Setelah berganti pakaian, Lux dan tiga orang lainnya sampai di bukit tempat mereka akan melakukan latihan. Lux, Nana, dan Yuna segera memakai perlengkapan mereka, sedangkan Olivia yang tidak tau apa-apa dia hanya melihat apa yang ketiga orang itu lakukan.
Hiro yang datang sedikit terlambat, dia segera mendekat ke arah mereka, tapi seorang pria yang mendampingi Olivia terlihat tidak menyukai Hiro yang terlihat selayaknya anak dari orang yang memiliki kekuasaan.
“Nona, siapa pemuda itu? Dari pakaian murahan yang dia gunakan, apa mungkin dia berasal dari kalangan keluarga tingkat bawah?.”
“Dia teman satu kelasku dan aku tidak tahu dia berasal dari kalangan mana, yang aku tahu lebih baik Paman dian dan jangan ikut campur dengan urusanku!.”
“Tidak mungkin Paman tidak ikut campur dengan urusan nona, apa lagi jika itu menyangkut dengan siapa saja nona menjalin hubungan pertemanan.”
Olivia memandang malas kearah pria yang berada di sampingnya, lalu dia berkata dengan tegas padanya. “Kali ini lebih baik Paman diam, dan jangan Paman sesekali mengatakan sesuatu yang tidak pantas pada semua temanku!.”
Pria yang Olivia panggil Paman hanya menganggukkan kepalanya. “Aku hanya akan diam kalau nona berhubungan dengan orang-orang yang setara dengan status nona.” katanya dalam hati.
Di sisi lain, Hiro yang baru sampai segera membawa mereka semua pergi ke kaki bukit tempat mereka akan memulai pelatihan peningkatan kekuatan fisik.
Olivia dan pria di sampingnya terkejut saat tahu latihan apa yang akan dilakukan Hiro dan tiga orang lainnya. Membawa pemberat dan berlari menaiki serta menuruni bukit? Olivia tak bisa membayangkan seberapa berat latihan yang mereka lakukan selama ini.
“Nana, apa kalian akan melakukannya?.” kata Olivia sambil berjalan mendekati Nana.
“Tentu saja, iya.” jawab Nana sambil menyelesaikan persiapannya.
“Walau hanya bukit, tetap saja jalanan ini cukup terjal dan curam, apa kalian tidak takut jatuh dan terluka saat latihan?.” kata pria yang selalu berada di samping Olivia.
“Seorang hunter dekat dengan yang namanya kematian, jadi terluka saat berlatih itu sudah hal biasa bagi seorang hunter.” balas Lux yang secara terang-terangan menunjukkan kalau dirinya tidak menyukai keberadaan pria itu.
Dia adalah orang yang jarang menunjukkan ketidak sukaannya pada seseorang, tapi khusus untuk pria itu, sejak awal melihat keberadaannya, dia dengan sangat jelas menunjukkan kalau dirinya memang tidak menyukai keberadaan pria itu.
Tapi bukan hanya dia yang tidak menyukai keberadaan pria itu. Nana dan Yuna juga tidak menyukai keberadaan pria itu, dan entah kenapa mereka juga mulai merasa kurang nyaman dengan keberadaan Olivia.
Saat Lux, Nana dan Yuna mulai berlari menaiki bukit setelah lebih dulu melakukan pemanasan, pria yang semula berada di samping Olivia, perlahan dia berjalan mendekati Hiro yang sedang mengawasi latihan ketiga temannya.
“Bagaimana bisa anak dari keluarga tingkat bawah berteman dengan anak-anak dari keluarga tingkat atas?.” kata si pria yang saat ini sudah berada di samping Hiro.
“Mereka sendiri yang menjadikan aku teman, dan lagi aku tidak pernah merugikan mereka.” kata Hiro tak mengalihkan pandangan matanya dari ketiga temannya.
“Sekarang kamu memang tidak membuat mereka rugi, tapi di masa depan aku yakin kamu akan memanfaatkan mereka untuk kepentingan mu sendiri.”
“Memanfaatkan mereka untuk kepentingan ku? Aku merasa merekalah yang saat ini sedang memperoleh manfaat dengan berteman dengan ku.” kata Hiro dengan santai.
“Apa manfaat yang kamu berikan pada mereka? Yang aku lihat justru kamu cuma menjadi beban dalam latihan mereka.” ujar si pria.
“Kamu bisa menanyakan itu semua pada mereka bertiga.” kata Hiro yang masih tak memandang lawan bicaranya.
“Cih, hanya berkata omong kosong.” cibir si pria.
“Paman, apa yang kamu katakan padanya?.” tanya Olivia yang merasa ada yang salah dengan gelagat pria yang dia panggil Paman.
“Paman hanya mengatakan kalau pemuda ini sedang memanfaatkan keberadaan mereka.” jawab si pria.
“Kenapa mengatakan itu pada nya?.” Olivia kembali bertanya pada pria itu.
Mendengar pertanyaan Olivia, pria itu tersenyum lalu berkata. “Nona bisa melihat, di saat mereka sedang berlatih, dia cuma diam sambil melihat mereka melakukan latihan. Orang lemah yang nantinya hanya akan bersembunyi di belakang orang kuat, itulah yang Paman maksud dengan dia sedang memanfaatkan keberadaan teman-teman nona.”
“Hiro, apa itu benar?.” ujar Olivia sambil memandang Hiro.
“Untuk apa nona menanyakan kebenaran padanya sedangkan dia adalah orang yang sangat pandai berbohong?.” kata si pria.
“Mengapa aku merasa kalau pria ini sangat tidak menghargai keberadaan Olivia?.” kata Hiro dalam hati.
“Anak muda, lebih baik sekarang kamu pergi dari tempat ini dan jangan sesekali kamu berdekatan dengan nona Olivia serta ketiga temannya!.”
Pria itu memandang sinis kearah Hiro yang tak sedikitpun bergerak dari tempatnya setelah mendengar apa yang di katakan nya. “Bagaimana kalau Paman yang pergi dari tempat ini? Jujur saja, keberadaan Paman merusak pemandangan di tempat ini.” katanya dengan suara datar.
Mendengar apa yang dikatakan Hiro, pria itu terlihat geram namun dia masih bisa menahan diri untuk tidak melanggar hukum dengan memukul anak remaja di bawah umur dewasa.
Tapi dia tidak ingin diam saja, setidaknya dia akan memanfaatkan keberadaan nona mudanya untuk membalas perbuatan seorang emuda yang telah membuatnya geram.
“Menyuruh aku pergi? Kamu pikir kamu siapa berani mengatakan hal itu padaku?.” kata pria itu.
“Mereka dapat berlatih di tempat ini atas izin yang aku berikan. Seharusnya kamu tahu kalau tempat ini bukanlah tempat umum yang bisa didatangi sembarangan orang!.” ujar Hiro sambil menunjukkan senyumannya.
“Sekalipun apa yang kamu katakan itu benar, bagaimana bisa orang sepertimu bisa memiliki hak atas tempat ini?.”
Hiro tersenyum mendengar pertanyaan yang diberikan padanya. “Apa hak mu menanyakan hal itu padaku? Dan maaf saja kamu tidak layak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu.” katanya.
“Banyak alasan dan berbelit-belit saat di tanya, itulah ciri seorang pembohong, dan sifat seperti itu biasanya di turunkan dari orangtua. Aku yakin kalau kedua orangtuamu adalah penipu ulung yang telah berhasil menipu banyak orang.”
“Orangtua menjadi sampah masyarakat, anaknya pasti tak akan jauh berbeda dengan orangtuanya.” kata pria itu dengan senyum sinis nya.
“Paman, lebih baik kamu tarik kata-kata mu dan segera minta maaf pada Hiro!.” kata Olivia yang dapat merasakan perbedaan dari aura di sekeliling Hiro.
Bukannya menuruti keinginan Olivia, pria itu justru mengatakan sesuatu yang semakin memperburuk keadaan. “Nona, aku tidak akan pernah meminta maaf pada anak seorang sampah masyarakat.”
Hiro mebalik tubuhnya dan memandang pria yang masih tertawa setelah mengeluarkan kata-kata yang intinya kata-kata itu ditujukan untuk menghina kedua orang tuanya.
“Hanya dengan kekuatan hunter tingkat C dia berani menghina tuan? Apa dia punya seribu nyawa?.” kata inti api semesta.
Olivia yang melihat keadaan semakin memburuk, tanpa di sadari oleh pria yang selama ini menjadi pengawalnya, dia begitu saja melompat mundur menjauhi keberadaan pria itu.
Dan untuk Lux, Nana, dan Yuna, mereka yang baru setengah jalan tiba-tiba menghentikan latihannya saat merasa cuaca yang tadinya sejuk dengan angin sepoi-sepoi saat ini berganti dengan cuaca yang semakin terasa panas tanpa ada hembusan angin.
Di tempat Hiro, dia tiba-tiba saja bergerak dan kini dia tepat berada di hadapan pria yang baru menghina orangtuanya.
“Asal kau tau, kedua orangtuaku sudah lama tiada bahkan sebelum aku dapat mengingat wajah mereka, tapi walau begitu, aku masih sangat menyayangi mereka.” kata Hiro dengan suara yang begitu dingin.
Setelah mengatakan itu, Hiro menghilang begitu saja dari tempatnya dan detik berikutnya dia muncul dengan tinju yang mengarah ke wajah pria yang baru menghina kedua orangtuanya.
Boomm
Pria itu terpental ke samping dan baru berhenti setelah tubuhnya menghantam batang pohon berukuran besar. Walau masih sadar, pria itu tak lagi dapat bangkit setelah menerima pukulan Hiro.
“Kalau kamu monster, sudah sejak tadi aku akan melenyapkan keberadaan mu dari dunia ini.” kata Hiro lalu dia segera menarik kembali aura kekuatannya yang sempat mempengaruhi keadaan area sekitarnya.
Mulur Olivia ternganga setelah dia melihat pengawalnya yang merupakan hunter tingkat C dibuat tak berdaya hanya dengan sebuah pukulan.
Olivia mendekati pengawalnya yang masih belum bangkit. Walau tidak mengalami luka parah, Olivia tahu kalau pukulan Hiro pasti sangat menyakitkan.
Setelah beberapa saat, si pria yang merupakan pengawal Olivia mulai bangkit walau masih dalam keadaan duduk. “Apa sekarang Paman masih ingin berlanjut memprovokasi nya?.” tanya Olivia.
“Nona, apa benar dia tadi hanya memukul ku dengan satu pukulan?.” tanya pria itu memastikan kalau dirinya benar-benar dibuat tumbang hanya dengan sebuah pukulan.
Olivia menganggukkan kepalanya. “Dan aku rasa dia belum menggunakan pukulan terkuatnya saat tadi memukul mu.” ujarnya.
Pria itu memandang Hiro yang kembali mengawasi latihan ketiga temannya. “Karena kesombongan ku, aku hampir bertemu dengan dewa kematian.” gumamnya lirih.
°°°
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Adhie Adhie
baru kenal ya dgn super hiro 💪
2023-03-21
0
Muslim Agung
plot proviKasi menghina yang ga masuk akal
2023-03-08
0
izRoiL
Mantapz
2021-11-25
0