"Ayah, Ibu Dinda merindukan kalian" lagi-lagi aku menyuarakan rasa rindu untuk kedua orang tuaku dalam hatiku. Malam itu aku tidur dengan memeluk bingkai foto keluargaku, ku tutup mataku dengan perlahan. Ku hilangkan rasa letih ku, berharap akan bermimpi bertemu dengan kedua orang tuaku yang sangat ku rindu dalam alam mimpiku.
Cuit...cuit suara nyanyian burung pagi itu membangunkan tidurku. Aku terbangun dalam ke adaan yang lumayan fresh karna semalam aku telah menumpahkan dan mencurahkan segala keluh kesah ku pada sang pencipta.
"Pagi non Dinda, sarapan sudah bibi siapkan kalau non Dinda mau sarapan dulu silakan" ucap art Dinda.
"Terima kasih bi" jawab Dinda tersenyum
"Non tadi pak Bambang telon katanya non Dinda akan langsung berangkat sore ini juga dan semua kebutuhan non Dinda sudah saya siapkan di koper non Dinda, barang kali ada yang kurang mungkin di cek dulu" art dinda.
"Aduh, bibiku yang tercinta ini selalu cepat ya dalam segala hal, terima kasih banyak bi nanti Dinda cek setelah sarapan" Dinda memuji sang art dengan sangat senang.
"Non Dinda baik-baik ya disana" art Dinda.
"Iya, pasti" jawab Dinda sambil sarapan.
Ting tong
Bel rumah ku ada yang nekan, dalam hati aku bertanya siapa yang datang pagi-pagi gini, dan saat ku lihat yang masuk adalah sahabatku Yulia aku sangat senang sekali, karna selama ini dia tiba-tiba menjauhi aku tanpa sebab.
"Dinda kenapa kamu tega banget sama aku. Huhuhuhu" tegur Yulia yang menangis dalam pelukanku.
"Maaf waktu itu kamu juga lagi kesusahan jadi aku sengaja gak kasih tau kamu" jawab Dinda.
"Kamu gak benci seperti yang mereka bilang kan?" tanya Yulia pada adinda sambil menangis
"Tentu saja tidak, kenapa aku harus membencimu karna itu urusanmu dan kamu pasti punya alasan untuk melakukan itu" jawab adinda tersenyum
"Terima kasih Dinda. Tapi kenapa tiba-tiba kamu mau meninggalkan aku? Apa tidak bisa untuk kuliah disini aja?" tanya yulia
"Itu semua keputusan Om Bambang, dia ingin agar aku bisa fokus dan mendapat pembelajaran yang lebih bagus lagi dari yang ada di sini" adinda
"Tapi kamu jangan melupakan aku ya bila sudah disana" Yulia
"Iya, pasti" adinda
Aku sangat senang sahabatku telah kembali dan tidak marah lagi sama aku, itu akan jadi kekuatanku selama aku di LA nanti.
...🌴🌴🌴...
Bandara.
Ku genggam terus tangan sahabatku Yulia, sore itu dia ikut mengantarkan keberangkatan ku.
"Sudah siap? Semuanya sudah lengkap. Masuklah 15 menit lagi pesawat mu berangkat, dan disana Om sudah menyewakan apartemen untuk kamu" om Bambang
"Iya, terima kasih Om" adinda
"Dinda hati-hati, janji selalu hubungi aku" Yulia
"Iya Yul, aku janji. Kalau begitu aku berangkat dulu ya" adinda memeluk yulia "Om Dinda berangkat" pamit adinda pada om Bambang
"Iya, jadilah orang sukses. Dan ini ada surat yang tiba pagi tadi, mungkin bisa memberimu semangat disana". Bambang
"Ini apa Om? Dan siapa yang mengirim Surat" adinda
"Kamu akan tau nanti, buka saat kamu ada disana" Om Bambang mengusap kepalaku, dan aku telah lepas landas ke negeri orang.
...🌴🌴🌴...
Los Angeles
Akhirnya setelah menempuh jarak yang begitu jauh sampek juga. Aku merebahkan tubuhku di kasur apartemen yang sudah disiapkan oleh Om Bambang untuk ku.
"Universitas California. Hem tempat yang dipilihkan oleh Om Bambang untuk ku, rupanya aku emang disiapkan untuk semuanya. Ayo Dinda kamu pasti bisa" aku menyemangati diriku dan melangkahkan kakiku ke tempat baru itu.
LA tempat yang sangat ramai dan begitu bebas. Setelah beberapa minggu aku tinggal di negeri orang ini dengan menjalani hidupku disana dengan mengikuti semua kegiatan disana. Dan aku juga mengikuti latihan musik yang menjadi hobi ku, ditempat baru itu aku mengenal seseorang yang sangat baik dan aku mulai belajar soal desain darinya. Karena aku juga punya butik jadi aku ingin butik ku memiliki ciri khas diriku nantinya. Tante Angela dia seorang desainer yang berbakat dan sangat baik pada ku, dia memberikan pelajaran dan arahan pada ku tentang desain bahkan membuatku mengikuti private khusus desain.
Tak terasa sudah setahun aku di Negri orang, dan saat aku beres-beres koper tak sengaja sebuah surat jatuh, dan aku ingat itu surat yang diberikan oleh Om Bambang sewaktu aku mau berangkat kesini.
Setelah mandi ku rebahkan tubuhku dan ku buka isi surat itu, betapa terkejutnya aku saat melihat kata yang tertulis disana.
*Teruntuk putri kesayanganku Adinda.
Assalammualaikum sayang, ibu tidak tau siapa yang akan menemui mu terlebih dulu, ibu dan ayah atau kah surat yang ibu kirimkan ini. Entah kenapa ibu merasa tak enak dan gelisah, ibu ingin sekali cepat-cepat pulang dan menemui mu sayang.
Dinda ingatlah kata-kata ibu ini, jika suatu hari nanti terjadi sesuatu pada ibu dan ayah Dinda harus jadi anak yang kuat dan tegar ya sayang.
Dinda sayang tolong maafkan kami yang tidak bisa memberikan kebahagian yang sesuai dengan keinginanmu. Ingat Dinda kamu harus jadi pribadi yang tangguh yang bisa jadi panutan, jangan tinggalkan ibadah di manapun kamu berada. Jadilah dirimu sendiri dan selalu jadi orang yang lembut dan baik kepada semua orang. Jika ada orang yang menyakitimu jangan balas mereka dengan rasa sakit yang sama biarkan mereka mendapat yang mereka inginkan. Jangan pernah menyimpan rasa benci dan dendam dalam hatimu ya putriku, agar tak menyakitimu nantinya.
Baiklah sayang ibu tau kamu pasti bisa melewati semua ujian dan cobaan dari yang kuasa nantinya. Salam sayang dari ibu dan ayah kami selalu menyayangimu sayang.
Wassalamu'alaikum.
Tertanda Ibu dan Ayah.
"Ibu, jadi ibu sudah memiliki firasat untuk semuanya, ibu sengaja menyiapkan surat ini untuk Dinda. Ibu, Dinda juga sangat menyayangi ibu dan ayah. Dinda janji akan jadi orang yang seperti ibu dan ayah inginkan" tekat ku dalam hati setelah membaca surat yang ditinggalkan oleh ibuku.
"Halo.. Dinda bagaimana kabarmu? Kamu melarang Om untuk video call dan hanya telepon saja. Kenapa setelah disana kamu tak pernah pulang? Om jadi menyesal telah menyuruh mu untuk kuliah disana" om Bambang
"Waalaikumsalam Om, Dinda baik-baik saja di sini dan Dinda sekarang sudah bisa melakukan semua tugas dari Om dengan baik. Dinda sengaja tidak pulang supaya Dinda bisa fokus pada kegiatan Dinda di sini, dan saat balek nanti sudah tidak ada yang ketinggalan di sini" adinda
"Iya, ya asalamualaikum. Maaf Om hanya cemas saja, bahkan saat Didi ke sana kamu juga tidak menemuinya" om Bambang
"Hahaha... Iya Dinda sengaja melakukan itu, karna Dinda tau kalau mas Didi ketemu Dinda pasti dia akan ngomelin Dinda. Mas Didi orangnya suka sekali ngomel" adinda
"Ya sudah, yang penting kamu disana harus baik-baik jangan melakukan hal...." om Bambang
"Yang melanggar kaidah agama dan harus jaga diri dengan baik, tidak boleh terbawah dan terpengaruh sama pergaulan di sini iya kan?" jawabku yang memotong perkataan Om Bambang yang selalu saja mengingatkan aku tentang hal-hal yang mungkin bisa merusak diriku sendiri di sini, karna di sini emang semuanya serba bebas.
Aku sangat bersyukur masih ada orang-orang yang baik dan peduli pada ku. Aku juga berjanji pada diriku dan juga mereka yang selalu mendukungku untuk bisa jadi orang yang lebih baik dan dapat diandalkan semua orang, terutama untuk diriku sendiri.
"Ya, ya bagus kalau masih ingat. Ya sudah om matikan ya karena harus ke kantor untuk melihat berkas - berkas yang masuk, ingat kamu jaga diri dengan baik disana, assalamualaikum." om Bambang
"Iya waalaikumsalam." aku pun mematikan sambungan telepon dengan om Bambang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
🌷Tuti Komalasari🌷
masih nyimak...🌷
2021-12-22
3