Sepulang dari cafe aku melihat mas Bram sudah pulang dan dia sedang telponan sama seseorang di teras depan. "Assalamu'alaikum mas" ku ucapkan salam dan ku cium tangannya. Ya dia emang mau ku cium tangannya tapi dia tidak menyahut salam ku hanya mengangguk kepalanya saja dan melanjutkan telponnya dengan menjahui aku. "Ya Allah kenapa jadi begini rumah tanggaku?" gerutuku dalam hati sambil masuk ke dalam rumah.
"Mas, apa mas Bram ndak makan? Ini dinda uda masak ikan ayam suwer mas" tanyaku pada mas Bram yang masuk ke dalam rumah setelah selesai telpon. Namun mas Bram tak menyahut, dia pergi melewatiku begitu saja. Aku tak mau berfikir begatif, aku pikir mungkin gak dengar tadi yang ku bilang, dan aku naik ke atas lalu ku ketuk pintu kamarnya. Kulihat mas Bram baru saja selesai mandi. "Maaf mas apa mas ndak makan? Atau mau makan nanti saja" tanyaku pada mas Bram. "Nanti saja din aku makan sendiri kamu gak usah menunggu ku" jawabnya lalu menutup pintu kamarnya.
"Apa ini, kenapa mas Bram jadi tertutup dan cuwek begini sama aku" gerutuku sambil berjalan turun menuju kamar ku. Di dalam kamar aku meratap akan nasib ku, aku menanyakan soal dia makan niatku ingin makan bersama tapi mas Bram malah ingin makan sendiri, terpaksa aku harus menghilangkan makan malam ku lagi, karna selama ini jika mas Bram tak makan di rumah atau ingin makan sendiri aku selalu tak makan malam dan menahan lapar ku dalam keheningan malam. Dalam kekalutan aku mengambil air wudu, lalu ku kerjakan sholat hajad, ku minta pada Ya Rabbi agar aku selalu diberikan ke kuatan untuk bisa bertahan dan mampu meluluhkan hati mas Bram suamik, agar dia mencintai aku walo hanya rasa cinta yang kecil.
Malam itu apa pun yang aku lakukan mas Bram hanya diem dan cuwek saja pada ku. Dia seolah menganggap ku tak ada, dan dia juga tak tanya apakah aku sudah makan atau belum. "Ya Allah ya Robb apa salah ku, dan apa yang harus aku lakukan? Mampukah hambamu ini melewati semua ini ya rabb" aku bersimpuh dan memohon kekuatan untuk bisa menghadapi semuanya dengan hati yang kuat. Malam itu banyak sekali yang ku adukan pada Rabb ku, sampai meminta petunjuknya untuk bisa meluluhkan hati suamiku. Dalam isak tangisku aku ingin agar hanya Rabb ku dan suamiku saja yang mampu menjaga hati ku dan mengingatkan ku, namun betapa terkejudnya aku karna yang muncul dan nampak pada pandangan ku bukanlah mas Bram suamiku melainkan mexca. Tidak mungkin aku meminta pada orang yang bukan suamiku untuk menjaga hatiku. Aku tersenyum miris, merasakan ini benar-benar lucu.
Pagi-pagi sekali setelah selesai masak aku menyiapkan bekal untuk mas Bram. "Kamu tak usah menunggu ku nanti, dan juga tak usah masak untuk makan malam. Karna setelah pulang nanti aku akan makan diluar sama Monica" kata mas Bram mengingatkan ku. "Deg, nyut" dadaku terasa nyeri mendengar kata mas Bram barusan. "Tapi mas haruskah mas Bram setiap kalian ketemu sama dia?" kataku memberanikan diri sambil menahan nyeri di dadaku. "Dengar din, aku sudah mengatakan padamu, kalo kamu harusnya bersyukur karna dia sudah dengan lapang dada mengizinkan aku menikahimu. Orang yang harusnya ku nikahi bukan kamu melainkan dia" jawab mas Bram dengan nada kesal pada ku. Aku tak bisa membantah lagi, aku hanya bisa menunduk menahan air mata ku. Selesai sarapan mas Bram langsung pergi tanpa pamit sama aku.
Seperginya mas Bram aku pun juga pergi ke butik, tapi bukan butik yang biasanya melainkan cabang butik ku yang ada di mol. Aku kesana ditemani sama Yulia teman ku. "Selamat pagi bu, maaf tadi yang telpon adalah saya. Pemilik mol ini katanya meminta bayaran sewa di naikkan bu, makanya tadi saya menelpon ibu" kata pegawe wanita itu pada kami saat dia melihat kami datang, dan lebih tepatnya dia melaporkan itu semua pada Yulia bukan aku. Karna memang Yulia yang ku tugaskan mengurus butiku yang ada di mol ini. Jadinya mereka lebih tau bos mereka adalah Yulia dari pada aku.
Setelah bergelut dan bertemu sama penanggung jawab mol itu aku dan Yulia bersih keras tidak mau menaikkan lagi harga sewanya. Karna dari perjanjian awal kalo harga sewa tidak akan dinaikkan apa pun yang terjadi, tapi tau-tahu sekarang setelah 2 tahun kok tiba-tiba saja naik. Dari kesepakatan yang tidak menemukan titik terang akhirnya aku mengajukan untuk bertemu langsung sama pemilik mol tempatku menyawa itu, karna aku ingin bicara langsung sama bliau. Awalnya penanggung jawab mol itu keberatan, namun karna aku dan Yulia bersih keras akhirnya disetujui. Dan kami harus nunggu kurang lebih 1 minggu karna pemilik mol itu sedang sibuk dan berada di luar kota.
Setelah dari pengurusan di butik dan urusan sewa menyewa aku meluncur langsung ke resto sedangkan Yulia ke butik. Sesampainya aku di resto, disana kulihat ada mas Didi yang sedang sibuk dengan sesuatu, aku tak mau mengganggunya jadi aku memilih sibuk dengan perawatan kucing-kucing ku di resto, dan ku lihat sudah ada yang melahirkan anak-anak kucing yang lucu dan imut. Aku menelpon dokter hewan langganan ku dan aku meminta padanya untuk melihat dan memberi perawatan pada semua kucing ku, yang semuanya mungkin ada sekitar 20 ekor dan ketambahan yang kecil 7 jadi bertambah jumlah menjadi 27 ekor. "Entah dari mana kok bisa hamil ini 2 kucing ku ini, padahal semua kucing yang ku pelihara cewek semua, mungkin ada kucing dari luar yang masuk" aku berkata sendiri sambil merawat anak-anak kucing ku dan mencoba mengenal mereka, karna mereka masih takut ku dekati. Sebenarnya aku tak masalah karna kucing peranakan Persia dan kampung ini jadi terlihat sangat unik, lucu dan menggemaskan.
"Din, kenapa gak bilang kalo kamu kesini?" tegur mas Didi yang saat melihat ku dan dokter hewan ku yang sedang sibuk merawat kucing-kucing ku. "Maaf, aku lihat mas Didi tadi sibuk banget jadi aku minta pada mereka agar tak mengganggu mas Didi" jawabku sambil tersenyum melihat mas Didi yang terus mengusap kepala ku. "Semuanya sehat Dinda tak ada maslah, untuk vaksin nanti yang kecil-kecil ini aku jadwalkan bareng sama yang baru saja dateng aja ya, mungkin minggu depan" kata dokter hewan ku (dokter Baim). "Baiklah Im terima kasih kalo gitu" kata mas Didi pada temannya itu. Ya dokter Baim adalah teman sekolah waktu SMU mas Didi dan mas Dido.
🔘Denting yang berbunyi dari dinding kamarku
Sadarkan diriku dari lamunan panjang
Tak terasa malam kini semakin larut
'Ku masih terjaga
Sayang, kau di mana aku ingin bersama?
Aku butuh semua untuk tepiskan rindu
Mungkinkah kau di sana merasa yang sama?
Seperti dinginku di malam ini
Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini
Kita menari dalam rindu yang indah
Sepi kurasa hatiku saat ini, oh sayangku
Jika kau di sini, aku tenang
Sayang, kau di mana aku ingin bersama?
Aku butuh semua untuk tepiskan rindu
Mungkinkah kau di sana merasa yang sama?
Seperti dinginku di malam ini
Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini
Kita menari dalam rindu yang indah
Sepi kurasa hatiku saat ini, oh sayangku
Jika kau di sini, aku tenang
Penulis lagu: Goeslaw Melly
"Dinda ada apa?" Tanya mas Dido pada ku yang jarang sekali bertemu dengan ku. "Tidak ada apa-apa mas, emang kenapa?" tanyaku bingung. "Kau tak biasanya tidak semangat, apa ada masalah yang membuat mu sulit atau berat?" tanyanya padaku. "Tidak ada mas" jawabku singkat. "Dinda, jika ada sesuatu katakan saja jangan disimpan sendirian, ingat kami adalah keluarga mu, kami tak akan meninggalkanmu sendirian" kata mas Dido membuatku terharu dan tanpa sadar aku pun meneteskan air mata. "Aku rindu pada alm. ayah dan ibu mas" jawab ku bohong. Mas Dido menariku dan membawahku dalam pelukannya, dia menepuk punggung ku, dan itu membuatku semakin sesak dan derai air mata ku pun semakin deras. Sekitar 30 menit aku bersembunyi dalam dekapan mas Dido dan aku merasa sudah enakan, aku pamit mau pulang dan dengan bersihkeras mas Dido ingin mengantar ku pulang. Aku pun pulang dari cafe dengan dianter mas Dido. Karna setelah merawat kucing-kucingku di resto aku langsung pergi ke cafe.
Dalam sebuah rumah tangga yang membuat kita merasa sakit adalah saat suami kita menduakan cinta kita dan saat dia cuwek pada kita, walo pernikahan yang terjalin adalah pernikahan dari sebuah perjodohan namun kebanyakan dari kita seorang wanita selalu mencurahkan cinta untuk suami kita dan berharap suami kita bisa menerima dan mencintai kita juga.
"Dan pergaulilah mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah SWT menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisaa': 19)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Mirna Jutamas
maaf thorr tapi cerita nya seru tapi kebanyakan part menyanyinya
2022-06-27
0
Shantieka
mumet euy bacanya. tata bahasanya ruwet. maap ya
2022-06-05
0
n.heti
lagu nya terlalu banyak jadi bikin males baca nya.
2022-06-02
0