Malam ini keadaan kota sangat hening dan damai, tapi tanpa di sadari para hunter penjaga yang lengah dalam melakukan penjagaan, ribuan monster merangkak keluar dari dungeon tersembunyi dan mulai menyebar ke seluruh penjuru kota.
Beberapa monster yang lebih dulu keluar dari lubang dungeon, saat ini para monster itu mulai memburu mangsa mereka. Tiga orang yang rumahnya cukup berjauhan dari rumah lainnya telah menjadi santapan para monster.
Ribuan monster secara perlahan mulai membunuh satu demi satu manusia yang menjadi mangsa mereka. Dalam waktu satu jam sudah ratusan orang menjadi korban serangan monster, dan belum ada satupun hunter yang mengetahui hal itu.
Di rumah Hiro.
Hiro yang belum bisa memejamkan mata, dia mendengar suara aneh dari luar kamarnya, tapi saat dia ingin bangun dari tempat tidur tiba-tiba saja Zizu muncul dan menahannya.
“Siapkan perlengkapan mu, malam ini Ibu akan mengajarimu berburu monster.” kata Zizu yang sudah memakai perlengkapan lengkap seorang hunter.
Hiro masih terkejut dengan kedatangan Zizu yang begitu tiba-tiba, dia segera memulihkan kesadarannya dan dengan cepat melakukan apa yang baru saja dikatakan Zizu.
Dalam waktu singkat Hiro telah memakai perlengkapan hunter nya, dan kini dia sedang menunggu instruksi selanjutnya dari Zizu.
Zizu mengajak Hiro keluar rumah melalu pintu belakang, lalu dengan sedikit melompat kini keduanya telah berada di atas genting rumah dan mereka dapat melihat apa yang sedang terjadi di sekitaran rumah yang mereka tempati.
Zizu melihat belasan monster yang bergerak bebas di sekitaran rumahnya, dan dari arah lainnya dia dapat mendengar suara pertarungan antara hunter dan monster. “Sial! Apa saja yang dilakukan para penjaga sampai para monster ini dapat masuk ke wilayah ini?.”
“Hiro, kamu lawan monster tingkat besi yang ada di sana, dan biarkan aku dan Miku yang mengurus monster tingkat perunggu!.” kata Zizu memberi instruksi sambil menunjuk dua monster tingkat besi yang ada di halaman depan rumah mereka.
Tanpa rasa takut Hiro langsung menyerang dua monster yang akan menjadi lawannya. Karena ini kali pertama dia berurusan dengan para monster, terlihat jelas kalau Hiro kesulitan mencari kelemahan dua monster tingkat besi yang menjadi lawannya.
“Jangan menyerang bagian tubuhnya yang keras! Kelemahan monster itu ada di bagian mata dan bagian bawah mulutnya.” kata Zizi sambil melawan tiga monster tingkat perunggu dengan ditemani Miku.
Mendengar perkataan Zizu tentang kelemahan monster yang menjadi lawannya, Hiro segera mengarahkan serangannya ke arah dua titik lemah monster itu.
Dia pun dengan mudah dapat membunuh kedua monster itu setelah tahu titik lemah mereka. Akan tetapi, kini muncul monster lainnya yang terlihat lebih kuat dari dua monster tingkat besi yang baru dia kalahkan.
“Hei...hei...hei... Jangan katakan padaku kalau mereka adalah monster tingkat perunggu, dan aku harus menghadapi mereka?.” kata Hiro sambil melompat mundur menjauhi tiga monster yang menatap lapar ke arahnya.
Zizu yang melihat keberadaan tiga monster tingkat perunggu yang mengepung Hiro, dia menyuruh Miku untuk membantu Hiro.
Tapi belum juga Miku pergi, lima monster tingkat perunggu lainnya sudah mengepung posisinya dan membuatnya tak bisa melihat keberadaan Hiro. Zizu semakin khawatir dengan keadaan Hiro.
Dia memang dapat merasakan keberadaan Hiro, tapi dia benar-benar tidak bisa memastikan keadaannya. Karena rasa khawatirnya, dengan mengerahkan seluruh kekuatannya Zizu dengan di bantu Miku mencoba mengalahkan para monster yang mengepung mereka.
“Monster sialan, jangan harap kalian dapat memakan Ibuku!.” teriak Hiro sambil menyerang salah satu monster yang menyerang Zizu setelah dia berhasil membunuh dua monster tingkat perunggu yang menjadi lawannya.
Karena begitu marah dengan para monster yang menyerang Ibunya, tanpa dia sadari, dia sudah membunuh semua monster yang belum sempat di bunuh oleh Zizu.
Zizu hanya diam melihat bagaimana Hiro membunuh sisa monster yang belum sempat dia bunuh. Miku pun duduk di sebelah Zizu dan menjadi penonton pertarungan Hiro melawan para monster.
Perlahan Hiro menghentikan gerakannya saat tak lagi ada monster yang dapat menggerakkan tubuhnya. Lalu dia memandang kearah Zizu dan Miku yang sedang duduk dengan santainya.
“Bukannya membantu, kalian justru cuma menjadi penonton.” kata Hiro
“Kamu dengan mudah membereskan mereka, jadi kami memutuskan hanya diam dan menjadi penonton.” ujar Zizu.
“Huh, padahal aku khawatir pada kalian, ternyata kalian justru duduk santai menjadi penonton.” keluah Hiro sambil mendekat ke tempat Zizu.
Zizu dapat melihat beberapa hunter mendekati rumahnya saat Hiro tepat berasa di depannya. “Kemari dan berdiri di belakang Ibu!.” perintah Zizu yang langsung dituruti Hiro.
“Kenapa Ibu seperti tidak suka dengan kehadiran mereka?.” tanya Hiro.
Sebelum Hiro mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, tiga orang hunter datang sambil melihat belasan monster yang bergelimpangan di sekitar rumah yang ditempati Hiro dan Zizu.
“Guru Zu, apa kamu tidak apa-apa?.” tanya salah satu hunter sambil mendekati Zizu, tapi dari ekspresi wajah yang di tunjukkan Zizu, terlihat kalau dia tidak menyukai keberadaan pria itu.
“Kamu bisa melihatnya sendiri, dan aku rasa lebih baik kamu segera pergi dari tempat ini.” kata Zizu acuh dengan keberadaan pria yang hanya berjarak dua langkah di depannya.
Zizu segera membawa Hiro dan Miku pergi meninggalkan pria yang hanya tersenyum dengan sikap Zizu yang acuh dengannya.
“Apa kamu masih marah padaku setelah belasan tahun berlalu?.” kata pria itu tapi sekali lagi dia diabaikan oleh Zizu.
Setelah kepergian Zizu, pria itu menyuruh dua hunter yang datang bersamanya memanggil tim pembersih untuk membersihkan tubuh para monster dan membereskan sisa pertarungan di dekat rumah Zizu.
Pria itu masih ingin berbicara dengan Zizu dan meluruskan kesalah pahaman yang terjadi belasan tahun yang lalu. Tapi dia dapat melihat kalau Zizu masih tidak ingin bertemu dengannya.
Malam berdarah sudah berlalu dan paginya Hiro tidak pergi ke akademi karena teror para monster belum berakhir.
Selesai sarapan, Hiro menyalakan TV dan melihat acara TV yang menyajikan informasi terbaru tentang ribuan monster yang menyerang kota tempat tinggalnya, dan serangan monster telah menewaskan lebih dari lima ratus orang.
Saat Hiro sedang melihat acara TV, di belakang rumah Zizu sedang membakar daging monster yang baru dia bunuh. Dengan dibakar menggunakan elemen apinya, daging monster itu matang dengan sempurna, dan Miku dengan lahap memakan daging itu.
Zizu dapat merasakan keberadaan bener monster di sekitar tempat tinggalnya, tapi dia tidak turun tangan untuk memburu para monster karena sudah ada para murid senior dari akademi yang menangani mereka.
“Aku tidak menyangka akan adanya dungeon tersembunyi di tengah-tengah kota.” kata Zizu sambil terus membakar daging monster untuk dia berikan pada Miku.
Miku yang sangat menyukai dengan daging bakar, dia segera menghabiskan daging bakar yang diberikan Zizu. “Tidak usah terburu-buru, masih banyak stok daging bakar untuk mu.”
“Apa daging monster yang di bakar bisa seenak daging sapi?.” tanya Hiro sambil berjongkok di depan Miku yang sedang menikmati makanannya.
Zizu memberi Hiro daging monster yang baru dia bakar. “Daging itu terlihat mirip dengan daging sapi yang di bakar, tapi jangan sesekali kamu memakannya kalau kamu masih ingin melihat hari esok.” kata Zizu yang melihat Hiro ingin memasukkan potongan daging bakar itu kedalam mulutnya.
Buru-buru Hiro memberikan daging itu pada Miku yang dengan senang hati menerimanya.
“Hampir saja aku mati karena rasa penasaran ku.” ujar Hiro sambil mengelus dadanya.
Zizu lalu menjelaskan kalau daging monster di atas tingkat besi tidak dapat dikonsumsi oleh manusia, tapi untuk monster tingkat besi dan monster tanpa tingkat, daging mereka masih dapat dikonsumsi tapi dalam jumlah terbatas.
Daging monster tingkat besi kalau dimakan dapat memberi efek pemulihan energi pada orang yang memakannya, tapi kalau mengkonsumsinya secara berlebihan, tubuh orang yang mengkonsumsinya dapat meledak karena kelebihan energi.
“Lalu kenapa Miku baik-baik saja saat mengkonsumsi daging monster ini?.”
“Miku berasal dari jenis monster yang berbeda dengan mereka yang selama ini kita kenal. Setidaknya cuma itu yang aku ketahui.” ujar Zizu.
Zizu mendapatkan Miku dari sebuah dungeon yang muncul dengan tiba-tiba. Saat Zizu melihat dungeon itu, dia tak menemukan keberadaan monster dalam dungeon itu. Dan yang dia temukan dalam dungeon itu hanyalah monster dalam wujud harimau bersayap yang tiba-tiba berubah wujud menjadi kucing imut saat dia mendekatinya.
Kalau saja saat itu dia langsung membunuh kucing imut itu, mungkin dia tak akan memiliki peliharaan sekuat Miku yang selama ini selalu memberinya bantuan saat dia sedang melakukan penaklukan dungeon.
Setelah Miku kenyang, Zizu langsung membakar daging monster yang tersisa sampai menjadi abu.
Daging monster akan tetap membusuk sekalipun di simpan dalam lemari pendingin, karena itu Zizu hanya memberikan daging monster segar untuk makanan Miku.
Zizu kemudian menggendong Miku masuk kedalam rumah, dengan Hiro yang mengikutinya dari belakang. Hiro yang berada di belakang Zizu hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat pakaian yang saat ini dipakai Zizu.
Meskipun sudah sering melihat Zizu memakai pakaian seperti itu saat di rumah, sebagai pria normal di usia remaja, dia tetap merasa ada sesuatu yang menegang saat melihat penampilan Zizu.
“Mungkin ini yang dikatakan dengan penderitaan tak berdarah.” kata Hiro dalam hatinya.
°°°
Jangan lupa like dan komentarnya setelah selesai membaca, terimakasih...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Muhammad alviansyah
s
2023-11-05
0
Muhammad alviansyah
d
2023-11-05
0
Adhie Adhie
elemen ke 5 hiro sdg tegang 🤣🤣🤣
2023-03-20
0