17. Omellet Lagii

Semua yang Zidan katakan kemarin ternyata benar, pagi ini di SMA Trisatya tengah dihebohkan dengan bergabungnya Ayra dengan Adel dan teman-temannya. Keyna, Sherena, dan Zia dibuat melongo melihat Ayra turun dari mobil Adel.

"Beneran ternyata," guman Keyna dengan mata yang masih tertuju pada Ayra. Galen mengusap lembut jemari Keyna saat tangan gadis itu mengepal.

Mereka masih di parkiran motor, tepatnya di tempat motor-motor sport milik inti Atlansa berjejer rapi.

"Kok Ayra?" bingung Sherena yang langsung turun dari motor Zio lalu berlari menghampiri Ayra. Keyna yang tau ke bar-bar an Sherena segera menyusul diikuti Zia. Sedangkan para cowok hanya memperhatikan dari atas motor, mereka akan turun tangan jika kondisinya sudah membahayakan para gadis mereka.

"Bakalan seru nih," celetuk Dyu dengan menopang dagunya di atas helm yang sedang ia peluk.

Zio berdecak sebal, "mantan lo kenapa Dan, makin hari makin aneh aja." Zidan hanya diam memperhatikan dua kubu cewek yang seperti akan berperang itu. Ia khawatir, tapi entah pada Ayra atau malah menghawatirkan Zia yang tadi pagi kembali muntah-muntah dan sekarang masih terlihat pucat.

"AYRA LO APAPAAN KOK SAMA MAK LAMPIR INI SIH!" teriak Sherena saat sudah di hadapan Ayra, Adel, dan dua teman Adel lainnya.

"Apa? Hak gue dong mau sama siapa aja," ketus Ayra yang tidak suka Sherena meneriakinya.

"Lo tau kan mereka ini siapa? Lo dulu orang paling nentang mereka, kenapa malah sekarang lo bareng mereka?" Sherena sangat kecewa karena Adel adalah musuh bebuyutannya dan sahabatnya, jika Adel sedang membuly maka mereka yang akan menolong korban buly tersebut.

"Minggir cupu, kita mau lewat," ucap Adel dengan gaya sok cantiknya.

"Lo apain sahabat gue hah?" ucap Sherena menunjuk wajah Adel.

Adel tersenyum miring, "Gue ngga ngapa ngapain. Dia yang dateng sendiri ke kita. Bosen kali temenan sama orang cupu kaya kalian."

Keyna menahan lengan Sherena yang akan menampar Adel. Yang malah semakin membuat Adel gencar memancing emosi lawannya.

"Ayra, Lo ikut kita sekarang," ucap Keyna menarik tangan Ayra, Ayra langsung menepis kasar tangan Keyna dan malah mendorong tubuh Keyna. Tubuh Keyna terhuyung ke belakang, tapi tidak sampai jatih karena ditahan oleh Zia.

Galen yang melihat itu tidak terima, ia sudah akan bangkit dari motornya, namun dicegah oleh Langit, "Udah biarin. Itu urusan cewek, lo tau Keyna seperti apa kan?" ucap Langit menenangkan Galen yang tangannya sudah mengepal. Galen mengurungkan niatnya karena ia tau Keyna akan marah jika ada yang ikut campur urusannya, apalagi ini sesama cewek yang bukan lawan Galen.

"Lo kenapa si Ra? Kalo kita ada salah bilang, kalo lo ada masalah juga bilang. Jangan malah kaya gini," ucap Keyna yang jujur sangat kecewa dengan keputusan Ayra.

Ayra hanya diam, bola matanya memutar malas kemudian kembali mendorong Keyna yang menghalangi jalannya. "Minggir!"

Sekarang Zia yang menahan Ayra, "Apa apaan sih kalian," ketus Ayra, Zia yang masih lemas langsung tersungkur ke atas paving karena dirongan kuat Ayra.

"AYRA!" Keyna berteriak karena Ayra sudah kelewatan sekarang, Keyna segera membantu Ayra bangun.

"Lo nggapapa?" Zia hanya menggelengkan kepalanya, sebenarnya perutnya terasa nyeri, mungkin karena efek akan datang bulan.

Tak lama dari itu terdengar suara orang berlari dari arah belakang, ternyata inti Atlansa yang menghampiri mereka.

"Nggapapa Zi? Ada yang sakit ngga?" ucap khawatir Zio dengan kedua tangan di bahu Zia. Zidan juga sebenarnya khawatir namun ia menahan diri untuk tidak mengucapkan apapun, gelengan kepala dari Zia sudah cukup membuatnya lega.

"Aduh pawangnya pada maju nih. TBL TBL takut banget loohh," ejek teman Adel.

"Udah sekarang kita masuk. Ngga usah ngeladenin mereka," ujar Galen menggandeng tangan Keyna, Zia sudah disamping Zidan, Zio tengah mengusap bahu Sherena yang masih terlihat menahan emosi.

Zidan sama sekali tidak menatap Ayra, membuat Ayra semakin emosi, apalgi tatapan Zidan hanya tertuju pada Zia.

"Beneran ngga sakit?" bisik Zidan di samping Zia sembari mereka berjalan.

"Sebenernya perutnya sakit dikit, kaya nyeri gitu, kayanya karena mual tadi pagi, bukan karena Ayra," bisik Zia sambil menunjuk perutnya yang masih sedikit nyeri. Zia tidak mau menutupinya dari Zidan.

"Ke UKS aja ya?" bisik Zidan lagi, Zia menggelengkan kepalanya.

"Ngga mau, Zia mau ke kelas aja. Nanti juga ilang sendiri sakitnya," jawab Zia sambil tersenyum. Interaksi keduanya tidak lepas dari pandangan semua sahabatnya, termasuk Ayra yang masih diam di tempat.

"Kayanya gue ketinggalan berita nih," celetuk Dyu yang sedari tadi di belakang Zidan.

"Nanti gue ceritain," ucap Zidan. Ia tidak bisa menutupinya lagi dari para sahabatnya, makanya ia memutuskan untuk jujur.

"Lo hutang cerita ya, gue tagih nanti." Langit yang berada di sebelah Dyu ikut menimpali.

Zidan mengangguk, mereka berjalan bersama, sampai di belokan keridor kelas mereka harus berpisah karena kelas inti Atlansa dan para cewek berbeda.

Zia mendudukkan dirinya di kursi miliknya, ia sekarang duduk sendiri, biasanya ia bersama Ayra tapi Ayra sekarang memilih duduk dengan orang lain. Zia mengelus perutnya yang bukannya semakin membaik malah semakin nyeri, ia heran apakah sekuat itu ia jatuh sampai ber efek pada perut. Sedangkan tadi pagi setelah muntah saja tidak merasakan apapun.

"Zi lo masih sakit ya?" tanya Keyna saat mendudukkan dirinya di depan Zia. Bibir Zia pucat, tangannya juga dingin.

"Tadi pagi muntah-muntah lagi, jadi nyeri gitu perut Zia," jawab Zia sedikit berbohong, ia takut Keyna malah menyalahkan Ayra.

"Yakin? Bukan karena dorongan Ayra tadi?" Zia menagguk yakin saat Sherena bertanya demikian.

Mereka menawarkan Zia untuk ke UKS saja, namun Zia menolaknya dengan alasan yang sama dengan alasan yang ia berikan pada Zidan.

°°°°

Jam istirahat adalah waktu paling menyenangkan bagi siswa selain jam kosong pelajaran. Dimana siswa akan berbondong-bondong ke kantin guna mengisi perut yang lapar setelah penat dengan pelajaran yang menguras otak.

"Kita ke kantin yuk," ajak Sherena sambil merangkul bahu Keyna dan Zia. Perut Zia sudah tidak sakit lagi membuat kedua sahabatnya lega. Ayra hanya mengamati dari tempat duduknya, ia akan ke kantin menunggu Adel lewat di depan kelasnya.

Setibanya di kantin, Zio memanggil mereka untuk bergabung dalam satu meja, ketiganya tidak menolak karena memang itu sudah biasa.

"Mau pesan apa tuan putri?" tanya Dyu karena hari ini gilirannya memesan.

Sherena dan Keyna menyebutkan pesanan mereka, tapi Zia menolak.

"Kenapa Zi? Ngga ada duit?" tanya Dyu yang dibalas gelengan kepala oleh Zia.

"Ngga pengen makan aja," jawab Zia jujur. Untuk uang ia masih punya, tapi memang ia tidak berselera makan kali ini. Ia dari kemarin juga tidak mau makan jika bukan omellet buatan Zidan.

"Pengennya apa? Omellet lagi?" tanya Zidan lembut. Zia mengangguk dengan semangat, ia memang sekarang kembali menginginkan omellet buatan Zidan.

"Bentar," ucap Zidan kemudian berdiri menuju stand langganannya, ia tadi pagi menitipkan bahan membuat omellet pada pemilik stand tersebut, ia memang selalu siaga untuk istrinya.

Zidan meminta bahan yang tadi pagi ia titipkan lalu mulai meracik kemudian menggorengnya, tentu saja kelakuan Zidan membuat kantin heboh melihat cowok ganteng tengah memasak dengan apron yang ia pinjam juga dari pemilik stand.

Demi apa Zidan pinter masak?

Gilaa Zidan berdamage banget, suami idaman gue nih.

Sayangnya Zidan udah sold out, kalo brlum gue pepet terus.

Eh bukanya udah putus ya sama Ayra?

Dan masih banyak yang mengomentari dan menatap Zidan kagum. Ayra yang baru masuk ke kantin mencium bau masakan yang tidak asing dari indra penciumannya.

Omellet buatan Zidan.

Ayra hapal betul wangi ini, dugaannya ternyata benar saat ia melihat Zidan tengah memasak di salah satu stand. Ayra tidak bisa berbohong kalau sampai sekarang ia masih mencintai Zidan, ia merindukan semua tentang Zidan, termasuk omellet buatan Zidan. Ayra berbalik tidak jadi ke kantin, hatinya sakit kalau melihat Zidan yang sudah bukan miliknya lagi.

"Nih makan," ucap Zidan saat meletakkan sepiring nasi panas dan omellet di hadapan Zia, bersamaan dengan semua pesanan mereka datang.

"Makasih Zidan," ucap Zia yang langsung menyantap omellet itu dengan lahap.

"Lo tiap hari kasih makan Zia omellet?" tanya Zio yang kemarin sudah melihat Zia makan omellet dari pagi sampai siang, dan sekarang lagi? Apa tidak bosan.

"Engga juga. Dari kemaren emang Zia mintanya omellet terus, biasanya mah engga," jawab Zidan sembari memakan baksonya. Zia semalam kembali muntah, dan setelahnya kembali meminta makan omellet, tadi pagi juga. Jadi terhitung ini kelima kali Zidan membuat omellet sejak kemarin pagi.

Keyna dan Galen terkekeh, sedangkan Dyu, Langit, dan Sherena dibuat heran dan bingung, mereka tidak tahu apa apa di sini.

"Sumpah gue kaya orang b e g o disini, kalian harus jelasin nanti sejelas-jelasnya," tuntut Langit yang diangguki Sherena dan Dyu.

°°°°

Hallo semuanya 👋

Happy Reading ♥✨

Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komentar, dan juga vote yaa

Terpopuler

Comments

khailen asa

khailen asa

><

2023-01-18

1

Zuki - Mar

Zuki - Mar

entah knp JD skit HTI. kasian sama ayra. tp di lapak sebelah si ayra udh nikah SMA ervan

2023-01-08

2

lihat semua
Episodes
1 1. Truth or Dare
2 2. Hari Itu(1)
3 3. Hari itu(2)
4 4. Tanggung Jawab?
5 5. UKS
6 6. Zio Pulang
7 7. Nikah?
8 8. Sah
9 9. Kamar Zidan
10 10. Awal Baru
11 11. Khawatir
12 12. Putus
13 13. Upah Pertama
14 14. Ayra Berubah
15 15. Mual
16 16. Minggu dengan Sahabat
17 17. Omellet Lagii
18 18. Kita mau punya ponakan?
19 19. Negatif
20 20. Keanehan Cewek Cupu
21 21. Asing
22 22. Beneran Hamil
23 23. Basecamp Atlansa
24 24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25 25. Kedatangan Bunda dan Mama
26 26. Panik
27 Aksi Atlansa
28 Rumah Sakit
29 Dea
30 Mie Instan
31 Capek
32 Rezekinya Dia
33 Lebih Baik
34 34. Zidan dan Ayra?
35 35. Tak Ingin Usai
36 36. Dea Lagi
37 37. Langit
38 38. Kedondong
39 39. Rumah Sakit
40 40. Kembar
41 41. Makan Pizza
42 42. Ulah Janu
43 43. Zia Overthinking
44 44. Taman Bermain
45 45. Fakta Baru Tentang Ayra
46 46. Siapa pelakunya?
47 47. Kacau
48 48. Basecamp
49 49. Klarifikasi
50 50. Bakso Harga Lima Juta
51 51. Dikeluarkan atau Tidak?
52 52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53 53. Keguguran?
54 54. Vanishing Twin Syndrome
55 55. Mulai Ada Rasa
56 56. Bersama Arin
57 57. Belajar Ciuman
58 58. Tanggung
59 59. Baby Cegukan
60 60. Yang Paling Berkuasa
61 Pengumuman (Bukan Update)
62 61. Sup Ala Zia
63 62. Terbongkar?
64 63. Kecemasan Zia
65 64. Kembali Bersama
66 65. Kangen Mama Papa
67 66. Anak Kita
68 67. Kembalinya Aset Zidan
69 68. Rumah Zidan (Lagi)
70 69. Perhatian dari Mertua
71 70. Om Om Hidung Belang
72 71. Rambutan Botak
73 72. Cinta atau Tanggungjawab?
74 73. Gagal Lagi
75 74. Kumpul Santuy
76 75. I LOVE YOU
77 76. Ceramah Bunda Dian
78 77. Akhirnya
79 78. Nasi Padang
80 79. Petunjuk Baru
81 80. Prenatal Yoga Couple
82 81. Pencarian
83 82. Bu Intan
84 83. Penghianat
85 84. Kehidupan Bu Intan
86 85. Rencana Ke Puncak
87 86. On The Way
88 87. Ayra hamil?
89 88. Waktu Cowok
90 89. Menikmati Malam Di Puncak
91 90. Keinginan Zia
92 91. Tujuh Bulanan
93 92. Ketemu Baby Zira
94 93. Bersama Mama
95 94. Dari Hati ke Hati
96 95. Di Kantor Ayah Dimas
97 96. Mbak-Mbak Genit
98 97. Di Tempat Yoga
99 98. Sebentar Lagi
100 99. Satu Komplek?
101 101. Ucapan Pak Ervan
102 101. Sesama Bumil Remaja
103 102. Serangan Di Sekolah
104 103. Pasca Penyerangan
105 104. Perhatian Istri
106 105. Kasus Baru Lagi
107 106. Cemburu
108 107. Pernah
109 108. Melaporkan Tuan Willy
110 109. Belajar Mengurus Bayi
111 110. Masih Bersama Baby Zira
112 111. Apakah....
113 112. Amukan Sang Mertua
114 113. Posisi Kepala Bayi
115 114. Titik Terang
116 115. Kontraksi Palsu
117 116. Kontraksi Awal
118 117. Bukaan 4
119 118. Masih Bukaan 8
120 119. Persalinan
121 120. Skin To Skin
122 121. Papa Riyan
123 122. 38 Hari Lagi
124 123. Ditemani Ayra
125 124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126 125. Papa Nggak Tau
127 126. Rencana Sekolah Lagi
128 127. Hari Pertama Ulangan
129 128. Setelah 42 Hari
130 129. First Day School
131 130. Pengagum Bapak Anak Satu
132 131. Meminta Belajar Bela Diri
133 132. Pasar Malam
134 133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135 134. Wisata Keluarga
136 135. Tamat
137 Special Part
Episodes

Updated 137 Episodes

1
1. Truth or Dare
2
2. Hari Itu(1)
3
3. Hari itu(2)
4
4. Tanggung Jawab?
5
5. UKS
6
6. Zio Pulang
7
7. Nikah?
8
8. Sah
9
9. Kamar Zidan
10
10. Awal Baru
11
11. Khawatir
12
12. Putus
13
13. Upah Pertama
14
14. Ayra Berubah
15
15. Mual
16
16. Minggu dengan Sahabat
17
17. Omellet Lagii
18
18. Kita mau punya ponakan?
19
19. Negatif
20
20. Keanehan Cewek Cupu
21
21. Asing
22
22. Beneran Hamil
23
23. Basecamp Atlansa
24
24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25
25. Kedatangan Bunda dan Mama
26
26. Panik
27
Aksi Atlansa
28
Rumah Sakit
29
Dea
30
Mie Instan
31
Capek
32
Rezekinya Dia
33
Lebih Baik
34
34. Zidan dan Ayra?
35
35. Tak Ingin Usai
36
36. Dea Lagi
37
37. Langit
38
38. Kedondong
39
39. Rumah Sakit
40
40. Kembar
41
41. Makan Pizza
42
42. Ulah Janu
43
43. Zia Overthinking
44
44. Taman Bermain
45
45. Fakta Baru Tentang Ayra
46
46. Siapa pelakunya?
47
47. Kacau
48
48. Basecamp
49
49. Klarifikasi
50
50. Bakso Harga Lima Juta
51
51. Dikeluarkan atau Tidak?
52
52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53
53. Keguguran?
54
54. Vanishing Twin Syndrome
55
55. Mulai Ada Rasa
56
56. Bersama Arin
57
57. Belajar Ciuman
58
58. Tanggung
59
59. Baby Cegukan
60
60. Yang Paling Berkuasa
61
Pengumuman (Bukan Update)
62
61. Sup Ala Zia
63
62. Terbongkar?
64
63. Kecemasan Zia
65
64. Kembali Bersama
66
65. Kangen Mama Papa
67
66. Anak Kita
68
67. Kembalinya Aset Zidan
69
68. Rumah Zidan (Lagi)
70
69. Perhatian dari Mertua
71
70. Om Om Hidung Belang
72
71. Rambutan Botak
73
72. Cinta atau Tanggungjawab?
74
73. Gagal Lagi
75
74. Kumpul Santuy
76
75. I LOVE YOU
77
76. Ceramah Bunda Dian
78
77. Akhirnya
79
78. Nasi Padang
80
79. Petunjuk Baru
81
80. Prenatal Yoga Couple
82
81. Pencarian
83
82. Bu Intan
84
83. Penghianat
85
84. Kehidupan Bu Intan
86
85. Rencana Ke Puncak
87
86. On The Way
88
87. Ayra hamil?
89
88. Waktu Cowok
90
89. Menikmati Malam Di Puncak
91
90. Keinginan Zia
92
91. Tujuh Bulanan
93
92. Ketemu Baby Zira
94
93. Bersama Mama
95
94. Dari Hati ke Hati
96
95. Di Kantor Ayah Dimas
97
96. Mbak-Mbak Genit
98
97. Di Tempat Yoga
99
98. Sebentar Lagi
100
99. Satu Komplek?
101
101. Ucapan Pak Ervan
102
101. Sesama Bumil Remaja
103
102. Serangan Di Sekolah
104
103. Pasca Penyerangan
105
104. Perhatian Istri
106
105. Kasus Baru Lagi
107
106. Cemburu
108
107. Pernah
109
108. Melaporkan Tuan Willy
110
109. Belajar Mengurus Bayi
111
110. Masih Bersama Baby Zira
112
111. Apakah....
113
112. Amukan Sang Mertua
114
113. Posisi Kepala Bayi
115
114. Titik Terang
116
115. Kontraksi Palsu
117
116. Kontraksi Awal
118
117. Bukaan 4
119
118. Masih Bukaan 8
120
119. Persalinan
121
120. Skin To Skin
122
121. Papa Riyan
123
122. 38 Hari Lagi
124
123. Ditemani Ayra
125
124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126
125. Papa Nggak Tau
127
126. Rencana Sekolah Lagi
128
127. Hari Pertama Ulangan
129
128. Setelah 42 Hari
130
129. First Day School
131
130. Pengagum Bapak Anak Satu
132
131. Meminta Belajar Bela Diri
133
132. Pasar Malam
134
133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135
134. Wisata Keluarga
136
135. Tamat
137
Special Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!