Setelah sedikit pertunjukan di pagi hari, akhirnya seorang guru masuk ke dalam ruangan yang menandakan kalau pelajaran akan segera di mulai.
Dari jarak tempat duduknya ke meja guru, Hiro dapat merasakan aura kekuatan gurunya yang sangat luar biasa, walau masih kalah jika dibandingkan dengan aura milik Ibunya.
Pelajaran di mulai dengan perkenalan nama setiap murid, dan perkenalan di mulai dari guru yang kedepannya akan menjadi wali kelas mereka. “Aku Fiona, dan untuk empat tahun kedepan aku akan menjadi wali kelas kalian.” katanya memperkenalkan diri.
“Jika kalian ingin menjadi seorang hunter yang kuat, jangan pernah meninggalkan kelas saat pelajaran sedang berlangsung.” lanjut Fiona sambil tersenyum.
Seluruh murid yang tergabung dalam divisi pertama menganggukkan kepalanya, tapi asa saja beberapa murid yang tidak terlalu peduli dengan perkataan Fiona.
Fiona lalu memanggil satu persatu nama murid nya, selain untuk mengisi daftar kehadiran mereka, dia juga ingin melihat karakter murid yang namanya dia panggil.
Ketika Fiona memanggil nama Hiro dan melihat sosoknya, dia hanya bisa tersenyum melihat sosok itu karena dia sudah sangat mengenali Hiro yang merupakan putra angkat dari sahabat baiknya, dan lagi dia sudah beberapa kali bertemu dengan Hiro saat berkunjung ke rumah Zizu.
Hiro sendiri yang namanya dipanggil, dia hanya melakukan pengenalan diri secara singkat tanpa membangga-banggakan nama besar orangtuanya seperti yang dilakukan Edward dan para pengikutnya.
Edward yang mendengar bagaimana Hiro memperkenalkan dirinya, dia menunjukkan senyum sinis nya saat dia tak mendengar Hiro menyebut nama kedua orangtuanya.
Bagi seorang murid baru yang tak menyebutkan nama orangtuanya bisa diartikan kalau dia berasal dari kalangan rakyat biasa, dan sekalipun murid itu menyebutkan nama orangtuanya tak akan ada satu orang pun yang mengenali mereka.
Saat Hiro ingin kembali duduk setelah memperkenalkan diri, Edward mengatakan sesuatu pada Hiro. “Kenapa kamu tidak menyebutkan nama kedua orangtua mu? Cih, pasti mereka hanya rakyat rendahan dan percuma juga menyebutkan nama mereka.”
Hiro hanya mendengar perkataan Edward tanpa ada keinginan untuk membalasnya. Bahkan setelah Edward selesai berkata, dengan acuh Hiro mengabaikan keberadaan Edward dan dia lebih memilih fokus pada pelajaran pertama yang akan diberikan Fiona.
“Jangan merendahkan seseorang sebelum kamu tahu siapa dia yang sebenarnya.” ucap Yuna dalam hati sambil memandang Edward dengan sinis.
“Anak ini, apa dia ingin menghancurkan keluarganya?.” ujar Fiona dalam hati.
Pelajaran pertama pun dimulai. Di awal materi pembelajaran Fiona hanya menjelaskan apa saja cara yang bisa dilakukan seorang hunter untuk meningkatkan kekuatannya. Fiona juga menjelaskan berbagai hal yang dapat menghambat perkembangan seorang hunter.
Dengan cara mengajar Fiona yang sangat santai, tanpa terasa sudah dua jam mereka mengikuti pelajaran Fiona, dan kini tiba saatnya untuk masuk waktu istirahat jam pertama. Kelas di jam kedua akan dimulai setelah istirahat selama 15 menit.
Hiro, dan Lux pergi ke kantin bersama dengan Nana dan si pendiam, Yuna. Karena kantin akademi sangat luas, mereka tak kesulitan mencari tempat duduk, apalagi kelas mereka adalah kelas pertama yang mengakhiri pelajaran.
“Baguslah, sekumpulan murid tidak berguna terkumpul dalam satu kelompok.” cibir Edward yang juga datang ke kantin dengan di temani orang-orang yang telah dia rekrut menjadi bawahannya.
Dengan acuh, Hiro dan tiga orang lainnya mengabaikan keberadaan Edward dan orang-orang nya. Mereka berempat lebih memfokuskan diri memilih makanan yang akan mereka pesan.
Nana sebenarnya sudah tidak sabar dan ingin memukul Edward, tetapi Yuna menahannya sambil mengatakan sesuatu yang kembali membuatnya tenang. “Untuk apa juga kita mengurusi orang yang hanya pintar dalam bicara omong kosong.” kata Yuna.
Mendengar apa yang dikatakan Yuna, Edward merasa geram dan ingin menyerangnya, tapi tindakannya itu di hentikan oleh hunter senior yang kebetulan sedang melakukan pengawasan di kantin akademi. “Baru juga satu hari di akademi, tapi kamu sudah sok berkuasa.” kata hunter senior.
Jantung Edward berdegup kencang saat dia melihat siapa hunter senior yang menegurnya. “Se...senior Arthur, senior sepertinya salah sangka.” kata Edward dengan gagap.
“Apa kamu pikir aku bodoh? Sejak tadi aku mengawasi kalian, dan aku tahu pasti apa yang kamu lakukan sejak berada di kantin.” kata Arhur sambil memandang Edward dan orang-orang nya.
“I...itu kami sedang bercanda, ya kami hanya sedang bercanda dengan mereka.” ujar Edward.
“Cih, apa orang ini mencari masalah dengan berbohong pada seorang hunter senior terkuat di akademi?.” kata Yuna dalam hati karena dia sangat tahu siapa itu Arthur.
Bisa dikatakan kalau Arthur adalah seorang murid senior terkuat di akademi, dia bahkan dapat di sejajarkan dengan guru magang yang mengajar para murid baru.
“Pergilah dari tempat ini sebelum aku berubah pikiran!.” kata Artur pada Edward, dan setelah mendengar perkataan Arthur, Edward memimpin para pengikutnya pergi meninggalkan kantin akademi.
Arthur menggelengkan kepalanya melihat tingkah Edward dan orang-orang nya. “Dia tak ada bedanya dengan kedua kakaknya.” kata Arthur dalam hati lalu dia kembali kembali melakukan tugasnya.
Lux dan Nana kemudian pergi memesan makanan begitu Arthur kembali ke pos tempatnya berjaga. Saat kedua orang itu pergi, dari arah pintu masuk kantin, Luna dan dua temannya datang, dan saat melihat keberadaan Hiro, Luna mengajak kedua temannya untuk duduk di dekat tempat Hiro.
Melihat Hiro yang hanya berdua dengan seorang wanita, Luna tiba-tiba saja tidak menyukai hal itu. Tapi saat melihat keberadaan Lux dan Nana yang datang ke tempat Hiro dengan membawa makanan, Luna kembali merasa tenang, dan dia tahu kalau mereka hanya sedang makan bersama.
“Ternyata mereka hanya sedang makan bersama, baguslah kalau begitu.” kata Luna dalam hati saat melihat ke tempat Hiro dan teman-temannya.
Hiro yang tahu kalau dia sedang diperhatikan oleh Luna, sebiasa mungkin dia akan menghindari wanita itu. Bukannya dia takut dengan ancaman Edward, tapi dia merasa tidak enak saja berada di tengah-tengah hubungan antara Luna dan Edward.
“Segera habiskan makanan kalian karena kita tidak punya banyak waktu untuk menikmati makanan ini!.” kata Lux yang tahu kalau waktu istirahatnya tinggal beberapa menit lagi.
Hiro dan Lux dengan cepat menghabiskan makanannya, dan menyisakan Nana serta Yuna yang terlihat masih begitu menikmati makanan mereka.
Hiro dan Lux hampir saja telat masuk kelas karena menunggu Nana dan Yuna. Tapi keberuntungan masih menyertai mereka dikarenakan guru yang harusnya mengajar hari ini tak dapat hadir karena harus pergi menyelesaikan dungeon bersama beberapa murid senior.
Hiro dan Lux kemudian pergi ke bagian belakang bangunan kelasnya untuk melakukan pelatih walau tanpa adanya seorang guru pembimbing.
Lux mengambil dua buah pedang kayu dan melemparkan salah satu pedang kayu itu ke Hiro. Mengetahui maksud Lux yang melemparkan pedang kayu ke arahnya, dengan senang hati Hiro meladeni kemauan Lux.
Mereka berdua mulai beradu pedang dengan kemampuan dasar yang mereka miliki. Keduanya tidak ingin menunjukkan kemampuan berpedang tingkat lanjut yang mereka kuasai karena mereka hanya melakukan latih tanding biasa.
Tak... Tak... Tak...
Bunyi dua pedang kayu yang saling berbenturan menggema di ruangan tempat mereka melakukan latih tanding. Walau terlihat berimbang, tapi terlihat dengan jelas kalau kekuatan fisik Lux jauh dibawah kekuatan fisik Hiro.
Lux tidak pernah menyangka kalau masih ada anak remaja seusianya yang memiliki kekuatan fisik lebih baik darinya. Setelah berlatih keras sejak berusia 5 tahun, Lux mengira dirinyalah pemilik fisik terkuat diantara anak remaja seusianya.
Lux kini sadar kalau masih ada langit di atas langit, dan mulai sekarang dia akan berusaha lebih keras lagi untuk meningkatkan kekuatannya.
“Aku masih terlalu lemah untuk dapat bersaing dengan Hiro. Aku tidak tahu sekeras apa latihan yang dia lakukan, tapi aku merasa akan sangat sulit untuk melampauinya.” kata Lux dalam hati.
Keduanya berhenti melakukan latih tanding saat Lux sudah sangat kelelahan.
“Kamu sangat kuat.” puji Lux sambil merebahkan tubuhnya di atas lantai.
Hiro hanya tersenyum saat mendengar pujian yang diberikan oleh Lux.
“Tidak ada kekuatan yang instan di dunia ini. Semua harus diawali dengan bekerja keras seperti apa yang aku lakukan selama ini.” kata Hiro sambil meletakkan pedang kayu di tangannya kembali ke tempatnya.
“Aku sudah bekerja keras, tapi aku merasa ada yang kurang dari kerja keras yang selama ini aku lakukan.” ujar Lux.
Hiro duduk di lantai tak jauh dari tempat Lux merebahkan diri, lalu dia melepas salah satu pemberat yang selalu dia pakai.
Lux duduk dan melihat pemberat yang ada di tangan Hiro. “Dia sejak tadi memakai pemberat dan dapat bergerak secepat itu? Dasar monster.” kata Lux dalam hatinya.
Hiro kemudian memberikan salah satu pemberat yang dia pakai pada Lux, dan dia menyuruh Lux untuk memakai pemberat itu.
Lux menerima pemberat yang diberikan Hiro, dan alangkah terkejutnya dia saat tahu berat pemberat itu jauh lebih berat dari yang biasa dia gunakan saat latihan. Itu juga dia sudah kewalahan menghadapi beratnya pemberat yang dia pakai saat latihan.
Lux memakai pemberat itu di kakinya, dan hasilnya dia sangat kesulitan saat ingin menggerakkan kakinya yang terpasang pemberat.
“Apa benar dia selalu memakai pemberat seperti ini saat latihan? Dan lagi dia memakaikan pemberat di masing-masing tangan serta kakinya.” kata Lux dalam hati.
Setelah beberapa saat mencoba menggerakkan kakinya dan tetap saja merasa kesulitan, Lux melepaskan pemberat yang dia pakai dan mengembalikan alat pemberat itu pada pemiliknya.
Hiro kembali memakai alat pemberat itu, lalu dia berjalan dengan santainya menuju ruang kelas.
“Dia benar-benar monster!.” ujar Lux sambil bangkit berdiri lalu berjalan menyusul Hiro.
°°°
Jangan lupa like nya setelah selesai membaca, terimakasih....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
kwon dae
arthur leywin broooh
2024-10-03
0
Riris Rizki
btw, apa cuma aku yg gak suka kalo Luna dekatin Hiro, padahal udah ada tunangan? wkwkw
2023-04-09
1
Riris Rizki
Semangat author
2023-04-09
0