"Kita bakal punya ponakan?"
Semua tatapan beralih pada Sherena, suasananya senyap beberapa saat. Keyna mendekat pada Zia dan duduk di sebelahnya. Bahkan Zidan belum jadi berangkat kerja.
"Zia hamil?" tanya Keyna yang malah Zia menatapnya bingung kemudian menggelengkan kepala.
"Engga."
"Engga tau maksud lo?" tanya Sherena dengan nada menginterogasi.
"Engga, kan kata Keyna kemaren kalo hamil telat datang bulan, tapi Zia engga telat datang bulan, cuma belum jadwalnya aja," jawab Zia dengan muka polosnya.
"Kapan harusnya?" tanya Sherena dengan muka yang sudah penasaran.
"Dua atau tiga hari lagi," jawab Zia menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan kalender menstruasinya. Para cowok hanya memperhatikan walau sebenarnya mereka tidak paham.
Zidan masih diam dengan muka tegang dan tatapan kosong di tengah pintu, Keyna menendang kaki Galen, memberi kode agar Galen menyadarkan Zidan dengan dagunya.
Galen yang paham langsung berdiri menghampiri Zidan, menepuk kedua bahu Zidan dan menuntunnya untuk kembali duduk.
'Gitu aja udah lost banget dia.' Batin Galen.
Zidan baru sadar saat Dyu menabok lengannya dengan keras. Zidan mengedarkan pandangannya pada semua mata yang tengah menatapnya heran, "sorry."
"Lo ngga hamil kan Zi?" tanya Zidan dengan tatapan yang tertuju pada Zia, Zia menggelengkan kepalanya kuat.
Perasaan Zidan belum sepenuhnya lega, ia masih sangat takut jika benar Zia tengah hamil, ia belum siap menjadi seorang ayah, apalagi dengan keadaan yang sekarang.
"Kita cek nanti, gue nanti beliin tespack," ucap Zidan kembali berdiri walau lututnya masih lemas, Zidan berjalan menuju tempat Zia duduk, ia hanya mengelus rambut Zia lembut kemudian kembali melanjutkan niat awalnya yang akan berangkat kerja.
Semua pasang mata tidak ada yang lepas dari memandangi Zidan, mereka tau bahwa Zidan sedang takut sekarang. Mereka paham akan keadaanya.
"Zidan kenapa Key? Kok kaya orang takut gitu mukanya?" tanya Zia pada Keyna masih duduk di sebelahnya. Satu-satunya yang tidak paham adalah Zia, otak Zia tidak mampu mencerna keadaan yang baru saja terjadi, kenapa Zidan bisa setakut itu.
"Nggapapa, dia kaget aja sama ucapan Sherena tadi," jawab Keyna mengelus punggung tangan Zia.
"Sherena kan cuma tanya apa kita bakal punya ponakan? Kan kita udah punya ponakan anaknya kamu Key."
Semua menghembuskan napas lelah, memang susah berbicara dengan orang yang polosnya sudah stadium akhir.
"Waktu di rahim tante Salma kepintaran Zia diserap Zio semua kali ya, Sampai-sampai Zia tidak kebagian." Langit mengucapkan itu kemudian meminum minumannya.
"Emang Zio pinter?" tanya Sherena dengan nada meremehkan. Walaupun sebenarnya ia tahu sepintar apa kekasihnya itu.
"Beuh!! jangan salah. Dia lebih pintar di antara kita semua. Cuma males aja kalo masalah pelajaran. Masa pacarnya ngga tau sih, payah lo" ejek Dyu yang dibalas cebikan bibir oleh Sherena.
"Buktiin dong kalo emang pinter. Semester ini bisa ngga masuk sepuluh besar kelas," tantang Sherena pada Zio.
Zio tersenyum miring mendengarnya, "Siapa takut. Kalo sampe aku bisa masuk sepuluh besar kamu bakal kasih apa sebagai hadiah?" tanya Zio.
"Emm.. Kasih kamu izin buat ngelamar aku ke mama papa," ucap Sherena bercanda yang disoraki yang lain.
"Gass Zi terima tantangannya, untung banyak lo nanti, " kompor Langit memanasi Zio.
"Oke. Deal ya?" ujar Zio menyodorkan tangannya, Sherena malah jadi gelagapan sendiri karena merasa salah ngomong.
"Eh. Ganti deh, ngga jadi." Sherena jadi panik sendiri yang malah mengundang tawa mereka semua.
Tanpa mereka sadari ada orang yang sedang menatap mereka dari kejauhan, pintu yang terbuka membuat seseorang itu bisa melihat kebahagiaan mereka dengan jelas.
Rencananya untuk menghancurkan Persahabatan mereka tidak berjalan dengan baik, bukannya mereka semakin pecah malah semakin erat.
Ia sudah mulai menjalankan rencana selanjutnya, hanya tinggal menunggu waktu dan mereka akan hancur.
"Lanjutkan rencananya," ucapnya dengan orang di seberang telepon.
Seseorang itu pergi setelah memberi perintah, tidak ada gunanya ia kesini. Niat awal ingin melihat mereka sengsara, malah disuguhkan pemandangan yang sebaliknya.
°°°°
"Zia udah belum?" tanya Zidan sambil mengetuk pintu kamar mandi. Zia sudah di dalam selama sepuluh menit lebih.
"Bentar." Zia sedang mengetes menggunakan tespack, Sepulang dari kafe Zidan mampir dulu ke apotek untuk membelinya.
Zidan sudah keringat dingin saat Zia membuka pintu toilet. Apalagi melihat wajah murung Zia. "Gimana?"
Zia menyodorkan tespack itu ke Zidan, ia belum melihat hasilnya.
Zidan mengambilnya dan melihat hasilnya, seketika perasaan lega menyeruak di dalam dadanya yang semula sesak. Garis satu.
"Alhamdulillah." Bukannya menolak rezeki berupa anak, namun Zidan belum siap, dan dia bersyukur Allah mengerti keadaanya.
"Negatif." Zidan menatap Zia yang mengangguk, kemudian menyergitkan alisnya saat Zia masih terlihat murung dengan mata yang sudah mengembun.
"Kenapa lo? Kok murung gitu, harusnya seneng Zi, kita kan belum siap jadi orangtua," ucap Zidan yang mengira bahwa Zia kecewa dengan hasil tespacknya.
Zia makin mengerucutkan bibirnya, lalu air matanya jatuh begitu saja. Zidan yang melihat itu jadi panik sendiri, apalagi isakan Zia semakin lama semakin keras.
"Kenapa?" tanya Zidan, tangannya mengelus lengan Zia berusaha menenangkan, tapi Zia malah menghentakkan tangan Zidan.
"Jangan hiks pe- pegang hiks pegang." Zidan makin bingung dengan Zia, apakah Zia menginginkan hasilnya positif? menginginkan anak sekarang?
"Kenapa sih Zi? Lo pengen hasilnya positif? Kan Allah belum kasih kita momongan karena Allah tau kita belum siap, jangan nangis lagi dong." Zia tidak menanggapi, ia malah berlari ke kamar dan membanting dirinya ke kasur, ia menyembunyikan wajahnya di bawah bantal.
Zidan menyusulnya, mengelus punggung Zia lembut, "Bilang sama gue kenapa?"
Zia mengambil posisi duduk dengan rambut yang berantakan dan wajah yang memerah penuh air mata. Zidan tersenyum tipis karena merasa gemas dengan wajah Zia sekarang.
"Zi-zidan hiks ngga beliin hiks pesenan hiks Zia." Tangis Zia semakin pecah saat melihat Zidan yang malah sedang tertawa lepas.
"Huaaaa huaaaa mau hiks rujaknya sekarang hiks," minta Zia pada Zidan yang masih menertawainya, memang ada yang lucu?
"Iya iya ini gue cari. Tapi ngga janji ya? Soalnya udah malem gini," ucap Zidan saat tawanya sudah reda, dan menatap jam dinding yang sudah jam sembilan malam.
"Harus ada! Zia udah nungguin sampe Zia belum makan karena pengen rujak mangga muda, tapi Zidan malah pulangnya ngga bawa," ucap Zoa yang sesekali masih terisak.
"Iya. Tapi lo berhenti dulu nangisnya, sama makan dulu ya? Mau gue bikinin omellet lagi?" bujuk Zidan agar Zia mau makan.
Zia menggelengkan kepalanya, ia tidak menginginkan omellet, ia hanya ingin rujak sekarang. "Zia mau makan nasi kalo udah makan rujaknya."
Zidan menghembuskan napasnya berat, ia capek baru pulang kerja, tapi harus pergi lagi mencari pesanan istrinya yang ia lupa beli karena terus kepikiran ucapan Sherena siang tadi.
Zidan mengangguk lalu pergi mencari rujak, tapi sudah sekitar setengah jam mencari tak kunjung menemukan penjual rujak. Zidan memutuskan mengirim pesan pada sahabat-sahabatnya guna meminta bantuan.
...Inti Atlansa...
Zidan
Inpo gess dimana penjual rujak yang buka jam segini?
Dyu
Hhahaha ngidam tadi siang belum keturutan juga
Zio
Adek gue beneran hamil Dan?
Zidan
Tadi udah tes, negatif kok.
Langit
Yah ngga jadi papa muda dong lo Dan.
Zidan
B a c o t
Cepet kalian tau ngga? Zia ngga mau makan kalo gue ngga dapt tuh rujak s i a l a n.
Zio
Lo ngumpatin adek gue?
Zidan
Ngga kakak ipar.
Tolongin makanya gue udah muter muter nih ngga nemu nemu.
Galen
Deket kost an Langit kayanya waktu itu gue pernah liat deh.
Langit
Udah tutup jam segini lah b e g o.
Zidan menutup ponselnya ketika tidak mendapatkan info dari sahabatnya. Pandangannya tertuju pada seorang kakek yang tengah memikul sesuatu yang terlihat berat. Terlihat tubuh sang kakek bergetar karena tidak kuat.
Zidan turun dari motornya dan menghampiri sang kakek. "Biar saya bantu. Kakek mau kemana?" tanya Zidan.
Sang kakek menurunkan pikulannya. "Kakek mau pulang, Nak."
Zidan segera mengambil alih pikulan sang kakek, ternyata isi dari dua keranjang di setiap ujung pikulan adalah buah-buahan.
"Saya bawakan saja Kek." Kakek itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Kakinya memang sudah tidak kuat sampai gemeteran.
Sesampainya di rumah kakek itu, Zidan menurunkan pikulan dari bahunya.
"Terima kasih banyak, Nak Zidan." ucap sang kakek yang sudah mengetahui nama Zidan saat berjalan tadi.
Zidan mengangguk sambil tersenyum, ia melihat jam di ponselnya, sudah jam sepuluh ia harus mencari pesanan Zia.
"Kakek, saya mau pamit, saya mau cari rujak pesanan istri saya dulu," ucap Zidan berniat beranjak namun dicegah sang kakek.
"Rujak? Istri saya kebetulan jualan rujak. Ini buah-buahan juga buat bahan jualan istri saya besok," ucap sang kakek sambil menahan tangan Zidan. Seketika mata Zidan berbinar.
"Apa boleh saya beli? Tapi istri kakek sudah tutup jualannya, nanti malah mengganggu istirahat istri kakek" ucap Zidan saat melihat etalase di sampingnya yang sudah ditutup kain.
"Tidak apa apa, tunggu sebentar kakek panggilkan." Kakek masuk ke rumah dan keluar bersama istrinya.
"Maaf tadi nenek sedang mencuci piring di belakang jadi tidak dengar kalau ada tamu," ucap nenek tersebut.
"Nggapapa Nek, boleh saya beli rujaknya nek?" tanya Zidan penuh harap. Sang nenek mengangguk dan mengajak Zidan masuk ke rumah sederhananya.
"Mangga muda semua ya Nek," pesan Zidan yang diangguki sang nenek yang tengah mengulek bumbu.
"Istrinya lagi ngidam ya,Nak?"
°°°°
HALLO SEMUAAA👋👋
SEBENARNYA ZIA HAMIL ATAU ENGGA YA? 🤔
DAN SIAPA YANG MAU BERBUAT JAHAT SAMA MEREKA? 🤔
TETEP DUKUNG AKU DENGAN CARA LIKE, KOMEN DAN VOTE.
KASIH HADIAH JUGA BOLEH HEHE 🤭
SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Zuki - Mar
tp di lapak sebelah Zia positif hamil.. terus yg ngelakuin org yg GK suka SMA ayra
2023-01-08
1
Yoeli Nha Iwan
positif 🥰🥰
2022-12-23
1