BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson

Pagi hari sudah tiba sinar mentari dengan nakal masuk ke jendela yang memasuki gorden putih. Lalu kelopak mata sayu mulai mengedipkan menyesuaikan cahaya yang masuk, Nadia terkejut bukan main dirinya memeluk Hanson yang dia kira ia sedang memeluk tubuh mendiang ayahnya yang sudah tiada dua tahun silam.

 Ini pertama kalinya Nadia tidur dengan orang lain yang notabenya bukan siapa-siapa, bukan ayah, dan bukan saudara maupun kerabat. Daripada membangunkan Hanson.

Nadia memilih bangun terlebih dahulu, gadis itu beranjak dari atas kasur ke cermin ukuran orang dewasa mengambil sisir di atas meja rias kemudian menyisir rambutnya yang hitam.

Setelah selesai dengan ritual menyisir Nadia memandang dirinya di cermin dan melihat kalung yang di berikan Hanson lalu menyentuh kalung itu dan memejamkan matanya sejenak. Nadia bergumam dalam hati.

"Ini pasti ilusi atau pertanda."

Nadia membuka matanya yang terpejam tatkala merasakan tangan melingkar di pinggangnya dan dagu bersandar di bahunya.

 “Kamu sudah bangun Hanson?” Nadia melingkarkan tangannya ke belakang ke wajah Hanson.

“Aku ingin mandi.” Nadia memberi alasan dengan menyembunyikan rasa ke tidak nyamannya, Hanson melepaskan pelukannya lalu membiarkan gadisnya pergi ke kamar mandi.

“Nyai air hangatnya sudah siap,” ujar Ajeng dengan sesopan mungkin.

“Terimakasih Ajeng.” Nadia memasuki Kamar mandi melepas bajunya dan berendam sambil memejamkan mata.

Otak gadis itu berpikir keras suatu saat atau nanti pasti dia akan kembali ke dunianya, ini alam mimpi bukan realita atau lebih tepatnya ilusi pasti ini ulah jail hantu rumah sakit yang sering Nadia lihat, setelah selesai mandi.

Nadia melihat gaun pendek berwarna maroon dengan renda di atasnya. Baju itu sangat pas di kenakan di tubuhnya saat bercermin Nadia sangat kesal karena tubuh gemuknya dia jengkel bukan main, tak lama ketukan pelan di pintu kamar membuyarkan sesi bercermin nya.

TUK…TUK…TUK…

“Nyai! Sinyo! sudah menunggu di ruang makan, Sinyo meminta Nyai untuk sarapan Bersama.” Nadia kenal suara itu pemilik suara itu adalah Bu Marsih yang kemarin saat di meja makan di maki-maki oleh Hanson karena Nadia yang membantunya membereskan piring kotor.

“Iya, Bu Marsih, saya sudah selesai." Nadia bicara dengan sesopan mungkin meskipun Nadia sudah menjadi Nyai.

Ajeng dan Marsih amat menyukainya karena sikapnya yang lembut dan santun tidak seperti gadis-gadis gubuk yang baru di angkat jadi Nyai sikapnya sudah so berkuasa.

Di meja makan pagi ini Nadia melihat Hanson dengan begitu tampannya menggunakan seragam dinas dan topi militer sambil duduk di kursi makan, Nadia juga duduk di sebrang sambil mengambil nasi dan lauk piring.

“EHM!!” Nadia berusaha bicara dengan Hanson.

“Kamu hari ini dinas?” tanya Nadia sambil menyuapkan nasi di sendok ke mulutnya, Hanson kali ini heran gadis inlander bisa makan dengan sendok dengan rapi.

“Nee hari ini ik ada latihan sekaligus melatih anak buah ik.” Hanson yang pagi ini sarapan dengan kentang, daging ham yang di siram saus.

 “Kapan kamu pulang?” tanya Nadia yang meminum air putih di gelas.

“Ik tak akan lama, apa je ingin keliling Batavia? Jika mau tunggu ik pulang jangan ke area gubuk!”  Hanson memperingatkan Nadia seolah gadis itu adalah istrinya, lalu mendekat dan Nadia berdiri tingginya hanya sebawah dada Hanson.

 “Tunggu ik pulang.” Hanson mencium puncak kepala Nadia lalu menarik tangan Hanson saat ingin pergi “Ada apa Nadia? Je ingin ik belikan sesua----” perkataan Hanson terputus tatkala Nadia memeluk tubuh Hanson.

Gadis tersebut memejamkan matanya, ini adalah pelukan mungkin lebih tepatnya pelukan yang terakhir kali sebelum Mayor Jendral kembali dari dinas dan otomatis ia akan di kembalikan ke gubuk seperti gadis lainnya biarlah dia merasakan dekapan pria ini, dan mungkin juga ini pelukan yang terakhir saat nanti ia harus kembali ke luar dari ilusi yang bisa di kendalikan ini, berharap bisa bertemu lagi dengan pria ini.

“HIKS…HIKS…HIKS.” Hanson kaget tatkala gadisnya menangis di pelukannya entah mengapa dirinya juga ada perasaan setengah tidak rela di tinggalkan gadis ini.

“Lieve mengapa je menangis?” Hanson langsung menyamakan wajahnya dengan Nadia lalu mengusap air mata di pipi Nadia yang tembam.

“Aku hanya ingin memeluk kamu…HIKS…sebagai yang terakhir mungkin.” Hanson sedikit mengerti maksud gadis yang lima tahun lebih muda darinya.

“Ik janji setelah ik pulang dari latihan, ik akan ajak je berjalan-jalan di Batavia.” Sungguh Marsih dan Ajeng yang melihat Nadia sebagai Nyai ini pertama kalinya Hanson memperlakukan gadis inlander dengan lembut dan romantis.

Lensa mata biru Hanson langsung melihat Marsih dan Ajeng sedang mematung di depan pintu yang menghubungkan dapur dan meja makan langsung menatap ke arah mereka berdua para Bendide.

“JE BERDUA SEDANG APA DISITU?! INI BUKAN PEMENTASAN DRAMA DASAR INLANDER KEMBALI KERJA!!”  ucapan Hanson sontak juga membuat Nadia diam pandai juga pria ini bisa bersikap manis dan bisa bersikap arogan.

“Tunggu ik pulang.” Hanson mengulum senyum tangan kanannya bebas ia gunakan mengusap bibir Nadia sensual. Nadia tersenyum sendu melihat Hanson pergi, tetapi hatinya Nadia juga menghangat tatkala dirinya di perlakukan special oleh Hanson.

Nadia menghabiskan waktu dengan membaca buku dan kamus bahasa Perancis di kamar Hanson sesekali memandang keluar jendela kamar yang memperlihatkan taman keluarga Van Buthjer dari lantai atas kamar, dirinya menunggu cukup lama untuk menghilangkan rasa bosan jadi ia putuskan mengelilingi rumah ini.

Nadia berhenti di ruang keluarga untuk melihat lukisan keluarga kecil terpampang di dinding, sudah di pastikan yang anak kecil berumur delapan tahun itu adalah Hanson sedangkan perempuan yang mengendong bayi mungil di tangannya sedang duduk Bersama pria yang berseragam militer itu ialah Mayor Jendral Willem Van Buthjer waktu muda, yang menjadi tanda tanya siapa anak perempuan yang sedikit lebih tua dari Hanson itu.

 Kalo wanita yang menggendong bayi dengan rambut pirang dan lensa mata yang biru mirip seperti Hanson sudah pasti istri Mayor Jendral, Ibunya Hanson.

“Nyai!!!” panggil seseorang di belakangnya.

“Pak Marno.” Nadia menoleh Marno lalu pria baya itu mendekati Nadia yang sedang berdiri.

 Marno menyuruh Nadia duduk di sofa dan marno duduk di bawahnya.  Nadia sudah berkali-kali menyuruh Marno duduk di sofa sampingnya, tapi selalu di tolak dengan sopan dan suara getar.

“Saya akan cerita tentang lukisan itu pasti Nyai penasaran.” Ujar Marno seolah mengerti apa yang di rasakan Nadia, selain Nadia gadis-gadis yang lain tidak tahu perihal lukisan itu.

“Begini ceritanya Nyai. Saya kerja ama Menner sudah lama saat Mevrouw masih bersama Menner dan anak perempuan itu adalah anak pertama keluarga ini yang ada di Belanda, sedangkan Mevrouw kembali ke negerinya saat putranya sinyo Hanson untuk pendidikannya di belanda. Dan bayi yang di gendong Mevrouw itu adalah Juffrouw Hellen yang meninggal umur tiga tahun karena malaria dan di makamkan di Batavia.”

“Lalu kemana Ibunya Hanson kenapa tidak ikut ke negeri ini?” tanya Nadia.

“Mevrouw wafat saat Sinyo Hanson baru lulus Pendidikan dan menyandang pangkat Letnan, lalu Jufrouw Anna kakak Sinyo Hanson menyarankan Sinyo untuk melupakan Mevrouw agar di pindah tugas di hindia Belanda.” Mengalirlah cerita dari mulut Marno si tukang kebun sekaligus kacung setia keluarga Van Buthjer. ARTINYA Mevrouw (Nyonya) dan jufrouw(Nona).

Sungguh sakit lebih sakit dari Nadia, ia tak menyangka wajar saja kenakalan Hanson selama ini adalah karena masalah ke hilangan sang Ibu.

“Mevrouw adalah orang yang baik dan santun sama persis seperti Nyai.'' Nadia tersenyum lalu mengangguk tanda sangat di puji.

Tak lama suara mobil di pekarangan membuyarkan mereka Marno tukang kebun sekaligus kacung untuk keluarga Van Buthjer kembali bekerja kalo tidak sudah pasti kena semprot marah. Sedangkan Nadia menyambut Hanson selayaknya istri yang menyambut suami yang sehabis pulang bekerja, terlihat keringat dan kemerahan di wajah Hanson mungkin karena panas Batavia siang ini.

 Hanson menghampiri Nadia dan memeluk tubuh berisi itu dengan posesif.

“Kamu ganti baju dulu baru kita jalan.” Kata Nadia. Hanson tersenyum dan berjalan ber-iringan menuju kamar mereka dengan tangan sebelah kanan yang melingkar di pinggang Nadia berjalan menuju kamar mereka.

Setelah selesai berganti pakaian Hanson mengajak Nadia berkeliling Batavia dengan menggunakan mobil yang biasa digunakan dinas, siang ini Nadia memakai kebaya dan rok batik.

Sudah berkali-kali Hanson memperingatkan untuk memakai gaun pendek dengan renda saja, tapi gadis itu menolak karena mungkin lebih pantas untuknya mengenakan kebaya dan rok batik.

Di dalam mobil Hanson mulai membuka pembicaraan, “EHM!” Nadia menoleh ke samping saat melihat Hanson sedang menyetir mobil.

“Je ingin sesuatu?” Hanson yang masih setia menyetir mobil.

“Tidak aku hanya ingin berkeliling Batavia.” Nadia menikmati suasana kota Jakarta tempo dulu sesekali gadis itu membuka jendela mobil dan tidak peduli panasnya Batavia siang itu.

“Hanson itu Gedung apa?” Nadia menunjuk Gedung berwarna putih yang menjulang tinggi.

“Itu Gedung pertemuan antar pejabat.” Jawaban Hanson begitu simple.

Hanson merasa ada yang aneh dengan gadis di sampingnya bukan seperti orang Batavia, apa mungkin para bawahannya membawanya saat ia masih baru datang dari kota lain.

“Hanson aku ingin beli parfum.” Lamunan Hanson buyar tatkala Nadia menunjuk toko kecantikan dan baju di sampingnya.

Hanson langsung menghelai nafas lalu memarkirkan mobilnya. saat Nadia keluar dari dalam mobil banyak mata yang melihat Nadia sedang berantusias memasuki toko kecantikan gadis inlander yang memiliki kulit putih kecoklatan terawat, di tambah tubuh Nadia yang gemuk atau berisi dan membuat para pria inlander maupun belanda melihat ke arah Hanson dan Nadia yang sedang bergandengan tangan.

Gadis-gadis belanda yang ada di toko melihat iri kepada Nadia yang sedang memilih parfum tak lama ada teman Hanson yang mendekati mereka.

“Hanson,” panggil temannya sontak keduanya menoleh.

“Adriaan wat doe je hier vried?” artinya ‘Adriaan apa yang kau lakukan di sini kawan’ tanya Hanson kepada rekan kerjanya.

Nadia memperhatikan temannya Hanson dan wanita di gandeng olehnya, sepertinya tunangannya dan dari wajahnya gadis ini campuran Pribumi-Belanda. 

“Wie is dit?” tanya Adriaan.

Hanson ingin memperkenalkan Nadia, tapi lebih dulu gadis itu memperkenalkan diri dengan bahasa inggris.

“My name is Nadia, I’m…” Perkataan Nadia menggantung tatkala Hanson memperkenalkannya sebagai kekasihnya, Adriaan dan Hanson sungguh tak bisa berpikir jernih gadis inlander bisa bahasa Inggris dan bisa membaca.

 “May I know sir, your fiance’s name?” Adrian hanya mengangguk dan mempersilahkan gadis yang di gandengnya memperkenalkan diri, “mijn naam is Roseline” (Nama saya Rosaline) Jawab gadis di sebelahnya.

“Hello Roseline.” Sungguh gaya bicaranya juga sopan santun, Adriaan dan Hanson hanya bisa berasumsi dengan pikiran masing-masing.

“Hanson, waar heb je het inlander meisje ontmoet is?”  artinya (Hanson, dimana kau bertemu dengan gadis inlander itu?’ tanya Adriaan yang tercengang karena tidak pernah ia temui gadis Pribumi yang berpendidikan kecuali kaum priyayi atau bangsawan.

Hanson menceritakan semuanya, kepada Adriaan lalu Hanson mampu membuat temannya diam karena keheranan.

Nadia mengajak Rosaline berkeliling mencari parfum yang cocok, sungguh Rosaline juga tak menyangka gadis Inlander yang cerdas dan dewasa sangat jarang sekali di temui.

“Hanson.” Nadia tersenyum sambil berjalan ke arah Hanson, dan membuat pria belanda itu menoleh.

“Hanson aku pilih yang ini,” ucap Nadia. Hanson hanya mengangguk dan membayar satu botol Parfum penuh itu.

Hanson pamit kepada rekan kerjanya dan tunangannya lalu berjalan bergandengan bersama Nadia ke luar toko menuju mobil, saat di dalam mobil Hanson menyetir dalam diam.

Nadia mulai membuka pembicaraan, “Hanson nanti kita makan di rumah?” tanya Hanson mengambil tangan kiri gadis itu dengan salah satu tangannya dan menciumnya sambil menyetir mobil.

“Kita makan di restoran,” jawab Hanson singkat.

“Hanson aku ingin bertanya soal temanmu,” ucap Nadia melihat Hanson yang sedang fokus menyetir mobil.

“Tanya apa?” jawab Hanson yang masih setia menyetir mobilnya, “Adriaan dan Roseline, maksud aku Roseline.” Hanson menjawab pertanyaan Nadia.

“Roseline anak atasan ik dan Adriaan Van Wocher adalah teman kerja ik.” Hanson mulai terbuka kepada Nadia ia tidak pernah terbuka pada gadis-gadis Pribumi lain di gubuk kecuali Nadia.

“Tapi wajah Roseline ada campurannya?” tanyanya, Hanson terkekeh seraya menaruh tangan Nadia di dadanya lalu menciumnya lagi.

“Roseline anak atasan ik, memang ia anak campuran Ibunya inlander sama kaya je alias gundik.” Hanson mengejek diakhir kalimatnya.

“Hanson gak boleh gitu, gimana kamu kalo ada di posisinya Rosaline.”

Nadia mencubit pinggang si pirang, karena sangat tidak suka sikap orang Belanda di jaman ini merendahkan orang Pribumi seperti dirinya. 

Nadia paham jadi dia hanya melihat keluar jendela mobil menikmati indahnya kota Batavia lama, panasnya matahari tak di hiraukan kota ini sungguh mengagumkan.

Tak lama Hanson memarkirkan mobilnya di sebuah restoran cukup antik di lihat dari luar, Hanson memesan satu meja berdua.

 Pelayan restoran yang berparas Pribumi mengantarkan keduanya menaiki tangga dan lantai yang terbuat dari kayu tempat khusus orang berpacaran.

Nadia berjalan dengan risih bagaimana tidak banyak orang-orang Eropa dan Pribumi bermesraan selayaknya tidak tahu malu, ada yang sedang berciuman dan duduk di pangkuannya si laki-laki.

“Ini mejanya Nyai dan Sinyo.” Keduanya langsung duduk di kursi dengan di batasi meja bundar berukir kayu jati, yang tengahnya terdapat lilin selayaknya film eropa abad pertengahan.

 Nadia mengatakan pesanannya samakan oleh Hanson. “Pak saya minumnya air putih saja,” ujar Nadia sopan, pelayan itu mengangguk patuh setelah itu pelayan pria yang berparas Inlander turun untuk memenuhi pesanan yang di minta.

Nadia melihat di belakang Hanson sepasang sejoli berwajah Belanda tulen saling bercumbu membuat Nadia mual.

“Lieve!” panggilan Hanson membuat Nadia menoleh kembali ke arah Hanson.

“Tidaklah sopan melihat orang berpacaran seperti itu,” ucap Hanson lalu di jawab anggukan kecil oleh Nadia tanda mengerti.

Tak lama pesanan mereka datang ternyata Hanson memesan Rookworst (sosis Belanda berupa daging sapi dicampur dengan rempah dan garam lalu dimasukan ke selubung, atau disebut sosis jenis bologna).

Hanson memesan minuman berupa sampanye dengan dosis yang rendah, sedangkan Nadia hanya meminta air putih karena cuaca panas seperti ini sangat cocok meminum air putih.

Nadia sudah menyarankan Hanson memesan air putih saja, tapi Hanson malah menjawabnya dengan santai, di sertai nada yang tidak suka, saat itu Nadia hanya mendengus lemah.

Mereka makan, Nadia sangat menyukai rookworst ukurannya hampir sepiring di tambah dengan sayuran yang di haluskan.

  Nadia amat takut karena Hanson meminum sampanye otomatis ia akan mabuk, lalu bagaimana ia bisa menyetir dalam keadaan mabuk.

Gadis itu tidak bisa membayangkan jika pria itu menyetir dalam keadaan mabuk, pikiran Nadia sudah memikirkan hal negatif dari tadi.

Setelah selesai makan Hanson membayarnya tanpa malu juga Hanson merangkul pinggang Nadia menuju ke area parkir, Nadia risih karena saat itu Hanson ingin menciumnya di depan umum saat keluar restoran.

“Hanson hentikan,” ujar Nadia dengan nada yang sangat malu sambil mendorong Hanson.

Hanson dan Nadia berjalan menuju mobil untuk pulang karena sudah mau memasuki senja, Nadia tak hentinya melihat keluar jendela banyak para Pribumi berjalan dan menaiki sepeda.

Serta para wanita belanda yang berjalan membawa anak mereka dengan di kawal baboe sebagai pembawa barang belanjaan sedangkan para Nyai, yaitu gundik yang mengenakan kebaya mewah dan bertusuk rambut emas sibuk menggandeng anak-anak mereka.

“Nadia.” Panggil Hanson yang sedang sibuk menyetir mobil, Nadia menoleh tanda menjawab panggilan Hanson.

“Ik punya saran bisa disebut juga permintaan.” Ujar Hanson masih mengemudikan mobilnya menuju rumahnya.

“Apa itu Hanson?” Nadia yang ingin tahu.

“Ik ingin je melahirkan anak maksud ik, Anak je dan ik.” Demi tuhan mendengar penuturan Hanson barusan Nadia, malah semakin mati kutu alias diam dan ketakutan semuanya bercampur menjadi satu.

“A—apa a--anak.” Nadia menuturkan ucapannya dengan nada yang terbata-bata, semua di luar dugaannya jika ia mempunyai anak di alam ini otomatis ia akan terjalin selamanya.

Nadia berpikir keras alasan apa yang pantas untuk menolak pria belanda ini, “Hanson bukannya aku gak mau punya anak sama kamu.” Nadia memejamkan mata sejenak lalu menghembuskan nafas pelan.

“Tapi bagaimana dengan Menner, saya takut Mayor Jendral tidak akan mau menerima anak hasil hubungan kita nanti.” Hanson langsung diam tanda membenarkan ucapan Nadia, benar juga kalo ia memiliki seorang anak dari Rahim inlander otomatis akan berpengaruh pada karir militernya, sekali lagi pria itu berpikir lagi ini pertama kalinya ia menyarankan seperti ini pada gadis inlander dari gubuk.

“Kita bicarakan nanti di rumah saja bentar lagi mau sampai kok,” ujar Nadia.

Pria itu langsung menggenggam tangan Nadia lalu mengkencupnya dan menaruhnya di dada dengan tangan sebelah yang menyetir.

 Setelah sampai di rumah keadaan sudah senja Nadia amat menikmati senja indah di Batavia saat matahari mulai terbenam, mereka berdua turun lalu menyuruh seorang kacung untuk membenarkan mobil dinas milik Hanson.

Saat sudah selesai menaiki anak tangga Nadia terkejut saat dirinya merasa melayang, ternyata Hanson menggendongnya dengan reflex kedua tangan gadis itu mengalungkan diri di leher pria itu.

“Hanson jangan begini malu dilihat oleh.” Nadia tiba-tiba di jatuhkan ke atas kasur dengan empat tiang di setiap sudutnya, dan Hanson mendekap tubuh Nadia ke pelukannya.

“Ik ingin anak dari je.” Hanson sambil mendekatkan wajah ke wajah Nadia, gadis itu menyentuh tubuh putih gading yang mulus tanpa cela milik pria ini.

“Sejak kapan kamu mau anak dari aku?” tanya Nadia yang mengerutkan dahinya sambil melempar pertanyaan.

“Saat ik melihat para Nyai membawa anak Indo mereka tadi dijalan,” kata Hanson dengan nada yang jujur.

Nadia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Hanson.

“Kalo kamu mau punya anak dari saya coba alangkah baiknya, nikahin saya dulu atau minta izin dari Mayor Jendral.”

Kali ini Hanson sangat tercengang sangat jarang sekali gadis Pribumi, bicara segitu dewasanya dan begitu bijaksana.

“Aku takut Mayor Jendral akan mengusir saya, lalu bagaimana nasib saya sama anak saya kelak dan mau tinggal dimana nanti saya.” Nadia menuturkan perkataannya dengan suara serak dan ketakutan, Hanson langsung memeluk Nadia dan berusaha menenangkan gadisnya agar tidak menangis.

“Ik tidak akan biarkan itu terjadi,” ujar Hanson.

Tetapi entah mengapa Nadia merasa ucapan, seorang Hanson Van Buthjer itu sangat manis sesaat, tapi ada kepalsuan di dalamnya.

Tanpa mau pikir atau memusingkan hal yang tak di inginkan lebih baik Nadia tidur sambil memeluk erat tubuh Hanson, entah mengapa dirinya merasakan ini yang terakhir kalinya Bersama pria ini.

Terpopuler

Comments

Smile

Smile

Thor,, aku agak sedikit bingung dgn ceritanya.. di Bab ini dibilang kl Mevrouw (ibunya) Hanson sudah meninggal tp di Bab entah 40 atw 50 dibilang ketika Nadia sedang hamil,, ibunya Hanson datang dr Belanda.. aq jd sedikit bingung dgn ceritanya

2021-01-02

0

lihat semua
Episodes
1 PROLOG
2 Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3 Operasi usus buntu
4 Sebuah ilusi saat koma
5 lucid dream atau pertanda 2
6 Lucid Dream saat koma
7 Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8 BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9 BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10 BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11 Tersadar dari koma
12 BAB 11 : Sarah dan the black robe
13 BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14 BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15 BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16 BAB 15 : Masa lalu Raisa
17 BAB 16 : Masa lalu Raisa
18 BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19 BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20 BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21 Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22 Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23 Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24 Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25 Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26 BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27 BAB 26: Pemantapan Materi
28 BAB 27: Rencana
29 BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30 Ritual Pernikahan
31 Rencana memiliki anak
32 Cinta yang Sulit
33 Hantu Belanda Yang Posesif
34 Teman-teman Hanson
35 Gosip terbaru
36 BAB 35
37 BAB 36
38 BAB 37
39 BAB 38
40 BAB 39
41 BAB 40
42 BAB 41
43 BAB 42
44 BAB 43
45 BAB 44
46 BAB 45
47 BAB 46
48 BAB 47
49 BAB 48
50 BAB 49
51 BAB 50
52 BAB 51
53 BAB 52
54 BAB 53
55 BAB 54
56 BAB 55
57 BAB 56
58 BAB 57
59 BAB 58
60 BAB 59
61 BAB 60
62 akhir
63 EPILOG
64 Extra part
65 Sequel nya
Episodes

Updated 65 Episodes

1
PROLOG
2
Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3
Operasi usus buntu
4
Sebuah ilusi saat koma
5
lucid dream atau pertanda 2
6
Lucid Dream saat koma
7
Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8
BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9
BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10
BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11
Tersadar dari koma
12
BAB 11 : Sarah dan the black robe
13
BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14
BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15
BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16
BAB 15 : Masa lalu Raisa
17
BAB 16 : Masa lalu Raisa
18
BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19
BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20
BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21
Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22
Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23
Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24
Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25
Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26
BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27
BAB 26: Pemantapan Materi
28
BAB 27: Rencana
29
BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30
Ritual Pernikahan
31
Rencana memiliki anak
32
Cinta yang Sulit
33
Hantu Belanda Yang Posesif
34
Teman-teman Hanson
35
Gosip terbaru
36
BAB 35
37
BAB 36
38
BAB 37
39
BAB 38
40
BAB 39
41
BAB 40
42
BAB 41
43
BAB 42
44
BAB 43
45
BAB 44
46
BAB 45
47
BAB 46
48
BAB 47
49
BAB 48
50
BAB 49
51
BAB 50
52
BAB 51
53
BAB 52
54
BAB 53
55
BAB 54
56
BAB 55
57
BAB 56
58
BAB 57
59
BAB 58
60
BAB 59
61
BAB 60
62
akhir
63
EPILOG
64
Extra part
65
Sequel nya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!