui Laila
40
Pulang
41
Tour
42
Berenang
43
Kosong
44
Sadar
45
Dipilih Kasih
46
Emak Terpeka Deh
47
Cakap Angin Saja
48
Nasib Menjadi Kakak
49
Walau Begitu Aku Peduli
50
Siapa Paling Dewasa
51
Gaptek
52
Memang Tak Sayang
53
Anak Lagi
54
Perlukah?
55
Tak Mau Kalah
56
Telpon Mantan
57
Berakhir
58
Laila Kerja
59
Dari Bawah Dahulu
60
Hilang Satu
61
Mengatur Sendiri
62
Laila Pulang
63
Menghadiri Pesta
64
Baru Terungkap
65
Cemburu
66
Begitu Rupanya
67
Lanjut Berbisnis
68
Bersikeras
69
Iseng-iseng Berhadiah
70
Bertahap
71
End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!