Saat matahari telah condong ke arah barat, Lux, Nana, dan Yuna pergi mengikuti Hiro ke bukit tempat biasanya dia melakukan latihan. Ketiganya terkejut saat melihat tempat latihan Hiro, lalu Nana berkata. “Bukannya ini tempat latihan khusus para murid guru Zu?.”
Hiro menganggukkan kepalanya mendengar itu, tapi dia tidak memberikan penjelasan lebih. Dia cuma mengatakan kalau dia sudah mendapatkan izin dari guru Zu untuk melakukan latihan di tempat itu.
Ketiga masih saja penasaran dengan begitu mudahnya Hiro mendapatkan izin dari guru Zu, tapi mereka memilih menahan rasa penasarannya.
“Bukannya kalian ingin berlatih? Lalu kenapa masih tetap diam berdiri di situ?.” kata Hiro sambil bersiap melakukan rutinitas latihan hariannya.
Lux dan Nana hanya bisa tersenyum canggung mendengar perkataan Hiro. Sementara Yuna, dia terlihat acuh dengan apa yang dikatakan Hiro.
“Apa kita tidak apa-apa ikut latihan di tempat ini?.” tanya Nana yang sebelumnya menjadi orang yang paling bersemangat meminta Hiro menunjukkan tempat latihannya.
“Selama kalian datang untuk berlatih, kalian bebas menggunakan tempat ini.” kata Zizu yang tiba-tiba saja muncul di tengah-tengah mereka.
“Kenapa juga Ibu datang ke tempat ini?.” keluh Hiro dalam hatinya saat melihat keberadaan Zizu.
Berbeda dengan Hiro yang sedang mengeluh, Lux, Nana, dan juga Yuna, mereka terlihat sangat senang dengan kedatangan guru terbaik yang mengajar di akademi hunter yang berada di kota mereka.
Selain baik dalam membimbing dan melatih muridnya, di kalangan para murid Zizu juga terkenal akan kekuatannya yang lebih unggul jika dibandingkan dengan guru lainnya, dan lagi siapa pria normal yang tak tertarik dengan kecantikan serta keindahan sempurna yang ada pada diri Zizu.
Ketiga teman Hiro melihat Zizu dengan mata berbinar, terlihat jelas kalau mereka sangat mengidolakan Zizu, bahkan kedua mata Lux masih saja terfokus pada dua bukit milik Zizu yang terlihat sangat menonjol.
Hiro hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah ketiga temannya, terutama pada Lux yang masih saja fokus menatap sesuatu yang bisa saja membuatnya bertemu dengan dewa kematian.
Karena melihat ketiga temannya masih terdiam setelah kedatangan Zizu, Hiro pun memukul ringan punggung mereka.
Tersadar dari rasa kagum pada sosok Zizu setelah merasakan pukulan ringan Hiro, ketiganya segera bersiap untuk melakukan latihan seperti yang biasa Hiro lakukan.
Zizu yang melihat bagaimana Hiro membantu latihan ketiga temannya, dengan gerakan yang sangat cepat dia naik ke atas pohon dan mengamati latihan mereka.
Hiro memberi ketiganya empat jenis pemberat yang tentunya tak seberat pemberat yang dia gunakan. Setelah ketiganya memakai pemberat pemberiannya, Hiro mengajak mereka lari menaiki bukit. “Karena ini kali pertama kalian melakukan latihan seperti ini, kalian cukup melakukan lima kali perjalanan menaiki dan menuruni bukit.” ujar Hiro menjelaskan latihan yang akan mereka lakukan.
Setelah menjelaskan latihan yang akan mereka lakukan, Hiro mulai mengawali latihan dengan melakukan lari menaiki dan menuruni bukit sebanyak sepuluh kali putaran.
Hanya butuh beberapa detik Hiro telah sampai di puncak bukit, membuat semua orang terkejut dengan kecepatan yang dia miliki. Zizu yang melihat dari kejauhan juga terkejut dengan perkembangan Hiro.
Walau belum bisa menyamai kecepatannya, tapi kecepatan itu jauh lebih cepat dari apa yang dirinya capai saat seusia Hiro. “Putra seorang pahlawan memang sangat luar biasa.” kata Zizu lirih dan hanya dirinya sendiri yang mendengar perkataannya.
Setelah melihat kecepatan yang dimiliki Hiro. Lux, Nana, serta Yuna akan berlatih dengan keras supaya bisa menyamai kecepatan Hiro, tapi kalau memungkinkan mereka ingin melebihi nya.
Kemudian mereka mulai berlari seperti yang dilakukan Hiro. Walau pemberat yang mereka pakai tak seberat yang Hiro pakai, tetap saja mereka cukup kewalahan dengan beban itu. “Bagaimana bisa dia berlari secepat itu sedangkan pemberat yang dia pakai jauh lebih berat dari apa yang aku pakai?.” kata Lux yang mulai kelelahan setelah dua kali menaiki dan menuruni bukit.
Nana dan Yuna yang berada di dekatnya dengan jelas mendengar apa yang baru Lux katakan. “Dasar payah.” kata Yuna mencibir.
“Siapa yang payah? Kalau yang kamu maksud payah itu aku, kamu sangat salah. Aku tidak payah, tapi cuma lelah.” balas Lux yang benar-benar sudah kelelahan dan akhirnya dia mengambil waktu untuk istirahat walau hanya lima menit.
Nana dan Yuna hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Lux sudah mengambil waktu untuk istirahat.
“Lebih baik kita meninggalkannya dan menyelesaikan latihan kita.” kata Nana.
Dalam waktu kurang dari satu jam Nana dan Yuna telah menyelesaikan latihan awal mereka. Sedangkan Lux, dia butuh waktu sedikit lebih lama dari mereka untuk menyelesaikan latihannya. Tapi saat mereka mengira latihan akan berakhir untuk hari ini, perkiraan mereka sangat salah.
Hiro telah menyiapkan menu latihan yang lainnya untuk mereka, dan lagi-lagi mereka merasa latihan itu terlalu berat untuk dilakukan sekali pun mereka tahu kalau Hiro sudah mengurangi tingkat kesulitannya.
“Apa tidak ada latihan yang lebih ringan dari ini?.” kata Lux mengeluh sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tanah.
“Bisa aku katakan pada kalian kalau latihan ini adalah latihan paling ringan dibandingkan dengan latihan yang biasanya aku lakukan di tempat ini.” ujar Hiro.
“Hah, kalau ini yang paling ringan, lalu latihan apa yang bagimu merupakan latihan berat?.” tanya Nana dengan rasa penasarannya.
“Nanti aku akan menunjukkan latihan seperti apa yang menurutku berat setelah kalian menyelesaikan semua menu latihan untuk hari ini dan satu minggu kedepan.” jawabnya.
Setelah mendengar jawaban Hiro, ketiganya segera memulai latihan selanjutnya yang sudah di siapkan oleh Hiro. Walau terlihat mudah, tapi berenang mengelilingi danau dengan pemberat yang mereka pakai, itu bukan sesuatu yang dapat dikatakan mudah.
“Setidaknya ini lebih baik dari berlari menaiki bukit.” ujar Lux yang mulai melakukan renang gaya bebas mengelilingi danau.
Tiga puluh menit sebelum matahari terbenam, Lux, Nana, dan Yuna akhirnya menyelesaikan seluruh latihannya hari ini. Walau lelah mereka tahu kalau latihan yang mereka lakukan sangat berguna untuk meningkatkan kekuatan yang mereka miliki, apalagi dalam latihan yang baru mereka selesaikan, tak sekalipun mereka diizinkan menggunakan kekuatan elemen untuk mempermudah latihan yang mereka lakukan.
Hiro sendiri merasa puas dengan latihan mereka, lalu dia mengatakan kalau untuk satu minggu kedepan mereka bisa melakukan latihan tanpa bimbingan darinya.
°°°
Suara pedang saling beradu terdengar saat Hiro dan Zizu melakukan latih tanding setelah Lux dan dua orang lainnya telah pergi meninggalkan kaki bukit di tepian danau yang mulai hari ini akan menjadi tempat latihan mereka.
Zizu menahan kecepatan dan kekuatannya sehingga dia dan Hiro terlihat cukup berimbang. Saat Hiro mengayunkan pedang ke arahnya, Zizu pun menyambut dengan mengayunkan pedangnya ke arah ayunan pedang Hiro.
Setelah beradu permainan pedang, mereka sama-sama mengambil dua langkah mundur untuk sejenak menghela nafas, kemudian mereka langsung bertempur kembali. Teknik berpedang yang dipelajari Hiro dari Zizu dia gunakan untuk melawan sang Pencipta teknik.
Merasa pedang miliknya sedikit lebih lemah dari katana yang digunakan Hiro, Zizu menggunakan pengendalian elemen besinya untuk memperkuat pedangnya. Melihat Zizu mulai menggunakan elemen kekuatannya, Hiro berpikir inilah saat yang tepat untuk menunjukkan kekuatan barunya hanya pada Zizu.
Derak petir mulai menyelimuti bilah pedang milik Hiro, dan itu sukses mengejutkan Zizu yang baru pertama kali melihat elemen petir yang dimiliki Hiro.
“Hohoho....sepertinya selama ini ada yang sengaja menyembunyikan kekuatannya dariku.” kata Zizu sambil bersiap melakukan serangan yang dia tujukan pada Hiro.
Hiro tersenyum mendengar perkataan Zizu, tapi dia segera bersikap waspada saat melihat Zizu mulai serius. “Aku masih punya kejutan lainnya untuk aku tunjukkan pada Ibu.” kata Hiro yang tiba-tiba saja menghilang berubah menjadi kabut hitam.
“Elemen kegelapan? Anak ini, dia ternyata lebih menyeramkan dari perkiraan ku.” kata Zizu sambil mencoba mencari keberadaan Hiro melalui jejak aura yang di tinggalkannya, tapi dia merasa aneh pada aura Hiro yang seperti menghilang tertiup angin.
Swush...
Tiba-tiba Hiro muncul di belakang Zizu, tapi saat Zizu mengayunkan pedangnya untuk menyerang Hiro, dia kembali terkejut saat yang dia serang ternyata hanya sebuah bayangan.
“Bukan dua, tapi sepertinya dia memiliki lebih dari dua elemen.” gumam Zizu lalu dia mulai menggunakan elemen api miliknya untuk melakukan serangan berskala besar.
Hawa panas mulai menyelimuti area di sekitar Zizu. “Lebih baik aku tidak terlalu berlebihan, setidaknya 50 persen kekuatan ku sudah cukup untuk membuatnya kerepotan.” kata Zizu dalam pikirannya.
Swush....
Hawa panas menyapu area sekitar Zizu dan memaksa Hiro menggunakan elemen apinya untuk menahan hawa panas yang dikeluarkan Zizu.
Mata Zizu terbuka dengan sempurna saat dia melihat api berwarna biru yang menyelimuti tubuh Hiro. “Empat elemen? Apa anak ini masih dapat dikatakan sebagai manusia?.” gumam Zizu.
Zizu segera menarik kekuatannya begitu juga dengan Hiro, dan dengan kecepatan penuhnya Zizu bergerak ke tempat Hiro. Dia begitu saja memukul kepala Hiro begitu berada di dekatnya.
“Jangan sembarangan menggunakan seluruh kekuatan mu kalau memang tidak dalam keadaan yang memaksa mu harus mengeluarkan seluruh kekuatan yang kamu miliki.” kata Zizu memperingati Hiro.
Mendengar itu Hiro segera menganggukkan kepalanya. Dia sendiri tahu resiko seseorang yang memiliki lebih dari dua elemen dalam dirinya.
Kalau tidak dijadikan mesin pembunuh yang melindungi pemimpin negara, bisa saja dirinya dijadikan obyek penelitian untuk mengetahui bagaimana seorang manusia bisa memiliki empat elemen dalam dirinya.
Setelah memperingati Hiro, Zizu mengajak Hiro untuk segera pulang ke rumah karena dia ingin memastikan keberadaan sesuatu yang selama ini hanya dia simpan tanpa ada niatan untuk memakainya.
Sampainya di rumah, Zizu membiarkan Hiro untuk membersihkan dirinya, sedangkan dia langsung pergi ke gudang untuk memastikan keberadaan benda yang selama ini hanya dia simpan.
Sampai di gudang, Zizu melihat keadaan gudang yang bersih seperti baru di bersihkan, dan saat dia mencari benda yang dia cari, dia melihat wadah penyimpanan benda itu terbuka.
Zizu tersenyum melihat benda yang dia cari sudah tidak berada di tempatnya. “Dia memang peliknya, dan wajar kalau kekuatan itu memilih dirinya, tapi aku harus segera mencari tiga sisanya yang sampai sekarang belum aku ketahui keberadaannya.”
Karena sudah tahu kalau benda yang selama ini dia simpan telah dimiliki oleh orang yang berhak memilikinya, Zizu akhirnya bisa tersenyum lega, dan dia berjanji akan secepatnya mengumpulkan tiga benda lainnya.
“Wanita tua itu, apa mungkin tiga benda terakhir ada di tangannya?.” kata Zizu dalam hati sambil memikirkan wanita tua yang tak lain adalah Ibunya sendiri.
°°°
Jangan lupa like dan komentarnya setelah selesai membaca, terimakasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Adhie Adhie
di Indonesia aja cm ada 1 elemen 😁🎸🎸🎸🎹
2023-03-20
0
izRoiL
Mantapz
2021-11-25
0
Mang Emuch
mantap alur ceritanya..semangat trus thor...
2021-11-10
0