Semua siswa peserta didik baru diharapkan berbaris di lapangan. Kara bergegas dan memasukkan ponselnya ke saku roknya.
"Aduh, sorry ! ga sengaja," ucap Kara yang sama sama merasakan sakit di bagian bahu. Karena terburu buru ia menabrak seorang siswi lainnya.
"Hemm, ga apa apa." jawabnya.
" Loe kelas ini juga kan, kenalin nama gue Rahayu, panggil aja Ayu," ucapnya. Kara membenarkan kacamatanya dan tersenyum.
"Caramel ! panggil aja Kara .." jawab Kara.
"Oh loe yang duduk paling ujung ya ?" Kara berjalan bersampingan dengan Ayu.
Setidaknya Kara tidak merasa sendiri disini. Ia mendapatkan seorang teman untuk diajak bicara. Lumayan lah selama bersekolah disini lidahnya tidak akan kelu karena ada seseorang yang bisa ia ajak bicara.
Panas matahari di jam 08.30 sedang hangat hangatnya menyinari bumi,
Di ruangan OSIS,
"Raka, gue terima ajakan loe deh buat jadi panitia MOS tahun ini !" ucap Milo pada ketua pelaksana panitia MOS tahun ini.
Raka mengangkat alisnya sebelah," dah telat !!! gue tawarin dari jauh hari tapi loe nolak, sekarang loe dateng dateng mau jadi panitia pas acara sudah mulai ??" jawab Raka, kesal melihat sikap seenaknya dari Milo. Meskipun ia anak orang paling berpengaruh di sekolah ini bukan berarti Milo bisa seenaknya bersikap disini.
"Gue ga mau tau, loe bisa jadi ketua OSIS berkat gue juga. Apapun posisinya gue terima asal gue bisa ikut nge MOS siswa siswa baru taun ini," Milo mengambil kursi dengan mudahnya lalu duduk dengan kaki di selonjorkan di kursi lainnya.Entah itu dimanapun Milo bersikap seolah ia rajanya.
Raka menepuk jidatnya lelah, memang begini lah sifat Milo sejak dulu, sejak SD Raka sudah mengenal Milo dan setia menjadi temannya. Ia pun heran bisa bisanya ia berteman pemuda macam Kim Jong Un ini.
"Nin, apa ada posisi yang membutuhkan personel tambahan?" tanya Raka pada Nina sekertaris OSIS.
"4 ya !!" pinta Milo dengan santainya seperti memesan bakso.
"Loe pikir ini di warteg apa ?? bisa seenaknya mesen kursi !!" sarkas Raka menjitak kepala Milo. Dimana sebenarnya otak temannya ini? apa ia berikan pada rumah makan padang untuk dijadikan menu disana.
" Ya kali aja loe butuh tenaga! buat angkat angkat barang kek!!" kelakarnya.
"Ogah ah gue mah, ngapain juga !!" tolak Keanu.
"Lagian loe apaan sih Mil... pake mau ikutan jadi panitia segala !! tumbenan amat !!" ucap Arial tak terima. Diangguki Erwan.
"Loe bertiga nolak?" tanya Milo mengangkat sebelah alisnya pada ketiga temannya.
"Engga sih, tapi ...ya udah lah gue mau tapi jangan tugas yang berat berat Ka, kalo bisa bagian konsumsi aja gue mah !!" jawab Arial terkekeh. Memang jika sudah kenal keempat cowok ini adalah pribadi yang hangat dan absurd. Hanya saja tampilan mereka yang tampan dan cool menjadikan mereka tampak garang bak singa yang ingin menerkam orang dan disegani siswa lainnya ditambah pamor mereka yang mengalahkan pamor anak gubernur sekalipun.
"Kenapa gue mesti kenal sama loe pada sih !!" keluh Raka memijit pelipisnya, bisa bisa ia memiliki penyakit darah tinggi dan vertigo jika lama lama berteman dengan keempat anak manusia ini. Memang dari kelima orang ini hanya Raka lah yang sedikit waras.
Para anggota OSIS perempuan terlihat tersenyum senang, bagaimana tidak, satu genk cowok cowok kece badai ada disini semua bikin mood booster. Dimana ada laki laki tampan disitu pasti ada barisan cewek cewek gagal move on.
"Nih, Mil..name tag loe udah gue bikinin." Nina tersenyum lebar. Disenyumin sama titisan pangeran bagai oase yang menyejukkan di padang pasir.
"Thanks honey..." ucap Arial. Memang Arial ini buaya darat versi anak SMA. Hampir semua anak perempuan ia gombali demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Thanks Nin," jawab kedua lainnya.
Raka duduk di samping Milo menendang kaki Milo yang menurutnya tak sopan," turunin kaki loe,apa yang udah bikin loe berubah pikiran??" tanyanya. Ia tau ada sesuatu yang membuat Milo merubah keputusannya. Dan apapun itu well...ia give applause karena tak mudah membuat pemuda ini mau mengikuti kegiatan yang ia bilang hanya membuang buang waktu dan tenaga saja.
" Ga ada ! gue cuma lagi gabut aja, butuh hiburan !" sarkas Milo merubah tensi bicaranya.
"Sampai kapan loe mau terus bully orang Mil, apa loe ga kapok sama kejadian waktu di Smp?" tanya Raka.
"Paham gue, ga usah diingetin tiap waktu kaya makan obat !!" jawab Milo yang langsung berdiri.
"Oke guys semua sudah berbaris rapi, panitia diharap kumpul dan ke lapangan sekarang !!" pinta Raka.
Para panitia dengan sejuta pesonanya keluar dari ruang OSIS, dan berjejer di podium. Histeria para siswa baru terutama perempuan begitu terdengar jelas di telinga Kara, yang begini nih mata cowok an...ga bisa liat cowok cowok senior bening dikit pasti radar sinyal mereka langsung memancar.
Senyum Kara terbit saat yang pertama kali ia lihat adalah Raka, panitia ramah yang kemarin ia temui. Namun sesaat kemudian senyum itu luntur saat matanya menangkap beberapa orang yang sangat ia kenali. Bagai hari cerah yang langsung mendung dan hujan badai dsngan tiba tiba.
"Wawww !!! tau ga sih itu loh, genk cowok cowok cakep yang terkenal itu !!!" desas desus di belakang Kara, membuat telinganya panas seperti di kukus diatas dandang.
"Oh iya cuma SMA ini punya !! terkenal nya sampe keluar loh, arjunanya SMA sini !!" ucap mereka gemas. Tangannya yang sudah gatal ingin segera menyumpal mulut mulut lemes mereka. Berisik sekali !!
"Apa bagusnya coba mereka?? percuma wajah tampan kelakuan kaya ketan di santenin," decih Kara.
Setelah dibagi bagi kelompok sesuai kelasnya, Kara segera berkumpul dengan kelompoknya. Ia hanya berharap sebuah keajaiban, sekali saja dalam hidupnya semua pengharapan ia kumpulkan hari ini agar tidak bertemu dengan Milo, atau paling tidak, tidak usah saling tegur sapa lagi.
Mungkin Kara belum termasuk pada golongan orang orang beriman, yang do'anya diijabah oleh Allah hari itu juga, atau mungkin Kara kurang keras mengetuk pintu langit.
"Apes tujuh turunan gue, apa mening pura pura ga kenal aja ya !!" gumam Kara. Milo dan Raka mendekat. Mungkin bagi peserta yang lainnya ini adalah sebuah anugerah terindah dalam hidupnya. Namun, bagi Kara ini lah akhir perjalanannya menjadi manusia merdeka.
"Ya Allah kalo gue punya dosa dosa di masa lalu yang disengaja maupun engga, dari lubuk hati yang paling dalam dan kesadaran yang penuh gue tobat,"benak Kara.
"Selamat pagi adik kelas, kami mengucapkan selamat datang di sekolah kami tercinta..." ucapan Raka begitu enak mengalun di indera pendengaran Kara, tidak seperti laki laki di sebelahnya yang selalu kasar dan terkenal angkuh. Heran !! apa yang membuat para gadis memuji dan memuja pemuda satu ini, apa pelet yang ia pakai semanjur ini, sampai sampai mereka rela bertekuk lutut di hadapan Milo. Tak banyak yang Kara tau tentang Milo, karena ia bukanlah tipe gadis dengan segudang ke kepoan, ia lebih memilih belajar daripada harus bergosip ria dengan gadis lainnya, atau sekedar memandang mandang ganjen pada laki laki yang belum tentu melihatnya. Yang ia tau Milo memang tampan sebagai seorang lelaki perawakan dan wajahnya bisa dikategorikan level dewa, namun tidak dengan attitudenya.
"Kamu !!" tunjuk Milo pada Kara, buyar sudah pikiran buruk Kara yang dari tadi sedang asyik ia pikirkan.
"Saya kak?" tanya Kara menunjuk dirinya sendiri, sudah Kara duga kedamaian hidupnya akan terusik mulai hari ini. Jika kesabaran dijual di warung sayur maka ia akan menabung uang dan memborong semuanya sampai ludes tak bersisa, menghadapi pemuda macam Fir'aun versi Indo harus full sabar.
"Iya lah pake nanya lagi !!" sarkas Milo, Raka sudah mewanti wanti Milo untuk tak berulah tapi rupanya nasihat dan peringatan Raka seperti es batu yang ditaruh di atas wajan panas mencair dan menguap begitu saja.
"Ada apa kak? apa saya berbuat salah?" tanya Kara.
Salah banget gue nanya gitu !! harusnya langsung aja gue tendang sekalian ke matahari ini orang, biar kebakar sekalian, mau salah atau ga salah sudah dipastikan dia bakalan bully gue, sesalnya dalam hati
"Kamu jadi ketua kelompok ini !!" pinta Milo.
"Hah??!" Kara menganga.
"Kenapa saya kak?" tanya Kara.
"Karena saya yang memilih !" jawab Milo.
"Bukannya kalau ketua harus dipilih yang lainnya??" Kara celingukan mencari suara dari yang lain, tapi seakan takut, mereka malah diam.
"Si*al !!" gumam Kara.
"Mil..!!" senggol Raka.
"Tenang aja Ka, gue ga akan berulah ko." Milo menarik senyuman menoleh pada Raka.
Milo mendekat pada gadis berpipi chubby nan pink ini.
"Loe masih inget kan, peraturan tidak tertulis di sekolah ini??" tanya Milo mengintimidasi.
"Ga usah diingetin gue udah hafal banget, IQ gue tinggi bukan kaya IQ loe yang rebahan di kasur !" jawab Kara. Milo mengetatkan rahangnya.
"Kalo loe ingat dan pintar maka sebaiknya loe patuhi !!" jawab Milo.
"Iya, peraturan lainnya adalah PATUHI MAKHLUK DARI PLANET ANTAH BERANTAH kaya loe !!" Kara menekankan setiap kalimatnya dengan gigi yang sudah menahan amarah.
Kara menghela nafasnya berat, semoga betah Kara. Ia mendongak pada Milo. Mata elang Milo dan mata bulat indah milik Kara bertemu.
"Gue benci sama loe !!" gumam Kara terdengar jelas oleh Milo, ia menyunggingkan senyumnya.
"Bagus, karena loe butuh rasa benci itu buat bales gue !!" jawab Milo.
"Bagaimana?? TBC ??" tanya Milo.
"Nama saya Caramel kak," jawab Kara.
"Tapi di name tag loe TBC kan? tanya Milo.
"Kalian berdua, stop !!" lerai Raka.
"Oke, Caramel apa kamu sanggup?" tanya Raka.
"Insyaallah kak," jawab Kara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Lia Bagus
😅😅😅
2024-09-02
0
Lia Bagus
bisa jadi 🤣🤣🤣🤣
2024-09-02
0
H
😂😂😂
2024-05-31
1