BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa

“Nadia!! Nadia!!! bangun solat subuh abis itu mandi udah siang!!” seperti biasa Ibunya berkicau membangunkannya seperti burung di pagi hari.

“Iya Bu ini mau ke kamar mandi.” Ujar Nadia yang bangun sambil mengikat rambutnya agar tidak basah terkena air.

Mengambil handuk lalu berjalan memasuki kamar mandi, setelah selesai mandi Nadia mengambil air wudhu dan kembali memasuki kamar tidur untuk memakai baju, kaus dalam celana Panjang, lalu melaksanakan solat subuh setelah selesai

Segera setelahnya Nadia mengambil tas-nya yang berwarna hitam sebelum menuruni tangga ia melihat Raisa di depan pintu kamar membuat Nadia menjerit.

“Nadia!! kamu kenapa!?” teriak sang Ibu dari bawah.

 “Gak apa Bu!” balas Nadia, “Raisa! ada apa? kamu hampir buat aku sakit jantung!!” Nadia kesal yang merasa Raisa membuang waktunya.

“Maaf Raisa Kakak gak ada waktu mau sekolah. Nanti aja kita bahas mimpi kamu setelah pulang sekolah.” Ujar Nadia yang terlihat buru-buru. Nadia segera turun kebawah untuk sarapan pagi ini sang Ibu menyediakan sarapan, yaitu rendang dan teh hangat.

Setelah selesai Nadia memakai kaus kaki lalu memakai sepatu.  Nadia kelas 9C sedangkan Dian dan Rika kelas 9A antara Nadia dan Dian hanya terbentang satu kelas yakni 9B, kalau Ningrum dan Ananda kelas 9D.

Yups, Nadia di kelasnya sendiri tak ada teman kecuali dari kelas lain. Saat Nadia memasuki kelas ingin menaruh tas dan menghafal rumus, ia mendengar lagi sekumpulan anak perempuan membicarakan tentang keburukan orang lain.

“Eh tahu gak Nailani itu kelas 9B pake susuk tahu.” Nadia yang mendengar itu semua hanya menunduk diam.

“Masa iya!” kata gadis bertubuh gempal itu. “Iya lu liat aja! muka putih gitu kagak jerawatan.” Ujar gadis itu.

“Pantesan Nailani tuh, bisa aja dapetin cowok sekeren itu.”

“Iyalah lo pada liat mantannya, alumni mantan ketua osis terus satu lagi ama ketua basket.”

“Idih amit-amit dah.” Ujarnya serempak.

Nadia yang mendengar percakapan kumpulan geng yang senang bergossip atau membicarakan keburukan oranglain hanya diam pura-pura tak mendengar, Nailani bukannya cewek yang menghina sambil menunjuk ke Nadia dengan kasar tempo hari.

Sekarang gadis itu bisa mendeskripsikan orang yang berbuat baik akan mendapatkan kebaikan sedangkan orang jahat akan mendapatkan kejahatan sesuai apa yang di tabur dan di tanam.

Saat bel pulang sekolah karena ini hari jum’at jadi pulang cepat para siswa di panggil berkumpul di lapangan untuk mendapatkan pencerahan, wakil kepala sekolah menaiki podium yang telah disiapkan serta memberi nasihat dan semangat untuk belajar empat hari ke depan kepada para siswa.

Sesaat ingin melangkah keluar gerbang ponselnya berbunyi, “Dian, Rika, Nanda. Lu pada balik dulu aja gua mau nellepone dulu.” Ucap Nadia sesaat berjalan beriringan keluar gerbang bersama para sahabatnya.

“YA UDAH. Kita duluan, Nad.” Ucap Ananda. “Iya dadah.” Ucapnya berbarengan, Nadia melihat siapa penelleponenya yakni, Sarah. Nadia mengakat ponselnya yang berdering,

“Hallo, Sar.” Ucap Nadia sambil menempelkan benda pipih tersebut di telinga.

“Oh, Ya udah kita ketemuan di MCD.” Nadia mematikan sambungan ponselnya untuk ke MCD tempat biasa.

Sebenarnya Sarah sekolah di sekolah negeri, sedangkan Nadia di swasta.

Gadis itu menaiki angkutan umum untuk sampai ke tempat tujuan, sesampainya di tempat tujuan ia belum melihat tanda-tanda kedatangan Sarah sampai akhirnya ia mendapat pesan dari Sarah yang sudah berada di parkiran.

Sarah dan Nadia duduk bersama mereka menunggu pesan makanan, Nadia hanya memesan satu burger dan minumannya ia memesan air jeruk hangat karena ia baru saja operasi usus buntu.

Sarah sedikit membulat tatkala salah satu bangku di tarik sendiri seperti ada orang yang menariknya, sedikit-demi sedikit wujud Raisa terlihat sontak Sarah yang sedang meminum fanta langsung tersendak.

“Pelan-pelan apa, Sar.” Tegur Nadia kepada Sarah.

 “Nadia itu siapa?” kata Sarah sambil membulatkan mata dan kepalanya seolah menunjuk bangku kosong itu.

Orang-orang tak terlalu memperhatikan lantaran mereka terlalu sibuk bercakap-cakap dan kondisi restoran juga sangat ramai.

 “Dia Raisa.” Ucap Nadia enteng, “lu ketemu bocah itu, dimana anjir?” tanya Sarah, Nadia mulai cerita semuanya dengan Sarah dari awal sampai akhir tanpa sadar Raisa menunjuk-nunjuk ke atas dua gadis itu heran dengan tingkah bocah hantu yang duduk di sebelah mereka.

 Dua gadis tersebut mengeryitkan alisnya lantaran keheranan akhirnya mereka putuskan menoleh ke atas saat mereka mendongkakan wajahnya ke atas kedua gadis tersebut melihat seorang laki-laki dengan hidung menyerupai b*bi dan berbaju hitam, tetapi di punggungnya ia memiliki sayap seperti kalong.

 Dua gadis itu langsung berteriak tatkala mahluk aneh tersebut tertawa membuat seluruh pengunjung restoran yang sedang bercakap-cakap, dan memainkan laptop serta ponsel mereka langsung menatap dua gadis tersebut suasana pun menjadi hening seketika.

Nadia dan Sarah berusaha menetralkan keadaan dengan tersenyum ke arah mereka semua dan langsung seluruh pengunjung restoran menjalankan aktivitasnya seperti biasa.

“Eh, Nad asli gua malu bener.” Ujar Sarah.

 “Emang lu doang, gua juga anjirr.” Sahut Nadia. “Eh si Raisa kemana?” tanya Nadia.

“Lah iyaya. Ini anak-anak gua juga pada kemana?” dua gadis itu langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh area restoran dan nafas lega bisa di hembuskan keduanya lantaran melihat mereka yang dicari sedang bermain di tempat bermain anak yang telah di siapkan restoran.

“Eh Ya udah dh balik yuk, nanti bokap gua ngomel.” Ucap Sarah.

“YDH gua juga mau balik, Sar gimana saran lu buat nginiin tuh Raisa?” tanya Nadia.

“Saran gua ya lu tuntasin dah tuh apa maunya Raisa biar kelar sekalian dan nanti apa maunya dia gua bisa bantu lu.” Ucap Sarah.

 “Oh Ya udah gua balik,” Nadia dan Sarah pulang ke rumah masing-masing.

Nadia memesan gojek sedangkan Sarah menaiki motor. Sesampainya di rumah baru juga Nadia turun dari motor dan melepas sepatu ia sudah kena omelan dari sang Ibu lantaran wanita itu melihat status whatsaapnya.

“Nadia!! darimana kamu!? kamu kan tahu kamu abis operasi kenapa malah keluyuran!!” marah sang Ibu sambil berdecak pinggang.

“Aku....” Nadia bingung alasan apa yang nanti ia akan utarankan pada sang Ibu.

Nadia akhirnya menaiki tangga setelah mendengar ocehan dari sang Ibu yang membuat kepalanya seolah pusing jadi ia putuskan ke kamarnya membersihkan diri lalu merebahkan tubuhnya di kasur spring bed-nya untuk memasuki dunia Raisa.

“Raisa gua siap denger cerita lu, please tuntasin cerita hidup lu setelah ini jangan ganggu hidup gua lagi.” Ucap Nadia sambil memejamkan mata dan berusaha bicara dengan Raisa memanggil anak tersebut beberapa kali dan pada akhirnya, angin berhembus kencang membuat jendela dan lemari kamar terbuka sendiri membuat Nadia sontak terduduk kembali ia melihat sekeliling kamarnya, ia melihat Raisa terduduk dengan dipojok kamar dengan kepala tertunduk dan wajah yang ditutupi rambut, sepertinya anak itu marah mendengar Nadia tak mampu lagi mendengarkan keluh kesahnya.

“Raisa...Rai. Kamu oke.” Nadia berjalan mendekat tangannya berusaha memegang rambut Raisa yang di depan wajah tetapi Raisa tiba-tiba menghilang dan angin kencang pun berhenti bertiup.

Nadia menghembuskan nafas dan mulai merapikan barang-barangnya yang berserakan terakhir ia menutup jendela kamar.

Saat menoleh kebelakang dan ingin mengistirahatkan diri tiba-tiba Raisa melayang dan mencekik lehernya.

 “AAAA!!!” jerit Nadia, “Raisa!! lu...uhuk...gua berusaha...uhuk...bantu lu.” Nadia terbatuk-batuk tatkala cekikan di lehernya semakin kuat. “Uhuk!! gua bantu lu tapi...uhuk...balesan lu begini.” Nadia terbatuk-batuk saat tubuhnya di pojokan ke tembok.

“Gua...gua...bakal bantu...lu buat yang terakhir.” Nadia seolah kehilangan nafasnya. “Please...lepasin gua.” Ucap Nadia.

Terpopuler

Comments

Siti Fatimah

Siti Fatimah

kamu harus kuat nadia klu takut jgn teriak berusaha jgn di pandang aja krn aku juga sama kayak nadia seorang indigo juga.

2020-12-28

0

Mamud

Mamud

GK bahus ceriata indigo nya,,masa anak indigo takut liat begituan,dn GK mau menolong hantu lagi kesusahan,,

2020-12-27

1

lihat semua
Episodes
1 PROLOG
2 Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3 Operasi usus buntu
4 Sebuah ilusi saat koma
5 lucid dream atau pertanda 2
6 Lucid Dream saat koma
7 Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8 BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9 BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10 BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11 Tersadar dari koma
12 BAB 11 : Sarah dan the black robe
13 BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14 BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15 BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16 BAB 15 : Masa lalu Raisa
17 BAB 16 : Masa lalu Raisa
18 BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19 BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20 BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21 Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22 Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23 Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24 Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25 Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26 BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27 BAB 26: Pemantapan Materi
28 BAB 27: Rencana
29 BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30 Ritual Pernikahan
31 Rencana memiliki anak
32 Cinta yang Sulit
33 Hantu Belanda Yang Posesif
34 Teman-teman Hanson
35 Gosip terbaru
36 BAB 35
37 BAB 36
38 BAB 37
39 BAB 38
40 BAB 39
41 BAB 40
42 BAB 41
43 BAB 42
44 BAB 43
45 BAB 44
46 BAB 45
47 BAB 46
48 BAB 47
49 BAB 48
50 BAB 49
51 BAB 50
52 BAB 51
53 BAB 52
54 BAB 53
55 BAB 54
56 BAB 55
57 BAB 56
58 BAB 57
59 BAB 58
60 BAB 59
61 BAB 60
62 akhir
63 EPILOG
64 Extra part
65 Sequel nya
Episodes

Updated 65 Episodes

1
PROLOG
2
Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3
Operasi usus buntu
4
Sebuah ilusi saat koma
5
lucid dream atau pertanda 2
6
Lucid Dream saat koma
7
Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8
BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9
BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10
BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11
Tersadar dari koma
12
BAB 11 : Sarah dan the black robe
13
BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14
BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15
BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16
BAB 15 : Masa lalu Raisa
17
BAB 16 : Masa lalu Raisa
18
BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19
BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20
BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21
Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22
Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23
Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24
Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25
Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26
BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27
BAB 26: Pemantapan Materi
28
BAB 27: Rencana
29
BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30
Ritual Pernikahan
31
Rencana memiliki anak
32
Cinta yang Sulit
33
Hantu Belanda Yang Posesif
34
Teman-teman Hanson
35
Gosip terbaru
36
BAB 35
37
BAB 36
38
BAB 37
39
BAB 38
40
BAB 39
41
BAB 40
42
BAB 41
43
BAB 42
44
BAB 43
45
BAB 44
46
BAB 45
47
BAB 46
48
BAB 47
49
BAB 48
50
BAB 49
51
BAB 50
52
BAB 51
53
BAB 52
54
BAB 53
55
BAB 54
56
BAB 55
57
BAB 56
58
BAB 57
59
BAB 58
60
BAB 59
61
BAB 60
62
akhir
63
EPILOG
64
Extra part
65
Sequel nya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!