SETELAH MAKAN SIANG TADI
“Marsih cepat bereskan semuanya!!” Hanson memerintahkan seorang Bandide perempuan untuk membereskan piring dan peralatan makan yang kotor serta makanan sisa.
Marsih wanita tua datang tergopoh-gopoh lalu membereskan semuanya, Nadia melihatnya tidak tega jadi ia langsung berdiri dari kursi lalu ikut membereskan yang ada di atas meja makan.
Hanson yang sedang membersihkan giginya dengan tusuk gigi melihat kelakuan Nadia, si pirang langsung menghentikan kegiatannya membersihkan gigi dengan tusuk gigi dan mulai mendebrak marah.
“Nadia!!” teriak Hanson, dua wanita yang sedang membereskan meja makan langsung kaget dan menatap Hanson.
“Ada apa Hanson!?” kata Nadia dengan suara yang meninggi.
“Apa yang je lakukan!? taruh kembali biar Marsih yang bereskan!” kata Hanson dengan mata yang tajam.
“Udah nyai biar saya aja.” Marsih merasa lancang dan meminta kekasih majikannya berhenti.
“Taruh kembali Nadia!!” tekan Hanson.
Nadia menatap Marsih dengan sendu dan menatap Hanson dengan tatapan tidak suka, karena tidak mau cari masalah Nadia menuruti keinginan Hanson dan duduk kembali.
“Dan Je Marsih cepat sedikit dasar inlander!!” gentak Hanson, mendengar perintah dari majikannya wanita itu mempercepat membereskan piring kotor tersebut.
Marsih yang sudah selesai membereskan semua, lalu pergi sambil menunduk sopan.
Hanson menatap Nadia dengan tatapan yang sulit di mengerti, Nadia yang sedang minum dari gelas langsung melihat tingkah Hanson yang aneh.
“Kenapa Hanson melihat aku begitu?” Nadia menaruh gelasnya kembali di atas meja.
“Je cantik.” Kedua pipinya Nadia langsung memerah.
“Hanson kamu jangan begitu ama Bu Marsih kan kasian,” kata Nadia.
“Dia cuman bandide.” Hanson menjawab dengan enteng lalu kembali membersihkan giginya.
“Aku tahu coba kamu lain kali nyuruhnya yang sopan.” Hanson memutar bola matanya jengah, “sebaiknya je berkeliling rumah ini, untuk mengusir rasa bosan, tapi jangan lakukan hal yang berbahaya.” Hanson sambil menyesap anggur di gelasnya.
“Dengan kamu. Kita bisa berkeliling rumah dan taman,” kata Nadia.
“Ik mau, tapi nanti ik ada tugas dinas pulang malam dan je tidak boleh ke area gubuk atau ke luar rumah kecuali kebun dan halaman rumah!” perintah Hanson seolah Nadia itu adalah istrinya.
Nadia langsung diam dan mulai bertanya pada Hanson yang kembali menyesap anggur di gelasnya. “Kapan kamu berangkat dinas? dan dimana kamu nanti tugas?” pertanyaan Nadia membuat Hanson tersedak.
Nadia berdiri dari kursi lalu menepuk pundak Hanson setelah baikan, Hanson langsung tersenyum kemudian menarik Nadia untuk duduk di atas pangkuannya.
“AAAA!!” teriak Nadia.
“Tolong jangan disini,” ujar Nadia bicara dengan nada suara yang kesal sambil mendorong tubuh kekar Hanson yang ingin lebih jauh.
“Kenapa jangan hiraukan.” Hanson semakin mempererat pelukannya, Nadia sangat malu melakukan hal ini apalagi di depan para Bandide memang mereka sudah biasa melihat Hanson seperti itu.
Siangnya sebelum Nadia berjalan-jalan di taman dan kebun keluarga Van Buthjer, Hanson meminta Nadia ke kamarnya untuk membantunya memakai pakaian dinas sama seperti istri lainnya.
Setelah berpakaian seragam lengkap dengan senjata pistol dan lencana Hanson berangkat lalu memperingatkan Nadia seperti istri sedangkan, Nadia mengiyakan seperti istri yang patuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu telah memasuki senja para Bendide atau jongos sibuk menyalakan lampu lilin kuno Hanson juga akan pulang malam jadi Nadia memasuki kamar sambil membaca buku di kamar karena jaman dulu mana mungkin ada handphone.
Nadia juga ingat dia harus solat magrib jadi ia memberanikan diri ke kamar para Bendide yang terletak di paviliun di belakang rumah dekat taman untuk meminjam mukena, para bendide awalnya kaget melihat kekasih majikannya ada di depan pintu.
“Permisi,” Nadia berkata dengan nada yang sopan.
“Iya,” kata salah satu jongos yang lebih muda. “Nyai ada apa kesini?” kata Baboe itu.
“Saya kesini mau pinjam mukena boleh gak Bu?” pinta Nadia.
Para Bendide langsung memberikan mukena untuk Nadia, agar bisa melaksanakan solat magrib.
Setelah selesai melaksanakan solat magrib, Nadia mengembalikan mukenanya dan mengatakan terimakasih kepada bendide yang mau meminjamkan mukena.
“Makasih mukenanya.” Nadia sambil menyodorkan Mukena, yang berwarna putih itu.
“Oh, ya nama kamu siapa?” tanya Nadia.
“Nama saya Ajeng nyi,” jawab wanita itu.
“Oh Ajeng. Kenalin aku Nadia,” ujar Nadia dengan ramah.
Ajeng tidak mau nanti ia kena marah oleh Hanson jadi wanita itu berusaha mengalihkan perhatian, dengan menanyakan Nadia sudah makan atau belum.
Nadia menjawab belum dan Ajeng beserta Marsih mau menyiapkan makanan buat Nadia, saat di dapur Nadia menghampiri keduanya.
“Nyai Nadia.” keduanya yang terkejut.
“Hanson 'kan pulang malam jadi saya hanya ingin di masakan nasi goreng daging dan telur aja ya,” kata Nadia dengan santun.
“Minumnya air putih hangat aja ya, Bu.” Suruh Nadia dengan nada yang santun seolah gadis itu berpendidikan.
Ajeng dan Marsih tersenyum sambil mengatakan, “baik Nyai.” Setelah itu Nadia duduk di meja makan.
Tak lama masakan yang di pesan Nadia selesai, gadis itu makan dengan santai setelah selesai gadis itu meminum air putih hangatnya.
Nadia segera membereskan peralatan makan yang digunakannya untuk makan, tapi Ajeng melarangnya.
“Nyai Nadia!” panggilnya, Nadia langsung menoleh ke Ajeng lalu menaruhnya kembali di atas meja.
“Nanti saya di marahin ama Sinyo, biar saya ama Bi Marsih aja. Nyai lebih baik ke kamar Sinyo Hanson aja,” saran Ajeng.
“Maaf ya ajeng aku---” Belum sempat Nadia bicara, tapi sudah ada Marsih yang bicara.
“Gak perlu minta maaf, ini sudah tugas kami lebih baik Nyai ke kamar saja.” Nadia langsung menurut karena ia tidak mau kedua wanita itu, jadi kena marah lagi oleh Hanson seperti tadi siang.
Nadia saat di kamar Hanson hanya membaca buku di cahaya yang temaram karena hanya ada lampu lilin, gadis itu tidak tahu sudah jam berapa sekarang karena keasyikan membaca buku.
Gadis itu tidak sadar bahwa Hanson sudah datang dan melepas pakaiannya.
“Liefste!” panggil Hanson, Nadia terbuyar dan baru menyadari kalo Hanson baru pulang Dinas.
“Hanson kamu sudah pulang. Sebaiknya kamu mandi dulu biar tidur agak enak,” usul Nadia.
“Hanson!” merasa di panggil sang pemilik nama langsung menoleh dan menyahut.
“Sebaiknya kamu mandi pakai air hangat aja malam ini dingin.” Hanson tersenyum dan membenarkan ucapan gadis itu.
Sesudah selesai Hanson melihat Nadia yang sibuk melihat keluar jendela malam, Nadia menoleh saat merasa kehadiran Hanson ternyata pria itu sedang memilih pakaian di depan lemari.
Saat sedang berpakaian ia melihat tubuh Hanson tanpa busana nampak menawan, kulitnya putih gading mulus tanpa cela dan berbentuk badan atletis ditambah rambutnya yang berwarna pirang di bawah cahaya temaram lilin.
Setelah selesai berpakaian Hanson melihat kekasihnya membeo lalu ia menarik tubuh mungil itu ke pelukannya. Nadia baru tersadar jika dia sedang dipeluk oleh si pirang, “Han-Hanson,” merasa di gendong.
“Kenapa liefste?” Nadia langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Hanson.
”Ik punya sesuatu untuk je.” Kalimat Hanson mampu membuat Nadia penasaran, tapi gadis itu hanya tersenyum menyembunyikan rasa penasarannya.
Hanson mendudukan tubuh gemuk Nadia di depan meja rias dan hanya terdapat sisir dan juga parfum terletak di atas meja rias yang terbuat dari kayu, di hadapannya juga terdapat cermin berukuran sedang.
Dari dalam saku celananya Hanson mengeluarkan kotak berwarna keemasan yang bergambar lukisan khas eropa dan membukanya yang berisi kalung emas dan berliotin huruf ‘N’ lalu memasangkan di leher Nadia. Tak hentinya gadis itu berterimakasih sambil tersenyum.
“Je suka Lieve?” tanya Hanson yang menyandarkan dagunya di bahu Nadia.
“Saya sangat suka Sinyo, terimakasih.” Nadia sambil menurunkan kelopak matanya, Hanson langsung menurunkan dagunya dan menatap wajah Nadia.
“Jangan panggil ik Tuan, cukup Hanson saja.”
Hanson sambil memegang kedua bahu Nadia dengan kedua tangannya, Nadia hanya menganggukkan kepala tanda mengiyakan perintah Hanson lalu Nadia merasakan pria di hadapannya menempelkan bibirnya di bibir miliknya.
Hanson merasakan manisnya ciuman dari bibir Nadia, seperti wine anggur memabukkan yang pernah ia minum saat di rumah atasan sang ayah.
Ciuman yang manis dan mendamba tak pernah ia merasakan ciuman yang manis dan mendamba, seperti ini sekalipun dari gadis Eropa yang pernah satu sekolah menengah dulu.
Tak lama Hanson menggendong tubuh gemuk Nadia bukan gemuk lebih tepatnya berisi, sangat jarang Hanson Van Buthjer menemui gadis inlander seperti ini.
Kulitnya kuning langsat kecoklatan yang terawat di miliki gadis ini wajar saja Nadia, setiap di rumah sehabis mandi sering menggunakan lotion serta tubuh gemuk atau berisi milik gadis ini.
Setelah merenggut ciuman yang memabukkan dari gadis itu, Hanson mengendong tubuh Nadia dengan refleks kedua tangan gadis tersebut mengalungkan diri di leher si pirang.
Hanson menidurkan Nadia di ranjang, tapi tidak menyentuhnya, dan Hanson membaringkan diri di sebelahnya lalu meniup lilin di atas meja jati dan tertidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Novi Astuti
belum tau arahnya kemana sih, tpi coba menikmati aja dulu
2020-12-31
0
Ashland Athie
ga jelas ya cerita nya,
2020-12-30
1