6 tahun berlalu, dan akhirnya pendidikan ku telah selesai dan hal-hal yang telah ku siapkan untuk mengubah seluruh dunia ku telah usai. Saat ini aku telah menjadi gadis remaja yang penuh dengan semangat dan dengan bimbingan dari tante Anggel sang desainer ternama di LA aku telah menguasai semua pelajaran yang diajarkannya dan akan menerapkannya pada butik peninggalan sang ibu tercinta.
Aku pengepaki semua barangku dan aku siap kembali ke negaraku setelah dua hari dari sekarang. Besok adalah hari bersejarah bagi ku, aku akan lulus dari private desain dan sekolah desain. Aku akan mendapatkan sertifikat desainer mudah dari sekolah desain Parsons School of Design.
Malam itu ku bersimpuh dihadapan sang pencipta, ku ucapkan rasa syukurku dan ku ucapkan rasa terima kasih atas segala kemudahan yang telah ku jalani selama ini. Tak lupa ku kirimkan do'a serta shalawat atas junjungan nabi yullah Muhammad swt dan juga do'a untuk kedua orang tuaku tersayang.
Bandara sukarno-hatta
Aku berjalan keluar ke jalan penjemputan, aku berjalan dengan percaya diri dan tak ada lagi wajah muram dan sedih, ku kenakan gaun berwarna pich lengan panjang dan panjang baju di bawah lutut, ku gerai rambutku yang sengaja aku panjangkan selama di LA, ku pasang pita bunga yang senada dengan gaunku dan kungunakan kaca mata hitam. Aku berdiri di hadapan para orang-orang yang datang menjemputku. Ku lihat Om Bambang yang sesekali melihat jam di pergelangan tangannya, Yulia sahabatku yang celingukan dan mas Didi juga Dido yang terlihat gelisah.
"Apa mereka tak mengenaliku?" batinku yang menyaksikan tingkah mereka.
Ya aku emang tak membawah ponsel, karna ponselku jatuh dan hancur terlindas mobil saat terakhir aku menghubungi Om Bambang kalo aku akan sampai pukul 2 siang.
"Kenapa mereka masih tak melihatku padalan aku sudah berdiri dihadapan mereka, apa berubahanku ini membuat mereka tak mengenaliku? Tapi aku masih mengenal mereka dengan baik" pikirku geli dalam hati
Meliahat wajah mereka yang semakin gelisah aku tak tega, ku dekati mereka dan kusapa mereka semua dengan membuka kaca mata serta kurentangkan kedu tanganku. Namun reaksi mereka tak terduga, mereka seolah melihatku seperti orang lain.
"Dinda?! Apa benar kamu Dinda? Ya Allah kamu seperti orang lain bukan dinda" cercah Yulia sahabatku yang sore itu juga ikut menjemputku dan langsung memelukku.
"Bolehkah aku menikahimu nona manis?" goda mas Didi yang langsung menarikku dalam pelukannya
"Dinda...kau...."
"Hihihi Om, terima kasih banyak atas semuanya. Sudah Om jangan nangis lagi nanti Dinda ikutan sedih" jawabku sambil memeluk Om Bambang yang selama ini bagai orang tua pengganti untuk ku.
Rumah keluarga Bram
"Ma.! Apa mama sudah gila? Apa maksud mama ini? Jadi mama nyuruh Bram pulang untuk membicarakan ini semua?" kata Bram dengan nada kesal dan marah pada mamanya
"Mama hanya ingin menepati janji mama pada alm. sahabat mama, dan mama ingin kamu menikah dengan gadis yang baik dan dari kelurga yang baik juga"
"Emangnya mama tau dia seperti apa? Dia dari LA ma, kehidupannya pasti bebas"
"Tapi mama sudah janji sama ibunya dulu, apa kamu mau mama jadi orang yang akan mengingkai janji Bram?"
"Tapi gak harus gini ma? Bram gak mau menikah dengan orang yang gak Bram cintai"
"Jadi kamu mau menikahi gadis yang gak jelas itu, begitu maksudmu?" dengan nada dingin
"Pa tolong dia bukan gadis gak jelas, dia adalah gadis yang Bram cintai dia punya nama"
"Terserah, yang jelas kamu harus menikah dengan gadis pilihan mama ini dan papa gak mau tau lagi bagaimana pun kamu harus menikah dengan dia"
"Tapi Pa..."
"Atau keluar dan tinggalkan semuanyan" kata-kata Bram dpotong sama ayahnya.
Bram pergi meninggalkan rumah orang tuanya dengan kesal.
Disisi lain Dinda yang mendengar kata perjodohan itu sangat terkejud, dan tak tau harus berbuat apa karna itu adalah amah dari orang tuanya yang disampaikan pada Bambang selaku walinya.
"Ibu, apa ini? Baru juga Dinda kembali belum ada setahun ke rumah sudah ada kabar berita tentang perjodohan Dinda yang sudah ibu atur untuk Dinda" gerutu ku sambil memegangi bingkai foto milik orang tuaku.
Pagi itu aku kembali beraktifitas di butik. Fokusku hanya butik, sementara cafe ku biarkan mas Didi mengambil kendali begitu juga dengan reto mas Dido yang ku beri tanggung jawab walo sesekali aku juga datang untuk melihat-lihat. Namun aku tak mematri bahwa akulah bos mereka. Saat datang aku hanya memainkan alat musik dan menyanyikan sebuh lagu di sana, karna aku mamasanga alat musik pianon di resto dan gitar di cafe, karna aku sangat menyukai kedua alat itu. Sebab ayahku adalah pemain gitar terhebat di grub bandnya waktu jaman sekolah, sedangkan ibuku dia adalah orang yang mengagumi seorang pianis dunia. Jadi aku ingin menguasai kedua alat musik itu, sebagai wujud budiku pada kedua orang tuaku yang telah lebih dulu meninggalkan aku.
"Kamu adalah Adinda bukan?" tegur seorang ibu pada ku yang ku temui di suatu mol. Aku membuka cabang butik di mol itu.
"Iya benar, kalo boleh saya tau tante ini siapa? Apa tante mengenal saya?" tanyaku dengan bingung karna ibu itu tiba-tiba berkaca-kaca seakan mau menangis.
Dia tak menjawab pertanyaan ku namun dia malah memeluk ku dengan erat sambil sesenggukan.
"Maaf, maafkan saya apa kah tante mengenal saya atau mengenal alm. ibu saya?" tanyaku lagi saat ku urai pelukannya
"Kamu telah tumbuh jadi seorang gadis yang cantik jelita sayang, Bambang menjaga dan merawat mu dengan sangat baik rupanya" katanya dan tak menjawab pertanyaanku
Kutarik dan ku ajak ibu-ibu itu masuk ke subuah rumah maka dalam mol itu agar enak bicara karna dia sepertinya sangat mengenal keluarga ku.
Dalam rumah makan itu tante Anik menceritakan semuanya, mulai pertemanan beliau dengan alm. ibu, ayah, om bambang dan juga om Anton suami tante anik. Sampai pada pokok masalah tentang perjodohan antara aku dan anak tante anik bram.
Aku pun mulai mengerti kenapa mereka semua begitu terikat, ternyata mereka adalah teman sekaligus sahabatan. Dan ayahku adalah orang yang paling berperan besar dalam persahabat yang terjakin diantara mereka semua.
Setelah pertemuanku dengan tante Anik waktu itu, aku pun dipertemukan dengan calon suamiku alias orang yang dijodohkan dengan ku. Saat kulihat dia orang yang emang tampan dan sangat rapi.
"Aku Bram, tapi maaf aku tak bisa Lama karna masih ada pekerjaan yang belum selese aku kerjakan karna ku tinggal kesini" katanya tanpa basah basih dan sedikit terdenga dingin
"Ah, maaf kalo aku mengganggu waktu mas Bram. Aku adalah Adinda dan aku..."
"Aku tau kamu penyayi resto kan? Dan kamu telah Lama tinggal di LA" potongnya
"Hah? Penyanyi resto? Aku hanya..."
"Iya aku tau, karna aku pernah lihat video kamu yang sedang bernyanyi di sebuah resto dan teman ku mengambil gambarmu" potongnya lagi. "Jadi dia menganggap aku ini adalah seorang gadis yang bekerja jadi penyanyi di sebuah resto begitu ya. OK bagus juga aku jadi gak perlu menjelaskan tentang siapa diriku ini kan?" gurutu ku dalam hati.
Setelah pertemuan itu, aku bisa membaca situasi dan sepertinya mas Bram tak setuju dengan perjodohan ini. Aku tak ambil pusing, jika mau dibatalkan ya silakan jika gak ya silakan, karna semua tak ada pengaruhnya bagi ku.
Setelah pertemuanku dengan mas Bram aku langsung pergi ke cafe dan seperti biasa disana aku akan duduk di kursi sambil memegang gitar dan mulai mematik dan menyanyika sebuah lagu. Dan malam itu aku membawahkan lagu dari peterpan Mimpi Yang Sempurna.
(Intro) D
Em C G D
Em C G D
Em C G
Mungkinkah bila ku bertanya
D Em
Pada bintang-bintang
C G
Dan bila ku mulai merasa
D Em C G D
bahasa kesunyian
Em C G
Sadarkan aku yang berjalan
D Em
dalam kehampaan
C G
Terdiam, terpana, terbata
D Em
Semua dalam keraguan
C G D
Aku dan semua
Em C G D
yang terluka karena kita
(Chorus)
Em C G
Aku kan menghilang
D Em
dalam pekat malam
C G D
Lepas ku melayang
Em C G
Biarlah ku bertanya
D Em
pada bintang-bintang
C G
Tentang arti kita
D
dalam mimpi yang sempurna
(Interlude) Em C G D
Em C G D
Em C G D
Aku dan semua
Em C G D
yang terluka karena kita
(Chorus)
Em C G
Aku kan menghilang
D Em
dalam pekat malam
C G D
Lepas ku melayang
Em C G
Biarlah ku bertanya
D Em
pada bintang-bintang
C G D
Tentang arti kita
Em C G
Aku kan menghilang
D Em
dalam pekat malam
C G D
Lepas ku melayang
Em C G
Biarlah ku bertanya
D Em
pada bintang-bintang
C G
Tentang arti kita
D Em
dalam mimpi yang sempurna
Malam itu ku habiskan waktuku di cafe untuk menghibur para tamu dan juga melepaskan hobi ku dalam bernyanyi dan bermain musik. Kulihat semua orang sangat menikmati tampilanku dan nyanyianku malam itu. Sampai-sampai ada seorang anak kecil yang datang mendekatiku dan memberikan sebuah bunga mawar untuk ku.
Tempat 11 malam dan waktu pergantian sif jaga para pegawe, karna cafe ku ini sengaja ku buka 24 jam dan uda ku ubah menjadi sebuah cafe yang tidak hanya untuk tempat makan dan nongkrong tapi juga tempat peristirahatan bagi pejalan jauh. Dan di setiap pojokan selalu ku kasih sofa yang khusus untuk mereka yang butuh waktu untuk mengistirahatkan mata mereka.
Begitu juga dengan resto yang saat ini di kelolah mas Dido, disana juga ku ubah sama dengan di cafe ini, hanya disana ku tambahin tempat bermain untuk anak-anak dan juga ku siapkan peternakan kucing, jadi mereka tak hanya bisa beesantai tapi juga bisa bermain dengan kucing-kucing yang sudah jinak dan berkliaran di sekitar pengunjung.
"Mbak Dinda malam ini bisakah mbak Dinda membantu saya untuk melamar kekasih saya? Maaf karna saya ingin melamarnya dengan kesan yang bagus tapi gak tau harus bagaimana" ucap dari salah satu pegaweku yang ingin melamar kekasihnya. Aku pun membantunya dengan menyiapkan dekorasi yang dadakan dan ku nyanyikan sebuah lagu untuk menciptakan nuwansa romantis diantara mereka.
Aku tersenyum melihat semua apa yang ku siapkan untuk pegaweku ini, padahal perjodohanku sendiri sepertinya tak akan berjalan mulus, tapi aku berharap cinta mereka berjala baik. Setelah semua persiapan selesai ku lihat seorang gadis berjalan masuk dan sepertinya dia bingung dan juga pengunjung yang baru datang pasti bertanya ada apa. Segera ku petik senar gitarku dan ku lantunkan sebuah lagu dari seventeen
'Sumpah Ku Mencintaimu'
Sesungguhnya, dan akulah pemilik hatimu
Kau 'kan rasa cinta yang terdalam
Bersamaku, kamu bisa bahagia selamanya
Sepantasnya dirimu seutuhnya untukku
Sempurnamu bila bersamaku
Dan denganku, kita bahagia selamanya, oh
Sumpah, 'ku mencintaimu, sungguh 'ku gila karenamu
Sumpah mati, hatiku untukmu, 'tak ada yang lain
Mati rasaku tanpamu, henti nafasku karenamu
Sumpah mati, aku cinta
Sepantasnya (sepantasnya) dirimu seutuhnya untukku (untukmu)
Sempurnamu bila bersamaku
Dan denganku, kita 'kan bahagia selamanya, oh, oh-oh...
Sumpah, 'ku-, sungguh 'ku-
Sumpah mati, hatiku untukmu, 'tak ada yang lain
Mati rasaku tanpamu, henti nafasku karenamu
Sumpah mati, aku cinta, oh
Sumpah, 'ku mencintaimu, sungguh 'ku gila karenamu
Sumpah mati, hatiku untukmu, 'tak ada yang lain
Mati rasaku tanpamu, henti nafasku karenamu
(Sumpah mati aku cinta) Sumpah mati, aku cinta
Sumpah mati, 'ku cinta, sungguh cinta
Begitu lagu ku berakhir semua orang bertepuk tangan, dan terlihat sangat bahagia. Ku lihat gadis yang tadi masuk sudah duduk dan dan dia lagi berbincang sama Salah satu pegawe ku, lalu orang yang bersangkuta ingin melamar gadis itu keluar dengan membawah bunga dintangannya dan aku mulai melantuntan lagu ke dua ku yang sesuai dengan tema malam ini lamaran dari pegaweku untuk wanita yang dicintainya.
Janji Suci
Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu, dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Dengarkanlah, wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci, satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Akulah yang terbaik untukmu
Oh-oh-oh, oh-oh
Penulis lagu: Yovie Widianto
Setelah laguku berakhir ku dengarkan sorak sorai para pengunjung meneriakkan kata "Terima" pada pasangan muda mudi yang lagi dimabuk cinta itu. Aku sangat bahagia saat kulihat kebahagian di raut wajah pegaweku itu.
"Ibu, lihatlah aku sangat bahagia melihat mereka. Semoga aku selalu berguna bagi semua orang, ibu senang kan? Aku telah jadi orang yang bisa memberikan sedikit kebahagian untuk orang lain lewat nyanyian Dinda" aku bergumam dalam hati sambil tersenyum melihat kebahagian dari pegawe ku itu.
Bagi mereka aku bukan bos mereka melainkan teman mereka, namun mereka tetap berbicara sopan pada ku walo ada yang lebih tua dari aku usia mereka. Mereka lebih dekat dengan ku karna mereka lebih bisa terbuka pada ku dari pada ke mas Dido, mereka bilang takut karna mas Dido orangnya terlihat dingin dan tegas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Diva Kurnia sari
nyimak
2023-05-31
0
Woro Kenthir
penulisan kata jangan disesuaikan dgn pengucapannya dong cinta
mol harusnya ditulis mall,pegawai bukan pegawe,kuliah bukan kulya
masukan aja diperhatikan pemakaian bahasa yg benar
2022-04-11
1
Retno Wulanningrum
alurnya acak kadul, bnyak typo dimana2,kebanyakan monolog, harusnya pas dinyanyian ndak usah dirinci, kebanyakan dlm syair malah yg penting terlupakan tulisannya
2021-12-30
10