7. Nikah?

Bugh! Bugh!

Tubuh Zidan terbanting hingga menabrak sofa saat ayahnya memukulinya dengan membabi buta. Tubuh yang belum sepenuhnya sembuh dari amukan Zio harus kembali merasakan sakit walau tak separah yang Zio lakukan. Dirinya sama sekali tidak melawan, akan merasa semakin bersalah jika ia melawan serangan sang ayah.

"Yah! Udah!" Tangis terisak sang bunda semakin membuat Zidan merasa bersalah.

Bunda Dian memeluk sang suami dari belakang guna mencegahnya memukuli anak mereka lagi, Bunda Dian berkata, "Udah Yah! Inget gimana dulu kita pengin banget punya anak," bisik Bunda Dian lembut.

Sang ayah seketika berhenti memukuli anaknya saat ia mengingat usaha mereka dulu saat menginginkan anak, saat rahim Bunda Dian dinyatakan lemah dan akan sulit untuk hamil, tetapi berkat usaha dan doa keduanya, lahirlah Zidan. Itu juga yang memotivasi Bunda Dian untuk menjadi seorang dokter spesialis kandungan.

Melihat reaksi sang suami membuat Bunda Dian langsung melepaskan pelukannya, membantu sang anak untuk berdiri dan mendudukannya di sofa.

"Sakit ya sayang?" tanya Bunda Dian menyentuh pipi Zidan dengan berlinang air mata.

Zidan menggelengkan kepalanya, sakit yang ia rasakan belum sebanding dengan rasa kecewa kedua orang tuanya terutama sang bunda.

"Zidan nggapapa Bun, maafin Zidan," ucap Zidan yang langsung berpindah dari duduk menjadi bersimpuh di kaki bunda Dian.

Bunda Dian yang terkejut melihat itu berusaha mengangkat tubuh Zidan dengan memegang bahu Zidan, tetapi Zidan tetap kekeh dalam posisi bersimpuhnya, bahkan terdengar isakan dari cowok tersebut.

"Udah sayang, bangun! Bunda udah maafin Zidan. Sekarang bangun dulu kita bicarain ini baik baik," ucap Bunda Dian dengan lirih, suaranya serak akibat terus menangis.

Melihat anaknya yang begitu terlihat menyesal mampu sedikit melunakkan hati sang ayah, ia memegang bahu Zidan dan menegakkan tubuh anak satu satunya itu.

"Duduk!" perintah Ayah Dimas pada sang anak, Zidan pun tanpa membantah langsung duduk di sebelah sang bunda dan ayahnya menyusul duduk di sebelahnya. Zidan duduk dengan diapit kedua orangtuanya.

"Apa langkah yang bakal kamu ambil?" tanya Ayah Dimas serius.

"Zidan bakal tanggung jawab Yah, Zidan bakal nikahin cewek itu," jawab Zidan tegas, dia tidak ragu lagi dengan perkataannya.

"Yakin siap? Nikah bukan hal yang gampang Sayang" ujar Bunda Zidan mengusap rambut berantakan Zidan.

"Siap ngga siap itu konsekuensi yang harus Zidan ambil Bun," jawab Zidan dengan lembut, ia memang sangat menghormati bundanya.

"Bawa ayah ke rumah Ayra nanti malam!" ucap Ayah Dimas, tubuh Zidan seketika menegang, pandangannya kembali menunduk.

"Bukan Ayra Yah," jawab Zidan lirih.

Mata Ayah dan bunda langsung melebar mendengar penuturan Zidan. Bahkan, Ayah Dimas mengusap wajahnya frustasi. Kalau bukan Ayra siapa? Setau keduanya kekasih Zidan itu Ayra.

"Udah ganti pacar?" tanya Bunda lagi.

Zidan menggeleng, ia mulai kembali gugup."Masih sama Ayra, Bun, tapi Zidan bukan perk**a Ayra," jawabnya semakin menunduk.

"Siapa?" tanya Ayah Dimas, dari nada suaranya terdengar sedang menahan emosi yang bergejolak.

"Adiknya Zio Yah, tapi Demi Allah! Zidan engga sengaja, Zidan mabuk Yah." Zidan dengan cepat mengucapkannya sebelum sang ayah menyalahkannya lagi, walaupun ia tau ia salah.

"Bawa Ayah sama bunda ke rumah Zio nanti malem." Setelah mengucapkan itu Ayah beranjak meninggalkan Zidan, dan tak lama bundanya menyusul Ayah setelah mengusap pelan pundak Zidan.

Zidan menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa, tubuhnya terasa remuk dan kepalanya pusing. Karena terlalu lelah, Zidan terkelap dalam posisi duduk, beruntungnya hari ini hari minggu, jadi Zidan akan mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

°°°

"Udah ngga pusing?" tanya Keyna, Zia yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya.

Pagi ini Keyna dan Galen mengunjungi Zia, membawakan sarapan untuk gadis itu. Sekarang mereka berempat sedang sarapan bersama, dengan Zio yang masih saja bungkam, enggan membuka suara.

Keadaan Zia sudah membaik semenjak Zio memutuskan pulang dan merawatnya, walau sikapnya masih dingin dan terlihat cuek tapi Zio sangat peduli dan perhatian pada Zia. Terbukti Zio selalu sabar mengurus Zia dari kemarinn.

"Engga ke basecamp?" tanya Zio membuka suaranya.

Galen yang merasa ditanya menggelengkan kepalanya, "Engga, mau ngurusin anggota gue yang lagi berantem," sindirnya sambil terus mengunyah sarapannya.

Zio mendengus, dirinya tau yang sedang Galen bicarakan adalah dia dan Zidan. Galen adalah ketua yang sangat peduli dengan orang orang disekitarnya, apalagi ini sahabatnya sendiri.

"Gue bisa urus masalah gue sendiri," ujar Zio. Galen hanya meliriknya sebentar kemudian melanjutkan makannya.

"Zi, bukannya gue mau ikut campur masalah kalian, tapi gue sama Galen, sebagai sahabat kalian cuma peduli dan lagipula cuma kita yang tau masalah ini, kalau bukan kita siapa lagi," bela Keyna.

Zio menganggukan kepalanya, "Thanks."

Zia hanya mendengarkan obrolan mereka saja, dirinya sekarang merasa menyusahkan banyak orang.

Setelah mereka selesai sarapan keempat remaja tersebut memilih mengobrol di ruang keluarga, sedikit demi sedikit juga Keyna dan Galen memberi semangat dan dukungan pada kakak beradik kembar itu.

"Mama sama papa siang ini sampe rumah," beritahu Zia, Keyna mengangguk paham bahwa Zia takut bertemu orang tuanya.

"Nanti lo bantuin ngomongnya Zi," perintah Galen menepuk bahu Zio.

Zio berdehem, ia sebenarnya juga takut dan belum siap melihat wajah kecewa orang tuanya.

"Harus banget nanti? Mereka capek abis perjalanan jauh," ujar Zio yang sebenarnya masih belum siap.

"Terserah kalian, itu cuma saran. Lebih cepat lebih baik," balas Galen yang diangguki Keyna.

Pada dasarnya Galen dan Keyna itu sama sama pendiam, akan susah mencairkan suasana yang canggung, karena yang paling ceria sekarang menjadi yang paling rapuh.

°°°

"Maaf ada keperluan apa ya Pak Dimas dan Bu Dian malam malam datang kemari?" tanya Riyan, papa Zia.

Malam harinya, orangtua Zidan benar benar datang ke rumah Zia. Dan lebih parahnya, baik Zia maupun Zio belum ada yang membicarakan masalah ini pada orangtuanya.

Riyan dan Salma bingung dan kaget kedatangan tamu orang yang cukup terkenal di kota ini. Seorang pengusaha terkenal dan dokter cantik itu ada di rumahnya saat ini.

Papa Dimas berdehem, sebelum berbicara, "Saya ingin mrmbicarakan masalah tentang anak kita Pak, Bu."

"Ada apa ya? Zio sama Zidan berantem? Itu biar jadi urusan anak-anak saja Pak," jawab Riyan saat melihat Zidan banyak luka lebam.

"Bukan dengan Zio Pak, melainkan putri bapak, Zia," ungkap Dimas kembali.

"Sebentar saya panggilkan anak-anak dulu. Silahkan diminum dulu Pak, Bu." Mama Salma yang bingung berinisiatif memanggil kedua anaknya.

Zidan semakin ketar ketir saat melihat Zio dan Zia berjalan turun dari tangga di belakang Salma. Apalagi tatapan kaget dan tajam dari Zio.

"Ngapain lo kesini?" tukas Zio saat duduk di samping papanya menghadap Zidan.

"Yang sopan Zio," peringat mamanya.

Zidan tidak menanggapi, ia malah memperhatikan Zia yang terus menunduk. Zia terlihat takut dan gelisah.

Zidan memejamkan matanya sejenak, "Bismillah," gumamnya.

"Maaf Om, Tante, Zidan mau izin nikahin Zia," ucap Zidan mantap dan yakin.

Tentu saja Riyan dan Salma kaget, sesaat kemudian Riyan terkekeh. "Nunggu lulus dulu Nak, kalo mau ngelamar anak saya, ngga sabaran banget," ucap Riyan bercanda.

"Ngga bisa Om, Zidan mau secepetnya," jawab Zidan lagi.

"Zidan mau tanggungjawab sama apa yang udah Zidan lakuin," lanjutnya.

"Maksudnya? " tanya Salma yang semakin bingung.

"Zidan udah ambil kesucian Zia, Zidan mau nikah sama Zia, Tante," jelas Zidan tegas dan yakin. Zia dibuat makin kelabakan dan gugup, sementara Zio masih terus memandang tidak suka pada sahabatnya itu.

Riyan yang mulanya santai sekarang rahangnya mulai mengeras. Ia memandang putrinya yang duduk di sebelah sang istri.

"Bener Zia?" tanya Riyan berdiri, yang malah membuat bahu Zia bergetar menahan tangis.

"JAWAB!!" bentak Riyan sampai sampai Zia berjingkat kaget dan tangisnya pecah.

"I-iya pah hiks," jawab Zia sambil terisak. Dirinya tidak berani mengangkat wajah saking malu dan takutnya.

"GINI KELAKUAN KAMU KALO MAMA SAMA PAPA NGGA DI RUMAH HAH?" bentak Riyan lagi. Zio menahan tangan sang papa yang akan menampar Zia.

"Pah!" peringat Salma, dirinya juga menggelengkan kepalanya tidak percaya. Putri kesayangannya berani berbuat seperti itu.

"Sekarang kamu hamil?" tanya Riyan yang dijawab gelengan oleh Zia.

"Yaudah engga usah nikah," ucap Riyan kembali duduk.

Zidan memandang sang bunda, mengisyaratkan untuk membantunya sekarang.

"Begini Pak Riyan, saya dokter kandungan, saya tau walaupun cuma sekali melakukan tidak menutup kemungkinan untuk hamil Pak, putri bapak dan Zidan melakukannya baru tiga hari yang lalu, hamil atau tidak belum bisa dipastikan, tapi mencegah jikalau hamil mending dinikahkan saja Pak sebelum terlalu lama dan malah menimbulkan masalah baru," jelas Bunda Dian.

"Benar Pak, yang paling dirugikan disini putri Bapak, dia sudah kehilangan mahkotanya, yang akan menjadi masalah kelak saat Zia menikah dengan lelaki lain. Belum tentu ada yang menerima putri bapak apa adanya. Jadi, izinkan putra kami bertanggungjawab," ucap Ayah Dimas menambahi ucapan istrinya.

"Terserah kalian," jawab Riyan frustasi.

"Bagaimana tante? Boleh Zidan nikah sama Zia?" tanya Zidan meminta restu pada mama Zia.

Salma masih diam, mencoba mencerna dan memahami keadaan yang ada kemudian mengangguk setuju. Dipikirnya ia beruntung mendapati remaja seperti Zidan yang mau bertanggungjawab walaupun belum tentu anaknya hamil, disaat di luaran sana banyak yang malah meminta menggugurkan kandungan si cewek.

Zidan mengucap hamdalah dalam hati kemudian menatap sahabatnya, Zio.

"Zio?" panggil Zidan meminta restu dari sang kembaran Zia.

"Serah!" jawab Zio ketus, lalu berdiri meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.

Kalo suka jangan lupa like 👍

Terpopuler

Comments

Nur Haluza

Nur Haluza

p kok aku kaget orang tuan zia, seperti gak peduli pada anak nya

2022-09-10

2

lihat semua
Episodes
1 1. Truth or Dare
2 2. Hari Itu(1)
3 3. Hari itu(2)
4 4. Tanggung Jawab?
5 5. UKS
6 6. Zio Pulang
7 7. Nikah?
8 8. Sah
9 9. Kamar Zidan
10 10. Awal Baru
11 11. Khawatir
12 12. Putus
13 13. Upah Pertama
14 14. Ayra Berubah
15 15. Mual
16 16. Minggu dengan Sahabat
17 17. Omellet Lagii
18 18. Kita mau punya ponakan?
19 19. Negatif
20 20. Keanehan Cewek Cupu
21 21. Asing
22 22. Beneran Hamil
23 23. Basecamp Atlansa
24 24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25 25. Kedatangan Bunda dan Mama
26 26. Panik
27 Aksi Atlansa
28 Rumah Sakit
29 Dea
30 Mie Instan
31 Capek
32 Rezekinya Dia
33 Lebih Baik
34 34. Zidan dan Ayra?
35 35. Tak Ingin Usai
36 36. Dea Lagi
37 37. Langit
38 38. Kedondong
39 39. Rumah Sakit
40 40. Kembar
41 41. Makan Pizza
42 42. Ulah Janu
43 43. Zia Overthinking
44 44. Taman Bermain
45 45. Fakta Baru Tentang Ayra
46 46. Siapa pelakunya?
47 47. Kacau
48 48. Basecamp
49 49. Klarifikasi
50 50. Bakso Harga Lima Juta
51 51. Dikeluarkan atau Tidak?
52 52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53 53. Keguguran?
54 54. Vanishing Twin Syndrome
55 55. Mulai Ada Rasa
56 56. Bersama Arin
57 57. Belajar Ciuman
58 58. Tanggung
59 59. Baby Cegukan
60 60. Yang Paling Berkuasa
61 Pengumuman (Bukan Update)
62 61. Sup Ala Zia
63 62. Terbongkar?
64 63. Kecemasan Zia
65 64. Kembali Bersama
66 65. Kangen Mama Papa
67 66. Anak Kita
68 67. Kembalinya Aset Zidan
69 68. Rumah Zidan (Lagi)
70 69. Perhatian dari Mertua
71 70. Om Om Hidung Belang
72 71. Rambutan Botak
73 72. Cinta atau Tanggungjawab?
74 73. Gagal Lagi
75 74. Kumpul Santuy
76 75. I LOVE YOU
77 76. Ceramah Bunda Dian
78 77. Akhirnya
79 78. Nasi Padang
80 79. Petunjuk Baru
81 80. Prenatal Yoga Couple
82 81. Pencarian
83 82. Bu Intan
84 83. Penghianat
85 84. Kehidupan Bu Intan
86 85. Rencana Ke Puncak
87 86. On The Way
88 87. Ayra hamil?
89 88. Waktu Cowok
90 89. Menikmati Malam Di Puncak
91 90. Keinginan Zia
92 91. Tujuh Bulanan
93 92. Ketemu Baby Zira
94 93. Bersama Mama
95 94. Dari Hati ke Hati
96 95. Di Kantor Ayah Dimas
97 96. Mbak-Mbak Genit
98 97. Di Tempat Yoga
99 98. Sebentar Lagi
100 99. Satu Komplek?
101 101. Ucapan Pak Ervan
102 101. Sesama Bumil Remaja
103 102. Serangan Di Sekolah
104 103. Pasca Penyerangan
105 104. Perhatian Istri
106 105. Kasus Baru Lagi
107 106. Cemburu
108 107. Pernah
109 108. Melaporkan Tuan Willy
110 109. Belajar Mengurus Bayi
111 110. Masih Bersama Baby Zira
112 111. Apakah....
113 112. Amukan Sang Mertua
114 113. Posisi Kepala Bayi
115 114. Titik Terang
116 115. Kontraksi Palsu
117 116. Kontraksi Awal
118 117. Bukaan 4
119 118. Masih Bukaan 8
120 119. Persalinan
121 120. Skin To Skin
122 121. Papa Riyan
123 122. 38 Hari Lagi
124 123. Ditemani Ayra
125 124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126 125. Papa Nggak Tau
127 126. Rencana Sekolah Lagi
128 127. Hari Pertama Ulangan
129 128. Setelah 42 Hari
130 129. First Day School
131 130. Pengagum Bapak Anak Satu
132 131. Meminta Belajar Bela Diri
133 132. Pasar Malam
134 133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135 134. Wisata Keluarga
136 135. Tamat
137 Special Part
Episodes

Updated 137 Episodes

1
1. Truth or Dare
2
2. Hari Itu(1)
3
3. Hari itu(2)
4
4. Tanggung Jawab?
5
5. UKS
6
6. Zio Pulang
7
7. Nikah?
8
8. Sah
9
9. Kamar Zidan
10
10. Awal Baru
11
11. Khawatir
12
12. Putus
13
13. Upah Pertama
14
14. Ayra Berubah
15
15. Mual
16
16. Minggu dengan Sahabat
17
17. Omellet Lagii
18
18. Kita mau punya ponakan?
19
19. Negatif
20
20. Keanehan Cewek Cupu
21
21. Asing
22
22. Beneran Hamil
23
23. Basecamp Atlansa
24
24. Lo punya Adik, Gue punya Anak
25
25. Kedatangan Bunda dan Mama
26
26. Panik
27
Aksi Atlansa
28
Rumah Sakit
29
Dea
30
Mie Instan
31
Capek
32
Rezekinya Dia
33
Lebih Baik
34
34. Zidan dan Ayra?
35
35. Tak Ingin Usai
36
36. Dea Lagi
37
37. Langit
38
38. Kedondong
39
39. Rumah Sakit
40
40. Kembar
41
41. Makan Pizza
42
42. Ulah Janu
43
43. Zia Overthinking
44
44. Taman Bermain
45
45. Fakta Baru Tentang Ayra
46
46. Siapa pelakunya?
47
47. Kacau
48
48. Basecamp
49
49. Klarifikasi
50
50. Bakso Harga Lima Juta
51
51. Dikeluarkan atau Tidak?
52
52. Karena Istri Pemilik Sekolah
53
53. Keguguran?
54
54. Vanishing Twin Syndrome
55
55. Mulai Ada Rasa
56
56. Bersama Arin
57
57. Belajar Ciuman
58
58. Tanggung
59
59. Baby Cegukan
60
60. Yang Paling Berkuasa
61
Pengumuman (Bukan Update)
62
61. Sup Ala Zia
63
62. Terbongkar?
64
63. Kecemasan Zia
65
64. Kembali Bersama
66
65. Kangen Mama Papa
67
66. Anak Kita
68
67. Kembalinya Aset Zidan
69
68. Rumah Zidan (Lagi)
70
69. Perhatian dari Mertua
71
70. Om Om Hidung Belang
72
71. Rambutan Botak
73
72. Cinta atau Tanggungjawab?
74
73. Gagal Lagi
75
74. Kumpul Santuy
76
75. I LOVE YOU
77
76. Ceramah Bunda Dian
78
77. Akhirnya
79
78. Nasi Padang
80
79. Petunjuk Baru
81
80. Prenatal Yoga Couple
82
81. Pencarian
83
82. Bu Intan
84
83. Penghianat
85
84. Kehidupan Bu Intan
86
85. Rencana Ke Puncak
87
86. On The Way
88
87. Ayra hamil?
89
88. Waktu Cowok
90
89. Menikmati Malam Di Puncak
91
90. Keinginan Zia
92
91. Tujuh Bulanan
93
92. Ketemu Baby Zira
94
93. Bersama Mama
95
94. Dari Hati ke Hati
96
95. Di Kantor Ayah Dimas
97
96. Mbak-Mbak Genit
98
97. Di Tempat Yoga
99
98. Sebentar Lagi
100
99. Satu Komplek?
101
101. Ucapan Pak Ervan
102
101. Sesama Bumil Remaja
103
102. Serangan Di Sekolah
104
103. Pasca Penyerangan
105
104. Perhatian Istri
106
105. Kasus Baru Lagi
107
106. Cemburu
108
107. Pernah
109
108. Melaporkan Tuan Willy
110
109. Belajar Mengurus Bayi
111
110. Masih Bersama Baby Zira
112
111. Apakah....
113
112. Amukan Sang Mertua
114
113. Posisi Kepala Bayi
115
114. Titik Terang
116
115. Kontraksi Palsu
117
116. Kontraksi Awal
118
117. Bukaan 4
119
118. Masih Bukaan 8
120
119. Persalinan
121
120. Skin To Skin
122
121. Papa Riyan
123
122. 38 Hari Lagi
124
123. Ditemani Ayra
125
124. Lelahnya Menjadi Orangtua Baru
126
125. Papa Nggak Tau
127
126. Rencana Sekolah Lagi
128
127. Hari Pertama Ulangan
129
128. Setelah 42 Hari
130
129. First Day School
131
130. Pengagum Bapak Anak Satu
132
131. Meminta Belajar Bela Diri
133
132. Pasar Malam
134
133. Permintaan Maaf Papa Riyan
135
134. Wisata Keluarga
136
135. Tamat
137
Special Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!