Di taman belakang sekolah Ayra tengah menangis, ia tadi langsung berlari dari kantin tanpa menghiraukan teriakan Adel. Ayra tidak kuat melihat Zidan melakukan hal biasanya hanya ia yang melihat. Walaupun hanya membuat omellet.
"Sakit banget hiks," gumam Ayra menepuk-nepuk dadanya, tangisan Ayra membuktikan bahwa gadis itu sangat terluka ditinggalkan Zidan, sedangkan Zidan sendiri seperti sudah tidak merasakan sakit hati sepertinya, walaupun pada kenyataannya Zidan pun masih sama. Zidan hanya pandai menutupi, dan kebetulan Zidan sekarang teralihkan pekerjaan yang membuatnya tidak ada waktu untuk galau.
Ayra sudah tau pernikahan Zidan dan Zia. Ingatkan saat Ayra menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal waktu itu? Itu adalah foto pernikahan Zia dan Zidan. Semenjak itu Ayra mencoba untuk tidak percaya, namun saat Zidan memutuskan hubungan mereka, Ayra menjadi yakin bahwa foto itu asli, bukan editan orang yang ingin menghancurkan hubungannya.
Saat itu juga Ayra paham apa alasan Zia seperti gugup jika berbicara dengannya dan alasan Zia sering melamun.
Ayra jadi membenci Zia, sangat. Orang yang ia cinta sudah diambil oleh sahabatnya sendiri.
Ayra menengok saat ia merasakan ada yang duduk di sebelahnya. Dengan cepat ia hapus air matanya.
"Lo siapa?" tanya Ayra pada seorang cowok berseragam sama dengan yang ia kenakan tengah duduk di sebelahnya, cowok tersebut mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.
"Gue Janu, siswa baru di sini," ujar Janu memperkenalkan diri.
Ayra mengangguk sambil menerima uluran tangan Janu, "Ayra."
"Kenapa nangis?" tanya Janu, Ayra hanya menggelengkan kepala. Rasanya malu saat ada yang memergokinya sedang menangis.
Janu nemepuk pahanya dua kali kemudian berdiri, "Jangan nangis lagi, cantik!" Setelahnya Janu pergi dari hadapan Ayra, Ayra hanya menatap aneh Janu yang tiba-tiba datang lalu pergi lagi.
°°°°°
"Jadi kalian udah nikah?" teriak Dyu setelah mendengarkan cerita Zidan dan Zia.
Kini mereka berada di kontrakan Zia dan Zidan. Zidan yang memutuskan karena ia hanya punya waktu dua jam sebelum ia berangkat kerja ke kafe.
"Berarti karena malam itu kalian jadi diusir dan tinggal disini?" tanya Sherena dengan pandangan yang mengedah ke seluruh sisi ruangan, Sherena yang merasa bersalah, karena kejadian itu terjadi di pesta ulang tahun Sherena.
Zia dan Zidan hanya mengangguk, "Maaf ya kalo kalian ngga nyaman sama tempatnya," ucap Zia yang melihat Sherena dari tadi mengipasi wajahnya yang kegerahan.
"Eh. Engga papa kali," ucap Sherena merasa tidak enak hati dan berhenti mengipasi wajahnya, Zidan berjalan menuju kamar mengambil kipas angin yang biasa mereka nyalakan saat tidur. Memindahkannya ke ruang tamu agar mereka tidak terlalu kepanasan.
"Nanti gue beliin AC ya," ucap Sherena yang ditolak halus oleh Zia mapun Zidan.
"Ngga usah Sher, nanti malah tagihan listriknya naik, ngga enak juga ngrepotin kamu," tolak Zia.
"Nggapapa. Apa mau kulkas? mesin cuci?" tanya Sherena lagi.
Zia kembali menggeleng, ia rasa ia sudah tidak terlalu memerlukan itu semua. Ia sudah bisa melakukan semuanya manual dan apa adanya dua minggu ini. Untuk sekarang ia tidak membutuhkan kulkas ataupun mesin cuci.
"Gue harus apa dong sekarang? Gue ngerasa bersalah banget. secara tidak langsung gue udah bikin hidup kalian menderita. Kalau aja gue lebih teliti lagi dan minta lebih diketatin keamanan pestanya, pasti kejadian itu ngga bakalan terjadi" Mata Sherena tampak berkaca-kaca dan suaranya sudah serak menahan tangis, hingga dengan cepat Zio menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.
"Lo cukup selalu ada buat Zia, Lo cukup jadi sahabat Zia, walau keadaanya udah ngga kaya dulu lagi. Gue harap lo ngga ngejauhin Zia setelah ini," ujar Zidan yang diangguki yang lain.
"Pasti. Gue ngga akan ninggalin Zia. Gue malah salut sama Zia, dia bisa kelihatan biasa aja di sekolah padahal hidupnya udah berubah seratus depalan puluh derajat kaya gini." Sherena berpindah dan memeluk tubuh Zia yang sudah entah sejak kapan Zia menangis. Keyna menyusul memeluk tubuh kedua sahabatnya dan mereka menangis bersama.
"Sahabat gue yang paling polos dan gemesin sekarang udah jadi istri orang," canda Sherena di tengah pelukan mereka.
Para cowok pun terharu dengan persahabatan mereka, mereka menepuk bahu Zidan guna memberi semangat. Zidan merasa lebih lega saat semua sahabatnya sudah tau rahasia yang ia pendam.
"Sorry Dan, sorry banget. Waktu itu sebenarnya gue yang nganterin lo ke rumah Zio, tapi gue ngga tau kalo di dalem ada Zia yang lagi mabuk juga. Gue tadinya mau ngasih tau Zio kalo lo ada di rumahnya, tapi sebelum gue telepon Zio gue keburu dapet kabar kalo ibu gue kecelakaan jadi gue langsung ke rumah sakit. Bahkan, gue tanpa sadar bawa mobil Atlansa," sesal Langit merasa bersalah karena ia juga ikut andil dalam kejadian itu.
Semua yang di sana membulatkan matanya kaget, mereka baru tahu fakta baru ini.
"Gue juga sebenernya salah. Kenapa gue harus nungguin Zio, kenapa gue ngga anterin aja Zia langsung waktu itu," ucap Dyu yang sadar ia juga turut bersalah dalam kejadian itu.
"Kayanya gue yang paling pantes disalahin di sini, harusnya gue langsung pulang setelah Dyu bilang Zia mabuk dan setelah gue tahu lokasi Zia bukannya malah balik ke pesta karena ngerasa Zia udah aman di rumah, yang nyatanya Zia malah..." Zio tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ia mengingat kembali saat ia mendapati Zia dan Zidan tanpa busana di atas kasur Zia.
"Nggapapa, udah takdir gue, kalian masih mau temenan sama gue aja gue bersyukur banget, dan lo sekarang udah nerima gue jadi adik ipar gue aja gue seneng banget," ujar Zidan mencoba memahami kondisi teman-temannya saat itu.
"Tanpa kita sadari semuanya punya salah masing-masing disini," ujar Galen.
"Emang lo ada salah?" tanya Dyu.
"Ada lah, kalo aja gue ngga terlalu asyik di pesta, gue bakal tau kalo Zidan mabuk dan ngga akan ngebiarin dia sendiri," jelas Galen yang diangguki semuanya.
Setelah acara mellow itu mereka memesan makanan dari kafe and resto milik mamanya Galen. Tentunya agar tidak bayar, kan lumayan makan enak dan gratis lagi.
Zidan segera bersiap berangkat ke kafe walaupun sahabatnya belum pada pulang, ia malah meminta mereka untuk menemani Zia di rumah. "Mau nitip makan apa? tanya Zidan yang sudah menjadi kebiasaan saat ia akan berangkat kerja.
"Zia pengin makan rujak mangga muda deh." Tiba-tiba Zia mengucapkan kalimat yang membuat semua orang tercengang.
"Kita bakal punya ponakan?"
°°°°
Hallo semua,
Ada yang mikir ngga kalo pelakunya itu Langit?
Atau kalian ada curiga dengan seseorang?
Seperti biasa, kalo suka kasih like, komentar, dan ote jika berkenan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Ira Ira
kalina bersenang di atasa penderitaan ayra ya. ga adil yh kalin sahabat apaan kalian ... ayra di biar kan sendiri tanpa di datangin kerumah giliran Zia di datengin terus bahkan berpulkan menguat ka Zia tanpa kalian sadari perasaan ayra ... di sini gue sakit hati3lihat semua sahabat nya.. ga ada yg ga salah mau itu jebakan atau apa lah cuma 1 kasian sama ayra ... beruntung dia menemukan suami yg baik hati seperti revan
2024-04-24
1
Super Multixverse
or William
2023-04-04
0
Super Multixverse
gw malah mikir ulah janu
2023-04-04
0