Hari Demi hari ku lalui dengan perpegang teguh pada keyakinanku, berharap semua yang ku lewati akan berubah indah. Setiap hari aku melihat kemesraan mas Bram bersama mbak Monica, dan aku hanya bisa bertahan dengan segala kesabaranku. "Ya Allah, seperti apa rasanya sentuhan seorang suami dan seperti apa rasanya dimanjakan oleh suami" keluhku saat melihat mas Bram yang selalu menatap mbak Monica dengan kelembutan dan membelainya penuh sayang.
"Dinda, tolong besok subuh bangunkan mas ya, jika kamu bangun duluan" kata mas Bram setelah selesai makan malam. "Insya Allah mas, kalo dinda bisa bangun ya" jawabku sambil beresin meja makan. "Baiklah sekarang kamu tidur sudah malam" kata mas Bram yang bantu aku beres-beres. "Iya, apa mbak Monica uda tidur mas?" tanyaku pada suamiku, karna aku tak melihatnya dari tadi. "Iya, dia sudah tidur" jawab suamiku itu sambil tertunduk. "Ya sudah, kalo gitu dinda kekamar dulu ya mas. Mas Bram cepat istirahat" kataku dan aku langsung menghilang di balik pintu kamarku.
Seperti perintah mas Bram, pagi itu aku mengetuk pintu kamarnya untuk membangunkan dia sholat subuh. "Iya din aku sudah bangun" katanya sambil menguap. "Mbak Monica gak dibangunin juga mas, biar sholat bareng" kataku sambil melongokkan kepala melihat ke dalam kamar mas Bram. "Sudah ku bangunkan tadi tapi dia gak mau bangun" katanya yang langsung keluar dan menutup pintu kamarnya. "Ya sudah kalo gitu mas Bram sholat dulu dinda balik ke kamar" kataku yang mau turun tangga. "Loh, sholat bareng aja Din" ajak mas Bram padaku. "Maaf mas Dinda lagi halangan" kataku dan langsung turun ke lantai bawah.
Kegiatan pagiku seperti biasanya, aku masak untuk Sarapan. "Dinda ternyata kamu disini, pantas tadi aku ketok pintu kamu gak nyahut" kata mas Bram yang kulihat sudah berpakean rapi, tapi aku tak melihat mbak Monica turun bareng, mungkin dia masih tidur. Aku menyiapkan sarapan untuk mas Bram. "Sini biar aku sajah!" kata mbak Monica yang langsung menyahut piring yang berisi nasi dari tanganku, sehingga nasi itu berceceran. Kulihat dia emang sepertinya habis bangun tidur, namun rambutnya sudah disisir rapi dan sepertinya dia juga sudah cuci muka saja tadi sebelum turun. "Ya Allah mbak, kenapa kasar begitu sih, kan bisa bilang baik-baik sama Dinda. Dinda juga pasti akan kasik" kataku sambil bersihin nasi yang tercecer di bawah. "Sudah-sudah masih pagi jangan ribut, siapa pun yang menyiapkan dan melayaniku sama saja, kalian sama-sama istriku" jawab mas Bram yg nada sedikit keras.
Saat mas Bram mau berangkat tiba-tiba mbak Monica menarikku hingga aku hampir saja jatuh. "Hey Dinda.! Sini berikan kunci mobil pada ku, aku juga mau pakek mobil karna aku mautelat" katanya dengan nada kasar. "Maksud mbak kunci mobil yang mana?" jawab ku bingung, karna dirumah hanya ada mobil mas Bram dan mobilku saja. "Tentu saja kunci mobil yang biasa kamu pakek, kamu begok ya!?. Itu juga pemberian mas Bram jadi gantian yang pekek jangan kamu hak i sendiri mobil itu, berikan sini kuncinya!" katanya bertolak pinggang. "Apa? Pemberian mas Bram?" kataku sedikit merasa aneh. "Lama ah kamu ini, gantian yang pakek.! Kamu jalan kaki saja sana.!" katanya sambil menggeledah isi tasku. "Sebaiknya mbak tanyakan sama mas Bram" kataku sambil menarik tasku kembali. "Mas Bram pasti akan pemperbolehkannya" katanya dengan percaya diri. "Monica ada apa ini? Bisakah kamu berkata dengan baik pada Dinda?" kata mas Bram saat dia keluar dari dalam rumah. "Aku sudah bicara baik-baik padanya tadi mas, tapi Dinda bersih keras" adunya dengan nada manja pada mas Bram. "Emangnya ada apa. Din kenapa? Apa kamu tidak bisa untuk tidak membuat masalah?" kata mas Bram yang terdengar menyalahkan ku. "Mas, sebaiknya mas tanyakan sama mbak Monica kenapa?" kataku pada mas Bram yang terlihat sedikit emosi. "Aduh mas aku cuma bilang pada Dinda agat dia mau gantian, aki cuma mau minta kunci mobil, karna aku mau telat berangkat ini. Tapi Dinda gak mau ngasik kunci mobilnya" adunya lagi dengan suara yang dibuat-buat sedih. "Mobil itu milik Dinda sendiri bukan pemberian ku. Jika kamu takut telat aku antar, sekarang masuklah ke mobil" kata mas Bram pada mbak Monica. Ku lihat seperti ada wajah kesal dan marah dari raut wajah mbak Monica, begitu juga dengan mas Bram yang sedikit malu.
Di butik aku terus berfikir kenapa mbak Monica bisa mengira kalo mobil itu pemberian mas Bram, dan dia merasa iri padaku, padahal dia sudah mendapatkan mas Bram seutuhnya. 🎶🎶 Tak ingin lagi rasanya ku bercinta setelah ku rasa peri
Kegagalan ini membuatku tak berdaya
Tak dapat lagi rasanya ku tersenyum setelah kau tinggal pergi
Biar ku sendiri tanpa hadir mu kini lagi
"Eh, siapa yang telpon. Mas Bram? 🤔kenapa ya?"
"Halo Din"
"Assalamu'alaikum mas"
"Iya, wa'alaikumsalam"
"Ada apa mas? Kok tumben telpon Dinda"
"Iya, mas mau bilang nanti kamu gak usah masak karna mas mau makan di luar sama Monica"
"Ooo...Ya sudah mas, apa nanti mas bakalan pulang telat?"
"Tidak tau lihat nanti saja"
"Ya sudah kalo gitu, itu saja yang mau mas sampein sama Dinda?"
"Iya, soalnya takut nanti kamu masak"
"Baiklah mas, kalo begitu semoga mas dan mbak Monica bersenang-senang. Assalamu'alaikum"
"Iya, wa'alaikumsalam"
Tuut
"Eh, din? Sudah mati, aku sms saja"
(Din maaf tadi mas lupa belum nanya, apa kamu mau dibawakan makanan nanti kalo mas dan Monica pulang?)
(Tidak usah mas, terima kasih)
"Dibawakan makanan apanya, pulang e aja gak tau, bisa kelaparan nanti aku"
"Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, baru saja sore sekarang uda malam aja. Sebaiknya sekarang aku ke cafe saja, sekalian nanti makan disana, kebetulan ini juga jadwalku mengisi acara di sana" aku bangkit dan menemui Yulia. "Yulia aku balik dulu, mau ke cafe ketemu sama mas Dido dan jadwalku ngisi disana" pamitku pada teman ku Yulia yang bekerja pada ku sebagai manajer butikku. "Iya hati-hati di jalan, kamu gak makan dulu Din? Atau nanti makan di cafe?" katanya padaku dengan rasa khawatir. "Iya nanti aku makan disana saja" jawabku sambil senyum. "Beneran makan ya? Jangan sampai gak makan, nanti aku akan telpon mas Dido" katanya sambil mengancam ku.
Aku pun melajukan mobilku menuju cafe, dan sesampainya di sana aku langsung minta di buatkan makanan sama pegawe ku, karna jika tidak makan Yulia akan mengomel pada ku, kalo aku gak makan. Aku pun makan malam ditemani sama mas Dido, dan selesai makan kami berbincang sejenak setelah itu aku naik kepanggung untuk mengisi lagu, setelah lagu terakhir yang di nyanyikan oleh bend penyanyi cafe ku.
Cuwek
Kadang ku kesal dengan sikapmu
Yang s'lalu bertanya mana perhatianku
Mungkin kau tak pernah merasakan
Apa yang kulakukan di setiap pengorbananku
S'lalu jadi yang kau mau
Menjaga di setiap saat
Tapi kau tak melihatnya
Mana ada aku cuek
Apalagi gak mikirin kamu
Tiap pagi malam ku s'lalu
Memikirkan kamu
Bukalah pintu hatimu
Agar kau tahu isi hatiku
Semua perjuanganku
Tertuju padamu
Mungkin kau
Tak pernah merasakan
Apa yang kulakukan
Di setiap pengorbananku
S'lalu jadi yang kau mau
Menjaga di setiap saat
Tapi kau tak melihatnya
Mana ada aku cuek
Apalagi gak mikirin kamu
Tiap pagi malam ku s'lalu
Memikirkan kamu
Bukalah pintu hatimu
Agar kau tahu isi hatiku
Semua perjuanganku
Tertuju padamu
Ho-oo-oo-ah, yeah
Ho-oo-oo
Ho-oo-oo-ah, yeah
Ho-oo-oo
Mungkin kau tak merasa
Yang t'lah kuperlihatkan
Rasa ingin kumilikimu
Janganlah kau merasa
Bahwa ku hanya main-main
Tolong, dengarkanlah
Mana ada aku cuek ('tuk kali ini saja)
Apalagi gak mikirin kamu (kau yang mulai padaku)
Tiap pagi malam ku s'lalu (hingga ku memilihmu)
Memikirkan kamu (semua caraku)
Bukalah pintu hatimu (hingga kau pun merasa)
Agar kau tahu isi hatiku
(Dan takkan meragu) semua perjuanganku
Tertuju padamu (uu-uu, yeah)
Bukalah pintu hatimu
Izinkanlah ku merayu
Bukalah pintu hatimu
Jangan meragu
Bukalah pintu hatimu
Izinkanlah ku merayu
Bukalah pintu hatimu
Jangan meragu
Mana ada aku cuek
Apalagi gak mikirin kamu
Tiap pagi malam ku s'lalu
Memikirkan kamu
Bukalah pintu hatimu
Agar kau tahu isi hatiku
Semua perjuanganku
Tertuju padamu
Penulis lagu: Rizky Febian Andriansyah
Diantara pengunjung itu ternyata ada Bram dan Monica yang sedang menikmati makan malam mereka berdua. "Ya ampun, pantas aku selalu familiar saat ketemu sama dia. Ternyata sekarang aku, kalo aku ketemu dia disini waktu kita masih pacara dulu sayang. Apakah waktu itu dia sudah jadi istri mas Bram? Penyanyi cafe, apa tidak ada pekerjaan yang lebih baik lagi dari ini?"
"Sudah makan saja makanan kita, jangan sampai semuanya merusak suasana kita makan"
"Apa yang mas Bram katakan benar, kenapa kita harus mengurus dia. Dia hanya seorang penyanyi cafe"
Setelah aku selesai mengisi lagu, kunserahkan lagi kepada grub band yang malam itu mengisi acara. Lalu aku pamit untuk pulang pada mas Dido. "Dinda tunggu, sekarang tolong katakan dengan jujur sama mas ada apa dengan rumah tanggamu?" tanyanya padaku dengan nada marah. "Maksud mas apa? Rumah tangga Dinda baik-baik saja mas" jawabku dengan bingung. "Apa kamu ingin mas tanyakan pada suamimu?" kata mas Dido sambil. menunjuk ke arah salah satu pengunjung di cafe itu. Dan aku pun mengikuti arah yang ditunjuk sama mas Dido, ternyata disana ada mas Bram dan bak Monica yang sedang makan dan bercanda.
Akhirnya aku pun menjelaskan dan menenagkan amarah mas Dido, dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja walo sebenarnya hatiku serasa tersayat setiap kalian melihat mereka berdua bermesraan. "Ku mohon mas, jangan lakukan apa pun biar Dinda yang atasi semua masalah keluarga Dinda. Tolong mas, Dinda mohon 🙏. Nanti jika Dinda tak sanggup makan orang pertama yang akan Dinda hubungi adalah mas Dido" aku memohon, karna aku atau mas Dido orangnya pemarah dan tak sabaran. "Baiklah, tapi jika nanti mereka membuat ulah mas gak akan bersabar lagi, mas akan menghajar mereka berdua" katanya sambil manahan marah. "Terima kasih mas, tolong jangan ceritakan ini sama Om dan mas Didi". Mas Dido memeluk dan mengusap punggungku.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke dalam kamarku. Aku mengistirahatkan tubuh dan pikiranku, karna aku gak mau berfikir tentang mas Bram dan mbak Monica. Dan pada saat di sepertiga malam, aku yang bermaksud ingin membangunkan mas Bram untuk sholat malam bareng justru mendengar sesuatu yang semakin menyayat hatiku. Aku bersimpun di hadapan Rabb ku, ku adukan segala keluh kesahku padanya, aku memohon jalan keluar yang terbaik untuk kehidupan dan kebahagianku. Aku tak sanggup lagi rasanya memohon untuk pertahanan rumah tanggaku.
Penyesalanku yang menerima perjodohan dan pernikahan ini jadi ku pertanyakan. Aku tak merasa sedih dengan pernikahan kedua suamiku, aku hanya merasa sedih atas perlakuan yang tak sama padaku, sebagai seorang istri aku juga merindukan pelukan dan belaian dari suamiku. Karna dari awal pernikahan aku sudah berusaha untuk menerima mas Bram sebagai suamiku. Namun, jangankan dekapan bahkan gandengan tangan saja aku tak pernah mendapatkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Mbak Priyani Nasa
gerammmmm ya liat si Dinda,, dah d gituin masih juga bertahan😇😇😇
2023-01-27
0
Arsuni Gustaf
ada ya wanita goblok seperti ini.....goblok...goblok...oon...
2022-12-14
0
Fizi Bin Uucup
ayo Dinda tinggalkan saja suami kayak gitu .mending sama mexta.
2022-06-28
0