"Om gimana?" tanya Zidan lagi.
"Saya bilang terserah! setelah nikah silahkan bawa anak ngga tau diri ini," ketus Riyan menunjuk Zia. Zia semakin terisak.
Setelah itu, mereka membicarakan dan sepakat pernikahan akan dilangsungkan besok malam secara sederhana dan dirahasiakan.
Zidan sedikit bernapas lega saat sudah mengantongi restu orangtua Zia, walaupun papa Zia terlihat sangat tidak suka terhadap dirinya, asalkan sudah diberi restu, ia sudah tenang.
°°°°
"Kenapa muka lo Dan? Makin parah aja dari kemaren," tanya Dyu saat mereka baru masuk ke kelas. Zio melirik sebentar, ternyata bukan luka yang ia buat.
"Biasa, kena bogem bokap waktu ketauan mabok," jawab Zidan berbohong, tidak sepenuhnya berbohong karena memang dia mabok, hanya intinya bukan itu.
"Sukurin! Lagian ngapain mabok segala, kita aja ngga ada yang mabok kemaren," ujar Dyu tertawa.
"Katanya paling alim diantara kita semua, malah mabok sendiri, ngga ajak ajak lagi," canda Galen yang duduk di meja.
"Langit belum berangkat juga?" tanya Galen.
"Belum Gal, udah tiga hari ngilang, di telepon engga di angkat, di chat juga ngga dibales, curiga gue dia lagi nikah sama janda diem diem di kampung emaknya," cerocos Dyu.
"Bisa jadi tuh," ujar Zidan sembari terkekeh geli membayangkannya.
"Zi lacak aja dimana Langit sekarang, ntar kita susulin, takutnya bener omongan Dyu," kata Galen mengundang tawa Dyu dan Zidan, sementara Zio masih terus diam.
"Besok, gue sekarang sibuk," jawab Zio tetap fokus pada ponselnya.
Zio memang sedang sibuk, ia membantu orangtuanya menyiapkan pernikahan adik kembarnya itu.
Hari ini baik Zidan maupun Zia tetap berangkat sekolah walau nanti malam akan melangsungkan ijab kabul, supaya tidak ada yang curiga.
Urusan gaun pernikahan sudah diurus Bunda Dian, Zia dan Zidan hanya perlu fiting bajunya nanti sepulang sekolah.
°°°
"Guys nanti malem main yuk," ajak Sherena pada sahabatnya saat mereka di kantin.
"Gue si ayuk gass ajaa," jawab Ayra menyuapkan bakso ke mulutnya.
"Zia engga bisa, papa mama baru pulang kemaren, nanti malem mau ajak jalan jalan," bohong Zia.
"Gue juga ngga bisa, gue ada janji ketemu Arin," jawab Keyna yang sebenarnya akan menghadiri pernikahan Zia.
"Yah, yaudah lain kali aja kita mainnya," kata Sherena memaklumi. Daripada main tidak lengkap.
"Arin tuh anak kecil yang waktu itu? Yang lo sebut anak lo?" tanya Ayra mengingat Keyna tidak mempunyai siapapun kecuali mereka dan anak kecil itu.
"Iya, gue udah lama ngga jengukin dia," jawab Keyna menjadi rindu dengan Arin.
"Gue masih ngga percaya dia anak lo, tapi mukanya mirip sama lo, juga mirip sama Galen," ungkap Sherena mengamati foto Arin di instagram Keyna.
"Arin anak gue," ketus Keyna lagi. Ia tidak suka ada yang bilang Arin bukan anaknya, walau kenyataannya begitu.
°°°
"Sah?"
"Sah."
Zidan menghela napasnya lega saat berhasil mengucapkan ijab kabul, sekarang dirinya resmi menjadi suami dari Zia. Perempuan yang sama sekali tidak pernah menarik perhatian Zidan.
"Congrats Bro, nikah duluan nih ya," ucap Galen menyalami dan menepuk pundak Zidan. Zidan hanya tersenyum, setelahnya mereka mengobrol, karena memang tidak banyak tamu yang hadir, hanya beberapa sanak saudara dan rekan bisnis orang tua. Jadi, Zidan dan Zia bebas.
"Papaaa!" teriak gadis kecil yang berlari ke arah Galen. Galen berbalik mendengar suara itu kemudian berjongkok dan seketika gadis kecil itu menubruk tubuh kekarnya.
Galen membopong Arin sambil menciumi pipi cuby anak itu.
"Mama mana sayang?" tanya Galen, dan Arin menunjuk ke arah belakang dimana Keyna berjalan dengan anggunnya sambil membawa tas kecil berisi keperluan Arin.
Saat Keyna sudah di hadapannya, Galen bertanya, "Arin kenapa dibawa?"
"Nangis dia, aku ngga boleh pergi, daripada aku ngga dateng mending aku bawa, engga papa kan?" jawab sekaligus tanya Keyna. Galen mengangguk.
"Eh pengantin baru, Selamat yaa... sorry ya telat. Jadi ngga liat pas ijab kabul deh," ucap Keyna memeluk Zia.
"Iya nggapapa, Keyna udah dateng aja Zia seneng. Daritadi Zia ngga punya temen," jawab Zia membalas pelukan Keyna.
"Cantik banget sii temen gue ini," puji Keyna meneliti penampilan Zia, Zia balas tersenyum malu.
Zia memang terlihat cantik dengan gaun putihnya dan serasi dengan Zidan yang mengenakan tuxedo putih juga, senada dengan Zia.
"Anak lo Gal? yang waktu itu kalian bilang?" tanya Zidan yang mengamati interaksi Galen dan Arin.
"Iya," jawab Galen tanpa beban, malah dirinya asyik menciumi wajah gadis kecil itu.
"Gue boleh gendong? Imut banget sumpah," ucap Zidan gemas sendiri, ia memang sangat menyukai anak kecil, namun Bundanya tidak dapat memberikan ia adik karena masalah rahimnya.
"Arin mau sama Om Zidan?" tanya Galen menunjuk Zidan.
Arin menggelengkan kepalanya dengan bibir mengerucut, setelahnya malah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Galen, membuat Galen tertawa.
Keyna yang melihat Zidan ingin menggendong Arin pun berusaha mendekati Arin dan membujuknya.
"Sayang... tuh Om Zidan pengin kenalan sama Arin," ucap Keyna membelai rambut Arin. Arin mendogak mengamati wajah Zidan dan seketika mengulurkan tangannya pada Zidan meminta digendong.
"Sini sama Om, utututuhh gemes banget sii," ucap Zidan saat Arin berpindah ke gendongannya.
"Jangan bawa pulang ya Key, buat gue aja," canda Zidan yang sedang mengelus rambut Arin.
"Enak ajaa! buat sendiri lah, udah sah inih," sewot Galen tidak terima, sedangkan Keyna hanya terkekeh.
"Gue udah sah, lah lo belum sah udah buat anak duluan," ejek Zidan membalas ucapan Galen.
"Nanti gue sah in nih cewek nunggu lulus," jawab Galen menarik pinggang Keyna saat banyak lelaki yang memandangi Keyna, kebanyakan om om lagii.
"Tunggu aja, bentar lagi juga jadi tuh cebong lo," ucap Galen sembari tertawa. Zia yang tidak tau apapun hanya ikut tersenyum canggung.
"Jangan dulu lah, Zia masih kecil," jawab Zidan meringis, dia memang menyukai anak kecil, tapi tidak harus mempunyai anak dalam waktu dekat juga, kasian Zia. Zidan mengamati wajah cantik perempuan yang sudah sah menjafi istrinya dengan tangan yang tak berhenti mengelus rambut Arin hingga gadis kecil itu tertidur.
"Tau masih kecil ngapa diajak main kuda kudaan," ejek Galen.
"Zia ngga pernah main kuda kudaan sama Zidan," timpal Zia yang sedari tadi menyimak. Mendengar itu, Keyna menginjak kaki Galen memberi peringatan.
"Iya engga pernah, jangan dengerin kata Galen," ucap Keyna.
"Kakak ipar lo mana?" tanya Galen tidak melihat sosok Zio, sekalian mengalihkan pembicaraan.
"Siapa?"
"Zio."
"S*alan lo Gal, Di dalem dia sama sodara-sodaranya, masih ngga mau ngomong sama gue dia," jawab Zidan setelah mengumpati Galen, rasanya aneh saat menyadari sahabatnya ternyata menjadi kakak iparnya.
Mendengar umpatan Zidan, Keyna menutup kedua telinga Arin yang masih berada dalam gendongan Zidan. Walaupun, sebenarnya Arin sudah tertidur.
Mereka terus mengobrol sesekali saling ejek dan bercanda. Zio masih belum mau berbaur dengan mereka, dan Zidan memaklumi itu, jika ia menjadi Zio mungkin juga akan melakukan hal yang sama.
°°°
Di lain tempat, tepatnya di rumah Zidan, tampak seorang gadis cantik tengah berdiri di depan gerbang yang menjulang tinggi, ia masih mengamati rumah yang terlihat sepi tersebut, satpam rumah Zidan sudah memberi tahu bahwa keluarga itu tidak ada di rumah, namun Ayra masih menetap di situ.
Ayra merasa Zidan seperti menghindarinya, mulai dari jarang memberi kabar, tidak berani menatap matanya, selalu gugup ketika bicara, dan sekarang tidak bisa dihubungi.
Pak Joni, satpam rumah Zidan memberitahunya bahwa Zidan dan kedua orang tuanya sedang ada acara dan tidak tahu akan pulang atau tidak.
Setelah puluhan menit berdiri Ayra memutuskan untuk pergi dari rumah sang pacar. Rasanya sakit ketika orang yang selama ini peduli terhadap kita, tiba-tiba seperti menghindar. Ayra berniat menanyakan semuanya besok saat di sekolah.
"Apa gue buat salah ya?" monolog Ayra.
°°°°
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Cantik sih cantik,Tapi kurang se ons..
2024-02-07
0
Qaisaa Nazarudin
Aku makin curiga dgn Langit..🤔🤔🤔
2024-02-07
0
ririn puji rahayu
masih penasaran, siapa yg udah buat mereka mabuk
2022-11-29
2