12. Putus

Pukul 04.30 alarm dari ponsel Zidan terus berbunyi membuat tidur sepasang pasutri remaja itu terusik. Dengan malas Zidan meraih ponselnya guna mematikan alarm, kemudian bangun dan berjalan gontai keluar kamar menuju ke kamar mandi. Sedangkan Zia masih mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha menghilangkan rasa kantuk di matanya, biasanya jam segini ia masih tidur.

"Bangun Zi, subuh dulu," ucap Zidan dengan wajah yang segar saat kembali ke kamar setelah berwudhu. Zia pun dengan wajah yang masih mengantuk mencoba bangun dan berjalan gontai menuju kamar mandi.

Selama Zia berwudhu Zidan menyiapkan alat sholat untuk dirinya juga Zia. Ini pertama kali mereka akan solat berjamaah, entah mengapa Zidan merasa deg-degan saat membayangkan ia akan menjadi imam solat untuk istrinya. Rasanya aneh tapi juga bahagia.

Setelah selesai menjalankan kewajiban sebagai umat Islam, dan mengelap motor yang tadi malam ia masukkan ke ruang tamu sekarang Zidan izin berolahraga lari keliling pemukiman sebentar, sama dengan kebiasaan Zidan saat masih di rumah orangtuanya, yang berbeda hanya yang dulunya berkeliling kompleks perumahan mewah, sekarang hanya berkeliling pemukiman kelas bawah.

Zia yang masih mengantuk kembali tertidur. Hari ini solat subuh paling awal bagi Zia, biasanya Zia solat subuh hampir setengah enam.

Zidan dan Zia berangkat ke sekolah bersama-sama dengan menaiki motor sport milik Zidan. Zia meminta turun di jarak 100 meter dari gerbang sekolah. Zidan pun menyetujuinya walaupun merasa tidak tega, semua demi kebaikan dan kenyamanan mereka di sekolah. Semua warga sekolah tau bahwa Zidan adalah kekasih Ayra, jadi untuk mengatisipasi terjadinya salah paham mereka membuat kesepakatan ini.

Zidan menghentikan motornya di parkiran yang biasa ia dan sahabat-sahabatnya gunakan. Zidan mendengus kesal saat ingat hari ini semua sahabatnya tidak ada yang berangkat, semalam mereka memberitahunya bahwa mereka akan menyusul Langit. Zidan ingin ikut, namun ia juga tidak bisa meninggalkan Zia di rumah sendirian, apalagi mereka baru pertama kali menempati rumah itu.

Zidan diam di atas motor menunggu Zia memasuki gerbang, saat sudah melihat sang istri sedang berjalan di koridor kelas ia baru turun dari motor dan melangkah menuju kelasnya. Sepertinya ini akan menjadi rutinitas baru, memastikan sang istri masuk sekolah dengan aman.

°°°°

Sesuai yang ia janjikan pada Ayra, siang ini sepulang sekolah Zidan menunggu Ayra di parkiran sekolah, Zia sudah pulang diantar oleh Keyna. Kebetulan Keyna ingin main ke kontrakannya.

Zidan membawa Ayra ke taman dekat rumah Ayra, tujuannya agar suasananya tidak terlalu sepi dan Ayra dekat untuk pulang. Zidan merasa tidak nyaman sekarang, padahal biasanya bersama Ayra adalah perasaan ternyamannya. Entahlah, Zidan juga bingung ingin memulai dari mana pembicaraan ini.

Ayra juga terlihat berbeda di mata Zidan, Ayra terlihat lebih diam dan tidak banyak bicara, juga ia tidak mendapati senyum manis dari bibir gadis yang masih menjadi kekasihnya itu.

"Kamu kenapa?" tanya Zidan saat melihat Ayra dari tadi terus diam. Kini mereka duduk di salah satu bangku taman.

"Aku yang harusnya tanya itu ke kamu," jawab Ayra menoleh dan menatap bola mata Zidan.

Ayra memalingkan wajahnya, matanya mengembun saat melihat wajah Zidan yang terlihat sendu, dan seperti banyak beban di pikirannya.

Zidan berdehem kemudian menggeser tubuhnya mendekat, kemudian memegang tangan Ayra. "Aku mau bilang sesuatu ke kamu."

Ayra kembali menatap Zidan, mempersilahkan Zidan melanjutkan bicaranya.

"Aku sebenarnya bingung mau gimana, aku ngerasa aku bener-bener cowok yang ngga tau diri, aku- aku ngga tau lagi harus gimana," ucap Zidan dengan suara yang sudah serak menahan tangis.

Ayra semakin merasa sesak mendengar penuturan Zidan, ia takut apa yang dari kemarin mengganggu pikirannya akan benar-benar terjadi. Ayra tetap diam membiarkan Zidan mengucapkan apa yang akan Zidan katakan tanpa memotongnya.

"Aku ngga pengen ini terjadi, aku juga masih sayang sama kamu, tapi ini yang terbaik buat kita kedepannya." Zidan menjeda ucapanya, lidahnya seperti tidak ingin melanjutkan perkataannya. "Aku pengin kita udahan."

Ayra membulatkan matanya, sedetik kemudian air matanya jatuh membasahi pipi mulus Ayra. "Kenapa? Aku ada salah? Kalo iya, aku minta maaf," ucap Ayra dengan suara yang lirih karena diredam suara tangisnya.

"Aku ngga bisa kasih tau alasannya sekarang. Aku mau kita sama-sama belajar hidup tanpa satu sama lain, belajar menghapus rasa cinta dan sayang satu sama lain, dan belajar menerima keadaan ini dengan ikhlas." Zidan terus menghapus air mata Ayra yang tidak berhenti keluar semenjak ia mengatakan ingin menyudahi hubungan mereka.

"Udah ada pengganti aku di hati kamu?" tanya Ayra meletakan jari telunjuknya di dada Zidan. Zidan menggelengkan kepalanya, untuk hati Zidan masih sepenuhnya milik Ayra, namun raganya sudah menjadi milik Zia setelah ia mengucapkan ijab kabul dua hari yang lalu.

"Aku ngga mau pisah sama kamu," ucap Ayra sebelum tangisnya bertambah pecah.

"Aku juga, tapi keadaannya ngga memungkinkan kita buat terus sama - sama. Maaf! aku pergi dulu." Zidan beranjak dari duduknya, tidak kuat jika berlama-lama melihat tangis Ayra. Perasaannya semakin kacau setiap mendengar isakan demi isakan gadis yang sudah menjadi ratu di hatinya selama 3 tahun ini.

Zidan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, semesta seperti mengerti perasaannya, hujan lebat turun di siang menuju sore hari ini. Zidan memegang erat setang motornya, dadanya terasa sesak dan ada perasaan tidak rela ketika ia harus melepas gadis sebaik Ayra. Zidan ingin sekali menyalahkan takdir yang menimpanya kali ini.

"Argghhh.... "

Zidan berteriak di tengah hujan lebat dan jalanan yang sepi. Zidan meluapkan emosinya disini, karena jika ia pulang ia takut melukai Zia.

Ayra masih belum beranjak dari taman, gadis itu membiarkan hujan membasahi tubuhnya yang bergetar karena masih terus menangis. Ayra belum puas dengan alasan Zidan mengakhiri hubungan mereka, rasanya sangat sakit diputuskan tanpa alasan yang jelas seperti ini. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, tapi semuanya hancur hanya dalam sekejap.

Zia mengepalkan tangannya kuat, emosinya memuncak sekarang.

"GUE BENCI BANGET SAMA LO, ZIAA!! "

°°°°

Zia dan Keyna sedang duduk di kasur milik Zia dan Zidan. Hujan lebat membuat keduanya memutuskan untuk mengobrol di kamar saja.

"Kok Zidan belum pulang pulang ya Key?" tanya Zia cemas.

Keyna mengelus pundak Zia, "Kan hujan gede, mungkin lagi neduh."

"Gimana sikap Zidan ke lo dari kemaren? Dia ada nyakitin lo ngga?" tanya Keyna berusaha mengalihkan rasa cemas Zia.

Zia menggelengkan kepala dengan cepat. "Engga Key, Zidan baik banget, semua baju di lemari itu Zidan yang natain, buku-bukunya juga, sama beresin rumah juga," jawab Zia menunjuk lemari dan meja belajar.

"Zidan juga kemarin cari kerja, tapi pulangnya malah tangannya luka. Zidan luka karena nolongin penjual di pasar dari maling, habis itu Zidan dikasih kerjaan sama orang itu," cerita Zia tanpa Keyna minta, Keyna tersenyum, rencananya untuk mengalihkan perhatian Zia berhasil.

"Kerjaan apa?" tanya Keyna.

"Itu dia yang Zia ngga terlalu setuju, Zidan kerjanya jadi kuli angkut di pasar, berangkatnya pagi banget lagi Key. Masa jam dua pagi harus udah kerja sampe subuh. Kalau Zidan di sekolah ngantuk gimana? Terus katanya pulang sekolahnya juga bakal kerja lagi. Zidan kapan istirahatnya kalau kaya gitu, " keluh Zia kemudian menggembungkan pipinya sehingga terlihat menggemaskan bagi yang melihatnya, apalagi nada bicaranya seperti anak kecil yang sedang bercerita pada ibunya.

Keyna terenyuh mendengar penuturan Zia, Keyna tidak menyangka Zidan akan setanggung jawab itu. Keyna jadi tidak akan terlalu cemas dengan kehidupan rumah tangga Zia nantinya.

"Itu artinya Zidan bener-bener mau nafkahin lo, dia ngga mau lo hidup serba kekurangan, Lo harus hargain kerja keras Zidan," ucap Keyna yang diangguki Zia.

"Zia harus ngelakuin apa buat bales kebaikan Zidan?" tanya Zia karena memang dia masih bingung untuk hal itu.

"Lo ngga harus ngapa-ngapain Zi, itu udah jadi tanggungjawab Zidan sebagai suami lo. Lo hanya perlu perlakuin Zidan dengan baik, lo bisa masakin makanan kesukaan dia, siapin air hangat saat dia pulang kerja buat mandi, dan urusin kebutuhan dia lainnya," jawab Keyna memberi saran. Zia kembali menganggukan kepala tanda mengerti akan ucapan Keyna.

"Zia mau lakuin yang Keyna bilang, Zia mau ke dapur dulu mau masak air biar nanti pulang Zidan langsung mandi, apalagi di luar ujan, pasti Zidan kedinginan." Zia langsung bangkit dari duduknya menuju dapur. Keyna tersenyum sambil memandangi punggung Zia yang keluar dari kamar.

°°°°

Hallo semua👋👋

Happy Reading ✨♥

Seperti biasa, kalau suka boleh kasih Like 👍

Komentar juga boleh

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Walaupun nikah terpaksa tapi Zidan berusaha nerima takdirnya,dan lari dr tanggungjawab nya,Kalo cowok lain mah,boro2 mau putus dgn ceweknya yg udah lama di pacarin,dan susah payah mencari kerja lagi,Kenapa Zidan g cari kerja di cafe aja..dari harus kerja di pasar sih..🥹

2024-02-08

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Ayra thor,bukan Zia kali maksudnya..

2024-02-08

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Salut aku sama Zidan,pikiran dan sikap yg dewasa,dan juga gentlemen..👏👏👏👍👍👍

2024-02-08

0

lihat semua
Episodes
1 1. Truth or Dare
2 2. Hari Itu(1)
3 3. Hari itu(2)
4 4. Tanggung Jawab?
5 5. UKS
6 6. Zio Pulang
7 7. Nikah?
8 8. Sah
9 9. Kamar Zidan
10 10. Awal Baru
11 11. Khawatir
12 12. Putus
13 13. Upah Pertama
14 14. Ayra Berubah
15 15. Mual
16 16. Minggu dengan Sahabat
17 17. Omellet Lagii
18 18. Kita mau punya ponakan?
19 19. Negatif
20 20. Keanehan Cewek Cupu
21 21. Asing
22 22. Beneran Hamil
23 23. Basecamp Atlansa
24 24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25 25. Kedatangan Bunda dan Mama
26 26. Panik
27 Aksi Atlansa
28 Rumah Sakit
29 Dea
30 Mie Instan
31 Capek
32 Rezekinya Dia
33 Lebih Baik
34 34. Zidan dan Ayra?
35 35. Tak Ingin Usai
36 36. Dea Lagi
37 37. Langit
38 38. Kedondong
39 39. Rumah Sakit
40 40. Kembar
41 41. Makan Pizza
42 42. Ulah Janu
43 43. Zia Overthinking
44 44. Taman Bermain
45 45. Fakta Baru Tentang Ayra
46 46. Siapa pelakunya?
47 47. Kacau
48 48. Basecamp
49 49. Klarifikasi
50 50. Bakso Harga Lima Juta
51 51. Dikeluarkan atau Tidak?
52 52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53 53. Keguguran?
54 54. Vanishing Twin Syndrome
55 55. Mulai Ada Rasa
56 56. Bersama Arin
57 57. Belajar Ciuman
58 58. Tanggung
59 59. Baby Cegukan
60 60. Yang Paling Berkuasa
61 Pengumuman (Bukan Update)
62 61. Sup Ala Zia
63 62. Terbongkar?
64 63. Kecemasan Zia
65 64. Kembali Bersama
66 65. Kangen Mama Papa
67 66. Anak Kita
68 67. Kembalinya Aset Zidan
69 68. Rumah Zidan (Lagi)
70 69. Perhatian dari Mertua
71 70. Om Om Hidung Belang
72 71. Rambutan Botak
73 72. Cinta atau Tanggungjawab?
74 73. Gagal Lagi
75 74. Kumpul Santuy
76 75. I LOVE YOU
77 76. Ceramah Bunda Dian
78 77. Akhirnya
79 78. Nasi Padang
80 79. Petunjuk Baru
81 80. Prenatal Yoga Couple
82 81. Pencarian
83 82. Bu Intan
84 83. Penghianat
85 84. Kehidupan Bu Intan
86 85. Rencana Ke Puncak
87 86. On The Way
88 87. Ayra hamil?
89 88. Waktu Cowok
90 89. Menikmati Malam Di Puncak
91 90. Keinginan Zia
92 91. Tujuh Bulanan
93 92. Ketemu Baby Zira
94 93. Bersama Mama
95 94. Dari Hati ke Hati
96 95. Di Kantor Ayah Dimas
97 96. Mbak-Mbak Genit
98 97. Di Tempat Yoga
99 98. Sebentar Lagi
100 99. Satu Komplek?
101 101. Ucapan Pak Ervan
102 101. Sesama Bumil Remaja
103 102. Serangan Di Sekolah
104 103. Pasca Penyerangan
105 104. Perhatian Istri
106 105. Kasus Baru Lagi
107 106. Cemburu
108 107. Pernah
109 108. Melaporkan Tuan Willy
110 109. Belajar Mengurus Bayi
111 110. Masih Bersama Baby Zira
112 111. Apakah....
113 112. Amukan Sang Mertua
114 113. Posisi Kepala Bayi
115 114. Titik Terang
116 115. Kontraksi Palsu
117 116. Kontraksi Awal
118 117. Bukaan 4
119 118. Masih Bukaan 8
120 119. Persalinan
121 120. Skin To Skin
122 121. Papa Riyan
123 122. 38 Hari Lagi
124 123. Ditemani Ayra
125 124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126 125. Papa Nggak Tau
127 126. Rencana Sekolah Lagi
128 127. Hari Pertama Ulangan
129 128. Setelah 42 Hari
130 129. First Day School
131 130. Pengagum Bapak Anak Satu
132 131. Meminta Belajar Bela Diri
133 132. Pasar Malam
134 133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135 134. Wisata Keluarga
136 135. Tamat
137 Special Part
Episodes

Updated 137 Episodes

1
1. Truth or Dare
2
2. Hari Itu(1)
3
3. Hari itu(2)
4
4. Tanggung Jawab?
5
5. UKS
6
6. Zio Pulang
7
7. Nikah?
8
8. Sah
9
9. Kamar Zidan
10
10. Awal Baru
11
11. Khawatir
12
12. Putus
13
13. Upah Pertama
14
14. Ayra Berubah
15
15. Mual
16
16. Minggu dengan Sahabat
17
17. Omellet Lagii
18
18. Kita mau punya ponakan?
19
19. Negatif
20
20. Keanehan Cewek Cupu
21
21. Asing
22
22. Beneran Hamil
23
23. Basecamp Atlansa
24
24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25
25. Kedatangan Bunda dan Mama
26
26. Panik
27
Aksi Atlansa
28
Rumah Sakit
29
Dea
30
Mie Instan
31
Capek
32
Rezekinya Dia
33
Lebih Baik
34
34. Zidan dan Ayra?
35
35. Tak Ingin Usai
36
36. Dea Lagi
37
37. Langit
38
38. Kedondong
39
39. Rumah Sakit
40
40. Kembar
41
41. Makan Pizza
42
42. Ulah Janu
43
43. Zia Overthinking
44
44. Taman Bermain
45
45. Fakta Baru Tentang Ayra
46
46. Siapa pelakunya?
47
47. Kacau
48
48. Basecamp
49
49. Klarifikasi
50
50. Bakso Harga Lima Juta
51
51. Dikeluarkan atau Tidak?
52
52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53
53. Keguguran?
54
54. Vanishing Twin Syndrome
55
55. Mulai Ada Rasa
56
56. Bersama Arin
57
57. Belajar Ciuman
58
58. Tanggung
59
59. Baby Cegukan
60
60. Yang Paling Berkuasa
61
Pengumuman (Bukan Update)
62
61. Sup Ala Zia
63
62. Terbongkar?
64
63. Kecemasan Zia
65
64. Kembali Bersama
66
65. Kangen Mama Papa
67
66. Anak Kita
68
67. Kembalinya Aset Zidan
69
68. Rumah Zidan (Lagi)
70
69. Perhatian dari Mertua
71
70. Om Om Hidung Belang
72
71. Rambutan Botak
73
72. Cinta atau Tanggungjawab?
74
73. Gagal Lagi
75
74. Kumpul Santuy
76
75. I LOVE YOU
77
76. Ceramah Bunda Dian
78
77. Akhirnya
79
78. Nasi Padang
80
79. Petunjuk Baru
81
80. Prenatal Yoga Couple
82
81. Pencarian
83
82. Bu Intan
84
83. Penghianat
85
84. Kehidupan Bu Intan
86
85. Rencana Ke Puncak
87
86. On The Way
88
87. Ayra hamil?
89
88. Waktu Cowok
90
89. Menikmati Malam Di Puncak
91
90. Keinginan Zia
92
91. Tujuh Bulanan
93
92. Ketemu Baby Zira
94
93. Bersama Mama
95
94. Dari Hati ke Hati
96
95. Di Kantor Ayah Dimas
97
96. Mbak-Mbak Genit
98
97. Di Tempat Yoga
99
98. Sebentar Lagi
100
99. Satu Komplek?
101
101. Ucapan Pak Ervan
102
101. Sesama Bumil Remaja
103
102. Serangan Di Sekolah
104
103. Pasca Penyerangan
105
104. Perhatian Istri
106
105. Kasus Baru Lagi
107
106. Cemburu
108
107. Pernah
109
108. Melaporkan Tuan Willy
110
109. Belajar Mengurus Bayi
111
110. Masih Bersama Baby Zira
112
111. Apakah....
113
112. Amukan Sang Mertua
114
113. Posisi Kepala Bayi
115
114. Titik Terang
116
115. Kontraksi Palsu
117
116. Kontraksi Awal
118
117. Bukaan 4
119
118. Masih Bukaan 8
120
119. Persalinan
121
120. Skin To Skin
122
121. Papa Riyan
123
122. 38 Hari Lagi
124
123. Ditemani Ayra
125
124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126
125. Papa Nggak Tau
127
126. Rencana Sekolah Lagi
128
127. Hari Pertama Ulangan
129
128. Setelah 42 Hari
130
129. First Day School
131
130. Pengagum Bapak Anak Satu
132
131. Meminta Belajar Bela Diri
133
132. Pasar Malam
134
133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135
134. Wisata Keluarga
136
135. Tamat
137
Special Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!