Di salah satu rumah sakit daerah, seorang remaja laki-laki tengah tertidur dengan posisi duduk. Kamar rawat sang ibu adalah kamar kelas bawah, maka hanya ada kursi tidak nyaman untuk duduk yang tersedia di setiap bankar yang hanya dibatasi tirai . Akan tetapi, lelaki tersebut bisa tertidur pulas tidak memikirkan kenyamanan karena tubuhnya yang sudah sangat lelah dan mengantuk.
Sang ibu masih dalam kondisi belum sadarkan diri pasca operasi. Memang bukan operasi besar, namun untuk biayanya tentu tidak murah. Remaja lelaki itu membuka mata saat merasakan usapan lembut di kepalanya. Matanya seketika membuka sempurna saat melihat senyum lemah di bibir pucat sang ibu.
"Ibu udah sadar? Ada yang sakit? Mau dipanggilin dokter?" tanya lelaki itu berturut-turut dengan senyum yang terbit di bibirnya.
"Ngga usah Lang. Ibu enggapapa, engga ada yang sakit juga," jawab wanita paruh baya itu masih lemah. Remaja lelaki itu menghembuskan napas lega.
Bisa tebak siapa lelaki itu?
Dia adalah Langit. Iya, Langit. Salah satu sahabat Zidan yang menghilang beberapa hari ini. Yang Dyu bilang sudah menikah dengan janda anak satu. Langit sudah tidak berangkat sekolah beberapa hari karena harus pulang kampung guna menemani dan mencari biaya untuk operasi sang ibu.
Segala cara dia lakukan untuk mencari uang untuk membiayai operasi yang dijalani ibunya. Tidak peduli sekolahnya, sahabatnya, atau apapun itu yang terpenting ibunya bisa selamat.
"Ibu boleh nanya?" ujar ibu Langit dengan nada yang lirih. Langit hanya mengangguk sembari mengatur tempat tidur agar ibunya bisa duduk bersandar.
"Kamu dapet dari mana uang untuk operasi Ibu?" Langit terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis. Ia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu.
"Pinjam ke temen, Bu."
"Nanti kalo ibu udah sembuh bakal ibu cicil hutangnya. Berapa Lang?" Sang ibu bertanya dengam raut wajah yang tidak enak hati, karena merepotkan orang lain.
"Ngga usah Bu, itu biar urusan Langit aja. Ibu cukup istirahat yang bener, jaga kesehatan, dan jangan bikin Langit khawatir lagi." Mata langit menatap manik teduh Ibunya, meyakinkan bahwa ia bisa mengganti uang itu.
"Tapi Lang.. ."
"Engga tapi tapian Bu, Langit ngga mau denger lagi ibu sakit, masalah uang itu biar jadi urusan Langit " ujar Langit menggenggam jemari wanita yang sangat ia sayangi itu.
Ibu Langit tidak pernah mau diajak Langit ke kota, dengan alasan tidak ingin meninggalkan kampung halamannya. Jadi, Langit hanya bisa mengunjungi ibunya saat libur semester atau akhir pekan karena memang tidak terlalau jauh. Hanya memakan waktu kurang lebih tiga jam perjalanan dari kota. Jarak itu yang membuat Langit tidak bisa mengawasi ibunya setiap waktu, hingga ibunya mengalami kecelakaan saat sedang berjualan sayur keliling.
°°°°
Cat yang memudar, ruangan yang sangat terbatas, dan udara yang panas serta pengap menjadi gambaran pertama saat Zia memasuki rumah barunya. Kontrakan kecil di tengah pemukiman padat penduduk menjadi hunian baru sepasang pasutri muda itu.
"Maaf ya cuma ini yang bisa gue bayar. Kalo engga suka nanti gue coba cari lagi yang lebih nyaman." Zidan mengamati Zia yang terdiam di ruang tamu saat baru memasuki kontrakan. Sikap Zia membuat Zidan berspekulasi bahwa Zia tidak menyukai rumah ini.
Ucapan Zidan membuyarkan lamunan Zia, Zia menoleh pada Zidan yang berdiri di belakangnya lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Tidak akan mengatakan suka atau tidak, ia lebih menghargai usaha Zidan.
Langkah yang sempat terhenti kini kembali melangkah menjelajahi rumah sederhana yang akan menjadi tempat tinggalnya sekarang. Memasuki dapur yang ia dapati hanya kompor satu tungku yang sudah usang, dan beberapa peralatan yang terlihat tidak terawat. Langkahnya berbelok menuju WC yang berada di sebelah dapur, hanya ada kloset jongkok dan satu ember besar tempat menampung air. Langkahnya terus berlanjut ke ruang makan yang merangkap ruang keluarga karena terdapat televisi di depan meja dan kursinya, halaman belakang tempat menjemur pakaian dan terakhir ruang kamar yang hanya ada satu. Saat memasuki kamar ia mendapati Zidan yang tengah membereskan isi kopernya dan koper Zia di lemari kayu yang berada di samping tempat tidur. Setelah selesai memasukkan pakaian Zidan menoleh dan mendapati Zia yang ternyata sedari tadi mengamati kegiatannya.
"Punya lo sebelah kanan, gue kiri." Zia hanya mengangguk
"Kalo ngga mau tidur satu ranjang, gue bisa tidur di luar," kata Zidan yang tengah membuka koper yang berisi peralatan sekolah ia dan Zia.
"Engga kok. Zia nggapapa tidur sama Zidan, kan kata Keyna udah boleh tidur bareng kalo udah nikah." Zia menggelengkan kepalanya sembari menghampiri Zidan dan membantu menata buku di meja yang tersedia.
Zidan menganggukkan kepalanya sedikit senang, setidaknya dia tidak akan tidur di kursi ruang tamu atau ruang keluarga yang hanya terbuat dari kayu.
Setelahnya kedua remaja itu sibuk saling membantu membersihkan setiap sudut dan ruang rumah walau dengan keadaan yang masih sama sama canggung.
Zidan dan Zia menatap puas hasil kerjasama mereka, rumah yang tadinya kotor dan tidak tertata sekarang lebih terlihat bersih dan rapi, juga beberapa peralatan masak dan perabot dari Bunda Dian dan Mama Salma yamg sudah tertata di tempatnya.
Zia merebahkan dirinya di kasur sembari bermain ponsel, sedangkan Zidan tengah di halaman belakang entah sedang apa, katanya hanya ingin melihat-lihat.
"Halaman belakangnya lumayan luas Zi, kalo lo punya waktu dan lo mau, lo bisa tanam beberapa sayur biar bisa menghemat pengeluaran nantinya," ucap Zidan saat memasuki kamar.
Zia mengalihkan pandangannya dari ponsel ke sosok Zidan yang duduk di kursi yang ada di depan meja belajar. "Zia ngga bisa berkebun kaya gitu," jawab Zia lirih.
"Gue ajarin mau?" ucap Zidan lagi.
Zia mengangguk kemudian tersenyum, sepertinya berkebun bukan hal yang sulit dan itu terdengar menyenangkan untuk dilakukan saat dia bosan di rumah.
"Ayo!" ajak Zia dengan bersemangat. Ia berdiri dan meletakkan ponselnya di atas bantal.
"Kemana?"
"Katanya belajar berkebun," jawab Zia sangat antusias.
"Engga sekarang juga Zia, gue belum beli polybag, pupuk, sama bibit sayurnya." Memdengar itu Zia langsung terduduk lesu dengan muka yang cemberut.
"Yaah.. "
Zidan terkekeh melihat perubahan Zia dari yang sangat antusias menjadi lesu hanya karena tidak jadi belajar berkebun. "Besok-besok deh, sekarang gue pergi dulu. Mau cari kerjaan. "
"Udah mau malem Zidan," ucap Zia melihat jam dari ponselnya.
"Nggapapa. Gue pergi sekarang, doain supaya cepet dapet kerjaannya," kata Zidan sambil bersiap akan pergi.
Zia mengangguk dan terus memperhatikan Zidan dari cowok itu memakai jaket, sampai keluar dari kamar. Ternyata Zidan tidak secuek yang iya kira, dan ternyata jika terus di perhatikan Zidan itu ganteng.
Ya iya lah ganteng, kan semua anak Atlansa juga rata rata ganteng, cuma Zia aja yang tidak pernah memperhatikan.
Zia menggelengkan kepalanya, kemudian memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur tipis miliknya dan Zidan.
Rasanya sedikit tidak nyaman memang, tapi ia harus bisa, ia hanya harus di rumah dan menerima semuanya. Tidak seperti Zidan yang harus banting tulang untuk memenuhi keperluan rumah tangga mereka.
Zia merasa hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat, dari anak kesayangan dan manja, kini dipaksa menjadi istri yang dewasa dan hidup seadanya. Memang tidak akan mudah hari-hari Zia setelah ini, ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan harus beradaptasi dengan status barunya juga. Zia hanya berdoa semoga ia diberi kekuatan dalam menjalani semuanya.
Di tempat lain, Zidan menghentikan motor sport nya setelah menempuh jarak yang lumayan jauh dari kontrakan, hanya berhenti di pinggir jalan dan berpikir pekerjaan apa yang bisa ia lakukan setelah pulang sekolah dan mau menerima Zidan. Setelah cukup lama duduk diam di atas motor, kini Zidan kembali menyalakan motornya dan bergegas ke tempat yang mungkin menerima tenaganya.
Disinilah Zidan berada, di pasar tradisional yang ternyata berada dekat dengan kontrakannya, kalau tau dekat kenapa tadi harus pergi jauh-jauh hanya untuk berpikir. Buang-buang bensin saja.
Zidan mencari toko yang mungkin membutuhkan tenaganya, barangkali toko beras atau apa saja asalkan ada.
"Permisi Pak, apa disini buka lowongan pekerjaan, sebagai kuli angkut juga tidak apa pak," ucap Zidan.
"Maaf Nak, tidak ada. Coba cari di toko lain," ucap penjual yang didatangi Zidan. Sampai beberapa toko tetap tidak ada yang mau mempekerjakan Zidan. Zidan yang merasa lelah kembali ke parkiran dan beristirahat di motornya, rencananya setelah ini dia akan berkeliling pasar lagi sampai menemukan pekerjaan.
Zidan sedang beristirahat sambil memandangi seisi pasar yang bisa dibilang sepi, karena sekarang sudah malam, hanya beberapa toko yang terlihat buka dan yang terlihat juga kebanyakan penjual yang menyiapkan dagangannya untuk besok dini hari. Tiba-tiba matanya menangkap dua orang yang mencurigakan tengah mencoba membuka tirai toko yang berada di pojok pasar. Toko besar yang depannya gelap karena mungkin lampunya sudah dimatikan.
Melihat gelagat mencurigakan kedua orang tersebut, Zidan bergegas menghampiri dan menepuk bahu salah satu diantaranya.
"Lagi ngapain Bang?" tanya Zidan dengan nada sinis sambil menunjukan senyum smirknya.
Kedua orang tersebut terlonjak kaget dan saling tatap dan mencoba membogem Zidan. Zidan yang sudah terbiasa berkelahi dengan mudah membaca gerakan kedua orang yang diduga akan mencuri itu. Tangan Zidan dengan sigap menahan bogeman kedua pria tersebut.
"Mau maling ceritanya Bang?" kata Zidan sebelum menghempaskan kedua tangan maling tersebut dan meninju salah satunya menjadi awal terjadinya perkelahian dua lawan satu tersebut. Orang-orang yang mendengar keributan dari arah pojok berbondong-bondong menghampiri, dan mendapati dua orang yang berpenampilan seperti preman dan seorang remaja laki-laki tengah berkelahi.
°°°°
Happy Reading ✨♥
Kalau suka boleh kasih like 👍
Komentar juga boleh kalau mau
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
PENGALAMAN HIDUP BISA MENDEWASA KAN SESEORANG..BIAR ZIA BIASA SEDIKIT DEWASA BARPIKIR DAN BERSIKAP,GAK MULU KAYSK BOCAH..
2024-02-07
0
Qaisaa Nazarudin
Jgn bilang kalo ini Langit, Pasti Langit di manpaatin seseorg dgn keadaan ibunya yg sakit kek gini..
2024-02-07
0
Zuki - Mar
kasian si ayra
2023-01-08
3