Setelah solat subuh Nadia langsung mandi lalu memakai seragam sekolah yakni atasan muslim warna biru dongker dan bawahnya rok putih, serta kerudung putih. Sebenarnya Nadia ingin membeli sepatu adidas dan tas gunung merek consina untuk masuk SMA, karena sendari kecil ia terkenal tomboi.
“Nadia buruan sarapan, udah siang!!” teriak sang Ibu dari lantai bawah membuat gadis yang sedang memikirkan apa barang yang nanti ia kenakan saat masuk SMA nanti menjadi hilang.
“Iya, Bu!” sahut Nadia yang juga berteriak. Nadia sebelum turun ke bawah untuk sarapan ia menyemprotkan parfum terlebih dahulu ke tubuhnya kemudian ia baru turun ke bawah untuk sarapan.
Gadis itu pagi ini sarapan tanpa mengeluarkan sedikit ucapan dari mulutnya. Sarapan pagi ini sang Ibu sudah siapkan nasi uduk dengan kerupuk ikan, Nadia makan dengan diam sambil mengunyah makanan dengan rasa hambar di lidahnya, mungkin gadis itu memikirkan Raisa si gadis kecil yang malang.
Sesampainya di sekolah Nadia melihat para anak cowok yang biasa yang biasanya membully dirinya hanya diam tidak seperti biasa, selalu menghinanya. Nadia menaiki tangga untuk menuju kelasnya tak lama ia di hadang oleh Budi.
“Hallo, Cewek.” Ujar Budi sambil menaik turunkan alisnya.
“Apaan sih lo!! masih pagi nih!!” ujar Nadia dengan nada yang ketus.
“Busset dah Budi!!! istri lu galak bener!!” Ucap teman Budi yang di tepat di sebelahnya, ya Budi bergerombol dengan the geng, Nadia melipat kedua tangannya di dada sambil memutar bola matanya jengah.
“Sore hari beli pasta gigi, besoknya beli kacamata, Hallo Nadia selamat pagi, karena hanya dirimu yang aku cinta.” Budi mulai merayu Nadia dengan jebakan mautnya.
“Pagi hari gosok gigi, sorenya beli karet, lebih baik pada pergi, daripada satu-satu gua kepret.” Ucap Nadia.
“EH PADA PERGI GAK LU PADA ATAU GUA KEPRET NIH LU PADA!!” ucap Nadia yang marah.
“Satu!! Dua!!...” sebelum mengucapkan tiga mereka semua langsung pada kabur.
“Astagfirullah ada-ada aja pagi-pagi cobaannya.” Lanjut Nadia setelah kepergian mereka lalu melenggang masuk ke dalam kelas.
Saat memasuki kelas ada dua orang anak perempuan bertanya soal Budi dengan enggan Nadia menjawabnya tapi hanya memberikan sedikit ocehan, “kalo lu pada suka ama tuh, kucing garong ya udah ambil aja.” Ujar Nadia yang malas menyahuti para gadis biang gossip ini.
Pulang sekolah Nadia tak langsung pulang ke rumah lantaran ia sudah berjanji dengan Ananda, Dini, dan Nissa untuk mengantarkan mereka semua membeli buku di gramedia.
Nadia naik angkutan umum bersama tiga temannya sebenarnya ningrum ingin diajak tetapi ia sudah pulang terlebih dahulu dengan sepeda.
“Eh Nad, lu ke gramed mau beli buku apa?” Dini tiba-tiba membuka pembicaraan.
“Gak tahu gua.” Ucap Nadia. Gadis-gadis berseragam sekolah yang sedang saling bercengkrama di dalam angkutan umum tiba-tiba kendaraan yang mereka naiki mengerem mendadak membuat Nissa yang sedang memakan donat menjadi terkena pipinya menjadi belepotan.
Sesampainya di gramedia atau toko buku rombongan anak sekolah tersebut turun dari angkutan umum, abang supirnya menahan tawa lantaran wajah Nissa terkena donat.
“Eh GC (gerak cepet) anterin gua ke toilet dulu.” Kata Nissa buru-buru memasuki toko buku menuju toilet dulu untuk membersihkan diri.
Setelah dari toilet mereka menaiki escalator untuk menuju lantai atas yang terdapat banyak buku-buku sambil menunggu temannya, Nadia melihat-lihat buku sedangkan Ananda lebih milih berselfie.
Nadia langsung memutar bola matanya jengah melihat tingkah Ananda bukannya mencari buku UN seperti Dini dan Nissa ia malah Selfie sampai Ananda dikatain alay oleh Kakak mahasiswa.
Pengelihatan Nadia langsung terarah ke tembok kaca yang memperlihatkan jalan raya dan di situ berjajar rak buku dan tumpukan buku di atas meja.
Matanya langsung membulat tatkala ia melihat perempuan penari itu lagi yang sudah belakangan ini tak menunjukan batang hidungnya, kali ini ia berkebaya merah dan bersangggul serta memakai rok batik coklat muda.
Kakinya hanya memperlihatkan selutut tanpa terlihat sepenuhnya juga tanpa menapaki lantai, tiba-tiba tangannya menunjuk ke arah buku-buku yang ada di meja.
Reflex Nadia mengikuti wanita itu ke mana wanita itu mengarah berjalan, di depannya ternyata di ujung ada tumpukan buku di atas meja toko.
Nadia langsung melihat buku bertumpuk ia mendekat dan melihat buku berjudul aneh.
“Nad!” panggil Ananda membuat Nadia kembali menaruh bukunya.
“Ish ngagetin gua aja.” Ucap Nadia kesal, “eh ayo tuh Nissa ama Dini udahan milih bukunya.” Ujar Ananda. “Lah lu kagak?” kata Nadia.
“Gua udah kemaren ama nyokap, udah buruan.” Ananda menarik lengan Nadia lantaran sahabatnya ini banyak bertanya ini dan itu.
Nadia pulang dengan membelikan Ibu dan Adiknya mie ayam, “eh gua duluan ya.” Sebelum turun Nadia dan tiga orang temannya melakukan tos ala persahabatan, gadis berseragam itu turun di gang golden age seperti biasa berjalan menuju rumahnya ia tak mau lagi melewati area pemakaman karena pertemuannya dengan Tante-Tante yang turun dari atas pohon jadi ia putuskan lewat jalan satunya lagi meskipun agak jauh.
“Asallamualaikum, Bu.” Ucap Nadia yang sedang melepas sepatunya lalu menaruh mie ayam di atas meja.
“Nih, Bu aku beliin mie ayam.” Ucap Nadia menaruhnya di atas meja depan Ibunya.
“Wallaikumsallam, darimana kamu Nadia?!” suara baritin di akhir kalimatnya membuat otak Nadia berfikir keras harus memikirkamn alasan yang tepat.
“Tadi ada PM dulu Bu di kelas.” Bohong Nadia.
“PM apaan sih?’ tanya Ibunya lagi sambil mengerutkan dahinya.
“Pemantapan materi, Bu. Di singkatnya PM.” Jawab Nadia.
“Ya udah aku mau ke atas ganti baju gerah.” Setelah Nadia berujar ia menaiki tangga untuk menuju kamarnya untuk mengganti pakaian, Nadia menutup gorden kamar karena ingin melepas seragam untuk memakai pakaian santai.
Gadis itu menyalakan saklar lampu saat melepas pakaian lalu menggantungnya di gantungan pakaian ia menyisir rambut menghadap cermin ia malah mendapati lampu mati nyala tanpa sakelar yang di gerakan.
“Kak Nadia tolong bantu aku abis ini.” Suara itu berulang-ulang Nadia tak takut lagi malah dengan santainya ia menyisir rambutnya ia bisa melihat Raisa berdiri tepat di belakangnya.
“Kamu mau apa?” tanya Nadia dengan ketus sambil menaruh sisir rambutnya.
“Kak Nadia aku udah selesai cerita, aku minta satu hal temuin Mama sama Papa aku. Ada yang aku ingin sampaikan aku cerita lewat mimpi adalah sebagai bukti biar Mama sama Papa aku percaya.” Ucap Raisa sambil memegang boneka beruangnya.
“Ngomong mulu!” Nadia kesal.
“Iya aku bakal temuin Mama sama Papa kamu!!” gentak Nadia kesal ia malah berjalan ke lantai bawah untuk memakan mie ayam meninggalkan Raisa, jujur saja Nadia amat Lelah karena kemampuan ini hidupnya selalu bertemu hal yang aneh dalam hidupnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments