4. Tanggung Jawab?

Bugh!

Zio tak ada henti-hentinya membogem sahabatnya sendiri, juga melemparinya dengan barang-barang di sekitarnya.

"B R E N G S E K! " makinya pada Zidan yang sudah terkulai lemas tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhnya yang babak belur.

Tidak ada kata lain yang terucap selain makian yang selalu Zio lontarkan di setiap satu pukulan mengenai tubuh Zidan. Apa yang ia lihat tadi telah menutup hatinya bahwa lelaki yang tengah ia pukuli adalah sahabatnya sendiri.

Suara isakan dari gadis yang berbaring di kasur itu pun tak mampu menghentikan aksinya.

Brak!

Suara pintu yang dibuka dengan begitu kencang mengalihkan pandangan ketiga orang itu pada pintu tersebut.

"Astaghfirulloh! " seru Galen dengan reflek menutup mata Keyna dan menutup kembali pintu itu.

Zio yang melihat itu, dengan napas yang masih memburu berjalan menuju lemari, mengambil selimut untuk menutupi tubuh polos Zidan yang sudah terkapar dan hanya mampu duduk bersandar pada ranjang di belakangnya. Baju Zidan sudah berserakan entah di mana.

Zio membuka pintu dan pergi begitu saja, sementara Galen langsung berlari menghampiri Zidan, dan Keyna yang menghampiri Zia.

Keyna langsung mendekap erat tubuh gemetar Zia, ia sangat tahu sahabatnya ini sangat ketakutan, "sstt... tenang yaa."

Zia masih terisak keras, ia masih sangat kaget dan bingung apa yang terjadi, yang ia tau seluruh tubuhnya, terutama bagian bawahnya sakit. Tadi ia tersadar saat disiram air dingin oleh Zio, dan mendapati tubuhnya ditindih tubuh Zidan yang sama sama tak berpakaian, Zidan ditarik Zio, dan tubuhnya langsung ditutupi selimut oleh kakaknya itu.

Galen dan Keyna saling tatap, mereka sepertinya memiliki pikiran yang sama hanya dengan melihat keadaan Zia dan Zidan saat ini.

Hoek...

Tatapan keduanya beralih pada Zia yang seperti akan muntah. Keyna melepas pelukannya, mencondongkan tubuh Zia ke samping tempat tidur.

"Muntahin Zi, jangan ditahan, " ujar Keyna yang melihat Zia menahan muntahannya, Keyna memijit tengkuk Zia hingga Zia benar-benar memuntahkan isi perutnya di samping tempat tidurnya.

Hoek! Hoek!

Keyna terus memijit tengkuk belakang Zia, dari bau muntahan itu dapat Keyna simpulkan bahwa Zia habis mengonsumsi alkohol dalam jumlah yang tak sedikit.

"Hamil? " tanya Galen yang melihat Zia tak berhenti muntah. Dia kira secepat itu kali prosesnya.

"Ngaco kamu, baru juga tadi. Belum jadi lah!" jawab Keyna terdengar ambigu. Tangannya mengusap dahi Zia yang berkeringat.

"Lah itu muntah-muntah gitu kaya waktu Arin-"

"Arin apa? Ini tuh kebanyakan minum alkohol deh kayanya, " potong Keyna menatap tajam kekasihnya. Galen masih berjongkok di depan Zidan yang hanya terdiam memperhatikan, bahkan untuk menggerakkan tangannya saja dia tidak mampu.

Galen mengangguk mengerti. Cowok itu beranjak mencari baju Zidan diantara banyak barang yang berantakan.

"Udah? " tanya Keyna saat melihat Zia sudah berhenti muntah. Zia mengangguk, kemudian kembali bersandar pada bahu Keyna.

"Sakit," lirih Zia kembali meneteskan air matanya.

"Mana yang sakit? " tanya Keyna lembut sembari mengelus rambut Zia.

"Semuanya, perut sama itunya paling sakit, " jawab Zia yang masih ditutupi selimut.

Keyna mengangguk. Semakin yakin akan dugaannya bahwa telah terjadi sesuatu pada Zia dan Zidan.

"Gue bikinin susu dulu ya biar sakit perutnya ilang." Keyna membaringkan Zia dengan perlahan, Keyna menghela napasnya kemudian beranjak ke dapur.

Sementara Galen tengah memakaikan Zidan bajunya setelah Keyna keluar dan Zia yang berbaring menutup matanya.

"Lo kenapa bisa gini sih? " tanya Galen. Zidan hanya menggeleng, Zidan sendiri bingung apa yang terjadi padanya. Dirinya baru sadar apa yang barusan terjadi padanya dan Zia setelah Zio menyiram mereka dengan seember air dingin.

Keyna kembali masuk ke kamar bertepatan dengan Zidan yang sudah kembali berpakaian.

"Minum dulu Zi," ujar Keyna setelah membantu Zia duduk bersandar dan membenarkan selimut yang menutupi tubuh polosnya.

"Mandi ya? " bujuk Keyna setelah Zia meminum susu itu. Zia mengangguk, Keyna memberi kode pada Galen agar membawa Zidan keluar dari kamar Zia.

Galen terpaksa menggendong Zidan sebab cowok itu tak kuat untuk berjalan.

Pukul 03.14

Galen dan Keyna masih di rumah Zia, dengan Zia yang tertidur di kamarnya, serta Zidan yang juga tidur di kamar tamu setelah lukanya Keyna kompres.

"Kok bisa ya jadi kaya gini," ucap Galen dengan mengelus kepala Keyna yang bersandar di dadanya. Mereka sedang duduk di sofa ruang keluarga Zio.

Keyna menghela napasnya sebelum menjawab ucapan Galen, "Aku juga kaget banget tadi, untung yang lain ngga jadi ikut. Jadi ngga tambah ribut. "

Memang awalnya Dyu, Sherena, dan Ayra meminta ikut, namun Keyna melarangnya dengan alasan ia dan Galen juga tidak akan ke rumah Zio. Keyna bahkan mengantarkan Ayra pulang terlebih dahulu, kemudian baru ia dan Galen bergegas ke rumah Zio.

"Berapa lama mereka main ya? " gumam Galen, namun karena jaraknya dengan Keyna sangat dekat Keyna mendengar jelas gumaman Galen.

"Ish.. Kamu mah mikirnya ke arah situ terus, " balas Keyna menyubit lengan Galen.

"Tapi mereka beneran udah itu kan? " tanya Galen lagi, memastikan.

"Kemungkinan besar iya, bahkan seratus persen aku yakin mereka udah ngelakuin itu, aku kan tadi beresin tempat tidurnya Zia, nah aku liat ada bercak darah di situ, " jawab Keyna sedih, dia tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini.

"Nah kan. Apalagi keduanya mabuk gitu, kalau diitung dari waktu Zia sama Zidan ngilang, itu udah sekitar empat jam an lho. Udah berapa kali coba?" ucap Galen selalu menuju ke arah sana.

"Galen!" geram Keyna membuat Galen terkekeh dengan tangan yang masih nyaman mengelus rambut Keyna.

"Takutnya Zia hamil," ucap Galen mengutarakan kekhawatirannya.

"Jangan sampe, Zia aja kaya anak TK. Ngga kebayang deh gimana kalo dia sampe hamil, " ujar Keyna menegakkan duduknya.

"Ngga menutup kemungkinan Key, mereka ngelakuin tanpa pengaman," timpal Galen lagi.

Keyna terdiam, yang Galen bicarakan memang benar, namun ia coba menepis pikiran buruk itu, tidak terbayang di benaknya. Gadis, ralat wanita sepolos dan seimut Zia harus hamil di usianya yang masih tujuh belas tahun.

Galen dan Keyna memutuskan untuk tetap berada di rumah Zio, tidak mungkin juga mereka meninggalkan dua orang yang-, Ah sudahlah.

Malam sudah berganti pagi. Zia terbangun dari tidurnya mendengar alarm yang berbunyi nyaring.

Zia ingin meregangkan ototnya seperti biasa, namun ada yang aneh, tubuhnya terasa sakit semua. Tak hanya itu, saat akan bangun untuk mandi Zia meringis merasakan ngilu di bagian itunya.

"Aws.. kok sakit banget," tutur Zia kembali duduk di tepi tempat tidurnya, Zia mengingat kejadian semalam, ia tidak paham namun ia tahu yang menyebabkannya sakit karena itu. padahal tadi sebelum tidur tidak sesakit ini.

Ceklek!

Keyna masuk kamar Zia dan tersenyum menghampiri sahabat paling polosnya itu.

"Mau mandi?" tanya Keyna. Zia menggeleng, ia tak mau merasakan ngilu itu lagi jika ia bangun dari duduknya.

"Masih sakit?" tanya Keyna yang lagi lagi dibalas anggukan oleh Zia.

"Zia kenapa?" tanya Zia lirih pada Keyna yang duduk di sampingnya.

Keyna bingung akan menjawab apa, Zia terlalu polos untuk tahu apa yang semalam terjadi.

"Nanti gue ceritain, sekarang mau mandi? Gue bantu jalan," ujar Keyna berdiri menuntun Zia agar bangun dari duduknya.

"Engga mau, kalo bangun sakit banget," tutur Zia sembari menggelengkan kepalanya.

"Engga apa-apa pelan-pelan aja, gue bantu," ucap Keyna lagi meyakinkan, Zia dengan ragu mengangguk dan bangkit dibantu Keyna, walau terdengar ringisan, Zia tetap berjalan dibantu Keyna dengan sangat perlahan.

"Pelan-pelan," ujar Keyna saat mereka sampai di pintu kamar mandi, dan Zia meminta untuk mandi sendiri, Zia mengangguk kemudian menutup pintu kamar mandi.

Sembari menunggu Zia mandi, Keyna berinisiatif turun ke lantai bawah menyiapkan sarapan untuk mereka.

Sementara Galen sedang membangunkan Zidan. Sekarang Galen dan Keyna seperti orang tua yang sedang merawat anak mereka yang tengah sakit.

Setelah memasak nasi goreng alakadarnya, Keyna kembali ke kamar Zia dan ternyata Zia sudah menunggunya menuntun jalan ke lantai bawah untuk makan. Sampai sekarang Zio belum juga pulang setelah cowok itu menghajar Zidan.

Keadaan di meja makan sangat canggung, Zidan yang merasa sangat bersalah, apalagi melihat cara jalan Zia yang sesekali meringis menahan sakit. Zia yang menahan rasa pusing di kepalanya, serta Galen dan Keyna yang hanya sesekali saling menatap.

"Zia," panggil Zidan memecah keheningan meja makan.

Zia yang merasa dipanggil pun menoleh pada Zidan, "Iya?" tanyanya canggung.

"Gue minta maaf," ucap Zidan kemudian.

Zia hanya mengangguk, mungkin jika gadis lain sudah nemaki habis-habisan cowok yang sudah merenggut kesuciannya, namun karena Zia terlampau polos, ia dengan mudah memaafkan, kecuali setelah ia memahami apa yang telah direnggut Zidan darinya, mungkin setelah ini akan dijelaskan oleh Keyna.

"Gue bakal tanggung jawab Zi," ucap Zidan menatap Zia dalam.

"Tanggung jawab apa?" tanya Zia begitu polosnya.

Keyna yang sedari tadi mendengarkan sambil menikmati nasi goreng pun menyela "Zia, lo jangan putusin apapun dulu sebelum gue jelasin apa yang pengin lo tau tadi," tegas Keyna.

Zia semakin bingung, ia hanya mengangguk polos, kepalanya masih pusing tetapi sudah ditambah pusing dengan hal yang ia sendiri tidak paham.

Setelah selesai sarapan, Keyna menjelaskan semuanya tentang apa yang terjadi pada Zia semalam. Zia yang mulai paham pun meneteskan air matanya.

"Zia udah ngga suci lagi Key," ucap Zia sesegukan sembari memeluk Keyna. Mencoba menenangkan dan kembali menjelaskan lebih rinci agar Zia tidak salah dalam memahami keadaanya saat ini.

"Jadi Zia harus nikah sama Zidan?" tanya Zia setelah ia meminta saran, dan Keyna menyarankan hal tersebut.

"Engga harus, cuma jalan paling baik itu," jawab Keyna.

"Semua keputusan ada di tangan lo, setelah mama, papa dan Zio pulang, bicarain masalah ini baik-baik, cari solusinya bareng-bareng, kalau mereka marah itu wajar, lo cukup kasih pembelaan sesuai keadaan lo sebenarnya, " nasihat Keyna yang diangguki Zia.

"Lo benci sama Zidan?" tanya Keyna penasaran.

Zia menggeleng, "enggak, kalau kata Keyna Zidan juga ngga sadar ngelakuinnya kan?" Keyna mengangguk.

"Terus rencana lo apa setelah ini?" tanya Keyna lagi, ia hanya ingin tahu apakah Zia memahami semua perkataannya atau tidak.

"Zia mau nunggu Kak Zio pulang, mau minta maaf terus nunggu mama papa pulang mau minta maaf juga, abis itu minta saran sama mereka buat Zia kedepannya kaya gimana," jawab Zia seperti anak SD yang diminta menjawab pertanyaan.

"Zia sedih banget Key, Zia bod*h banget ya Key? sesuatu paling berharga Zia diambil tanpa Zia tau," ucap Zia lagi. Perempuan berambut panjang itu kembali menangis sesegukan.

Keyna terus menenangkan sahabatnya itu, memberi saran yang mungkin berguna untuk mengahapi masalah ini.

Di dunia ini tidak ada yang abadi baik itu kebahagiaan ataupun kepedihan.

Halo! 👋

Aku baru banget belajar nulis, jadi maaf kalo masih berantakan.

Kalau nemu kata typo bilang yaa

Kalau suka bisa di like yaa👍

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Thor kenapa peran nya Xia di bikin ke gitu..🙇🙇

2024-02-07

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Padahal mereka seumuran ya,,Kenapa Keyna,Ayra dan Sherena itu lebih dewasa sikap dan pemikiran mereka? Sedangkan Zia kek bocah 8-9 tahun,Ckck..

2024-02-07

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Untung Galen dan Keyna ada sebagai saksi, Di sini bukan salah Zia yg menggoda Zidan, Takutnya Ayra malah salah paham..

2024-02-07

0

lihat semua
Episodes
1 1. Truth or Dare
2 2. Hari Itu(1)
3 3. Hari itu(2)
4 4. Tanggung Jawab?
5 5. UKS
6 6. Zio Pulang
7 7. Nikah?
8 8. Sah
9 9. Kamar Zidan
10 10. Awal Baru
11 11. Khawatir
12 12. Putus
13 13. Upah Pertama
14 14. Ayra Berubah
15 15. Mual
16 16. Minggu dengan Sahabat
17 17. Omellet Lagii
18 18. Kita mau punya ponakan?
19 19. Negatif
20 20. Keanehan Cewek Cupu
21 21. Asing
22 22. Beneran Hamil
23 23. Basecamp Atlansa
24 24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25 25. Kedatangan Bunda dan Mama
26 26. Panik
27 Aksi Atlansa
28 Rumah Sakit
29 Dea
30 Mie Instan
31 Capek
32 Rezekinya Dia
33 Lebih Baik
34 34. Zidan dan Ayra?
35 35. Tak Ingin Usai
36 36. Dea Lagi
37 37. Langit
38 38. Kedondong
39 39. Rumah Sakit
40 40. Kembar
41 41. Makan Pizza
42 42. Ulah Janu
43 43. Zia Overthinking
44 44. Taman Bermain
45 45. Fakta Baru Tentang Ayra
46 46. Siapa pelakunya?
47 47. Kacau
48 48. Basecamp
49 49. Klarifikasi
50 50. Bakso Harga Lima Juta
51 51. Dikeluarkan atau Tidak?
52 52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53 53. Keguguran?
54 54. Vanishing Twin Syndrome
55 55. Mulai Ada Rasa
56 56. Bersama Arin
57 57. Belajar Ciuman
58 58. Tanggung
59 59. Baby Cegukan
60 60. Yang Paling Berkuasa
61 Pengumuman (Bukan Update)
62 61. Sup Ala Zia
63 62. Terbongkar?
64 63. Kecemasan Zia
65 64. Kembali Bersama
66 65. Kangen Mama Papa
67 66. Anak Kita
68 67. Kembalinya Aset Zidan
69 68. Rumah Zidan (Lagi)
70 69. Perhatian dari Mertua
71 70. Om Om Hidung Belang
72 71. Rambutan Botak
73 72. Cinta atau Tanggungjawab?
74 73. Gagal Lagi
75 74. Kumpul Santuy
76 75. I LOVE YOU
77 76. Ceramah Bunda Dian
78 77. Akhirnya
79 78. Nasi Padang
80 79. Petunjuk Baru
81 80. Prenatal Yoga Couple
82 81. Pencarian
83 82. Bu Intan
84 83. Penghianat
85 84. Kehidupan Bu Intan
86 85. Rencana Ke Puncak
87 86. On The Way
88 87. Ayra hamil?
89 88. Waktu Cowok
90 89. Menikmati Malam Di Puncak
91 90. Keinginan Zia
92 91. Tujuh Bulanan
93 92. Ketemu Baby Zira
94 93. Bersama Mama
95 94. Dari Hati ke Hati
96 95. Di Kantor Ayah Dimas
97 96. Mbak-Mbak Genit
98 97. Di Tempat Yoga
99 98. Sebentar Lagi
100 99. Satu Komplek?
101 101. Ucapan Pak Ervan
102 101. Sesama Bumil Remaja
103 102. Serangan Di Sekolah
104 103. Pasca Penyerangan
105 104. Perhatian Istri
106 105. Kasus Baru Lagi
107 106. Cemburu
108 107. Pernah
109 108. Melaporkan Tuan Willy
110 109. Belajar Mengurus Bayi
111 110. Masih Bersama Baby Zira
112 111. Apakah....
113 112. Amukan Sang Mertua
114 113. Posisi Kepala Bayi
115 114. Titik Terang
116 115. Kontraksi Palsu
117 116. Kontraksi Awal
118 117. Bukaan 4
119 118. Masih Bukaan 8
120 119. Persalinan
121 120. Skin To Skin
122 121. Papa Riyan
123 122. 38 Hari Lagi
124 123. Ditemani Ayra
125 124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126 125. Papa Nggak Tau
127 126. Rencana Sekolah Lagi
128 127. Hari Pertama Ulangan
129 128. Setelah 42 Hari
130 129. First Day School
131 130. Pengagum Bapak Anak Satu
132 131. Meminta Belajar Bela Diri
133 132. Pasar Malam
134 133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135 134. Wisata Keluarga
136 135. Tamat
137 Special Part
Episodes

Updated 137 Episodes

1
1. Truth or Dare
2
2. Hari Itu(1)
3
3. Hari itu(2)
4
4. Tanggung Jawab?
5
5. UKS
6
6. Zio Pulang
7
7. Nikah?
8
8. Sah
9
9. Kamar Zidan
10
10. Awal Baru
11
11. Khawatir
12
12. Putus
13
13. Upah Pertama
14
14. Ayra Berubah
15
15. Mual
16
16. Minggu dengan Sahabat
17
17. Omellet Lagii
18
18. Kita mau punya ponakan?
19
19. Negatif
20
20. Keanehan Cewek Cupu
21
21. Asing
22
22. Beneran Hamil
23
23. Basecamp Atlansa
24
24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25
25. Kedatangan Bunda dan Mama
26
26. Panik
27
Aksi Atlansa
28
Rumah Sakit
29
Dea
30
Mie Instan
31
Capek
32
Rezekinya Dia
33
Lebih Baik
34
34. Zidan dan Ayra?
35
35. Tak Ingin Usai
36
36. Dea Lagi
37
37. Langit
38
38. Kedondong
39
39. Rumah Sakit
40
40. Kembar
41
41. Makan Pizza
42
42. Ulah Janu
43
43. Zia Overthinking
44
44. Taman Bermain
45
45. Fakta Baru Tentang Ayra
46
46. Siapa pelakunya?
47
47. Kacau
48
48. Basecamp
49
49. Klarifikasi
50
50. Bakso Harga Lima Juta
51
51. Dikeluarkan atau Tidak?
52
52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53
53. Keguguran?
54
54. Vanishing Twin Syndrome
55
55. Mulai Ada Rasa
56
56. Bersama Arin
57
57. Belajar Ciuman
58
58. Tanggung
59
59. Baby Cegukan
60
60. Yang Paling Berkuasa
61
Pengumuman (Bukan Update)
62
61. Sup Ala Zia
63
62. Terbongkar?
64
63. Kecemasan Zia
65
64. Kembali Bersama
66
65. Kangen Mama Papa
67
66. Anak Kita
68
67. Kembalinya Aset Zidan
69
68. Rumah Zidan (Lagi)
70
69. Perhatian dari Mertua
71
70. Om Om Hidung Belang
72
71. Rambutan Botak
73
72. Cinta atau Tanggungjawab?
74
73. Gagal Lagi
75
74. Kumpul Santuy
76
75. I LOVE YOU
77
76. Ceramah Bunda Dian
78
77. Akhirnya
79
78. Nasi Padang
80
79. Petunjuk Baru
81
80. Prenatal Yoga Couple
82
81. Pencarian
83
82. Bu Intan
84
83. Penghianat
85
84. Kehidupan Bu Intan
86
85. Rencana Ke Puncak
87
86. On The Way
88
87. Ayra hamil?
89
88. Waktu Cowok
90
89. Menikmati Malam Di Puncak
91
90. Keinginan Zia
92
91. Tujuh Bulanan
93
92. Ketemu Baby Zira
94
93. Bersama Mama
95
94. Dari Hati ke Hati
96
95. Di Kantor Ayah Dimas
97
96. Mbak-Mbak Genit
98
97. Di Tempat Yoga
99
98. Sebentar Lagi
100
99. Satu Komplek?
101
101. Ucapan Pak Ervan
102
101. Sesama Bumil Remaja
103
102. Serangan Di Sekolah
104
103. Pasca Penyerangan
105
104. Perhatian Istri
106
105. Kasus Baru Lagi
107
106. Cemburu
108
107. Pernah
109
108. Melaporkan Tuan Willy
110
109. Belajar Mengurus Bayi
111
110. Masih Bersama Baby Zira
112
111. Apakah....
113
112. Amukan Sang Mertua
114
113. Posisi Kepala Bayi
115
114. Titik Terang
116
115. Kontraksi Palsu
117
116. Kontraksi Awal
118
117. Bukaan 4
119
118. Masih Bukaan 8
120
119. Persalinan
121
120. Skin To Skin
122
121. Papa Riyan
123
122. 38 Hari Lagi
124
123. Ditemani Ayra
125
124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126
125. Papa Nggak Tau
127
126. Rencana Sekolah Lagi
128
127. Hari Pertama Ulangan
129
128. Setelah 42 Hari
130
129. First Day School
131
130. Pengagum Bapak Anak Satu
132
131. Meminta Belajar Bela Diri
133
132. Pasar Malam
134
133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135
134. Wisata Keluarga
136
135. Tamat
137
Special Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!