Siang harinya kontrakan kecil Zidan dan Zia kedatangan Galen dan Keyna, mereka membawa Arin. Zio saat ini juga belum berniat pulang, ia masih ingin melepas rindu dengan adiknya yang sudah dua minggu ia acuhkan.
"Sakit apa Zi?" tanya Keyna saat mereka sedang duduk bersila di atas kasur dengan Arin di tengah-tengah mereka. Sedangkan para cowok duduk di ruang tengah.
"Mual sama muntah muntah tadi pagi, tapi sekarang udah ngga lagi," jawab Zia yang sedang mengamati Arin yang tengah menyusu dengan dotnya.
"Tapi sekarang Zia kaya kembung gitu rasanya, kayanya Zia masuk angin deh " lanjut Zia menepuk nepuk perutnya yang terasa kembung dan begah.
Keyna mengangguk, tapi pikirannya malah memikirkan kemungkinan yang sedari tadi coba ia tepis.
"Zia udah dateng bulan?" tanya Keyna yang dijawab gelengan kepala oleh Zia.
"Belum. Harusnya beberapa hari lagi," jawab Zia setelah melihat kalender menstruasinya di ponsel.
Keyna menghela napas lega, ia takut kalau Zia hamil. Apalagi ekonominya sekarang belum begitu baik.
"Dede...dede.. " Arin menunjuk perut Zia dengan berguman kata dede berkali kali.
"Ngga ada dedenya sayang," ucap Keyna dengan tangan yang mengelus rambut Arin.
Arin menggeleng kuat hingga rambutnya menyabet wajahnya sendiri, "Nda mama, ada dedena," ujar Arin kemudian.
Keyna hanya tersenyum menanggapi, mungkin Arin mengira Zia seperti tetangganya yang sedang hamil, Arin yang usianya hampir dua tahun itu memang sedang suka sukanya mengoceh.
"Arin mau dede ya?" tanya Zia dengan nada seperti anak kecil. Arin mengangguk lucu dan dengan gemas Zia mencubit ringan pipi Arin.
"Kode tuh Key, minta dibuatin adik," canda Zio yang kebetulan lewat setelah mengambil termos air dari dapur.
Keyna malah tersenyum paksa, mana mungkin ia memberikan Arin adik kalau dirinya saja masih sekolah.
"Adiknya nanti yah, tunggu Arin besar. Kalo udah sekolah nanti boleh minta adik," ucap Keyna saat Arin malah jadi merengek minta adik.
Di ruang tengah para cowok sedang menikmati kopi yang baru saja diseduh, Zidan membeli kopi sachet di warung dekat kontrakan tadi. Sambil menikmati kopi mereka mengobrol, bukan mengobrol lebih ke diskusi.
"Menurut gue emang ada yang sengaja ngejebak lo Dan," ucap Galen setelah Zidan bercerita awal mula kejadian waktu itu.
"Ngga mungkin juga kan kalo ngga ada yang ngejebak bisa bisanya kita dikasih minuman yang sama tapi cuma Zidan doang yang mabuk," ujar Zio menyetujui perkataan Galen.
"Gue udah mikir itu dari lama, cuma belum ada waktu buat nyelidikinnya." ungkap Zidan yang memang sudah curiga dari lama, namun mencari uang untuk sekarang lebih penting darioada mencari pelaku kajadian itu.
"Kita aja yang nyelidikin, lo fokus aja nyari duit sama jagain adek gue," ucap Zio yang perlahan mulai bisa menerima Zidan sebagai adik iparnya, malihat cara Zidan memperlakukan Zia sudah cukup membuat Zio yakin bahwa Zidan tidak akan menyakiti adiknya, mungkin.
Zidan menggelengkan kepala, "gue tetep mau bantu kalian."
"Kapan? Lo jam dua pagi aja udah berangkat kerja, pulang sekolah juga langsung kerja sampe malem." kata Galen menimpali ucapan Zidan. Zidan hanya terdiam, memang ia tidak ada waktu.
"Yaudah thanks kalo kalian mau bantu, kasih tau gue setiap perkembangannya ya." Zidan menyerahkan penyelidikan ini pada para sahabatnya.
"Pasti." Galen berucap sambil menepuk bahu Zidan.
"Langkah pertama kita harus cek CCTV gedung yang kemaren dipake buat pesta Sherena, walaupun kemungkinan besar pasti udah dihapus sama pelakunya, tapi kita punya Zio yang bisa diandelin untuk itu. Lo bisa kan Zi?" Galen seperti biasa akan menjadi serius jika sedang menyusun strategi.
"Gue usahain nanti," ucap Zio.
"Ada yang inget wajah pelayan yang masih minum ngga?" tanya Galen lagi.
"Rada rada lupa si," ringis Zio yang diangguki Zidan. "Coba Keyna. Dia kan paling jeli diantara kita semua," saran Zio.
Obrolan mereka terhenti ketika melihat Zia dan Keyna berjalan keluar kamar, dengan Arin yang berlari dan berhambur ke pangkuan Galen.
"Alin mau punya dede Pa," ucap Arin yang dengan nada memberitahu bukan sedang meminta.
"Iya nanti yaa," ujar Galen yang memandang Keyna yang sudah cemberut. Keyna heran kenapa Arin terus membahas tentang 'dede' sedari tadi.
Yang lain malah terus menggoda Keyna karena perkataan Arin.
"Oiya Key, lo inget wajah pelayan yang masih kita minum waktu di pesta Sherena?" tanya Zio setelah puas menggoda Keyna.
"Masih muda, cantik, tingginya sekitaran 160, ada tahi lalat di atas alis sebelah kiri sama ada bekas luka di lengan kanannya." Semuanya sudah tidak heran dengan kejelian Keyna.
"Bekas luka gimana?" tanya Zidan.
"Agak panjang, Kaya bekas jahitan gitu," jawab Keyna kemudian mengambil gelas yang berisi kopi milik Galen dan meminumnya.
"Nggak heran lo jadi Angel nya Atlansa dua angkatan. Ingatan sama kejelian lo ngga ada tandingannya," kagum Zio sambil bertepuk tangan.
"Papa mau bobo," ujar Arin yang sudah bersandar lesu di dada Galen. Galen berdiri kemudian berjalan mondar mandir sambil menepuk punggung gadis kecil itu. papa-able banget.
"Arin itu beneran anak kalian? Gue masih belum percaya sumpah," kata Zio sembari mengamati Arin yang mulai memejamkan matanya.
"Emm.. Bukan anak kandung si, tapi udah gue anggep anak sendiri," jujur Galen saat Keyna mengisyaratkan untuk jujur dengan menganggukkan kepala.
"Kan gue bilang apa! Ngga mungkin lo punya anak pas umur 15," tukas Zio dengan nada heboh yang langsung dipelototi Galen karena Arin jadi merengek terganggu dengan suara Zio.
"Terus dia anak siapa?" tanya Zidan menunjuk Arin yang dibopong Galen.
"Arin anak kakaknya Keyna sama paman gue," ungkap Galen yang mendapat anggukan dari semuanya.
"Pantes dia mirip Lo sama Keyna," ucap Zio setelah memperhatikan muka Arin yang mirip dengan Keyna dan Galen.
"Orangtua Arin?" Zia yang sedari tadi diam.
Keyna dan Galen sama sama terdiam, membuat Zidan mengalihkan pembicaraan, mengerti bahwa keduanya belum mau membeberkan sejauh itu.
"Zia masih ngerasa begah perutnya?"
Zia mengalihkan tatapannya pada Zidan sembari mengangguk lucu. "Masih Zidan, Nih, " jawabnya menepuk-nepuk perutnya yang kembung.
"Masuk angin Lo kayanya Zi, semalem abis keluar malem emang?" tanya Galen.
"Zia ngga pernah keluar rumah selain sekolah sama belanja, apalagi keluar malem." Zidan yang menjawab sekarang.
"Lo kurung adek gue di rumah terus?" tanya Zio dengan nada kesal.
"Ya nggak juga kali. Kan emang lagi ada masalah juga sama Ayra jadinya Zia ngga pernah mau ikut kalo mereka main," jawab Zidan dengan nada yang ketus juga.
"Ayra emang udah tau kalo kalian udah nikah?" Zidan mengedikkan bahunya.
"Harusnya belum tau, tapi semenjak gue putusin dia langsung berubah gitu, ngejauh dari sahabatnya, terutama Zia. Malah sekarang Ayra sering gue lihat gabung sama gengnya nenek lampir." Zidan menjelaskan apa yang belakangan ia lihat.
"Serius? Ayra sama Adel cs?" kaget Keyna karena tidak pernah melihat Ayra bersama Adel cs.
"Di sekolah kayanya engga pernah, tapi waktu gue kerja di kafe nyokapnya Galen gue udah lihat tiga atau empat kali kayanya." Meskipun melihat Ayra, Zidan selalu tidak menampakkan diri saat di kafe.
Keyna menjadi gelisah, ia tau seperti apa Adel dan teman-temannya. Jika Ayra bergabung dengan mereka takutnya Ayra akan terpengaruh ke dalam hal yang tidak baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments