“Nadia!! Nadia!!! bangun solat subuh abis itu mandi udah siang!!” seperti biasa Ibunya berkicau membangunkannya seperti burung di pagi hari.
“Iya Bu ini mau ke kamar mandi.” Ujar Nadia yang bangun sambil mengikat rambutnya agar tidak basah terkena air.
Mengambil handuk lalu berjalan memasuki kamar mandi, setelah selesai mandi Nadia mengambil air wudhu dan kembali memasuki kamar tidur untuk memakai baju, kaus dalam celana Panjang, lalu melaksanakan solat subuh setelah selesai
Segera setelahnya Nadia mengambil tas-nya yang berwarna hitam sebelum menuruni tangga ia melihat Raisa di depan pintu kamar membuat Nadia menjerit.
“Nadia!! kamu kenapa!?” teriak sang Ibu dari bawah.
“Gak apa Bu!” balas Nadia, “Raisa! ada apa? kamu hampir buat aku sakit jantung!!” Nadia kesal yang merasa Raisa membuang waktunya.
“Maaf Raisa Kakak gak ada waktu mau sekolah. Nanti aja kita bahas mimpi kamu setelah pulang sekolah.” Ujar Nadia yang terlihat buru-buru. Nadia segera turun kebawah untuk sarapan pagi ini sang Ibu menyediakan sarapan, yaitu rendang dan teh hangat.
Setelah selesai Nadia memakai kaus kaki lalu memakai sepatu. Nadia kelas 9C sedangkan Dian dan Rika kelas 9A antara Nadia dan Dian hanya terbentang satu kelas yakni 9B, kalau Ningrum dan Ananda kelas 9D.
Yups, Nadia di kelasnya sendiri tak ada teman kecuali dari kelas lain. Saat Nadia memasuki kelas ingin menaruh tas dan menghafal rumus, ia mendengar lagi sekumpulan anak perempuan membicarakan tentang keburukan orang lain.
“Eh tahu gak Nailani itu kelas 9B pake susuk tahu.” Nadia yang mendengar itu semua hanya menunduk diam.
“Masa iya!” kata gadis bertubuh gempal itu. “Iya lu liat aja! muka putih gitu kagak jerawatan.” Ujar gadis itu.
“Pantesan Nailani tuh, bisa aja dapetin cowok sekeren itu.”
“Iyalah lo pada liat mantannya, alumni mantan ketua osis terus satu lagi ama ketua basket.”
“Idih amit-amit dah.” Ujarnya serempak.
Nadia yang mendengar percakapan kumpulan geng yang senang bergossip atau membicarakan keburukan oranglain hanya diam pura-pura tak mendengar, Nailani bukannya cewek yang menghina sambil menunjuk ke Nadia dengan kasar tempo hari.
Sekarang gadis itu bisa mendeskripsikan orang yang berbuat baik akan mendapatkan kebaikan sedangkan orang jahat akan mendapatkan kejahatan sesuai apa yang di tabur dan di tanam.
Saat bel pulang sekolah karena ini hari jum’at jadi pulang cepat para siswa di panggil berkumpul di lapangan untuk mendapatkan pencerahan, wakil kepala sekolah menaiki podium yang telah disiapkan serta memberi nasihat dan semangat untuk belajar empat hari ke depan kepada para siswa.
Sesaat ingin melangkah keluar gerbang ponselnya berbunyi, “Dian, Rika, Nanda. Lu pada balik dulu aja gua mau nellepone dulu.” Ucap Nadia sesaat berjalan beriringan keluar gerbang bersama para sahabatnya.
“YA UDAH. Kita duluan, Nad.” Ucap Ananda. “Iya dadah.” Ucapnya berbarengan, Nadia melihat siapa penelleponenya yakni, Sarah. Nadia mengakat ponselnya yang berdering,
“Hallo, Sar.” Ucap Nadia sambil menempelkan benda pipih tersebut di telinga.
“Oh, Ya udah kita ketemuan di MCD.” Nadia mematikan sambungan ponselnya untuk ke MCD tempat biasa.
Sebenarnya Sarah sekolah di sekolah negeri, sedangkan Nadia di swasta.
Gadis itu menaiki angkutan umum untuk sampai ke tempat tujuan, sesampainya di tempat tujuan ia belum melihat tanda-tanda kedatangan Sarah sampai akhirnya ia mendapat pesan dari Sarah yang sudah berada di parkiran.
Sarah dan Nadia duduk bersama mereka menunggu pesan makanan, Nadia hanya memesan satu burger dan minumannya ia memesan air jeruk hangat karena ia baru saja operasi usus buntu.
Sarah sedikit membulat tatkala salah satu bangku di tarik sendiri seperti ada orang yang menariknya, sedikit-demi sedikit wujud Raisa terlihat sontak Sarah yang sedang meminum fanta langsung tersendak.
“Pelan-pelan apa, Sar.” Tegur Nadia kepada Sarah.
“Nadia itu siapa?” kata Sarah sambil membulatkan mata dan kepalanya seolah menunjuk bangku kosong itu.
Orang-orang tak terlalu memperhatikan lantaran mereka terlalu sibuk bercakap-cakap dan kondisi restoran juga sangat ramai.
“Dia Raisa.” Ucap Nadia enteng, “lu ketemu bocah itu, dimana anjir?” tanya Sarah, Nadia mulai cerita semuanya dengan Sarah dari awal sampai akhir tanpa sadar Raisa menunjuk-nunjuk ke atas dua gadis itu heran dengan tingkah bocah hantu yang duduk di sebelah mereka.
Dua gadis tersebut mengeryitkan alisnya lantaran keheranan akhirnya mereka putuskan menoleh ke atas saat mereka mendongkakan wajahnya ke atas kedua gadis tersebut melihat seorang laki-laki dengan hidung menyerupai b*bi dan berbaju hitam, tetapi di punggungnya ia memiliki sayap seperti kalong.
Dua gadis itu langsung berteriak tatkala mahluk aneh tersebut tertawa membuat seluruh pengunjung restoran yang sedang bercakap-cakap, dan memainkan laptop serta ponsel mereka langsung menatap dua gadis tersebut suasana pun menjadi hening seketika.
Nadia dan Sarah berusaha menetralkan keadaan dengan tersenyum ke arah mereka semua dan langsung seluruh pengunjung restoran menjalankan aktivitasnya seperti biasa.
“Eh, Nad asli gua malu bener.” Ujar Sarah.
“Emang lu doang, gua juga anjirr.” Sahut Nadia. “Eh si Raisa kemana?” tanya Nadia.
“Lah iyaya. Ini anak-anak gua juga pada kemana?” dua gadis itu langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh area restoran dan nafas lega bisa di hembuskan keduanya lantaran melihat mereka yang dicari sedang bermain di tempat bermain anak yang telah di siapkan restoran.
“Eh Ya udah dh balik yuk, nanti bokap gua ngomel.” Ucap Sarah.
“YDH gua juga mau balik, Sar gimana saran lu buat nginiin tuh Raisa?” tanya Nadia.
“Saran gua ya lu tuntasin dah tuh apa maunya Raisa biar kelar sekalian dan nanti apa maunya dia gua bisa bantu lu.” Ucap Sarah.
“Oh Ya udah gua balik,” Nadia dan Sarah pulang ke rumah masing-masing.
Nadia memesan gojek sedangkan Sarah menaiki motor. Sesampainya di rumah baru juga Nadia turun dari motor dan melepas sepatu ia sudah kena omelan dari sang Ibu lantaran wanita itu melihat status whatsaapnya.
“Nadia!! darimana kamu!? kamu kan tahu kamu abis operasi kenapa malah keluyuran!!” marah sang Ibu sambil berdecak pinggang.
“Aku....” Nadia bingung alasan apa yang nanti ia akan utarankan pada sang Ibu.
Nadia akhirnya menaiki tangga setelah mendengar ocehan dari sang Ibu yang membuat kepalanya seolah pusing jadi ia putuskan ke kamarnya membersihkan diri lalu merebahkan tubuhnya di kasur spring bed-nya untuk memasuki dunia Raisa.
“Raisa gua siap denger cerita lu, please tuntasin cerita hidup lu setelah ini jangan ganggu hidup gua lagi.” Ucap Nadia sambil memejamkan mata dan berusaha bicara dengan Raisa memanggil anak tersebut beberapa kali dan pada akhirnya, angin berhembus kencang membuat jendela dan lemari kamar terbuka sendiri membuat Nadia sontak terduduk kembali ia melihat sekeliling kamarnya, ia melihat Raisa terduduk dengan dipojok kamar dengan kepala tertunduk dan wajah yang ditutupi rambut, sepertinya anak itu marah mendengar Nadia tak mampu lagi mendengarkan keluh kesahnya.
“Raisa...Rai. Kamu oke.” Nadia berjalan mendekat tangannya berusaha memegang rambut Raisa yang di depan wajah tetapi Raisa tiba-tiba menghilang dan angin kencang pun berhenti bertiup.
Nadia menghembuskan nafas dan mulai merapikan barang-barangnya yang berserakan terakhir ia menutup jendela kamar.
Saat menoleh kebelakang dan ingin mengistirahatkan diri tiba-tiba Raisa melayang dan mencekik lehernya.
“AAAA!!!” jerit Nadia, “Raisa!! lu...uhuk...gua berusaha...uhuk...bantu lu.” Nadia terbatuk-batuk tatkala cekikan di lehernya semakin kuat. “Uhuk!! gua bantu lu tapi...uhuk...balesan lu begini.” Nadia terbatuk-batuk saat tubuhnya di pojokan ke tembok.
“Gua...gua...bakal bantu...lu buat yang terakhir.” Nadia seolah kehilangan nafasnya. “Please...lepasin gua.” Ucap Nadia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Siti Fatimah
kamu harus kuat nadia klu takut jgn teriak berusaha jgn di pandang aja krn aku juga sama kayak nadia seorang indigo juga.
2020-12-28
0
Mamud
GK bahus ceriata indigo nya,,masa anak indigo takut liat begituan,dn GK mau menolong hantu lagi kesusahan,,
2020-12-27
1