"Bu? Gimana kabar anak saya? Apa saya sudah boleh masuk?"
"Anak Ibu baik-baik saja kok, dan bayinya juga sehat Bu. Silahkan masuk."
"Teh, Ya Allah, Emak khawatir Teh."
Emak masuk ke dalam ruangan bersalin dan menghampiri Anjani.
Anjani yang sudah menjadi seorang Ibu itu terlihat sedang berbaring dengan seorang bayi yang berada di atasnya. Emak merasa lega melihat secara langsung bahwa keduanya baik-baik saja.
"Emak tenang aja, kata Bu Bidan Teteh gak kenapa-napa kok." Ucap Anjani yang sedang menyusui anaknya.
"Syukur atuh kalo begitu mah, gimana Teh? Anaknya laki-laki atau perempuan?" Tanya Emak penasaran.
"Perempuan Mak, ini A Adwi lagi mau kasih namanya." Ucap Anjani sambil melirik ke arah Adwi.
"Mmm.. kita kasih nama Laila aja gimana? Lail itu kan malam, anak kita kan lahirnya malam hari." Ucap Adwi mengusulkan nama.
"Wahh.. bagus itu, di dalem kitab juga ada. Udah Teh yang itu aja." Ucap Emak setuju.
"Iya Mak, Anjani suka kok sama namanya." Anjani juga setuju.
Akhirnya, tak perlu menunggu waktu lama, bayi perempuan yang baru lahir itu telah diberi nama. Mereka juga langsung membuat akta kelahirannya di rumah ibu bidan. Sebelum berangkat, Adwi sudah membawa berkas-berkas penting yang ia butuhkan. Jadi, ia tak perlu kembali lagi ke rumah untuk melengkapi data-data yang tengah dibutuhkan.
Emak yang sudah mengantuk itu akhirnya bisa tidur dengan nyenyak. Ia berbaring di atas kasur yang sudah disediakan oleh ibu bidan.
"Wi, kok orang tua kamu gak dateng ke sini?" Tanya Emak sebelum tidur.
"Hehe.. tadi sore ke sini kok Mak, tapi katanya mau pulang dulu, mungkin nanti pagi ke sini lagi." Ucap Adwi berbohong. Sebelumnya, Anjani hanya berangkat berdua menaiki motor bersama Adwi.
"Ohh.. Emak pikir gak dateng."
Emak tertidur, Adwi merasa bersalah karena telah membohongi Emak. Tapi itu juga demi kebaikan keluarganya, ia tak mau Emak khawatir dengan kondisi Anjani yang sedang tinggal bersama dengan mertuanya.
Pagi hari, sekitar pukul 9, Anjani dan anaknya sudah diperbolehkan untuk pulang. Nampak, keluarga Adwi sudah datang sejak pagi. Mereka pulang menaiki mobil yang sudah disediakan oleh keluarganya Adwi.
Di dalam mobil, Anjani, Emak, dan Abah duduk di bangku belakang. Sedangkan di depan ada Mamih, dan Bapak yang sedang menyetir.
"Teh, kamu kan udah punya anak, masa kamu masih mau tinggal sama mertua?" Bisik Emak yang duduk di samping Anjani.
"Kita belum ada rezeki Mak, nanti kalo udah ada juga pasti bakalan pisah kok Mak." Bisik Anjani kepada emaknya.
Di rumah, Adwi yang sudah sampai duluan langsung mencuci pakaian bekas bersalin Anjani yang berlumuran darah. Baru kali ini ia melihat langsung bagaimana perjuangan seorang perempuan yang mempertaruhkan nyawanya hingga mengeluarkan darah sebanyak ini. Adwi rasa ia perlu memberikan perhatian yang lebih lagi kepada Anjani atas rasa sakit dan susah yang telah ia rasakan selama ini.
"A, abis dari mana?" Anjani yang sedang terbaring di kamar baru melihat kedatangan Adwi.
"Aku abis nyuci dulu bekas tadi." Ucap Adwi.
"Eh.. padahal mah gak usah, biar Emak aja." Ucap emak.
"Gapapa kok Mak, lagian udah kok."
Adwi tak mau merepotkan siapapun. Ia tahu, Mamih tidak akan mungkin mau mencucikan pakaian bekas bersalin itu. Sedangkan Emak yang datang dari kampung itu memang harus ia hormati, bukan ia bebani.
Beberapa malam, Emak dan Abah menginap di rumah Adwi untuk menemani Anjani. Kerabat-kerabat dekat pun juga ikut menginap untuk menghangatkan suasana rumah.
"Mak, Bah, hati-hati di jalan ya." Ucap Anjani kepada kedua orang tuanya yang saat itu sudah akan pulang.
"Iya Mak, hati-hati, maaf ya aku gak bisa nganter, soalnya gak ada kendaraan." Ucap Adwi.
"Iya, iya. Gapapa kok Nak Adwi, Emak sama Abah juga gak mau ngerepotin." Ucap emak
Emak dan Abah pun pergi meninggalkan rumah itu, mereka pulang dengan masing-masing menaiki ojeg. Tapi, dalam perjalanan Emak merasa heran, kenapa Adwi beralasan tidak bisa mengantar karena kendala kendaraan? Padahal saat itu terlihat jelas sebuah mobil milik keluarganya sedang terparkir di halaman depan rumahnya.
***
Satu tahun berlalu, Anjani dan Adwi masih tinggal di tempat yang sama. Saat itu mereka sedang terkena musibah, bayi perempuan mereka yang berusia satu tahun itu mengalami bercak-bercak di kulitnya. Setiap hari, bercak-bercak itu terus menyebar dan perlahan terbuka lebar seperti sebuah luka. Luka itu mengeluarkan banyak cairan dan nanah, sudah beberapa kali mereka pulang pergi ke dokter untuk memeriksanya tetapi hasilnya sama sekali tidak berubah.
Laila kecil yang malang itu setiap hari merengek dan menangis sambil terus mencabik-cabik tubuhnya yang terasa gatal. Adwi dan Anjani yang melihatnya merasa sedih dan prihatin, setiap hari bayi itu merasakan perasaan yang tidak tenang. Kain dari pakaian yang ia kenakan selalu ikut menempel pada kulitnya yang terluka. Mereka tak tahu lagi harus membawa anaknya itu kemana.
"A, ini gimana, Laila kasian. Aku udah gak tahan ngeliatnya." Anjani meneteskan air matanya, melihat anaknya yang sedang tertidur sesekali mencoba untuk menggaruk tubuhnya.
"Kita coba obatin pake bahan-bahan alami aja ya. Aku bakalan cari di kebun." Ucap Adwi langsung pergi ke kebun.
Anjani masih menangis di dalam kamarnya sambil melihat kepergian Adwi. Di kamar yang pintunya tidak tertutup itu, ia melihat tatapan sinis ibu mertuanya yang sedang duduk di atas sofa. Seketika ia langsung mengusap air matanya dan pergi ke dapur untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah.
'Mamih kenapa ya? Apa ada kesalahan yang udah aku perbuat?' Gumam Anjani sambil berjalan melewati Mamih.
Saat itu mamih sama sekali tidak bertanya, dan Anjani pun enggan untuk menyapa. Sampai di dapur, Anjani hanya mencuci beberapa piring kotor karena memang sudah tidak ada lagi yang perlu ia kerjakan.
Akhir-akhir ini Anjani jarang mengerjakan pekerjaan rumah. Karena anaknya rewel, ia harus selalu menjaga anaknya itu. Anjani dan Adwi sibuk mengurus Laila, sedangkan Mamih sama sekali tidak pernah mengasuh Laila lagi semenjak Laila mengidap penyakit kulit di tubuhnya.
Anjani rasa, mungkin karena ia bermalas-malasan, Mamih jadi terlihat sinis kepadanya. Lantas ia berusaha mengerjakan pekerjaan rumah meskipun harus sembari menggendong Laila.
Tapi, sikap dingin dan tatapan sinis Mamih sama sekali tidak menghilang. Jika bukan karena itu, Anjani rasa ini karena dirinya sudah menumpang lama di dalam rumah.
Anjani merasa sedih, harus kemana lagi ia pergi? Sedangkan orang tuanya yang berada di kampung pun juga merasa kesal saat mereka tinggal di sana.
Anjani yang sudah beberapa hari mendapat sikap tak menyenangkan dari mamihnya itu mencoba untuk membicarakannya kepada Adwi.
"A, aku pengen pisah rumah sama mertua." Ucap Anjani kepada Adwi.
"Maaf ya, kamu pasti gak nyaman ya sama Mamih, aku juga pengen, tapi aku belum punya uang." Ucap Adwi dengan raut wajahnya yang sedih.
Anjani mengerti, saat ini penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan bayi mereka. Apa lagi saat ini Adwi sudah mengeluarkan biaya cukup banyak untuk menemui beberapa dokter.
"Kalo gitu aku mau pulang ya A," pinta Anjani, ia merasa sudah tidak tahan.
"Ya udah kalo kamu mau pulang, tapi aku gak bisa ikut, aku juga gak bisa nganter, gak ada motor."
"Gak papa kok A, aku sama Laila aja. Aku mau naik ojeg."
Anjani tahu, Adwi pasti juga merasa tidak enak jika harus pindah lagi ke rumah Emak. Sebagai seorang kepala keluarga yang belum bisa memenuhi keinginan untuk hidup di rumah yang terpisah, pastinya ia merasa malu di hadapan kedua mertuanya.
Lantas Anjani pun rela meninggalkan Adwi sendirian sementara dirinya pergi ke rumah Emak. Karena motor Adwi sedang dipinjam, Anjani yang ingin pulang itu diantarkan oleh Adwi menuju ke pangkalan ojeg. Bersama ojeg itu, Anjani pamit dan berangkat bersama anaknya meninggalkan Adwi sendirian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments