6. Zio Pulang

"Zia," panggil Zidan ketika melihat Zia terbangun dari tidurnya. Zia mengucek matanya, kemudian menyergit bingung, dia tadi berada di kelas, kenapa sekarang di UKS.

Zidan yang mengerti akan kebingungan Zia berkata, "Lo ketiduran di kelas, Keyna minta gue buat bawa lo ke UKS, badan lo juga panas."

Zia mengangguk, dengan perlahan bangkit dari tidurnya dan duduk dengan tegak ketika dia ingat ada yang ingin ia sampaikan pada Zidan, dan sekarang adalah waktu yang tepat.

"Zidan, Zia mau ngomong boleh?"

"Ngomong ya ngomong aja kali, " jawabnya terkekeh.

"Tentang yang kemaren mau gimana?" tanya Zia dengan nada pelan, jelas jika ia ragu mengucapkannya.

"Gue kemaren kan bilang, gue bakal tanggung jawab," jawab Zidan serius.

Zia menundukkan kepalanya, selain kepalanya pusing dia juga merasa bingung dengan penyelesaian masalah ini.

Melihat Zia yang masih diam, Zidan melanjutkan perkataannya, "Gue kemaren seharian udah mikir gimana nyelesain masalah ini, gue rasa kita perlu bantuan orangtua kita, kita ngga bisa nyembunyiin masalah ini terus."

"Takut.. " lirih Zia.

"Gue tau, gue juga takut Zi, Gue udah mikir kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Kemungkinan paling besar gue rasa kita bakal dinikahin," tutur Zidan menatap Zia yang masih menunduk.

"Kapan orang tua lo pulang?" tanya Zidan sembari berdiri melangkah mengambil minum untuk Zia.

"Besok kayanya mama sama papa udah pulang, " jawab Zia. Kepalanya sudah tidak menunduk, kini pandangannya tertuju pada Zidan yang sedang menuang air dari dispenser yang tersedia di ruangan itu.

"Lusa gue ke rumah lo sama orangtua gue, kita bicarain masalah ini baik baik. Nih minum dulu, mau minum obat ngga? " tanya Zidan menyodorkan gelas berisi air minum.

Zia meminumnya, kemudian menggeleng menandakan ia tak mau meminum obat.

Berteman lebih dari 4 tahun dengan Zio membuat Zidan tahu jika Zia sangat susah disuruh minum obat.

"Zia harus nikah sama Zidan?" tanya Zia memberikan gelas kosong itu pada Zidan.

"Maaf Zi. Kayanya iya, gue rasa itu jalan paling bener. Gue yang udah rusak lo, jadi gue bakal tanggungjawab. Maaf banget Zi. " Mata Zidan menatap mata Zia yang masih sembab.

"Gue juga takut lo hamil, " lanjut Zidan.

"Kan belum tentu Zia hamil, Zidan," ucap Zia.

"Kan belum tentu itu bukan berarti engga bakal hamil kan? Mama gue dokter spesialis kandungan. Kata mama walaupun cuma sekali ngga menutup kemungkinan untuk hamil, " jawan Zidan.

"Sebelum lo dinyatain beneran hamil gue bakal nikahin lo. Walapun lo ngga hamil pun tekat gue bakal tetep nikahin lo. Lo tau? Gue ngerasa bersalah banget sama lo, gue emang engga keliatan dirugikan, tapi lo? Lo udah engga perawan Zi. Hal yang ngga mungkin bisa gue dikembaliin buat suami lo kelak. " Zidan mengusap wajahnya kasar.

Semuanya terjadi tiba-tiba dan mereka dipaksa menghadapi masalah yang tidak pernah mereka sangka.

"Kalo mama sama papa ngga bolehin Zidan nikah sama Zia gimana?" tanya perempuan imut itu lagi.

"Gue rasa om Riyan sama tante Salma malah bakal nyuruh kita nikah secepetnya, " jawab Zidan yakin.

"Ayra? Kak Zio? mereka gimana? " tanya Zia lagi.

"Itu belakangan ya, habis kita bicarain sama orang tua kita, baru kita urus mereka. Pelan-pelan semuanya bakal terselesaiakan walaupun gue tau pasti bakal banyak air mata yang bakal jatuh terutama Ayra sama lo," tutur Zidan menghela napasnya mengingat Ayra. bagaimana reaksinya saat ia tau nanti.

"Janji ya apapun yang terjadi kedepannya hubungan kalian jangan sampai rusak. Gue tau banget Ayra sesayang apa sama sahabat sahabatnya." Mata Zidan memandang manik mata coklat milik Zia. Zia terdiam, tidak yakin Ayra masih mau berteman dengannya setelah ini.

Tidak mendapat jawaban dari Zia, Zidan pun memilih pergi keluar dari UKS. Menyisakan Zia yang termenung, kejadian ini tidak pernah terlintas di pikiran Zia. Akan sehancur apa hubungan persahabatan mereka nantinya, mengapa harus dia yang mengalami hal itu, dia yang tidak tahu apa apa tiba-tiba harus dihadapkan dengan masalah seperti ini.

Mengingat perkataan Zidan tadi membuatnya semakin takut, ia sangat takut hamil disaat dirinya masih sangat muda, kekanakan, dan sama sekali belum dewasa. Dia bukan Keyna yang bisa mengurus bayi saat umurnya masih 15 tahun.

Zio yang belum pulang juga menambah beban pikirannya. Sekecewa itukah kakaknya? Pasti. Ia saja sangat kecewa dan marah pada dirinya sendiri. Tanpa ia sadari air matanya menetes, keadaannya sekarang membuat ia tak bisa tidak menangis.

##

Kini seorang remaja laki-laki tengah duduk di atas motornya, menatap rumah yang sudah hampir dua hari tidak ia tinggali. Sekarang ia memutuskan untuk pulang, setelah tau jika Zia tadi di sekolah sakit. Sekecewa apapun Zio dia masih sangat peduli pada adik kesayangannya itu.

Perlahan ia turun dari motor dan dengan ragu melangkah memasuki rumah walau perasaannya kacau.

Langkahnya semakin cepat saat menemukan adiknya sedang berjalan dengan sempoyongan menuruni anak tangga.

"Hati-hati! " peringat Zio menangkap tubuh Zia yang akan terhuyung ke depan.

Zia yang mendapati kakaknya langsung memeluk erat tubuh Zio, "Kak, maafin Zia, " ucapnya serak, ia yang semula sudah berhenti menangis kini kembali menangis.

Zio tidak menjawab, ia malah melepaskan pelukan Zia kemudian melangkah kembali menuruni anak tangga menuju dapur. Mengambil minum kemudian menimumnya sembari memandang Zia yang terdiam dan tatapan yang tertuju padanya.

"Kak?" panggil Zia lagi, Zio tidak menjawab bahkan laki-laki itu melewati Zia begitu saja saat menaiki tangga menuju kamarnya.

Zio sebenarnya tidak tega saat melihat tatapan sedih Zia, matanya yang begitu bengkak bukti bahwa dia menangis dalam waktu yang lama, badannya yag panas saat memeluknya tadi juga menandakan dia kurang tidur dan begitu banyak hal yang dipikirkan. Namun, dirinya masih belum bisa menerima semua yang terjadi, rasanya ia seperti bermimpi saat mendapati adik yang selama ini dia jaga sudah dirusak oleh seorang laki-laki yang bahkan dia adalah sahabat Zio sendiri.

Zio membanting tubuhnya di kasur king zise nya. Menatap langit-langit kamarnya, ia juga sama bingungnya dengan Zia. Tadi, sepulang sekolah Zidan menemuinya di Basecamp untuk meminta maaf dan mengajukan diri untuk bertanggungjawab menikahi Zia.

Zio tau Zidan orang yang sangat bertanggungjawab dalam segala hal, tetapi tak bisa menjamin masa depan adiknya akan membaik dengan menikah dengannya. Umur mereka juga masih sangat muda untuk menikah, apalagi bagi Zia yang sangat polos dan manja.

Setelah lama termenung Zio bangkit dari tidurnya, melangkah keluar dari kamar menuju ruang keluarga guna mengambil obat penurun panas di kotak obat yang berada di ruangan itu.

Langkahnya membawa Zio ke dapur, ia akan mengggerus obat itu agar Zia mau meminum obat.

Setelahnya ia membuka pintu kamar Zia dan mendapati Zia yang tengah duduk di lantai bersandar di kaki ranjang dengan keadaan yang sangat berantakan dan terisak kuat sambil menelungkupkan wajahnya diantara lutut yang tertekuk. Saking kuatnya isakan itu sampai tak menyadari kehadiran Zio.

Zio melangkah menuju nakas, meletakkan obat, air putih, serta buah pisang di atasnya. Kemudian menghampiri adiknya dan langsung mengangkat tubuh bergetar itu membuat pemilik tubuh berteriak kaget. Zio menurunkan tubuh Zia dengan perlahan di atas kasur milik perempuan itu, Zia masih terisak.

"Udah nangisnya, nih minum obat dulu," ucapnya sembari mencairkan obat itu dengan sedikit air dari gelas yang ia bawa.

"Diem! Nanti keselek." Setelah menunggu sampai isakan Zia tidak terlalu kuat, Zio menyodorkan sendok yang berisi obat langsung ke mulut Zia, Zia tak berani menolak saat ini, perempuan itu menelannya walaupun rasanya sangat pahit.

"Pait banget," cicit Zia, Zio memberinya minum kemudian buah pisang untuk menghilangkan rasa pahit dari obat.

"Jangan nangis terus, nanti tambah pusing!" peringat Zio yang membuat Zia tersenyum tipis sembari mengangguk, ia merasa senang semarah apapun Zio dia masih tetap kakak yang perhatian.

Belum sempat Zia mengatakan apapun Zio sudah beranjak keluar dari kamar Zia.

...Sesuatu yang sudah rusak tidak bisa dengan mudah diperbaiki,...

...Jika bisa maka tidak akan lagi sama,...

...Jika tidak bisa maka setidaknya jangan semakin merusaknya...

Happy Reading😇

Kalau suka, jangan lupa Like ya...

kalau menemukan kata yang typo bilang ke aku yaa...

Terimakasih:)

Terpopuler

Comments

Super Multixverse

Super Multixverse

pikacchhuuu

2023-04-03

0

Zuki - Mar

Zuki - Mar

sabar ya Zia.

2023-01-08

1

♡Ñùř♡

♡Ñùř♡

Kasian zia😢😢

2022-09-05

2

lihat semua
Episodes
1 1. Truth or Dare
2 2. Hari Itu(1)
3 3. Hari itu(2)
4 4. Tanggung Jawab?
5 5. UKS
6 6. Zio Pulang
7 7. Nikah?
8 8. Sah
9 9. Kamar Zidan
10 10. Awal Baru
11 11. Khawatir
12 12. Putus
13 13. Upah Pertama
14 14. Ayra Berubah
15 15. Mual
16 16. Minggu dengan Sahabat
17 17. Omellet Lagii
18 18. Kita mau punya ponakan?
19 19. Negatif
20 20. Keanehan Cewek Cupu
21 21. Asing
22 22. Beneran Hamil
23 23. Basecamp Atlansa
24 24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25 25. Kedatangan Bunda dan Mama
26 26. Panik
27 Aksi Atlansa
28 Rumah Sakit
29 Dea
30 Mie Instan
31 Capek
32 Rezekinya Dia
33 Lebih Baik
34 34. Zidan dan Ayra?
35 35. Tak Ingin Usai
36 36. Dea Lagi
37 37. Langit
38 38. Kedondong
39 39. Rumah Sakit
40 40. Kembar
41 41. Makan Pizza
42 42. Ulah Janu
43 43. Zia Overthinking
44 44. Taman Bermain
45 45. Fakta Baru Tentang Ayra
46 46. Siapa pelakunya?
47 47. Kacau
48 48. Basecamp
49 49. Klarifikasi
50 50. Bakso Harga Lima Juta
51 51. Dikeluarkan atau Tidak?
52 52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53 53. Keguguran?
54 54. Vanishing Twin Syndrome
55 55. Mulai Ada Rasa
56 56. Bersama Arin
57 57. Belajar Ciuman
58 58. Tanggung
59 59. Baby Cegukan
60 60. Yang Paling Berkuasa
61 Pengumuman (Bukan Update)
62 61. Sup Ala Zia
63 62. Terbongkar?
64 63. Kecemasan Zia
65 64. Kembali Bersama
66 65. Kangen Mama Papa
67 66. Anak Kita
68 67. Kembalinya Aset Zidan
69 68. Rumah Zidan (Lagi)
70 69. Perhatian dari Mertua
71 70. Om Om Hidung Belang
72 71. Rambutan Botak
73 72. Cinta atau Tanggungjawab?
74 73. Gagal Lagi
75 74. Kumpul Santuy
76 75. I LOVE YOU
77 76. Ceramah Bunda Dian
78 77. Akhirnya
79 78. Nasi Padang
80 79. Petunjuk Baru
81 80. Prenatal Yoga Couple
82 81. Pencarian
83 82. Bu Intan
84 83. Penghianat
85 84. Kehidupan Bu Intan
86 85. Rencana Ke Puncak
87 86. On The Way
88 87. Ayra hamil?
89 88. Waktu Cowok
90 89. Menikmati Malam Di Puncak
91 90. Keinginan Zia
92 91. Tujuh Bulanan
93 92. Ketemu Baby Zira
94 93. Bersama Mama
95 94. Dari Hati ke Hati
96 95. Di Kantor Ayah Dimas
97 96. Mbak-Mbak Genit
98 97. Di Tempat Yoga
99 98. Sebentar Lagi
100 99. Satu Komplek?
101 101. Ucapan Pak Ervan
102 101. Sesama Bumil Remaja
103 102. Serangan Di Sekolah
104 103. Pasca Penyerangan
105 104. Perhatian Istri
106 105. Kasus Baru Lagi
107 106. Cemburu
108 107. Pernah
109 108. Melaporkan Tuan Willy
110 109. Belajar Mengurus Bayi
111 110. Masih Bersama Baby Zira
112 111. Apakah....
113 112. Amukan Sang Mertua
114 113. Posisi Kepala Bayi
115 114. Titik Terang
116 115. Kontraksi Palsu
117 116. Kontraksi Awal
118 117. Bukaan 4
119 118. Masih Bukaan 8
120 119. Persalinan
121 120. Skin To Skin
122 121. Papa Riyan
123 122. 38 Hari Lagi
124 123. Ditemani Ayra
125 124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126 125. Papa Nggak Tau
127 126. Rencana Sekolah Lagi
128 127. Hari Pertama Ulangan
129 128. Setelah 42 Hari
130 129. First Day School
131 130. Pengagum Bapak Anak Satu
132 131. Meminta Belajar Bela Diri
133 132. Pasar Malam
134 133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135 134. Wisata Keluarga
136 135. Tamat
137 Special Part
Episodes

Updated 137 Episodes

1
1. Truth or Dare
2
2. Hari Itu(1)
3
3. Hari itu(2)
4
4. Tanggung Jawab?
5
5. UKS
6
6. Zio Pulang
7
7. Nikah?
8
8. Sah
9
9. Kamar Zidan
10
10. Awal Baru
11
11. Khawatir
12
12. Putus
13
13. Upah Pertama
14
14. Ayra Berubah
15
15. Mual
16
16. Minggu dengan Sahabat
17
17. Omellet Lagii
18
18. Kita mau punya ponakan?
19
19. Negatif
20
20. Keanehan Cewek Cupu
21
21. Asing
22
22. Beneran Hamil
23
23. Basecamp Atlansa
24
24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25
25. Kedatangan Bunda dan Mama
26
26. Panik
27
Aksi Atlansa
28
Rumah Sakit
29
Dea
30
Mie Instan
31
Capek
32
Rezekinya Dia
33
Lebih Baik
34
34. Zidan dan Ayra?
35
35. Tak Ingin Usai
36
36. Dea Lagi
37
37. Langit
38
38. Kedondong
39
39. Rumah Sakit
40
40. Kembar
41
41. Makan Pizza
42
42. Ulah Janu
43
43. Zia Overthinking
44
44. Taman Bermain
45
45. Fakta Baru Tentang Ayra
46
46. Siapa pelakunya?
47
47. Kacau
48
48. Basecamp
49
49. Klarifikasi
50
50. Bakso Harga Lima Juta
51
51. Dikeluarkan atau Tidak?
52
52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53
53. Keguguran?
54
54. Vanishing Twin Syndrome
55
55. Mulai Ada Rasa
56
56. Bersama Arin
57
57. Belajar Ciuman
58
58. Tanggung
59
59. Baby Cegukan
60
60. Yang Paling Berkuasa
61
Pengumuman (Bukan Update)
62
61. Sup Ala Zia
63
62. Terbongkar?
64
63. Kecemasan Zia
65
64. Kembali Bersama
66
65. Kangen Mama Papa
67
66. Anak Kita
68
67. Kembalinya Aset Zidan
69
68. Rumah Zidan (Lagi)
70
69. Perhatian dari Mertua
71
70. Om Om Hidung Belang
72
71. Rambutan Botak
73
72. Cinta atau Tanggungjawab?
74
73. Gagal Lagi
75
74. Kumpul Santuy
76
75. I LOVE YOU
77
76. Ceramah Bunda Dian
78
77. Akhirnya
79
78. Nasi Padang
80
79. Petunjuk Baru
81
80. Prenatal Yoga Couple
82
81. Pencarian
83
82. Bu Intan
84
83. Penghianat
85
84. Kehidupan Bu Intan
86
85. Rencana Ke Puncak
87
86. On The Way
88
87. Ayra hamil?
89
88. Waktu Cowok
90
89. Menikmati Malam Di Puncak
91
90. Keinginan Zia
92
91. Tujuh Bulanan
93
92. Ketemu Baby Zira
94
93. Bersama Mama
95
94. Dari Hati ke Hati
96
95. Di Kantor Ayah Dimas
97
96. Mbak-Mbak Genit
98
97. Di Tempat Yoga
99
98. Sebentar Lagi
100
99. Satu Komplek?
101
101. Ucapan Pak Ervan
102
101. Sesama Bumil Remaja
103
102. Serangan Di Sekolah
104
103. Pasca Penyerangan
105
104. Perhatian Istri
106
105. Kasus Baru Lagi
107
106. Cemburu
108
107. Pernah
109
108. Melaporkan Tuan Willy
110
109. Belajar Mengurus Bayi
111
110. Masih Bersama Baby Zira
112
111. Apakah....
113
112. Amukan Sang Mertua
114
113. Posisi Kepala Bayi
115
114. Titik Terang
116
115. Kontraksi Palsu
117
116. Kontraksi Awal
118
117. Bukaan 4
119
118. Masih Bukaan 8
120
119. Persalinan
121
120. Skin To Skin
122
121. Papa Riyan
123
122. 38 Hari Lagi
124
123. Ditemani Ayra
125
124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126
125. Papa Nggak Tau
127
126. Rencana Sekolah Lagi
128
127. Hari Pertama Ulangan
129
128. Setelah 42 Hari
130
129. First Day School
131
130. Pengagum Bapak Anak Satu
132
131. Meminta Belajar Bela Diri
133
132. Pasar Malam
134
133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135
134. Wisata Keluarga
136
135. Tamat
137
Special Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!