18. Kita mau punya ponakan?

Di taman belakang sekolah Ayra tengah menangis, ia tadi langsung berlari dari kantin tanpa menghiraukan teriakan Adel. Ayra tidak kuat melihat Zidan melakukan hal biasanya hanya ia yang melihat. Walaupun hanya membuat omellet.

"Sakit banget hiks," gumam Ayra menepuk-nepuk dadanya, tangisan Ayra membuktikan bahwa gadis itu sangat terluka ditinggalkan Zidan, sedangkan Zidan sendiri seperti sudah tidak merasakan sakit hati sepertinya, walaupun pada kenyataannya Zidan pun masih sama. Zidan hanya pandai menutupi, dan kebetulan Zidan sekarang teralihkan pekerjaan yang membuatnya tidak ada waktu untuk galau.

Ayra sudah tau pernikahan Zidan dan Zia. Ingatkan saat Ayra menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal waktu itu? Itu adalah foto pernikahan Zia dan Zidan. Semenjak itu Ayra mencoba untuk tidak percaya, namun saat Zidan memutuskan hubungan mereka, Ayra menjadi yakin bahwa foto itu asli, bukan editan orang yang ingin menghancurkan hubungannya.

Saat itu juga Ayra paham apa alasan Zia seperti gugup jika berbicara dengannya dan alasan Zia sering melamun.

Ayra jadi membenci Zia, sangat. Orang yang ia cinta sudah diambil oleh sahabatnya sendiri.

Ayra menengok saat ia merasakan ada yang duduk di sebelahnya. Dengan cepat ia hapus air matanya.

"Lo siapa?" tanya Ayra pada seorang cowok berseragam sama dengan yang ia kenakan tengah duduk di sebelahnya, cowok tersebut mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.

"Gue Janu, siswa baru di sini," ujar Janu memperkenalkan diri.

Ayra mengangguk sambil menerima uluran tangan Janu, "Ayra."

"Kenapa nangis?" tanya Janu, Ayra hanya menggelengkan kepala. Rasanya malu saat ada yang memergokinya sedang menangis.

Janu nemepuk pahanya dua kali kemudian berdiri, "Jangan nangis lagi, cantik!" Setelahnya Janu pergi dari hadapan Ayra, Ayra hanya menatap aneh Janu yang tiba-tiba datang lalu pergi lagi.

°°°°°

"Jadi kalian udah nikah?" teriak Dyu setelah mendengarkan cerita Zidan dan Zia.

Kini mereka berada di kontrakan Zia dan Zidan. Zidan yang memutuskan karena ia hanya punya waktu dua jam sebelum ia berangkat kerja ke kafe.

"Berarti karena malam itu kalian jadi diusir dan tinggal disini?" tanya Sherena dengan pandangan yang mengedah ke seluruh sisi ruangan, Sherena yang merasa bersalah, karena kejadian itu terjadi di pesta ulang tahun Sherena.

Zia dan Zidan hanya mengangguk, "Maaf ya kalo kalian ngga nyaman sama tempatnya," ucap Zia yang melihat Sherena dari tadi mengipasi wajahnya yang kegerahan.

"Eh. Engga papa kali," ucap Sherena merasa tidak enak hati dan berhenti mengipasi wajahnya, Zidan berjalan menuju kamar mengambil kipas angin yang biasa mereka nyalakan saat tidur. Memindahkannya ke ruang tamu agar mereka tidak terlalu kepanasan.

"Nanti gue beliin AC ya," ucap Sherena yang ditolak halus oleh Zia mapun Zidan.

"Ngga usah Sher, nanti malah tagihan listriknya naik, ngga enak juga ngrepotin kamu," tolak Zia.

"Nggapapa. Apa mau kulkas? mesin cuci?" tanya Sherena lagi.

Zia kembali menggeleng, ia rasa ia sudah tidak terlalu memerlukan itu semua. Ia sudah bisa melakukan semuanya manual dan apa adanya dua minggu ini. Untuk sekarang ia tidak membutuhkan kulkas ataupun mesin cuci.

"Gue harus apa dong sekarang? Gue ngerasa bersalah banget. secara tidak langsung gue udah bikin hidup kalian menderita. Kalau aja gue lebih teliti lagi dan minta lebih diketatin keamanan pestanya, pasti kejadian itu ngga bakalan terjadi" Mata Sherena tampak berkaca-kaca dan suaranya sudah serak menahan tangis, hingga dengan cepat Zio menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.

"Lo cukup selalu ada buat Zia, Lo cukup jadi sahabat Zia, walau keadaanya udah ngga kaya dulu lagi. Gue harap lo ngga ngejauhin Zia setelah ini," ujar Zidan yang diangguki yang lain.

"Pasti. Gue ngga akan ninggalin Zia. Gue malah salut sama Zia, dia bisa kelihatan biasa aja di sekolah padahal hidupnya udah berubah seratus depalan puluh derajat kaya gini." Sherena berpindah dan memeluk tubuh Zia yang sudah entah sejak kapan Zia menangis. Keyna menyusul memeluk tubuh kedua sahabatnya dan mereka menangis bersama.

"Sahabat gue yang paling polos dan gemesin sekarang udah jadi istri orang," canda Sherena di tengah pelukan mereka.

Para cowok pun terharu dengan persahabatan mereka, mereka menepuk bahu Zidan guna memberi semangat. Zidan merasa lebih lega saat semua sahabatnya sudah tau rahasia yang ia pendam.

"Sorry Dan, sorry banget. Waktu itu sebenarnya gue yang nganterin lo ke rumah Zio, tapi gue ngga tau kalo di dalem ada Zia yang lagi mabuk juga. Gue tadinya mau ngasih tau Zio kalo lo ada di rumahnya, tapi sebelum gue telepon Zio gue keburu dapet kabar kalo ibu gue kecelakaan jadi gue langsung ke rumah sakit. Bahkan, gue tanpa sadar bawa mobil Atlansa," sesal Langit merasa bersalah karena ia juga ikut andil dalam kejadian itu.

Semua yang di sana membulatkan matanya kaget, mereka baru tahu fakta baru ini.

"Gue juga sebenernya salah. Kenapa gue harus nungguin Zio, kenapa gue ngga anterin aja Zia langsung waktu itu," ucap Dyu yang sadar ia juga turut bersalah dalam kejadian itu.

"Kayanya gue yang paling pantes disalahin di sini, harusnya gue langsung pulang setelah Dyu bilang Zia mabuk dan setelah gue tahu lokasi Zia bukannya malah balik ke pesta karena ngerasa Zia udah aman di rumah, yang nyatanya Zia malah..." Zio tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ia mengingat kembali saat ia mendapati Zia dan Zidan tanpa busana di atas kasur Zia.

"Nggapapa, udah takdir gue, kalian masih mau temenan sama gue aja gue bersyukur banget, dan lo sekarang udah nerima gue jadi adik ipar gue aja gue seneng banget," ujar Zidan mencoba memahami kondisi teman-temannya saat itu.

"Tanpa kita sadari semuanya punya salah masing-masing disini," ujar Galen.

"Emang lo ada salah?" tanya Dyu.

"Ada lah, kalo aja gue ngga terlalu asyik di pesta, gue bakal tau kalo Zidan mabuk dan ngga akan ngebiarin dia sendiri," jelas Galen yang diangguki semuanya.

Setelah acara mellow itu mereka memesan makanan dari kafe and resto milik mamanya Galen. Tentunya agar tidak bayar, kan lumayan makan enak dan gratis lagi.

Zidan segera bersiap berangkat ke kafe walaupun sahabatnya belum pada pulang, ia malah meminta mereka untuk menemani Zia di rumah. "Mau nitip makan apa? tanya Zidan yang sudah menjadi kebiasaan saat ia akan berangkat kerja.

"Zia pengin makan rujak mangga muda deh." Tiba-tiba Zia mengucapkan kalimat yang membuat semua orang tercengang.

"Kita bakal punya ponakan?"

°°°°

Hallo semua,

Ada yang mikir ngga kalo pelakunya itu Langit?

Atau kalian ada curiga dengan seseorang?

Seperti biasa, kalo suka kasih like, komentar, dan ote jika berkenan

Terpopuler

Comments

Ira Ira

Ira Ira

kalina bersenang di atasa penderitaan ayra ya. ga adil yh kalin sahabat apaan kalian ... ayra di biar kan sendiri tanpa di datangin kerumah giliran Zia di datengin terus bahkan berpulkan menguat ka Zia tanpa kalian sadari perasaan ayra ... di sini gue sakit hati3lihat semua sahabat nya.. ga ada yg ga salah mau itu jebakan atau apa lah cuma 1 kasian sama ayra ... beruntung dia menemukan suami yg baik hati seperti revan

2024-04-24

1

Super Multixverse

Super Multixverse

or William

2023-04-04

0

Super Multixverse

Super Multixverse

gw malah mikir ulah janu

2023-04-04

0

lihat semua
Episodes
1 1. Truth or Dare
2 2. Hari Itu(1)
3 3. Hari itu(2)
4 4. Tanggung Jawab?
5 5. UKS
6 6. Zio Pulang
7 7. Nikah?
8 8. Sah
9 9. Kamar Zidan
10 10. Awal Baru
11 11. Khawatir
12 12. Putus
13 13. Upah Pertama
14 14. Ayra Berubah
15 15. Mual
16 16. Minggu dengan Sahabat
17 17. Omellet Lagii
18 18. Kita mau punya ponakan?
19 19. Negatif
20 20. Keanehan Cewek Cupu
21 21. Asing
22 22. Beneran Hamil
23 23. Basecamp Atlansa
24 24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25 25. Kedatangan Bunda dan Mama
26 26. Panik
27 Aksi Atlansa
28 Rumah Sakit
29 Dea
30 Mie Instan
31 Capek
32 Rezekinya Dia
33 Lebih Baik
34 34. Zidan dan Ayra?
35 35. Tak Ingin Usai
36 36. Dea Lagi
37 37. Langit
38 38. Kedondong
39 39. Rumah Sakit
40 40. Kembar
41 41. Makan Pizza
42 42. Ulah Janu
43 43. Zia Overthinking
44 44. Taman Bermain
45 45. Fakta Baru Tentang Ayra
46 46. Siapa pelakunya?
47 47. Kacau
48 48. Basecamp
49 49. Klarifikasi
50 50. Bakso Harga Lima Juta
51 51. Dikeluarkan atau Tidak?
52 52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53 53. Keguguran?
54 54. Vanishing Twin Syndrome
55 55. Mulai Ada Rasa
56 56. Bersama Arin
57 57. Belajar Ciuman
58 58. Tanggung
59 59. Baby Cegukan
60 60. Yang Paling Berkuasa
61 Pengumuman (Bukan Update)
62 61. Sup Ala Zia
63 62. Terbongkar?
64 63. Kecemasan Zia
65 64. Kembali Bersama
66 65. Kangen Mama Papa
67 66. Anak Kita
68 67. Kembalinya Aset Zidan
69 68. Rumah Zidan (Lagi)
70 69. Perhatian dari Mertua
71 70. Om Om Hidung Belang
72 71. Rambutan Botak
73 72. Cinta atau Tanggungjawab?
74 73. Gagal Lagi
75 74. Kumpul Santuy
76 75. I LOVE YOU
77 76. Ceramah Bunda Dian
78 77. Akhirnya
79 78. Nasi Padang
80 79. Petunjuk Baru
81 80. Prenatal Yoga Couple
82 81. Pencarian
83 82. Bu Intan
84 83. Penghianat
85 84. Kehidupan Bu Intan
86 85. Rencana Ke Puncak
87 86. On The Way
88 87. Ayra hamil?
89 88. Waktu Cowok
90 89. Menikmati Malam Di Puncak
91 90. Keinginan Zia
92 91. Tujuh Bulanan
93 92. Ketemu Baby Zira
94 93. Bersama Mama
95 94. Dari Hati ke Hati
96 95. Di Kantor Ayah Dimas
97 96. Mbak-Mbak Genit
98 97. Di Tempat Yoga
99 98. Sebentar Lagi
100 99. Satu Komplek?
101 101. Ucapan Pak Ervan
102 101. Sesama Bumil Remaja
103 102. Serangan Di Sekolah
104 103. Pasca Penyerangan
105 104. Perhatian Istri
106 105. Kasus Baru Lagi
107 106. Cemburu
108 107. Pernah
109 108. Melaporkan Tuan Willy
110 109. Belajar Mengurus Bayi
111 110. Masih Bersama Baby Zira
112 111. Apakah....
113 112. Amukan Sang Mertua
114 113. Posisi Kepala Bayi
115 114. Titik Terang
116 115. Kontraksi Palsu
117 116. Kontraksi Awal
118 117. Bukaan 4
119 118. Masih Bukaan 8
120 119. Persalinan
121 120. Skin To Skin
122 121. Papa Riyan
123 122. 38 Hari Lagi
124 123. Ditemani Ayra
125 124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126 125. Papa Nggak Tau
127 126. Rencana Sekolah Lagi
128 127. Hari Pertama Ulangan
129 128. Setelah 42 Hari
130 129. First Day School
131 130. Pengagum Bapak Anak Satu
132 131. Meminta Belajar Bela Diri
133 132. Pasar Malam
134 133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135 134. Wisata Keluarga
136 135. Tamat
137 Special Part
Episodes

Updated 137 Episodes

1
1. Truth or Dare
2
2. Hari Itu(1)
3
3. Hari itu(2)
4
4. Tanggung Jawab?
5
5. UKS
6
6. Zio Pulang
7
7. Nikah?
8
8. Sah
9
9. Kamar Zidan
10
10. Awal Baru
11
11. Khawatir
12
12. Putus
13
13. Upah Pertama
14
14. Ayra Berubah
15
15. Mual
16
16. Minggu dengan Sahabat
17
17. Omellet Lagii
18
18. Kita mau punya ponakan?
19
19. Negatif
20
20. Keanehan Cewek Cupu
21
21. Asing
22
22. Beneran Hamil
23
23. Basecamp Atlansa
24
24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25
25. Kedatangan Bunda dan Mama
26
26. Panik
27
Aksi Atlansa
28
Rumah Sakit
29
Dea
30
Mie Instan
31
Capek
32
Rezekinya Dia
33
Lebih Baik
34
34. Zidan dan Ayra?
35
35. Tak Ingin Usai
36
36. Dea Lagi
37
37. Langit
38
38. Kedondong
39
39. Rumah Sakit
40
40. Kembar
41
41. Makan Pizza
42
42. Ulah Janu
43
43. Zia Overthinking
44
44. Taman Bermain
45
45. Fakta Baru Tentang Ayra
46
46. Siapa pelakunya?
47
47. Kacau
48
48. Basecamp
49
49. Klarifikasi
50
50. Bakso Harga Lima Juta
51
51. Dikeluarkan atau Tidak?
52
52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53
53. Keguguran?
54
54. Vanishing Twin Syndrome
55
55. Mulai Ada Rasa
56
56. Bersama Arin
57
57. Belajar Ciuman
58
58. Tanggung
59
59. Baby Cegukan
60
60. Yang Paling Berkuasa
61
Pengumuman (Bukan Update)
62
61. Sup Ala Zia
63
62. Terbongkar?
64
63. Kecemasan Zia
65
64. Kembali Bersama
66
65. Kangen Mama Papa
67
66. Anak Kita
68
67. Kembalinya Aset Zidan
69
68. Rumah Zidan (Lagi)
70
69. Perhatian dari Mertua
71
70. Om Om Hidung Belang
72
71. Rambutan Botak
73
72. Cinta atau Tanggungjawab?
74
73. Gagal Lagi
75
74. Kumpul Santuy
76
75. I LOVE YOU
77
76. Ceramah Bunda Dian
78
77. Akhirnya
79
78. Nasi Padang
80
79. Petunjuk Baru
81
80. Prenatal Yoga Couple
82
81. Pencarian
83
82. Bu Intan
84
83. Penghianat
85
84. Kehidupan Bu Intan
86
85. Rencana Ke Puncak
87
86. On The Way
88
87. Ayra hamil?
89
88. Waktu Cowok
90
89. Menikmati Malam Di Puncak
91
90. Keinginan Zia
92
91. Tujuh Bulanan
93
92. Ketemu Baby Zira
94
93. Bersama Mama
95
94. Dari Hati ke Hati
96
95. Di Kantor Ayah Dimas
97
96. Mbak-Mbak Genit
98
97. Di Tempat Yoga
99
98. Sebentar Lagi
100
99. Satu Komplek?
101
101. Ucapan Pak Ervan
102
101. Sesama Bumil Remaja
103
102. Serangan Di Sekolah
104
103. Pasca Penyerangan
105
104. Perhatian Istri
106
105. Kasus Baru Lagi
107
106. Cemburu
108
107. Pernah
109
108. Melaporkan Tuan Willy
110
109. Belajar Mengurus Bayi
111
110. Masih Bersama Baby Zira
112
111. Apakah....
113
112. Amukan Sang Mertua
114
113. Posisi Kepala Bayi
115
114. Titik Terang
116
115. Kontraksi Palsu
117
116. Kontraksi Awal
118
117. Bukaan 4
119
118. Masih Bukaan 8
120
119. Persalinan
121
120. Skin To Skin
122
121. Papa Riyan
123
122. 38 Hari Lagi
124
123. Ditemani Ayra
125
124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126
125. Papa Nggak Tau
127
126. Rencana Sekolah Lagi
128
127. Hari Pertama Ulangan
129
128. Setelah 42 Hari
130
129. First Day School
131
130. Pengagum Bapak Anak Satu
132
131. Meminta Belajar Bela Diri
133
132. Pasar Malam
134
133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135
134. Wisata Keluarga
136
135. Tamat
137
Special Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!