19. Negatif

"Kita bakal punya ponakan?"

Semua tatapan beralih pada Sherena, suasananya senyap beberapa saat. Keyna mendekat pada Zia dan duduk di sebelahnya. Bahkan Zidan belum jadi berangkat kerja.

"Zia hamil?" tanya Keyna yang malah Zia menatapnya bingung kemudian menggelengkan kepala.

"Engga."

"Engga tau maksud lo?" tanya Sherena dengan nada menginterogasi.

"Engga, kan kata Keyna kemaren kalo hamil telat datang bulan, tapi Zia engga telat datang bulan, cuma belum jadwalnya aja," jawab Zia dengan muka polosnya.

"Kapan harusnya?" tanya Sherena dengan muka yang sudah penasaran.

"Dua atau tiga hari lagi," jawab Zia menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan kalender menstruasinya. Para cowok hanya memperhatikan walau sebenarnya mereka tidak paham.

Zidan masih diam dengan muka tegang dan tatapan kosong di tengah pintu, Keyna menendang kaki Galen, memberi kode agar Galen menyadarkan Zidan dengan dagunya.

Galen yang paham langsung berdiri menghampiri Zidan, menepuk kedua bahu Zidan dan menuntunnya untuk kembali duduk.

'Gitu aja udah lost banget dia.' Batin Galen.

Zidan baru sadar saat Dyu menabok lengannya dengan keras. Zidan mengedarkan pandangannya pada semua mata yang tengah menatapnya heran, "sorry."

"Lo ngga hamil kan Zi?" tanya Zidan dengan tatapan yang tertuju pada Zia, Zia menggelengkan kepalanya kuat.

Perasaan Zidan belum sepenuhnya lega, ia masih sangat takut jika benar Zia tengah hamil, ia belum siap menjadi seorang ayah, apalagi dengan keadaan yang sekarang.

"Kita cek nanti, gue nanti beliin tespack," ucap Zidan kembali berdiri walau lututnya masih lemas, Zidan berjalan menuju tempat Zia duduk, ia hanya mengelus rambut Zia lembut kemudian kembali melanjutkan niat awalnya yang akan berangkat kerja.

Semua pasang mata tidak ada yang lepas dari memandangi Zidan, mereka tau bahwa Zidan sedang takut sekarang. Mereka paham akan keadaanya.

"Zidan kenapa Key? Kok kaya orang takut gitu mukanya?" tanya Zia pada Keyna masih duduk di sebelahnya. Satu-satunya yang tidak paham adalah Zia, otak Zia tidak mampu mencerna keadaan yang baru saja terjadi, kenapa Zidan bisa setakut itu.

"Nggapapa, dia kaget aja sama ucapan Sherena tadi," jawab Keyna mengelus punggung tangan Zia.

"Sherena kan cuma tanya apa kita bakal punya ponakan? Kan kita udah punya ponakan anaknya kamu Key."

Semua menghembuskan napas lelah, memang susah berbicara dengan orang yang polosnya sudah stadium akhir.

"Waktu di rahim tante Salma kepintaran Zia diserap Zio semua kali ya, Sampai-sampai Zia tidak kebagian." Langit mengucapkan itu kemudian meminum minumannya.

"Emang Zio pinter?" tanya Sherena dengan nada meremehkan. Walaupun sebenarnya ia tahu sepintar apa kekasihnya itu.

"Beuh!! jangan salah. Dia lebih pintar di antara kita semua. Cuma males aja kalo masalah pelajaran. Masa pacarnya ngga tau sih, payah lo" ejek Dyu yang dibalas cebikan bibir oleh Sherena.

"Buktiin dong kalo emang pinter. Semester ini bisa ngga masuk sepuluh besar kelas," tantang Sherena pada Zio.

Zio tersenyum miring mendengarnya, "Siapa takut. Kalo sampe aku bisa masuk sepuluh besar kamu bakal kasih apa sebagai hadiah?" tanya Zio.

"Emm.. Kasih kamu izin buat ngelamar aku ke mama papa," ucap Sherena bercanda yang disoraki yang lain.

"Gass Zi terima tantangannya, untung banyak lo nanti, " kompor Langit memanasi Zio.

"Oke. Deal ya?" ujar Zio menyodorkan tangannya, Sherena malah jadi gelagapan sendiri karena merasa salah ngomong.

"Eh. Ganti deh, ngga jadi." Sherena jadi panik sendiri yang malah mengundang tawa mereka semua.

Tanpa mereka sadari ada orang yang sedang menatap mereka dari kejauhan, pintu yang terbuka membuat seseorang itu bisa melihat kebahagiaan mereka dengan jelas.

Rencananya untuk menghancurkan Persahabatan mereka tidak berjalan dengan baik, bukannya mereka semakin pecah malah semakin erat.

Ia sudah mulai menjalankan rencana selanjutnya, hanya tinggal menunggu waktu dan mereka akan hancur.

"Lanjutkan rencananya," ucapnya dengan orang di seberang telepon.

Seseorang itu pergi setelah memberi perintah, tidak ada gunanya ia kesini. Niat awal ingin melihat mereka sengsara, malah disuguhkan pemandangan yang sebaliknya.

°°°°

"Zia udah belum?" tanya Zidan sambil mengetuk pintu kamar mandi. Zia sudah di dalam selama sepuluh menit lebih.

"Bentar." Zia sedang mengetes menggunakan tespack, Sepulang dari kafe Zidan mampir dulu ke apotek untuk membelinya.

Zidan sudah keringat dingin saat Zia membuka pintu toilet. Apalagi melihat wajah murung Zia. "Gimana?"

Zia menyodorkan tespack itu ke Zidan, ia belum melihat hasilnya.

Zidan mengambilnya dan melihat hasilnya, seketika perasaan lega menyeruak di dalam dadanya yang semula sesak. Garis satu.

"Alhamdulillah." Bukannya menolak rezeki berupa anak, namun Zidan belum siap, dan dia bersyukur Allah mengerti keadaanya.

"Negatif." Zidan menatap Zia yang mengangguk, kemudian menyergitkan alisnya saat Zia masih terlihat murung dengan mata yang sudah mengembun.

"Kenapa lo? Kok murung gitu, harusnya seneng Zi, kita kan belum siap jadi orangtua," ucap Zidan yang mengira bahwa Zia kecewa dengan hasil tespacknya.

Zia makin mengerucutkan bibirnya, lalu air matanya jatuh begitu saja. Zidan yang melihat itu jadi panik sendiri, apalagi isakan Zia semakin lama semakin keras.

"Kenapa?" tanya Zidan, tangannya mengelus lengan Zia berusaha menenangkan, tapi Zia malah menghentakkan tangan Zidan.

"Jangan hiks pe- pegang hiks pegang." Zidan makin bingung dengan Zia, apakah Zia menginginkan hasilnya positif? menginginkan anak sekarang?

"Kenapa sih Zi? Lo pengen hasilnya positif? Kan Allah belum kasih kita momongan karena Allah tau kita belum siap, jangan nangis lagi dong." Zia tidak menanggapi, ia malah berlari ke kamar dan membanting dirinya ke kasur, ia menyembunyikan wajahnya di bawah bantal.

Zidan menyusulnya, mengelus punggung Zia lembut, "Bilang sama gue kenapa?"

Zia mengambil posisi duduk dengan rambut yang berantakan dan wajah yang memerah penuh air mata. Zidan tersenyum tipis karena merasa gemas dengan wajah Zia sekarang.

"Zi-zidan hiks ngga beliin hiks pesenan hiks Zia." Tangis Zia semakin pecah saat melihat Zidan yang malah sedang tertawa lepas.

"Huaaaa huaaaa mau hiks rujaknya sekarang hiks," minta Zia pada Zidan yang masih menertawainya, memang ada yang lucu?

"Iya iya ini gue cari. Tapi ngga janji ya? Soalnya udah malem gini," ucap Zidan saat tawanya sudah reda, dan menatap jam dinding yang sudah jam sembilan malam.

"Harus ada! Zia udah nungguin sampe Zia belum makan karena pengen rujak mangga muda, tapi Zidan malah pulangnya ngga bawa," ucap Zoa yang sesekali masih terisak.

"Iya. Tapi lo berhenti dulu nangisnya, sama makan dulu ya? Mau gue bikinin omellet lagi?" bujuk Zidan agar Zia mau makan.

Zia menggelengkan kepalanya, ia tidak menginginkan omellet, ia hanya ingin rujak sekarang. "Zia mau makan nasi kalo udah makan rujaknya."

Zidan menghembuskan napasnya berat, ia capek baru pulang kerja, tapi harus pergi lagi mencari pesanan istrinya yang ia lupa beli karena terus kepikiran ucapan Sherena siang tadi.

Zidan mengangguk lalu pergi mencari rujak, tapi sudah sekitar setengah jam mencari tak kunjung menemukan penjual rujak. Zidan memutuskan mengirim pesan pada sahabat-sahabatnya guna meminta bantuan.

...Inti Atlansa...

Zidan

Inpo gess dimana penjual rujak yang buka jam segini?

Dyu

Hhahaha ngidam tadi siang belum keturutan juga

Zio

Adek gue beneran hamil Dan?

Zidan

Tadi udah tes, negatif kok.

Langit

Yah ngga jadi papa muda dong lo Dan.

Zidan

B a c o t

Cepet kalian tau ngga? Zia ngga mau makan kalo gue ngga dapt tuh rujak s i a l a n.

Zio

Lo ngumpatin adek gue?

Zidan

Ngga kakak ipar.

Tolongin makanya gue udah muter muter nih ngga nemu nemu.

Galen

Deket kost an Langit kayanya waktu itu gue pernah liat deh.

Langit

Udah tutup jam segini lah b e g o.

Zidan menutup ponselnya ketika tidak mendapatkan info dari sahabatnya. Pandangannya tertuju pada seorang kakek yang tengah memikul sesuatu yang terlihat berat. Terlihat tubuh sang kakek bergetar karena tidak kuat.

Zidan turun dari motornya dan menghampiri sang kakek. "Biar saya bantu. Kakek mau kemana?" tanya Zidan.

Sang kakek menurunkan pikulannya. "Kakek mau pulang, Nak."

Zidan segera mengambil alih pikulan sang kakek, ternyata isi dari dua keranjang di setiap ujung pikulan adalah buah-buahan.

"Saya bawakan saja Kek." Kakek itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Kakinya memang sudah tidak kuat sampai gemeteran.

Sesampainya di rumah kakek itu, Zidan menurunkan pikulan dari bahunya.

"Terima kasih banyak, Nak Zidan." ucap sang kakek yang sudah mengetahui nama Zidan saat berjalan tadi.

Zidan mengangguk sambil tersenyum, ia melihat jam di ponselnya, sudah jam sepuluh ia harus mencari pesanan Zia.

"Kakek, saya mau pamit, saya mau cari rujak pesanan istri saya dulu," ucap Zidan berniat beranjak namun dicegah sang kakek.

"Rujak? Istri saya kebetulan jualan rujak. Ini buah-buahan juga buat bahan jualan istri saya besok," ucap sang kakek sambil menahan tangan Zidan. Seketika mata Zidan berbinar.

"Apa boleh saya beli? Tapi istri kakek sudah tutup jualannya, nanti malah mengganggu istirahat istri kakek" ucap Zidan saat melihat etalase di sampingnya yang sudah ditutup kain.

"Tidak apa apa, tunggu sebentar kakek panggilkan." Kakek masuk ke rumah dan keluar bersama istrinya.

"Maaf tadi nenek sedang mencuci piring di belakang jadi tidak dengar kalau ada tamu," ucap nenek tersebut.

"Nggapapa Nek, boleh saya beli rujaknya nek?" tanya Zidan penuh harap. Sang nenek mengangguk dan mengajak Zidan masuk ke rumah sederhananya.

"Mangga muda semua ya Nek," pesan Zidan yang diangguki sang nenek yang tengah mengulek bumbu.

"Istrinya lagi ngidam ya,Nak?"

°°°°

HALLO SEMUAAA👋👋

SEBENARNYA ZIA HAMIL ATAU ENGGA YA? 🤔

DAN SIAPA YANG MAU BERBUAT JAHAT SAMA MEREKA? 🤔

TETEP DUKUNG AKU DENGAN CARA LIKE, KOMEN DAN VOTE.

KASIH HADIAH JUGA BOLEH HEHE 🤭

SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA

Terpopuler

Comments

Zuki - Mar

Zuki - Mar

tp di lapak sebelah Zia positif hamil.. terus yg ngelakuin org yg GK suka SMA ayra

2023-01-08

1

Yoeli Nha Iwan

Yoeli Nha Iwan

positif 🥰🥰

2022-12-23

1

lihat semua
Episodes
1 1. Truth or Dare
2 2. Hari Itu(1)
3 3. Hari itu(2)
4 4. Tanggung Jawab?
5 5. UKS
6 6. Zio Pulang
7 7. Nikah?
8 8. Sah
9 9. Kamar Zidan
10 10. Awal Baru
11 11. Khawatir
12 12. Putus
13 13. Upah Pertama
14 14. Ayra Berubah
15 15. Mual
16 16. Minggu dengan Sahabat
17 17. Omellet Lagii
18 18. Kita mau punya ponakan?
19 19. Negatif
20 20. Keanehan Cewek Cupu
21 21. Asing
22 22. Beneran Hamil
23 23. Basecamp Atlansa
24 24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25 25. Kedatangan Bunda dan Mama
26 26. Panik
27 Aksi Atlansa
28 Rumah Sakit
29 Dea
30 Mie Instan
31 Capek
32 Rezekinya Dia
33 Lebih Baik
34 34. Zidan dan Ayra?
35 35. Tak Ingin Usai
36 36. Dea Lagi
37 37. Langit
38 38. Kedondong
39 39. Rumah Sakit
40 40. Kembar
41 41. Makan Pizza
42 42. Ulah Janu
43 43. Zia Overthinking
44 44. Taman Bermain
45 45. Fakta Baru Tentang Ayra
46 46. Siapa pelakunya?
47 47. Kacau
48 48. Basecamp
49 49. Klarifikasi
50 50. Bakso Harga Lima Juta
51 51. Dikeluarkan atau Tidak?
52 52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53 53. Keguguran?
54 54. Vanishing Twin Syndrome
55 55. Mulai Ada Rasa
56 56. Bersama Arin
57 57. Belajar Ciuman
58 58. Tanggung
59 59. Baby Cegukan
60 60. Yang Paling Berkuasa
61 Pengumuman (Bukan Update)
62 61. Sup Ala Zia
63 62. Terbongkar?
64 63. Kecemasan Zia
65 64. Kembali Bersama
66 65. Kangen Mama Papa
67 66. Anak Kita
68 67. Kembalinya Aset Zidan
69 68. Rumah Zidan (Lagi)
70 69. Perhatian dari Mertua
71 70. Om Om Hidung Belang
72 71. Rambutan Botak
73 72. Cinta atau Tanggungjawab?
74 73. Gagal Lagi
75 74. Kumpul Santuy
76 75. I LOVE YOU
77 76. Ceramah Bunda Dian
78 77. Akhirnya
79 78. Nasi Padang
80 79. Petunjuk Baru
81 80. Prenatal Yoga Couple
82 81. Pencarian
83 82. Bu Intan
84 83. Penghianat
85 84. Kehidupan Bu Intan
86 85. Rencana Ke Puncak
87 86. On The Way
88 87. Ayra hamil?
89 88. Waktu Cowok
90 89. Menikmati Malam Di Puncak
91 90. Keinginan Zia
92 91. Tujuh Bulanan
93 92. Ketemu Baby Zira
94 93. Bersama Mama
95 94. Dari Hati ke Hati
96 95. Di Kantor Ayah Dimas
97 96. Mbak-Mbak Genit
98 97. Di Tempat Yoga
99 98. Sebentar Lagi
100 99. Satu Komplek?
101 101. Ucapan Pak Ervan
102 101. Sesama Bumil Remaja
103 102. Serangan Di Sekolah
104 103. Pasca Penyerangan
105 104. Perhatian Istri
106 105. Kasus Baru Lagi
107 106. Cemburu
108 107. Pernah
109 108. Melaporkan Tuan Willy
110 109. Belajar Mengurus Bayi
111 110. Masih Bersama Baby Zira
112 111. Apakah....
113 112. Amukan Sang Mertua
114 113. Posisi Kepala Bayi
115 114. Titik Terang
116 115. Kontraksi Palsu
117 116. Kontraksi Awal
118 117. Bukaan 4
119 118. Masih Bukaan 8
120 119. Persalinan
121 120. Skin To Skin
122 121. Papa Riyan
123 122. 38 Hari Lagi
124 123. Ditemani Ayra
125 124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126 125. Papa Nggak Tau
127 126. Rencana Sekolah Lagi
128 127. Hari Pertama Ulangan
129 128. Setelah 42 Hari
130 129. First Day School
131 130. Pengagum Bapak Anak Satu
132 131. Meminta Belajar Bela Diri
133 132. Pasar Malam
134 133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135 134. Wisata Keluarga
136 135. Tamat
137 Special Part
Episodes

Updated 137 Episodes

1
1. Truth or Dare
2
2. Hari Itu(1)
3
3. Hari itu(2)
4
4. Tanggung Jawab?
5
5. UKS
6
6. Zio Pulang
7
7. Nikah?
8
8. Sah
9
9. Kamar Zidan
10
10. Awal Baru
11
11. Khawatir
12
12. Putus
13
13. Upah Pertama
14
14. Ayra Berubah
15
15. Mual
16
16. Minggu dengan Sahabat
17
17. Omellet Lagii
18
18. Kita mau punya ponakan?
19
19. Negatif
20
20. Keanehan Cewek Cupu
21
21. Asing
22
22. Beneran Hamil
23
23. Basecamp Atlansa
24
24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25
25. Kedatangan Bunda dan Mama
26
26. Panik
27
Aksi Atlansa
28
Rumah Sakit
29
Dea
30
Mie Instan
31
Capek
32
Rezekinya Dia
33
Lebih Baik
34
34. Zidan dan Ayra?
35
35. Tak Ingin Usai
36
36. Dea Lagi
37
37. Langit
38
38. Kedondong
39
39. Rumah Sakit
40
40. Kembar
41
41. Makan Pizza
42
42. Ulah Janu
43
43. Zia Overthinking
44
44. Taman Bermain
45
45. Fakta Baru Tentang Ayra
46
46. Siapa pelakunya?
47
47. Kacau
48
48. Basecamp
49
49. Klarifikasi
50
50. Bakso Harga Lima Juta
51
51. Dikeluarkan atau Tidak?
52
52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53
53. Keguguran?
54
54. Vanishing Twin Syndrome
55
55. Mulai Ada Rasa
56
56. Bersama Arin
57
57. Belajar Ciuman
58
58. Tanggung
59
59. Baby Cegukan
60
60. Yang Paling Berkuasa
61
Pengumuman (Bukan Update)
62
61. Sup Ala Zia
63
62. Terbongkar?
64
63. Kecemasan Zia
65
64. Kembali Bersama
66
65. Kangen Mama Papa
67
66. Anak Kita
68
67. Kembalinya Aset Zidan
69
68. Rumah Zidan (Lagi)
70
69. Perhatian dari Mertua
71
70. Om Om Hidung Belang
72
71. Rambutan Botak
73
72. Cinta atau Tanggungjawab?
74
73. Gagal Lagi
75
74. Kumpul Santuy
76
75. I LOVE YOU
77
76. Ceramah Bunda Dian
78
77. Akhirnya
79
78. Nasi Padang
80
79. Petunjuk Baru
81
80. Prenatal Yoga Couple
82
81. Pencarian
83
82. Bu Intan
84
83. Penghianat
85
84. Kehidupan Bu Intan
86
85. Rencana Ke Puncak
87
86. On The Way
88
87. Ayra hamil?
89
88. Waktu Cowok
90
89. Menikmati Malam Di Puncak
91
90. Keinginan Zia
92
91. Tujuh Bulanan
93
92. Ketemu Baby Zira
94
93. Bersama Mama
95
94. Dari Hati ke Hati
96
95. Di Kantor Ayah Dimas
97
96. Mbak-Mbak Genit
98
97. Di Tempat Yoga
99
98. Sebentar Lagi
100
99. Satu Komplek?
101
101. Ucapan Pak Ervan
102
101. Sesama Bumil Remaja
103
102. Serangan Di Sekolah
104
103. Pasca Penyerangan
105
104. Perhatian Istri
106
105. Kasus Baru Lagi
107
106. Cemburu
108
107. Pernah
109
108. Melaporkan Tuan Willy
110
109. Belajar Mengurus Bayi
111
110. Masih Bersama Baby Zira
112
111. Apakah....
113
112. Amukan Sang Mertua
114
113. Posisi Kepala Bayi
115
114. Titik Terang
116
115. Kontraksi Palsu
117
116. Kontraksi Awal
118
117. Bukaan 4
119
118. Masih Bukaan 8
120
119. Persalinan
121
120. Skin To Skin
122
121. Papa Riyan
123
122. 38 Hari Lagi
124
123. Ditemani Ayra
125
124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126
125. Papa Nggak Tau
127
126. Rencana Sekolah Lagi
128
127. Hari Pertama Ulangan
129
128. Setelah 42 Hari
130
129. First Day School
131
130. Pengagum Bapak Anak Satu
132
131. Meminta Belajar Bela Diri
133
132. Pasar Malam
134
133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135
134. Wisata Keluarga
136
135. Tamat
137
Special Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!