BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang

Setelah solat subuh Nadia langsung mandi lalu memakai seragam sekolah yakni atasan muslim warna biru dongker dan bawahnya rok putih, serta kerudung putih. Sebenarnya Nadia ingin membeli sepatu adidas dan tas gunung merek consina untuk masuk SMA, karena sendari kecil ia terkenal tomboi.

“Nadia buruan sarapan, udah siang!!” teriak sang Ibu dari lantai bawah membuat gadis yang sedang memikirkan apa barang yang nanti ia kenakan saat masuk SMA nanti menjadi hilang.

“Iya, Bu!” sahut Nadia yang juga berteriak. Nadia sebelum turun ke bawah untuk sarapan ia menyemprotkan parfum terlebih dahulu ke tubuhnya kemudian ia baru turun ke bawah untuk sarapan.

Gadis itu pagi ini sarapan tanpa mengeluarkan sedikit ucapan dari mulutnya. Sarapan pagi ini sang Ibu sudah siapkan nasi uduk dengan kerupuk ikan, Nadia makan dengan diam sambil mengunyah makanan dengan rasa hambar di lidahnya, mungkin gadis itu memikirkan Raisa si gadis kecil yang malang.

Sesampainya di sekolah Nadia melihat para anak cowok yang biasa yang biasanya membully dirinya hanya diam tidak seperti biasa, selalu menghinanya. Nadia menaiki tangga untuk menuju kelasnya tak lama ia di hadang oleh Budi.

“Hallo, Cewek.” Ujar Budi sambil menaik turunkan alisnya.

“Apaan sih lo!! masih pagi nih!!” ujar Nadia dengan nada yang ketus.

“Busset dah Budi!!! istri lu galak bener!!” Ucap teman Budi yang di tepat di sebelahnya, ya Budi bergerombol dengan the geng, Nadia melipat kedua tangannya di dada sambil memutar bola matanya jengah.

“Sore hari beli pasta gigi, besoknya beli kacamata, Hallo Nadia selamat pagi, karena hanya dirimu yang aku cinta.” Budi mulai merayu Nadia dengan jebakan mautnya.

“Pagi hari gosok gigi, sorenya beli karet, lebih baik pada pergi, daripada satu-satu gua kepret.” Ucap Nadia.

“EH PADA PERGI GAK LU PADA ATAU GUA KEPRET NIH LU PADA!!” ucap Nadia yang marah.

“Satu!! Dua!!...” sebelum mengucapkan tiga mereka semua langsung pada kabur.

“Astagfirullah ada-ada aja pagi-pagi cobaannya.” Lanjut Nadia setelah kepergian mereka lalu melenggang masuk ke dalam kelas.

Saat memasuki kelas ada dua orang anak perempuan bertanya soal Budi dengan enggan Nadia menjawabnya tapi hanya memberikan sedikit ocehan, “kalo lu pada suka ama tuh, kucing garong ya udah ambil aja.” Ujar Nadia yang malas menyahuti para gadis biang gossip ini.

Pulang sekolah Nadia tak langsung pulang ke rumah lantaran ia sudah berjanji dengan Ananda, Dini, dan Nissa untuk mengantarkan mereka semua membeli buku di gramedia.

Nadia naik angkutan umum bersama tiga temannya sebenarnya ningrum ingin diajak tetapi ia sudah pulang terlebih dahulu dengan sepeda.

“Eh Nad, lu ke gramed mau beli buku apa?” Dini tiba-tiba membuka pembicaraan.

 “Gak tahu gua.” Ucap Nadia. Gadis-gadis berseragam sekolah yang sedang saling bercengkrama di dalam angkutan umum tiba-tiba kendaraan yang mereka naiki mengerem mendadak membuat Nissa yang sedang memakan donat menjadi terkena pipinya menjadi belepotan.

Sesampainya di gramedia atau toko buku rombongan anak sekolah tersebut turun dari angkutan umum, abang supirnya menahan tawa lantaran wajah Nissa terkena donat.

“Eh GC (gerak cepet) anterin gua ke toilet dulu.” Kata Nissa buru-buru memasuki toko buku menuju toilet dulu untuk membersihkan diri.

Setelah dari toilet mereka menaiki escalator untuk menuju lantai atas yang terdapat banyak buku-buku sambil menunggu temannya, Nadia melihat-lihat buku sedangkan Ananda lebih milih berselfie.

Nadia langsung memutar bola matanya jengah melihat tingkah Ananda bukannya mencari buku UN seperti Dini dan Nissa ia malah Selfie sampai Ananda dikatain alay oleh Kakak mahasiswa.

 Pengelihatan Nadia langsung terarah ke tembok kaca yang memperlihatkan jalan raya dan di situ berjajar rak buku dan tumpukan buku di atas meja.

Matanya langsung membulat tatkala ia melihat perempuan penari itu lagi yang sudah belakangan ini tak menunjukan batang hidungnya, kali ini ia berkebaya merah dan bersangggul serta memakai rok batik coklat muda.

Kakinya hanya memperlihatkan selutut tanpa terlihat sepenuhnya juga tanpa menapaki lantai, tiba-tiba tangannya menunjuk ke arah buku-buku yang ada di meja.

Reflex Nadia mengikuti wanita itu ke mana wanita itu mengarah berjalan, di depannya ternyata di ujung ada tumpukan buku di atas meja toko.

Nadia langsung melihat buku bertumpuk ia mendekat dan melihat buku berjudul aneh.

“Nad!” panggil Ananda membuat Nadia kembali menaruh bukunya.

“Ish ngagetin gua aja.” Ucap Nadia kesal, “eh ayo tuh Nissa ama Dini udahan milih bukunya.” Ujar Ananda. “Lah lu kagak?” kata Nadia.

“Gua udah kemaren ama nyokap, udah buruan.” Ananda menarik lengan Nadia lantaran sahabatnya ini banyak bertanya ini dan itu.

Nadia pulang dengan membelikan Ibu dan Adiknya mie ayam, “eh gua duluan ya.” Sebelum turun Nadia dan tiga orang temannya melakukan tos ala persahabatan, gadis berseragam itu turun di gang golden age seperti biasa berjalan menuju rumahnya ia tak mau lagi melewati area pemakaman karena pertemuannya dengan Tante-Tante yang turun dari atas pohon jadi ia putuskan lewat jalan satunya lagi meskipun agak jauh.

 “Asallamualaikum, Bu.” Ucap Nadia yang sedang melepas sepatunya lalu menaruh mie ayam di atas meja.

“Nih, Bu aku beliin mie ayam.” Ucap Nadia menaruhnya di atas meja depan Ibunya.

“Wallaikumsallam, darimana kamu Nadia?!” suara baritin di akhir kalimatnya membuat otak Nadia berfikir keras harus memikirkamn alasan yang tepat.

“Tadi ada PM dulu Bu di kelas.” Bohong Nadia.

“PM apaan sih?’ tanya Ibunya lagi sambil mengerutkan dahinya.

“Pemantapan materi, Bu. Di singkatnya PM.” Jawab Nadia.

“Ya udah aku mau ke atas ganti baju gerah.” Setelah Nadia berujar ia menaiki tangga untuk menuju kamarnya untuk mengganti pakaian, Nadia menutup gorden kamar karena ingin melepas seragam untuk memakai pakaian santai.

Gadis itu menyalakan saklar lampu saat melepas pakaian lalu menggantungnya di gantungan pakaian ia menyisir rambut menghadap cermin ia malah mendapati lampu mati nyala tanpa sakelar yang di gerakan.

“Kak Nadia tolong bantu aku abis ini.” Suara itu berulang-ulang Nadia tak takut lagi malah dengan santainya ia menyisir rambutnya ia bisa melihat Raisa berdiri tepat di belakangnya.

“Kamu mau apa?” tanya Nadia dengan ketus sambil menaruh sisir rambutnya.

“Kak Nadia aku udah selesai cerita, aku minta satu hal temuin Mama sama Papa aku. Ada yang aku ingin sampaikan aku cerita lewat mimpi adalah sebagai bukti biar Mama sama Papa aku percaya.” Ucap Raisa sambil memegang boneka beruangnya.

“Ngomong mulu!” Nadia kesal.

“Iya aku bakal temuin Mama sama Papa kamu!!” gentak Nadia kesal ia malah berjalan ke lantai bawah untuk memakan mie ayam meninggalkan Raisa, jujur saja Nadia amat Lelah karena kemampuan ini hidupnya selalu bertemu hal yang aneh dalam hidupnya.

Episodes
1 PROLOG
2 Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3 Operasi usus buntu
4 Sebuah ilusi saat koma
5 lucid dream atau pertanda 2
6 Lucid Dream saat koma
7 Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8 BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9 BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10 BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11 Tersadar dari koma
12 BAB 11 : Sarah dan the black robe
13 BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14 BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15 BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16 BAB 15 : Masa lalu Raisa
17 BAB 16 : Masa lalu Raisa
18 BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19 BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20 BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21 Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22 Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23 Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24 Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25 Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26 BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27 BAB 26: Pemantapan Materi
28 BAB 27: Rencana
29 BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30 Ritual Pernikahan
31 Rencana memiliki anak
32 Cinta yang Sulit
33 Hantu Belanda Yang Posesif
34 Teman-teman Hanson
35 Gosip terbaru
36 BAB 35
37 BAB 36
38 BAB 37
39 BAB 38
40 BAB 39
41 BAB 40
42 BAB 41
43 BAB 42
44 BAB 43
45 BAB 44
46 BAB 45
47 BAB 46
48 BAB 47
49 BAB 48
50 BAB 49
51 BAB 50
52 BAB 51
53 BAB 52
54 BAB 53
55 BAB 54
56 BAB 55
57 BAB 56
58 BAB 57
59 BAB 58
60 BAB 59
61 BAB 60
62 akhir
63 EPILOG
64 Extra part
65 Sequel nya
Episodes

Updated 65 Episodes

1
PROLOG
2
Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3
Operasi usus buntu
4
Sebuah ilusi saat koma
5
lucid dream atau pertanda 2
6
Lucid Dream saat koma
7
Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8
BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9
BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10
BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11
Tersadar dari koma
12
BAB 11 : Sarah dan the black robe
13
BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14
BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15
BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16
BAB 15 : Masa lalu Raisa
17
BAB 16 : Masa lalu Raisa
18
BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19
BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20
BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21
Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22
Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23
Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24
Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25
Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26
BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27
BAB 26: Pemantapan Materi
28
BAB 27: Rencana
29
BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30
Ritual Pernikahan
31
Rencana memiliki anak
32
Cinta yang Sulit
33
Hantu Belanda Yang Posesif
34
Teman-teman Hanson
35
Gosip terbaru
36
BAB 35
37
BAB 36
38
BAB 37
39
BAB 38
40
BAB 39
41
BAB 40
42
BAB 41
43
BAB 42
44
BAB 43
45
BAB 44
46
BAB 45
47
BAB 46
48
BAB 47
49
BAB 48
50
BAB 49
51
BAB 50
52
BAB 51
53
BAB 52
54
BAB 53
55
BAB 54
56
BAB 55
57
BAB 56
58
BAB 57
59
BAB 58
60
BAB 59
61
BAB 60
62
akhir
63
EPILOG
64
Extra part
65
Sequel nya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!