Gleukk..
Perutnya sudah saling bertabuhan minta diisi. Beberapa piring sajian makanan lezat sudah di depan mata, begitupun jus jeruk, yang embun dinginnya sampai mengucur di luar gelas. Seakan memanggil untuk di minum.
Kara duduk, pipinya yang seperti bakpau makin menggembung bak adonan roti yang sudah mengembang sempurna. Hidungnya yang mancung dan matanya yang bulat membuat siapa saja laki laki akan menyukainya pada pandangan pertama, begitupun bibir mungilnya yang tipis. Milo begitu terpesona dengan wajah di depannya, tangannya menyendok nasi, namun matanya lekat menatap gadis di depannya. Jika seandainya penampilan Kara tidak cupu, maka sudah dipastikan ia akan menjadi primadona sekolah dimanapun dia berada.
"Masih menahan lapar? tenang aja ga ada racunnya kok," ucap Milo menyunggingkan senyuman.
Kara mengambil sendok itu ragu ragu, bo*do amat dengan gengsi, ia tak mau nantinya akan pingsan di jalanan dan membuat kedua orangtuanya khawatir.
Milo menarik senyuman," enak kan?" tanya nya.
Kara mengangguk lalu meneruskan makannya, tak ada obrolan hingga makanan di depannya habis.
"Makasih," ucap Kara. Milo mengerjap.
"Sama sama tapi ini semua ga gratis!" jawabnya.
"Uhukkkk !!!" Kara terbatuk saat sedang minum jus jeruk, yang dinginnya menyegarkan tenggorokan.
"Apa ??!" tanya Kara.
"Iya ini semua ga gratis dan loe harus bayar !" jawab Milo.
Kara menelan salivanya berat, kalau dihitung hitung semua yang masuk ke dalam mulutnya dimulai dari makanan dan minuman juga puding tadi berapa?? di tempat yang se cozy ini tentunya harganya tidak akan sama dengan harga makanan di warteg.
"Tadi loe bilang !!" tunjuk Kara yang langsung menghentikan ucapannya, tak tau emosi level ke berapa yang sedang ia alami saat ini. Kara menarik nafas dan membuangnya.
"Oke berapa yang harus gue bayar?" tanya Kara meminta bill nya, mungkin setelah ini ia akan kasbon pada orangtua yang menitipkan anaknya untuk les padanya.
"Gue ga minta nominal uang," jawab Milo, duduk santai menyenderkan punggungnya di kursi.
Jika sekarang dia menusukkan garpu ini pada pemuda di depannya ini, apakah nanti akan viral di sosial media?
"Terus apa mau loe?" tanya Kara, mencoba berdamai dengan hati dan memahami makhluk astral satu ini. Ia hanya meyakini dalam hati hanya dialah yang waras saat ini.
"Gue mau loe ikutin semua perintah gue apapun, kapanpun dan dimanapun !" jawabnya.
"Apa?? are you crazy men?" tanya Kara berdiri. Ini artinya Kara menjadi budak Milo, oh tidak semudah itu ferguso.
"No, i'm sure !!" yakin Milo.
"Engga gue ga mau, itu sama artinya gue diperbudak sama loe !!" jawab Kara, biarlah semua orang tau jika mereka sedang bertengkar, Kara hanya perlu menjawab jika orang di depannya ini adalah pasien RSJ.
"Oke kalo gitu loe bayar semuanya sekarang!" Milo memberikan bill pada Kara.
Kara membulatkan matanya melihat semua harga makanan yang harus ia bayar. Ia tidak membawa uang sebanyak itu. Si@l, ia sudah masuk dalam perangkap Milo.
"Oke deal," dengan berat hati Kara menyetujui keinginan Milo.
Milo menjabat tangan Kara, perjanjian mereka terjalin. Kara menghela nafas lelah, ia ingin menghilang saja dari muka bumi. Atau sekedar hanyut terbawa arus air got.
"Gue anter loe pulang, no debat no nolak !!" ucap Milo menarik tangan Kara.
Katakan saja dia sedang gila, memaksa seorang gadis untuk selalu bersamanya. Apakah Milo mulai menyukai Kara? sejauh ini Milo menganggap jika dirinya hanya senang melihat Kara kesal, mengerjai gadis ini membuatnya bisa tertawa, di debat oleh Kara menjadi sebuah good mood untuk Milo.
Kara sepaket dengan wajah cemberutnya hanya bisa pasrah menerima nasib takdirnya yang buruk ini, kenapa ia harus bertemu dengan Milo si penindas. Kara naik ke motor Milo.
"Pegang, atau ntar loe jatoh !!" titahnya. Kara menurut saja bagai boneka susan yang mengikuti titah tuannya.
"Rumah loe dimana?" tanya Milo.
"Jl. xxxxxxx ," jawab Kara. Jika tidak takut hutangnya dilipatgandakan seperti dililit lintah darat mungkin Kara akan menjawab jl.Neraka kelurahan menderita kecamatan tersiksa.
"Oke !" Milo melajukan sepeda motornya menuju rumah Kara, melewati gang sempit bak gang untuk kelinci, hanya muat dua motor itupun dengan jarak yang hampir setipis kulit bawang. Kampungnya cukup ramai, banyak tetangga yang lewat dan saling bercengkrama, tidak seperti di lingkungan perumahan elite yang Milo tinggali.
"Stop !! itu rumah gue !!" ucap Kara.
Milo menghentikan sepeda motornya. Kara turun,
"Mana kacamata gue ??" tagih Kara pada Milo, menyodorkan tangannya.
"Ga mau ngajak dulu masuk atau mampir gitu?" tanya Milo membuka helmnya, beberapa tetangga yang lewat melihat keduanya, jarang jarang pemuda tampan dengan motor keren masuk ke daerah mereka, terlibat dari wajah dan penampilannya yang serba bermerk, ia bukan pemuda sembarangan. mungkin besok ia akan menjadi berita utama para ibu ibu di warung sayur, yang isinya si upik abu yang berpacaran dengan pangeran. Oh ayolah, Kara tidak se gila itu.
"Ga usah, rumah gue jelek. Ntar yang ada tuan muda macam loe gatel gatel lagi terus minta gue tanggung jawab bayar uang dokter loe !" jawab Kara.
"Kara !!" pekik ibunya dari ambang pintu,
"Baru pulang nak, kenapa ga diajak masuk temennya.
"Engga bu, dia udah mau pulang !!" jawab Kara. Namun, dengan lancangnya Milo malah turun dari motornya berjalan masuk ke teras rumah Kara.
Kara menginjak injak tanah yang ia pijaki, saking kesalnya, sepertinya besok ia akan mempertimbangkan masuk ekskul karate agar bisa menghajar Milo sampai K.O.
"Assalamualaikum, bu. Maaf Kara pulang telat hari ini. Saya mau minta maaf bu, karena tadi Kara pingsan di sekolah terlalu lelah saat di MOS. Saya selaku panitia meminta maaf pada wali Caramel."
Bukannya marah tapi ibu Kara malah tersenyum lembut, "terimakasih nak, sudah mengantarkan Kara pulang," jawab ibu Kara.
Milo tercekat dengan kelembutan dan kebaikan ibu Kara, sangat terlihat ia adalah ibu yang penyayang, sejenak ia jadi merindukan almarhumah bundanya yang sudah lama pergi dari dunia fana ini.
"Masuklah nak, kita minum minum teh dulu !!" ajak ibu.
Kara hanya melongo, tak tau saja ibunya, jika orang yang sedang diajaknya untuk minum teh bersama adalah orang yang sudah dan akan membuat hidup anaknya menderita. Sekalian saja bu, teh nya bubuhi racun, pikir Kara.
"Bu !! masa dia disuruh masuk, dia orang asing bu!!" sarkas Kara mendekat.
"Eh..ko kaya gitu ngomongnya, nak??" tanya ibu.
"Milo bu, Armilo !" jawab Milo.
"Nak Milo kan temen sekolah Kara, bukan orang asing," jawab ibu.
"Sudah sore, takut nanti kehujanan di jalan. Jadi sebaiknya loe pulang !!" segera mendorong Milo menjauh dari rumah menuju motornya.
"Idihhh, ibu loe aja baik, loe nya galak, sombong, jutek !! heran aja loe anaknya bukan sih?" kekeh Milo.
"Gue jelmaan siluman, puas loe !!" jawab Kara sarkas.
"Kembaliin kacamata gue, atau gue teriakin kalo loe orang jahat !!" ancam Kara.
"Nih, kacamata harry potter loe !! Milo meraih tangan Kara dan menaruh kacamata berbingkai bulat itu di tangan halus Kara.
Sepertinya ia direndam dalam susu dan pelembut satu bak sampai sampai kulit tangannya saja sehalus kulit bayi.
Milo memakai helm fullface nya lalu naik keatas motor, ia menyalakan mesin motornya.
"Oke sampai jumpa besok, wahai abdiku yang cupu !" ujar Milo lalu melajukan motornya.
Kara mencebik kesal dengan mata menyipit menatap kepergian Milo. Ia harus memikirkan cara untuk lepas dari Milo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Lia Bagus
astaga 🤣🤣🤣
2024-09-02
0
Ney Maniez🍒⃞⃟🦅
🤭🤭😂😂😂😂
2023-08-17
1
Bubble
auto kangen jg sm almh ibu ku 🥺🥺
2023-01-26
1