Karena tak ingin berlama-lama menghadapi monster yang berada di depannya, Hiro dengan cepat menyerang monster dan berusaha memberikan sebanyak mungkin luka pada tubuh monster itu.
Kemudian Hiro melompat mundur menjauh saat monster itu sudah mengalami banyak luka, dan dia yakin kalau kelima hunter yang dia tinggal sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan monster itu.
Di sisi lain Nana dan Yuna tersentak karena terkejut saat Hiro tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.
Melihat Reaksi mereka berdua Hiro hanya bisa tersenyum lalu dia meminta maaf pada Nana karena syal yang dia pinjam sedikit kotor.
Nana mengatakan tidak apa-apa, dan lagi syal yang dia pinjamkan pada Hiro bukanlah suatu barang yang berharga.
Hiro yang merasa tidak enak, dia berjanji akan membersihkan syal milik Nana dan akan mengembalikannya setelah sudah dia bersihkan.
Boomm... Boomm... Boomm...
Bunyi ledakan terdengar saat kelima hunter menyerang secara bersamaan untuk menghabisi monster yang menjadi lawan mereka.
“Monster itu masih cukup tangguh, dengan serangan sekuat itu dia masih dapat bertahan.” kata Nana saat melihat monster yang seluruh tubuhnya telah dipenuhi luka, tapi dia masih dapat berdiri dengan gagahnya.
Hiro yang diam terus memperhatikan keadaan si monster. “Dengan luka di sekujur tubuhnya, dia tidak akan bertahan lama. Setidaknya butuh satu kali serangan dengan seluruh kekuatan mereka untuk menyumbangkan monster itu.” ujar Hiro menjelaskan keadaan si monster dengan rinci.
Boomm... Boomm... Boomm
Serangan yang lebih kuat dari sebelumnya mengenai dengan telak tubuh si monster dan setelah terkena serangan sekuat itu akhirnya monster itu tumbang.
Nana dan Yuna tersenyum lega saat melihat monster itu akhirnya tumbang, begitu juga dengan Hiro. Setidaknya Hiro telah kehilangan 90 persen energi di tubuhnya, kalau serangan barusan tidak dapat menumbangkan monster itu, tentu itu akan menjadi kabar buruk bagi mereka semua.
Setelah memastikan monster itu mati, dua orang hunter pergi dan meninggalkan tiga hunter yang terus waspada dengan area sekitarnya. Selain waspada dengan kemunculan monster yang lain, mereka juga mencoba mendeteksi keberadaan hunter yang telah membantu mereka.
Hiro yang melihat mereka terus mencari keberadaannya, dia mengajak Nana dan Yuna pergi meninggalkan tempat itu tanpa sepengetahuan mereka bertiga. Dia melewati jalan memutar, dan kebetulan selama ini hanya dia dan Zizu yang mengetahui jalan memutar di bagian belakang bukit.
“Aku harap kalian berdua tidak menceritakan apa yang baru kalian lihat pada siapapun!.” ujar Hiro setelah dia dan dua temannya telah jauh dari bukit yang seharusnya menjadi tempat mereka berlatih.
Nana dan Yuna menganggukkan kepalanya dan mereka juga menyakinkan Hiro kalau mereka tak akan memberitahukan apa yang baru mereka lihat kepada siapapun.
Hiro tersenyum mendengar itu, lalu dia meminta Nana dan Yuna untuk kembali pulang karena keadaan kota belum sepenuhnya aman. Masih banyak tempat yang luput dari pengawasan para hunter.
Setelah berpisah dengan Nana dan Yuna, tiba-tiba saja dua hunter muncul dan menyapa Hiro.
“Adik kecil, apa kamu seorang murid senior dari akademi hunter yang mendapat tugas melakukan patroli di sekitaran tempat ini?.” tanya salah satu hunter yang baru saja menyapa Hiro.
Hiro tahu kalau kedua hunter itu berasal dari salah satu assosiasi hunter yang berada di kotanya, dan lagi mereka merupakan hunter tingkat A yang hanya satu tingkat dibawah Zizu.
“Maaf senior, aku hanya murid baru akademi yang kebetulan baru menyelesaikan latihan harian.” kata Hiro menjawab keingintahuan mereka.
Kedua hunter yang mendengar jawaban Hiro hanya menganggukkan kepalanya dan bersiap untuk pergi, tapi sebelum pergi mereka mengingatkan Hiro untuk segera kembali ke rumahnya karena keadaan kota belum sepenuhnya aman.
Hiro cukup senang dengan keberadaan para hunter dari assosiasi yang mulai turun tangan membantu mengatasi para monster yang masih berkeliaran di kota. “Dengan keberadaan mereka aku yakin permasalahan yang ditimbulkan para monster yang merangkak keluar dari dungen tersembunyi akan segera terselesaikan.” kata Hiro sambil melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.
“Ap yang membuatmu kembali lebih cepat dari biasanya?.” tanya Zizu begitu melihat kedatangan Hiro.
“Masih ada banyak monster yang berkeliaran, bahkan ada monster tingkat emas muncul di danau tempat biasa aku melakukan latihan. Beruntung ada lima hunter yang muncul dan membunuh monster itu.” kata Hiro sambil duduk di sebelah Zizu yang sepertinya juga baru datang setelah melakukan penjagaan di pos yang harus dia jaga.
Mendengar itu Zizu hanya mengangguk dan tak lagi mengajukan pertanyaan lainnya pada Hiro yang tubuhnya terlihat masih lemah karena kelelahan.
Sekitar 30 menit istirahat dengan duduk di teras rumah bersama dengan Zizu, Hiro memutuskan pergi ke dalam rumah untuk mengisi perutnya dengan beberapa makanan.
Zizu menghela nafas panjang setelah melihat Hiro masuk kedalam rumah. “Aku harap dia tidak melakukan sesuatu yang dapat membuat banyak orang penasaran dengan kekuatannya.” kata Zizu dalam hati lalu dia pergi masuk kedalam rumah mengikuti Hiro.
“Siapkan makanan juga untukku.” kata Zizu memandang Hiro yang sedang menyiapkan makanan.
Hiro menganggukkan kepalanya mendengar permintaan Zizu. “Apa Ibu tahu kapan akademi kembali di buka?.” tanya Hiro di sela dia menyiapkan makanan untuk Zizu dan juga untuk dirinya.
“Setelah hunter dari assosiasi menyelesaikan permasalahan monster di kota, kamu akan dapat masuk akademi seperti biasa.” balas Zizu menjawab pertanyaan Hiro.
“Sepertinya untuk minggu ini aku masih akan tetap menjadi anak rumahan.” gumam Hiro sambil menyajikan makanan di atas meja makan.
Keduanya lalu mulai memakan makanan mereka dengan tenang. Kurang dari lima menit keduanya telah selesai makan, dan kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing.
“Kamu bisa melakukan latihan di halaman belakang rumah. Kalau halaman belakang masih kurang luas, mungkin aku bisa mengantarmu ke rumah nenek, dan meminta wanita tua itu untuk melatih mu.”
“Terimakasih Ibu atas tawarannya, tapi lebih baik aku berlatih si halaman belakang rumah.” balas Hiro dengan cepat.
Hiro pun segera merapikan meja makan dan setelah itu dia pergi ke halaman belakang rumah untuk bersantai setelah perutnya terisi penuh dengan makanan.
Hiro duduk bersila di bawah pohon rindang yang berada di belakang rumahnya.
Menikmati hembusan angin dan suasana nyaman duduk bersila di bawah pohon, perlahan Hiro mulai memejamkan kedua matanya. Tapi belum juga kedua matanya tertutup dengan sempurna dia mendengar suara ledakan keras dari arah pusat kota.
Boomm... Boomm...
Suara ledakan terus terdengar dari arah pusat kota, dan itu membuat Hiro penasaran dengan apa yang telah terjadi di tempat itu. Tanah bahkan ikut bergetar saat suara ledakan terakhir terdengar di telinga Hiro.
“Sepertinya para hunter dari assosiasi telah menemukan keberadaan dungeon itu dan saat ini mereka sedang melawan Bos monster yang memimpin seluruh monster di dungeon.” ungkap Zizu yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Hiro.
Setelah satu jam berlalu, akhirnya suara ledakan itu tak lagi terdengar, dan tanah pun tak lagi bergetar.
“Ibu akan kembali ke pos jaga, kamu tetap di rumah!.” kata Zizu dan setelahnya dia menghilang dari tempatnya.
Hiro yang hanya sendirian di rumahnya, dia ingin kembali melanjutkan latihan mengontrol elemen yang dimilikinya. Walau sudah dapat mengntrol dan mengendalikan kekuatan elemennya, Hiro ingin lebih menyempurnakan apa yang sudah dia lakukan.
Dia merasa kalau dirinya masih sedikit kesulitan mengontrol dan mengendalikan kekuatan elemennya saat dia dalam keadaan kurang tenang, seperti yang terjadi saat dia menghadapi monster tingkat emas di pinggiran danau, dan karena itu juga dia tadi terlalu boros dalam menggunakan energinya.
Hiro tersenyum saat dia berhasil meningkatkan tingkat kontrolnya terhadap kekuatan elemen yang dia miliki. Dan kini dia bisa menggunakan kekuatan elemennya hanya dengan sedikit menggunakan energi di tubuhnya.
Namun kontrol itu hanya sebatas pada elemen apinya. Untuk kekuatan elemennya yang lain, dia akan berusaha membuat tingkat kontrolnya terhadap elemennya yang lain setara dengan tingkat kontrolnya pada elemen api miliknya.
“Ini tidak muda.” kata Hiro yang belum juga berhasil menyempurnakan kontrol pada kekuatan tiga elemen lainnya.
“Sepertinya aku perlu meningkatkan energi dalam tubuhku untuk mempermudah latihan ku.” ujar Hiro.
Dia berhenti melakukan latihan, dan melihat langit sore yang terlihat cukup indah dan memanjakan mata. “Hari berlalu dengan sangat cepat.”
Hiro masuk kedalam rumahnya untuk membersihkan tubuhnya. “Aku harus menjadi kuat supaya dapat selalu berada di sisi Ibu dan melindunginya.”
Hiro yang sudah tahu betapa mengerikannya melawan para monster secara langsung, dia semakin tahu pekerjaan bahaya yang selama ini dilakukan oleh Zizu.
Di tempat lain, Zizu hanya bisa berteriak dalam hati saat mendengar seorang hunter menceritakan tentang seorang pemuda pemilik elemen api yang membantunya mengalahkan banyak monster di danau yang berada di bagian barat kota.
“Anak itu, kenapa dia selalu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak muncul di hadapan banyak orang.” kata Zizu dalam hati.
“Sepertinya aku harus sedikit mendisiplinkan nya.” Zizu tiba-tiba saja tersenyum membayangkan apa yang akan dia lakukan pada Hiro.
°°°
Jangan lupa like dan komentarnya setelah selesai membaca, terimakasih...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Tanty Aulia
gue heran deh beberapa novel
muda->mudah
mudah->muda
2022-11-13
0
Resty Alya Aulia
Hiro nyerang pake elemen apa pedang aja atau gabungan knp ga di perjelas
2022-11-07
0
Bats_Al-Hasan
mantap
2022-04-26
0