Nadia mengedipkan mata tatkala ia lihat dari jendela kamar atas, sang surya belum juga menampakan diri.
Ya gadis itu bangun saat keadaan langit saat itu masih kebiruan atau subuh, Nadia melepaskan perlahan tangan besar yang memeluknya dari belakang ia menoleh ke belakang dan langsung mengusap lembut rambut pirang milik pria yang terlelap di sampingnya, Nadia tersenyum lalu segera beranjak dari ranjang itu.
Nadia berjalan dalam keadaan masih mengenakan kebaya yang kemarin dan ingin ke pavilium tempat Bu Marsih dan Ajeng untuk melaksanakan solat subuh, sesampainya di pavillium Nadia secara ragu dan pelan mengetuk pintu sambil terdengar suara Bu Marsih membaca Al-qur’an.
“Assalamualaikum. Bu Marsih, Ajeng saya mau pinjam mukena,” ujar Nadia dengan takut tak lama Ajeng yang membuka pintu amat terkejut melihat sang majikan ada di depan pintu.
“Nyai ada apa?” tanya Ajeng sambil menunduk.
“Saya mau pinjam mukena,” sahut Nadia.
“Oh, mari Nyai. Silahkan laksanakan solat subuh disini.”
Ajeng meminjamkan mukena lalu mempersilahkan Nadia melaksanakan solat subuh di pavillium yang berukuran amat kecil ini, Nadia memohon kepada Allah SWT agar diberikan petunjuk saat ini hatinya amat takut dan gundah hanya Allah SWT yang tahu segalanya dan dapat memberi petunjuk.
Di dalam kamar klasik seorang pemuda amat marah saat gadis di sampingnya menghilang tangan pria itu meraba di sebelahnya, tapi tidak menemukan gadis itu. Sungguh teriakannya menggema sampai gubuk, taman, dan pavillium.
Nadia menyadari dirinya sudah begitu lama sampai tidak kembali ke kamar, “Bu Marsih ama Ajeng saya duluan ke rumah karena Sinyo sepertinya amat marah.”
Nadia segera berlari menuju rumah sesampainya di ruangan dekat taman, tak jauh dari pavillium semua para pekerja di bariskan dan di teriaki marah oleh Hanson.
“Kalian boleh pergi sekarang!!” teriakan Hanson kepada para pekerja Pribumi tersebut, lalu Hanson melihat Nadia berdiri diam terpaku.
“Darimana je!” suara intonasi tersebut membuat Nadia ketakutan.
Hanson mengira Nadia habis dari gubuk dan melanggar perintahnya.
“Ik punya hukuman yang pantas untuk je agar je tidak mencoba kabur lagi.” Hanson menarik lengan Nadia ke kamar mandi pribadi yang terletak di lantai atas milik dirinya, lalu dengan kejam Hanson mengguyur tubuh Nadia dengan air dingin.
Nadia menggigil karena kedinginan tubuhnya seakan beku dan mati rasa, tangis gadis itu pecah seketika mulutnya hanya bisa mengeluarkan permohonan maaf serta ampunan belas kasih.
Gadis itu luruh di lantai kamar mandi matanya memerah dan menatap Hanson.
“Saya menyesal karena telah jatuh cinta sama kamu Hanson!!” teriakan marah Nadia yang masih setia terduduk dilantai.
“Jika kamu seperti ini saya lebih memilih kembali ke gubuk.” Final Nadia yang bangkit lalu pergi keluar. Hanson malah menarik gadis itu ke pelukannya, tapi gadis itu berontak dengan terpaksa pria itu menyeret tubuh Nadia kembali ke kamar.
Hanson malah mencumbu dan meninggalkan tanda kepemilikan di setiap leher Nadia, gadis itu tak berdaya jadi ia pasrah tubuhnya juga lemas karena penyiksaan Hanson.
Nadia mengeluar teriakan ketakutan dari mulutnya ia hanya memanggil nama yang mampu menyelamatkannya, Endah, Lasmi, Pak Marno, Bu Marsih, dan Ajeng.
Berharap mereka menolongnya, Nadia bisa memperkirakan apa yang terjadi selanjutnya ia dan Hanson akan membuat anak seperti yang di inginkan Hanson.
“Hanson berhenti!!” Nadia berteriak marah.
“Bagaimana kalo aku hamil itu akan berbahaya dengan karirmu,” ujar gadis itu Hanson masih setia menyesap inci dari kulit leher dan dada gadis itu.
“Ik tidak peduli sangat bagus jika je hamil anak ik,” kata Hanson yang menahan kedua tangan Nadia di atas kepalanya dengan satu tangan. Sungguh Nadia berdoa dalam hati.
“Yaallah yatuhan hamba jika memang engkau meridhoi hamba menjadi Ibu dari anak pria ini, maka jangan buat anak hamba nanti menderita dan bagaimana nasib Ibu dan adik hamba.”
Nadia saat kedua tangannya terlepas langsung mendorong tubuh Hanson sekuat tenaga sampai pria itu menyingkir dari tubuhnya, lalu mengorek laci kayu yang terbuat dari jati dan mengambil senjata berupa pistol kecil.
“Menjauh jangan mendekat!!” Nadia menodongkan pistol ke arah Hanson, lalu pria belanda itu mengangkat tangan.
“Nadia tenang ik akan jelaskan!” kata Hanson, Nadia yang sudah marah dan ketakutan tak peduli lagi akan perkataan yang menenangkan jiwa dari mulut Hanson.
Tetapi Marno masuk kamar di saat yang tepat, betapa terkejutnya pria paruh baya itu saat melihat apa yang terjadi Marno yang bisa silat langsung membuat Nadia melepaskan pistol dari tangannya dan pistol itu langsung terjatuh ke lantai.
“Pak Marno lepaskan saya!!” Nadia berontak di kungkungan Marno.
“Nyai tenang!! tolong tenang,” ujar Marno.
Hanson mengambil pistol yang tergeletak di lantai itu, dan langsung menaruhnya di laci kembali.
Marno membacakan doa dengan menempelkan tangannya di jidat Nadia, setelah itu gadis tersebut mulai tenang dan Marno menuntun Nadia berbaring di atas kasur kamar.
Hanson menatap takut dan heran, seorang gadis Pribumi mempunyai keberanian seperti ini.
“Marno je keluar!” perintah Hanson.
Marno menunduk dengan sopan lalu keluar dengan ragu-ragu, “saya permisi. Nyai dan Sinyo,” patuh Marno.
Setelah kepergian Marno Hanson memberanikan diri mendekati gadisnya yang sedang terbaring di atas kasur lalu secara perlahan menggenggam tangan Nadia, gadis itu terlihat sudah agak tenang.
“Ik minta maaf atas perlakuan ik sama je barusan,” ucap Hanson lalu mencium punggung tangan Nadia, setelah itu Hanson melepaskan secara perlahan dan berdiri untuk meninggalkan Nadia yang menatapnya sendu.
“Hanson!” merasa di panggil pria belanda itu menoleh tanpa mengeluarkan suara.
“Apa kamu hari ini dinas?” tanya Nadia sepertinya sangat khawatir.
“Nanti siang! memang kenapa?” jawab Hanson.
“Tolong jangan pergi lagi.” Kali ini Hanson menggenggam tangan Nadia lalu menaruhnya di dada.
“Je akan lihat nanti malam apa yang terjadi, mungkin ini terakhir je dan ik bersama.”
Nadia bingung apa maksudnya jadi Nadia mengatakan isi hatinya dengan jujur.
“Aku mencintaimu, Hanson.” Nadia sambil berbaring di atas ranjang lalu memeluk Hanson.
“IK HOU OOK VAN JE,” balas Hanson dalam bahasa belanda artinya: Aku juga mencintaimu, Nadia sama sekali tidak mengerti bahasa tersebut, tapi gadis itu dapat mengartikan karena sudah terlihat dari mata biru permata milik pria ini.
Hanson memeluk gadisnya dan mencium aroma memabukkan dari leher Nadia, dia seorang gadis Pribumi yang berbeda dari para gadis saat pernah menjadi gundiknya dan Nadia sangatlah memabukkan serasa minum anggur (wine dan sampanye) semua mencampur menjadi satu.
Nadia merasa meremang tatkala lehernya dicium seperti itu dan pertama kali oleh laki-laki yang notabenya bukan siapa-siapa. Mereka berdua melepaskan pelukannya dan saling menatap mata biru milik Hanson seperti permata dan mata hitam milik Nadia sekelam malam.
Setelah itu Hanson keluar kamar, Nadia kembali merebahkan diri di ranjang berhias empat tiang di setiap sudutnya lalu mengubah posisi tidurnya yang telentang, menjadi miring ke samping tak lama dari pintu Marsih memasuki kamar sambil membawa bubur di mangkuk berlukisan abad pertengahan dan air di dalam gelas kaca yang menyerupai terompet, gelas yang pernah di pakai saat acara minum wine.
“Nyai!” panggil Marsih lalu wanita berkebaya cokelat itu, menaruh nampan makanannya di atas meja kayu yang terukir khas Eropa.
“Bu Marsih repot banget saya bisa kok jalan ke meja makan sendiri,” kata Nadia yang terduduk di atas ranjang.
“Ini perintah Sinyo, Nyai.” Marsih memberikan sendok dan mangkuk bubur itu ke Nadia.
“Makasih, Bu.” Ucapan Nadia, tapi hanya di balas senyum tipis oleh Marsih.
Nadia menyuapkan buburnya ke mulut dengan sendok.
“Bu Marsih, Hanson kemana?” tanya Nadia sambil menyuapkan bubur ke mulutnya sedangkan Marsih duduk di lantai, Nadia sudah menyuruhnya duduk di kursi, tetapi wanita paruh baya itu menolak karena pada masa itu memang seperti itu.
“Sinyo lagi di bawah karena ada tamu, Nyai.” Ujar Marsih, “siapa yang bertamu pagi-pagi.” Tanya Nadia yang keheranan, “yang saya lihat lima orang londo berseragam dan salah satunya ada Menner juga.” Mendengar penuturan Marsih Nadia langsung tersedak, Marsih segera menyuguhkan air minum berupa gelas kaca yang menyerupai terompet.
“Nyai gak apa-apa,” Kata Marsih.
Nadia hanya menggelengkan kepala tanda mewakili bicaranya, “Bu saya sudah selesai.” Nadia memberikan mangkuk bubur yang berlukis abad pertengahan yang hanya tinggal tersisa separuh bubur saja sehabis itu, Marsih dengan sopan menunduk lalu berlalu keluar kamar.
Nadia beranjak dari ranjang karena penasaran siapa yang bertamu pagi-pagi begini seperti kurang kerjaan saja, sebelum pergi Nadia mengganti baju dulu dengan gaun pendek berenda sederhana berwarna hijau.
Saat sudah sampai di atas yang mengarah ke ruang tamu Nadia melihat apa yang dikatakan Bu Marsih, lima orang Belanda berseragam dan salah satunya Mayor Jendral kecuali Hanson yang tidak memakai seragam hanya mengenakan kaus dan celana bahan berwarna cokelat.
Nadia bersembunyi di balik tembok untuk menguping, tapi itu semua sia-sia saja karena mereka bicara dengan bahasa yang sulit di mengerti, Nadia segera berlalu dari sana untuk kembali ke kamar.
Gadis itu menghentikan langkahnya tatkala namanya dibawa dalam obrolan mereka, meskipun menggunakan bahasa yang sama sekali tidak tahu.
“Ik wil alleen Nadia, Papa!” tegas Hanson dengan tegas mengucapkan dengan bahasa belanda artinya, aku hanya ingin Nadia, Papa.
“Waarom je voor lage meid koos!!” ujar Mayor Jendral dengan marah, artinya (mengapa kau memilih gadis rendah!!).
“Papa heb het juiste meisje voor je gekozen, haar naam is Barbara.” Tambah Mayor Jendral Willem Van Buthjer (Papa sudah pilihkan gadis yang tepat untuk kamu, namanya Barbara).
“Ik wil niet Papa, ik wil alleen Nadia!” ujar Hanson dengan tegas (Aku tidak mau Papa, aku hanya ingin Nadia!!).
“Hanson!!! betekent dat je een dissident kind wordt, hoe kun je een meisje INLANDER kiezen om je vrouw Hanson te zijn!!!” sepertinya ayahnya Hanson amat marah karena putranya sudah jatuh hati kepada Pribumi.
“Ik laat Nadia niet gaan, Papa!!” ujar Hanson dengan bersungguh-sungguh, Nadia tahu apa yang selanjutnya akan terjadi karena ia indigo.
Menner Willem yang tak lain ayahnya Hanson ingin menampar putranya, karena menjadi anak pembangkang.
Nadia dengan tergopoh-gopoh turun dari atas dan menuruni tangga untuk menuju ruang tamu, gadis bergaun hijau muda tersebut turun dari tangga yang terbuat dari kayu tanpa peduli ia akan terjatuh.
“Menner, Stop!!” Nadia datang disaat yang tepat dengan menangkap tangan Willem yang tingginya mencapai sembilan kaki.
Semua yang ada di ruangan terkejut bukan main gadis ini memang manis dan ayu, Willem menyadari ini gadis yang waktu itu pernah ia suruh membersihkan rumah.
Tidak hanya Willem yang tercengang karena kehadiran gadis ini semuanya juga tercengang.
“Menner! we can talk about carefully,” ujar Nadia yang menggunakan bahasa Inggris.
Semuanya langsung diam entah karena takjub atau kaget karena gadis Pribumi yang berpendidikan, dan bisa bahasa asing sangat jarang kecuali kaum priyayi.
“Menner. I don’t speak Dutch, but I can speak English.”
Nadia dengan sesopan mungkin gadis itu berusaha merangkai ucapan, Willem dan kedua rekan kerja serta dua anak buahnya sedang mencerna darimana gadis ini berasal.
“Please don’t be like this, I understand why your son is like this,” jelas Nadia yang mengerti mengapa Hanson bersikap seperti ini.
“Hanson was very depressed because he lost his Mother,” tambah Nadia kali ini Mayor Jendral mengangkat kepala menatap Nadia lalu menatap putranya secara bersamaan.
Keempat pria belanda itu saling menatap dengan tatapan yang saling berbeda-beda sedangkan Willem berjalan mendekati Nadia yang menunduk ketakutan.
“Menner maaf atas kelancangan saya, baiklah kalo begitu saya akan kembali ke gubuk saja.” Willem langsung mendebrak marah tatkala ucapannya didahului oleh gadis ini.
“Ik ben nog niet klaar met praten!!!” ucap marah Menner Willem dengan bahasa belanda.
“I’m sorry, Menner.” Nadia sembari menundukkan kepalanya.
“Darimana je berasal? Apa je dari kaum priyayi?” tanya Willem dengan bahasa melayu logat asing mirip Hanson.
Nadia melihat Menner Willem mata biru setajam elang, rambut pirang, dengan hidung yang lancip lebih tinggi dari milik Hanson. Secara logika dari lukisan tempo hari yang dilihat Nadia.
Hanson memang mirip seperti sang Ibu malah seperti bayangan.
“A---apa itu pri---ya---yi.” Nadia malah balik bertanya sedangkan yang lainnya hanya diam para bendide yang mengitip secara diam-diam tak kalah kaget.
Sedikit penjelasan kaum priyayi adalah kaum Pribumi banggsawan atau Pribumi terpilih yang memiliki tingkat kelas social yang lebih tinggi pada zaman penjajahan belanda.
“Baiklah Hanson!! bawa gadis ini ke kamar je!” perintah Willem, entah mukjizat dari mana pria paruh baya itu meminta putranya hal seperti itu.
Sungguh ini pertama kalinya. Nadia berjalan ingin menaiki tangga tiba-tiba pandangan gadis itu menjadi kabur, kepalanya seakan berat seperti tertimpa batu lalu tubuh berisi itu jatuh saat ingin meminjak anak tangga yang ketiga hanya suara Hanson saja yang ia dengar samar-samar tubuh Nadia tumbang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments