Bugh!
Zio tak ada henti-hentinya membogem sahabatnya sendiri, juga melemparinya dengan barang-barang di sekitarnya.
"B R E N G S E K! " makinya pada Zidan yang sudah terkulai lemas tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhnya yang babak belur.
Tidak ada kata lain yang terucap selain makian yang selalu Zio lontarkan di setiap satu pukulan mengenai tubuh Zidan. Apa yang ia lihat tadi telah menutup hatinya bahwa lelaki yang tengah ia pukuli adalah sahabatnya sendiri.
Suara isakan dari gadis yang berbaring di kasur itu pun tak mampu menghentikan aksinya.
Brak!
Suara pintu yang dibuka dengan begitu kencang mengalihkan pandangan ketiga orang itu pada pintu tersebut.
"Astaghfirulloh! " seru Galen dengan reflek menutup mata Keyna dan menutup kembali pintu itu.
Zio yang melihat itu, dengan napas yang masih memburu berjalan menuju lemari, mengambil selimut untuk menutupi tubuh polos Zidan yang sudah terkapar dan hanya mampu duduk bersandar pada ranjang di belakangnya. Baju Zidan sudah berserakan entah di mana.
Zio membuka pintu dan pergi begitu saja, sementara Galen langsung berlari menghampiri Zidan, dan Keyna yang menghampiri Zia.
Keyna langsung mendekap erat tubuh gemetar Zia, ia sangat tahu sahabatnya ini sangat ketakutan, "sstt... tenang yaa."
Zia masih terisak keras, ia masih sangat kaget dan bingung apa yang terjadi, yang ia tau seluruh tubuhnya, terutama bagian bawahnya sakit. Tadi ia tersadar saat disiram air dingin oleh Zio, dan mendapati tubuhnya ditindih tubuh Zidan yang sama sama tak berpakaian, Zidan ditarik Zio, dan tubuhnya langsung ditutupi selimut oleh kakaknya itu.
Galen dan Keyna saling tatap, mereka sepertinya memiliki pikiran yang sama hanya dengan melihat keadaan Zia dan Zidan saat ini.
Hoek...
Tatapan keduanya beralih pada Zia yang seperti akan muntah. Keyna melepas pelukannya, mencondongkan tubuh Zia ke samping tempat tidur.
"Muntahin Zi, jangan ditahan, " ujar Keyna yang melihat Zia menahan muntahannya, Keyna memijit tengkuk Zia hingga Zia benar-benar memuntahkan isi perutnya di samping tempat tidurnya.
Hoek! Hoek!
Keyna terus memijit tengkuk belakang Zia, dari bau muntahan itu dapat Keyna simpulkan bahwa Zia habis mengonsumsi alkohol dalam jumlah yang tak sedikit.
"Hamil? " tanya Galen yang melihat Zia tak berhenti muntah. Dia kira secepat itu kali prosesnya.
"Ngaco kamu, baru juga tadi. Belum jadi lah!" jawab Keyna terdengar ambigu. Tangannya mengusap dahi Zia yang berkeringat.
"Lah itu muntah-muntah gitu kaya waktu Arin-"
"Arin apa? Ini tuh kebanyakan minum alkohol deh kayanya, " potong Keyna menatap tajam kekasihnya. Galen masih berjongkok di depan Zidan yang hanya terdiam memperhatikan, bahkan untuk menggerakkan tangannya saja dia tidak mampu.
Galen mengangguk mengerti. Cowok itu beranjak mencari baju Zidan diantara banyak barang yang berantakan.
"Udah? " tanya Keyna saat melihat Zia sudah berhenti muntah. Zia mengangguk, kemudian kembali bersandar pada bahu Keyna.
"Sakit," lirih Zia kembali meneteskan air matanya.
"Mana yang sakit? " tanya Keyna lembut sembari mengelus rambut Zia.
"Semuanya, perut sama itunya paling sakit, " jawab Zia yang masih ditutupi selimut.
Keyna mengangguk. Semakin yakin akan dugaannya bahwa telah terjadi sesuatu pada Zia dan Zidan.
"Gue bikinin susu dulu ya biar sakit perutnya ilang." Keyna membaringkan Zia dengan perlahan, Keyna menghela napasnya kemudian beranjak ke dapur.
Sementara Galen tengah memakaikan Zidan bajunya setelah Keyna keluar dan Zia yang berbaring menutup matanya.
"Lo kenapa bisa gini sih? " tanya Galen. Zidan hanya menggeleng, Zidan sendiri bingung apa yang terjadi padanya. Dirinya baru sadar apa yang barusan terjadi padanya dan Zia setelah Zio menyiram mereka dengan seember air dingin.
Keyna kembali masuk ke kamar bertepatan dengan Zidan yang sudah kembali berpakaian.
"Minum dulu Zi," ujar Keyna setelah membantu Zia duduk bersandar dan membenarkan selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Mandi ya? " bujuk Keyna setelah Zia meminum susu itu. Zia mengangguk, Keyna memberi kode pada Galen agar membawa Zidan keluar dari kamar Zia.
Galen terpaksa menggendong Zidan sebab cowok itu tak kuat untuk berjalan.
Pukul 03.14
Galen dan Keyna masih di rumah Zia, dengan Zia yang tertidur di kamarnya, serta Zidan yang juga tidur di kamar tamu setelah lukanya Keyna kompres.
"Kok bisa ya jadi kaya gini," ucap Galen dengan mengelus kepala Keyna yang bersandar di dadanya. Mereka sedang duduk di sofa ruang keluarga Zio.
Keyna menghela napasnya sebelum menjawab ucapan Galen, "Aku juga kaget banget tadi, untung yang lain ngga jadi ikut. Jadi ngga tambah ribut. "
Memang awalnya Dyu, Sherena, dan Ayra meminta ikut, namun Keyna melarangnya dengan alasan ia dan Galen juga tidak akan ke rumah Zio. Keyna bahkan mengantarkan Ayra pulang terlebih dahulu, kemudian baru ia dan Galen bergegas ke rumah Zio.
"Berapa lama mereka main ya? " gumam Galen, namun karena jaraknya dengan Keyna sangat dekat Keyna mendengar jelas gumaman Galen.
"Ish.. Kamu mah mikirnya ke arah situ terus, " balas Keyna menyubit lengan Galen.
"Tapi mereka beneran udah itu kan? " tanya Galen lagi, memastikan.
"Kemungkinan besar iya, bahkan seratus persen aku yakin mereka udah ngelakuin itu, aku kan tadi beresin tempat tidurnya Zia, nah aku liat ada bercak darah di situ, " jawab Keyna sedih, dia tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini.
"Nah kan. Apalagi keduanya mabuk gitu, kalau diitung dari waktu Zia sama Zidan ngilang, itu udah sekitar empat jam an lho. Udah berapa kali coba?" ucap Galen selalu menuju ke arah sana.
"Galen!" geram Keyna membuat Galen terkekeh dengan tangan yang masih nyaman mengelus rambut Keyna.
"Takutnya Zia hamil," ucap Galen mengutarakan kekhawatirannya.
"Jangan sampe, Zia aja kaya anak TK. Ngga kebayang deh gimana kalo dia sampe hamil, " ujar Keyna menegakkan duduknya.
"Ngga menutup kemungkinan Key, mereka ngelakuin tanpa pengaman," timpal Galen lagi.
Keyna terdiam, yang Galen bicarakan memang benar, namun ia coba menepis pikiran buruk itu, tidak terbayang di benaknya. Gadis, ralat wanita sepolos dan seimut Zia harus hamil di usianya yang masih tujuh belas tahun.
Galen dan Keyna memutuskan untuk tetap berada di rumah Zio, tidak mungkin juga mereka meninggalkan dua orang yang-, Ah sudahlah.
Malam sudah berganti pagi. Zia terbangun dari tidurnya mendengar alarm yang berbunyi nyaring.
Zia ingin meregangkan ototnya seperti biasa, namun ada yang aneh, tubuhnya terasa sakit semua. Tak hanya itu, saat akan bangun untuk mandi Zia meringis merasakan ngilu di bagian itunya.
"Aws.. kok sakit banget," tutur Zia kembali duduk di tepi tempat tidurnya, Zia mengingat kejadian semalam, ia tidak paham namun ia tahu yang menyebabkannya sakit karena itu. padahal tadi sebelum tidur tidak sesakit ini.
Ceklek!
Keyna masuk kamar Zia dan tersenyum menghampiri sahabat paling polosnya itu.
"Mau mandi?" tanya Keyna. Zia menggeleng, ia tak mau merasakan ngilu itu lagi jika ia bangun dari duduknya.
"Masih sakit?" tanya Keyna yang lagi lagi dibalas anggukan oleh Zia.
"Zia kenapa?" tanya Zia lirih pada Keyna yang duduk di sampingnya.
Keyna bingung akan menjawab apa, Zia terlalu polos untuk tahu apa yang semalam terjadi.
"Nanti gue ceritain, sekarang mau mandi? Gue bantu jalan," ujar Keyna berdiri menuntun Zia agar bangun dari duduknya.
"Engga mau, kalo bangun sakit banget," tutur Zia sembari menggelengkan kepalanya.
"Engga apa-apa pelan-pelan aja, gue bantu," ucap Keyna lagi meyakinkan, Zia dengan ragu mengangguk dan bangkit dibantu Keyna, walau terdengar ringisan, Zia tetap berjalan dibantu Keyna dengan sangat perlahan.
"Pelan-pelan," ujar Keyna saat mereka sampai di pintu kamar mandi, dan Zia meminta untuk mandi sendiri, Zia mengangguk kemudian menutup pintu kamar mandi.
Sembari menunggu Zia mandi, Keyna berinisiatif turun ke lantai bawah menyiapkan sarapan untuk mereka.
Sementara Galen sedang membangunkan Zidan. Sekarang Galen dan Keyna seperti orang tua yang sedang merawat anak mereka yang tengah sakit.
Setelah memasak nasi goreng alakadarnya, Keyna kembali ke kamar Zia dan ternyata Zia sudah menunggunya menuntun jalan ke lantai bawah untuk makan. Sampai sekarang Zio belum juga pulang setelah cowok itu menghajar Zidan.
Keadaan di meja makan sangat canggung, Zidan yang merasa sangat bersalah, apalagi melihat cara jalan Zia yang sesekali meringis menahan sakit. Zia yang menahan rasa pusing di kepalanya, serta Galen dan Keyna yang hanya sesekali saling menatap.
"Zia," panggil Zidan memecah keheningan meja makan.
Zia yang merasa dipanggil pun menoleh pada Zidan, "Iya?" tanyanya canggung.
"Gue minta maaf," ucap Zidan kemudian.
Zia hanya mengangguk, mungkin jika gadis lain sudah nemaki habis-habisan cowok yang sudah merenggut kesuciannya, namun karena Zia terlampau polos, ia dengan mudah memaafkan, kecuali setelah ia memahami apa yang telah direnggut Zidan darinya, mungkin setelah ini akan dijelaskan oleh Keyna.
"Gue bakal tanggung jawab Zi," ucap Zidan menatap Zia dalam.
"Tanggung jawab apa?" tanya Zia begitu polosnya.
Keyna yang sedari tadi mendengarkan sambil menikmati nasi goreng pun menyela "Zia, lo jangan putusin apapun dulu sebelum gue jelasin apa yang pengin lo tau tadi," tegas Keyna.
Zia semakin bingung, ia hanya mengangguk polos, kepalanya masih pusing tetapi sudah ditambah pusing dengan hal yang ia sendiri tidak paham.
Setelah selesai sarapan, Keyna menjelaskan semuanya tentang apa yang terjadi pada Zia semalam. Zia yang mulai paham pun meneteskan air matanya.
"Zia udah ngga suci lagi Key," ucap Zia sesegukan sembari memeluk Keyna. Mencoba menenangkan dan kembali menjelaskan lebih rinci agar Zia tidak salah dalam memahami keadaanya saat ini.
"Jadi Zia harus nikah sama Zidan?" tanya Zia setelah ia meminta saran, dan Keyna menyarankan hal tersebut.
"Engga harus, cuma jalan paling baik itu," jawab Keyna.
"Semua keputusan ada di tangan lo, setelah mama, papa dan Zio pulang, bicarain masalah ini baik-baik, cari solusinya bareng-bareng, kalau mereka marah itu wajar, lo cukup kasih pembelaan sesuai keadaan lo sebenarnya, " nasihat Keyna yang diangguki Zia.
"Lo benci sama Zidan?" tanya Keyna penasaran.
Zia menggeleng, "enggak, kalau kata Keyna Zidan juga ngga sadar ngelakuinnya kan?" Keyna mengangguk.
"Terus rencana lo apa setelah ini?" tanya Keyna lagi, ia hanya ingin tahu apakah Zia memahami semua perkataannya atau tidak.
"Zia mau nunggu Kak Zio pulang, mau minta maaf terus nunggu mama papa pulang mau minta maaf juga, abis itu minta saran sama mereka buat Zia kedepannya kaya gimana," jawab Zia seperti anak SD yang diminta menjawab pertanyaan.
"Zia sedih banget Key, Zia bod*h banget ya Key? sesuatu paling berharga Zia diambil tanpa Zia tau," ucap Zia lagi. Perempuan berambut panjang itu kembali menangis sesegukan.
Keyna terus menenangkan sahabatnya itu, memberi saran yang mungkin berguna untuk mengahapi masalah ini.
Di dunia ini tidak ada yang abadi baik itu kebahagiaan ataupun kepedihan.
Halo! 👋
Aku baru banget belajar nulis, jadi maaf kalo masih berantakan.
Kalau nemu kata typo bilang yaa
Kalau suka bisa di like yaa👍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Thor kenapa peran nya Xia di bikin ke gitu..🙇🙇
2024-02-07
0
Qaisaa Nazarudin
Padahal mereka seumuran ya,,Kenapa Keyna,Ayra dan Sherena itu lebih dewasa sikap dan pemikiran mereka? Sedangkan Zia kek bocah 8-9 tahun,Ckck..
2024-02-07
0
Qaisaa Nazarudin
Untung Galen dan Keyna ada sebagai saksi, Di sini bukan salah Zia yg menggoda Zidan, Takutnya Ayra malah salah paham..
2024-02-07
0