"Selamat pagi mbak" sapa mexca pada Salah satu pegawe cafe dinda. "Iya selamat pagi pak apa ada yang bisa saya bantu pak?" jawab dari pegawe cafe itu dengan rama. "Maaf, apa saya boleh tau jadwalnya penyanyi Adinda, apakah hari ini dia ada mengisi nyanyi disini?" kata mexca lagi pada pegawe itu. "Oh, mbak dinda. Hari ini tidak kesini pak kemungkinan cuma ke resto saja, karna tadi sudah telpon kalo tidak akan mampir kesini karna lagi sedikit sibuk dengan pekerjaannya yang ada di butik" penjelasan panjang lebar dari pegawe yang ada di cafe itu. "Apa saya bisa minta alamat restonya mbak, saya ingin bertemu dengan dia. Karna ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengannya. Apa jam ini dia ada ngisi disana?" Tanya mexca tak sabar. "Mungkin sorean pak karna kalo pagi biasanya mbak Dinda gak ke cafe atau ke resto" jelas pegawe cafe itu yang seolah mengetahui jelas jadwal keseharian Dinda.
Mendengar penjelasan dari pegawe cafe itu mexca merasa heran dan penasaran kenapa dia seperti tau persis jadwal Adinda dan juga terdengar sangat sopan pada adinda, bukan bicara soal temannya, melainkan seolah dia sedang membahas dan membicarakan atasannya. "....??" mexca bertanya-tanya bingung dalam hatinya, dia merasa dinda sungguh luar biasa sampai rekan kerjanya saja begitu sopan dan hormat padanya.
Setelah panjang lebar mexca bicara dengan pegawe itu akhirnya dia bertanya siapa Adinda sebenarnya pada pegawe cafe itu. "Maaf mbak kalo saya boleh tau siap sebenarnya Adinda dan apa pekerjaannya selain sebagai penyanyi cafe ini" tanya mexca yang penuh dengan rasa penasaran. "Penyanyi cafe? Loh jadi bapaknya belum tau ya?" Tanya pegawe itu heran. "Maaf saya baru bertemu dengan dia dan belum begitu tau, kalo boleh bisa kamu kasik tau saya?" jawab mexca lagi.
Pegawe cafe itu pun memberi tau mexca tentang siapa sebenarnya Adinda dan apa pekerjaannya yang sesungguhnya. Mendengar penjelasan dari pegawe cafe itu akhirnya mexca tau tentang jati diri Dinda yang sebenarnya, dan itu membuat rasa kagum dan sukanya pada Dinda semakin besar dan meluap.
Mexca kembali ke kantornya dan di dalam ruang kerjanya dia terus mengawasi foto Dinda yang diambil secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam dari hp-nya saat dinda sedang menyanyi di cafe pada malam acara lamaran pegawenya pada wanita yang dicintainya. Kadang dia senyum-senyum sendiri karna menatap dan memperhatikan foto Dinda itu.
Pekerjaan pada hari itu diselesaikan dengan sangat cepat oleh Mexca karna dia ingin segera dan cepat-cepat pergi ke alamat yang tadi dikasik oleh pegawe cafe soal resto Dinda. "Faris dengarkan aku, aku akan pergi kesuatu tempat kamu gak usah ikut, aku akan bawah mobil dan menyetir sendiri. Jadi tolong kamu selesaikan sisa pekerjaan dan tolong bilang pada semua untuk rapat hari ini ditunda. Tapi besok jangan sampai ada kesalahan dalam rapat" perintah mexca pada asistennya itu yang dijawab hanya dengan angguka oleh asistennya itu tanda bahwa dia sudah paham dengan perintah dari bosnya.
Tempat pukul 15.00 dinda yang dari pagi berada di butik pergi ke resto, sesampainya di sana dia menghabiskan waktu dengan kucing-kucing peliharaannya. Sambil bermain dengan kucingnya dinda juga sedang menyelesaikan gambar desain gaun untuk di luncurkan dalam butiknya bulan depan.
"Dinda apa kamu sudah makan?" Tanya didi pada dinda yang sejak datang terlihat sibuk menggambar. "Sudah mas didi siang tadi" jawab dinda sambil nyengir dan ndungak melihat didi yang berdiri di depannya. "Kalo gitu makan dulu sekarang, kalo gak makan aku akan menyita semua barang-barang mu ini" perintah didi sambil menunjuk pada buku, kertas dan juga semua alat tulis dinda.
Beberapa menit kemudia didi membawakan macam-macam makanan untuk dinda dan meletakkannya di atas meja dinda. Didi menemani dinda makan, karna dia tau kalo ditinggal maka makanan itu tak akan tersentu dan dinda akan sibuk menggambar lagi.
Brrtt brrrrt.. Hp didi berdering, dan saat diangkat itu ternyata telpon dari kantornya tempat dia bekerja. Didi pun pamit pada dinda untuk pergi, tapi sebelum pergi dia mengancam dinda untuk menghabiskan makanannya dan menunjuk pada cctv, tanda bahwa walo pergi dia akan mengawasi dinda dari cctv itu. Dinda mengaangguk dengan cepat sambil senyum lebar.
Begitu sampai dan membuak pintu resto itu, mata mexca seolah sedang haus akan sesuatu. Dia mengedarkan pandangannya keseluruh arah dan mengawasi semua pengunjung di situ, karna kata pegawe cafe tadi dinda akan duduk sama dengan para pengunjung dan tidak pernah duduk dalam ruangannya. Setelah beberapa saat mexca sadar dan merperhatikan bahwa kucing-kucing di resto itu sebagian besar berkumpul hanya di suatu tempat saja, dan pandangan mata mexca seolah menukan sosok yang dirindukannya. Senyum mexca mereka bak sinar mentari pagi yang menyilaukan mata.
"Halo din." sapa mexca begitu sampai dihadapan dinda. "Ya Allah mex kebetulan sekali, apa kamu sudah makan? Kalo belum maukah menemani aku makan? Aku gak begitu suka makan sendirian" kata dinda sepontan begitu dia melihat mexca. "Tentu aku akan menemanimu" jawab mexca sambil tersentim manis.
Mexca dan dinda pun makan bersama sambil berbincang dan menceritakan bagaimana dia tau bahwa dinda sebenarnga adalah pemilik atau bos dari cafe tempatnga bernyanyi. Mendengar pujian dan sanjungan dari mexca membuat dinda tersipu. Pembicaraan mereka berdua semakin asyik dan nyambung sampai-sampai tak terasa mereka menghabiskan waktu bersama hingga petang tiba.
"Ya Allah mex gak teras uda magrib saja, aku sholat dulu ya? Apa kamu...." pertanyaan dinda terputus. "Gak papa din biasa saja gak perlu merasa bersalah begitu" jawab mexca seolah tau apa yang ingin dikatakan oleh dinda. "Maaf ya, kalo gitu aku tinggal dulu gak papa?" jawab dinda agak canggung. "Iya-iya gak papa, aku sekalian pamit saja laen waktu kita bisa bertemu lagi kan din? Oh iya bolehkan aku minta nomor mu?" jawab mexca yang juga merasa canggung. Dinda memberikan nomor telponnya dan mereka pun berpisah.
Setelah mendapatkan nomor telpon dinda mexca langsung menyimpannya dengan nama wanita terindah. Dan setelah itu mexca langsung kembali ke kantornya untuk mengambil berkas yang ditinggalkannya dari tadi sore. Mexca melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan saat di jalanan tanpa sengaja dia melihat dinda yang sedang berbincang dengan seorang pria dan terlihat sangat akrab, karna mereka seperti sedang membicarakan sesuatu yang sangat menyenangkan.
"Siapa dia? Kenapa mereka terlihat begitu dekat dan akrab" gerutu mexca dalam mobilnya yang terus mengawasi dinda dengan seseorang yang ada di sebrang jalan. "Ah, sudalah aku pulang saja. Besok aku bisa ketemu dia lagi dan coba menanyakannya pada dia siapa pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Rismawati Damhoeri
kok pegawe sih? bukannya pegawai yaa..?
2024-11-16
0