Panas terik matahari amat menyengat membuat Nadia memayungkan kepalanya dengan telapak tangan di atas kepalanya sambil berusaha mencari tahu, gadis itu melihat kaca di pinggir jalanan lalu bercermin. Nadia amat terkejut saat melihat bayangan dirinya memakai pakaian lusuh dan wajahnya di penuhi dengan debu. Nadia berusaha meminta pertolongan kepada orang sekitar.
Lebih herannya lagi banyak orang-orang berwajah Eropa yang memperlakukan kasar orang-orang seperti dirinya, terlihat dari arah kejauhan ada segerombolan orang berwajah Eropa membawa atau lebih tepatnya menggiring gadis-gadis berpakaian kebaya dan rok batik serta memasukannya ke dalam sebuah truk pengangkut.
Awalnya Nadia heran, tetapi tak lama dirinya juga terkena jeratnya. “Lepaskan saya!! kalian siapa?” meronta-ronta pun percuma karena mereka menodongkan senjata yang mampu menciutkan nyali Nadia.
Gadis-gadis itu di angkut menggunakan mobil. Mereka semua berdesak-desakan di dalam mobil, Nadia jadi teringat ibu dan adiknya ingin di bawa kemana dirinya Bersama orang-orang aneh ini.
Apa ini akhir hidupnya? Semuanya hanya diam terlihat ketakutan di wajah gadis-gadis yang di angkut ke dalam mobil, ternyata dugaan Nadia salah.
Dia beserta gadis-gadis yang lain di angkut dan di bawa ke tempat yang dimana terdapat gubuk-gubuk serta di tempati gadis-gadis pribumi.
Setiap gubuk berisi dua orang gadis para serdadu berwajah Eropa dan campuran (Indo-Belanda) itu menyuruh gadis-gadis turun dengan menggunakan bahasa yang sama sekali tidak di mengerti dengan tindakan kasar.
Nadia menempati salah satu gubuk ada gadis pribumi yang bernama Endah umurnya dua tahun lebih tua dari Nadia, Endah tujuh belas tahun sedangkan Nadia lima belas tahun.
Nadia duduk di atas kasur yang terbuat dari bambu tak lama seorang gadis yang lebih tua datang dengan membawa bakul berisi cucian kotor di tangannya.
Nadia tersenyum lalu di balas senyum olehnya, Nadia mengulurkan tangannya tanda ingin saling mengenal kedua nya tersenyum dengan canggung.
"Nama saya Nadia.”
Nadia dengan perkenalkan diri yang diawali malu.
“Nama saya Endah tidak perlu canggung sama saya," kata Endah dengan santai seperti sudah akrab lama, “ayo mandi dan ganti baju kamu!” ajak Endah.
Nadia hanya anggukan kepala tanda masih asing. Nadia mudah membaur dengan mereka semua gadis-gadis pribumi rata-rata berkulit sawo matang, sedangkan Nadia berkulit putih kecoklatan dengan tubuh tinggi sedikit gemuk.
Wajar saja Nadia selalu merawat diri saat di rumah. Nadia mulai membersihkan tubuhnya yang penuh debu dan kotor, merasa sudah bersih betapa heran gadis-gadis itu melihat Nadia dengan kulit yang terawat.
“Ada apa kalian melihat saya begitu?” tanya Nadia dengan heran. Mereka semua hanya menggelengkan kepala lalu tersenyum.
“Kak Endah abis dari sini kita akan apa?” tanya Nadia kepada Endah yang mencuci di sebelahnya sambil membantu Endah.
Kali ini bukan Endah yang menjawab, tetapi gadis di sebelahnya Nadia yang sedang mencuci pakaian.
“Kita akan masak dulu, baru kita boleh makan setelah mereka semua.” Sambung gadis di sebelahnya yang Namanya Lasmi sambil menunjuk para serdadu yang mengobrol.
Setelah mereka semua mencuci dan mandi para gadis di boleh ‘kan kembali ke gubuk masing-masing, dari situ banyak para serdadu belanda yang melihat lapar ke arah Nadia dan gadis-gadis yang lain.
Nadia selalu di samping berdekatan dengan Endah dan Lasmi saat berjalan.
“Nadia selalu bersama kami jangan terlepas!” perintah Lasmi yang mengenggam erat tangan Nadia dan sudah mengambil ancang-ancang melihat empat serdadu Belanda yang mabuk.
Sesampainya di gubuk. Mereka masuk ke gubuk masing-masing Endah menyiapkan rok batik untuk di kenakan Nadia, gadis ini nampak cantik mengenakan baju kebaya bewarna biru dan rok batik rambutnya di jepit ke belakang.
Tanpa sadar Nadia bisa membaca merek jepitan dan sisir yang mereka berdua gunakan.
Endah terperangah biasanya hanya kaum priyayi atau bangsawan yang bisa membaca dan menulis. Sontak Nadia dengan senang hati menawari Endah dan gadis-gadis yang lain mengajari membaca dan menulis.
Nadia di sekolah tidak terlalu pintar rankingnya selalu dua puluh besar, tetapi setidaknya ia bisa membantu bangsanya di zaman ini lewat Pendidikan.
Tentu saja dengan senang hati juga Endah menerima tawaran itu segera setelahnya Endah akan memberitahu gadis-gadis yang lain soal kabar bahagia ini.
“Beneran berarti nanti kita bisa pinter dong.” Lasmi berbicara dengan antusias beserta lima gadis yang berkebaya lainnya. Nadia hanya mengangguk.
Mereka semua gembira, tetapi Nadia harus mencari waktu yang tepat untuk mengajar.
Tak lama saat sedang berbincang dengan Lasmi dan Endah salah satu serdadu berteriak sambil menembaki peluru ke atas menyuruh mereka semua masuk ke dapur untuk memasak karena para serdadu belanda sudah kelaparan.
Para gadis di giring dengan cara yang kasar tak henti-hentinya para serdadu itu menembaki peluru ke atas.
Gadis-gadis yang masih baru di gubuk itu ketakutan hanya bisa pasrah sambil menutup kedua telinga mereka dengan tangan termasuk Nadia dan Endah.
Di dapur Nadia melihat cara masak masih dengan cara tradisional dengan menggunakan kayu bakar dan tungku. Peralatannya juga masih dengan tanah liat dan kayu.
“Kalo begini kapan selesainya,” batin Nadia dalam hati sambil mengupas sayuran.
Nadia mulai merasa bosan untuk mengusir rasa bosannya ia secara diam-diam keluar sebentar sambil berjalan menyusuri tempat ini.
Nadia berjalan Sambil menikmati bangunan khas jaman kolonial ini, gadis itu asyik berjalan, tetapi matanya selalu waspada takut ada penjaga yang melihatnya.
Tak lama matanya melihat dua orang pria Belanda sedang berbincang, sontak dia bersembunyi di balik tembok sambil mengintip pria paruh baya berwajah Eropa dengan pakaian militer di penuhi lencana di kanan dan kirinya, sedang berbicara dengan pemuda yang berumur dua puluh tahunan yang juga memakai pakaian militer.
Gadis bertubuh padat itu langsung bersembunyi di balik tembok kemudian mendengar percakapan kedua pria belanda yang berbeda umur itu, dengan bahasa yang sulit di mengerti tentunya.
“Itu ‘kan cowok yang di mimpi gua waktu itu.” Batin Nadia itu sambil memperhatikan secara seksama.
Nadia merasa bahagia akhirnya dirinya bisa bertemu dengan pujaan hatinya pemuda itu berambut pirang keemasan saat tertimpa cahaya matahari, matanya biru seindah laut, dengan postur tubuh menjulang tinggi. Sambil tersenyum ia terus melihat si pirang.
“Je sedang apa disini?!” Nadia terkejut dan menoleh ke belakang arah sumber suara itu, ternyata seorang serdadu memergokinya.
“Maafkan saya Tuan, saya akan kembali ke dapur.” Nadia bicara dengan nada suara yang ketakutan kemudian berjalan melewati serdadu yang wajahnya di penuhi kumis berwarna pirang.
Nadia dengan kepala yang menunduk berjalan melewati pria Belanda ini, “tunggu je mau kemana?” serdadu itu mencekal tangan Nadia membuat gadis itu berhenti dan mendongakkan wajah ke arah serdadu itu.
”Je cantik sekali.” Serdadu itu tersenyum misterius sambil menyeringai, sontak Nadia dengan cepat menghempaskan lengannya kasar lalu berlari menuju dapur dan bersembunyi di belakang Endah.
“Nadia kamu kenapa?” tanya Lasmi.
“Saya tadi---” sebelum Nadia menyelesaikan kalimatnya seorang prajurit belanda berada di ambang pintu dapur yang membuat Endah dan Lasmi menoleh termasuk gadis-gadis lain.
Serdadu itu berteriak marah dengan bahasa yang sulit di mengerti mata biru miliknya seolah mencari gadis yang menarik perhatiannya.
Endah segera menarik Nadia berlari dan bersembunyi di dalam gudang rempah yang terletak di belakang dapur.
“Kamu tetap disini sampai keadaan aman.” Nadia hanya menggagukan kepala tanda mengerti. Dari dalam dapur masih terdengar kericuhan sampai keadaan mulai tenang.
Nadia dalam hati merasa bahagia karena bisa bertemu pujaan hatinya meskipun ini hanya ilusi atau pertanda, tetapi ia sama sekali tidak tahu nama pujaan hatinya.
Apa sebaiknya ia tanya saja pada Endah atau Lasmi. Setelah serdadu itu keluar dari dapur Endah membuka pintu Gudang rempah, Nadia langsung memeluk Endah.
“Kak Endah aku takut.” Endah mengusap kedua pundak Nadia, “kamu sekarang aman, ayo kita ke dapur.” Endah membawa Nadia kembali ke dapur. Saat di dapur para gadis menatap Nadia dengan wajah tanpa ekspresi.
“Nadia!! lain kali kamu jangan terpisah dari kami!! dasar anak baru menyusahkan saja!!” seorang gadis yang tampak lebih tua dari gadis-gadis yang lain memaki dan memarahi gadis kecil ini sambil berdecak pinggang, gadis itu berkulit cokelat, dengan rambut hitam tergulung asal-asalan.
Setelah puas memarahi Nadia gadis itu langsung melenggang pergi.
“Nadia udah, jangan masukin dalam hati ya.”
Gadis yang seumuran yang berada tepat di sebelahnya, Nadia hanya tersenyum sambil mengangguk kepala lalu dua gadis seumuran itu mengaduk sup yang berukuran kuali besar sedangkan Endah menyiapkan sekeranjang roti dan nasi, saat sudah matang gadis-gadis yang lain bergantian menyuguhkan untuk para serdadu.
Setelah para serdadu itu makan para gadis baru di perbolehkan menyantap sisa makanan para serdadu Belanda.
Nadia merasa jijik dengan semua itu jadi ia mulai ke dapur mengambil sup yang ia sengaja taruh untuk dirinya, memang gadis itu cukup cerdik dan pintar hanya dirinya satu-satunya gadis yang berani melakukan itu.
Setelah mereka makan Endah dan Lasmi sedang menjahit di bale depan gubuk yang di tempati Endah dan Nadia.
Nadia mendekati keduanya, Nadia mulai bertanya pada Endah dan Lasmi yang sudah ia anggap Kakaknya sendiri tentang yang dilihatnya tadi saat ke luar dari dapur, Endah memberitahu Nadia bahwa dua laki-laki Belanda yang barusan ia lihat tadi adalah ayah dan anak yang merupakan pimpinan di sini.
Sang ayah bernama Mayor Jendral Willem van Buthjer dan sang anak bernama Sinyo Hanson van Buthjer.
Di dalam hati gadis itu merasa amat gembira karena bisa bertemu dengan pria yang dia cintai dan rindukan meskipun ia tahu bahwa ini adalah alam bawah sadarnya bisa disebut alam mimpi.
“Akhirnya gua tahu namannya,” gumamnya dalam hati.
Nadia mulai memejamkan matanya sejenak angin siang yang panas di Batavia mulai menerbangkan helaian rambutnya seandainya tadi pria tersebut melihatnya entah apa yang terjadi selanjutnya.
Sesaat gadis itu sibuk berandai-andai Endah dan Lasmi menepuk pundaknya dan melambaikan tangan.
“Nadia!” Endah menepuk pundaknya.
“Iya Kak,” Kata Nadia langsung membuka mata yang membuyar dari lamunannya.
“Kamu kenapa? jangan senyum-senyum sendiri nanti kesambet," kata Lasmi.
“Gak kenapa-kenapa kok.” Nadia di sertai cengiran.
“Oh, ya udah saya mau pergi kesana dulu.” Ucap Lasmi, saat ingin pergi dari bale bamboo Nadia mencegahnya.
“Kak Lasmi tunggu dulu, ayo kita belajar membaca.” Lasmi dan Endah saling menatap sejenak lalu mereka secara serempak bicara.
“Mau!” dengan wajah gembira, Nadia mengambil batu kapur dan sebuah papan kayu untuk di jadikan media belajar.
Endah dan Lasmi diajari kata-kata dasar dan huruf dua jam berlalu mereka mulai bisa menulis dan membaca yang hanya berupa kata-kata dasar. Seperti: Saya, kamu, dimana, kemana, bagaimana, siapa, baik, buruk, dan sebagainnya.
Endah dan Lasmi mulai bisa membaca dan menulis meskipun tulisannya masih seperti cakar ayam, Nadia juga meminta agar ini menjadi rahasia kalo mereka sudah lancar membaca dan menulis mereka harus mengajari gadis-gadis lain yang tinggal di gubuk.
Ternyata waktu yang tepat untuk belajar dan mengajari adalah setelah makan siang para serdadu. Sejak saat itu Nadia, Endah, dan Lasmi mulai akrab, sedangkan gadis-gadis lain melihatnya menjadi iri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments