Sebelumnya Anjani yang tidak berpengalaman itu sudah diberi beberapa petunjuk apa yang harus ia lakukan setelah sampai di bandara. Kali ini, ia mengenakan kerudungnya, mengingat dirinya akan pergi jauh meninggalkan suaminya.
Saat ini tiket dan semua data diri sudah berada di tangannya. Dengan perasaan yang masih bingung, Anjani segera mengantri pada maskapainya untuk melakukan pengecekan tiket (Check in).
Barang-barang yang Anjani bawa harus dilakukan penimbangan. Sebuah tas kecil berisi perlengkapan dan sebuah tas sedang yang berisi pakaiannya ia timbang. Karena ukurannya tidak begitu berat, semua barang yang Anjani bawa tidak perlu diletakkan ke bagasi. Anjani bisa membawanya dan meletakkannya nanti di dalam bagasi kabin.
Setelah itu, Anjani berpindah dan melewati keamanan untuk dilakukan pemeriksaan. Pemeriksaan berjalan lancar, dan Anjani pun dipersilahkan untuk menunggu di ruang tunggu keberangkatan.
Perasaan cemas saat sedang menunggu tak henti-hentinya muncul di dalam hati Anjani. Hingga Akhirnya semua penumpang dipanggil untuk naik ke dalam pesawat.
Anjani tak mau salah bertindak, ia duduk pada tempat yang sesuai dengan tiketnya. Sebelum lepas landas, pramugari yang cantik dan tinggi semampai dengan Anjani mulai memberikan beberapa instruksi keselamatan yang pastinya tidak mungkin Anjani hiraukan.
Setelah mendapat instruksi dengan jelas, tak lama pesawat mulai berjalan. Anjani merasa tegang, ia tak henti-hentinya berdzikir dan berdo'a di dalam hati.
Akhirnya pesawat pun lepas landas dan berjalan dengan tenang. Perlahan Anjani mulai melihat gumpalan-gumpalan putih yang mana itu adalah awan. Saat ini dirinya sudah melayang jauh di udara, di atas ketinggian yang tentunya membuat Anjani ketakutan.
Berbeda dengan Anjani, para penumpang lain terlihat santai dan senang saat berada di dalam pesawat. Anjani merasa tak tenang, tapi dirinya mencoba untuk menenangkan diri.
Tapi tiba-tiba, pesawat bergoyang dan membuat Anjani terkejut. Anjani melihat ke arah jendela tapi ia tidak bisa melihat apa-apa. Tak lama, pesawat kembali tenang dan pemandangan dari jendela pun kembali terlihat jelas. Anjani sadar, bahwa pesawat itu baru saja melewati gumpalan awan.
Perlahan, Anjani mulai membiasakan diri karena perjalanan ini akan sangat lama. Ia tak mungkin harus terus-terusan tegang dan membuat pikirannya tidak bisa beristirahat.
Di sela-sela perjalanan, seseorang memberikannya sesaji makanan beserta dengan minumannya. Makanan itu terlihat sangat menggoda, Anjani tak menyangka ternyata makanannya juga terasa sangat enak.
Setelah memakan waktu hampir setengah hari, Anjani akhirnya sampai di tempat tujuan. Dengan semua pengarahan yang telah ia dapatkan, akhirnya ia bisa bekerja di sebuah rumah sebagai seorang pembantu.
Di dalam rumah tempat Anjani bekerja, terdapat sepasang suami istri yang masing-masing bekerja sebagai seorang guru dan tentara. Mereka mempunyai dua anak yang usianya tidak jauh berbeda. Anjani diharuskan untuk mengurus pekerjaan rumah tangga sekaligus mengurus anak-anak majikannya.
Di sana, Anjani masih belum mengerti sepenuhnya kosa kata asing yang diucapkan oleh majikannya. Tapi majikannya itu mengerti dan membiarkan Anjani untuk beradaptasi.
"Ini anak saya, yang satu kelas 3 dan yang satu kelas 4 SD." Ucap majikan perempuannya membuat Anjani melongo. Anjani kira, mereka berdua itu sudah bersekolah di SMP karena postur tubuhnya yang terlihat tinggi dan besar.
Memang, penduduk di sana memiliki postur tubuh yang tinggi-tinggi, sangat jauh berbeda dengan penduduk di tanah air. Kehidupan di sana juga agak sedikit berbeda, alat masak dan bahan-bahan yang tersedia terasa aneh dan asing bagi Anjani, ia tak tahu bagaimana cara mengolahnya.
Untungnya, pembantu yang akan pergi dari rumah itu tinggal terlebih dahulu dan menjelaskan tata caranya kepada Anjani.
'Astagfirullah, sudah besar begitu masih aja ngompol, ' gumam Anjani di pagi hari.
Dirinya terkejut ketika melihat kasur yang ditiduri oleh anak perempuan si majikan terlihat basah. Anak itu sudah besar dan sudah sekolah, tapi ia masih mengompol di atas kasur. Itu membuat pekerjaan Anjani semakin bertambah, tapi sebelumnya ia masih harus memandikan dan membantu anak-anak itu untuk bersiap-siap memakai seragamnya.
Mereka berdua pun akhirnya sudah siap dan Anjani membawa mereka untuk duduk ke meja makan. Sebelumnya, pagi-pagi sekali Anjani sudah menyiapkan sarapan di atas meja, ia mengambil beberapa potong roti dan menaruh selai cokelat di atasnya. Lalu, 2 gelas susu hangat ia sajikan, hanya dengan itu saja mereka langsung berangkat.
Jika di kampung, acara sarapan seperti itu tidaklah ada. Setiap pagi, siang, maupun malam, nasi selalu menjadi pilihan utama.
Sang majikan perempuan dan laki-laki itu juga ikut berangkat. Saat ini yang ada di rumah hanyalah Anjani sendirian. Karena belum menanak nasi, dirinya langsung ikut mengambil beberapa potong roti dan memakannya bersama selai.
Menurut pembantu yang sebelumnya, majikannya itu selalu marah jika melihat pembantunya ikut makan, jadi Anjani tidak berani makan di depan mereka.
Anjani ingin sekali untuk segera mengabari keluarganya yang ada di tanah air, terutama Adwi. Tapi saat ini ia tak tahu bagaimana caranya harus memberi kabar, ia ingin bertanya kepada majikannya namun dirinya yang masih baru itu belum berani untuk membicarakannya.
Sementara di tanah air:
Adwi memang belum mengharapkan adanya kabar dari Anjani, ia mengerti bahwa diantara dirinya tidak ada satu pun alat yang bisa digunakan untuk saling berkomunikasi satu sama lain.
Setelah pekerjaan selesai, Adwi mulai bermain dengan teman-temannya sembari menanyakan pekerjaan pekerjaan yang ada di luar kota. Ia bertanya kepada orang yang tepat, teman-temannya itu memang suka merantau ke kota yang UMR nya lebih tinggi daripada kota yang ditempati olehnya saat ini.
Selang beberapa hari, Adwi pergi menemui Laila, keadaan Laila terlihat masih sama seperti sebelumnya. Adwi meninggalkan sejumlah uang dan berkata kepada Emak bahwa dirinya akan pergi merantau.
"Mak, besok aku mau kerja di luar kota. Aku gak akan lama kok di sana." Ucap Adwi kepada Emak.
"Iya, semoga rezeki kalian dimudahkan ya." Ucap Emak.
"Aamiin Mak,"
"Anjani udah ngabarin kamu belum?"
"Belum Mak, mungkin Anjani belum punya uang buat ngirim kabar."
Esoknya, Adwi berangkat ke luar kota bersama dengan teman-temannya. Ia langsung diterima kerja di sebuah tempat produsen ikat pinggang. Tanpa perlu banyak pelatihan, Adwi mulai bisa membuat ikat pinggang itu secara mudah.
Semua ikat pinggang terlihat cantik, ada yang terbuat dari kulit, dan ukiran gambarnya pun indah-indah.
Hari pertama bekerja di sana, Adwi diperbolehkan untuk memiliki ikat pinggang yang ia suka. Di hari kedua dan seterusnya, Adwi terus bekerja sesuai dengan aturan.
Ternyata Adwi menyadari bahwa pekerjaan ini lebih mudah dibandingkan dirinya yang dulu harus berjalan jauh ke sana ke mari mencari rumput dan menyadap pohon aren.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Acheuom Rahmawatie
lanjut
2021-11-05
1