15. Mual

Huek... Huekk.. Huek... .

Zidan yang mendengar suara orang muntah pun terbangun, ia menengok di sebelah sudah tidak ada Zia di sampingnya. Zidan bergegas berlari menuju kamar mandi, dan menemukan Zia sedang berjongkok mencoba mengeluarkan isi perutnya.

Zidan membungkuk di belakang Zia, mengumpulkan rambut Zia, kemudian mengurut leher belakang Zia. Zia yang merasakan keberadaan Zidan menoleh pada Zidan dengan wajah penuh peluhnya.

"Udah?" tanya Zidan, Zia tidak menjawab ia malah kembali memuntahkan isi perutnya di kloset.

"Kaluarin semua aja, biar lega," ucap Zidan saat melihat Zia mencoba menahan muntahnya.

Huek.... Huek..

Perut Zia sudah perih karena ia sudah muntah hampir setengah jam. Sekarang pukul setengah enam pagi. Tadi setelah pulang kerja dan solat subuh Zidan kembali tidur karena hari ini hari Minggu. Zidan terus mengurut tengkuk Zia, sudah tidak ada yang keluar dari mulut Zia, tapi istrinya itu tidak berhenti mual-mual.

"Lo kenapa si Zi? Masuk angin?" tanya Zidan menuntun Zia kembali ke kamar. Zia sebenarnya masih mual, namun Zidan tetap membawa Zia ke kamar. Lebih baik sambil tiduran, Zidan akan mengambil kantong kresek agar Zia bisa menggunakannya saat mual tanpa harus ke kamar mandi.

"Ngga tau, mual banget rasanya. Huek... " Zia kembali menutup mulutnya. Zidan menidurkan Zia di kasur, kemudian keluar menuju dapur untuk mengambil kantong kresek.

Zidan juga membuat bubur dan teh hangat yang kebetulan hanya tersisa satu teh celup di dapur untuk mengisi perut Zia yang semua isinya susah keluar tak tersisa.

Zidan masuk kamar dengan membawa nampan berisi bubur, teh manis hangat, dan beberapa kantong kresek. Zidan kemudian meletakkannya di meja belajar saat melihat Zia yang sudah memejamkan matanya.

"Zia bangun dulu, makan. Nih gue buatin bubur biar perutnya keisi lagi," ucap Zidan lembut dengan tangan yang menepuk pelan pipi Zia.

Zia melenguh kemudian membuka matanya perlahan. Zia baru saja tertidur tapi Zidan sudah membangunkannya lagi. "Apa Zidan?" tanya Zia lemah.

"Makan dulu."

Zia mengangguk sembari mencoba duduk dengan bersandar pada kepala tempat tidur.

Zia mengambil mangkuk bubur di tangan Zidan. "Makasii."

Zidan mengangguk, lalu memperhatikan Zia yang tengah menyuapkan suapan pertama ke mulut. Zidan seketika langsung beranjak mengambil kantong kresek saat melihat Zia menyergitkan alisnya dengan raut wajah menahan mual.

Hoek...hoek...

Zia kembali memuntahkan sesuap bubur yang baru masuk ke kerongkongannya, disertai cairan yang rasanya sangat pahit. Setelah rasa mualnya reda, Zidan mencoba menyuapi Zia kembali, namun Zia menggelengkan kepalanya.

"Ngga mau. Mual kalo makan itu," lirih Zia menjauhkan lengan Zidan yang memegang sendok.

Zidan menghela napasnya, ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia tidak pernah merawat orang sakit, apalagi yang sampai muntah-muntah seperti Zia sekarang.

"Lo maunya makan apa?" tanya Zidan mencoba memahami Zia.

Zia hanya menggelengkan kepalanya. "Mau minum aja, haus," ucap Zia saat melihat segelas teh di meja belajar.

Zidan mengambil teh hangat tersebut dan memberikannya pada Zia. Zidan juga sudah memegang kantong kresek lagi, takutnya Zia akan muntah lagi. Dan benar saja saat teh itu sudah tinggal setengah gelas Zia kembali muntah. Perut Zia menolak apapun yang masuk ke lambungnya, Zidan jadi semakin bingung dan khawatir.

"Ke dokter aja ya?" tawar Zidan saat Zia sudah berhenti muntah, Zia hanya menggelengkan kepala kemudian membaringkan tubuhnya yang sudah sangat lemas.

"Zia mau tidur aja," lirih Zia sembari menarik selimut tipis untuk menutupi tubuhnya sampai leher. Zidan hanya mengangguk dan memperhatikan wajah pucat Zia yang tengah tertidur. Zidan akan membawa Zia ke rumah sakit jika saat bangun nanti Zia tetap tidak mau makan atau kembali muntah. Jujur Zidan sangat khawatir melihat Zia yang baru pertama kali sakit setelah menikah dengannya.

Zidan ingin menanyakan kepada Zio apa yang biasanya orang rumah Zio lakukan saat Zia tengah sakit, tapi ia ragu Zio akan membalas pesannya atau tidak. Selama dua minggu ini Zio sama sekali belum mau berbicara dengan Zidan. Masa bodo dijawab atau tidak yang penting Zidan sudah berusaha. Zidan meraih ponselnya dan mulai mengetikkan pesan pada kakak iparnya.

Zio

Zia sakit, orang rumah lo biasanya ngapain biar Zia mau makan, atau biar mau dibawa ke dokter?

Zidan menunggu beberapa saat sebelum tanda centang biru yang menandakan pesan sudah dibaca itu terlihat. Namun, sampai sepuluh menit kemudian tidak ada balasan dari Zio.

Zidan yang hari ini harusnya bekerja full dari pagi sampai sore di kafe milik Mama Galen memilih untuk izin dan menemani Zia di rumah. Zidan sudah bekerja di kafe itu selama seminggu, setelah Galen yang menawarkan kepadanya saat itu.

Zidan menyergitkan alisnya saat deru motor sport berhenti di depan rumahnya. Siapa yang bertamu, apakah Galen?

Zidan beranjak dari kamar saat ada yang meneguk pintu kontrakannya dengan tidak sabaran.

"Siapa sii, ngga sabaran banget. SEBENTAR!" teriak Zidan sembari berjalan dan membukakan pintu.

Begitu pintu terbuka tubuh Zidan langsung terpental karena dorongan kuat dari luar. Zidan kaget saat Zio mendorong pintu dengan tidak sabaran.

"Mana Zia?" tanya Zio terlihat sangat cemas.

Zidan menunjukkan kamarnya dengan menggerakkan dagu ke arah pintu kamar. Zia langsung berlari membuka pintu kamar Zia dan Zidan dengan perlahan.

Zio menghampiri tubuh Zia yang terbungkus selimut hingga leher, wajah Zia masih terlihat pucat. Zio mengelus pipi Zia dan membenarkan anak rambut yang menutupi wajah Zia.

Zia perlahan terbangun saat merasakan telapak tangan dingin menyentuh wajahnya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah khawatir sang kakak. Zia mengerjapkan matanya berkali kali takut ia sekarang sedang bermimpi.

"Zia udah bangun? apanya yang sakit?" tanya Zio membantu Zia duduk.

"Kak Zio?" Zio menganggukkan kepalanya, Zia langsung menghambur memeluk tubuh Zio dan dibalas oleh Zio tidak kalah erat.

"Sakit apa hm?" tanya Zio saat Zia mendongakkan wajahnya dan Zio yang menunduk, mereka saling tatap.

"Engga tau. Bangun-bangun tadi mual terus muntah-muntah ngga berhenti berhenti sampe Zia lemes banget," jawab Zia yang dibalas anggukan oleh Zio.

"Masih mual sekarang?"

"Engga, waktu bangun tadi udah ngga mual, cuma lemes ajaa," jawab Zia dengan tidak melepas pelukannya dari Zio.

"Ekhm." Zidan sedari dari bersandar di pintu dengan tangan yang ia masukan ke dalam saku celana. Ia berdehem untuk menyadarkan mereka bahwa masih ada dia di sana.

Zio mendengus kesal, "Lo kasih makan apa adek gue sampe muntah muntah?" tanya Zio dengan nada kesal.

"Gue kasih kayu sama batu."

Zio sudah tidak menggubris perkataan Zidan, ia kini menidurkan Zia kembali dengan posisi setengah duduk bersandar pada bantal.

"Lo mau makan apa sekarang?" tanya Zidan mendekat dan menarik kursi belajar untuk ia duduki.

Zia tampak berpikir sejenak, "Emm Zia mau omellet yang kaya waktu itu Zidan pernah buat," jawab Zia saat dipikirannya terpintas lezatnya memakan omellet dengan nasi panas.

"Oke." Zidan berdiri dan memberikan kursi yang semula ia duduki pada Zio. "Noh duduk."

Zidan segera ke dapur dan membuatkan omellet untuk Zia. Untung persediaan di dapur masih ada. Setelah selesai ia meletakkannya di nampan dengan nasi panas, dan tiga gelas air putih.

"Nih dimakan," ucap Zidan menyerahkan piring berisi nasi panas dengan omellet. Zidan juga memberikan segelas air putih pada Zio, "Nih buat lo, ngga usah protes. Adanya cuma itu."

Mata Zia berbinar menatap makanan yang sedari tadi ia inginkan. Zia dengan semangat menyendokkannya ke mulut. Zidan sudah berdiri memegang kantong kresek untuk jaga jaga kalau Zia muntah lagi.

"Tumben suka omellet. Padahal dulu ngga pernah mau makan omellet di rumah," ucap Zio saat melihat Zia makan dengan begitu lahap walau hanya dengan omellet.

"Nggwa twau. Omellet bwuatan Zidwan enwak bangwet," balas Zia dengan mulut yang penuh.

"Telen dulu baru jawab." Zia hanya nyengir saat ditegur Zidan yang kini duduk di ranjang tepat di sebelahnya. Masih dengan tangan yang memegang kantong kresek.

"Lo ngapa pegang kresek gitu," heran Zio saat melihat Zidan memegang kantong kresek di sebelah Zia.

"Jaga jaga aja. Tadi pagi setiap Zia makan atau minum langsung dimuntahin lagi," jawab Zidan yang dibalas anggukan kepala oleh Zio.

Mereka terdiam dengan Zia yang sibuk makan sampai Zia menghabiskan sendokan terakhir.

"Ngga mual?" Zidan bernapas lega saat Zia menggelengkan kepalanya, Zidan menyerahkan segelas air putih dan mengambil piring kosong dari tangan Zia. Tentu semua perilaku Zidan diamati oleh Zio, Zio merasa senang karena Zidan memperlakukan adiknya dengan baik.

°°°°

Hallo semuaa 👋👋

Happy Reading yaa..♥✨.

Kali suka boleh kasih like 👍👍

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Zidan emang baik,Cuman waktu itu aja dia khilaf,itu juga bukan salah Zidan,Kalo bukan di kasih obat gak mungkin Zidan ngelakuin itu,Kalo emg niat mendingan dia ngelakuin sama Ayra aja..

2024-02-08

0

Mei Lin

Mei Lin

lanjut terus Thor... ttp semangat

2022-10-02

1

Sila

Sila

lanjut....

2022-07-03

2

lihat semua
Episodes
1 1. Truth or Dare
2 2. Hari Itu(1)
3 3. Hari itu(2)
4 4. Tanggung Jawab?
5 5. UKS
6 6. Zio Pulang
7 7. Nikah?
8 8. Sah
9 9. Kamar Zidan
10 10. Awal Baru
11 11. Khawatir
12 12. Putus
13 13. Upah Pertama
14 14. Ayra Berubah
15 15. Mual
16 16. Minggu dengan Sahabat
17 17. Omellet Lagii
18 18. Kita mau punya ponakan?
19 19. Negatif
20 20. Keanehan Cewek Cupu
21 21. Asing
22 22. Beneran Hamil
23 23. Basecamp Atlansa
24 24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25 25. Kedatangan Bunda dan Mama
26 26. Panik
27 Aksi Atlansa
28 Rumah Sakit
29 Dea
30 Mie Instan
31 Capek
32 Rezekinya Dia
33 Lebih Baik
34 34. Zidan dan Ayra?
35 35. Tak Ingin Usai
36 36. Dea Lagi
37 37. Langit
38 38. Kedondong
39 39. Rumah Sakit
40 40. Kembar
41 41. Makan Pizza
42 42. Ulah Janu
43 43. Zia Overthinking
44 44. Taman Bermain
45 45. Fakta Baru Tentang Ayra
46 46. Siapa pelakunya?
47 47. Kacau
48 48. Basecamp
49 49. Klarifikasi
50 50. Bakso Harga Lima Juta
51 51. Dikeluarkan atau Tidak?
52 52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53 53. Keguguran?
54 54. Vanishing Twin Syndrome
55 55. Mulai Ada Rasa
56 56. Bersama Arin
57 57. Belajar Ciuman
58 58. Tanggung
59 59. Baby Cegukan
60 60. Yang Paling Berkuasa
61 Pengumuman (Bukan Update)
62 61. Sup Ala Zia
63 62. Terbongkar?
64 63. Kecemasan Zia
65 64. Kembali Bersama
66 65. Kangen Mama Papa
67 66. Anak Kita
68 67. Kembalinya Aset Zidan
69 68. Rumah Zidan (Lagi)
70 69. Perhatian dari Mertua
71 70. Om Om Hidung Belang
72 71. Rambutan Botak
73 72. Cinta atau Tanggungjawab?
74 73. Gagal Lagi
75 74. Kumpul Santuy
76 75. I LOVE YOU
77 76. Ceramah Bunda Dian
78 77. Akhirnya
79 78. Nasi Padang
80 79. Petunjuk Baru
81 80. Prenatal Yoga Couple
82 81. Pencarian
83 82. Bu Intan
84 83. Penghianat
85 84. Kehidupan Bu Intan
86 85. Rencana Ke Puncak
87 86. On The Way
88 87. Ayra hamil?
89 88. Waktu Cowok
90 89. Menikmati Malam Di Puncak
91 90. Keinginan Zia
92 91. Tujuh Bulanan
93 92. Ketemu Baby Zira
94 93. Bersama Mama
95 94. Dari Hati ke Hati
96 95. Di Kantor Ayah Dimas
97 96. Mbak-Mbak Genit
98 97. Di Tempat Yoga
99 98. Sebentar Lagi
100 99. Satu Komplek?
101 101. Ucapan Pak Ervan
102 101. Sesama Bumil Remaja
103 102. Serangan Di Sekolah
104 103. Pasca Penyerangan
105 104. Perhatian Istri
106 105. Kasus Baru Lagi
107 106. Cemburu
108 107. Pernah
109 108. Melaporkan Tuan Willy
110 109. Belajar Mengurus Bayi
111 110. Masih Bersama Baby Zira
112 111. Apakah....
113 112. Amukan Sang Mertua
114 113. Posisi Kepala Bayi
115 114. Titik Terang
116 115. Kontraksi Palsu
117 116. Kontraksi Awal
118 117. Bukaan 4
119 118. Masih Bukaan 8
120 119. Persalinan
121 120. Skin To Skin
122 121. Papa Riyan
123 122. 38 Hari Lagi
124 123. Ditemani Ayra
125 124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126 125. Papa Nggak Tau
127 126. Rencana Sekolah Lagi
128 127. Hari Pertama Ulangan
129 128. Setelah 42 Hari
130 129. First Day School
131 130. Pengagum Bapak Anak Satu
132 131. Meminta Belajar Bela Diri
133 132. Pasar Malam
134 133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135 134. Wisata Keluarga
136 135. Tamat
137 Special Part
Episodes

Updated 137 Episodes

1
1. Truth or Dare
2
2. Hari Itu(1)
3
3. Hari itu(2)
4
4. Tanggung Jawab?
5
5. UKS
6
6. Zio Pulang
7
7. Nikah?
8
8. Sah
9
9. Kamar Zidan
10
10. Awal Baru
11
11. Khawatir
12
12. Putus
13
13. Upah Pertama
14
14. Ayra Berubah
15
15. Mual
16
16. Minggu dengan Sahabat
17
17. Omellet Lagii
18
18. Kita mau punya ponakan?
19
19. Negatif
20
20. Keanehan Cewek Cupu
21
21. Asing
22
22. Beneran Hamil
23
23. Basecamp Atlansa
24
24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25
25. Kedatangan Bunda dan Mama
26
26. Panik
27
Aksi Atlansa
28
Rumah Sakit
29
Dea
30
Mie Instan
31
Capek
32
Rezekinya Dia
33
Lebih Baik
34
34. Zidan dan Ayra?
35
35. Tak Ingin Usai
36
36. Dea Lagi
37
37. Langit
38
38. Kedondong
39
39. Rumah Sakit
40
40. Kembar
41
41. Makan Pizza
42
42. Ulah Janu
43
43. Zia Overthinking
44
44. Taman Bermain
45
45. Fakta Baru Tentang Ayra
46
46. Siapa pelakunya?
47
47. Kacau
48
48. Basecamp
49
49. Klarifikasi
50
50. Bakso Harga Lima Juta
51
51. Dikeluarkan atau Tidak?
52
52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53
53. Keguguran?
54
54. Vanishing Twin Syndrome
55
55. Mulai Ada Rasa
56
56. Bersama Arin
57
57. Belajar Ciuman
58
58. Tanggung
59
59. Baby Cegukan
60
60. Yang Paling Berkuasa
61
Pengumuman (Bukan Update)
62
61. Sup Ala Zia
63
62. Terbongkar?
64
63. Kecemasan Zia
65
64. Kembali Bersama
66
65. Kangen Mama Papa
67
66. Anak Kita
68
67. Kembalinya Aset Zidan
69
68. Rumah Zidan (Lagi)
70
69. Perhatian dari Mertua
71
70. Om Om Hidung Belang
72
71. Rambutan Botak
73
72. Cinta atau Tanggungjawab?
74
73. Gagal Lagi
75
74. Kumpul Santuy
76
75. I LOVE YOU
77
76. Ceramah Bunda Dian
78
77. Akhirnya
79
78. Nasi Padang
80
79. Petunjuk Baru
81
80. Prenatal Yoga Couple
82
81. Pencarian
83
82. Bu Intan
84
83. Penghianat
85
84. Kehidupan Bu Intan
86
85. Rencana Ke Puncak
87
86. On The Way
88
87. Ayra hamil?
89
88. Waktu Cowok
90
89. Menikmati Malam Di Puncak
91
90. Keinginan Zia
92
91. Tujuh Bulanan
93
92. Ketemu Baby Zira
94
93. Bersama Mama
95
94. Dari Hati ke Hati
96
95. Di Kantor Ayah Dimas
97
96. Mbak-Mbak Genit
98
97. Di Tempat Yoga
99
98. Sebentar Lagi
100
99. Satu Komplek?
101
101. Ucapan Pak Ervan
102
101. Sesama Bumil Remaja
103
102. Serangan Di Sekolah
104
103. Pasca Penyerangan
105
104. Perhatian Istri
106
105. Kasus Baru Lagi
107
106. Cemburu
108
107. Pernah
109
108. Melaporkan Tuan Willy
110
109. Belajar Mengurus Bayi
111
110. Masih Bersama Baby Zira
112
111. Apakah....
113
112. Amukan Sang Mertua
114
113. Posisi Kepala Bayi
115
114. Titik Terang
116
115. Kontraksi Palsu
117
116. Kontraksi Awal
118
117. Bukaan 4
119
118. Masih Bukaan 8
120
119. Persalinan
121
120. Skin To Skin
122
121. Papa Riyan
123
122. 38 Hari Lagi
124
123. Ditemani Ayra
125
124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126
125. Papa Nggak Tau
127
126. Rencana Sekolah Lagi
128
127. Hari Pertama Ulangan
129
128. Setelah 42 Hari
130
129. First Day School
131
130. Pengagum Bapak Anak Satu
132
131. Meminta Belajar Bela Diri
133
132. Pasar Malam
134
133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135
134. Wisata Keluarga
136
135. Tamat
137
Special Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!