Bugh! Bugh!
Tubuh Zidan terbanting hingga menabrak sofa saat ayahnya memukulinya dengan membabi buta. Tubuh yang belum sepenuhnya sembuh dari amukan Zio harus kembali merasakan sakit walau tak separah yang Zio lakukan. Dirinya sama sekali tidak melawan, akan merasa semakin bersalah jika ia melawan serangan sang ayah.
"Yah! Udah!" Tangis terisak sang bunda semakin membuat Zidan merasa bersalah.
Bunda Dian memeluk sang suami dari belakang guna mencegahnya memukuli anak mereka lagi, Bunda Dian berkata, "Udah Yah! Inget gimana dulu kita pengin banget punya anak," bisik Bunda Dian lembut.
Sang ayah seketika berhenti memukuli anaknya saat ia mengingat usaha mereka dulu saat menginginkan anak, saat rahim Bunda Dian dinyatakan lemah dan akan sulit untuk hamil, tetapi berkat usaha dan doa keduanya, lahirlah Zidan. Itu juga yang memotivasi Bunda Dian untuk menjadi seorang dokter spesialis kandungan.
Melihat reaksi sang suami membuat Bunda Dian langsung melepaskan pelukannya, membantu sang anak untuk berdiri dan mendudukannya di sofa.
"Sakit ya sayang?" tanya Bunda Dian menyentuh pipi Zidan dengan berlinang air mata.
Zidan menggelengkan kepalanya, sakit yang ia rasakan belum sebanding dengan rasa kecewa kedua orang tuanya terutama sang bunda.
"Zidan nggapapa Bun, maafin Zidan," ucap Zidan yang langsung berpindah dari duduk menjadi bersimpuh di kaki bunda Dian.
Bunda Dian yang terkejut melihat itu berusaha mengangkat tubuh Zidan dengan memegang bahu Zidan, tetapi Zidan tetap kekeh dalam posisi bersimpuhnya, bahkan terdengar isakan dari cowok tersebut.
"Udah sayang, bangun! Bunda udah maafin Zidan. Sekarang bangun dulu kita bicarain ini baik baik," ucap Bunda Dian dengan lirih, suaranya serak akibat terus menangis.
Melihat anaknya yang begitu terlihat menyesal mampu sedikit melunakkan hati sang ayah, ia memegang bahu Zidan dan menegakkan tubuh anak satu satunya itu.
"Duduk!" perintah Ayah Dimas pada sang anak, Zidan pun tanpa membantah langsung duduk di sebelah sang bunda dan ayahnya menyusul duduk di sebelahnya. Zidan duduk dengan diapit kedua orangtuanya.
"Apa langkah yang bakal kamu ambil?" tanya Ayah Dimas serius.
"Zidan bakal tanggung jawab Yah, Zidan bakal nikahin cewek itu," jawab Zidan tegas, dia tidak ragu lagi dengan perkataannya.
"Yakin siap? Nikah bukan hal yang gampang Sayang" ujar Bunda Zidan mengusap rambut berantakan Zidan.
"Siap ngga siap itu konsekuensi yang harus Zidan ambil Bun," jawab Zidan dengan lembut, ia memang sangat menghormati bundanya.
"Bawa ayah ke rumah Ayra nanti malam!" ucap Ayah Dimas, tubuh Zidan seketika menegang, pandangannya kembali menunduk.
"Bukan Ayra Yah," jawab Zidan lirih.
Mata Ayah dan bunda langsung melebar mendengar penuturan Zidan. Bahkan, Ayah Dimas mengusap wajahnya frustasi. Kalau bukan Ayra siapa? Setau keduanya kekasih Zidan itu Ayra.
"Udah ganti pacar?" tanya Bunda lagi.
Zidan menggeleng, ia mulai kembali gugup."Masih sama Ayra, Bun, tapi Zidan bukan perk**a Ayra," jawabnya semakin menunduk.
"Siapa?" tanya Ayah Dimas, dari nada suaranya terdengar sedang menahan emosi yang bergejolak.
"Adiknya Zio Yah, tapi Demi Allah! Zidan engga sengaja, Zidan mabuk Yah." Zidan dengan cepat mengucapkannya sebelum sang ayah menyalahkannya lagi, walaupun ia tau ia salah.
"Bawa Ayah sama bunda ke rumah Zio nanti malem." Setelah mengucapkan itu Ayah beranjak meninggalkan Zidan, dan tak lama bundanya menyusul Ayah setelah mengusap pelan pundak Zidan.
Zidan menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa, tubuhnya terasa remuk dan kepalanya pusing. Karena terlalu lelah, Zidan terkelap dalam posisi duduk, beruntungnya hari ini hari minggu, jadi Zidan akan mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
°°°
"Udah ngga pusing?" tanya Keyna, Zia yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya.
Pagi ini Keyna dan Galen mengunjungi Zia, membawakan sarapan untuk gadis itu. Sekarang mereka berempat sedang sarapan bersama, dengan Zio yang masih saja bungkam, enggan membuka suara.
Keadaan Zia sudah membaik semenjak Zio memutuskan pulang dan merawatnya, walau sikapnya masih dingin dan terlihat cuek tapi Zio sangat peduli dan perhatian pada Zia. Terbukti Zio selalu sabar mengurus Zia dari kemarinn.
"Engga ke basecamp?" tanya Zio membuka suaranya.
Galen yang merasa ditanya menggelengkan kepalanya, "Engga, mau ngurusin anggota gue yang lagi berantem," sindirnya sambil terus mengunyah sarapannya.
Zio mendengus, dirinya tau yang sedang Galen bicarakan adalah dia dan Zidan. Galen adalah ketua yang sangat peduli dengan orang orang disekitarnya, apalagi ini sahabatnya sendiri.
"Gue bisa urus masalah gue sendiri," ujar Zio. Galen hanya meliriknya sebentar kemudian melanjutkan makannya.
"Zi, bukannya gue mau ikut campur masalah kalian, tapi gue sama Galen, sebagai sahabat kalian cuma peduli dan lagipula cuma kita yang tau masalah ini, kalau bukan kita siapa lagi," bela Keyna.
Zio menganggukan kepalanya, "Thanks."
Zia hanya mendengarkan obrolan mereka saja, dirinya sekarang merasa menyusahkan banyak orang.
Setelah mereka selesai sarapan keempat remaja tersebut memilih mengobrol di ruang keluarga, sedikit demi sedikit juga Keyna dan Galen memberi semangat dan dukungan pada kakak beradik kembar itu.
"Mama sama papa siang ini sampe rumah," beritahu Zia, Keyna mengangguk paham bahwa Zia takut bertemu orang tuanya.
"Nanti lo bantuin ngomongnya Zi," perintah Galen menepuk bahu Zio.
Zio berdehem, ia sebenarnya juga takut dan belum siap melihat wajah kecewa orang tuanya.
"Harus banget nanti? Mereka capek abis perjalanan jauh," ujar Zio yang sebenarnya masih belum siap.
"Terserah kalian, itu cuma saran. Lebih cepat lebih baik," balas Galen yang diangguki Keyna.
Pada dasarnya Galen dan Keyna itu sama sama pendiam, akan susah mencairkan suasana yang canggung, karena yang paling ceria sekarang menjadi yang paling rapuh.
°°°
"Maaf ada keperluan apa ya Pak Dimas dan Bu Dian malam malam datang kemari?" tanya Riyan, papa Zia.
Malam harinya, orangtua Zidan benar benar datang ke rumah Zia. Dan lebih parahnya, baik Zia maupun Zio belum ada yang membicarakan masalah ini pada orangtuanya.
Riyan dan Salma bingung dan kaget kedatangan tamu orang yang cukup terkenal di kota ini. Seorang pengusaha terkenal dan dokter cantik itu ada di rumahnya saat ini.
Papa Dimas berdehem, sebelum berbicara, "Saya ingin mrmbicarakan masalah tentang anak kita Pak, Bu."
"Ada apa ya? Zio sama Zidan berantem? Itu biar jadi urusan anak-anak saja Pak," jawab Riyan saat melihat Zidan banyak luka lebam.
"Bukan dengan Zio Pak, melainkan putri bapak, Zia," ungkap Dimas kembali.
"Sebentar saya panggilkan anak-anak dulu. Silahkan diminum dulu Pak, Bu." Mama Salma yang bingung berinisiatif memanggil kedua anaknya.
Zidan semakin ketar ketir saat melihat Zio dan Zia berjalan turun dari tangga di belakang Salma. Apalagi tatapan kaget dan tajam dari Zio.
"Ngapain lo kesini?" tukas Zio saat duduk di samping papanya menghadap Zidan.
"Yang sopan Zio," peringat mamanya.
Zidan tidak menanggapi, ia malah memperhatikan Zia yang terus menunduk. Zia terlihat takut dan gelisah.
Zidan memejamkan matanya sejenak, "Bismillah," gumamnya.
"Maaf Om, Tante, Zidan mau izin nikahin Zia," ucap Zidan mantap dan yakin.
Tentu saja Riyan dan Salma kaget, sesaat kemudian Riyan terkekeh. "Nunggu lulus dulu Nak, kalo mau ngelamar anak saya, ngga sabaran banget," ucap Riyan bercanda.
"Ngga bisa Om, Zidan mau secepetnya," jawab Zidan lagi.
"Zidan mau tanggungjawab sama apa yang udah Zidan lakuin," lanjutnya.
"Maksudnya? " tanya Salma yang semakin bingung.
"Zidan udah ambil kesucian Zia, Zidan mau nikah sama Zia, Tante," jelas Zidan tegas dan yakin. Zia dibuat makin kelabakan dan gugup, sementara Zio masih terus memandang tidak suka pada sahabatnya itu.
Riyan yang mulanya santai sekarang rahangnya mulai mengeras. Ia memandang putrinya yang duduk di sebelah sang istri.
"Bener Zia?" tanya Riyan berdiri, yang malah membuat bahu Zia bergetar menahan tangis.
"JAWAB!!" bentak Riyan sampai sampai Zia berjingkat kaget dan tangisnya pecah.
"I-iya pah hiks," jawab Zia sambil terisak. Dirinya tidak berani mengangkat wajah saking malu dan takutnya.
"GINI KELAKUAN KAMU KALO MAMA SAMA PAPA NGGA DI RUMAH HAH?" bentak Riyan lagi. Zio menahan tangan sang papa yang akan menampar Zia.
"Pah!" peringat Salma, dirinya juga menggelengkan kepalanya tidak percaya. Putri kesayangannya berani berbuat seperti itu.
"Sekarang kamu hamil?" tanya Riyan yang dijawab gelengan oleh Zia.
"Yaudah engga usah nikah," ucap Riyan kembali duduk.
Zidan memandang sang bunda, mengisyaratkan untuk membantunya sekarang.
"Begini Pak Riyan, saya dokter kandungan, saya tau walaupun cuma sekali melakukan tidak menutup kemungkinan untuk hamil Pak, putri bapak dan Zidan melakukannya baru tiga hari yang lalu, hamil atau tidak belum bisa dipastikan, tapi mencegah jikalau hamil mending dinikahkan saja Pak sebelum terlalu lama dan malah menimbulkan masalah baru," jelas Bunda Dian.
"Benar Pak, yang paling dirugikan disini putri Bapak, dia sudah kehilangan mahkotanya, yang akan menjadi masalah kelak saat Zia menikah dengan lelaki lain. Belum tentu ada yang menerima putri bapak apa adanya. Jadi, izinkan putra kami bertanggungjawab," ucap Ayah Dimas menambahi ucapan istrinya.
"Terserah kalian," jawab Riyan frustasi.
"Bagaimana tante? Boleh Zidan nikah sama Zia?" tanya Zidan meminta restu pada mama Zia.
Salma masih diam, mencoba mencerna dan memahami keadaan yang ada kemudian mengangguk setuju. Dipikirnya ia beruntung mendapati remaja seperti Zidan yang mau bertanggungjawab walaupun belum tentu anaknya hamil, disaat di luaran sana banyak yang malah meminta menggugurkan kandungan si cewek.
Zidan mengucap hamdalah dalam hati kemudian menatap sahabatnya, Zio.
"Zio?" panggil Zidan meminta restu dari sang kembaran Zia.
"Serah!" jawab Zio ketus, lalu berdiri meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
Kalo suka jangan lupa like 👍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Nur Haluza
p kok aku kaget orang tuan zia, seperti gak peduli pada anak nya
2022-09-10
2