Semua yang Zidan katakan kemarin ternyata benar, pagi ini di SMA Trisatya tengah dihebohkan dengan bergabungnya Ayra dengan Adel dan teman-temannya. Keyna, Sherena, dan Zia dibuat melongo melihat Ayra turun dari mobil Adel.
"Beneran ternyata," guman Keyna dengan mata yang masih tertuju pada Ayra. Galen mengusap lembut jemari Keyna saat tangan gadis itu mengepal.
Mereka masih di parkiran motor, tepatnya di tempat motor-motor sport milik inti Atlansa berjejer rapi.
"Kok Ayra?" bingung Sherena yang langsung turun dari motor Zio lalu berlari menghampiri Ayra. Keyna yang tau ke bar-bar an Sherena segera menyusul diikuti Zia. Sedangkan para cowok hanya memperhatikan dari atas motor, mereka akan turun tangan jika kondisinya sudah membahayakan para gadis mereka.
"Bakalan seru nih," celetuk Dyu dengan menopang dagunya di atas helm yang sedang ia peluk.
Zio berdecak sebal, "mantan lo kenapa Dan, makin hari makin aneh aja." Zidan hanya diam memperhatikan dua kubu cewek yang seperti akan berperang itu. Ia khawatir, tapi entah pada Ayra atau malah menghawatirkan Zia yang tadi pagi kembali muntah-muntah dan sekarang masih terlihat pucat.
"AYRA LO APAPAAN KOK SAMA MAK LAMPIR INI SIH!" teriak Sherena saat sudah di hadapan Ayra, Adel, dan dua teman Adel lainnya.
"Apa? Hak gue dong mau sama siapa aja," ketus Ayra yang tidak suka Sherena meneriakinya.
"Lo tau kan mereka ini siapa? Lo dulu orang paling nentang mereka, kenapa malah sekarang lo bareng mereka?" Sherena sangat kecewa karena Adel adalah musuh bebuyutannya dan sahabatnya, jika Adel sedang membuly maka mereka yang akan menolong korban buly tersebut.
"Minggir cupu, kita mau lewat," ucap Adel dengan gaya sok cantiknya.
"Lo apain sahabat gue hah?" ucap Sherena menunjuk wajah Adel.
Adel tersenyum miring, "Gue ngga ngapa ngapain. Dia yang dateng sendiri ke kita. Bosen kali temenan sama orang cupu kaya kalian."
Keyna menahan lengan Sherena yang akan menampar Adel. Yang malah semakin membuat Adel gencar memancing emosi lawannya.
"Ayra, Lo ikut kita sekarang," ucap Keyna menarik tangan Ayra, Ayra langsung menepis kasar tangan Keyna dan malah mendorong tubuh Keyna. Tubuh Keyna terhuyung ke belakang, tapi tidak sampai jatih karena ditahan oleh Zia.
Galen yang melihat itu tidak terima, ia sudah akan bangkit dari motornya, namun dicegah oleh Langit, "Udah biarin. Itu urusan cewek, lo tau Keyna seperti apa kan?" ucap Langit menenangkan Galen yang tangannya sudah mengepal. Galen mengurungkan niatnya karena ia tau Keyna akan marah jika ada yang ikut campur urusannya, apalagi ini sesama cewek yang bukan lawan Galen.
"Lo kenapa si Ra? Kalo kita ada salah bilang, kalo lo ada masalah juga bilang. Jangan malah kaya gini," ucap Keyna yang jujur sangat kecewa dengan keputusan Ayra.
Ayra hanya diam, bola matanya memutar malas kemudian kembali mendorong Keyna yang menghalangi jalannya. "Minggir!"
Sekarang Zia yang menahan Ayra, "Apa apaan sih kalian," ketus Ayra, Zia yang masih lemas langsung tersungkur ke atas paving karena dirongan kuat Ayra.
"AYRA!" Keyna berteriak karena Ayra sudah kelewatan sekarang, Keyna segera membantu Ayra bangun.
"Lo nggapapa?" Zia hanya menggelengkan kepalanya, sebenarnya perutnya terasa nyeri, mungkin karena efek akan datang bulan.
Tak lama dari itu terdengar suara orang berlari dari arah belakang, ternyata inti Atlansa yang menghampiri mereka.
"Nggapapa Zi? Ada yang sakit ngga?" ucap khawatir Zio dengan kedua tangan di bahu Zia. Zidan juga sebenarnya khawatir namun ia menahan diri untuk tidak mengucapkan apapun, gelengan kepala dari Zia sudah cukup membuatnya lega.
"Aduh pawangnya pada maju nih. TBL TBL takut banget loohh," ejek teman Adel.
"Udah sekarang kita masuk. Ngga usah ngeladenin mereka," ujar Galen menggandeng tangan Keyna, Zia sudah disamping Zidan, Zio tengah mengusap bahu Sherena yang masih terlihat menahan emosi.
Zidan sama sekali tidak menatap Ayra, membuat Ayra semakin emosi, apalgi tatapan Zidan hanya tertuju pada Zia.
"Beneran ngga sakit?" bisik Zidan di samping Zia sembari mereka berjalan.
"Sebenernya perutnya sakit dikit, kaya nyeri gitu, kayanya karena mual tadi pagi, bukan karena Ayra," bisik Zia sambil menunjuk perutnya yang masih sedikit nyeri. Zia tidak mau menutupinya dari Zidan.
"Ke UKS aja ya?" bisik Zidan lagi, Zia menggelengkan kepalanya.
"Ngga mau, Zia mau ke kelas aja. Nanti juga ilang sendiri sakitnya," jawab Zia sambil tersenyum. Interaksi keduanya tidak lepas dari pandangan semua sahabatnya, termasuk Ayra yang masih diam di tempat.
"Kayanya gue ketinggalan berita nih," celetuk Dyu yang sedari tadi di belakang Zidan.
"Nanti gue ceritain," ucap Zidan. Ia tidak bisa menutupinya lagi dari para sahabatnya, makanya ia memutuskan untuk jujur.
"Lo hutang cerita ya, gue tagih nanti." Langit yang berada di sebelah Dyu ikut menimpali.
Zidan mengangguk, mereka berjalan bersama, sampai di belokan keridor kelas mereka harus berpisah karena kelas inti Atlansa dan para cewek berbeda.
Zia mendudukkan dirinya di kursi miliknya, ia sekarang duduk sendiri, biasanya ia bersama Ayra tapi Ayra sekarang memilih duduk dengan orang lain. Zia mengelus perutnya yang bukannya semakin membaik malah semakin nyeri, ia heran apakah sekuat itu ia jatuh sampai ber efek pada perut. Sedangkan tadi pagi setelah muntah saja tidak merasakan apapun.
"Zi lo masih sakit ya?" tanya Keyna saat mendudukkan dirinya di depan Zia. Bibir Zia pucat, tangannya juga dingin.
"Tadi pagi muntah-muntah lagi, jadi nyeri gitu perut Zia," jawab Zia sedikit berbohong, ia takut Keyna malah menyalahkan Ayra.
"Yakin? Bukan karena dorongan Ayra tadi?" Zia menagguk yakin saat Sherena bertanya demikian.
Mereka menawarkan Zia untuk ke UKS saja, namun Zia menolaknya dengan alasan yang sama dengan alasan yang ia berikan pada Zidan.
°°°°
Jam istirahat adalah waktu paling menyenangkan bagi siswa selain jam kosong pelajaran. Dimana siswa akan berbondong-bondong ke kantin guna mengisi perut yang lapar setelah penat dengan pelajaran yang menguras otak.
"Kita ke kantin yuk," ajak Sherena sambil merangkul bahu Keyna dan Zia. Perut Zia sudah tidak sakit lagi membuat kedua sahabatnya lega. Ayra hanya mengamati dari tempat duduknya, ia akan ke kantin menunggu Adel lewat di depan kelasnya.
Setibanya di kantin, Zio memanggil mereka untuk bergabung dalam satu meja, ketiganya tidak menolak karena memang itu sudah biasa.
"Mau pesan apa tuan putri?" tanya Dyu karena hari ini gilirannya memesan.
Sherena dan Keyna menyebutkan pesanan mereka, tapi Zia menolak.
"Kenapa Zi? Ngga ada duit?" tanya Dyu yang dibalas gelengan kepala oleh Zia.
"Ngga pengen makan aja," jawab Zia jujur. Untuk uang ia masih punya, tapi memang ia tidak berselera makan kali ini. Ia dari kemarin juga tidak mau makan jika bukan omellet buatan Zidan.
"Pengennya apa? Omellet lagi?" tanya Zidan lembut. Zia mengangguk dengan semangat, ia memang sekarang kembali menginginkan omellet buatan Zidan.
"Bentar," ucap Zidan kemudian berdiri menuju stand langganannya, ia tadi pagi menitipkan bahan membuat omellet pada pemilik stand tersebut, ia memang selalu siaga untuk istrinya.
Zidan meminta bahan yang tadi pagi ia titipkan lalu mulai meracik kemudian menggorengnya, tentu saja kelakuan Zidan membuat kantin heboh melihat cowok ganteng tengah memasak dengan apron yang ia pinjam juga dari pemilik stand.
Demi apa Zidan pinter masak?
Gilaa Zidan berdamage banget, suami idaman gue nih.
Sayangnya Zidan udah sold out, kalo brlum gue pepet terus.
Eh bukanya udah putus ya sama Ayra?
Dan masih banyak yang mengomentari dan menatap Zidan kagum. Ayra yang baru masuk ke kantin mencium bau masakan yang tidak asing dari indra penciumannya.
Omellet buatan Zidan.
Ayra hapal betul wangi ini, dugaannya ternyata benar saat ia melihat Zidan tengah memasak di salah satu stand. Ayra tidak bisa berbohong kalau sampai sekarang ia masih mencintai Zidan, ia merindukan semua tentang Zidan, termasuk omellet buatan Zidan. Ayra berbalik tidak jadi ke kantin, hatinya sakit kalau melihat Zidan yang sudah bukan miliknya lagi.
"Nih makan," ucap Zidan saat meletakkan sepiring nasi panas dan omellet di hadapan Zia, bersamaan dengan semua pesanan mereka datang.
"Makasih Zidan," ucap Zia yang langsung menyantap omellet itu dengan lahap.
"Lo tiap hari kasih makan Zia omellet?" tanya Zio yang kemarin sudah melihat Zia makan omellet dari pagi sampai siang, dan sekarang lagi? Apa tidak bosan.
"Engga juga. Dari kemaren emang Zia mintanya omellet terus, biasanya mah engga," jawab Zidan sembari memakan baksonya. Zia semalam kembali muntah, dan setelahnya kembali meminta makan omellet, tadi pagi juga. Jadi terhitung ini kelima kali Zidan membuat omellet sejak kemarin pagi.
Keyna dan Galen terkekeh, sedangkan Dyu, Langit, dan Sherena dibuat heran dan bingung, mereka tidak tahu apa apa di sini.
"Sumpah gue kaya orang b e g o disini, kalian harus jelasin nanti sejelas-jelasnya," tuntut Langit yang diangguki Sherena dan Dyu.
°°°°
Hallo semuanya 👋
Happy Reading ♥✨
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komentar, dan juga vote yaa
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
khailen asa
><
2023-01-18
1
Zuki - Mar
entah knp JD skit HTI. kasian sama ayra. tp di lapak sebelah si ayra udh nikah SMA ervan
2023-01-08
2