Huek... Huekk.. Huek... .
Zidan yang mendengar suara orang muntah pun terbangun, ia menengok di sebelah sudah tidak ada Zia di sampingnya. Zidan bergegas berlari menuju kamar mandi, dan menemukan Zia sedang berjongkok mencoba mengeluarkan isi perutnya.
Zidan membungkuk di belakang Zia, mengumpulkan rambut Zia, kemudian mengurut leher belakang Zia. Zia yang merasakan keberadaan Zidan menoleh pada Zidan dengan wajah penuh peluhnya.
"Udah?" tanya Zidan, Zia tidak menjawab ia malah kembali memuntahkan isi perutnya di kloset.
"Kaluarin semua aja, biar lega," ucap Zidan saat melihat Zia mencoba menahan muntahnya.
Huek.... Huek..
Perut Zia sudah perih karena ia sudah muntah hampir setengah jam. Sekarang pukul setengah enam pagi. Tadi setelah pulang kerja dan solat subuh Zidan kembali tidur karena hari ini hari Minggu. Zidan terus mengurut tengkuk Zia, sudah tidak ada yang keluar dari mulut Zia, tapi istrinya itu tidak berhenti mual-mual.
"Lo kenapa si Zi? Masuk angin?" tanya Zidan menuntun Zia kembali ke kamar. Zia sebenarnya masih mual, namun Zidan tetap membawa Zia ke kamar. Lebih baik sambil tiduran, Zidan akan mengambil kantong kresek agar Zia bisa menggunakannya saat mual tanpa harus ke kamar mandi.
"Ngga tau, mual banget rasanya. Huek... " Zia kembali menutup mulutnya. Zidan menidurkan Zia di kasur, kemudian keluar menuju dapur untuk mengambil kantong kresek.
Zidan juga membuat bubur dan teh hangat yang kebetulan hanya tersisa satu teh celup di dapur untuk mengisi perut Zia yang semua isinya susah keluar tak tersisa.
Zidan masuk kamar dengan membawa nampan berisi bubur, teh manis hangat, dan beberapa kantong kresek. Zidan kemudian meletakkannya di meja belajar saat melihat Zia yang sudah memejamkan matanya.
"Zia bangun dulu, makan. Nih gue buatin bubur biar perutnya keisi lagi," ucap Zidan lembut dengan tangan yang menepuk pelan pipi Zia.
Zia melenguh kemudian membuka matanya perlahan. Zia baru saja tertidur tapi Zidan sudah membangunkannya lagi. "Apa Zidan?" tanya Zia lemah.
"Makan dulu."
Zia mengangguk sembari mencoba duduk dengan bersandar pada kepala tempat tidur.
Zia mengambil mangkuk bubur di tangan Zidan. "Makasii."
Zidan mengangguk, lalu memperhatikan Zia yang tengah menyuapkan suapan pertama ke mulut. Zidan seketika langsung beranjak mengambil kantong kresek saat melihat Zia menyergitkan alisnya dengan raut wajah menahan mual.
Hoek...hoek...
Zia kembali memuntahkan sesuap bubur yang baru masuk ke kerongkongannya, disertai cairan yang rasanya sangat pahit. Setelah rasa mualnya reda, Zidan mencoba menyuapi Zia kembali, namun Zia menggelengkan kepalanya.
"Ngga mau. Mual kalo makan itu," lirih Zia menjauhkan lengan Zidan yang memegang sendok.
Zidan menghela napasnya, ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia tidak pernah merawat orang sakit, apalagi yang sampai muntah-muntah seperti Zia sekarang.
"Lo maunya makan apa?" tanya Zidan mencoba memahami Zia.
Zia hanya menggelengkan kepalanya. "Mau minum aja, haus," ucap Zia saat melihat segelas teh di meja belajar.
Zidan mengambil teh hangat tersebut dan memberikannya pada Zia. Zidan juga sudah memegang kantong kresek lagi, takutnya Zia akan muntah lagi. Dan benar saja saat teh itu sudah tinggal setengah gelas Zia kembali muntah. Perut Zia menolak apapun yang masuk ke lambungnya, Zidan jadi semakin bingung dan khawatir.
"Ke dokter aja ya?" tawar Zidan saat Zia sudah berhenti muntah, Zia hanya menggelengkan kepala kemudian membaringkan tubuhnya yang sudah sangat lemas.
"Zia mau tidur aja," lirih Zia sembari menarik selimut tipis untuk menutupi tubuhnya sampai leher. Zidan hanya mengangguk dan memperhatikan wajah pucat Zia yang tengah tertidur. Zidan akan membawa Zia ke rumah sakit jika saat bangun nanti Zia tetap tidak mau makan atau kembali muntah. Jujur Zidan sangat khawatir melihat Zia yang baru pertama kali sakit setelah menikah dengannya.
Zidan ingin menanyakan kepada Zio apa yang biasanya orang rumah Zio lakukan saat Zia tengah sakit, tapi ia ragu Zio akan membalas pesannya atau tidak. Selama dua minggu ini Zio sama sekali belum mau berbicara dengan Zidan. Masa bodo dijawab atau tidak yang penting Zidan sudah berusaha. Zidan meraih ponselnya dan mulai mengetikkan pesan pada kakak iparnya.
Zio
Zia sakit, orang rumah lo biasanya ngapain biar Zia mau makan, atau biar mau dibawa ke dokter?
Zidan menunggu beberapa saat sebelum tanda centang biru yang menandakan pesan sudah dibaca itu terlihat. Namun, sampai sepuluh menit kemudian tidak ada balasan dari Zio.
Zidan yang hari ini harusnya bekerja full dari pagi sampai sore di kafe milik Mama Galen memilih untuk izin dan menemani Zia di rumah. Zidan sudah bekerja di kafe itu selama seminggu, setelah Galen yang menawarkan kepadanya saat itu.
Zidan menyergitkan alisnya saat deru motor sport berhenti di depan rumahnya. Siapa yang bertamu, apakah Galen?
Zidan beranjak dari kamar saat ada yang meneguk pintu kontrakannya dengan tidak sabaran.
"Siapa sii, ngga sabaran banget. SEBENTAR!" teriak Zidan sembari berjalan dan membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka tubuh Zidan langsung terpental karena dorongan kuat dari luar. Zidan kaget saat Zio mendorong pintu dengan tidak sabaran.
"Mana Zia?" tanya Zio terlihat sangat cemas.
Zidan menunjukkan kamarnya dengan menggerakkan dagu ke arah pintu kamar. Zia langsung berlari membuka pintu kamar Zia dan Zidan dengan perlahan.
Zio menghampiri tubuh Zia yang terbungkus selimut hingga leher, wajah Zia masih terlihat pucat. Zio mengelus pipi Zia dan membenarkan anak rambut yang menutupi wajah Zia.
Zia perlahan terbangun saat merasakan telapak tangan dingin menyentuh wajahnya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah khawatir sang kakak. Zia mengerjapkan matanya berkali kali takut ia sekarang sedang bermimpi.
"Zia udah bangun? apanya yang sakit?" tanya Zio membantu Zia duduk.
"Kak Zio?" Zio menganggukkan kepalanya, Zia langsung menghambur memeluk tubuh Zio dan dibalas oleh Zio tidak kalah erat.
"Sakit apa hm?" tanya Zio saat Zia mendongakkan wajahnya dan Zio yang menunduk, mereka saling tatap.
"Engga tau. Bangun-bangun tadi mual terus muntah-muntah ngga berhenti berhenti sampe Zia lemes banget," jawab Zia yang dibalas anggukan oleh Zio.
"Masih mual sekarang?"
"Engga, waktu bangun tadi udah ngga mual, cuma lemes ajaa," jawab Zia dengan tidak melepas pelukannya dari Zio.
"Ekhm." Zidan sedari dari bersandar di pintu dengan tangan yang ia masukan ke dalam saku celana. Ia berdehem untuk menyadarkan mereka bahwa masih ada dia di sana.
Zio mendengus kesal, "Lo kasih makan apa adek gue sampe muntah muntah?" tanya Zio dengan nada kesal.
"Gue kasih kayu sama batu."
Zio sudah tidak menggubris perkataan Zidan, ia kini menidurkan Zia kembali dengan posisi setengah duduk bersandar pada bantal.
"Lo mau makan apa sekarang?" tanya Zidan mendekat dan menarik kursi belajar untuk ia duduki.
Zia tampak berpikir sejenak, "Emm Zia mau omellet yang kaya waktu itu Zidan pernah buat," jawab Zia saat dipikirannya terpintas lezatnya memakan omellet dengan nasi panas.
"Oke." Zidan berdiri dan memberikan kursi yang semula ia duduki pada Zio. "Noh duduk."
Zidan segera ke dapur dan membuatkan omellet untuk Zia. Untung persediaan di dapur masih ada. Setelah selesai ia meletakkannya di nampan dengan nasi panas, dan tiga gelas air putih.
"Nih dimakan," ucap Zidan menyerahkan piring berisi nasi panas dengan omellet. Zidan juga memberikan segelas air putih pada Zio, "Nih buat lo, ngga usah protes. Adanya cuma itu."
Mata Zia berbinar menatap makanan yang sedari tadi ia inginkan. Zia dengan semangat menyendokkannya ke mulut. Zidan sudah berdiri memegang kantong kresek untuk jaga jaga kalau Zia muntah lagi.
"Tumben suka omellet. Padahal dulu ngga pernah mau makan omellet di rumah," ucap Zio saat melihat Zia makan dengan begitu lahap walau hanya dengan omellet.
"Nggwa twau. Omellet bwuatan Zidwan enwak bangwet," balas Zia dengan mulut yang penuh.
"Telen dulu baru jawab." Zia hanya nyengir saat ditegur Zidan yang kini duduk di ranjang tepat di sebelahnya. Masih dengan tangan yang memegang kantong kresek.
"Lo ngapa pegang kresek gitu," heran Zio saat melihat Zidan memegang kantong kresek di sebelah Zia.
"Jaga jaga aja. Tadi pagi setiap Zia makan atau minum langsung dimuntahin lagi," jawab Zidan yang dibalas anggukan kepala oleh Zio.
Mereka terdiam dengan Zia yang sibuk makan sampai Zia menghabiskan sendokan terakhir.
"Ngga mual?" Zidan bernapas lega saat Zia menggelengkan kepalanya, Zidan menyerahkan segelas air putih dan mengambil piring kosong dari tangan Zia. Tentu semua perilaku Zidan diamati oleh Zio, Zio merasa senang karena Zidan memperlakukan adiknya dengan baik.
°°°°
Hallo semuaa 👋👋
Happy Reading yaa..♥✨.
Kali suka boleh kasih like 👍👍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Zidan emang baik,Cuman waktu itu aja dia khilaf,itu juga bukan salah Zidan,Kalo bukan di kasih obat gak mungkin Zidan ngelakuin itu,Kalo emg niat mendingan dia ngelakuin sama Ayra aja..
2024-02-08
0
Mei Lin
lanjut terus Thor... ttp semangat
2022-10-02
1
Sila
lanjut....
2022-07-03
2