"Zia," panggil Zidan ketika melihat Zia terbangun dari tidurnya. Zia mengucek matanya, kemudian menyergit bingung, dia tadi berada di kelas, kenapa sekarang di UKS.
Zidan yang mengerti akan kebingungan Zia berkata, "Lo ketiduran di kelas, Keyna minta gue buat bawa lo ke UKS, badan lo juga panas."
Zia mengangguk, dengan perlahan bangkit dari tidurnya dan duduk dengan tegak ketika dia ingat ada yang ingin ia sampaikan pada Zidan, dan sekarang adalah waktu yang tepat.
"Zidan, Zia mau ngomong boleh?"
"Ngomong ya ngomong aja kali, " jawabnya terkekeh.
"Tentang yang kemaren mau gimana?" tanya Zia dengan nada pelan, jelas jika ia ragu mengucapkannya.
"Gue kemaren kan bilang, gue bakal tanggung jawab," jawab Zidan serius.
Zia menundukkan kepalanya, selain kepalanya pusing dia juga merasa bingung dengan penyelesaian masalah ini.
Melihat Zia yang masih diam, Zidan melanjutkan perkataannya, "Gue kemaren seharian udah mikir gimana nyelesain masalah ini, gue rasa kita perlu bantuan orangtua kita, kita ngga bisa nyembunyiin masalah ini terus."
"Takut.. " lirih Zia.
"Gue tau, gue juga takut Zi, Gue udah mikir kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Kemungkinan paling besar gue rasa kita bakal dinikahin," tutur Zidan menatap Zia yang masih menunduk.
"Kapan orang tua lo pulang?" tanya Zidan sembari berdiri melangkah mengambil minum untuk Zia.
"Besok kayanya mama sama papa udah pulang, " jawab Zia. Kepalanya sudah tidak menunduk, kini pandangannya tertuju pada Zidan yang sedang menuang air dari dispenser yang tersedia di ruangan itu.
"Lusa gue ke rumah lo sama orangtua gue, kita bicarain masalah ini baik baik. Nih minum dulu, mau minum obat ngga? " tanya Zidan menyodorkan gelas berisi air minum.
Zia meminumnya, kemudian menggeleng menandakan ia tak mau meminum obat.
Berteman lebih dari 4 tahun dengan Zio membuat Zidan tahu jika Zia sangat susah disuruh minum obat.
"Zia harus nikah sama Zidan?" tanya Zia memberikan gelas kosong itu pada Zidan.
"Maaf Zi. Kayanya iya, gue rasa itu jalan paling bener. Gue yang udah rusak lo, jadi gue bakal tanggungjawab. Maaf banget Zi. " Mata Zidan menatap mata Zia yang masih sembab.
"Gue juga takut lo hamil, " lanjut Zidan.
"Kan belum tentu Zia hamil, Zidan," ucap Zia.
"Kan belum tentu itu bukan berarti engga bakal hamil kan? Mama gue dokter spesialis kandungan. Kata mama walaupun cuma sekali ngga menutup kemungkinan untuk hamil, " jawan Zidan.
"Sebelum lo dinyatain beneran hamil gue bakal nikahin lo. Walapun lo ngga hamil pun tekat gue bakal tetep nikahin lo. Lo tau? Gue ngerasa bersalah banget sama lo, gue emang engga keliatan dirugikan, tapi lo? Lo udah engga perawan Zi. Hal yang ngga mungkin bisa gue dikembaliin buat suami lo kelak. " Zidan mengusap wajahnya kasar.
Semuanya terjadi tiba-tiba dan mereka dipaksa menghadapi masalah yang tidak pernah mereka sangka.
"Kalo mama sama papa ngga bolehin Zidan nikah sama Zia gimana?" tanya perempuan imut itu lagi.
"Gue rasa om Riyan sama tante Salma malah bakal nyuruh kita nikah secepetnya, " jawab Zidan yakin.
"Ayra? Kak Zio? mereka gimana? " tanya Zia lagi.
"Itu belakangan ya, habis kita bicarain sama orang tua kita, baru kita urus mereka. Pelan-pelan semuanya bakal terselesaiakan walaupun gue tau pasti bakal banyak air mata yang bakal jatuh terutama Ayra sama lo," tutur Zidan menghela napasnya mengingat Ayra. bagaimana reaksinya saat ia tau nanti.
"Janji ya apapun yang terjadi kedepannya hubungan kalian jangan sampai rusak. Gue tau banget Ayra sesayang apa sama sahabat sahabatnya." Mata Zidan memandang manik mata coklat milik Zia. Zia terdiam, tidak yakin Ayra masih mau berteman dengannya setelah ini.
Tidak mendapat jawaban dari Zia, Zidan pun memilih pergi keluar dari UKS. Menyisakan Zia yang termenung, kejadian ini tidak pernah terlintas di pikiran Zia. Akan sehancur apa hubungan persahabatan mereka nantinya, mengapa harus dia yang mengalami hal itu, dia yang tidak tahu apa apa tiba-tiba harus dihadapkan dengan masalah seperti ini.
Mengingat perkataan Zidan tadi membuatnya semakin takut, ia sangat takut hamil disaat dirinya masih sangat muda, kekanakan, dan sama sekali belum dewasa. Dia bukan Keyna yang bisa mengurus bayi saat umurnya masih 15 tahun.
Zio yang belum pulang juga menambah beban pikirannya. Sekecewa itukah kakaknya? Pasti. Ia saja sangat kecewa dan marah pada dirinya sendiri. Tanpa ia sadari air matanya menetes, keadaannya sekarang membuat ia tak bisa tidak menangis.
##
Kini seorang remaja laki-laki tengah duduk di atas motornya, menatap rumah yang sudah hampir dua hari tidak ia tinggali. Sekarang ia memutuskan untuk pulang, setelah tau jika Zia tadi di sekolah sakit. Sekecewa apapun Zio dia masih sangat peduli pada adik kesayangannya itu.
Perlahan ia turun dari motor dan dengan ragu melangkah memasuki rumah walau perasaannya kacau.
Langkahnya semakin cepat saat menemukan adiknya sedang berjalan dengan sempoyongan menuruni anak tangga.
"Hati-hati! " peringat Zio menangkap tubuh Zia yang akan terhuyung ke depan.
Zia yang mendapati kakaknya langsung memeluk erat tubuh Zio, "Kak, maafin Zia, " ucapnya serak, ia yang semula sudah berhenti menangis kini kembali menangis.
Zio tidak menjawab, ia malah melepaskan pelukan Zia kemudian melangkah kembali menuruni anak tangga menuju dapur. Mengambil minum kemudian menimumnya sembari memandang Zia yang terdiam dan tatapan yang tertuju padanya.
"Kak?" panggil Zia lagi, Zio tidak menjawab bahkan laki-laki itu melewati Zia begitu saja saat menaiki tangga menuju kamarnya.
Zio sebenarnya tidak tega saat melihat tatapan sedih Zia, matanya yang begitu bengkak bukti bahwa dia menangis dalam waktu yang lama, badannya yag panas saat memeluknya tadi juga menandakan dia kurang tidur dan begitu banyak hal yang dipikirkan. Namun, dirinya masih belum bisa menerima semua yang terjadi, rasanya ia seperti bermimpi saat mendapati adik yang selama ini dia jaga sudah dirusak oleh seorang laki-laki yang bahkan dia adalah sahabat Zio sendiri.
Zio membanting tubuhnya di kasur king zise nya. Menatap langit-langit kamarnya, ia juga sama bingungnya dengan Zia. Tadi, sepulang sekolah Zidan menemuinya di Basecamp untuk meminta maaf dan mengajukan diri untuk bertanggungjawab menikahi Zia.
Zio tau Zidan orang yang sangat bertanggungjawab dalam segala hal, tetapi tak bisa menjamin masa depan adiknya akan membaik dengan menikah dengannya. Umur mereka juga masih sangat muda untuk menikah, apalagi bagi Zia yang sangat polos dan manja.
Setelah lama termenung Zio bangkit dari tidurnya, melangkah keluar dari kamar menuju ruang keluarga guna mengambil obat penurun panas di kotak obat yang berada di ruangan itu.
Langkahnya membawa Zio ke dapur, ia akan mengggerus obat itu agar Zia mau meminum obat.
Setelahnya ia membuka pintu kamar Zia dan mendapati Zia yang tengah duduk di lantai bersandar di kaki ranjang dengan keadaan yang sangat berantakan dan terisak kuat sambil menelungkupkan wajahnya diantara lutut yang tertekuk. Saking kuatnya isakan itu sampai tak menyadari kehadiran Zio.
Zio melangkah menuju nakas, meletakkan obat, air putih, serta buah pisang di atasnya. Kemudian menghampiri adiknya dan langsung mengangkat tubuh bergetar itu membuat pemilik tubuh berteriak kaget. Zio menurunkan tubuh Zia dengan perlahan di atas kasur milik perempuan itu, Zia masih terisak.
"Udah nangisnya, nih minum obat dulu," ucapnya sembari mencairkan obat itu dengan sedikit air dari gelas yang ia bawa.
"Diem! Nanti keselek." Setelah menunggu sampai isakan Zia tidak terlalu kuat, Zio menyodorkan sendok yang berisi obat langsung ke mulut Zia, Zia tak berani menolak saat ini, perempuan itu menelannya walaupun rasanya sangat pahit.
"Pait banget," cicit Zia, Zio memberinya minum kemudian buah pisang untuk menghilangkan rasa pahit dari obat.
"Jangan nangis terus, nanti tambah pusing!" peringat Zio yang membuat Zia tersenyum tipis sembari mengangguk, ia merasa senang semarah apapun Zio dia masih tetap kakak yang perhatian.
Belum sempat Zia mengatakan apapun Zio sudah beranjak keluar dari kamar Zia.
...Sesuatu yang sudah rusak tidak bisa dengan mudah diperbaiki,...
...Jika bisa maka tidak akan lagi sama,...
...Jika tidak bisa maka setidaknya jangan semakin merusaknya...
Happy Reading😇
Kalau suka, jangan lupa Like ya...
kalau menemukan kata yang typo bilang ke aku yaa...
Terimakasih:)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Super Multixverse
pikacchhuuu
2023-04-03
0
Zuki - Mar
sabar ya Zia.
2023-01-08
1
♡Ñùř♡
Kasian zia😢😢
2022-09-05
2