Hari ini Ayra seperti menghindar dan menjaga jarak dengan Zia, bahkan dengan semua sahabatnya. Seperti sekarang ini disaat semua sahabatnya makan di meja yang sama di kantin. Ayra memilih untuk duduk sendirian di tengah keramaian kantin.
Dari meja pojok, terdapat segerombol remaja laki-laki yang tak lain adalah Atlansa. Bukan hanya intinya saja, namun juga beberapa anggota sedang berkumpul di kantin.
"Cewek lo kenapa Dan? Kok ngga gabung sama bestienya?" tanya Damar, salah satu anggota Atlansa. Zidan hanya mengedikkan bahunya, ia tidak ingin membahas Ayra untuk saat ini.
Belum ada yang tau tentang berakhirnya hubungannya dengan Ayra kecuali para sahabatnya. Zidan tau lambat laun berita itu akan menyebar, apalagi jika melihat interaksi Zidan dan Ayra yang sudah tidak pernah terlihat bucin. Saat berita itu menyebar nanti ia akan tetap bungkam akan alasannya putus, walau ia yang akan dicaci nantinya.
"Udahlah, urusan cewek itu mah, ribet pasti." Galen mengucapkan itu dengan entengnya, sebelumnya ia sudah mengamati Ayra juga.
Zidan juga sebenarnya tidak tahu kenapa Ayra tidak bergabung dengan para sahabatnya. Masa karena putus dengannya? Kan tidak ada hubungannya dengan mereka. Sebenarnya ada, kalau Ayra sudah tau hubungannya dengan Zia, tapi itu tidak mungkin. Tidak ada yang tau kecuali Keyna, Galen dan Zio. Mereka tidak mungkin memberitahu pada Ayra.
Di meja lain juga membahas hal yang sama, bahkan hampir di semua meja membahas Ayra yang tidak bergabung dengan sahabatnya maupun dengan kekasihnya. Sherena orang yang paling dibuat heran, pasalnya ia yang paling tidak tahu apapun disini.
"Guys si Ayra kenapa si?" tanya Sherena sambil mengamati Ayra dari jauh, tadi Ayra menolak saat mereka mengajaknya bergabung. Ayra terlihat makan dengan tenang sambil bermain ponsel.
"Ngga tau, tapi tadi pagi juga jutek banget waktu disapa sama Zia." Keyna menimpali sembari sibuk dengan ponselnya.
"Kayanya Zia yang buat salah deh. Soalnya waktu sama kalian Ayra biasa aja, tapi kalo Zia yang ngomong Ayra langsung jutek banget," kata Zia sembari mengaduk-aduk jus alpukat kesukaannya.
"Napa ya tuh bocah," ucap Sherena heran sendiri.
Keyna jadi takut kalau Ayra berubah seperti ini karena sudah mengetahui fakta tentang pernikahan Zidan dan Zia. Tapi ia tepis pikiran itu jauh-jauh mengingat tidak akan ada yang memberitahu Ayra diantara Galen dan Zio.
"Oiya gue inget, tadi pagi Zidan bilang mereka udah putus," ucap Keyna saat mengingat obrolan inti Atlansa di parkiran tadi.
"WHAT?" teriak Sherena membuat semua mata tertuju pada meja mereka.
"Malu maluin banget sii lo!" Keyna menabok lengan Sherena yang tengah nyengir tanpa dosa.
"Kok bisa?" tanya Sherena.
"Gue ngga tau. Mending nanti pulang sekolah kita coba deketin dia lagi,tanya baik baik kenapa dia berubah. harusnya kita ada saat dia lagi terpuruk kaya gini," sesal Keyna kemudian.
Sedangkan Zia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, ia bertanya-tanya apakah dia penyebab Ayra dan Zidan putus. Jika memang iya, Zia merasa sangat bersalah, Tapi Zidan tidak pernah bilang akan putus dengan Ayra, Zia juga tidak apa apa jika Zidan tetap berpacaran dengan Ayra. Sepulang sekolah nanti Zia akan bertanya pada Zidan langsung.
"Keyna," lirih Zia menoleh pada Keyna. Keyna yang mengerti apa yang sedang Zia takutkan yang terlihat jelas di sorot matanya langsung menggenggam tangan Zia yang ada di meja. Keyna tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan mengisyaratkan bahwa itu bukan salah Zia.
"Lo juga kenapa Zi, kok kaya takut gitu?" ternyata Sherena bisa menangkap raut wajah takut Zia. Zia hanya menggelengkan kepalanya.
"Nanti Zia ngga ikut nemuin Ayra nggapapa kan? Zia mau Ayra nyaman dulu sama kalian. Kayanya Ayra lagi ngga mau deket-deket Zia." Zia bertanya dan dijawab anggukan kepala oleh kedua sahabatnya.
Di sisi lain, Ayra mencoba untuk tidak menggubris omongan-omongan tentang dia yang ia dengar dari orang yang berada di kantin. Semua murid yang mengetahui hubungan mereka menjadikan Ayra sebagai topik pembicaraan dimana baru kali ini keempat cewek yang terkenal keeratan persahabatannya itu terpisah.
°°°°
Sepulang sekolah Zia dan Zidan membeli makan siang terlebih dahulu. Mereka belum mulai memasak sendiri, selain Zia yang tidak bisa memasak juga karena mereka belum sempat berbelanja keperluan dapur.
"Zia pengen tanya ke Zidan," ucap Zia saat keduanya memasuki kamar. Zidan hanya berdehem menanggapinya.
"Zidan sama Ayra putus?" tangan Zidan yang sedang melepas kancing bajunya tiba-tiba berhenti, ia menoleh pada Zia yang duduk di kursi belajar.
"Iya," jawab Zidan kembali melanjutkan kegiatannya.
"Kenapa Zidan?"
Zidan kembali terdiam. "Gue ngga mau main main sama pernikahan," jawab Zidan kemudian.
Zia yang mendengar penuturan Zidan menjadi semakin bersalah, Zia bingung antara harus senang atau sedih. "Kalo Zidan masih mau pacaran sama Ayra boleh kok. Zia ngga akan pernah larang, Zia tau Zidan sama Ayra masih saling cinta."
"Emang lo tau apa itu cinta?" tanya Zidan membuat Zia gelagapan tidak bisa menjawab. Zia memang tidak tahu rasanya cinta, yang ia tahu orang yang saling berpacaran atau menikah berarti saling mencintai.
"Gue disini ngehargain lo sebagai istri gue, gue ngga mau ngejalin dua hubungan di waktu yang bersamaan. Gue emang masih cinta sama Ayra, tapi keputusan gue buat putus itu udah yang terbaik menurut gue." Zidan berkata setelah melihat wajah bingung Zia.
"Ini bukan salah lo atau salah siapapun, jadi ngga usah merasa bersalah," ucap Zidan lagi. Zia hanya diam tanpa menjawab lagi. Zia merasa Tetap saja secara tidak langsung ia penyebab Zidan putus.
"Nanti beli keperluan dapur pake uang tabungan lo dulu nggapapa?" tanya Zidan.
Zia mengangguk, lalu berjalan menuju lemari mengambil kartu ATM yang berisi tabungannya. Orangtua Zia tidak mengetahui kartu ATM itu, jadi tidak disita saat dia diusir.
"Pake aja nih. Zia lupa isinya ada berapa, tapi kayanya ada lima jutaan deh." Zia menyerahkan kartu itu pada Zidan. Zidan hanya mengamatinya tanpa menerima.
"Dipegang lo aja, nanti gue anterin ke supermarket," ucap Zidan.
"Kenapa harus ke supermarket? kenapa engga pasar tempat Zidan kerja aja. Kata orang harga di pasar lebih murah loh," ucap Zia.
"Nggapapa emang?"
"Nggapapa lah, Zidan yang bilang sendiri harus hemat, jadi ke pasar aja belinya."
"Yaudah kalo lo mau ke pasar ajaa. Gue takutnya lo jijik, kan di pasar kotor tempatnya," ucap Zidan hati-hati takut menyinggung perasaan Zia.
Zia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, Zia akan terus berusaha hidup lebih sederhana dan apa adanya.
Tanpa terasa umur pernikahan mereka sudah dua minggu, memang dua minggu bagi orang lain itu waktu yang singkat, namun bagi Zidan dan Zia yang sedang beradaptasi dengan kehidupan barunya merasa itu adalah waktu yang sangat lama.
Pagi ini Zia terbangun dengan keadaan yang tidak mengenakan, perutnya terasa bergejolak. Dengan cepat Zia berlari ke arah kamar mandi dan mencoba memuntahkan apa yang membuat perutnya tidak nyaman itu.
Hoek ...Hoek ...
°°°•
Halo... Happy Reading Semua👋
Semoga suka dengan bab kali ini. kalau suka boleh kasih Like dong 👍
Sampai jumpa di bab selanjutnya ♥♥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Noh kan Zia hamil,untung aja udah nikah..
2024-02-08
0
Aisyah
ah masak hamil sih
2022-10-03
1
Mei Lin
hmmm apa hamidun ya zia
2022-10-02
1