Di sebuah rumah mewah.
“Siapa pria yang berani mendekati tunangan mu? Katakan pada Ayah siapa pria itu, dan biarkan orang-orang Ayah yang menyingkirkannya.” kata pria paruh baya pada pemuda yang berada di depannya.
Pemuda itu adalah Edward tunangan Luna, sedangkan pria paruh baya itu adalah Daniel, Ayah Edward.
“Namanya Hiro, tapi aku tidak tahu dia tinggal di mana, karena hari ini kali pertama aku bertemu dengannya.” ujar Edward menjelaskan apa yang dia ketahui.
“Kamu tenang saja, hanya dengan tahu namanya orang-orang Ayah pasti dapat menemukan dan menyingkirkan keberadaan orang itu dari kota ini.” kata Daniel dengan begitu yakin.
“Ayah tidak perlu menyingkirkan orang itu, tapi aku ingin Ayah membuat orang itu menjauhi Luna!.” ujar Edward.
“Apa kamu yakin hanya ingin melakukan itu padanya?.” tanya Daniel pada satu-satunya putra yang dia miliki.
Edward dengan cepat menganggukkan kepalanya. “Aku yakin dengan itu, dan lagi dia bukan sebuah ancaman yang perlu kita takuti. Dengan sedikit menggertak, aku yakin dia akan segera menjauhi Luna.” katanya.
“Kalau itu kemauan mu, Ayah hanya bisa menurutinya.” kata Daniel.
°°°
Hiro yang baru sampai di rumahnya segera pergi menyiapkan makan malam untuk dirinya dan juga untuk Zizu.
Tak sampai satu jam, Hiro telah menyelesaikan beberapa hidangan yang menggugah selera dan menaruhnya di atas meja makan. Zizu yang baru selesai mandi, seperti biasa dia langsung menuju ke tempat makan dan meminum coklat hangat yang sudah disiapkan oleh Hiro.
“Hiro, apa kamu ada hubungan spesial dengan Luna?.” kata Zizu setelah meneguk minumannya.
“Ibu, aku tidak ada hubungan spesial dengan senior Luna, dan lagi hari ini adalah kali kedua aku bertemu dengan nya.” balas Hiro.
“Baguslah kalau begitu. Aku harap kamu tidak menjalin hubungan lebih dengan Luna, karena dia sudah memiliki seorang tunangan, dan lagi Ayah dari tunangan Luna terkenal sangat tidak suka kalau ada yang mengusik kehidupan putranya.” Zizu lalu menjelaskan identitas Ayah dari tunangan Luna.
“Bukannya aku takut dengan kedudukan orang itu, tapi aku cuma khawatir dia akan mengusik hidupmu. Tapi kalau orang itu berani mengusikmu, aku yakin kakek dan nenek mu akan turun tangan dan tentu orang itu akan sangat menyesal karena berurusan dengan dua monster tua itu.” ujar Zizu sambil tersenyum.
“Hah, aku harap kakek dan nenek tidak ikut campur dalam kehidupan kita. Kalau mereka ikut campur, itu hanya akan membuat kita menjadi orang-orang yang malas.” kata Hiro sambil menunjukkan senyum di wajahnya.
“Dan jangan lupa kalau kakek dan nenek mu itu adalah monster tua yang sangat kejam, sekali tahu ada yang menyinggung kita, saat itu juga pasti terjadi pertumpahan darah.” ujar Zizu mengingat sifat dari Ayah dan Ibunya.
“Hah, Ibu benar soal mereka.” kata Hiro, dan setelah selesai berbincang santai dengan Zizu serta menghabiskan makan malamnya, Hiro pergi ke halaman belakang rumah untuk melemahkan otot-otot nya.
Saat Hiro sedang melakukan gerakan untuk melemaskan otot-otot tubuhnya, Zizu datang dan menyerahkan sebuah hadiah seperti yang dia janjikan saat di tempat latihan.
“Karena sekarang kamu sudah menjadi murid akademi hunter, artinya kamu juga berhak memiliki salah satu senjata khusus yang hanya dibuat oleh ahli senjata yang ada di keluarga kita.” kata Zizu sambil menyerahkan sebuah belati berwarna hitam pada Hiro.
“I...ini, apa Ibu yakin menyerahkan ini sekarang?.”
Tangan Hiro masih saja gemetaran saat menerima sebuah belati berwarna hitam dengan ukiran khusus, yang mana ukiran itu adalah ukiran yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya hancur senjata itu sendiri.
Zizu hanya tersenyum saat dia melihat kedua tangan Hiro gemetaran saat menerima belati pemberiannya.
Senjata apapun yang dibuat secara khusus oleh ahli senjata di keluarganya, senjata itu dapat meningkatkan 100 persen kekuatan si pengguna saat dia telah sepenuhnya menguasai senjata itu.
Tidak seperti senjata buatan ahli senjata di tempat lain yang paling banyak hanya dapat meningkatkan 50 persen kekuatan si pengguna, sehingga senjata-senjata itu akan kalah saat diadu dengan senjata yang dibuat oleh para ahli senjata di keluarga Zizu.
Hiro segera menyimpan senjata pemberian Zizu. Dengan ukiran khas keluarga Zizu, orang-orang akan langsung tahu kalau Hiro adalah bagian dari keluarga itu kalau dia memakai senjata pemberian Zizu.
Setelah menyimpan belati nya, Hiro kembali ke halaman belakang menemui Zizu. “Aku masih penasaran, kenapa Ibu menyerahkan senjata itu sekarang? Bukannya menyerahkan setelah aku lulus dari akademi?.”
“Aku menyerahkan senjata itu hanya untuk berjaga-jaga, dan mulai besok kamu wajib membawa senjata itu.” kata Zizu.
“Hah, sepertinya besok akan terjadi kehebohan saat ada yang tahu tentang dua senjata yang aku bawa.” kata Hiro sambil memikirkan cara untuk menyembunyikan senjata pemberian Zizu.
“Taruh saja belati itu di belakang punggungmu.” kata Zizu membantu memecahkan masalah Hiro.
“Hehehehe...itu ide yang bagus.” balas Hiro.
“Dengan menaruh belati ini di belakang punggung ku, setidaknya tidak akan ada yang melihat satu sisi sarung belati yang terdapat ukiran khas keluarga kakek dan nenek.” kata Hiro dalam hati.
“Tapi apa nanti yang harus aku lakukan kalau ada orang yang ingin melihat senjata di punggung ku?.” ujar Hiro.
“Kalau itu benar-benar terjadi, ya kamu harus siap kalau nantinya akan banyak orang yang menaruh hormat padamu.” balas Zizu sambil tersenyum lalu dia begitu saja masuk kedalam rumah membiarkan Hiro yang sedang menunjukkan ekspresi wajah jeleknya.
“Kalau sudah begini aku cuma bisa menjalaninya.” kata Hiro lemah dan dia pasrah dengan keadaan.
“Lebih baik sekarang aku istirahat karena besok aku harus pergi ke akademi.”
°°°
Pagi-pagi sekali Hiro telah sampai di gerbang akademi hunter. Saat dia berjalan menuju ke kelasnya, tiba-tiba Luna muncul dan berjalan di sebelahnya.
“Apa blati itu hadiah dari guru Zu?.” tanya Luna yang berjalan di sebelah Hiro.
“Belati ini memang hadiah dari Ibu.” jawab Hiro dengan santainya.
“Sebuah senjata yang terlihat sangat berkualitas, Bu Zizu memang sangat pintar dalam memilih sebuah hadiah.” kata Luna sambil tersenyum.
Melihat senyum Luna sejenak membuat Hiro tertegun, namun dia segera sadar kalau wanita di sampingnya telah menjadi tunangan seseorang. “Aku akan langsung ke kelas, apa senior ingin ikut ke kelas ku?.”
“Hari ini aku akan pergi ke salah satu dungeon yang belum lama ini muncul, jadi aku belum bisa ikut ke kelas mu.”
“Kalau begitu aku pergi ke kelas dulu, dan senior harus berhati-hati saat berada di dalam dungeon.” kata Hiro lalu dia berpisah jalan dengan Luna.
Setelah perpisah jalan dengan Luna, Hiro segera pergi ke kelasnya.
Sampai di kelas, dia melihat Nana, Yuna, dan Lux yang sudah lebih dulu sampai. “Apa kalian tidur di kelas ini sampai-sampai kalian sudah berada di kelas saat di kelas lainnya masih belum ada penghuninya?.”
Lux dan Nana tersenyum mendengar apa yang dikatakan Hiro, sementara Yuna, dia hanya diam dan hanya sedikit melirik ke arah Hiro, tapi saat melihat keberadaan belati di belakang punggung Hiro, Yuna sedikit menajamkan penglihatannya.
Hanya sekali melihat dan merasakan auranya, Yuna tahu kalau belati itu bukan senjata biasa, setidaknya di yakin kalau senjata itu lebih baik dari senjata yang dibuat oleh ahli senjata terbaik di kota tempat dia tinggal.
“Aku terlalu bersemangat di hari pertama masuk akademi, dan akhirnya tadi malam aku tidak bisa tidur. Jadi pagi-pagi sekali aku sudah berangkat ke akademi.” kata Nana sambil sesekali menguap.
Selanjutnya gadis imut itu tertidur di tempatnya, dengan posisi tidur yang membuat gemas siapapun yang melihatnya.
Hiro mengambil tempat duduk di dekat Lux dan juga bersebelahan denga Yuna. Saat Hiro ingin menanyakan sesuatu pada Lux, tiba-tiba Edward datang dan menggebrak meja Hiro, dan membuat Nana terbangun dari tidurnya.
“Jauhi Luna kalau kau masih ingin melihat hari esok!.” kata Edward.
Hiro menatap Edward lalu dia berkata. “Aku tidak pernah mendekati Luna, seharusnya kamu juga melihat siapa yang selalu mendekatiku!.” balas Hiro dengan santainya.
Edward geram dengan balasan Hiro. Ya, dia tahu kalau Luna lah yang selalu mendekati Hiro, tapi tetap saja Hiro adalah orang yang dia salahkan dalam kasus ini.
Dengan sorot mata tajamnya, Edward menatap Hiro yang masih terlihat sangat tenang. “Cukup turuti keinginan ku dan kau akan dapat menikmati sisa hidup mu dengan tenang.”
Hiro tersenyum mendengar itu. “Kau bukan pemilik hidup ku, jadi jangan kau mengatakan seolah kau adalah pemilik hidupku.” katanya dengan suara datar tanpa ekspresi yang seketika membuat berdiri bulu-bulu halus di tubuh Edward.
“A...aku sudah memberimu peringatan, ka...kalau setelah ini terjadi apa-apa padamu, jangan pernah menyesalinya!.” kata Edward lalu dia pergi ke tempat duduknya bersama para pengikutnya.
Tapi belum juga duduk dengan nyaman, Nana tiba-tiba saja sudah berdiri di depan Edward.
Boomm...
Bunyi meja Edward yang hancur setelah dipukul oleh Nana. Semua mata orang di kelas itu terbuka lebar melihat apa yang baru dilakukan Nana.
“Kalau kau tidak ingin bernasib sama dengan meja milikmu, jangan lagi mengganggu ku yang sedang tidur!.” kata Nana dengan aura ganas yang keluar dari dalam tubuhnya.
Selesai berkata seperti itu pada Edward, Nana kembali ke tempatnya lalu dia kembali melanjutkan tidurnya. “Bersyukurlah karena hari ini aku sedang tidak ingin memukuli seseorang.” katanya dengan kedua mata terpejam.
Dengan keringat yang membasahi tubuhnya, Edward berjanji tak akan lagi mengganggu wanita seperti Nana, dan lagi dia tahu sekuat apa orang-orang di belakang Nana.
“Lain kali aku akan melihat-lihat sekitar sebelum meluapkan amarah ku.” kata Edward dalam hati.
Sementara itu, Lux dan Hiro masih sulit percaya dengan apa yang baru mereka lihat. “Lebih baik kita tidak menyinggung gadis imut itu.” kata Lux pada Hiro.
Hiro mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Lux.
Di sisi lain para bawahan Edward segera mengganti meja Edward yang telah hancur dengan meja yang baru.
“Cih, kau akan benar-benar hancur kalau masih saja mengganggu dia.” kata Yuna dalam hati sambil melirik ke tempat Edward, dan bergantian melirik ke arah Hiro.
°°°
Jangan lupa like nya setelah selesai membaca, terimakasih....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Muhammad alviansyah
g
2023-11-05
0
Muhammad alviansyah
a
2023-11-05
0
ELLO Paeli
ada yang tau fersi komiknya plis pengen baca
2023-09-02
0