Setelah mendengar semua penjelasan Luna tentang ruangan yang akan digunakan oleh murid baru yang menjadi bagian dari divisi pertama, Hiro lalu mengajukan sebuah pertanyaan pada Luna yang masih berdiri di sampingnya. “Em senior, apa kegiatan hari ini cuma sebatas pengenalan pada ruangan ini?.”
“Kegiatan hari ini memang sebatas pengenalan ruangan yang akan kalian tempati selama menjadi murid akademi hunter, tapi kalau ada diantara kalian yang ingin berkeliling akademi, dengan senang hati aku akan menunjukkan keberadaan beberapa tempat menarik yang berada di akademi ini.” ujar Luna.
“Senior Luna, apa di akademi ini ada perpustakaannya?.” tanya Nana.
“Di akademi ini ada dua perpustakaan. Perpustakaan pertama untuk murid junior seperti kalian, dan perpustakaan kedua hanya dapat dimasukin oleh murid senior.” kata Luna menjawab pertanyaan Nana.
Nana tanpa ragu bertanya tentang letak perpustakaan pertama, dan setelah tahu dimana letak perpustakaan pertama dia langsung pergi ke tempat itu. Tak lama setelah kepergian Nana, murid lainnya mulai pergi ke tempat di akademi yang ingin mereka lihat.
Melihat satu persatu murid yang berada dalam satu divisi dengannya pergi, Hiro juga memutuskan untuk pergi. “Jika kamu ada waktu luang, bagaimana kalau kamu ikut denganku?.” kata Luna saat Hiro akan pergi.
Lux dan pria yang merupakan tunangan Luna terkejut saat mendengar perkataan Luna. “Jika dia berani pergi dengan wanita ku, aku benar-benar akan langsung mengirimnya ke alam kematian!.” gerutu si pria dalam hatinya.
Hiro pun sejenak berpikir, lalu dia membalas perkataan Luna. “Aku cukup banyak memiliki waktu luang, tapi apa kita hanya akan pergi berdua?.”
Luna tidak ada niatan untuk mengajak orang lain, bahkan tak sedikitpun dia melirik kearah pria yang telah menjadi tunangannya. “Kita hanya akan pergi berdua, tapi itu juga kalau kamu juga pergi seorang diri.” ujarnya.
Hiro mengajak Lux untuk pergi bersamanya dan Luna, tapi karena dia sudah ada janji dengan seseorang Lux menolak ajakan Hiro. Saat Hiro ingin mengajak pria yang merupakan tunangan Luna, dengan cepat Luna menghentikan apa yang ingin dilakukan Hiro.
“Biarkan Miku yang pergi menemani kita.” kata Luna dan kemudian dia membawa pergi Hiro pergi meninggalkan pria yang memandang marah ke arah kepergian mereka.
Sesampainya di tempat yang dituju oleh Luna, kedatangan mereka disambut sangat baik oleh seorang wanita tua pemilik tempat yang menjadi tujuan mereka. Nenek Luan, seperti itulah Luna biasa memanggil wanita tua itu.
Luna lalu menghampiri nenek Luan dan menanyakan tentang beberapa benda yang telah dia pesan.
Nenek Luan adalah pemilik tempat pembuatan perlengkapan hunter, dan tentunya beberapa benda yang dipesan Luna adalah perlengkapan seorang hunter. Tapi anehnya Hiro tak melihat satupun perlengkapan terpajang di toko milik nenek Luan.
Mendengar apa yang dikatakan Luna, nenek Luan segera membawa Luna dan Hiro ke ruangan tempatnya bekerja, lalu dia menunjukkan sebuah senjata yang terlihat belum lama ini selesai dibuat.
“Sebuah katana yang sangat kuat dan juga terlihat indah. Sepertinya senjata ini cocok untuk aku hadiahkan padamu.” kata Luna sambil menoleh ke arah Hiro.
“Di...dihadiahkan padaku? Sepertinya senior salah dalam merangkai kata-kata.” ujar Hiro dengan nada suara terkejut setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Luna.
Mendengar itu Luna dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Senjata ini memang aku pesan khusus untukmu karena dipertemuan pertama kita aku tak melihatmu memiliki sebuah senjata untuk melindungi diri.” ungkapnya.
Hiro yang tahu kalau Luna bersungguh-sungguh ingin memberikan senjata itu padanya, dengan berbagai cara dia terus mencoba untuk menolaknya.
“Dasar anak muda.” kata nenek Luan sambil tersenyum melihat tingkah Luna dan Hiro yang sama-sama keras kepala.
“Apa aku benar-benar tidak bisa menolaknya? Ternyata yang sering aku lihat dalam siaran TV adalah kebenaran, wanita memang sosok yang tak mau mengalah.” kata Hiro dalam hatinya.
Hiro pun akhirnya menerima senjata pemberian Luna, dan dia berjanji akan menggunakan senjata itu sebagai senjata utamanya.
“Anak muda, aku sarankan kamu memberi nama pada senjatamu supaya membawa keberuntungan.” kata nenek Luan.
Mendengar perkataan nenek Luan, Hiro segera sibuk mencari nama untuk senjata barunya. Tapi karena tidak tahu nama yang tepat untuk senjata barunya, Hiro akhirnya meminta nenek Luan dan Luna mencari nama yang cocok untuk senjata barunya itu.
“Karena katana ini selesai aku buat saat malam bulan purnama darah, bagai mana kalau kita memberinya nama Blood Moon?.” kata nenek Luan.
Hiro dan Luna setuju dengan nama pemberian nenek Luan. “Blood Moon, aku harap kamu bisa menjadi partner terbaikku.” kata Hiro sambil mengangkat katana yang kini telah memiliki nama.
“Dan ini adalah senjata yang juga telah kamu pesan.” nenek Luan menyerahkan senjata jenis pedang ganda pada Luna.
Setelah semua urusan di tempat nenek Luan selesai, Luna mengajak Hiro ke tempat pelatihan murid senior, dan tanpa dia duga di tempat itu dia bertemu dengan Zizu yang baru selesai melatih para muridnya.
“Apa aku salah melihat? Bagaimana bisa anak cengeng ini jalan berduaan dengan murid terbaik ku?.” tanya Zizu sambil berjalan mendekat ke tempat Hiro dan Luna.
“Guru, bagaimana bisa anak remaja sekuat ini masih guru panggil sebagai anak cengeng? Kalau dia anak cengeng, lalu bagaimana dengan mereka yang selalu mengeluh dengan pelatihan yang guru berikan?.” kata Luna tanpa ada maksud untuk memberi pembelaan pada bagaimana cara Zizu memanggil Hiro.
Zizu memandang Luna dengan sedikit memicingkan matanya lalu dia tersenyum. “Oh, apa wanita cantik ini tertarik dengan pri kecil ini?.” katanya sambil mendekap Hiro dan membuat wajah Hiro tenggelam diantara dua bukit kembar miliknya.
Luna hanya diam dan tidak tahu harus membalas apa saat mendengar apa yang dikatakan Zizu.
“Ibu, apa kamu bisa melepaskan ku?.” kata Hiro yang mulai kesulitan bernafas, sedangkan di sisi lain banyak murid pria yang iri dengan posisi Hiro saat ini.
“Anak nakal, apa kamu sudah melakukan kencan dengan murid senior di hari pertama berada di akademi?.” tanya Zizu setelah melepas dekapan yang lebih tepat dikatakan sebagai sebuah pelukan.
“Apa yang Ibu katakan? Aku cuma pergi menemani senior Luna pergi mengambil barang pesanannya.” jawab Hiro sambil menghirup nafas panjang.
Zizu melihat sebuah katana di tangan Hiro, lalu dia beralih melihat pedang kembar yang sudah terikat rapi di belakang punggung Luna. Dari hanya sepintas melihat, dia tahu kalau katana Hiro dan pedang kembar Luna adalah senjata yang belum lama ini di buat.
Setelah melihat senjata mereka, Zizu memanggil para muridnya yang tak lebih dari sepuluh orang, dan secara resmi dia memperkenalkan siapa Hiro pada mereka. Namun Zizu melarang mereka memberitahukan identitas Hiro di kalangan murid lainnya, dan jika ada yang membocorkan identitas Hiro, dia akan membuat orang itu menyesal karena telah melakukan itu.
“Sepertinya kamu akan terkena masalah karena menjalin hubungan dengannya. Apa kamu tidak tahu kalau Luna sudah ditunangkan, dan lagi aku dengar kalau tunangannya akan masuk akademi ini.” kata Zizu pada Hiro saat Luna sedang asik dengan teman-temannya.
Hiro mengatakan kalau dia sudah tahu tentang pertunangan Luna, dan dia juga mengatakan kalau dia berada dalam divisi yang sama dengan pria yang menjadi tunangan Luna.
Setelah mendengar seluruh perkataan Hiro, Zizu memberikan sebuah kartu identitas pada Hiro. “Karena sekarang kamu telah menunjukkan diri ke dunia luar, sudah saatnya kamu memiliki sebuah kartu Identitas untuk menunjukkan identitas dirimu.” katanya pada Hiro.
Hiro menerima kartu Identitas yang diberikan Zizu, dan segera menyimpannya. Dan karena Zizu harus kembali melatih para muridnya dan Luna yang juga akan ikut berlatih, Hiro memutuskan mencari tempat yang nyaman untuk melihat apa yang akan mereka lakukan.
Karena kekuatan baru yang dimilikinya, dengan mudah Hiro dapat mengingat setiap gerakan yang dilakukan oleh Zizu dan para muridnya, dan secara diam-diam dia berhasil mencuri ilmu dari mereka.
Langkah pertama untuk menjadi seorang hunter telah dia lakukan, dan sekarang dia telah berhasil mencuri ilmu yang seharusnya dia dapatkan saat dia menjadi seorang hunter senior.
Yang kurang dari Hiro saat ini adalah mempraktekkan apa yang sudah dia pelajari. Setidaknya butuh satu sampai dua bulan lagi untuknya dapat mempraktekkan apa yang selama ini sudah dia pelajari.
Dengan ingatan yang mampu mengingat apa yang dia lihat dengan sangat cepat, Hiro terus mencuri ilmu dari Zizu dan para murid senior. Dalam waktu satu jam sudah ada tiga teknik berpedang yang berhasil dicuri oleh Hiro menggunakan ingatannya, namun ada salah satu murid Zizu yang mulai curiga dengan apa yang dilakukan Hiro.
“Anak itu, apa mungkin dia sedang mencoba mencuri ilmu hanya dengan melihatnya?.” katanya dalam hati sambil sesekali melirik ke arah Hiro.
Setelah dua jam berlalu, Zizu menyudahi pelatihannya untuk hari ini dan dia membiarkan para muridnya untuk pergi meninggalkan tempat pelatihan.
Saat para muridnya satu persatu meninggalkan tempat pelatihan, Zizu justru memanggil Hiro untuk turun ke tengah-tengah tempat pelatihan. “Serang aku dan tunjukkan apa yang kamu pelajari dari apa yang sudah kamu lihat! Kalau kamu bisa memaksaku menggunakan senjata, aku akan memberikan sebuah hadiah padamu.” kata Zizu.
Meski hanya sekali melihat mata Hiro yang begitu fokus melihat pelatihannya, dia tahu kalau Hiro saat itu sedang mempelajari apa yang sedang dia lihat.
Mendengar apa yang dikatakan Zizu, Hiro hanya menunjukkan senyum canggung nya karena apa yang baru dilakukannya sudah di ketahui Zizu.
“Aku belum terlalu sempurna mempelajarinya, tapi aku akan menunjukkan hasil dari apa yang aku lihat.” kata Hiro sambil mengeluarkan katana nya dari sarung pembukus, lalu dia segera bergerak menyerang Zizu.
“Sekalipun ini cuma latihan, tapi jangan berharap aku akan setengah-setengah dalam menghadapi mu.” setelah mengatakan itu, Zizu menyambut serangan yang dilakukan Hiro.
Dengan mudah Zizu menghindari serangan awal yang dilakukan Hiro, tapi saat serangannya berhasil dia hindari, dia dapat melihat gerakan serang Hiro yang selalu lebih cepat dari sebelumnya. “Anak ini, sejak kapan dia bisa belajar hanya dengan melihat?.” katanya dalam hati.
Zizu masih terus berhasil menghindari serangan Hiro, tapi semakin lama dia terlihat semakin kesulitan menghindari serangan Hiro.
“Di...dia benar-benar melakukannya.” kata murid Zizu yang sejak awal sudah menaruh rasa curiga pada Hiro, dan kini dia berhasil membuktikan kecurigaannya itu saat dia melihat gerakan yang dilakukan Hiro saat menyera Zizu.
Setidaknya masih ada dua orang yang melihat pertarungan Zizu dan Hiro.
Swush....
Hiro melompat mundur setelah serangan terakhirnya masih dapat dihindari Zizu. “Saatnya untuk sedikit serius.” kata Hiro sambil melepaskan seluruh pemberat yang sejak awal selalu dia pakai.
Hiro tiba-tiba saja bergerak dengan sangat cepat setelah melepaskan seluruh pemberat yang dia pakai. Karena kecepatan Hiro yang terlalu cepat, sampai-sampai membuat dua orang yang melihat pertarungannya tak lagi datap melihat pergerakannya.
Ting....
Bunyi katana Hiro yang berbenturan dengan pedang milik Zizu.
“Kamu menang.” kata Zizu sambil tersenyum setelah dia berhasil menghalau serangan Hiro dengan menggunakan pedangnya.
Hiro tersenyum mendengar itu, sedangkan dua orang yang melihat pertarungannya, mereka benar-benar terkejut dengan kekuatan yang dimiliki Hiro. “Benar-benar putra seorang monster.” kata salah satu dari mereka.
°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
bosque
ok
2021-12-21
0
izRoiL
Mantapz
2021-11-25
0
S mangkujagat
jempol
2021-11-15
0