10. Awal Baru

Di salah satu rumah sakit daerah, seorang remaja laki-laki tengah tertidur dengan posisi duduk. Kamar rawat sang ibu adalah kamar kelas bawah, maka hanya ada kursi tidak nyaman untuk duduk yang tersedia di setiap bankar yang hanya dibatasi tirai . Akan tetapi, lelaki tersebut bisa tertidur pulas tidak memikirkan kenyamanan karena tubuhnya yang sudah sangat lelah dan mengantuk.

Sang ibu masih dalam kondisi belum sadarkan diri pasca operasi. Memang bukan operasi besar, namun untuk biayanya tentu tidak murah. Remaja lelaki itu membuka mata saat merasakan usapan lembut di kepalanya. Matanya seketika membuka sempurna saat melihat senyum lemah di bibir pucat sang ibu.

"Ibu udah sadar? Ada yang sakit? Mau dipanggilin dokter?" tanya lelaki itu berturut-turut dengan senyum yang terbit di bibirnya.

"Ngga usah Lang. Ibu enggapapa, engga ada yang sakit juga," jawab wanita paruh baya itu masih lemah. Remaja lelaki itu menghembuskan napas lega.

Bisa tebak siapa lelaki itu?

Dia adalah Langit. Iya, Langit. Salah satu sahabat Zidan yang menghilang beberapa hari ini. Yang Dyu bilang sudah menikah dengan janda anak satu. Langit sudah tidak berangkat sekolah beberapa hari karena harus pulang kampung guna menemani dan mencari biaya untuk operasi sang ibu.

Segala cara dia lakukan untuk mencari uang untuk membiayai operasi yang dijalani ibunya. Tidak peduli sekolahnya, sahabatnya, atau apapun itu yang terpenting ibunya bisa selamat.

"Ibu boleh nanya?" ujar ibu Langit dengan nada yang lirih. Langit hanya mengangguk sembari mengatur tempat tidur agar ibunya bisa duduk bersandar.

"Kamu dapet dari mana uang untuk operasi Ibu?" Langit terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis. Ia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu.

"Pinjam ke temen, Bu."

"Nanti kalo ibu udah sembuh bakal ibu cicil hutangnya. Berapa Lang?" Sang ibu bertanya dengam raut wajah yang tidak enak hati, karena merepotkan orang lain.

"Ngga usah Bu, itu biar urusan Langit aja. Ibu cukup istirahat yang bener, jaga kesehatan, dan jangan bikin Langit khawatir lagi." Mata langit menatap manik teduh Ibunya, meyakinkan bahwa ia bisa mengganti uang itu.

"Tapi Lang.. ."

"Engga tapi tapian Bu, Langit ngga mau denger lagi ibu sakit, masalah uang itu biar jadi urusan Langit " ujar Langit menggenggam jemari wanita yang sangat ia sayangi itu.

Ibu Langit tidak pernah mau diajak Langit ke kota, dengan alasan tidak ingin meninggalkan kampung halamannya. Jadi, Langit hanya bisa mengunjungi ibunya saat libur semester atau akhir pekan karena memang tidak terlalau jauh. Hanya memakan waktu kurang lebih tiga jam perjalanan dari kota. Jarak itu yang membuat Langit tidak bisa mengawasi ibunya setiap waktu, hingga ibunya mengalami kecelakaan saat sedang berjualan sayur keliling.

°°°°

Cat yang memudar, ruangan yang sangat terbatas, dan udara yang panas serta pengap menjadi gambaran pertama saat Zia memasuki rumah barunya. Kontrakan kecil di tengah pemukiman padat penduduk menjadi hunian baru sepasang pasutri muda itu.

"Maaf ya cuma ini yang bisa gue bayar. Kalo engga suka nanti gue coba cari lagi yang lebih nyaman." Zidan mengamati Zia yang terdiam di ruang tamu saat baru memasuki kontrakan. Sikap Zia membuat Zidan berspekulasi bahwa Zia tidak menyukai rumah ini.

Ucapan Zidan membuyarkan lamunan Zia, Zia menoleh pada Zidan yang berdiri di belakangnya lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Tidak akan mengatakan suka atau tidak, ia lebih menghargai usaha Zidan.

Langkah yang sempat terhenti kini kembali melangkah menjelajahi rumah sederhana yang akan menjadi tempat tinggalnya sekarang. Memasuki dapur yang ia dapati hanya kompor satu tungku yang sudah usang, dan beberapa peralatan yang terlihat tidak terawat. Langkahnya berbelok menuju WC yang berada di sebelah dapur, hanya ada kloset jongkok dan satu ember besar tempat menampung air. Langkahnya terus berlanjut ke ruang makan yang merangkap ruang keluarga karena terdapat televisi di depan meja dan kursinya, halaman belakang tempat menjemur pakaian dan terakhir ruang kamar yang hanya ada satu. Saat memasuki kamar ia mendapati Zidan yang tengah membereskan isi kopernya dan koper Zia di lemari kayu yang berada di samping tempat tidur. Setelah selesai memasukkan pakaian Zidan menoleh dan mendapati Zia yang ternyata sedari tadi mengamati kegiatannya.

"Punya lo sebelah kanan, gue kiri." Zia hanya mengangguk

"Kalo ngga mau tidur satu ranjang, gue bisa tidur di luar," kata Zidan yang tengah membuka koper yang berisi peralatan sekolah ia dan Zia.

"Engga kok. Zia nggapapa tidur sama Zidan, kan kata Keyna udah boleh tidur bareng kalo udah nikah." Zia menggelengkan kepalanya sembari menghampiri Zidan dan membantu menata buku di meja yang tersedia.

Zidan menganggukkan kepalanya sedikit senang, setidaknya dia tidak akan tidur di kursi ruang tamu atau ruang keluarga yang hanya terbuat dari kayu.

Setelahnya kedua remaja itu sibuk saling membantu membersihkan setiap sudut dan ruang rumah walau dengan keadaan yang masih sama sama canggung.

Zidan dan Zia menatap puas hasil kerjasama mereka, rumah yang tadinya kotor dan tidak tertata sekarang lebih terlihat bersih dan rapi, juga beberapa peralatan masak dan perabot dari Bunda Dian dan Mama Salma yamg sudah tertata di tempatnya.

Zia merebahkan dirinya di kasur sembari bermain ponsel, sedangkan Zidan tengah di halaman belakang entah sedang apa, katanya hanya ingin melihat-lihat.

"Halaman belakangnya lumayan luas Zi, kalo lo punya waktu dan lo mau, lo bisa tanam beberapa sayur biar bisa menghemat pengeluaran nantinya," ucap Zidan saat memasuki kamar.

Zia mengalihkan pandangannya dari ponsel ke sosok Zidan yang duduk di kursi yang ada di depan meja belajar. "Zia ngga bisa berkebun kaya gitu," jawab Zia lirih.

"Gue ajarin mau?" ucap Zidan lagi.

Zia mengangguk kemudian tersenyum, sepertinya berkebun bukan hal yang sulit dan itu terdengar menyenangkan untuk dilakukan saat dia bosan di rumah.

"Ayo!" ajak Zia dengan bersemangat. Ia berdiri dan meletakkan ponselnya di atas bantal.

"Kemana?"

"Katanya belajar berkebun," jawab Zia sangat antusias.

"Engga sekarang juga Zia, gue belum beli polybag, pupuk, sama bibit sayurnya." Memdengar itu Zia langsung terduduk lesu dengan muka yang cemberut.

"Yaah.. "

Zidan terkekeh melihat perubahan Zia dari yang sangat antusias menjadi lesu hanya karena tidak jadi belajar berkebun. "Besok-besok deh, sekarang gue pergi dulu. Mau cari kerjaan. "

"Udah mau malem Zidan," ucap Zia melihat jam dari ponselnya.

"Nggapapa. Gue pergi sekarang, doain supaya cepet dapet kerjaannya," kata Zidan sambil bersiap akan pergi.

Zia mengangguk dan terus memperhatikan Zidan dari cowok itu memakai jaket, sampai keluar dari kamar. Ternyata Zidan tidak secuek yang iya kira, dan ternyata jika terus di perhatikan Zidan itu ganteng.

Ya iya lah ganteng, kan semua anak Atlansa juga rata rata ganteng, cuma Zia aja yang tidak pernah memperhatikan.

Zia menggelengkan kepalanya, kemudian memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur tipis miliknya dan Zidan.

Rasanya sedikit tidak nyaman memang, tapi ia harus bisa, ia hanya harus di rumah dan menerima semuanya. Tidak seperti Zidan yang harus banting tulang untuk memenuhi keperluan rumah tangga mereka.

Zia merasa hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat, dari anak kesayangan dan manja, kini dipaksa menjadi istri yang dewasa dan hidup seadanya. Memang tidak akan mudah hari-hari Zia setelah ini, ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan harus beradaptasi dengan status barunya juga. Zia hanya berdoa semoga ia diberi kekuatan dalam menjalani semuanya.

Di tempat lain, Zidan menghentikan motor sport nya setelah menempuh jarak yang lumayan jauh dari kontrakan, hanya berhenti di pinggir jalan dan berpikir pekerjaan apa yang bisa ia lakukan setelah pulang sekolah dan mau menerima Zidan. Setelah cukup lama duduk diam di atas motor, kini Zidan kembali menyalakan motornya dan bergegas ke tempat yang mungkin menerima tenaganya.

Disinilah Zidan berada, di pasar tradisional yang ternyata berada dekat dengan kontrakannya, kalau tau dekat kenapa tadi harus pergi jauh-jauh hanya untuk berpikir. Buang-buang bensin saja.

Zidan mencari toko yang mungkin membutuhkan tenaganya, barangkali toko beras atau apa saja asalkan ada.

"Permisi Pak, apa disini buka lowongan pekerjaan, sebagai kuli angkut juga tidak apa pak," ucap Zidan.

"Maaf Nak, tidak ada. Coba cari di toko lain," ucap penjual yang didatangi Zidan. Sampai beberapa toko tetap tidak ada yang mau mempekerjakan Zidan. Zidan yang merasa lelah kembali ke parkiran dan beristirahat di motornya, rencananya setelah ini dia akan berkeliling pasar lagi sampai menemukan pekerjaan.

Zidan sedang beristirahat sambil memandangi seisi pasar yang bisa dibilang sepi, karena sekarang sudah malam, hanya beberapa toko yang terlihat buka dan yang terlihat juga kebanyakan penjual yang menyiapkan dagangannya untuk besok dini hari. Tiba-tiba matanya menangkap dua orang yang mencurigakan tengah mencoba membuka tirai toko yang berada di pojok pasar. Toko besar yang depannya gelap karena mungkin lampunya sudah dimatikan.

Melihat gelagat mencurigakan kedua orang tersebut, Zidan bergegas menghampiri dan menepuk bahu salah satu diantaranya.

"Lagi ngapain Bang?" tanya Zidan dengan nada sinis sambil menunjukan senyum smirknya.

Kedua orang tersebut terlonjak kaget dan saling tatap dan mencoba membogem Zidan. Zidan yang sudah terbiasa berkelahi dengan mudah membaca gerakan kedua orang yang diduga akan mencuri itu. Tangan Zidan dengan sigap menahan bogeman kedua pria tersebut.

"Mau maling ceritanya Bang?" kata Zidan sebelum menghempaskan kedua tangan maling tersebut dan meninju salah satunya menjadi awal terjadinya perkelahian dua lawan satu tersebut. Orang-orang yang mendengar keributan dari arah pojok berbondong-bondong menghampiri, dan mendapati dua orang yang berpenampilan seperti preman dan seorang remaja laki-laki tengah berkelahi.

°°°°

Happy Reading ✨♥

Kalau suka boleh kasih like 👍

Komentar juga boleh kalau mau

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

PENGALAMAN HIDUP BISA MENDEWASA KAN SESEORANG..BIAR ZIA BIASA SEDIKIT DEWASA BARPIKIR DAN BERSIKAP,GAK MULU KAYSK BOCAH..

2024-02-07

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Jgn bilang kalo ini Langit, Pasti Langit di manpaatin seseorg dgn keadaan ibunya yg sakit kek gini..

2024-02-07

0

Zuki - Mar

Zuki - Mar

kasian si ayra

2023-01-08

3

lihat semua
Episodes
1 1. Truth or Dare
2 2. Hari Itu(1)
3 3. Hari itu(2)
4 4. Tanggung Jawab?
5 5. UKS
6 6. Zio Pulang
7 7. Nikah?
8 8. Sah
9 9. Kamar Zidan
10 10. Awal Baru
11 11. Khawatir
12 12. Putus
13 13. Upah Pertama
14 14. Ayra Berubah
15 15. Mual
16 16. Minggu dengan Sahabat
17 17. Omellet Lagii
18 18. Kita mau punya ponakan?
19 19. Negatif
20 20. Keanehan Cewek Cupu
21 21. Asing
22 22. Beneran Hamil
23 23. Basecamp Atlansa
24 24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25 25. Kedatangan Bunda dan Mama
26 26. Panik
27 Aksi Atlansa
28 Rumah Sakit
29 Dea
30 Mie Instan
31 Capek
32 Rezekinya Dia
33 Lebih Baik
34 34. Zidan dan Ayra?
35 35. Tak Ingin Usai
36 36. Dea Lagi
37 37. Langit
38 38. Kedondong
39 39. Rumah Sakit
40 40. Kembar
41 41. Makan Pizza
42 42. Ulah Janu
43 43. Zia Overthinking
44 44. Taman Bermain
45 45. Fakta Baru Tentang Ayra
46 46. Siapa pelakunya?
47 47. Kacau
48 48. Basecamp
49 49. Klarifikasi
50 50. Bakso Harga Lima Juta
51 51. Dikeluarkan atau Tidak?
52 52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53 53. Keguguran?
54 54. Vanishing Twin Syndrome
55 55. Mulai Ada Rasa
56 56. Bersama Arin
57 57. Belajar Ciuman
58 58. Tanggung
59 59. Baby Cegukan
60 60. Yang Paling Berkuasa
61 Pengumuman (Bukan Update)
62 61. Sup Ala Zia
63 62. Terbongkar?
64 63. Kecemasan Zia
65 64. Kembali Bersama
66 65. Kangen Mama Papa
67 66. Anak Kita
68 67. Kembalinya Aset Zidan
69 68. Rumah Zidan (Lagi)
70 69. Perhatian dari Mertua
71 70. Om Om Hidung Belang
72 71. Rambutan Botak
73 72. Cinta atau Tanggungjawab?
74 73. Gagal Lagi
75 74. Kumpul Santuy
76 75. I LOVE YOU
77 76. Ceramah Bunda Dian
78 77. Akhirnya
79 78. Nasi Padang
80 79. Petunjuk Baru
81 80. Prenatal Yoga Couple
82 81. Pencarian
83 82. Bu Intan
84 83. Penghianat
85 84. Kehidupan Bu Intan
86 85. Rencana Ke Puncak
87 86. On The Way
88 87. Ayra hamil?
89 88. Waktu Cowok
90 89. Menikmati Malam Di Puncak
91 90. Keinginan Zia
92 91. Tujuh Bulanan
93 92. Ketemu Baby Zira
94 93. Bersama Mama
95 94. Dari Hati ke Hati
96 95. Di Kantor Ayah Dimas
97 96. Mbak-Mbak Genit
98 97. Di Tempat Yoga
99 98. Sebentar Lagi
100 99. Satu Komplek?
101 101. Ucapan Pak Ervan
102 101. Sesama Bumil Remaja
103 102. Serangan Di Sekolah
104 103. Pasca Penyerangan
105 104. Perhatian Istri
106 105. Kasus Baru Lagi
107 106. Cemburu
108 107. Pernah
109 108. Melaporkan Tuan Willy
110 109. Belajar Mengurus Bayi
111 110. Masih Bersama Baby Zira
112 111. Apakah....
113 112. Amukan Sang Mertua
114 113. Posisi Kepala Bayi
115 114. Titik Terang
116 115. Kontraksi Palsu
117 116. Kontraksi Awal
118 117. Bukaan 4
119 118. Masih Bukaan 8
120 119. Persalinan
121 120. Skin To Skin
122 121. Papa Riyan
123 122. 38 Hari Lagi
124 123. Ditemani Ayra
125 124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126 125. Papa Nggak Tau
127 126. Rencana Sekolah Lagi
128 127. Hari Pertama Ulangan
129 128. Setelah 42 Hari
130 129. First Day School
131 130. Pengagum Bapak Anak Satu
132 131. Meminta Belajar Bela Diri
133 132. Pasar Malam
134 133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135 134. Wisata Keluarga
136 135. Tamat
137 Special Part
Episodes

Updated 137 Episodes

1
1. Truth or Dare
2
2. Hari Itu(1)
3
3. Hari itu(2)
4
4. Tanggung Jawab?
5
5. UKS
6
6. Zio Pulang
7
7. Nikah?
8
8. Sah
9
9. Kamar Zidan
10
10. Awal Baru
11
11. Khawatir
12
12. Putus
13
13. Upah Pertama
14
14. Ayra Berubah
15
15. Mual
16
16. Minggu dengan Sahabat
17
17. Omellet Lagii
18
18. Kita mau punya ponakan?
19
19. Negatif
20
20. Keanehan Cewek Cupu
21
21. Asing
22
22. Beneran Hamil
23
23. Basecamp Atlansa
24
24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25
25. Kedatangan Bunda dan Mama
26
26. Panik
27
Aksi Atlansa
28
Rumah Sakit
29
Dea
30
Mie Instan
31
Capek
32
Rezekinya Dia
33
Lebih Baik
34
34. Zidan dan Ayra?
35
35. Tak Ingin Usai
36
36. Dea Lagi
37
37. Langit
38
38. Kedondong
39
39. Rumah Sakit
40
40. Kembar
41
41. Makan Pizza
42
42. Ulah Janu
43
43. Zia Overthinking
44
44. Taman Bermain
45
45. Fakta Baru Tentang Ayra
46
46. Siapa pelakunya?
47
47. Kacau
48
48. Basecamp
49
49. Klarifikasi
50
50. Bakso Harga Lima Juta
51
51. Dikeluarkan atau Tidak?
52
52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53
53. Keguguran?
54
54. Vanishing Twin Syndrome
55
55. Mulai Ada Rasa
56
56. Bersama Arin
57
57. Belajar Ciuman
58
58. Tanggung
59
59. Baby Cegukan
60
60. Yang Paling Berkuasa
61
Pengumuman (Bukan Update)
62
61. Sup Ala Zia
63
62. Terbongkar?
64
63. Kecemasan Zia
65
64. Kembali Bersama
66
65. Kangen Mama Papa
67
66. Anak Kita
68
67. Kembalinya Aset Zidan
69
68. Rumah Zidan (Lagi)
70
69. Perhatian dari Mertua
71
70. Om Om Hidung Belang
72
71. Rambutan Botak
73
72. Cinta atau Tanggungjawab?
74
73. Gagal Lagi
75
74. Kumpul Santuy
76
75. I LOVE YOU
77
76. Ceramah Bunda Dian
78
77. Akhirnya
79
78. Nasi Padang
80
79. Petunjuk Baru
81
80. Prenatal Yoga Couple
82
81. Pencarian
83
82. Bu Intan
84
83. Penghianat
85
84. Kehidupan Bu Intan
86
85. Rencana Ke Puncak
87
86. On The Way
88
87. Ayra hamil?
89
88. Waktu Cowok
90
89. Menikmati Malam Di Puncak
91
90. Keinginan Zia
92
91. Tujuh Bulanan
93
92. Ketemu Baby Zira
94
93. Bersama Mama
95
94. Dari Hati ke Hati
96
95. Di Kantor Ayah Dimas
97
96. Mbak-Mbak Genit
98
97. Di Tempat Yoga
99
98. Sebentar Lagi
100
99. Satu Komplek?
101
101. Ucapan Pak Ervan
102
101. Sesama Bumil Remaja
103
102. Serangan Di Sekolah
104
103. Pasca Penyerangan
105
104. Perhatian Istri
106
105. Kasus Baru Lagi
107
106. Cemburu
108
107. Pernah
109
108. Melaporkan Tuan Willy
110
109. Belajar Mengurus Bayi
111
110. Masih Bersama Baby Zira
112
111. Apakah....
113
112. Amukan Sang Mertua
114
113. Posisi Kepala Bayi
115
114. Titik Terang
116
115. Kontraksi Palsu
117
116. Kontraksi Awal
118
117. Bukaan 4
119
118. Masih Bukaan 8
120
119. Persalinan
121
120. Skin To Skin
122
121. Papa Riyan
123
122. 38 Hari Lagi
124
123. Ditemani Ayra
125
124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126
125. Papa Nggak Tau
127
126. Rencana Sekolah Lagi
128
127. Hari Pertama Ulangan
129
128. Setelah 42 Hari
130
129. First Day School
131
130. Pengagum Bapak Anak Satu
132
131. Meminta Belajar Bela Diri
133
132. Pasar Malam
134
133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135
134. Wisata Keluarga
136
135. Tamat
137
Special Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!