Setelah mengetahui lokasi sang adik, Zio yang merasa Zia sudah aman di rumah pun memilih kembali masuk ke dalam pesta kekasihnya.
Tanpa sepengetahuan teman-temannya, ternyata Langit membawa Zidan pulang ke rumah Zio, karena ia rasa itu tempat paling aman untuk Zidan sebab orang tua Zio tidak berada di rumah dalam beberapa hari ke depan.
Langit berniat menghubungi Zio setelah Zidan dibawa masuk ke dalam rumah. Kini ia tengah memapah Zidan keluar dari mobilnya.
"Berat banget si lo, kebanyakan dosa kali ya." Langit terus menggerutu saat memapah Zidan yang sudah mabuk berat.
Setelah membuka pintu rumah Zio, kemudian meletakkan tubuh Zidan di sofa ruang tamu, Langit menghela napasnya memperhatikan seisi rumah tersebut, ia tak menemukan satu orang pun.
Langit menepuk dahinya, ia lupa bahwa keluarga Zio tak mempunyai pembantu yang menetap, mereka hanya berangkat pagi dan akan pulang pada sore hari.
Baru akan menghubungi Zio, ponsel Langit tiba-tiba berdering tanda ada yang meneleponnya, Langit mengangkat telepon itu dan seketika raut wajahnya langsung berubah, dengan cepat ia berlari meninggalkan rumah Zio dengan Zidan di dalamnya.
Zidan berjalan sempoyongan menaiki anak tangga, tanpa sadar dan tanpa tau mau kemana. Saat ini ia merasakan panas di tubuhnya, ia ingin mandi.
Saat berjalan di lantai dua, Zidan tidak sengaja melihat pintu kamar Zia yang terbuka sedikit. Entah apa yang ia pikirkan, Zidan malah menghampiri kamar Zia. Entah siapa yang mengantar Zia pulang.
Zidan melihat Zia yang tidur dengan telentang. Zidan menghampiri Zia, dan langsung menind*h tubuh mungil Zia. Tubuhnya terasa sangat panas membuat Zidan membuka semua pakaiannya.
Zia sedikit tersentak karena kaget, namun Zia yang juga dalam keadaan mabuk bukannya memberontak malah mengalungkan tangannya di leher Zidan. Zia tidak terlihat seperti gadis polos seperti biasanya, malah sekarang terlihat sangat menggoda.
Zidan yang sudah sangat mabuk langsung ******* bibir merah muda milik Zia, tidak mendapat penolakan membuat Zidan melanjutkan aksinya membuka satu pakaian Zia. Zia pun menerimanya tanpa memberontak sedikitpun dan mereka melakukan hal yang harusnya tidak mereka lakukan, tanpa mereka sadari. Tubuh mereka tidak dalam kendali mereka masing-masing. Sebuah awal dari penyesalan yang besar.
##
"Zidan sama Langit kemana?" Galen bertanya sebab tak melihat dua temannya itu. Sekarang sudah larut malam, sehingga pestanya sudah tidak seramai tadi.
"Ngga tau tuh, udah pulang kali," jawab Zio yang duduk bersebelahan dengan Sherena. Biasa, pasangan baru ngga mau jauh-jauh.
"Zidan kebawa Langit nih, ilangan terus," celetuk Dyu.
"Eh tapi kalian ngerasa aneh ngga sih belakangan ini sama Langit?" tanya Zio yang diangguki Galen dan Dyu.
"Iya, Langit emang pendiem tapi diemnya akhir-akhir ini kaya beda, kaya lagi nyimpen sesuatu," ujar Galen yang memang memahami semua sifat anggotanya.
"Nah itu, dia juga jarang ke markas, ngilang terus," timpal Dyu kemudian menenggak minuman yang tersedia di meja.
"Lagi PDKT in cewek mungkin," canda Sherena yang sedari tadi diam.
"Sok tau kamu. Langit ngga pernah mau pacaran," ucap Zio menjitak pelan dari kekasihnya itu.
"Yaelah ternyata cowok juga suka ngegibahin temen ya," ujar Ayra yang baru datang bersama Keyna, keduanya baru saja menemui teman SMP mereka yang kebetulan diundang oleh Sherena.
"Udah?" Galen bertanya pada Keyna yang baru duduk di sebelahnya. Keyna mengangguk.
"Zidan mana?" tanya Ayra yang tak melihat kekasihnya.
Semua cowok mengangkat bahunya tanda tak tahu. "Ngga tau, udah pulang mungkin," jawab Zio.
"Zia?"
"Udah pulang," jawab Zio lagi.
"Langit?" tanya Ayra lagi.
"Ck, lo cerewet banget si, ngga sekalian lo tanya semua?" ujar Zio kesal.
"Kan nanya doang," jawab Ayra dengan muka cemberut.
"Langit tadi gue liat mobilnya pergi buru-buru," ungkap Keyna yang tadi sempat keluar dari pesta dan melihat mobil Langit yang pergi dengan kecepatan tinggi.
"Aneh," ucap Ayra merasa ada yang tidak beres. Dia mengambil ponsel di slingbag ya ia bawa. Mencoba menghubungi Zidan, namun tidak diangkat. Ayra jadi khawatir, tak biasanya kekasihnya itu tidak mengangkat panggilannya.
"Angkat Dan," gumamnya sembari terus mencoba menelepon Zidan. Ponsel Zidan aktif tapi tidak diangkat.
Keyna yang melihat raut cemas Ayra mencoba menenangkan dengan mengusap bahu sahabatnya itu, Keyna berkata, "Udah tenang dulu, mungkin lagi di jalan."
Ayra berdecak, menggelengkan kepalanya, Zidan selalu mengangkat teleponnya, walaupun sedang di jalan Zidan akan berhenti dulu. Pikiran Ayra melayang pada kejadian setahun lalu, saat Zidan tidak mengangkat teleponnya dan dia menemukan Zidan sedang mabuk dan dipukuli preman di pinggir jalan.
Ayra menatap Keyna, "Zidan pernah kaya gini cuma pas dia mabuk. Gue takut Zidan kenapa-napa," ucapnya khawatir.
"Ngga akan kaya tahun kemarin Ay, disini engga ada minuman yang bikin mabuk. Iya kan Sher?" ucap Keyna mencoba menenangkan.
"Iya, ngga ada," jawab Sherena.
"Yakin? Kok tadi gue ketemu Zia kaya lagi mabuk, bau alkohol juga," tanya Dyu. Zio pun tiba-tiba kepikiran adiknya itu.
"Iya yakin, kalaupun ada berarti mereka bawa sendiri, orang tua gue ngga ngebolehin ada kaya gitu," jawab Sherena meyakinkan semuanya.
"Lo ngga salah liat Zia mabuk? Yakin itu Zia?" tanya Galen yang merasa aneh.
Dyu mengangguk, "Yakin banget Gal, masa gue ngga ngenalin Zia yang super imut itu sih."
"Masa sih Zia mabuk? Cewek sepolos itu bisa mabuk Zi?" tanya Galen pada Zio, Zio menggeleng, kemudian berkata, "Bahkan dia ngga bisa minum minuman bersoda."
"Darimana lo tau Zia udah pulang?" tanya Galen lagi, cowok itu entah kenapa jadi banyak bertanya. Galen merasa ada yang tidak beres.
"Ck, gue lacak lokasinya. Dari handphone dia sih dia di rumah sekarang," jawab Zio memperlihatkan lokasi Zia di layar ponselnya kepada teman-temannya itu.
Zio itu pelacak yang handal di Atlansa, maka dari itu dengan mudah menemukan lokasi siapapun dengan cepat asalkan ponselnya aktif.
"Lacak lokasi Zidan dong Zi," mohon Ayra yang masih diselimuti rasa khawatir.
"Oke. Bentar," jawab Zio kemudian mengutak-atik ponselnya dengan jemari yang sangat lincah.
Tak seberapa lama, mata Zio melotot setelah menemukan lokasi Zidan.
"Dimana Zi?" tanya Ayra tidak sabar, melihat perubahan ekspresi Zio menambah kekhawatiran gadis itu.
"Di rumah gue?" tanya Zio pada dirinya sendiri.
"Di rumah lo?" tanya Galen.
"Zia," gumam Zio dipenuhi rasa khawatir.
Setelah mengucapkan itu Zio berdiri dan segera berlari keluar tanpa mengucap apapun. Tentu itu membuat semua orang bingung.
"Kenapa sih? Aneh," ujar Dyu.
"Bentar deh. Dyu bilang liat Zia mabuk, terus menurut yang Ayra bilang Zidan juga kemungkinan mabuk," ucap Keyna kemudian matanya melotot menyadari sesuatu.
"Zio bilang Zidan dirumahnya? Jangan bilang..." lanjut Keyna berdiri tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Galen melihat kekasihnya itu panik.
"Ke rumah Zia sekarang," pinta Keyna menarik tangan Galen keluar dari pesta diikuti semuanya yang ikutan panik karena melihat raut wajah Keyna yang begitu cemas, padahal mereka mengenal Keyna adalah sosok yang begitu tenang.
Sedangkan di tempat lain, Zio sudah sampai di rumah dan segera berlari menuju kamar adiknya, pikirannya dipenuhi pikiran negatif yang membuatnya sangat kalut.
Brak!
Dengan brutal ia membuka pintu kamar adiknya hingga menimbulkan bunyi yang keras.
"ZIA!"
**Kalau kalian menemukan kata yang typo bilang ya, aku penulis amatir yang baru memulai belajar menulis, jadi masih banyak kekurangan**.
**Kalau suka jangan lupa like sama komen ya**:)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
ais
langit jg ngapain bawa si zidan kesono🙂
2024-12-30
0
Qaisaa Nazarudin
Harusnya Zio pulang utk memastikan, Pacaran nya kan bisa besok2 juga kali,,Ckk .
2024-02-07
0
Qaisaa Nazarudin
Zidan lg enak2 nya,lg ngadon,mana mau dia menjawab panggilan dr kamu .
2024-02-07
0