"Monica apa yang kamu lakukan?! Tidak bisakah kamu tidak berlaku kasar begitu!?" bentak mas Bram pada mbak Monica yang tau sendiri tindakan kasarnya padaku.
"Apa sih mas, aku cuma menyenggolnya pelan. Dianya saja yang mau carik perhatian sama mas" jawab mbak Monica dengan nada kesal karna dibentak sama mas Bram.
Aku membersihkan luka goresku dengan air mengalir, dan langsung pergi ke kamar untuk mengobati lukaku.
Entah apa yang ada dalam pikiranku, aku tak melihat mas Bram dan memperdulikan kalo mas Bram dan mbak Monica sedang cekcok gara-gara aku yang terluka.
"Din, bagaiman lukamu, apa kamu gak papa?" Tanya mas Bram yang melihat aku keluar dari dalam kamar
"Gak papa kok mas, uda jangan marahi mbak Monica lagi. Lukanya juga gak seberapa, cuma luka goresan saja" jawabku menjelaskan pada mas Bram, sambil aku terus berjalan menuju dapur.
"Syukurlah kalo begitu, apa sudah kamu obati dengan benar lukanya?" tiba-tiba mas Bram memegang tanganku.
"Maaf mas jangan begini nanti ada mbak Monica" Seketika aku menepisnya karna takut ketahuan sama mbak Monica.
Kulihat ada raut wajah tertegun diwajah mas Bram, dan aku pun mulai tersadar kalo aku salah bicara. Dan karna sadar dengan kesalahanku aku langsung meninggalkan mas Bram yang membeku ditempat.
"Assalamu'alaikum" suara salam dari luar dan ternyata itu adalah mertuaku yang sudah pulang dari berkunjung ke rumah saudaranya.
"Alhamdulillah, mama dan papa sudah pulang. aku jadi gak perlu menjelaskan sama mas Bram atas kalimatku tadi" batinku sambil melangkah ke luar rumah.
"Wa'alaikumsalam" jawabku dari dalam rumah sambil membukakan pintu untuk mertuaku
"Ma, dimana papa? Kok mama pulang sendirian." tanyaku yang tak mendapati papa mertuaku
"Ada didepan tuh lagi gangguin cucunya tetangga" kata mama mertuaku sambil nunjuk ke arah papa yang lagi asik main-main sama anak kecil.
Tak terasa hari pun sudah malam dan kami semua berkumpul diruang tengah, sambil nonton tv.
Aku baranjak ke dapur untuk bikin cemilan, pasti enak dimakan rame-rame sambil kumpul keluarga, apa lagi suasana hujan.
"Kamu ini gimana sih Bram, tak bisakah kamu memberikan cucu untuk mama" dengan nada suara kesal
Aku yang baru balik dari dapur tak bisa menanggapi permintaan mama mertuaku, karna aku tak mungkin bisa memberinya cucu. Jadi aku hanya bisa diem mendengarkan obrolan mereka.
"Ma, Bram juga lagi berusaha. Tapi semuanya kan tergantung sama yang kuasa ma" jawab mas Bram pada mamanya
"Kamu ini Bram, setidaknya kamu bisa memberikan cucu pada mama, tapi mama ingin cucu darimu dan juga Adinda, bukan wanita itu" jawab mama mertuaku kesal
"Ma jangan bicara begitu,bak Monica juga adalah istri mas Bram, menantu mama juga. Siapapun nanti yang memberikan cucu pada mama bagi Dinda sama saja, karna dia adalah anak mas Bram" jawabku membantu mas Bram.
Entah kenapa kok aku merasa ada sedikit rasa kesal mendengar permintaan mama mertuaku. Aku tak tau kenapa, tapi ada rasa gak rela dalam hati kalo aku mengandung anak dari suamiku yang terpaksa menyentuhku karna keinginan orang tuanya.
"Bram dimana Monica? Dari tadi papa kok gak melihat dia" Tanya papa mertuaku pada mas Bram. Dan aku juga baru sadar kalo mbak Monika gak ada.
"Dia kerja Pa, karna tadi tiba-tiba di telpolon sama managernya kalo dia ditawarin tampil di acara fesend show sebuah butik yang baru saja mau diluncurkan" jawab mas Bram
Aku yang mendengar itu merasa kayin kalo itu adalah butikku, tapi aku tak mau mengatakannya karna selama ini mas Bram tak pernah menanyakan padaku dan dia hanya menganggap aku gadis penyanyi cafe saja.
"Ya, yang dikatakan oleh Dinda ada benarnya juga si, tapi mama cuma ingin cucu yang dilahirkan oleh Dinda, kalo papa gimana Pa?" kata mama mertuaku memelas
"Ya. Papa sependapat dengan mama, tapi juga setuju dengan Dinda. Siapapun yang memberi cucu dia tetep anak Bram. Namun jika ibundanya adalah orang yang baik makan seorang anak yang terlahir juga pasti akan baik pula" jawab papa mertuaku dan di jawab dengan anggukan oleh mama mertuaku.
"Sudah ayok makan cemilannya mumpung masih hangat" selaku karna aku gak mau dengar pembahasan soal cucu-cucu lagi
Aku melihat ada raut wajah bimbang dari mas Bram, tapi maaf aku gak akan mau jika harus melakukan sesuatu yang akan dipaksakan, karna bagiku sudah cukup pernikahan ini aja yang terjadi karna paksaan perjodohan yang sudah ditentukan. Aku gak mau ada paksaan yang lain-lain lagi.
Pagi itu aku mau kembali kerutinitasku biasanya, ke butik, cafe dan resto karna aku uda menghilang selama 3 hari demi menuruti keinginan mertua untuk menginap di rumahnya.
"Dinda, Bram kalian kan menikah sudah hampir 3 tahun Mama minta agar kalian selalu rukun dan cepat dapat momongan, karna mama sudah sangat ingin menimang cucu. Din, mama minta kamu tak terbebani ya dengan keinginan mama ini?" mama mertuaku berkata panjang lebar setelah sarapan pagi.
"Kenapa mama minta cucu sama dia ma? Karna dia sepertinya mandul, karna sudah menikah sampai sekarang tapi dia gak hamil-hamil" celetuk mbak Monica dari luar rumah
Mama mertuaku terlihat kesal, tapi aku segera memegang tangan bliau dan mencobak untuk menenangkannya. Kalo papa mertuaku sudah berangkat kerja jadi gak tau kejadian pagi ini.
Aku tak merespon kata-kata mbak Monica dan hanya tersenyum padanya. Sementara mas Bram menatapku dengan pandangan yang bingung, mungkin dia bingung dengan reaksiku.
"Baiklah ma, Dinda mau berangkat ke cafe dulu, dan terima kasih mama menjaga Dinda dengan baik selama Dinda di sini. Nanti kalo ada waktu Dinda akan mampir lagi kesini" kataku berpamitan, ku kecup punggung tangan mama mertuaku dan juga mas Bram suamiku
Setelah sampai di cafe aku langsung masuk ke ruangan mas Dido, untuk menunjukkan hasil desainku yang mau ku tampilkan di acara show 2 bulan lagi.
Setelah mas Dido memberiku beberapa masukan, aku langsung memperbaikinya. Karna mas Dido sebenarnya sangat mengerti vesen jadi aku sering tanya padanya, karna pekerjaan mas Dido selai jadi manager cafeku dia adalah top model cowok.
"Mas Dido nanti kalo acara show butik Dinda mas Dido datang ya?" kataku sambil bermanja padanya
"Boleh, tapi nanti mas dikenalin sama model yang Dinda kenal ya, mas mau cari istri" katanya sambil menoel hidungku.
Kami tertawa bersama, dan seharian aku habiskan bersama mas Dido di cafe, mulai dari pengerjaan desai-desain baju untuk butikku dan juga obrolan ringan, serta pembahasan tentang pengembangan cafe ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Arsuni Gustaf
cerita ini merendahkan wanita.
2022-12-14
0
Irat Tok
kpn cereinya Din
bukannya Bram minta cm 2thn?
maxca msh nungguin
2022-10-01
0
Eka Rauf Ginting
jijik aku baca a,, wanita sll direndahkan
2022-06-04
2