"Zia sedih banget Key, Zia bod*h banget ya Key? sesuatu paling berharga Zia diambil tanpa Zia tau," ucap Zia lagi. Perempuan berambut panjang itu kembali menangis sesegukan.
Keyna terus menenangkan sahabatnya itu, memberi saran yang mungkin berguna untuk mengahapi masalah ini.
~~
Zia sekarang sudah berada di kamarnya sendirian. Asisten rumah tangga di rumahnya tidak datang katanya anaknya sedang sakit. Galen, Keyna, dan Zidan sudah pulang satu jam yang lalu. Dengan Zidan yang berkata akan menunggu jawaban Zia.
Zia termenung memikirkan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya. Jika ia menerima tanggung jawab dari Zidan, lalu bagaimana dengan sahabatnya, Ayra. Kekasih Zidan itu pasti akan sangat sedih mengetahui pacarnya telah merenggut harta paling berharga milik Zia. Namun, Zia juga memikirkan masa depannya nanti, siapa yang akan menerima perempuan yang sudah tidak suci sepertinya.
Zia tiba-tiba terisak mengingat orang tuanya yang pasti akan sangat kecewa, juga Zio yang sampai saat ini belum juga kembali, pasti kakak kembarnya itu juga kecewa dengannya.
'Kenapa harus Zia Tuhan? Zia ngga tau apa apa," lirihnya.
Zia meringkukkan tubuhnya kemudian menangis sejadi-jadinya, suasana rumah yang sepi membuatnya bebas berteriak, melampiaskan rasa sakit hatinya.
Tidak ada yang akan baik-baik saja setelah apa yang ia jaga selama ini direnggut orang lain, entah itu barang, teman, kasih sayang, juga kesucian diri kita sendiri.
Zia tahu semuanya akan hancur, pertemanannya, keluarganya, juga perasaannya. Zia merenungkan semuanya baik-baik guna mencari keputusan yang terbaik dalam masalah ini.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah mewah seorang cowok tengah membaringkan tubuhnya yang terasa remuk, dering nada panggilan khusus sang kekasih tidak ia hiraukan. Pikirannya kacau, semakin kacau kala ia mengingat wajah wajah orang yang ia buat kecewa. Orang tuanya, kekasihnya, Zia, dan wajah para sahabatnya terutama Zio.
Zidan, cowok itu meringis ketika akan mengusap wajahnya, luka semalam masih terasa sakit. Untung ia pulang saat kedua orang tuanya sudah berangkat kerja.
Ingin rasanya ia berteriak, namun kondisinya masih lemah, dengan berteriak hanya akan menambah sakit di sekitar pipi dan bibirnya.
Mukanya penuh lebam, begitupun dengan lengan dan perut. Pukulan Zio tidak main-main, membuat semua tulangnya berasa remuk. Namun ia tidak berniat ke rumah sakit, takutnya bertemu sang mama yang bekerja sebagai dokter spesialis kandungan.
Dering telepon dari Ayra tidak berhenti juga, Zidan pun tidak berniat mengangkatnya, rasa bersalah pada gadis itu begitu besar hingga ia tidak akan sanggup untuk mendengar suaranya sekarang ini. Ia hanya mengirim pesan bahwa ia baik-baik saja, setelah itu mematikan ponselnya.
Zio tengah berdiri di tepi pantai, angin berhembus menerpa tubuh tegapnya. Matanya terpejam menikmati debur ombak seolah alunan musik yang menenangkan. Sejak ia pergi dari rumah ia belum tidur, hanya menghabiskan waktu di jalanan kemudian paginya menuju pantai ini.
Pikirannya dari semalam hanya memikirkan sang adik. Menyesal juga kecewa pada diri sendiri. Kenapa semalam setelah mengetahui lokasi Zia ia tidak langsung pulang. Mengapa ia malah kembali menikmati pesta, sedangkan adiknya sedang dalam masalah besar.
Zio bingung apa yang akan dia katakan pada kedua orang tuanya saat pulang nanti. Zio telah gagal menjaga adiknya, membuatnya malu untuk menampakkan wajahnya di depan orang tuanya sendiri. Masih ada waktu sekitar tiga hari sampai orang tuanya pulang. Zio juga tidak siap untuk bertemu dengan adiknya, Zia.
Hari ini tidak ada niatan Zio untuk pulang ke rumah. Ia akan ke basecamp atau ke apartemen salah satu temannya sampai ia siap dan emosinya kembali stabil. Ia tak ingin adiknya menjadi pelampiasan emosinya.
\#\#
Keesokan harinya, setelah seharian Zia menyendiri dan memikirkan langkah selanjutnya, perempuan imut itu berangkat sekolah seperti biasa. Walau sakitnya masih sedikit terasa ia memaksakan masuk sekolah karena suatu hal yang harus ia sampaikan pada seseorang yang merenggut mahkota berharganya.
Zia mencoba berjalan seperti biasa, dengan menahan sedikit perih karena gesekan di daerah itu. Langkah kecilnya menyusuri koridor kelas dengan tas biru muda kesayangannya.
"Pagi semua... " sapa Zia saat memasuki kelas. Kelas XI IPA 1 adalah kelasnya bersama Keyna, Ayra, dan Sherena sejak beberapa bulan yang lalu.
Semuanya membalas sapaan Zia, kecuali Keyna yang tengah menatap cara jalan Zia dan keadaan Zia yang masih terlihat lemas walau sudah Zia coba tutupi dengan senyum manisnya.
Keyna duduk di sebelah Zia saat melihat Zia sudah duduk di kursinya. Ayra dan Sherena kebetulan belum berangkat.
Zia tersenyum pada Keyna saat Keyna menggenggam tangannya lembut, mencoba menyalurkan kekuatan pada perempuan polos itu. Tangan Zia terasa hangat, pasti gadis ini terus kepikiran masalah itu sampai ia demam.
"Kak Zio engga pulang, Key," tutur Zia sembari menelungkupkan kepalanya ke meja, kemudian memiringkan kepalanya menghadap Keyna.
"Engga papa, kata Galen dari kemaren siang Zio di basecamp Atlansa, engga kemana mana, " ucap Keyna dengan tangan yang memijat pelan telapak tangan Zia.
Zia mengangguk samar. Memejamkan matanya saat pijatan di tangannya semakin menenangkan. Zia memang semalam tidak bisa tidur, membuatnya sekarang begitu mengantuk dan pusing.
Melihat muka lelah Zia yang sedang terlelap, Keyna mengambil ponsel di saku seragamnya, berniat mengirim pesan pada Galen.
^^^*P*^^^
^^^*Zio berangkat engga*?^^^
Tanpa menunggu lama Galen membalas pesannya.
**Galen**
*Belum, kayanya engga berangkat*.
*Kenapa*?
Dengan menggunakan satu tangan, Keyna mengetikkan balasan pesan kekasihnya. Sementara tangan satunya masih sibuk memijat tangan Zia.
^^^*Zia tidur, sebelum kelas rame kayanya mending dibawa ke UKS aja, badannya juga lumayan panas*.^^^
Setelah mengirim pesan tersebut butuh beberapa detik untuk tanda pesan menjadi centang biru, namun tidak ada balasan.
Ayra dan Sherena terlihat datang bersama, saat Ayra akan berteriak, mulutnya dibekap Sherena saat melihat Zia tertidur di bangkunya.
Keduanya mendekat dan Ayra menaikkan alisnya pada Keyna, bertanya lewat isyarat. Keyna yang mengerti maksud sahabatnya itupun menjawab tanpa suara 'demam, badannya panas'. Sherena menempelkan punggung tangannya pada dahi Zia dan merasakan suhunya yang memang panas.
Tak lama dari itu Galen datang bersama Zidan yang keadaanya sudah lumayan membaik, walaupun wajahnya masih memar di beberapa bagian. Namun, cowok itu sudah terlihat biasa saja.
Mengenai Ayra, dia sudah mengetahui keadaan Zidan, namun belum dengan penyebabnya, yang ia tau kalau Zidan berantem dengan musuh Atlansa bukan dengan sahabatnya sendiri.
Zidan menghampiri Ayra yang tersenyum padanya. "Aku yang angkat Zia boleh? Zio engga berangkat, " izin Zidan pada Ayra.
Ayra mengangguk, mengenai hal ini ia tidak akan egois, kasihan juga melihat Zia tertidur dengan posisi kurang nyaman seperti itu. Galen tidak mau menggendong Zia bukan karena ia tidak peduli, ia hanya ingin Zidan bertanggungjawab sepenuhnya.
Zidan perlahan mengangkat tubuh cewek yang sudah ia rusak, membawa tubuh mungil itu ke UKS diikuti yang lain. Perasaan bersalah makin mencuat saat melihat mata sembab dan wajah pucat perempuan dalam gendongannya itu. Pasti perempuan itu kepikiran terus.
Setelah menidurkan Zia di ranjang UKS, Zidan berniat langsung pergi dari UKS.
"Bentar Dan, aku mau obatin luka kamu lagi, tadi pagi belum diobatin kan?" tanya Ayra pada Zidan yang hendak keluar.
Zidan mengangguk, membiarkan Ayra mengobati lukanya, walaupun setelah ini mungkin Zidan yang akan menorehkan luka pada gadis manis itu.
Keyna, Sherena dan Galen menunggu di luar UKS.
"Zio engga berangkat lagi Gal?" tanya Sherena.
Galen menggelengkan kepalanya, Zio sekarang masih di basecamp, entah sampai kapan lelaki itu akan kembali ke rumahnya.
"Zio kenapa si Gal? Kalo masalah sama musuh kalian masa sampe bikin dia ngga mau pulang dan sekolah. Udah hampir dua hari lho!" tanya Sherena mengungkapkan keingin tahuannya.
Galen terdiam, kemudian saling melempar pandang dengan Keyna. keduanya tidak memiliki hak untuk memberitahukan kejadian sebenarnya.
"Lo tanya sendiri aja, lo kan ceweknya," ucap Galen sebelum pergi menggandeng tangan Keyna. Sherena terdiam di tempatnya memandang sepasang kekasih yang punggungnya perlahan menjauh dari pandangannya.
Tak lama dari itu Ayra keluar dari UKS seorang diri.
"Zidan mana?" tanya Sherena.
"Di dalem. Katanya badannya masih pada sakit, jadi mau tiduran aja di UKS, " jawab Ayra. Kemudian keduanya pergi ke kelas karena bel sudah berbunyi. Tadinya Ayra akan menunggui Zia, tetapi dilarang Zidan dan dia juga ada ulangan Fisika.
\#\#
...**Kalo nemu kalimat yang typo bilang**...
...**Happy Reading 🧚♂**...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Estin Nurhayati
aku kesini krana novel seblah 😁
2023-08-02
3
Super Multixverse
uwu
2023-04-03
0
Zaila Fatihatulrizka
aku kesini karna aplikasi sebelah
2022-12-30
2