13. Upah Pertama

Pukul dua dini hari Zidan sudah siap dengan kaos abu-abu, celana jeans hitam, dan jaket hitam yang menyempurnakan penampilannya. melihat penampilan Zidan yang seperti ini bukan seperti seorang kuli angkut tapi lebih seperti cowok yang akan mengajak ceweknya jalan. Zidan mengenakan itu karena memang ia tidak mempunyai pakaian yang lebih cocok lagi untuk dikenakan saat ini.

Zidan berbalik badan melihat Zia yang tertidur lelap dengan wajah imutnya. Zidan tidak berniat membangunkannya, ia semalam sudah berpesan agar Zia tidak perlu bangun saat dia akan berangkat kerja. Namun, Zia tetap melaksanakan tugas sebagai istri, pakaian yang Zidan kenakan sekarang adalah pakaian yang Zia siapkan sebelum tidur.

Zidan membuka pintu rumah dengan perlahan dan mengeluarkan motor dari ruang tamu juga dengan sangat hati-hati, tidak ingin mengganggu tidur tetangga, apalagi sampai mengganggu tidur istrinya.

Sesampainya di pasar, Zidan bergegas menuju toko Pak Haji, apalagi saag melihat mobil box yang sudah terpakir di depan toko. Dengan perintah dari Pak Haji, Zidan menurunkan karung-karung beras dari mobil, setelah semua karung terangkut, Zidan diperintahkan memindahkan kardus-kardus berisi sembako dari mobil box yang baru datang. Begitu seterusnya sampai adzan subuh berkumandang. Zidan mengucapkan hamdallah saat pekerjaannya selesai. Zidan langsung menerima upah saat itu juga, memang menurut Zidan itu tidak seberapa, namun karena mendapatkannya dari usaha sendiri Zidan merasa puas dan senang.

Pasar jam segini sangat ramai, Zidan bahkan baru tau jika banyak orang merelakan jam tidurnya tersita untuk mencari nafkah.

Zidan berjalan menuju motornya sambil merenggangkan otot bahu dan lengannya yang terasa pegal, mungkin karena belum terbiasa

"Cape juga ya cari duit," keluh Zidan saat duduk di atas motor. Namun seketika senyumnya terukir saat mengingat ia bisa memberi uang untuk Zia hari ini.

°°°°

Zia terbangun saat mendengar suara adzan subuh, Zia mendengus kesal, padahal niat awalnya ingin bangun saat Zidan akan berangkat kerja malah ia ketiduran sampai subuh begini.

Zia segera bangkit dari kasur menuju kamar mandi, ia hanya cuci muka dan menggosok gigi. Zia berniat menunggu Zidan untuk solat subuh berjamaah.

Tak lama kemudian terdengar suara motor berhenti di depan kontrakan, Zia segera membuka pintu saat tau itu adalah Zidan. Zidan turun dari motor dengan wajah datarnya, memang Zidan belum bisa bersikap manis pada Zia. Zidan menghampiri Zia yang berdiri di ambang pintu sembari tersenyum lebar.

"Udah bangun?" tanya Zidan yang dijawab anggukan kepala oleh Zia. Zidan masuk ke dalam rumah diikuti Zia di belakangnya. Mereka terlihat seperti suami istri pada umumnya dimana sang istri menyambut suaminya yang pulang bekerja.

"Kenapa ngga bangunin Zia tadi?" protes Zia saat Zidan duduk di pinggir ranjang mereka. Zidan hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

"Udah solat subuh?" tanya Zidan sembari melepas jaketnya.

"Belum, nunggu Zidan." Zia menjawab dengan tangan yang menerima jaket yang Zidan sodorkan kemudian menggantungnya di belakang pintu.

"Ya udah ayo sekarang," ucap Zidan beranjak untuk mengambil wudhu.

Pagi ini pasutri remaja itu sarapan dengan nasi uduk yang dijual tidak jauh dari kontrakan, hanya ini yang mampu Zidan berikan untuk menghemat pengeluaran.

"Maaf. Cuma sarapan ini, gue belum dapet kerjaan tambahan," ucap Zidan saat mereka di meja makan, Zia hanya menganggukkan kepala, sebenarnya ia tidak biasa makan nasi di pagi hari. Biasanya ia hanya memakan sepotong sandwich dan meminum segelas susubyang dibuatkan pembantu di rumah lamanya. Mulai sekarang ia harus terbiasa.

Zidan merogoh saku jaketnya kemudian mengambil uang upahnya tadi, "Nih upah gue tadi, hemat-hemat ya."

Zia menerimanya sembari mengangguk, ia akan berusaha sehemat mungkin.

°°°°

Di sebuah rumah mewah yang terlihat sepi, karena memang hanya dihuni seorang saja. Semenjak perusahaan papanya semakin maju, kedua orang tua Zio jarang sekali berada di rumah. Biasanya rumah ini tidak se sepi ini, namun karena orang yang biasa meramaikan rumah sudah papanya usir membuat rumah ini benar-benar sepi. Ah, Zio jadi rindu Zia, namun sekarang ia masih marah pada adiknya itu.

Zio dengan wajah lesu melangkahkan kakinya menuruni tangga menuju meja makan, disana sudah tertata rapi sandwich kesukaan ia dan Zia. Saat memasukkan sandwich ke dalam mulut Zio teringat adik kembarnya itu. Apakah adiknya itu sekarang bisa menikmati sandwich seperti dirinya?

Zio jadi tidak berselera makan. Kembali ia letakkan sandwich itu di piring, lalu berangkat ke sekolah tanpa sarapan.

Zio berangkat paling awal di antara keempat sahabatnya. Disusul Langit, Dyu, dan Galen yang berangkat bersama Keyna. Kemarin mereka berhasil bertemu Langit, mereka sudah mengetahui bahwa ibu Langit yang dirawat di rumah sakit. Mereka kembali ke kota dan memindahkan ibu Langit ke rumah sakit milik keluarga Galen, tentunya dengan sedikit paksaan agar Langit dan ibunya menyetujuinya.

Tak lama kemudian, Zidan datang seorang diri. Zio ingin pergi dari sana sebelum diberi peringatan lewat deheman dan tatapan penuh isyarat dari sang ketua, Galen.

"Udah balik lo Lang? Sampe ke langit berapa jalan-jalannya? " tanya Zidan bercanda saat melihat Langit duduk di atas motor.

Langit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal setelah turun dari motornya. "Diem Lo. Ibu gue sakit, dodol."

"Lo sih sok banget pake mabuk segala, udah tau Om Dimas galaknya minta ampun," ledek Dyu. Zidan hanya mendengus mendengar penuturan Dyu.

"Kalian duluan aja," ucap Zidan saat menyasari semuanya menunggu Zidan yang tak kunjung turun dari motor.

"Nungguin ayang Ayra pasti, " tebak Dyu.

"Eh Ayra nih ditungguin Zidan," ucap Dyu saat Ayra melintas di depannya. Ayra tidak menggubris ucapan sahabat mantan kekasihnya itu, gadis dengan rambut sebahu itu bahkan tidak menoleh sama sekali.

"Eh...Eh... Eh... Lagi war ya Dan?" tanya Langit melihat sikap Ayra.

Zidan terdiam, ia terus menatap punggung gadis yang sangat ia sayangi itu. "Gue udah ngga sama Ayra lagi," jawab Zidan tidak berhenti mengamati sampai Ayra hilang karena berbelok di koridor kelas.

"Whattt?? Sumpah? Demi apa? Kok bisa?" tanya Dyu tidak percaya.

"Pasangan legendaris SMA Trisakti putus? Yang bucinnya ngga ketulungan kok bisa putus?" heboh Dyu. Yang lain juga sama terkejutnya dengan Dyu.

Zidan tidak menjawab, ia malah melirik ke arah gerbang saat Zia terlihat memasuki sekolah dan menghampiri mereka". Gerak-gerik Zidan pastinya tidak lepas dari perhatian Keyna, Keyna juga tau dari tadi Zidan menunggu Zia sampai di sekolah.

"Eh Zia. Ngga bareng abang Zio nih?" tanya Langit yang memang sudah lama mengagumi Zia. Jika bukan karena Zio yang melarang keras, Langit sudah oepet terus gadis imut itu.

Zia hanya menggeleng sambil tersenyum kecil, Zia mengagumi sosok sederhana seperti Langit. Bukan cinta, karena Zia sendiri tidak tau rasanya mencintai lawan jenis. Zia kemudian melihat sang kakak yang tengah mengalihkan pandangannya. Zio tidak menyapa ataupun membalas tatapan Zia.

"Kok gue kaya ketinggalan banyak, padahal gue cuma pergi beberapa hari," ucap Langit merasakan keanehan pagi ini dengan sahabat-sahabatnya.

Keyna yang memang pintar membaca situasi segera membawa Zia ke kelas sebelum suasananya semakin dingin. Galen pun merangkul pundak Zio dan mengajak sahabatnya yang lain ke kelas juga.

°°°°

Happy Reading ✨♥

Kalau suka jangan lupa Like yaaaa<33

Komentar juga boleh biar aku makin semangat

Terpopuler

Comments

Miyame

Miyame

kayaknya kalo ada cerita zio sm sherena duh.. lengkap banget kak.. tambah suka sm.novel kakak

2024-06-30

2

ℛムメနんム⭑ⷫ ᭄ⷶ°♬

ℛムメနんム⭑ⷫ ᭄ⷶ°♬

.

2022-12-22

1

lihat semua
Episodes
1 1. Truth or Dare
2 2. Hari Itu(1)
3 3. Hari itu(2)
4 4. Tanggung Jawab?
5 5. UKS
6 6. Zio Pulang
7 7. Nikah?
8 8. Sah
9 9. Kamar Zidan
10 10. Awal Baru
11 11. Khawatir
12 12. Putus
13 13. Upah Pertama
14 14. Ayra Berubah
15 15. Mual
16 16. Minggu dengan Sahabat
17 17. Omellet Lagii
18 18. Kita mau punya ponakan?
19 19. Negatif
20 20. Keanehan Cewek Cupu
21 21. Asing
22 22. Beneran Hamil
23 23. Basecamp Atlansa
24 24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25 25. Kedatangan Bunda dan Mama
26 26. Panik
27 Aksi Atlansa
28 Rumah Sakit
29 Dea
30 Mie Instan
31 Capek
32 Rezekinya Dia
33 Lebih Baik
34 34. Zidan dan Ayra?
35 35. Tak Ingin Usai
36 36. Dea Lagi
37 37. Langit
38 38. Kedondong
39 39. Rumah Sakit
40 40. Kembar
41 41. Makan Pizza
42 42. Ulah Janu
43 43. Zia Overthinking
44 44. Taman Bermain
45 45. Fakta Baru Tentang Ayra
46 46. Siapa pelakunya?
47 47. Kacau
48 48. Basecamp
49 49. Klarifikasi
50 50. Bakso Harga Lima Juta
51 51. Dikeluarkan atau Tidak?
52 52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53 53. Keguguran?
54 54. Vanishing Twin Syndrome
55 55. Mulai Ada Rasa
56 56. Bersama Arin
57 57. Belajar Ciuman
58 58. Tanggung
59 59. Baby Cegukan
60 60. Yang Paling Berkuasa
61 Pengumuman (Bukan Update)
62 61. Sup Ala Zia
63 62. Terbongkar?
64 63. Kecemasan Zia
65 64. Kembali Bersama
66 65. Kangen Mama Papa
67 66. Anak Kita
68 67. Kembalinya Aset Zidan
69 68. Rumah Zidan (Lagi)
70 69. Perhatian dari Mertua
71 70. Om Om Hidung Belang
72 71. Rambutan Botak
73 72. Cinta atau Tanggungjawab?
74 73. Gagal Lagi
75 74. Kumpul Santuy
76 75. I LOVE YOU
77 76. Ceramah Bunda Dian
78 77. Akhirnya
79 78. Nasi Padang
80 79. Petunjuk Baru
81 80. Prenatal Yoga Couple
82 81. Pencarian
83 82. Bu Intan
84 83. Penghianat
85 84. Kehidupan Bu Intan
86 85. Rencana Ke Puncak
87 86. On The Way
88 87. Ayra hamil?
89 88. Waktu Cowok
90 89. Menikmati Malam Di Puncak
91 90. Keinginan Zia
92 91. Tujuh Bulanan
93 92. Ketemu Baby Zira
94 93. Bersama Mama
95 94. Dari Hati ke Hati
96 95. Di Kantor Ayah Dimas
97 96. Mbak-Mbak Genit
98 97. Di Tempat Yoga
99 98. Sebentar Lagi
100 99. Satu Komplek?
101 101. Ucapan Pak Ervan
102 101. Sesama Bumil Remaja
103 102. Serangan Di Sekolah
104 103. Pasca Penyerangan
105 104. Perhatian Istri
106 105. Kasus Baru Lagi
107 106. Cemburu
108 107. Pernah
109 108. Melaporkan Tuan Willy
110 109. Belajar Mengurus Bayi
111 110. Masih Bersama Baby Zira
112 111. Apakah....
113 112. Amukan Sang Mertua
114 113. Posisi Kepala Bayi
115 114. Titik Terang
116 115. Kontraksi Palsu
117 116. Kontraksi Awal
118 117. Bukaan 4
119 118. Masih Bukaan 8
120 119. Persalinan
121 120. Skin To Skin
122 121. Papa Riyan
123 122. 38 Hari Lagi
124 123. Ditemani Ayra
125 124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126 125. Papa Nggak Tau
127 126. Rencana Sekolah Lagi
128 127. Hari Pertama Ulangan
129 128. Setelah 42 Hari
130 129. First Day School
131 130. Pengagum Bapak Anak Satu
132 131. Meminta Belajar Bela Diri
133 132. Pasar Malam
134 133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135 134. Wisata Keluarga
136 135. Tamat
137 Special Part
Episodes

Updated 137 Episodes

1
1. Truth or Dare
2
2. Hari Itu(1)
3
3. Hari itu(2)
4
4. Tanggung Jawab?
5
5. UKS
6
6. Zio Pulang
7
7. Nikah?
8
8. Sah
9
9. Kamar Zidan
10
10. Awal Baru
11
11. Khawatir
12
12. Putus
13
13. Upah Pertama
14
14. Ayra Berubah
15
15. Mual
16
16. Minggu dengan Sahabat
17
17. Omellet Lagii
18
18. Kita mau punya ponakan?
19
19. Negatif
20
20. Keanehan Cewek Cupu
21
21. Asing
22
22. Beneran Hamil
23
23. Basecamp Atlansa
24
24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25
25. Kedatangan Bunda dan Mama
26
26. Panik
27
Aksi Atlansa
28
Rumah Sakit
29
Dea
30
Mie Instan
31
Capek
32
Rezekinya Dia
33
Lebih Baik
34
34. Zidan dan Ayra?
35
35. Tak Ingin Usai
36
36. Dea Lagi
37
37. Langit
38
38. Kedondong
39
39. Rumah Sakit
40
40. Kembar
41
41. Makan Pizza
42
42. Ulah Janu
43
43. Zia Overthinking
44
44. Taman Bermain
45
45. Fakta Baru Tentang Ayra
46
46. Siapa pelakunya?
47
47. Kacau
48
48. Basecamp
49
49. Klarifikasi
50
50. Bakso Harga Lima Juta
51
51. Dikeluarkan atau Tidak?
52
52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53
53. Keguguran?
54
54. Vanishing Twin Syndrome
55
55. Mulai Ada Rasa
56
56. Bersama Arin
57
57. Belajar Ciuman
58
58. Tanggung
59
59. Baby Cegukan
60
60. Yang Paling Berkuasa
61
Pengumuman (Bukan Update)
62
61. Sup Ala Zia
63
62. Terbongkar?
64
63. Kecemasan Zia
65
64. Kembali Bersama
66
65. Kangen Mama Papa
67
66. Anak Kita
68
67. Kembalinya Aset Zidan
69
68. Rumah Zidan (Lagi)
70
69. Perhatian dari Mertua
71
70. Om Om Hidung Belang
72
71. Rambutan Botak
73
72. Cinta atau Tanggungjawab?
74
73. Gagal Lagi
75
74. Kumpul Santuy
76
75. I LOVE YOU
77
76. Ceramah Bunda Dian
78
77. Akhirnya
79
78. Nasi Padang
80
79. Petunjuk Baru
81
80. Prenatal Yoga Couple
82
81. Pencarian
83
82. Bu Intan
84
83. Penghianat
85
84. Kehidupan Bu Intan
86
85. Rencana Ke Puncak
87
86. On The Way
88
87. Ayra hamil?
89
88. Waktu Cowok
90
89. Menikmati Malam Di Puncak
91
90. Keinginan Zia
92
91. Tujuh Bulanan
93
92. Ketemu Baby Zira
94
93. Bersama Mama
95
94. Dari Hati ke Hati
96
95. Di Kantor Ayah Dimas
97
96. Mbak-Mbak Genit
98
97. Di Tempat Yoga
99
98. Sebentar Lagi
100
99. Satu Komplek?
101
101. Ucapan Pak Ervan
102
101. Sesama Bumil Remaja
103
102. Serangan Di Sekolah
104
103. Pasca Penyerangan
105
104. Perhatian Istri
106
105. Kasus Baru Lagi
107
106. Cemburu
108
107. Pernah
109
108. Melaporkan Tuan Willy
110
109. Belajar Mengurus Bayi
111
110. Masih Bersama Baby Zira
112
111. Apakah....
113
112. Amukan Sang Mertua
114
113. Posisi Kepala Bayi
115
114. Titik Terang
116
115. Kontraksi Palsu
117
116. Kontraksi Awal
118
117. Bukaan 4
119
118. Masih Bukaan 8
120
119. Persalinan
121
120. Skin To Skin
122
121. Papa Riyan
123
122. 38 Hari Lagi
124
123. Ditemani Ayra
125
124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126
125. Papa Nggak Tau
127
126. Rencana Sekolah Lagi
128
127. Hari Pertama Ulangan
129
128. Setelah 42 Hari
130
129. First Day School
131
130. Pengagum Bapak Anak Satu
132
131. Meminta Belajar Bela Diri
133
132. Pasar Malam
134
133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135
134. Wisata Keluarga
136
135. Tamat
137
Special Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!