BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang

Waktu pulang sekolah tiba para murid menghambur keluar kelas dengan menggunakan seragam batik hijau dan bawahnya warna putih.

Nadia hari ini berencana mengunjungi makam Ayahnya tetapi Ibunya memerintahkannya untuk langsung pulang jangan kemana-mana dulu setelah pulang sekolah karena baru selesai melakukan operasi.

Nadia tak bisa membendung rasa rindunya dengan mendiang sang Ayah gadis tersebut malah melanggar perintah Ibunya.

Nadia tidak pulang dulu ia malah ke pasar yang tak jauh dari sekolah dengan berjalan kaki untuk membeli bunga untuk ke makam sang Ayah.

Gadis itu membeli seplastik kecil bunga melati untuk ia taburkan di atas makam sang Ayah. Setelah membelinya Nadia menaiki angkutan umum untuk mencapai makam sang Ayah.

Sesampainya di makam sang Ayah, Nadia mengeluarkan surat yasin yang biasa dibaca Bersama setiap hari jum’at di sekolah.

Gadis itu kemudian menaburkan bunga yang berada di plastik kecil ke atas makam sang Ayah sambil berurai air mata, Nadia mengeluarkan tisu yang ada di kantung bajunya kemudian menyeka air matanya.

“Aku pamit pulang yah, Assalamualaikum.” Ujar Nadia yang pergi berjalan ke luar area makam.

Kemudian Nadia melihat mang sobari pria paruh baya pejaga sekaligus pengurus makam, Nadia segera menghampiri pria itu yang dengan peluhnya dan baju kotornya serta cangkul yang di hiasi tanah merah makam sedang duduk melepas Lelah.

 Dia menghampiri pria itu lalu memberikan uang sebesar lima ribu rupiah untuknya.

“Mang ini untuk, mang Sobari.” Kata Nadia yang mendekat.

“Eh, neng Nadia makasih ya.” Ujar pria itu dengan bahagia.

“Abis pulang sekolah neng?” tanya mang Sobari.

“Iya, mang. Ini baru mau pulang.” Ucap Nadia sedikit berbasa-basi.

“Mang Sobari abis gali kuburan?” tanya gadis berkerudung putih serta memakai seragam itu.

 “Iya, Neng. Yang meninggal masih bocah sekitar umur 8-9 tahunan.” Ucap Mang Sobari.

“Oh.” Nadia yang mengagguk mengerti.

“Ya udah mang saya duluan. Udah siang soalnya takut dicariin, saya permisi yang mang.” Ucap Nadia dengan sopan.

“Oh, iya Neng.” Ucap setuju Mang Sobari.

“Asallamualaikum.” Ucap salam Nadia.

“Wallaikumsallam.” Balas pria paruh baya itu dengan ceria, saat ingin melangkah keluar area pemakaman ada banyak mobil mewah dan satu ambulance berdatangan di luar makam serta pelayat yang sepertinya dari kalangan elit.

Nadia melihat seorang pria yang berusia tiga puluh tahunan sedang menggendong jasad anak kecil yang terbungkus kain, dan Nadia menatap iba kepada wanita yang berusia lebih muda dari pria itu.

Wanita itu menangis tiada henti dan sudah beberapa kali pingsan.

Nadia diam mematung melihat keadaan duka itu, wanita yang sedari tadi menangis tiada henti sampai pingsan mungkin adalah Ibu dari gadis kecil yang meninggal itu, sedangkan sang Ayah mengenakan jas hitam dan peci hitam yang tadi menggendong jasad gadis cilik tadi mungkin anak malang itu yang dimaksud Mang Sobari kasihan sekali anak itu sepertinya umur segitu masih kelas tiga SD seumuran Adiknya Defani.

Nadia masih mematung melihat orang yang mengantar jasad anak kecil itu ke tempat peristirahatan terakhirnya adalah orang sosialita dan kalangan elit semua.

Nadia berasumsi mungkin saja anak itu berasal dari kalangan orang kaya beruntung sekali batin Nadia. Gadis itu tersadar tatkala ia malah melamun saat mang Sobari menegurnya.

“Neng Nadia, belom pulang.” Nadia langsung tersadar dari pikiran yang berkecamuk.

“EH ini baru mau pulang kok.” Nadia tersenyum lalu keluar dari area pemakaman dan meninggalkan suasana duka itu.

Nadia keluar saat sudah berjalan agak jauh punggungnya dan lengan tangan kanannya terasa berat dan sakit, di saat itulah ia melihat pangkalan ojek yang sudah agak jauh dari makam.

Gadis itu memutuskan untuk naik ojek karena punggungnya dan lengan tangan kanannya sakit dan berat mungkin karena kelelahan.

“Ojek Neng.” Tawar abang ojek yang menunggu dipangkalan.

“Iya bang.” Ujar Nadia. Gadis itu segera menaiki motor ojeknya lalu memakai helm.

“Kemana neng?” tanya ojeknya.

“Ke Jln.kalimura, bang.” Ujar Nadia.

“Oh, Kalimura.” Kata abang ojeknya. Nadia pulang menaiki ojek sambil terdiam karena ia indigo gadis itu sayup-sayup mendengar suara anak kecil perempuan di telinganya.

Baru masuk rumah Nadia menyalami Ibunya saat bersantai di ruang keluarga sambil nonton TV, “Bu!” panggil Nadia yang langsung menyalami Ibunya.

“Kenapa baru pulang kan Ibu udah bilang jangan kemana-mana dulu.” Ucapan yang disuguhkan pertama kali oleh Ibunya.

“Iya Bu, tadi kan ke makam Ayah dulu.” Ucap Nadia dengan lesuh.

“Turun Ibu mau mau rebus ikan gabus bagus untuk yang abis operasi.” Ujar sang Ibu.

“Iya, Bu.” Jawabnya lagi. Nadia segera menaiki tangga untuk menuju kamarnya, ia menggantung pakaian sekolahnya dan melepas kerudung putihnya.

Setelah selesai Nadia segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat zuhur.

Setelah selesai Nadia melepas ikatan rambutnya lalu menyisir rambut hitamnya mengarah ke cermin di depannya, tak berselang lama bayangan di cerminya menghilang di gantikan seorang anak kecil berumur 8-9 tahunan.

Anak kecil itu berwajah sedih mukanya pucat, kantung matanya menghitam, tubuhnya mengurus, dan mengenakan pakaian bekas muntahan darah.

Nadia diam tapi lama kelamaan mata anak itu menjadi merah rata, Sontak dengan reflex Nadia berteriak ketakutan.

“AAAAAA!!” suaranya terdengar sampai kebawah Ibunya langsung tergopoh-gopoh menaiki tangga menuju kamar anaknya.

Di dalam kamar Nadia masih berdiri menghadap cermin sambil menutup wajahnya, sisir yang ia gunakan untuk menyisir rambut terjatuh ke lantai.

“Nadia!!!” panggil sang Ibu sambil mengetuk pintu kamar, Nadia yang sadar langsung menatap kembali ke cermin lagi dan bayangan anak itu hilang sedangkan ia langsung mengambil sisir yang jatuh ke lantai.

“Iya Bu.” Ucap Nadia yang menyahut panggilan sang Ibu. “Kamu kenapa? kamu di dalam kamar…” Ucapan sang Ibu di potong cepat oleh Nadia karena gadis itu tidak mau kalo sang Ibu terseret masalahnya.

 “Gak kok Bu, tadi ada kucing mau masuk di jendela saat aku udah selesai solat.” Ujar Nadia dengan bohong Tetapi masuk akal.

“Oh, makannya jendelanya tutup!” perintah sang Ibu.

“Ya udah kamu kebawah! makan abis itu istirahat malem kamu harus lanjut belajar.” Kata sang Ibu.

“Iya!” jawaban yang hanya Nadia lontarkan. “gua halu kali ya. Efek kelelahan, hih serem halu sampai segitunya.” Ujar Nadia mendengus nafas Lelah lalu membuka pintu kamar untuk turun kebawah, gadis itu menggunakan kaus bergambar paris berwarna hijau muda berbahan spandex dengan celana berwarna hitam dan berbahan yang sama.

Nadia makan dengan tenang dan lahap pangsit buatan sang Ibu.

 “Nad, Ibu mau jemput Fani.” Ujar sang ibu.

“Iya Bu.” Kata Nadia. Setelah selesai Ibunya mengeluarkan motor dan segera ke sekolah Defani. Nadia segera menuju kamarnya dan merebahkan diri di atas kasur spring bed itu, karena di serang rasa Lelah gadis itu memejamkan matanya lalu mulai tidur pulas.

Gadis itu tidak bermimpi hanya mendengar suara orang lain salah satunya anak kecil perempuan.

“Papa sama mama jangan berantem lagi, ya.” Suara manis dan lembut khas anak perempuan.

“Nenek tolong aku nanti mau kemana, hiks…hiks.” Anak itu sepertinya mengalami penderitaan yang bertubi-tubi.

 “Bu, bisa gak bersikap lembut sama Raisa. Dia itu titipan Allah, darah daging Ibu juga.” Suara wanita yang menyahut kali ini.

“Raisa sayang sama Ibu…hiks…hiks.” Ujar gadis itu.

Nadia tidak bermimpi Tetapi hanya mendengar suaranya saja, seperti suara anak perempuan yang mengalami penderitaan.

Gadis itu terbangun tatkala keringat dingin membasahi hampir seluruh tubuhnya.

 “Astagfirullah…. Astagfirullah.” Nadia beristigfar melalui mulutnya.

“Ya tuhan ada apa ini? mengapa sehabis pulang dari makam aku menjadi seperti ini.” Guman Nadia.

Tak lama suara adzan ashar berkumandang Nadia meminum air putih yang masih utuh di botol air minum sekolahnya, lalu segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat ashar buat mencari ketenangan.

Setelah melaksanakan solat Nadia memutuskan membuka buku matematika untuk ujian besok, dan mencatat rumus. Saat di meja belajar sayup-sayup Nadia mendengar suara anak kecil sambil bersenandung.

“Fani!! kamu di bawah!” ujar Nadia yang mulai ketakutan, tapi tidak ada orang di rumah gadis itu berasumsi mungkin hanya perasaannya saja.

Nadia di rumah sendiri Ibunya tidak tahu kemana jadi gadis itu memutuskan menghubungi ibunya melalui pesan whatsaap bernote, ‘Bu, Ibu kemana?’. Gadis itu memutuskan untuk mencatat rumus di kertas dengan tulisan kecil agar ia tidak banyak menghafal rumus dan tidak memusingkan juga. Nadia belajar dalam keheningan tak lama suara motor Ibunya terdengar.

 “Kak!!” panggil Defani Adiknya Nadia.

“Iya! kamu baru pulang?” ujar sang Kakak.

“Apa maksudnya Kak? emang aku pulang jam segini.” Defani menjawab dengan bingung mendengar pertanyaan sang Kakak yang diajukan kepadanya, tumben sekali sang Kakak menanyakan hal seperti itu.

Saat itu posisi Defani di lantai bawah sedangkan Nadia di kamar memang suara mereka dapat terdengar sampai bawah dan atas, setelah selesai mencatat rumus Nadia segera mengunci pintu yang menghubungkan dengan balkon rumah tetapi sejenak ia melihat anak kecil perempuan yang ia lihat tadi sedang memunggunginya. Nadia ragu mau menegur atau tidak.

“Dek!” akhirnya satu kata terlontar dari mulut Nadia, anak itu tidak bergeming.

“Dek tolong jangan bikin Kakak takut, coba cerita masalah kamu siapa tahu Kakak bisa bantu.” Ujar Nadia.

Tiba-tiba anak perempuan yang awalnya berdiri membelakanginya menjadi menghilang, tentu Nadia tersentak kaget lalu ada suara anak kecil tepat di sampingnya.

“Bener Kakak mau bantu aku?” Nadia langsung menoleh ke samping dengan kaget ternyata anak perempuan itu ada tepat di sampingnya. Sudah di pastikan anak ini bukan manusia Tetapi mahluk halus sudah terlihat dari awal kaki anak ini tidak menapaki tanah.

 Nadia melihat anak itu dengan iba bukan takut lagi bagaimana tidak dengan menatapnya saja sudah mendeskripsikan waktu hidupnya seperti apa. Nadia menyamai posisi anak tersebut.

“Iya, sebisa mungkin Kakak akan bantu kamu.” Ucap Nadia dengan senyum tipis, anak itu juga tersenyum cerah tapi wajahnya tidak semengerikan sebelumnya.

“Pertama-tama kita kenalan dulu.” Ujar Nadia dengan lembut.

“Nama kamu siapa?” tanya Nadia.

 Anak itu tersenyum lemah lalu mengambil tangan kanan Nadia dengan tangan mungil miliknya, gadis itu merasakan dingin yang luar biasa seperti memegang es.

“Nama aku Raisa, kalo nama Kakak siapa?” tanya kembali gadis kecil itu.

“Nama Kakak, Nadia.” Ucap lembutnya, anak ini sepertinya seumuran Adiknya kalo dikira-kira tiga SD (Sekolah dasar) sungguh malang nasibnya tidak bisa merasakan masa kecil.

“Kamu bisa cerita semuanya sama Kakak nanti.” Tak lama Nadia terhenti saat Ibunya memanggilnya.

“Nadia belajarnya nanti lagi!! sekarang makan dulu Ibu udah beli mie ayam.”  Mendengar makanan yang disebutkan perut Nadia langsung minta diisi dengan mie ayam.

“Iya Bu, nutup pintu dulu!” Ujar Nadia kepada Ibunya.

“Iya cepetan turun!” jawab sang Ibu.

“Raisa, Kakak mau makan dulu ya, kamu disini aja.” ujar Nadia dengan kalimat halus tapi memerintah.

“Iya Kak.” Kata Raisa patuh sehabis itu anak tersebut menghilang entah kemana.

Nadia segera menutup pintu yang mengarah ke balkon kemudian menuju ke lantai bawah, gadis tersebut menuju ke dapur mengambil tiga mangkuk disertai garpu dan sendok terakhir membawanya ke meja ruang tengah sambil menonton televisi.

Gadis itu segera menuangkan mie ayam di masing-masing mangkuk, sedangkan Ibunya mengambil air jeruk hasil karyanya.

Keluarga yang berjumlah tiga orang perempuan itu makan mie ayam dan es jeruk dengan di temani televisi.

 Nadia ingin solat magrib di bawah jadi ia menunggu sambil memakan mie ayam dan ia memutuskan untuk ke atas agar melanjutkan mencatat rumus yang ia tidak tahu dan sebagian mengahafalnya karena Senin sudah harus Ujian nasional berbasis computer lalu di lanjutkan UANBM dua bulan lagi.

 Sesudah solat magrib Nadia pergi ke lantai atas untuk melanjutkan aktivitasnya, saat sedang asyik mencatat rumus tiba-tiba Raisa mengagetkannya dengan berdiri tepat di belakangnya.

“Kak Nadia lagi belajar ya.” Ujar anak kecil itu. “Oh, Kak aku mau cerita soal masalah aku sama Kakak, 'kan Kak Nadia mau…” Kalimat Raisa yang belum tuntas langsung di potong cepat oleh Nadia yang masih setia mencatat rumus matematika.

 “Mau kamu cerita tentang masalah kamu. Raisa Kakak lagi belajar nanti aja malam kalo mau tidur.” Ujar Nadia yang sudah selesai mencatat ke seluruhan rumus lalu menhadap ke Raisa.

“Kamu bisa mengirim lewat mimpi, Kak Nadia bisa seperti itu.” Sambung gadis itu, Raisa tersenyum lalu menganguk.

 Memang itulah kemampuan indigo yang dimiliki Nadia Sabrina yang sebenarnya dalam hati ia sangat membenci kemampuan ini, karena kemampuan indigo hidupnya selalu penuh dengan masalah.

“Ya udah deh, sambil nunggu Kak Nadia aku main di kamar sambil mainin boneka Kakak ya.” Ucap hantu anak kecil itu.

“Ya udah sana!” ujar Nadia sebelum Raisa menghilang Nadia menambah bicaranya lagi.

“Eits… kamu boleh mainan tapi jangan berantakan! nanti Ibu aku curiga.” Ujar Nadia.

“Iya Kakak Nadia yang cantik.” Kata Raisa kemudian menghilang, Nadia tersenyum Anak itu akhirnya tidak menganggu belajarnya lagi.

Jadi Nadia memutuskan untuk melanjutkan menghafal saja, waktu berlalu tanpa sadar Ibunya ke lantai atas dan membuka pintu kamar membuat Nadia menoleh ke arah pintu kamar.

“Nadia sudah belajarnya, udah malam tidur besok sekolah.” Ujar sang Ibu. 

“Iya Bu, nih udah mau selesai kok.” Ujar Nadia setelah itu sang Ibu kembali menutup pintu kamar anaknya dan kembali turun ke lantai bawah.

Nadia segera mengambil handuk yang mengantung di gantungan pakaian di kamarnya lalu keluar kamar tidur dan ke kamar mandi.

Untuk membersihkan diri sebelum tidur, menyikat gigi kemudian membersihkan wajah, setelah selesai melakukan aktivitasnya di kamar mandi.

Nadia kembali ke kamar tidur menggantung handuknya kembali, selanjutnya gadis itu memakai cream malam di wajahnya serta lotion di tubuhnya.

“Raisa aku siap mendengarkan ceritamu.” Ucap Nadia yang sudah berbaring di kasur spring bed dan secara ajaib juga hantu anak itu duduk di bawah samping kasur.

Nadia hanya tersenyum karena sudah mulai terbiasa dan tidak kaget lagi dengan kemunculan Raisa yang secara tiba-tiba.

“Sekarang Kakak harus tidur dulu baru aku bisa cerita.” Nadia lalu menutup matanya dan perlahan mulai terlelap memasuki dunia yang siap di ceritakan Raisa. Nadia hanya melihat sebagai penonton seperti pertunjukan teater.

Ya, gadis itu menonton tentang masalalu Raisa, sesuai janjinya ia siap mendengarkan keluh kesahnya lebih tepatnya cerita dari Raisa.

Pertama ia melihat Raisa yang sedang bermain Bersama teman-temannya lalu ditarik dengan kasar oleh seorang wanita paruh baya sambil berteriak-teriak. Ada yang membela anak malang itu, yaitu Ibu-Ibu yang belanja sayur di gerobak.

“Eh ama anak kecil jangan begitu, Bu kasian.” Kata Ibu-Ibu yang belanja sayur.

“Iya, Bu kasar banget ama cucu sendiri.” Sahut Ibu-Ibu di sebelahnya. Tanpa menghiraukan semua ucapan orang yang menasihatinya wanita itu terus menarik anak malang tersebut, sungguh kasihan gadis kecil tersebut.

Sesampainya di rumah yang sederhana berwarna hijau wanita itu malah menghempaskan tubuh mungil tersebut ke lantai.

 Raisa terjerembab ke lantai jidatnya lebam tanpa perasaan bersalah wanita itu menutup pintu dengan keras sambil berteriak memaki-maki Raisa tanpa ada rasa kasihan sedikit pun.

“Jadi anak nyusahin aja kerjaannya!!!” maki wanita paruh baya itu. Tak lama wanita yang berumur kisaran 26 tahun datang dari dapur dengan kaget.

“Yaampun Raisa!!!” wanita muda itu membantu anak malang itu yang sudah terduduk sambil menangis lalu memeluknya.

“Ibu!!!” inotasi suara wanita muda itu amat marah menatap Ibunya sambil memeluk anak itu.

Ibunya Raisa berusaha menenangkan anak itu yang sudah mulai tenang hanya terdengar isakannya saja, “Raisa sekarang masuk kamar ya.” Ujar Ibunya dengan lembut.

Anak malang itu hanya mengaggukan kepala tanda mengiyakan perintah Ibunya, setelah Raisa memasuki kamar anak itu duduk di bangku yang di hadapannya ada buku-buku.

Raisa mendengar Ibu dan Neneknya cek-cok di luar kamar yang mengarah ke pintu depan saat Raisa di hempaskan dengan kasar, “Bu, bisa gak bersikap lembut sama Raisa. Dia itu titipan Allah, darah daging Ibu juga!” ujar wanita itu.

“Gak bisa!! tahu gara-gara dia lahir masa depan kamu itu suram!!! itu semua salah kamu yang gak bisa…” Ucapan wanita paruh baya itu terhenti tatkala Ibunya Raisa menyelaknya.

“Cukup Bu!!” kata wanita malang itu yang sudah berderai air mata sambil mengisyaratkan telapak tangannya, “apa!! Emang benerkan, kamu itu ya!!! kenapa pas kamu lahirin dia kamu gak ikutin saran Ibu!!” ujar Neneknya Raisa yang masih mengungkit masalalu.

“Bu!!! itu dosa besar Bu! mau gugurin bayi!! atau mau di taruh panti asuhan!!” ujar Ibunya Raisa yang bernama Sinta.

“Kamu itu ngapain mau ngurusin anak itu pake berhenti kuliah segala!!” Ujarnya.

“Anak har...” Kalimat itu terpotong lagi.

“Cukup Bu!!! Kalo Raisa denger gimana dia ada di samping loh!!” ujar Sinta yang sama sekali sudah teriris hatinya tatkala anaknya selalu menderita karena ulah neneknya sendiri.

“Ah…sudah terserah kamu Ibu pusing.” Ujar wanita paruh baya itu lalu pergi berlalu sambil membanting pintu kamarnya yang ada di sebelah kamar Raisa dan Ibunya.

 Sinta hanya terduduk di sofa berwarna hijau ruang tamu sambil menangis tangannya memegang kepalanya.

Raisa mendengar percakapan antara Ibu dan neneknya yang bertengkar hebat tadi, Raisa hanya menulis curahan hatinya di buku kecil bersampul coklat.

Tulisan yang seperti cakar ayam ia tulis dengan detail di buku itu dengan pensil.

 

Dari, Raisa

Kenapa dari dulu nenek gak pernah sayang sama Raisa, yaallah kalo gitu aku ingin ikut sama allah aja biar Raisa bahagia, tapi sebelum Raisa ikut Allah Raisa ingin ketemu Ayah. Raisa pengen liat Ibu, Ayah, dan Raisa kaya temen-temen Raisa.

 

Nadia langsung berhenti menonton peristiwa yang diceritakan Raisa, karena mendengar suara Ibunya di pagi hari membangunkannya.

Episodes
1 PROLOG
2 Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3 Operasi usus buntu
4 Sebuah ilusi saat koma
5 lucid dream atau pertanda 2
6 Lucid Dream saat koma
7 Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8 BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9 BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10 BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11 Tersadar dari koma
12 BAB 11 : Sarah dan the black robe
13 BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14 BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15 BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16 BAB 15 : Masa lalu Raisa
17 BAB 16 : Masa lalu Raisa
18 BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19 BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20 BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21 Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22 Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23 Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24 Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25 Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26 BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27 BAB 26: Pemantapan Materi
28 BAB 27: Rencana
29 BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30 Ritual Pernikahan
31 Rencana memiliki anak
32 Cinta yang Sulit
33 Hantu Belanda Yang Posesif
34 Teman-teman Hanson
35 Gosip terbaru
36 BAB 35
37 BAB 36
38 BAB 37
39 BAB 38
40 BAB 39
41 BAB 40
42 BAB 41
43 BAB 42
44 BAB 43
45 BAB 44
46 BAB 45
47 BAB 46
48 BAB 47
49 BAB 48
50 BAB 49
51 BAB 50
52 BAB 51
53 BAB 52
54 BAB 53
55 BAB 54
56 BAB 55
57 BAB 56
58 BAB 57
59 BAB 58
60 BAB 59
61 BAB 60
62 akhir
63 EPILOG
64 Extra part
65 Sequel nya
Episodes

Updated 65 Episodes

1
PROLOG
2
Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3
Operasi usus buntu
4
Sebuah ilusi saat koma
5
lucid dream atau pertanda 2
6
Lucid Dream saat koma
7
Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8
BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9
BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10
BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11
Tersadar dari koma
12
BAB 11 : Sarah dan the black robe
13
BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14
BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15
BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16
BAB 15 : Masa lalu Raisa
17
BAB 16 : Masa lalu Raisa
18
BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19
BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20
BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21
Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22
Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23
Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24
Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25
Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26
BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27
BAB 26: Pemantapan Materi
28
BAB 27: Rencana
29
BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30
Ritual Pernikahan
31
Rencana memiliki anak
32
Cinta yang Sulit
33
Hantu Belanda Yang Posesif
34
Teman-teman Hanson
35
Gosip terbaru
36
BAB 35
37
BAB 36
38
BAB 37
39
BAB 38
40
BAB 39
41
BAB 40
42
BAB 41
43
BAB 42
44
BAB 43
45
BAB 44
46
BAB 45
47
BAB 46
48
BAB 47
49
BAB 48
50
BAB 49
51
BAB 50
52
BAB 51
53
BAB 52
54
BAB 53
55
BAB 54
56
BAB 55
57
BAB 56
58
BAB 57
59
BAB 58
60
BAB 59
61
BAB 60
62
akhir
63
EPILOG
64
Extra part
65
Sequel nya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!