Di pinggir danau yang terlihat begitu tenang, Hiro dengan tenang mengamati pergerakan air danau. Di dekatnya ada beberapa orang yang juga sedang melakukan hal yang sama dengannya.
“Sebaiknya kita pergi dari tempat ini! Terlalu lama berada di tempat ini, aku takut anggota orang bertopeng akan kembali menyerang kita.” ujar Hiro.
“Aku juga sependapat dengan mu anak muda, nona Olivia bagaimana kalau sekarang kita pulang? Tempat ini untuk sementara waktu jauh dari kata aman.” kata Sarah.
“Baiklah, kita harus mengutamakan keselamatan kita, tapi kalau diantara kalian ada yang ingin ikut ke rumah ku, dengan senang hati aku akan membawa kalian pergi bersamaku.” kata Olivia.
“Mungkin lain kali aku akan berkunjung ke rumah mu, tapi aku tidak tahu dengan mereka. Mungkin diantara mereka ada yang ingin ikut denganmu.” Hiro memandang Lux, Nana, dan Yuna secara bergantian.
“Dengan keadaan seperti ini berkunjung ke rumah mu itu sangat tidak mungkin, jadi seperti Hiro, lain kali aku akan berkunjung ke rumahmu.” kata Nana.
“Aku sependapat dengan Nana.” ujar Yuna sambil melihat pakaiannya yang sedikit kotor, dan tubuhnya juga terasa lengket oleh keringat.
“Lain kali kami pasti berkunjung ke rumah mu.” ungkap Lux.
Mendengar perkataan teman-teman barunya, Olivia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu dia dan Sarah pergi meninggalkan area pinggiran danau. Dalam perjalanan pulang, Olivia tak dapat menyembunyikan perasaan senangnya setelah mengenal Hiro dan tiga orang lainnya.
Setidaknya saat ini dia telah mendapatkan banyak teman baru yang tak terlihat seperti penjilat, selayaknya orang-orang yang dulu pernah menjadi temannya.
“Mungkin mereka akan menjadi teman terbaik yang pernah aku miliki.” kata Olivia dalam hati sambil menunjukkan senyuman di wajahnya.
Di tempat lain, Hiro dan yang lainnya juga telah meninggalkan area pinggiran danau. Lux, Nana, dan Yuna memutuskan untuk pulang, sementara Hiro dia pergi ke tempat di balik bukit tempat biasa dia berlatih.
“Belum lama ini sepertinya ada sekelompok orang yang melewati tempat ini.” kata Hiro yang melihat banyak jejak kaki di tempat yang dia datangi.
“Jejak ini masih baru, aku yakin orang-orang itu belum pergi terlalu jauh dari tempat ini.” baru juga selesai berkata, muncul lima sosok bertopeng hitam yang langsung mengepungnya.
Hiro cukup terkejut dengan kedatangan mereka yang begitu tiba-tiba. Dia tidak menyangka, niat ingin menyergap mereka, saat ini justru dirinya yang di sergap oleh mereka.
Sedangkan untuk lima sosok bertopeng, mereka begitu fokus memandang Hiro yang sudah mereka kepung. Mereka tahu Hiro adalah salah satu orang yang telah mengganggu rencana mereka, bahkan mereka harus kehilangan beberapa anggotanya.
“Baiklah, kalian ingin maju lebih dulu atau aku yang maju menyerang kalian?.” kata Hiro sambil tersenyum.
“Cih, jangan terus berpura-pura kamu tidak takut dengan keberadaan kita! Apa kamu pikir dengan pura-pura tidak takut kami akan gentar menghadapi mu?.”
“Mungkin itu akan berlaku untuk orang lain, tapi itu tidak berlaku untuk kami.”
“Karena dia sudah melayangkan sebuah tantangan, bagaimana kalau kita langsung membunuhnya?.”
Kelima sosok bertopeng mulai mengeluarkan senjata mereka dan bersiap menyerang Hiro yang masih terlihat sangat tenang.
“Paman Paman sekalian, silahkan maju dan biarkan yang muda ini mempertemukan kalian dengan penjaga alam kematian.” kata Hiro.
“Kurang ajar, aku pasti membunuhmu!.” kata salah satu sosok bertopeng yang langsung menyerang Hiro.
“Kita serang bersama-sama.” teriak sosok bertopeng lainnya.
Dengan gerakan yang sangat cepat, kelima sosok bertopeng terus melakukan serangan ke arah Hiro. Hiro sendiri segera mengeluarkan katana miliknya untuk menangkis dan menahan serangan mereka berlima.
“Apa hanya ini kekuatan yang kalian miliki?.” tanya Hiro memandang remeh seluruh lawannya.
Kelima sosok bertopeng tak ada yang menjawab pertanyaan Hiro. Saat ini mereka fokus pada serangan yang mereka lakukan untuk membunuh Hiro.
“Cih, orang kemah yang hanya mampu bertahan dari serangan tapi sudah begitu sombong.” cibir salah satu sosok bertopeng.
“Tentu aku sombong. Lihat, kalian berlima dan aku sendirian, tapi sejak tadi tak ada satupun serangan kalian yang dapat melukaiku. Terbukti bukan kalau aku memang pantas menyombongkan diri.”
Kelima sosok bertopeng yang mendengar itu semakin dibuat maeah. Dengan amarah yang semakin memuncak, mereka berlima segera mengeluarkan seluruh kekuatan dan skill terkuat mereka untuk melenyapkan Hiro.
Hiro yang melihat semua itu hanya tersenyum dan bersikap santai. Dia tahu batasan kekuatannya, dan kekuatan yang ditunjukkan kelima sosok itu belum sampai menyentuh batasan kekuatannya.
Sedangkan kelima sosok bertopeng yang melihat ketenangan lawan mereka, entah kenapa mereka merasa kalau menjadikan Hiro sebagai lawan adalah sebuah kesalahan.
Timbul rasa tahut di diri kelima sosok itu, tapi mereka mencoba membuang jauh-jauh rasa takut itu, dan mereka kembali berfokus menyerang Hiro.
“Jangan terlalu lama melakukan persiapan! Lebih baik kalian segera maju dan kita akhiri semua ini dengan cepat.” kata Hiro sambil memutar-mutar katana di tangannya.
Mendengar itu, kelima sosok bertopeng segera bergerak dengan sangat cepat ke arah tempat Hiro berdiri, dan langsung menyerangnya.
Sedangkan di tempat lainnya, ada satu lagi sosok bertopeng di tempat tersembunyi yang secara diam-diam terus mengamati jalannya pertarungan antara Hiro dan kelima rekannya.
Hiro sebenarnya sudah mengetahui keberadaan satu sosok bertopeng yang menyembunyikan dirinya. Tapi dia mengabaikan keberadaan sosok itu untuk sementara waktu.
Saat ini dia lebih fokus menghadapi lima sosok yang menjadi lawannya, tapi dia tak akan melupakan keberadaan satu sosok yang bisa saja menyerangnya dari arah titik buta nya.
“Aku akui kekuatan kalian sedikit meningkat, tapi kekuatan itu masih belum cukup kalau kalian ingin membunuh ku.” dari bertahan, dengan cepat Hiro merubah gerakannya menjadi gerakan menyerang.
“Sialan, bocah ini benar-benar kuat!.” kata salah satu sosok bertopeng yang merasakan tangannya seperti terbakar saat pedang miliknya berbenturan dengan katana Hiro.
“Apa sekarang kalian tahu seberapa jauh perbedaan kekuatan kita?.” kata Hiro setelah dia berhasil membuat lawannya melompat mundur.
“Dia terlalu kuat untuk kita hadapi, dan kenapa juga ketua belum muncul dan membantu kita?.” kata sosok bertopeng yang masih saja menahan rasa panas di tangannya.
“Apa yang kalian sudah menyerah? Dia memang kuat, tapi dia cuma sendiri dan kita berlima. Sekuat apapun dia, dengan kita terus menyerangnya dia pasti akan kelelahan, dan saat itulah kesempatan kita untuk membunuhnya.”
Empat sosok bertopeng yang sempat berputus asa kembali bersemangat setelah mendengar perkataan salah satu rekan mereka.
“Serang kembali bocah itu, dan kita tunjukkan padanya kalau dia bukanlah lawan yang harus kita takuti.” kata salah satu sosok bertopeng pada keempat rekannya.
Di tempatnya berdiri, Hiro kembali menunjukkan senyumannya saat melihat lawannya kembali bersemangat melakukan serangan kepadanya.
“Karena kalian tidak takut dengan kematian, biarkan aku memberikan kematian untuk kalian.” kata Hiro sambil bersiap menyerang mereka.
“Aku sudah memberi kesempatan pada kalian, tapi kalian tak mengindahkan kesempatan yang telah aku berikan. Sekalipun kalian hari ini tidak mati, aku pasti mendapatkan identitas kalian.” kata Hiro.
“Kamu tidak akan pernah mendapatkan identitas kami, karena kamu akan segera mati di tangan kami.” teriak salah satu sosok bertopeng.
“Hahaha.... Mari kita lihat, aku yang mendapatkan identitas kalian atau kalian yang berhasil membunuhku, tapi aku sudah tahu siapa yang akan mendapat apa yang diinginkannya.”
°°°
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Adhie Adhie
gaassss trs thor 🤟
2023-03-21
0
◌⑅⃝●♡⋆♡ Devandra ♡⋆♡●⑅⃝◌
.
2022-04-26
0
izRoiL
Semangat
2021-11-25
0