"Mau maling ceritanya Bang?" kata Zidan sebelum menghempaskan kedua tangan maling tersebut dan meninju salah satunya. Menjadi awal terjadinya perkelahian dua lawan satu tersebut.
Zidan awalnya masih bisa melawan, namun saat Zidan melawan yang satu, satu yang lain mengeluarkan pisau dan saat Zidan lengah menggoreskan pisau itu pada lengan Zidan.
"Awsh..." Zidan meringis merasakan perih akibat goresan pisau tersebut. Namun, ia tak berhenti hanya karena itu. Ia dengan cepat bisa menampis tangan maling yang memegang pisau dengan kakinya hingga pisau itu terlempar dan lepas dari tangan maling tersebut.
Warga yang mendengar keributan dari area pojok pasar berbondong-bondong menghampiri, dan mendapati dua orang yang berpenampilan seperti preman dan seorang remaja laki-laki tengah berkelahi.
Saat melihat segerombolan orang menghampiri, kedua maling itu langsung lari terburu-buru sebelum diamuk masa.
"Masnya nggapapa?" tanya salah seorang warga.
Zidan menggeleng sembari mengusap lengannya yang berdarah. Zidan diberi minum dan dipersilahkan duduk untuk menunggu pemilik toko yang akan datang. Salah seorang warga sedang memanggilnya di rumah yang tak jauh dari pasar.
Tak lama kemudian terlihat seorang pria paruh baya yang tengah berjalan dengan terburu-buru, sepertinya itu pemilik toko.
"Bagaimana Pak? Mana malingnya?" tanya pria paruh baya tersebut.
"Malingnya berhasil kabur, tapi Alhamdulillah ada mas ini yang mergokin malingnya waktu mau buka toko Pak Haji," jawab salah seorang warga dengan menunjuk Zidan. Orang yang dipanggil Pak Haji itu mengalihkan pandangannya pada Zidan, dan Zidan hanya tersenyum ramah menanggapinya.
"Terima kasih banyak Nak." Zidan membalasnya dengan anggukan kepala dan tersenyum.
"Kami permisi dulu Pak Haji," pamit warga yang dibalas anggukan kepala dan ucapan terima kasih dari Pak Haji.
"Astaghfirulloh! Nak tangannya," ucap pemilik toko saat melihat darah mengalir di sekitar jemari tangan Zidan. Zidan melihat tangannya kemudian mendengus, darahnya kenapa harus mengalir jadinya kan kelihatan. Niat awal tidak ingin orang lain tau luka dibalik jaket hitam itu gagal, darahnya keluar sampai telapak tangan padahal lukanya tidak parah.
"Nggapapa Pak. Saya udah biasa," jawab Zidan jujur, memang sering ia terluka kecil seperti ini mengingat dirinya yang anggota dari Atlansa.
"Ke rumah sakit saja Nak, takut lukanya dalam, nanti saya yang bayar, " tawar Pak Haji lagi.
"Ngga usah Pak, terima kasih. Ini luka kecil, Bapak tidak perlu khawatir," jawab Zidan ramah.
°°°°°
Zidan membuka pintu kontrakan saat jam di ponselnya menunjukkan pukul sembilan malam. Hal yang pertama ia dapati adalah Zia yang tertidur dalam posisi duduk di meja makan. Zidan tanpa sadar tersenyum, tangannya menyingkap rambut yang menutupi wajah Zia. Entah Zia yang tidak benar benar tidur atau memang tindakan Zidan mengganggu tidurnya. Perempuan itu menggerakkan kepalanya dan menegakkannya dengan mata yang menyipit.
"Sorry gue ganggu tidur lo," ucap Zidan saat Zia menatapnya.
Zia menggelengkan kepalanya cepat, ia memang sengaja menunggu Zidan pulang. Setidaknya itu yang pernah ia lihat saat di rumah dulu, mamanya menunggu papa pulang di ruang keluarga, baru mereka akan makan malam atau langsung masuk kamar saat papa sudah pulang.
"Zia nungguin Zidan. Zidan ngga laper?" tanya Zia karena dirinya sudah lapar, sedari sampai di kontrakan ini sampai sekarang ia belum makan sama sekali. Terakhir kali ia makan sebelum datang ke kontrakan, tepatnya saat jam makan siang di rumah Zidan.
"Gue laper juga, kenapa lo ngga makan duluan aja tadi?" tanya Zidan sembari duduk disamping Zia.
Zia menggelengkan kepalanya, "Zia bikin mie dulu ya, soalnya belum ada bahan makanan yang lain," ucapnya kemudian bangkit menuju dapur.
Setelah kepergian Zia, Zidan memutuskan untuk mandi sembari menunggu Zia memasak mie.
Beberapa menit kemudian, Zidan sudah selesai mandi, saat keluar dari kamar mandi ia melihat Zia yang sedang duduk di kursi dengan kaki yang mengayun-ayun dan sibuk bermain ponsel. Zidan juga melihat dua mangkok mie kuah di meja makan.
Zidan menaruh handuk terlebih dahulu di kamar, kemudian kembali ke meja makan dengan rambut yang masih basah.
"Udah dulu main hp nya, makan!" perintah Zidan sembari menarik mangkok mie ke hadapannya. Zia menaruh ponselnya dan mulai makan bersama Zidan. Sikap Zia sedari tadi membuat Zidan merasa dihargai sebagai suami.
Ini pertama kali mereka makan hanya berdua, rasanya masih sedikit canggung dan dihiasi keheningan.
"Gue udah dapet kerjaan, jadi kuli angkut di pasar deket dari sini. Walaupun sedikit tapi lumayanlah buat penghasilan tambahan," ucap Zidan ditengah mereka makan mie.
"Gue mulai kerja dari jam dua pagi sampe jam subuh," tambah Zidan.
Zia sedikit melebarkan matanya saat mendengar pekerjaan baru Zidan, rasanya tidak adil saat dia tertidur malah Zidan harus bekerja keras demi kehidupannya.
"Zidan enggapapa kerja jam segitu? nanti di sekolah ngantuk gimana?" tanya Zia terdengar khawatir.
Zidan menggelengkan kepalanya, "Gue nggapapa. Udah biasa juga ngga tidur."
"Mulai kapan Zidan kerjanya?"
"Disuruhnya lusa, nunggu lukanya agak sembuh dulu," ucap Zidan mengangkat tangan kirinya yang terluka. Tadi setelah menolong Pak Haji dari maling, Pak Haji memberinya pekerjaan di toko sebagai kuli angkut beras dan sembako saat ia menanyakan tujuan Zidan ke pasar malam-malam guna mencari pekerjaan.
Zia membelakkan matanya melihat luka gores di lengan Zidan. "Kok ngga bilang dari tadi ada luka. Itu kenapa bisa gitu? Kenapa belum diobatin juga," omel Zia kemudian beranjak dari duduknya dengan tergesa-gesa.
"Mau kemana?" tanya Zidan saat Zia meninggalkan meja makan. Tak mendapat jawaban sampai tubuh mungil itu masuk ke kamar dan keluar kembali membawa kotak P3K yang Zidan bawa dari kamar lamanya. Zidan seperti sudah tau jika dirinya tidak bisa terhindar dari luka-luka kecil seperti ini.
Zia dengan mata yang sudah mengembun kembali duduk di kursinya dan mulai mengobati lengan Zidan, memang tidak besar lukanya, tapi Zia takut lukanya infeksi karena tidak segera diobati.
"Kenapa malah nangis?" tanya Zidan saat melihat setetes air mata jatuh di pipi Zia. Zia segera mengusapnya sebelum menggelengkan kepala.
Zidan terus memperhatikan Zia yang mengobati lukanya dengan sangat perlahan, bahkan tangannya sedikit bergetar. Entah itu karena takut darah atau karena khawatir. Tapi kalau takut darah, lukanya kan sudah tidak berdarah, ia sudah membersihkannya saat mandi dan yang tersisa hanya sedikit darah di sekitar luka.
"Lo khawatirin gue?" tanya Zidan yang dijawab anggukan oleh Zia, ia memang selalu jujur.
"Zia takut Zidan kenapa napa. Zia sekarang cuma punya Zidan," ucap Zia dengan rasa sesak di dadanya. Orangtua serta kakaknya seperti sudah tidak menganggapnya, jika bukan dengan Zidan, dengan siapa lagi ia berlindung sekarang.
"Gue nggapapa Zia."
Zidan menceritakan bagaimana saat dia mencari pekerjaan dari toko satu ke toko lainnya, saat dia berkelahi dengan maling, dan saat dia diberi pekerjaan oleh Pak Haji sebagai tanda terima kasih karena telah menggagalkan maling yang akan mencuri di tokonya. Zidan juga mengungkapkan bahwa itu bukan satu-satunya pekerjaannya, ia masih akan mencari pekerjaan yang bisa dikerjakan sepulang sekolah.
°°°°
"Si Jidan ngga ikut kumpul lagi nih? " tanya Dyu. Saat ini Galen, Zio, dan Dyu sedang berada di basecamp. Rencananya malam ini mereka akan ke rumah sakit dimana Langit berada sekarang sesuai dengan lacakan Zio.
"Zidan ngga boleh keluar malem dulu sama bokapnya karena masalah mabuk waktu itu," jawab Galen mencoba menutupi fakta yang sesungguhnya.
"Lah masih berlanjut ternyata. Kirain udah digebugin ya udah selesai," celetuk Dyu dengan kekehannya.
'Iya masih berlanjut seumur hidup Zidan malah' ucap Galen dalam hati.
"Udah ayo berangkat sekarang aja, takutnya kemaleman sampe sananya," kata Zio.
Zio masih enggan membahas apapun tentang Zidan. Cowok bre**sek yang menghancurkan masa depan adik kesayangannya.
Galen menyetujui karena takutnya juga Langit kenapa-napa sampai harus di rumah sakit segala.
°°°°
... Happy Reading ✨♥...
...Kalau suka boleh dong aku minta like nya 👍...
...Kalau mau kasih komentar juga boleh...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Lah adek lo juga sok polos,tapi saat di polosin mau2 aja gak berontak..malah dia yg lebih agresif..🙄🙄🙄
2024-02-08
0
Sifni Fitni
zio , zidan mah gk tau apa" jngn d marahin truss dong . kn udh tnggung jawab
2023-02-09
1
Aisyah
sedik pas Zia bilng ndk punya so2,smngat thor
2022-10-03
3