Pukul 04.30 alarm dari ponsel Zidan terus berbunyi membuat tidur sepasang pasutri remaja itu terusik. Dengan malas Zidan meraih ponselnya guna mematikan alarm, kemudian bangun dan berjalan gontai keluar kamar menuju ke kamar mandi. Sedangkan Zia masih mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha menghilangkan rasa kantuk di matanya, biasanya jam segini ia masih tidur.
"Bangun Zi, subuh dulu," ucap Zidan dengan wajah yang segar saat kembali ke kamar setelah berwudhu. Zia pun dengan wajah yang masih mengantuk mencoba bangun dan berjalan gontai menuju kamar mandi.
Selama Zia berwudhu Zidan menyiapkan alat sholat untuk dirinya juga Zia. Ini pertama kali mereka akan solat berjamaah, entah mengapa Zidan merasa deg-degan saat membayangkan ia akan menjadi imam solat untuk istrinya. Rasanya aneh tapi juga bahagia.
Setelah selesai menjalankan kewajiban sebagai umat Islam, dan mengelap motor yang tadi malam ia masukkan ke ruang tamu sekarang Zidan izin berolahraga lari keliling pemukiman sebentar, sama dengan kebiasaan Zidan saat masih di rumah orangtuanya, yang berbeda hanya yang dulunya berkeliling kompleks perumahan mewah, sekarang hanya berkeliling pemukiman kelas bawah.
Zia yang masih mengantuk kembali tertidur. Hari ini solat subuh paling awal bagi Zia, biasanya Zia solat subuh hampir setengah enam.
Zidan dan Zia berangkat ke sekolah bersama-sama dengan menaiki motor sport milik Zidan. Zia meminta turun di jarak 100 meter dari gerbang sekolah. Zidan pun menyetujuinya walaupun merasa tidak tega, semua demi kebaikan dan kenyamanan mereka di sekolah. Semua warga sekolah tau bahwa Zidan adalah kekasih Ayra, jadi untuk mengatisipasi terjadinya salah paham mereka membuat kesepakatan ini.
Zidan menghentikan motornya di parkiran yang biasa ia dan sahabat-sahabatnya gunakan. Zidan mendengus kesal saat ingat hari ini semua sahabatnya tidak ada yang berangkat, semalam mereka memberitahunya bahwa mereka akan menyusul Langit. Zidan ingin ikut, namun ia juga tidak bisa meninggalkan Zia di rumah sendirian, apalagi mereka baru pertama kali menempati rumah itu.
Zidan diam di atas motor menunggu Zia memasuki gerbang, saat sudah melihat sang istri sedang berjalan di koridor kelas ia baru turun dari motor dan melangkah menuju kelasnya. Sepertinya ini akan menjadi rutinitas baru, memastikan sang istri masuk sekolah dengan aman.
°°°°
Sesuai yang ia janjikan pada Ayra, siang ini sepulang sekolah Zidan menunggu Ayra di parkiran sekolah, Zia sudah pulang diantar oleh Keyna. Kebetulan Keyna ingin main ke kontrakannya.
Zidan membawa Ayra ke taman dekat rumah Ayra, tujuannya agar suasananya tidak terlalu sepi dan Ayra dekat untuk pulang. Zidan merasa tidak nyaman sekarang, padahal biasanya bersama Ayra adalah perasaan ternyamannya. Entahlah, Zidan juga bingung ingin memulai dari mana pembicaraan ini.
Ayra juga terlihat berbeda di mata Zidan, Ayra terlihat lebih diam dan tidak banyak bicara, juga ia tidak mendapati senyum manis dari bibir gadis yang masih menjadi kekasihnya itu.
"Kamu kenapa?" tanya Zidan saat melihat Ayra dari tadi terus diam. Kini mereka duduk di salah satu bangku taman.
"Aku yang harusnya tanya itu ke kamu," jawab Ayra menoleh dan menatap bola mata Zidan.
Ayra memalingkan wajahnya, matanya mengembun saat melihat wajah Zidan yang terlihat sendu, dan seperti banyak beban di pikirannya.
Zidan berdehem kemudian menggeser tubuhnya mendekat, kemudian memegang tangan Ayra. "Aku mau bilang sesuatu ke kamu."
Ayra kembali menatap Zidan, mempersilahkan Zidan melanjutkan bicaranya.
"Aku sebenarnya bingung mau gimana, aku ngerasa aku bener-bener cowok yang ngga tau diri, aku- aku ngga tau lagi harus gimana," ucap Zidan dengan suara yang sudah serak menahan tangis.
Ayra semakin merasa sesak mendengar penuturan Zidan, ia takut apa yang dari kemarin mengganggu pikirannya akan benar-benar terjadi. Ayra tetap diam membiarkan Zidan mengucapkan apa yang akan Zidan katakan tanpa memotongnya.
"Aku ngga pengen ini terjadi, aku juga masih sayang sama kamu, tapi ini yang terbaik buat kita kedepannya." Zidan menjeda ucapanya, lidahnya seperti tidak ingin melanjutkan perkataannya. "Aku pengin kita udahan."
Ayra membulatkan matanya, sedetik kemudian air matanya jatuh membasahi pipi mulus Ayra. "Kenapa? Aku ada salah? Kalo iya, aku minta maaf," ucap Ayra dengan suara yang lirih karena diredam suara tangisnya.
"Aku ngga bisa kasih tau alasannya sekarang. Aku mau kita sama-sama belajar hidup tanpa satu sama lain, belajar menghapus rasa cinta dan sayang satu sama lain, dan belajar menerima keadaan ini dengan ikhlas." Zidan terus menghapus air mata Ayra yang tidak berhenti keluar semenjak ia mengatakan ingin menyudahi hubungan mereka.
"Udah ada pengganti aku di hati kamu?" tanya Ayra meletakan jari telunjuknya di dada Zidan. Zidan menggelengkan kepalanya, untuk hati Zidan masih sepenuhnya milik Ayra, namun raganya sudah menjadi milik Zia setelah ia mengucapkan ijab kabul dua hari yang lalu.
"Aku ngga mau pisah sama kamu," ucap Ayra sebelum tangisnya bertambah pecah.
"Aku juga, tapi keadaannya ngga memungkinkan kita buat terus sama - sama. Maaf! aku pergi dulu." Zidan beranjak dari duduknya, tidak kuat jika berlama-lama melihat tangis Ayra. Perasaannya semakin kacau setiap mendengar isakan demi isakan gadis yang sudah menjadi ratu di hatinya selama 3 tahun ini.
Zidan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, semesta seperti mengerti perasaannya, hujan lebat turun di siang menuju sore hari ini. Zidan memegang erat setang motornya, dadanya terasa sesak dan ada perasaan tidak rela ketika ia harus melepas gadis sebaik Ayra. Zidan ingin sekali menyalahkan takdir yang menimpanya kali ini.
"Argghhh.... "
Zidan berteriak di tengah hujan lebat dan jalanan yang sepi. Zidan meluapkan emosinya disini, karena jika ia pulang ia takut melukai Zia.
Ayra masih belum beranjak dari taman, gadis itu membiarkan hujan membasahi tubuhnya yang bergetar karena masih terus menangis. Ayra belum puas dengan alasan Zidan mengakhiri hubungan mereka, rasanya sangat sakit diputuskan tanpa alasan yang jelas seperti ini. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, tapi semuanya hancur hanya dalam sekejap.
Zia mengepalkan tangannya kuat, emosinya memuncak sekarang.
"GUE BENCI BANGET SAMA LO, ZIAA!! "
°°°°
Zia dan Keyna sedang duduk di kasur milik Zia dan Zidan. Hujan lebat membuat keduanya memutuskan untuk mengobrol di kamar saja.
"Kok Zidan belum pulang pulang ya Key?" tanya Zia cemas.
Keyna mengelus pundak Zia, "Kan hujan gede, mungkin lagi neduh."
"Gimana sikap Zidan ke lo dari kemaren? Dia ada nyakitin lo ngga?" tanya Keyna berusaha mengalihkan rasa cemas Zia.
Zia menggelengkan kepala dengan cepat. "Engga Key, Zidan baik banget, semua baju di lemari itu Zidan yang natain, buku-bukunya juga, sama beresin rumah juga," jawab Zia menunjuk lemari dan meja belajar.
"Zidan juga kemarin cari kerja, tapi pulangnya malah tangannya luka. Zidan luka karena nolongin penjual di pasar dari maling, habis itu Zidan dikasih kerjaan sama orang itu," cerita Zia tanpa Keyna minta, Keyna tersenyum, rencananya untuk mengalihkan perhatian Zia berhasil.
"Kerjaan apa?" tanya Keyna.
"Itu dia yang Zia ngga terlalu setuju, Zidan kerjanya jadi kuli angkut di pasar, berangkatnya pagi banget lagi Key. Masa jam dua pagi harus udah kerja sampe subuh. Kalau Zidan di sekolah ngantuk gimana? Terus katanya pulang sekolahnya juga bakal kerja lagi. Zidan kapan istirahatnya kalau kaya gitu, " keluh Zia kemudian menggembungkan pipinya sehingga terlihat menggemaskan bagi yang melihatnya, apalagi nada bicaranya seperti anak kecil yang sedang bercerita pada ibunya.
Keyna terenyuh mendengar penuturan Zia, Keyna tidak menyangka Zidan akan setanggung jawab itu. Keyna jadi tidak akan terlalu cemas dengan kehidupan rumah tangga Zia nantinya.
"Itu artinya Zidan bener-bener mau nafkahin lo, dia ngga mau lo hidup serba kekurangan, Lo harus hargain kerja keras Zidan," ucap Keyna yang diangguki Zia.
"Zia harus ngelakuin apa buat bales kebaikan Zidan?" tanya Zia karena memang dia masih bingung untuk hal itu.
"Lo ngga harus ngapa-ngapain Zi, itu udah jadi tanggungjawab Zidan sebagai suami lo. Lo hanya perlu perlakuin Zidan dengan baik, lo bisa masakin makanan kesukaan dia, siapin air hangat saat dia pulang kerja buat mandi, dan urusin kebutuhan dia lainnya," jawab Keyna memberi saran. Zia kembali menganggukan kepala tanda mengerti akan ucapan Keyna.
"Zia mau lakuin yang Keyna bilang, Zia mau ke dapur dulu mau masak air biar nanti pulang Zidan langsung mandi, apalagi di luar ujan, pasti Zidan kedinginan." Zia langsung bangkit dari duduknya menuju dapur. Keyna tersenyum sambil memandangi punggung Zia yang keluar dari kamar.
°°°°
Hallo semua👋👋
Happy Reading ✨♥
Seperti biasa, kalau suka boleh kasih Like 👍
Komentar juga boleh
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Walaupun nikah terpaksa tapi Zidan berusaha nerima takdirnya,dan lari dr tanggungjawab nya,Kalo cowok lain mah,boro2 mau putus dgn ceweknya yg udah lama di pacarin,dan susah payah mencari kerja lagi,Kenapa Zidan g cari kerja di cafe aja..dari harus kerja di pasar sih..🥹
2024-02-08
0
Qaisaa Nazarudin
Ayra thor,bukan Zia kali maksudnya..
2024-02-08
0
Qaisaa Nazarudin
Salut aku sama Zidan,pikiran dan sikap yg dewasa,dan juga gentlemen..👏👏👏👍👍👍
2024-02-08
0