5. UKS

"Zia sedih banget Key, Zia bod*h banget ya Key? sesuatu paling berharga Zia diambil tanpa Zia tau," ucap Zia lagi. Perempuan berambut panjang itu kembali menangis sesegukan.

Keyna terus menenangkan sahabatnya itu, memberi saran yang mungkin berguna untuk mengahapi masalah ini.

~~

Zia sekarang sudah berada di kamarnya sendirian. Asisten rumah tangga di rumahnya tidak datang katanya anaknya sedang sakit. Galen, Keyna, dan Zidan sudah pulang satu jam yang lalu. Dengan Zidan yang berkata akan menunggu jawaban Zia.

Zia termenung memikirkan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya. Jika ia menerima tanggung jawab dari Zidan, lalu bagaimana dengan sahabatnya, Ayra. Kekasih Zidan itu pasti akan sangat sedih mengetahui pacarnya telah merenggut harta paling berharga milik Zia. Namun, Zia juga memikirkan masa depannya nanti, siapa yang akan menerima perempuan yang sudah tidak suci sepertinya.

Zia tiba-tiba terisak mengingat orang tuanya yang pasti akan sangat kecewa, juga Zio yang sampai saat ini belum juga kembali, pasti kakak kembarnya itu juga kecewa dengannya.

'Kenapa harus Zia Tuhan? Zia ngga tau apa apa," lirihnya.

Zia meringkukkan tubuhnya kemudian menangis sejadi-jadinya, suasana rumah yang sepi membuatnya bebas berteriak, melampiaskan rasa sakit hatinya.

Tidak ada yang akan baik-baik saja setelah apa yang ia jaga selama ini direnggut orang lain, entah itu barang, teman, kasih sayang, juga kesucian diri kita sendiri.

Zia tahu semuanya akan hancur, pertemanannya, keluarganya, juga perasaannya. Zia merenungkan semuanya baik-baik guna mencari keputusan yang terbaik dalam masalah ini.

Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah mewah seorang cowok tengah membaringkan tubuhnya yang terasa remuk, dering nada panggilan khusus sang kekasih tidak ia hiraukan. Pikirannya kacau, semakin kacau kala ia mengingat wajah wajah orang yang ia buat kecewa. Orang tuanya, kekasihnya, Zia, dan wajah para sahabatnya terutama Zio.

Zidan, cowok itu meringis ketika akan mengusap wajahnya, luka semalam masih terasa sakit. Untung ia pulang saat kedua orang tuanya sudah berangkat kerja.

Ingin rasanya ia berteriak, namun kondisinya masih lemah, dengan berteriak hanya akan menambah sakit di sekitar pipi dan bibirnya.

Mukanya penuh lebam, begitupun dengan lengan dan perut. Pukulan Zio tidak main-main, membuat semua tulangnya berasa remuk. Namun ia tidak berniat ke rumah sakit, takutnya bertemu sang mama yang bekerja sebagai dokter spesialis kandungan.

Dering telepon dari Ayra tidak berhenti juga, Zidan pun tidak berniat mengangkatnya, rasa bersalah pada gadis itu begitu besar hingga ia tidak akan sanggup untuk mendengar suaranya sekarang ini. Ia hanya mengirim pesan bahwa ia baik-baik saja, setelah itu mematikan ponselnya.

Zio tengah berdiri di tepi pantai, angin berhembus menerpa tubuh tegapnya. Matanya terpejam menikmati debur ombak seolah alunan musik yang menenangkan. Sejak ia pergi dari rumah ia belum tidur, hanya menghabiskan waktu di jalanan kemudian paginya menuju pantai ini.

Pikirannya dari semalam hanya memikirkan sang adik. Menyesal juga kecewa pada diri sendiri. Kenapa semalam setelah mengetahui lokasi Zia ia tidak langsung pulang. Mengapa ia malah kembali menikmati pesta, sedangkan adiknya sedang dalam masalah besar.

Zio bingung apa yang akan dia katakan pada kedua orang tuanya saat pulang nanti. Zio telah gagal menjaga adiknya, membuatnya malu untuk menampakkan wajahnya di depan orang tuanya sendiri. Masih ada waktu sekitar tiga hari sampai orang tuanya pulang. Zio juga tidak siap untuk bertemu dengan adiknya, Zia.

Hari ini tidak ada niatan Zio untuk pulang ke rumah. Ia akan ke basecamp atau ke apartemen salah satu temannya sampai ia siap dan emosinya kembali stabil. Ia tak ingin adiknya menjadi pelampiasan emosinya.

\#\#

Keesokan harinya, setelah seharian Zia menyendiri dan memikirkan langkah selanjutnya, perempuan imut itu berangkat sekolah seperti biasa. Walau sakitnya masih sedikit terasa ia memaksakan masuk sekolah karena suatu hal yang harus ia sampaikan pada seseorang yang merenggut mahkota berharganya.

Zia mencoba berjalan seperti biasa, dengan menahan sedikit perih karena gesekan di daerah itu. Langkah kecilnya menyusuri koridor kelas dengan tas biru muda kesayangannya.

"Pagi semua... " sapa Zia saat memasuki kelas. Kelas XI IPA 1 adalah kelasnya bersama Keyna, Ayra, dan Sherena sejak beberapa bulan yang lalu.

Semuanya membalas sapaan Zia, kecuali Keyna yang tengah menatap cara jalan Zia dan keadaan Zia yang masih terlihat lemas walau sudah Zia coba tutupi dengan senyum manisnya.

Keyna duduk di sebelah Zia saat melihat Zia sudah duduk di kursinya. Ayra dan Sherena kebetulan belum berangkat.

Zia tersenyum pada Keyna saat Keyna menggenggam tangannya lembut, mencoba menyalurkan kekuatan pada perempuan polos itu. Tangan Zia terasa hangat, pasti gadis ini terus kepikiran masalah itu sampai ia demam.

"Kak Zio engga pulang, Key," tutur Zia sembari menelungkupkan kepalanya ke meja, kemudian memiringkan kepalanya menghadap Keyna.

"Engga papa, kata Galen dari kemaren siang Zio di basecamp Atlansa, engga kemana mana, " ucap Keyna dengan tangan yang memijat pelan telapak tangan Zia.

Zia mengangguk samar. Memejamkan matanya saat pijatan di tangannya semakin menenangkan. Zia memang semalam tidak bisa tidur, membuatnya sekarang begitu mengantuk dan pusing.

Melihat muka lelah Zia yang sedang terlelap, Keyna mengambil ponsel di saku seragamnya, berniat mengirim pesan pada Galen.

^^^*P*^^^

^^^*Zio berangkat engga*?^^^

Tanpa menunggu lama Galen membalas pesannya.

**Galen**

*Belum, kayanya engga berangkat*.

*Kenapa*?

Dengan menggunakan satu tangan, Keyna mengetikkan balasan pesan kekasihnya. Sementara tangan satunya masih sibuk memijat tangan Zia.

^^^*Zia tidur, sebelum kelas rame kayanya mending dibawa ke UKS aja, badannya juga lumayan panas*.^^^

Setelah mengirim pesan tersebut butuh beberapa detik untuk tanda pesan menjadi centang biru, namun tidak ada balasan.

Ayra dan Sherena terlihat datang bersama, saat Ayra akan berteriak, mulutnya dibekap Sherena saat melihat Zia tertidur di bangkunya.

Keduanya mendekat dan Ayra menaikkan alisnya pada Keyna, bertanya lewat isyarat. Keyna yang mengerti maksud sahabatnya itupun menjawab tanpa suara 'demam, badannya panas'. Sherena menempelkan punggung tangannya pada dahi Zia dan merasakan suhunya yang memang panas.

Tak lama dari itu Galen datang bersama Zidan yang keadaanya sudah lumayan membaik, walaupun wajahnya masih memar di beberapa bagian. Namun, cowok itu sudah terlihat biasa saja.

Mengenai Ayra, dia sudah mengetahui keadaan Zidan, namun belum dengan penyebabnya, yang ia tau kalau Zidan berantem dengan musuh Atlansa bukan dengan sahabatnya sendiri.

Zidan menghampiri Ayra yang tersenyum padanya. "Aku yang angkat Zia boleh? Zio engga berangkat, " izin Zidan pada Ayra.

Ayra mengangguk, mengenai hal ini ia tidak akan egois, kasihan juga melihat Zia tertidur dengan posisi kurang nyaman seperti itu. Galen tidak mau menggendong Zia bukan karena ia tidak peduli, ia hanya ingin Zidan bertanggungjawab sepenuhnya.

Zidan perlahan mengangkat tubuh cewek yang sudah ia rusak, membawa tubuh mungil itu ke UKS diikuti yang lain. Perasaan bersalah makin mencuat saat melihat mata sembab dan wajah pucat perempuan dalam gendongannya itu. Pasti perempuan itu kepikiran terus.

Setelah menidurkan Zia di ranjang UKS, Zidan berniat langsung pergi dari UKS.

"Bentar Dan, aku mau obatin luka kamu lagi, tadi pagi belum diobatin kan?" tanya Ayra pada Zidan yang hendak keluar.

Zidan mengangguk, membiarkan Ayra mengobati lukanya, walaupun setelah ini mungkin Zidan yang akan menorehkan luka pada gadis manis itu.

Keyna, Sherena dan Galen menunggu di luar UKS.

"Zio engga berangkat lagi Gal?" tanya Sherena.

Galen menggelengkan kepalanya, Zio sekarang masih di basecamp, entah sampai kapan lelaki itu akan kembali ke rumahnya.

"Zio kenapa si Gal? Kalo masalah sama musuh kalian masa sampe bikin dia ngga mau pulang dan sekolah. Udah hampir dua hari lho!" tanya Sherena mengungkapkan keingin tahuannya.

Galen terdiam, kemudian saling melempar pandang dengan Keyna. keduanya tidak memiliki hak untuk memberitahukan kejadian sebenarnya.

"Lo tanya sendiri aja, lo kan ceweknya," ucap Galen sebelum pergi menggandeng tangan Keyna. Sherena terdiam di tempatnya memandang sepasang kekasih yang punggungnya perlahan menjauh dari pandangannya.

Tak lama dari itu Ayra keluar dari UKS seorang diri.

"Zidan mana?" tanya Sherena.

"Di dalem. Katanya badannya masih pada sakit, jadi mau tiduran aja di UKS, " jawab Ayra. Kemudian keduanya pergi ke kelas karena bel sudah berbunyi. Tadinya Ayra akan menunggui Zia, tetapi dilarang Zidan dan dia juga ada ulangan Fisika.

\#\#

...**Kalo nemu kalimat yang typo bilang**...

...**Happy Reading 🧚‍♂**...

Terpopuler

Comments

Estin Nurhayati

Estin Nurhayati

aku kesini krana novel seblah 😁

2023-08-02

3

Super Multixverse

Super Multixverse

uwu

2023-04-03

0

Zaila Fatihatulrizka

Zaila Fatihatulrizka

aku kesini karna aplikasi sebelah

2022-12-30

2

lihat semua
Episodes
1 1. Truth or Dare
2 2. Hari Itu(1)
3 3. Hari itu(2)
4 4. Tanggung Jawab?
5 5. UKS
6 6. Zio Pulang
7 7. Nikah?
8 8. Sah
9 9. Kamar Zidan
10 10. Awal Baru
11 11. Khawatir
12 12. Putus
13 13. Upah Pertama
14 14. Ayra Berubah
15 15. Mual
16 16. Minggu dengan Sahabat
17 17. Omellet Lagii
18 18. Kita mau punya ponakan?
19 19. Negatif
20 20. Keanehan Cewek Cupu
21 21. Asing
22 22. Beneran Hamil
23 23. Basecamp Atlansa
24 24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25 25. Kedatangan Bunda dan Mama
26 26. Panik
27 Aksi Atlansa
28 Rumah Sakit
29 Dea
30 Mie Instan
31 Capek
32 Rezekinya Dia
33 Lebih Baik
34 34. Zidan dan Ayra?
35 35. Tak Ingin Usai
36 36. Dea Lagi
37 37. Langit
38 38. Kedondong
39 39. Rumah Sakit
40 40. Kembar
41 41. Makan Pizza
42 42. Ulah Janu
43 43. Zia Overthinking
44 44. Taman Bermain
45 45. Fakta Baru Tentang Ayra
46 46. Siapa pelakunya?
47 47. Kacau
48 48. Basecamp
49 49. Klarifikasi
50 50. Bakso Harga Lima Juta
51 51. Dikeluarkan atau Tidak?
52 52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53 53. Keguguran?
54 54. Vanishing Twin Syndrome
55 55. Mulai Ada Rasa
56 56. Bersama Arin
57 57. Belajar Ciuman
58 58. Tanggung
59 59. Baby Cegukan
60 60. Yang Paling Berkuasa
61 Pengumuman (Bukan Update)
62 61. Sup Ala Zia
63 62. Terbongkar?
64 63. Kecemasan Zia
65 64. Kembali Bersama
66 65. Kangen Mama Papa
67 66. Anak Kita
68 67. Kembalinya Aset Zidan
69 68. Rumah Zidan (Lagi)
70 69. Perhatian dari Mertua
71 70. Om Om Hidung Belang
72 71. Rambutan Botak
73 72. Cinta atau Tanggungjawab?
74 73. Gagal Lagi
75 74. Kumpul Santuy
76 75. I LOVE YOU
77 76. Ceramah Bunda Dian
78 77. Akhirnya
79 78. Nasi Padang
80 79. Petunjuk Baru
81 80. Prenatal Yoga Couple
82 81. Pencarian
83 82. Bu Intan
84 83. Penghianat
85 84. Kehidupan Bu Intan
86 85. Rencana Ke Puncak
87 86. On The Way
88 87. Ayra hamil?
89 88. Waktu Cowok
90 89. Menikmati Malam Di Puncak
91 90. Keinginan Zia
92 91. Tujuh Bulanan
93 92. Ketemu Baby Zira
94 93. Bersama Mama
95 94. Dari Hati ke Hati
96 95. Di Kantor Ayah Dimas
97 96. Mbak-Mbak Genit
98 97. Di Tempat Yoga
99 98. Sebentar Lagi
100 99. Satu Komplek?
101 101. Ucapan Pak Ervan
102 101. Sesama Bumil Remaja
103 102. Serangan Di Sekolah
104 103. Pasca Penyerangan
105 104. Perhatian Istri
106 105. Kasus Baru Lagi
107 106. Cemburu
108 107. Pernah
109 108. Melaporkan Tuan Willy
110 109. Belajar Mengurus Bayi
111 110. Masih Bersama Baby Zira
112 111. Apakah....
113 112. Amukan Sang Mertua
114 113. Posisi Kepala Bayi
115 114. Titik Terang
116 115. Kontraksi Palsu
117 116. Kontraksi Awal
118 117. Bukaan 4
119 118. Masih Bukaan 8
120 119. Persalinan
121 120. Skin To Skin
122 121. Papa Riyan
123 122. 38 Hari Lagi
124 123. Ditemani Ayra
125 124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126 125. Papa Nggak Tau
127 126. Rencana Sekolah Lagi
128 127. Hari Pertama Ulangan
129 128. Setelah 42 Hari
130 129. First Day School
131 130. Pengagum Bapak Anak Satu
132 131. Meminta Belajar Bela Diri
133 132. Pasar Malam
134 133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135 134. Wisata Keluarga
136 135. Tamat
137 Special Part
Episodes

Updated 137 Episodes

1
1. Truth or Dare
2
2. Hari Itu(1)
3
3. Hari itu(2)
4
4. Tanggung Jawab?
5
5. UKS
6
6. Zio Pulang
7
7. Nikah?
8
8. Sah
9
9. Kamar Zidan
10
10. Awal Baru
11
11. Khawatir
12
12. Putus
13
13. Upah Pertama
14
14. Ayra Berubah
15
15. Mual
16
16. Minggu dengan Sahabat
17
17. Omellet Lagii
18
18. Kita mau punya ponakan?
19
19. Negatif
20
20. Keanehan Cewek Cupu
21
21. Asing
22
22. Beneran Hamil
23
23. Basecamp Atlansa
24
24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25
25. Kedatangan Bunda dan Mama
26
26. Panik
27
Aksi Atlansa
28
Rumah Sakit
29
Dea
30
Mie Instan
31
Capek
32
Rezekinya Dia
33
Lebih Baik
34
34. Zidan dan Ayra?
35
35. Tak Ingin Usai
36
36. Dea Lagi
37
37. Langit
38
38. Kedondong
39
39. Rumah Sakit
40
40. Kembar
41
41. Makan Pizza
42
42. Ulah Janu
43
43. Zia Overthinking
44
44. Taman Bermain
45
45. Fakta Baru Tentang Ayra
46
46. Siapa pelakunya?
47
47. Kacau
48
48. Basecamp
49
49. Klarifikasi
50
50. Bakso Harga Lima Juta
51
51. Dikeluarkan atau Tidak?
52
52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53
53. Keguguran?
54
54. Vanishing Twin Syndrome
55
55. Mulai Ada Rasa
56
56. Bersama Arin
57
57. Belajar Ciuman
58
58. Tanggung
59
59. Baby Cegukan
60
60. Yang Paling Berkuasa
61
Pengumuman (Bukan Update)
62
61. Sup Ala Zia
63
62. Terbongkar?
64
63. Kecemasan Zia
65
64. Kembali Bersama
66
65. Kangen Mama Papa
67
66. Anak Kita
68
67. Kembalinya Aset Zidan
69
68. Rumah Zidan (Lagi)
70
69. Perhatian dari Mertua
71
70. Om Om Hidung Belang
72
71. Rambutan Botak
73
72. Cinta atau Tanggungjawab?
74
73. Gagal Lagi
75
74. Kumpul Santuy
76
75. I LOVE YOU
77
76. Ceramah Bunda Dian
78
77. Akhirnya
79
78. Nasi Padang
80
79. Petunjuk Baru
81
80. Prenatal Yoga Couple
82
81. Pencarian
83
82. Bu Intan
84
83. Penghianat
85
84. Kehidupan Bu Intan
86
85. Rencana Ke Puncak
87
86. On The Way
88
87. Ayra hamil?
89
88. Waktu Cowok
90
89. Menikmati Malam Di Puncak
91
90. Keinginan Zia
92
91. Tujuh Bulanan
93
92. Ketemu Baby Zira
94
93. Bersama Mama
95
94. Dari Hati ke Hati
96
95. Di Kantor Ayah Dimas
97
96. Mbak-Mbak Genit
98
97. Di Tempat Yoga
99
98. Sebentar Lagi
100
99. Satu Komplek?
101
101. Ucapan Pak Ervan
102
101. Sesama Bumil Remaja
103
102. Serangan Di Sekolah
104
103. Pasca Penyerangan
105
104. Perhatian Istri
106
105. Kasus Baru Lagi
107
106. Cemburu
108
107. Pernah
109
108. Melaporkan Tuan Willy
110
109. Belajar Mengurus Bayi
111
110. Masih Bersama Baby Zira
112
111. Apakah....
113
112. Amukan Sang Mertua
114
113. Posisi Kepala Bayi
115
114. Titik Terang
116
115. Kontraksi Palsu
117
116. Kontraksi Awal
118
117. Bukaan 4
119
118. Masih Bukaan 8
120
119. Persalinan
121
120. Skin To Skin
122
121. Papa Riyan
123
122. 38 Hari Lagi
124
123. Ditemani Ayra
125
124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126
125. Papa Nggak Tau
127
126. Rencana Sekolah Lagi
128
127. Hari Pertama Ulangan
129
128. Setelah 42 Hari
130
129. First Day School
131
130. Pengagum Bapak Anak Satu
132
131. Meminta Belajar Bela Diri
133
132. Pasar Malam
134
133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135
134. Wisata Keluarga
136
135. Tamat
137
Special Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!