14. Ayra Berubah

Hari ini Ayra seperti menghindar dan menjaga jarak dengan Zia, bahkan dengan semua sahabatnya. Seperti sekarang ini disaat semua sahabatnya makan di meja yang sama di kantin. Ayra memilih untuk duduk sendirian di tengah keramaian kantin.

Dari meja pojok, terdapat segerombol remaja laki-laki yang tak lain adalah Atlansa. Bukan hanya intinya saja, namun juga beberapa anggota sedang berkumpul di kantin.

"Cewek lo kenapa Dan? Kok ngga gabung sama bestienya?" tanya Damar, salah satu anggota Atlansa. Zidan hanya mengedikkan bahunya, ia tidak ingin membahas Ayra untuk saat ini.

Belum ada yang tau tentang berakhirnya hubungannya dengan Ayra kecuali para sahabatnya. Zidan tau lambat laun berita itu akan menyebar, apalagi jika melihat interaksi Zidan dan Ayra yang sudah tidak pernah terlihat bucin. Saat berita itu menyebar nanti ia akan tetap bungkam akan alasannya putus, walau ia yang akan dicaci nantinya.

"Udahlah, urusan cewek itu mah, ribet pasti." Galen mengucapkan itu dengan entengnya, sebelumnya ia sudah mengamati Ayra juga.

Zidan juga sebenarnya tidak tahu kenapa Ayra tidak bergabung dengan para sahabatnya. Masa karena putus dengannya? Kan tidak ada hubungannya dengan mereka. Sebenarnya ada, kalau Ayra sudah tau hubungannya dengan Zia, tapi itu tidak mungkin. Tidak ada yang tau kecuali Keyna, Galen dan Zio. Mereka tidak mungkin memberitahu pada Ayra.

Di meja lain juga membahas hal yang sama, bahkan hampir di semua meja membahas Ayra yang tidak bergabung dengan sahabatnya maupun dengan kekasihnya. Sherena orang yang paling dibuat heran, pasalnya ia yang paling tidak tahu apapun disini.

"Guys si Ayra kenapa si?" tanya Sherena sambil mengamati Ayra dari jauh, tadi Ayra menolak saat mereka mengajaknya bergabung. Ayra terlihat makan dengan tenang sambil bermain ponsel.

"Ngga tau, tapi tadi pagi juga jutek banget waktu disapa sama Zia." Keyna menimpali sembari sibuk dengan ponselnya.

"Kayanya Zia yang buat salah deh. Soalnya waktu sama kalian Ayra biasa aja, tapi kalo Zia yang ngomong Ayra langsung jutek banget," kata Zia sembari mengaduk-aduk jus alpukat kesukaannya.

"Napa ya tuh bocah," ucap Sherena heran sendiri.

Keyna jadi takut kalau Ayra berubah seperti ini karena sudah mengetahui fakta tentang pernikahan Zidan dan Zia. Tapi ia tepis pikiran itu jauh-jauh mengingat tidak akan ada yang memberitahu Ayra diantara Galen dan Zio.

"Oiya gue inget, tadi pagi Zidan bilang mereka udah putus," ucap Keyna saat mengingat obrolan inti Atlansa di parkiran tadi.

"WHAT?" teriak Sherena membuat semua mata tertuju pada meja mereka.

"Malu maluin banget sii lo!" Keyna menabok lengan Sherena yang tengah nyengir tanpa dosa.

"Kok bisa?" tanya Sherena.

"Gue ngga tau. Mending nanti pulang sekolah kita coba deketin dia lagi,tanya baik baik kenapa dia berubah. harusnya kita ada saat dia lagi terpuruk kaya gini," sesal Keyna kemudian.

Sedangkan Zia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, ia bertanya-tanya apakah dia penyebab Ayra dan Zidan putus. Jika memang iya, Zia merasa sangat bersalah, Tapi Zidan tidak pernah bilang akan putus dengan Ayra, Zia juga tidak apa apa jika Zidan tetap berpacaran dengan Ayra. Sepulang sekolah nanti Zia akan bertanya pada Zidan langsung.

"Keyna," lirih Zia menoleh pada Keyna. Keyna yang mengerti apa yang sedang Zia takutkan yang terlihat jelas di sorot matanya langsung menggenggam tangan Zia yang ada di meja. Keyna tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan mengisyaratkan bahwa itu bukan salah Zia.

"Lo juga kenapa Zi, kok kaya takut gitu?" ternyata Sherena bisa menangkap raut wajah takut Zia. Zia hanya menggelengkan kepalanya.

"Nanti Zia ngga ikut nemuin Ayra nggapapa kan? Zia mau Ayra nyaman dulu sama kalian. Kayanya Ayra lagi ngga mau deket-deket Zia." Zia bertanya dan dijawab anggukan kepala oleh kedua sahabatnya.

Di sisi lain, Ayra mencoba untuk tidak menggubris omongan-omongan tentang dia yang ia dengar dari orang yang berada di kantin. Semua murid yang mengetahui hubungan mereka menjadikan Ayra sebagai topik pembicaraan dimana baru kali ini keempat cewek yang terkenal keeratan persahabatannya itu terpisah.

°°°°

Sepulang sekolah Zia dan Zidan membeli makan siang terlebih dahulu. Mereka belum mulai memasak sendiri, selain Zia yang tidak bisa memasak juga karena mereka belum sempat berbelanja keperluan dapur.

"Zia pengen tanya ke Zidan," ucap Zia saat keduanya memasuki kamar. Zidan hanya berdehem menanggapinya.

"Zidan sama Ayra putus?" tangan Zidan yang sedang melepas kancing bajunya tiba-tiba berhenti, ia menoleh pada Zia yang duduk di kursi belajar.

"Iya," jawab Zidan kembali melanjutkan kegiatannya.

"Kenapa Zidan?"

Zidan kembali terdiam. "Gue ngga mau main main sama pernikahan," jawab Zidan kemudian.

Zia yang mendengar penuturan Zidan menjadi semakin bersalah, Zia bingung antara harus senang atau sedih. "Kalo Zidan masih mau pacaran sama Ayra boleh kok. Zia ngga akan pernah larang, Zia tau Zidan sama Ayra masih saling cinta."

"Emang lo tau apa itu cinta?" tanya Zidan membuat Zia gelagapan tidak bisa menjawab. Zia memang tidak tahu rasanya cinta, yang ia tahu orang yang saling berpacaran atau menikah berarti saling mencintai.

"Gue disini ngehargain lo sebagai istri gue, gue ngga mau ngejalin dua hubungan di waktu yang bersamaan. Gue emang masih cinta sama Ayra, tapi keputusan gue buat putus itu udah yang terbaik menurut gue." Zidan berkata setelah melihat wajah bingung Zia.

"Ini bukan salah lo atau salah siapapun, jadi ngga usah merasa bersalah," ucap Zidan lagi. Zia hanya diam tanpa menjawab lagi. Zia merasa Tetap saja secara tidak langsung ia penyebab Zidan putus.

"Nanti beli keperluan dapur pake uang tabungan lo dulu nggapapa?" tanya Zidan.

Zia mengangguk, lalu berjalan menuju lemari mengambil kartu ATM yang berisi tabungannya. Orangtua Zia tidak mengetahui kartu ATM itu, jadi tidak disita saat dia diusir.

"Pake aja nih. Zia lupa isinya ada berapa, tapi kayanya ada lima jutaan deh." Zia menyerahkan kartu itu pada Zidan. Zidan hanya mengamatinya tanpa menerima.

"Dipegang lo aja, nanti gue anterin ke supermarket," ucap Zidan.

"Kenapa harus ke supermarket? kenapa engga pasar tempat Zidan kerja aja. Kata orang harga di pasar lebih murah loh," ucap Zia.

"Nggapapa emang?"

"Nggapapa lah, Zidan yang bilang sendiri harus hemat, jadi ke pasar aja belinya."

"Yaudah kalo lo mau ke pasar ajaa. Gue takutnya lo jijik, kan di pasar kotor tempatnya," ucap Zidan hati-hati takut menyinggung perasaan Zia.

Zia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, Zia akan terus berusaha hidup lebih sederhana dan apa adanya.

Tanpa terasa umur pernikahan mereka sudah dua minggu, memang dua minggu bagi orang lain itu waktu yang singkat, namun bagi Zidan dan Zia yang sedang beradaptasi dengan kehidupan barunya merasa itu adalah waktu yang sangat lama.

Pagi ini Zia terbangun dengan keadaan yang tidak mengenakan, perutnya terasa bergejolak. Dengan cepat Zia berlari ke arah kamar mandi dan mencoba memuntahkan apa yang membuat perutnya tidak nyaman itu.

Hoek ...Hoek ...

°°°•

Halo... Happy Reading Semua👋

Semoga suka dengan bab kali ini. kalau suka boleh kasih Like dong 👍

Sampai jumpa di bab selanjutnya ♥♥

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Noh kan Zia hamil,untung aja udah nikah..

2024-02-08

0

Aisyah

Aisyah

ah masak hamil sih

2022-10-03

1

Mei Lin

Mei Lin

hmmm apa hamidun ya zia

2022-10-02

1

lihat semua
Episodes
1 1. Truth or Dare
2 2. Hari Itu(1)
3 3. Hari itu(2)
4 4. Tanggung Jawab?
5 5. UKS
6 6. Zio Pulang
7 7. Nikah?
8 8. Sah
9 9. Kamar Zidan
10 10. Awal Baru
11 11. Khawatir
12 12. Putus
13 13. Upah Pertama
14 14. Ayra Berubah
15 15. Mual
16 16. Minggu dengan Sahabat
17 17. Omellet Lagii
18 18. Kita mau punya ponakan?
19 19. Negatif
20 20. Keanehan Cewek Cupu
21 21. Asing
22 22. Beneran Hamil
23 23. Basecamp Atlansa
24 24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25 25. Kedatangan Bunda dan Mama
26 26. Panik
27 Aksi Atlansa
28 Rumah Sakit
29 Dea
30 Mie Instan
31 Capek
32 Rezekinya Dia
33 Lebih Baik
34 34. Zidan dan Ayra?
35 35. Tak Ingin Usai
36 36. Dea Lagi
37 37. Langit
38 38. Kedondong
39 39. Rumah Sakit
40 40. Kembar
41 41. Makan Pizza
42 42. Ulah Janu
43 43. Zia Overthinking
44 44. Taman Bermain
45 45. Fakta Baru Tentang Ayra
46 46. Siapa pelakunya?
47 47. Kacau
48 48. Basecamp
49 49. Klarifikasi
50 50. Bakso Harga Lima Juta
51 51. Dikeluarkan atau Tidak?
52 52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53 53. Keguguran?
54 54. Vanishing Twin Syndrome
55 55. Mulai Ada Rasa
56 56. Bersama Arin
57 57. Belajar Ciuman
58 58. Tanggung
59 59. Baby Cegukan
60 60. Yang Paling Berkuasa
61 Pengumuman (Bukan Update)
62 61. Sup Ala Zia
63 62. Terbongkar?
64 63. Kecemasan Zia
65 64. Kembali Bersama
66 65. Kangen Mama Papa
67 66. Anak Kita
68 67. Kembalinya Aset Zidan
69 68. Rumah Zidan (Lagi)
70 69. Perhatian dari Mertua
71 70. Om Om Hidung Belang
72 71. Rambutan Botak
73 72. Cinta atau Tanggungjawab?
74 73. Gagal Lagi
75 74. Kumpul Santuy
76 75. I LOVE YOU
77 76. Ceramah Bunda Dian
78 77. Akhirnya
79 78. Nasi Padang
80 79. Petunjuk Baru
81 80. Prenatal Yoga Couple
82 81. Pencarian
83 82. Bu Intan
84 83. Penghianat
85 84. Kehidupan Bu Intan
86 85. Rencana Ke Puncak
87 86. On The Way
88 87. Ayra hamil?
89 88. Waktu Cowok
90 89. Menikmati Malam Di Puncak
91 90. Keinginan Zia
92 91. Tujuh Bulanan
93 92. Ketemu Baby Zira
94 93. Bersama Mama
95 94. Dari Hati ke Hati
96 95. Di Kantor Ayah Dimas
97 96. Mbak-Mbak Genit
98 97. Di Tempat Yoga
99 98. Sebentar Lagi
100 99. Satu Komplek?
101 101. Ucapan Pak Ervan
102 101. Sesama Bumil Remaja
103 102. Serangan Di Sekolah
104 103. Pasca Penyerangan
105 104. Perhatian Istri
106 105. Kasus Baru Lagi
107 106. Cemburu
108 107. Pernah
109 108. Melaporkan Tuan Willy
110 109. Belajar Mengurus Bayi
111 110. Masih Bersama Baby Zira
112 111. Apakah....
113 112. Amukan Sang Mertua
114 113. Posisi Kepala Bayi
115 114. Titik Terang
116 115. Kontraksi Palsu
117 116. Kontraksi Awal
118 117. Bukaan 4
119 118. Masih Bukaan 8
120 119. Persalinan
121 120. Skin To Skin
122 121. Papa Riyan
123 122. 38 Hari Lagi
124 123. Ditemani Ayra
125 124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126 125. Papa Nggak Tau
127 126. Rencana Sekolah Lagi
128 127. Hari Pertama Ulangan
129 128. Setelah 42 Hari
130 129. First Day School
131 130. Pengagum Bapak Anak Satu
132 131. Meminta Belajar Bela Diri
133 132. Pasar Malam
134 133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135 134. Wisata Keluarga
136 135. Tamat
137 Special Part
Episodes

Updated 137 Episodes

1
1. Truth or Dare
2
2. Hari Itu(1)
3
3. Hari itu(2)
4
4. Tanggung Jawab?
5
5. UKS
6
6. Zio Pulang
7
7. Nikah?
8
8. Sah
9
9. Kamar Zidan
10
10. Awal Baru
11
11. Khawatir
12
12. Putus
13
13. Upah Pertama
14
14. Ayra Berubah
15
15. Mual
16
16. Minggu dengan Sahabat
17
17. Omellet Lagii
18
18. Kita mau punya ponakan?
19
19. Negatif
20
20. Keanehan Cewek Cupu
21
21. Asing
22
22. Beneran Hamil
23
23. Basecamp Atlansa
24
24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25
25. Kedatangan Bunda dan Mama
26
26. Panik
27
Aksi Atlansa
28
Rumah Sakit
29
Dea
30
Mie Instan
31
Capek
32
Rezekinya Dia
33
Lebih Baik
34
34. Zidan dan Ayra?
35
35. Tak Ingin Usai
36
36. Dea Lagi
37
37. Langit
38
38. Kedondong
39
39. Rumah Sakit
40
40. Kembar
41
41. Makan Pizza
42
42. Ulah Janu
43
43. Zia Overthinking
44
44. Taman Bermain
45
45. Fakta Baru Tentang Ayra
46
46. Siapa pelakunya?
47
47. Kacau
48
48. Basecamp
49
49. Klarifikasi
50
50. Bakso Harga Lima Juta
51
51. Dikeluarkan atau Tidak?
52
52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53
53. Keguguran?
54
54. Vanishing Twin Syndrome
55
55. Mulai Ada Rasa
56
56. Bersama Arin
57
57. Belajar Ciuman
58
58. Tanggung
59
59. Baby Cegukan
60
60. Yang Paling Berkuasa
61
Pengumuman (Bukan Update)
62
61. Sup Ala Zia
63
62. Terbongkar?
64
63. Kecemasan Zia
65
64. Kembali Bersama
66
65. Kangen Mama Papa
67
66. Anak Kita
68
67. Kembalinya Aset Zidan
69
68. Rumah Zidan (Lagi)
70
69. Perhatian dari Mertua
71
70. Om Om Hidung Belang
72
71. Rambutan Botak
73
72. Cinta atau Tanggungjawab?
74
73. Gagal Lagi
75
74. Kumpul Santuy
76
75. I LOVE YOU
77
76. Ceramah Bunda Dian
78
77. Akhirnya
79
78. Nasi Padang
80
79. Petunjuk Baru
81
80. Prenatal Yoga Couple
82
81. Pencarian
83
82. Bu Intan
84
83. Penghianat
85
84. Kehidupan Bu Intan
86
85. Rencana Ke Puncak
87
86. On The Way
88
87. Ayra hamil?
89
88. Waktu Cowok
90
89. Menikmati Malam Di Puncak
91
90. Keinginan Zia
92
91. Tujuh Bulanan
93
92. Ketemu Baby Zira
94
93. Bersama Mama
95
94. Dari Hati ke Hati
96
95. Di Kantor Ayah Dimas
97
96. Mbak-Mbak Genit
98
97. Di Tempat Yoga
99
98. Sebentar Lagi
100
99. Satu Komplek?
101
101. Ucapan Pak Ervan
102
101. Sesama Bumil Remaja
103
102. Serangan Di Sekolah
104
103. Pasca Penyerangan
105
104. Perhatian Istri
106
105. Kasus Baru Lagi
107
106. Cemburu
108
107. Pernah
109
108. Melaporkan Tuan Willy
110
109. Belajar Mengurus Bayi
111
110. Masih Bersama Baby Zira
112
111. Apakah....
113
112. Amukan Sang Mertua
114
113. Posisi Kepala Bayi
115
114. Titik Terang
116
115. Kontraksi Palsu
117
116. Kontraksi Awal
118
117. Bukaan 4
119
118. Masih Bukaan 8
120
119. Persalinan
121
120. Skin To Skin
122
121. Papa Riyan
123
122. 38 Hari Lagi
124
123. Ditemani Ayra
125
124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126
125. Papa Nggak Tau
127
126. Rencana Sekolah Lagi
128
127. Hari Pertama Ulangan
129
128. Setelah 42 Hari
130
129. First Day School
131
130. Pengagum Bapak Anak Satu
132
131. Meminta Belajar Bela Diri
133
132. Pasar Malam
134
133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135
134. Wisata Keluarga
136
135. Tamat
137
Special Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!