Zia tidak pernah perpikir akan seperti ini takdirnya, setelah diusir dari rumah oleh ayahnya sendiri, kini ia dan Zidan hanya mempunyai waktu satu hari untuk untuk mengemasi barang barang mereka.
Baik orangtua Zidan maupun Zia tidak ada yang memperbolehkan mereka tinggal di rumahnya. Jika orangtua Zia karena marah, tidak dengan orangtua Zidan, mereka hanya memberi hukuman atas tindakan mereka, agar mereka tau konsekuensinya.
Kini Zia berada di rumah Zidan, untuk malam ini Bunda Dian yang memohon pada sang suami agar mengizinkan Zidan dan Zia tinggal di rumahnya sementara.
"Papa cabut semua fasilitas kamu kecuali handpone dan motor," ucap Dimas yang hanya diangguki oleh Zidan. Kini mereka berempat sedang duduk di ruang keluarga setelah pulang dari rumah Zia. Pernikahan mereka memang dilaksanakan di rumah Zia.
"Mulai besok keluar dari rumah ini!, cari uang sendiri buat nafkahin istri kamu, untuk biaya sekolah masih papa tanggung," lanjut Dimas kemudian menghela napasnya, sebenarnya berat melepas anak remajanya itu, yang ia tau masih butuh dan bergantung pada kedua orangtuanya.
"Iya Yah, Zidan mau beresin barang dulu." Zidan berdiri dan beranjak menuju kamarnya, Zia mengikutinya atas perintah Bunda Dian.
"Ayah yakin mau ngebiarin mereka di luar sana gitu aja? Mereka belum siap Yah," tanya bunda Dian saat putra dan menantunya sudah memasuki kamar.
Ayah Dimas hanya diam, dirinya juga sebenarnya ragu. Tanpa menjawab, ia beranjak meninggalkan istrinya yang sudah kembali menangis. Sebenarnya tangisan istrinya kelemahan terbesarnya, jika ia terlalu lama disini bisa-bisa ia memengaruhi keputusannya.
Di kamar Zidan, Zia hanya duduk di sofa memperhatikan Zidan yang sibuk mengemasi barang-barangnya. Zia sudah mandi atas perintah Zidan saat perempuan itu memasuki kamarnya. Dia bosan sekarang, saat ia menawarkan bantuan, Zidan menolaknya dan menyuruhnya duduk diam.
"Barang lo udah diberesin?" tanya Zidan sembari menutup kopernya.
"Belum, kata Kak Zio besok dianterin ke sini," jawabnya, Zidan menganggukkan kepalanya sembari tubuhnya ia hempaskan ke atas tempat tidur. Helaan napasnya menandakan hari ini ia begitu lelah, baik lelah fisik maupun hati.
Zidan terdiam memandang langit-langit kamarnya, pikirannya sekarang sangat kacau dan bingung, harus ia bawa kemana perempuan yang sudah menjadi istrinya itu, harus bekerja sebagai apa agar bisa membiayai hidupnya dan Zia, dan harus seperti apa dia bersikap pada Zia.
"Zidan." Panggilan dari Zia membuyarkan lamunannya dan membawa tubuhnya kembali duduk di tepi tempat tidur.
"Hm?" Zidan menaikan alisnya dan menatap Zia yang terlihat gugup.
"Zia punya uang tabungan kok, bisa dipake buat sementara dulu, tapi..." ucap Zia ragu-ragu, ia tidak yakin uangnya cukup banyak.
"Tapi apa?"
"Cuma sedikit," jawab Zia tidak mengubah cara bicaranya, masih ragu dan sedikit gugup setiap ia berbicara dengan Zidan.
"Nggapapa, semoga cukup sampe gue dapet kerjaan. ATM gue disita, gue cuma ada beberapa di dompet," ujar Zidan menunjuk dompetnya di meja nakas.
"Kalo besok tinggalnya di kontrakan dulu nggapapa?" tanya Zidan sedikit meringis tidak enak membawa anak perempuan kesayangan keluarga orang kaya hidup susah.
"Nggapapa," jawab Zia menggelengkan kepalanya.
"Kecil?"
"Nggapapa."
"Pengap?"
"Nggapapa, Zidan."Zia menggigit bibir bawahnya, ia sebenarnya ragu, namun ia harus bisa hidup seadanya dan mencoba memahami keadaan yang sekarang. Ia bukan lagi anak kesayangan papa dan mamanya, ia bukan lagi adik kesayangan kakaknya, ia sekarang hanya istri dari lelaki yang sedang menatapnya teduh.
Zidan terdiam, semua jawaban Zia sedikit memberinya rasa tenang, setidaknya Zia mau dan tidak keberatan dia ajak hidup seadanya nanti.
"Udah ada kontrakannya?" tanya Zia.
"Belum hehe.. Besok gue nyari," jawab Zidan, tanganya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Zia ikut," kata Zia dengan tatapan memohon.
"Engga. Lo di sini dulu, besok pagi gue nyari sendiri, siangnya gue jemput lo lagi kalo udah nemu yang cocok." Perkataan Zidan membuat Zia menggembungkan pipinya kecewa, tidak bisa ikut mencari kontrakan untuk mereka, namun ia juga tidak ingin merepotkan Zidan jika membawanya mencari kontrakan.
"Besok Zia masih boleh disini?" tanya Zia lirih, dia takut diusir saat Zidan pergi.
"Ayah sama Bunda gue ngga sejahat itu." Zidan berusaha menenangkan Zia.
Zidan berjalan menuju kamar mandi, ingin membersihkan diri dengan air dingin, badannya sudah lengket dan tidak nyaman. "Lo tidur duluan kalo ngantuk, di kasur, jangan di sofa."
Zia mengangguk, memilih merebahkan tubuh mungilnya di kasur milik Zidan. Kasur yang sama empuknya dengan karusnya di rumah, ia akan menikmati kenyamanan kasur itu sebelum besok ia tidur di kasur yang apa adanya.
Zidan keluar dari kamar mandi dan mendapati Zia yang sudah tertidur meringkuk tanpa selimut, kakinya melangkah mendekati Zia dan menyelimuti tubuh itu dengan perlahan , tak ingin mengganggu tidur sang istri.
Masih aneh rasanya saat mengatakan Zia adalah istrinya, terlalu mengejutkan. Dulu ia mengenal perempuan di depannya ini sebagai gadis yang manja dan sebagai adik dari sahabatnya. Sekarang, Zia sudah menjadi istrinya, tanggungjawabnya, dan mungkin masa depannya nanti.
Setelah puas memandangi wajah imut itu, Zidan memilih mengecek ponsel yang sudah sehari ini tidak ia buka sama sekali.
Matanya membulat saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari Ayra dan spam chat yang mengatakan gadis itu tadi dari rumahnya.
Helaan napasnya semakin berat, ia sudah bertekat akan melepaskan gadis itu secara baik baik. Tidak ingin membuat gadisnya bertambah sakit hati. Namun, ia belum akan jujur tentang statusnya sekarang, ia harus mrndiskusikan semuanya dengan Zia, istrinya.
Ayra ♥
Besok aku mau ketemu, pengin ngomong sesuatu.
^^^Jangan besok, lusa aja. Aku juga pengen ngomong sama kamu,^^^
^^^Aku bakal jelasin semuanya.^^^
Ayra ♥
Okey.
Di tempat biasa?
^^^Engga.^^^
^^^Besok aku kasih tau tempatnya.^^^
Ayra ♥
Iyaa, kamu enggapapa kan? Kamu besok berangkat sekolah?
^^^Engga, kamu tidur udah malem.^^^
Zidan meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas, lalu membaringkan tubuhnya di samping Zia. Karena lelah, Zidan dalam sekejap sudah tertidur pulas.
°°°°
Ayra menatap layar ponselnya kemudian tersenyum getir, ia bertambah yakin ada yang Zidan sembuyikan darinya.
Zia juga merasa sedikit ganjil dan merasa ada yang berbeda dari sikap sahabat sahabatnya, terutama Zia. Seolah ada hal yang tidak boleh ia tau, Ayra tidak bodoh. Ia tau walau mereka berusaha menyembunyikannya, ia memahami gerak gerik tubuh seseorang dengan sangat mudah, sesuai dengan cita-citanya menjadi seorang psikolog.
Saat ia tengah sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba terdengar notif pesan dari ponselnya. Zia menautkan kedua alisnya saat ada pesan berupa foto dari nomor yang tak ia kenal.
Deg!
°°°°
Hallo semuanya!!
Terima kasih yang sudah baca, kalau boleh minta likenya hehe... .
♥♥♥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
IRNADA
ada yg typo di bagian akhirnya
hrusnya ayra tpi ditulis zia
2025-01-14
0
Qaisaa Nazarudin
Aku suka sikap tegasnya Zidan, Berarti dia g main' dgn pernikahannya, Walaupun pacaran udah 2 tahun,padti susah utk mive on,Biasanya si cowok tetap akan melanjutkan pacarannya,Dia akan mulai buka hati utk isteri saat kepergok ceweknya selingkuhin dia,Biasa gitu alurnya dnovel2 yg udah aku baca,.
2024-02-07
0
Qaisaa Nazarudin
Gak kejam2 amat tuh menurut ku,Fi novel yg pernah ku baca,tapi lupa judulnya apa,Ortu cowok ngusir tanpa satu apa pun yg di bawa keluar dr rumah,Cuman hp doang,meteka skolah dan kemana2 tuh jln kaki,si cowok kerja part time ngejaga patkiran,dan si ceweknya jualan air kopi.. nyesek aku baca novel itu,Penuh perjuangan mereka..
2024-02-07
0