Pukul dua dini hari Zidan sudah siap dengan kaos abu-abu, celana jeans hitam, dan jaket hitam yang menyempurnakan penampilannya. melihat penampilan Zidan yang seperti ini bukan seperti seorang kuli angkut tapi lebih seperti cowok yang akan mengajak ceweknya jalan. Zidan mengenakan itu karena memang ia tidak mempunyai pakaian yang lebih cocok lagi untuk dikenakan saat ini.
Zidan berbalik badan melihat Zia yang tertidur lelap dengan wajah imutnya. Zidan tidak berniat membangunkannya, ia semalam sudah berpesan agar Zia tidak perlu bangun saat dia akan berangkat kerja. Namun, Zia tetap melaksanakan tugas sebagai istri, pakaian yang Zidan kenakan sekarang adalah pakaian yang Zia siapkan sebelum tidur.
Zidan membuka pintu rumah dengan perlahan dan mengeluarkan motor dari ruang tamu juga dengan sangat hati-hati, tidak ingin mengganggu tidur tetangga, apalagi sampai mengganggu tidur istrinya.
Sesampainya di pasar, Zidan bergegas menuju toko Pak Haji, apalagi saag melihat mobil box yang sudah terpakir di depan toko. Dengan perintah dari Pak Haji, Zidan menurunkan karung-karung beras dari mobil, setelah semua karung terangkut, Zidan diperintahkan memindahkan kardus-kardus berisi sembako dari mobil box yang baru datang. Begitu seterusnya sampai adzan subuh berkumandang. Zidan mengucapkan hamdallah saat pekerjaannya selesai. Zidan langsung menerima upah saat itu juga, memang menurut Zidan itu tidak seberapa, namun karena mendapatkannya dari usaha sendiri Zidan merasa puas dan senang.
Pasar jam segini sangat ramai, Zidan bahkan baru tau jika banyak orang merelakan jam tidurnya tersita untuk mencari nafkah.
Zidan berjalan menuju motornya sambil merenggangkan otot bahu dan lengannya yang terasa pegal, mungkin karena belum terbiasa
"Cape juga ya cari duit," keluh Zidan saat duduk di atas motor. Namun seketika senyumnya terukir saat mengingat ia bisa memberi uang untuk Zia hari ini.
°°°°
Zia terbangun saat mendengar suara adzan subuh, Zia mendengus kesal, padahal niat awalnya ingin bangun saat Zidan akan berangkat kerja malah ia ketiduran sampai subuh begini.
Zia segera bangkit dari kasur menuju kamar mandi, ia hanya cuci muka dan menggosok gigi. Zia berniat menunggu Zidan untuk solat subuh berjamaah.
Tak lama kemudian terdengar suara motor berhenti di depan kontrakan, Zia segera membuka pintu saat tau itu adalah Zidan. Zidan turun dari motor dengan wajah datarnya, memang Zidan belum bisa bersikap manis pada Zia. Zidan menghampiri Zia yang berdiri di ambang pintu sembari tersenyum lebar.
"Udah bangun?" tanya Zidan yang dijawab anggukan kepala oleh Zia. Zidan masuk ke dalam rumah diikuti Zia di belakangnya. Mereka terlihat seperti suami istri pada umumnya dimana sang istri menyambut suaminya yang pulang bekerja.
"Kenapa ngga bangunin Zia tadi?" protes Zia saat Zidan duduk di pinggir ranjang mereka. Zidan hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Udah solat subuh?" tanya Zidan sembari melepas jaketnya.
"Belum, nunggu Zidan." Zia menjawab dengan tangan yang menerima jaket yang Zidan sodorkan kemudian menggantungnya di belakang pintu.
"Ya udah ayo sekarang," ucap Zidan beranjak untuk mengambil wudhu.
Pagi ini pasutri remaja itu sarapan dengan nasi uduk yang dijual tidak jauh dari kontrakan, hanya ini yang mampu Zidan berikan untuk menghemat pengeluaran.
"Maaf. Cuma sarapan ini, gue belum dapet kerjaan tambahan," ucap Zidan saat mereka di meja makan, Zia hanya menganggukkan kepala, sebenarnya ia tidak biasa makan nasi di pagi hari. Biasanya ia hanya memakan sepotong sandwich dan meminum segelas susubyang dibuatkan pembantu di rumah lamanya. Mulai sekarang ia harus terbiasa.
Zidan merogoh saku jaketnya kemudian mengambil uang upahnya tadi, "Nih upah gue tadi, hemat-hemat ya."
Zia menerimanya sembari mengangguk, ia akan berusaha sehemat mungkin.
°°°°
Di sebuah rumah mewah yang terlihat sepi, karena memang hanya dihuni seorang saja. Semenjak perusahaan papanya semakin maju, kedua orang tua Zio jarang sekali berada di rumah. Biasanya rumah ini tidak se sepi ini, namun karena orang yang biasa meramaikan rumah sudah papanya usir membuat rumah ini benar-benar sepi. Ah, Zio jadi rindu Zia, namun sekarang ia masih marah pada adiknya itu.
Zio dengan wajah lesu melangkahkan kakinya menuruni tangga menuju meja makan, disana sudah tertata rapi sandwich kesukaan ia dan Zia. Saat memasukkan sandwich ke dalam mulut Zio teringat adik kembarnya itu. Apakah adiknya itu sekarang bisa menikmati sandwich seperti dirinya?
Zio jadi tidak berselera makan. Kembali ia letakkan sandwich itu di piring, lalu berangkat ke sekolah tanpa sarapan.
Zio berangkat paling awal di antara keempat sahabatnya. Disusul Langit, Dyu, dan Galen yang berangkat bersama Keyna. Kemarin mereka berhasil bertemu Langit, mereka sudah mengetahui bahwa ibu Langit yang dirawat di rumah sakit. Mereka kembali ke kota dan memindahkan ibu Langit ke rumah sakit milik keluarga Galen, tentunya dengan sedikit paksaan agar Langit dan ibunya menyetujuinya.
Tak lama kemudian, Zidan datang seorang diri. Zio ingin pergi dari sana sebelum diberi peringatan lewat deheman dan tatapan penuh isyarat dari sang ketua, Galen.
"Udah balik lo Lang? Sampe ke langit berapa jalan-jalannya? " tanya Zidan bercanda saat melihat Langit duduk di atas motor.
Langit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal setelah turun dari motornya. "Diem Lo. Ibu gue sakit, dodol."
"Lo sih sok banget pake mabuk segala, udah tau Om Dimas galaknya minta ampun," ledek Dyu. Zidan hanya mendengus mendengar penuturan Dyu.
"Kalian duluan aja," ucap Zidan saat menyasari semuanya menunggu Zidan yang tak kunjung turun dari motor.
"Nungguin ayang Ayra pasti, " tebak Dyu.
"Eh Ayra nih ditungguin Zidan," ucap Dyu saat Ayra melintas di depannya. Ayra tidak menggubris ucapan sahabat mantan kekasihnya itu, gadis dengan rambut sebahu itu bahkan tidak menoleh sama sekali.
"Eh...Eh... Eh... Lagi war ya Dan?" tanya Langit melihat sikap Ayra.
Zidan terdiam, ia terus menatap punggung gadis yang sangat ia sayangi itu. "Gue udah ngga sama Ayra lagi," jawab Zidan tidak berhenti mengamati sampai Ayra hilang karena berbelok di koridor kelas.
"Whattt?? Sumpah? Demi apa? Kok bisa?" tanya Dyu tidak percaya.
"Pasangan legendaris SMA Trisakti putus? Yang bucinnya ngga ketulungan kok bisa putus?" heboh Dyu. Yang lain juga sama terkejutnya dengan Dyu.
Zidan tidak menjawab, ia malah melirik ke arah gerbang saat Zia terlihat memasuki sekolah dan menghampiri mereka". Gerak-gerik Zidan pastinya tidak lepas dari perhatian Keyna, Keyna juga tau dari tadi Zidan menunggu Zia sampai di sekolah.
"Eh Zia. Ngga bareng abang Zio nih?" tanya Langit yang memang sudah lama mengagumi Zia. Jika bukan karena Zio yang melarang keras, Langit sudah oepet terus gadis imut itu.
Zia hanya menggeleng sambil tersenyum kecil, Zia mengagumi sosok sederhana seperti Langit. Bukan cinta, karena Zia sendiri tidak tau rasanya mencintai lawan jenis. Zia kemudian melihat sang kakak yang tengah mengalihkan pandangannya. Zio tidak menyapa ataupun membalas tatapan Zia.
"Kok gue kaya ketinggalan banyak, padahal gue cuma pergi beberapa hari," ucap Langit merasakan keanehan pagi ini dengan sahabat-sahabatnya.
Keyna yang memang pintar membaca situasi segera membawa Zia ke kelas sebelum suasananya semakin dingin. Galen pun merangkul pundak Zio dan mengajak sahabatnya yang lain ke kelas juga.
°°°°
Happy Reading ✨♥
Kalau suka jangan lupa Like yaaaa<33
Komentar juga boleh biar aku makin semangat
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Miyame
kayaknya kalo ada cerita zio sm sherena duh.. lengkap banget kak.. tambah suka sm.novel kakak
2024-06-30
2
ℛムメနんム⭑ⷫ ᭄ⷶ°♬
.
2022-12-22
1