"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsallam... eh, Malik, kok kamu dateng malem-malem gini?"
"Kenapa? Kan kalo siang takutnya nanti ada pacar kamu dateng."
Malam itu Malik datang ke rumah Anjani. Terkadang Malik memang sering datang malam hari, tapi saat itu Anjani merasa khawatir karena emak dan abahnya sedang tidak ada di rumah, ereka sedang menghadiri acara pengajian malam, adiknya, Indri pun juga ikut dan di rumah hanya ada Anjani sendirian.
"Y-yaudah masuk," Anjani mencoba untuk mempercayai Malik, meskipun merasa ragu tapi ia tetap mempersilahkan Malik untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Orang rumah pada kemana An?" Tanya Malik yang duduk di kursi pendek.
"Lagi ke pengajian."
"Ohh.. An, kamu yakin mau nerusin hubungan kamu sama Adwi? Dia itu orang yang gak bener loh,"
'A-apa? Padahal tadi siang Malik bicara yang baik-baik tentang A Adwi. Dia juga ngedukung hubungan aku sama A Adwi.'
"Apa maksud kamu Mal? Kayaknya kamu beda sama yang tadi siang."
"Aku cuma gak pengen liat kamu sedih."
"Aku gak sedih kok, justru aku lebih bahagia kalo sama A Adwi."
Malik merasa heran dengan Anjani. Sebenarnya kelebihan apa yang dimiliki oleh Adwi sehingga membuat Anjani menjadi tergila-gila seperti ini.
"An, mending kamu putusin aja si Adwi, terus kamu jadian sama aku." Ucap Malik membuat Anjani tercengang.
"A-apa yang kamu bicarakan?! Kita ini teman, dan aku sama sekali nggak cinta sama kamu!"
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Anjani seketika Malik merasa kesal. Sudah berbulan-bulan ia mencoba mendekati Anjani, tapi ternyata hasilnya sia-sia seperti ini.
Malik yang merasa kecewa itu dengan cepat langsung berpindah ke kursi panjang yang sedang diduduki oleh Anjani. Jika ia tidak bisa memiliki Anjani dengan cara yang halus, maka ia akan melakukannya dengan cara yang kasar.
"Malik! Apa-apaan kamu?!" Anjani mencoba melepaskan dirinya, tapi saat itu kekuatan Malik tak bisa ia elakkan.
"Diam dan nikmatilah," ucap Malik mencoba membungkam bibir Anjani dengan sebuah ciuman.
Anjani merasa panik, saat ini di rumah tidak ada siapa-siapa. Meskipun begitu Anjani mencoba untuk berteriak.
"Emakk! Abahh!! Tolonggin aku!!"
Tak disangka-sangka, ternyata teriakannya itu mendapat sahutan dari luar.
"Tehh! Ada apa?!"
Malik yang mendengar suara seseorang dari luar langsung melepaskan Anjani dan bergegas untuk pergi.
"Malik?"
Emak yang sedang berada di luar keheranan melihat Malik yang terlihat terburu-buru pergi dari dalam rumah. Tapi saat itu Emak menghiraukan kepergian Malik, ia langsung bergegas menemui Anjani.
"Teh? Kamu kenapa?" Emak khawatir, ia melihat Anjani yang sedang menangis.
"Mak, Abah mana?" Tanya Anjani, ia pikir Malik sudah ditangkap oleh abahnya.
"Abah masih di pengajian, ini Emak pulang karena Indri nya gak betah. Kamu kenapa teh? Tadi kok Emak liat Malik keluar dari rumah?"
"Malik kayaknya marah karena aku nolak dia, tadi Malik mau coba memperkosa aku Mak. Hiks.. hiks.." Anjani merasa histeris mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Astagfirullah! Masa iya Teh?!"
Emak tidak menyangka, selama ini yang Emak tahu Malik itu adalah orang yang baik. Beruntung sekali saat itu Emak pulang lebih awal dari biasanya. Apa jadinya jika Indri tidak meminta untuk segera pulang kepada emaknya.
"Jadi orang yang kayak gitu yang pengen Emak jodohin sama Teteh?! Emak lebih percaya sama orang yang kayak gitu daripada A Adwi?!" Anjani merasa kesal, ia pergi meninggalkan emaknya dan langsung masuk ke dalam kamar.
'Ternyata bener apa yang dikatain sama Ratih.'
Anjani pikir Ratih telah salah pemahaman, meskipun kata-kata Malik seperti seorang lelaki buaya, tapi selama ini Malik tidak pernah berbuat macam-macam kepada Anjani.
Dikarenakan rumah Anjani terletak sangat jauh di ujung kampung, jadi Emak juga tidak tahu banyak mengenai Malik. Yang ia tahu Malik itu adalah teman Anjani sewaktu kecil.
"Ya Allah Teh, maafin Emak,"
Emak yang merasa bersalah karena telah menjodohkan Anjani ke sembarang orang langsung datang ke kamar Anjani dan meminta maaf. Saat itu Anjani terlihat sedang berbaring ditutupi selimut, di balik selimutnya itu Anjani tengah menangis meratapi perilaku buruk orang-orang yang menentang hubungannya dengan Adwi.
"Teh, Emak tau Emak salah, jadi tolong maafin Emak ya," pinta Emak sambil menangis. Indri yang juga ikut berada di sana hanya diam tidak mengerti apa-apa.
"Emak keluar aja dari sini! Teteh lagi pengen sendirian!" Bentak Anjani di balik selimutnya.
Emak yang mendengar perkataan itu merasa sedih dan tersentak, lantas ia keluar dari kamarnya Anjani dan membiarkan Anjani sendirian.
***
Esoknya, Anjani sama sekali tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Ia hanya keluar mengambil air wudhu untuk menjalankan ibadah shalat subuh.
Emak yang biasanya marah-marah jika melihat anak perawannya itu malas-malasan, kini membiarkan Anjani di kamar tanpa perlawanan. Ia langsung mengerjakan pekerjaan rumah itu sendirian.
"Teh, ini Emak bawain makan, dimakan dulu ya."
Emak rasa Anjani tidak ingin keluar dari kamarnya, jadi ia membawakan makanan untuk Anjani. Tapi saat itu Anjani sama sekali tidak menjawab, ia terus menyembunyikan diri di balik selimutnya.
"Teh, kalo emang Adwi itu orang yang baik, Emak sama Abah mau kok nerima Adwi jadi sebagian dari keluarga kita."
Emak tidak punya pilihan lain, Anjani sepertinya hanya akan bahagia jika hidup bersama Adwi. Apapun yang membuat anaknya itu bahagia, Emak akan mengikhlaskannya. Meskipun Emak merasa ragu, tapi ia mencoba untuk mempercayainya.
"Beneran Mak?!" Anjani yang mendengar perkataan emaknya itu langsung keluar dari dalam selimutnya.
"Iya Teh."
Seketika sebuah senyuman terukir di wajah Anjani. Ia merasa senang karena kedua orang tuanya telah merestui kembali hubungannya dengan Adwi. Sejak saat itu juga Anjani tidak mengurung dirinya lagi di dalam kamar.
Malik yang sudah mencoba melecehkan Anjani pun tidak berani lagi menunjukkan batang hidungnya di kalangan keluarga Anjani. Ia beruntung, karena tindakan yang sudah ia lakukan kepada Anjani sama sekali tidak disebar luaskan.
"An, aku udah denger kok kabarnya. Maaf ya ini semua gara-gara aku." Ucap Ratih yang sedang bersama Anjani. Ia merasa bersalah karena ia rasa dirinyalah yang sudah membuat Anjani dan Adwi bertemu.
"Nggak papa, lagian hubungan aku sama A Adwi baik-baik aja kok." Ucap Anjani.
"Loh? Darma bilang, Adwi udah mau nikah sama orang lain?"
"Iya, tapi A Adwi bakalan balik lagi kok sama aku."
Ratih mengerti, Anjani pasti sangat mencintai Adwi, begitupun sebaliknya. Keharmonisan hubungan mereka selalu terdengar sebelum kejadian yang satu ini menimpa. Pastinya akan berat jika harus meninggalkan seseorang yang sudah lama menyemai benih di hatinya.
Siang itu Anjani pulang ke rumahnya. Sosok Malik yang tinggal di sekitaran sana kini sudah tidak terlihat sama sekali. Meskipun ada, pastinya Malik tidak akan berani lagi menyapa Anjani.
Akhirnya Anjani sampai di depan rumahnya. Tiba-tiba Anjani terkejut, melihat sebuah motor tengah terparkir di depan rumahnya. Dengan segera Anjani masuk dan memastikan siapa yang sudah datang ke rumahnya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments