Gadis itu bangun setelah mencium aroma yang membuatnya bersin, ia terduduk di atas kasur itu dengan seprai berwarna maroon.
“Je sudah sadar?” ujar Mayor Jendral yang berdiri di sampingnya sambil melipat kedua tangannya, Nadia hanya mengangguk dengan lemah sambil memegang kepalanya nyeri.
“Nadia je kenapa?” kata Hanson yang duduk di sampingnya.
“Saya gak tahu. Tiba-tiba kepala saya pusing,” ujar Nadia yang sudah membuka matanya dengan sempurna.
“Apa mungkin je sedang hamil.” Ucapan itu tiba-tiba saja menyembur dari mulut Hanson, yang langsung membuat ayahnya dan Nadia langsung kaget sambil membulatkan mata.
“Apa maksudnya Hanson? kamu kan belum pernah menyentuh saya,” ujar Nadia.
Willem hanya diam melihat kekacauan yang sedang terjadi.
“Nadia!” tiba-tiba Mayor Jendral Willem bicara dan ikut duduk di kasur lalu menatap tajam Nadia, gadis itu merasa takut di tatap seperti itu oleh pria belanda yang paruh baya ini.
“Apa benar je hamil?” nadanya menjadi proposional, tetapi tatapannya sangat tajam dan intens seperti ingin menelan Nadia hidup-hidup.
Hanson menjadi menatap Nadia dengan tatapan yang sulit di mengerti, antara ya atau tidak bisa saja mungkin.
“Jawab!!” suara Menner Willem mengentak tatkala tidak sabar menunggu diamnya gadis ini, Nadia yang terkejut menjawab dengan menunduk lalu menggelengkan kepala dengan ketakutan.
“Tidak saya----” Ucapan Nadia dipotong oleh Hanson dengan mengatakan, “ik akan panggil Dokter pribadi keluarga Van Buthjer.” Hanson yang keluar kamar hanya tersisa Nadia dan Wilem, pria baya tersebut kemudian mendekati Nadia lalu mencengkram dagu gadis itu dengan tangannya.
“Dengar gadis inlander kotor. Jika sampai je hamil, ik tidak akan biarkan cucu ik di rawat oleh je.” Setelah itu Willem melepaskannya dengan kasar lalu berlalu pergi.
“Apa tidak boleh merawat!! bagaimana mungkin bisa seorang Ibu yang di pisahkan dari anak dan anak yang dipisahkan dari Ibunya,” batin Nadia lalu dengan lancang air mata itu berjalan mengalir.
“Dimana hati nurani pria itu! lebih baik ia pergi membawa anaknya hidup kelaparan di bandingkan harus tidak merawat anaknya sama sekali.” Nadia mendekap kedua lututnya dengan terisak berharap yang dikatakan Hanson tidaklah benar.
Tiba-tiba Dokter masuk ia seorang pria wajahnya eropa rambutnya pirang kemerahan, hidungnya agak lancip dan tinggi, tetapi tidak selancip serta setinggi Hanson tubuhnya gempal usianya sepertinya hampir sama seperti Menner Willem.
“Nyai, may I have permission to check on you?” Nadia mengerti apa yang dimaksud Dokter ini, karena ia bisa dalam bahasa inggris.
Gadis itu hanya menganggukkan kepala tanda setuju, selesai diperiksa Nadia mengajukan pertanyaan.
“Sir, how is my condition? Am I pregnant?” tanya Nadia yang penasaran pada kondisi tubuhnya, gadis itu berharap semoga dirinya tidak hamil.
“Nee, je bent niet zwinger.” Ujar dokter tersebut dalam bahasa Belanda yang artinya tidak karena Hanson pernah menggunakan kosakata itu dalam berkata tidak (nee).
Nadia langsung menghembuskan nafas lega tanda hal yang di khawatirkan tak akan terjadi. Hanson masuk kamar Nadia tersenyum tipis, tetapi raut wajah pria itu tidak baik-baik saja ada sedikit rasa marah dan kecewa, Hanson masuk kamar lalu menggenggam tangan Nadia kemudian menciumnya.
“Nadia ini pertemuan terakhir antara je dan ik. Suatu hari nanti je akan bertemu kembali dengan ik, kalo bertemu lagi ik ingin je memiliki anak, ik ingin anak dari je seorang gadis inlander yang cerdas.” Nadia merasa dipuji oleh Hanson, tetapi di lain arti ia tidak tahu maksud pria berambut pirang di hadapannya.
“Apa maksudnya Hanson?” ungkap Nadia sambil mengerutkan keningnya.
“Je akan lihat nanti malam,” ujar Hanson langsung mencium kening Nadia lalu pergi berlalu keluar kamar meninggalkan Nadia seorang diri
Hanson dan Nadia sedang bermesraan di malam hari awalnya Nadia sedang menghadap jendela kamar, melihat taburan bintang di langit malam Batavia yang dingin tak lama Hanson memeluknya dari belakang karena sehabis pulang dinas.
“Apakah je sedang menunggu ik, Nadia.” Hanson semakin posesif dengan menyandarkan dagunya di bahu Nadia.
“Kamu mandi dulu pakai air hang---” Nadia yang belum menyelesaikan kalimatnya terputus tatkala ia melihat keluar jendela.
Hanson dan Nadia melihat para pejuang Pribumi menyerang markas kediaman keluarga Van Buthjer, Hanson langsung menuju lemari kamar lalu mengambil pistol antik dan beberapa peluru, terakhir memasukannya ke dalam baju sebelum keluar kamar Hanson berpesan pada Nadia.
“Nadia ik mau bicara sesuatu, ini terakhir kalinya ik dan je Bersama. IK HOU VAN JOU.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Hanson segera berlari keluar kamar tanpa mempedulikan panggilan Nadia.
Nadia juga berlari keluar kamar, menuruni tangga, dan keluar rumah. Keadaannya sungguh kacau banyak para gadis pribumi berlari tanpa arah dan tujuan, Nadia mencari Hanson yang entah dimana tentara pribumi dan belanda saling menembak.
Dia terus berlari juga mencari Hanson tak lama tubuhnya bertabrakan dengan pria pribumi berkulit sawo matang, menyematkan lencana di bajunya, serta ikat kepala. Pria Pribumi itu berhasil menangkap tubuh Nadia agar tidak terjatuh.
“Kamu gak apa-apa?” ujar pria itu dengan logat Jawa yang kental sambil memegang tubuh Nadia.
“Nama saya Adi.” Nadia jadi terdiam ia bingung harus menjawab apa, di tengah orang-orang yang berlari dan saling menembak seolah ini ilusi.
“Saya Nadia,” ujarnya.
“Ayo lebih baik Nyai ikut kami.” Adi mengulurkan tangan-nya lalu Nadia menggeleng perlahan mundur dan berlari.
Hal yang sungguh bodoh dilakukan oleh gadis itu, malah ia mencari Hanson pria yang secara jelas telah menyakitinya. Nadia berlari tak tentu arah memanggil siapa saja yang ia kenali, BU Marsih, Pak Harno, Ajeng, Lasmi, dan Endah.
Tak lama berlari gadis itu menyipitkan mata tatkala Hanson sudah dikepung dan dihajar oleh tiga pemuda pribumi lalu para pemuda itu menodongkan senapan tepat di samping pelipis Hanson, Nadia melihat ke samping bawah lalu mengambil pistol yang tergeletak di tangan serdadu belanda yang sudah tewas karena peluru yang menancap tepat di jantung dan lehernya.
Nadia berlari ke arah Hanson lalu bersembunyi di semak setelahnya ia menembak ketiga pribumi itu yang ingin membunuh Hanson, biarlah dirinya seorang penghianat bangsanya sendiri ini semua ia lakukan demi cinta.
Nadia tepat waktu saat pelatuknya ingin ditarik ia lebih dulu menembak ketiga pemuda itu.
“HANSON!!” Nadia berlari sekuat tenaga menuju Hanson dengan lebam di wajahnya, Hanson juga berlari mendekatinya berjalan tertatih sambil memegang dadanya.
“NADIA!!” teriak Hanson juga mereka saling mendekap seperti ini yang terakhir kalinya.
“IK HOU VAN JOU, HANSON.” Nadia mulai fasih berbahasa belanda.
“IK HOU OOK VAN JOU, NADIA.” Balas Hanson sambil mempererat pelukannya.
Tak lama Hanson terjatuh, tatkala kepalanya tertembak peluru yang di lepaskan oleh Adi pemuda yang menolong Nadia barusan.
“Selamat tinggal Nadia, suatu saat kita akan bertemu lagi.” Kata-kata terakhir Hanson yang kepalanya di pangku oleh Nadia dengan darah pria Belanda ini mulai merembes membasahi rok Nadia.
Gadis itu berteriak histeris tatkala kekasih yang ia impikan telah tiada dan menatap benci Adi. “Hanson!!” teriak Nadia.
Gadis itu sekali lagi mengambil pistol di sampingnya yang ia gunakan tadi untuk membunuh tiga pemuda Pribumi saat ingin menyerang Hanson, lalu menembakan diri sontak gadis itu langsung tergeletak di samping Hanson yang juga sudah tak bernyawa.
Nadia menatap langit di penuhi bintang di langit malam Batavia dan sayup-sayup masih mendengar kegaduhan kemudian giliran Nadia yang mengucapkan kata-kata terakhir untuk jasad Hanson yang sudah berlumuran darah disampingnya.
“SELAMAT TINGGAL CINTA ABADI.” Kalimat terakhir Nadia yang menoleh ke samping setelahnya menutup mata.
Di saat itu the black robe atau si jubah hitam datang dengan membawa arloji di tanganya seolah mengatur waktu dan dimensi lalu menarik roh Nadia dari tubuhnya yang sudah terbujur kaku di tanah karena luka tembak di kepala hasil karyanya ia melihat sejenak tubuhnya sebelum menatap the black robe.
“Sudah waktunya kau kembali.” Ucap si jubah hitam sambil memegang tangan Nadia dan secara tak terduga ada pusaran waktu terdengar bunyi jarum jam dan membawanya ke alam sadar Nadia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Smile
Aku jg sedikit bingung dgn alur ceritanya,, disini Thor menceritakan kl Nadia dan Hanson meninggal tp di Bab berikutnya malahan mereka bertemu dan Nadia nya mengandung anaknya Hanson
2021-01-02
1