BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang

Diary, Nadia

Aku gak habis pikir kenapa harus gua yang punya beginian, dari dulu hidup gua penuh masalah. Tapi aku bersyukur karena keluarga aku gak serumit keluarganya Raisa dari kecil orangtua gua udah bersatu, sedangkan Raisa yah gak perlu di jelasin detailnya. Dari kisah hidup Raisa gua belajar kalo tuhan punya rencana tak terduga untuk hambanya. So now I’m just grateful, termasuk di berikan kemampuan indigo.

 

Nadia menutup buku diarynya lalu belajar untuk hari senin, yakni Matematika, setelah UN tinggal UNBK setelah itu lulus dan tak sabar untuk kelulusan.

Besok sabtu ia masuk sekolah menggunakan seragam pramuka jadi ia hanya menyiapkan saja, apalagi besok pulang jam sebelas siang sekalian ke rumah Raisa.

“Nadia lampunya nyalain kalo belajar.” Perintah sang Ibu, gadis itu mengagguk untuk melaksanakan perintah Ibunya.

“Belajarnya jangan kemaleman.” Lanjutnya lagi.

“Iya Bu.” Lalu sang Ibu turun ke bawah untuk tidur karena sudah jam sepuluh malam.

Besok hari sabtu hanya ada dua mata pelajaran saja jadi Nadia memasukan dua ke dalam tasnya dan jacket abu-abu hitam untuk menutup atasnya saja, Nadia sebelum tidur tak lupa mencuci wajah dan menyikat gigi karena ia sedang berhalangan jadi ia tak solat terlebih dahulu.

“Raisa aku temuin orangtua kamu besok.” Ucap Nadia. Setelah gadis berambut pendek segi itu pegi tidur, saat membuka matanya ia tertidur di atas bunga warna-warni yang di taburkan di taman yang indah.

 Gadis itu menyadari dirinya memakai gaun putih dengan kerah baju renda rumit, dan panjangnya sebawah lutut dengan tubuh masih terbaring di atas taburan bunga.

Seolah ilusi Nadia tahu ini adalah lucid dream yang bisa saja jadi nyata, Nadia menoleh ke samping kiri tatkala tanganya di sentuh oleh seseorang saat menoleh ke samping ia melihat seorang pria menggunakan seragam militer, bibirnya tipis kemerahan, matanya biru seindah langit yang sedang cerah, dan Nadia baru menyadari jika pria ini berwajah Eropa.

 Senyumnya sangat manis tangannya mengenggam tangan milik Nadia kemudian mengecupnya.

“Ik hou van je.” Ucap pria itu artinya Nadia tahu aku cinta kamu, karena sewaktu koma saat operasi ia juga pernah mengalami lucid dream.

 “Je dan ik akan segera bertemu, tunggu ik.” Nadia ingin mengucapkan satu kalimat tapi mulutnya seolah bungkam tak bisa menjawab.

“Mijn name Hanson Van Buthjer.” Ucapnya memperkenalkan diri.

Nadia memejamkan matanya ia merasa bibir kemerahan itu mengecup keningnya tangannya juga di gengam oleh pria Eropa berseragam di hadapannya ini.

Pagi ini sang surya belum sepenuhnya menyinari bumi tetapi seorang gadis sudah tiba di sekolah. Nadia menaiki tangga sekolah untuk menuju kelasnya, masih sangat pagi Nadia berfikir sejenak untuk ke kelas 9D yang terletak di bawah tanpa pikir Panjang Nadia segera menuju ke bawah untuk menemui dua sahabatnya Ananda dan Ningrum.

Saat ingin menuruni anak tangga ada anak laki-laki yang menghinanya dengan amat kesal Nadia meneriaki sekumpulan anak laki-laki tersebut.

“DASAR MENTAL BANCI!!” teriak marah Nadia, yang membuat para anak laki-laki itu menepuki Nadia selayaknya hero. Sesampainya di kelas 9D Nadia mengagetkan kedua sahabatnya. “Hallo beb’s.” Kata Nadia dengan gembira dengan menyembunyikan kekesalannya. “Woy sini duduk, ambil bangku.” Ucap Ningrum.

“Eh lu mau daftar dimana? abis lulus.” Ujar Ningrum. “Gua MAN enam.” Ucap Ananda. “Kalo gua di MAN empat belas itu pun kalo dapet. Yah jika gak dapet gua Garuda bangsa.” Ungkap Nadia. Ketiga sahabat itu bersenda gurau dan tak lama Aprilia dan Dian datang ke kelas 9D. “Woy gua liat rame bener.” Ujar Aprilia. “Kemana aja lu?” tambah Nadia yang menjawab Aprilia.

 Para sahabat itu yang rata-rata gadis manis tersebut saling bersenda-gurau sebelum mereka lulus sekolah dan memasuki alam SMA (sekolah menengah atas). Momen-momen inilah yang nanti akan di rindukan oleh Nadia, tiada lagi momen terkenang indah selain berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Tak terasa bel masuk berbunyi setelah semuanya memasuki kelas masing-masing baru speaker radio memberitahu pengumuman.

 “Semuanya perhatian hari ini pulang cepat jam dua belas siang, dan hari senin masuk seperti biasa dan pulang normal karena pemantapan materi.” Setelahnya pengumuman selesai lagi pula besok adalah hari sabtu tak apa libur dua hari.

 

Rayuan maut Budi

“Eh ya udah kita duluan ya.” Ujar serempak keduanya.

“Ya udah, bye.” Lalu dibalas bye oleh kedua sahabatnya. Saat Nadia ingin melangkah ke kelasnya tiba-tiba ia di bicarakan lagi oleh pria yang dulu waktu kelas tujuh pernah sekelas cowok di masalalu tidak menyukainya dan menghinanya, di masalalu juga Nadia mencintainya tapi seiring berjalannya waktu Nadia tidak menyukainya karena sikapnya.

“Woy cewek, sombong amat lirik dikit dong.” Budi merayunya.

“Apaan sih lu, kocak.” Ujar Nadia dengan jutek dan jual mahal.

“Widdih galak.” Ujar Budi lagi, Nadia langsung berlalu ke kelasnya untuk mengambil tas dan bergidik ngeri sehabis dirayu oleh mahluk mengerikan di seluruh semesta.

“Halo Nadia.” Kata Budi sambil membenarkan rambutnya.

Nadia hanya memutar bola matanya jenggah melihat kelakuan buaya darat yang satu ini, Budi yang dulu waktu kelas tujuh pernah menghinanya sebagai anak yatim dan masih banyak perkataan kasar yang di lontarkan pria ini, memang Budi cukup tampan.

 Hidung mancung, kulit kuning langsat, tetapi kalo soal tinggi masih kalah karena Nadia yang paling unggul.

“Apaan si lu, udah minggir apa!! gua mau balik!!” kata Nadia dengan jengkel.

 “EH, gembul hargain dong temen gua, dia ada sesuatu buat lu.” Nadia hanya diam sambil melipat kedua tangannya. Budi mulai mengeluarkan pantun recehnya.

“Meski banyak bunga di taman, bunga mawar yang aku pilih.” Lalu Budi menghentikan sejenak teman-teman disekeliling dengan serempak menagatakan ‘Cakep’.

“Meski pun wanita banyak pilihan, tetapi hanya Nadia yang ku pilih.” Lanjutnya dilanjut derai sorak dari semuanya, lalu Budi melanjutkan satu pantun lagi.

“Nadia kau tahu kenapa hatiku selalu berdetak saat melihatmu.” Ucap Budi yang mulai mendekati Nadia tapi gadis itu mundur beberapa langkah.

 “Pagi-pagi minum jamu. Di depan rumah ada bakul tahu. Sedikit malu kukatakan padamu. Sungguh aku cinta padamu.” Pantun Budi kali ini sukses membuat Nadia merona tapi bukan berarti mulai jatuh cinta lagi. Budi mulai mengeluarkan sesuatu dari belakang bajunya setelah sekali lagi merayu Nadia.

“Pergi ke pasar memakan ketan. Membeli ikan yang sudah beku. Sepenuh jiwa aku katakan. Maukah kau menjadi pacarku.” Dengan recehnya Budi mengeluarkan batang belimbing serta masih di penuhi daun dan bunga, sedangkan teman-teman yang lain menyorakinya.

 “Terima! Terima! Terima!” ujarnya seperti menyoraki lomba yang secara langsung disaksikan oleh dua sahabat Nadia, yakni Ananda dan Ningrum dari kelas 9D sedangkan Aprilia dan Nita dari kelas 9B. mereka kelas 9D yang baru selesai ujian dan 9B yang belum pulang.

“Woy!! dimana-mana nembak cewek tuh pake bunga, ini pake beginian, dasar mahluk purba lu.” Setelah itu Nadia pergi berlalu sambil menahan tawa sedangkan yang lainnya berteriak sabar ya budi.

“Bu Marsih meracik jamu. Sore-sorenya meminum jamu. Nadia dalam hatiku sudah ada dirimu. Aku tak akan menyerah untuk dapat cintamu!!!” teriak lantang Budi hingga satu sekolah terdengar sampai ia mendapatkan sorakan satu sekolah serta tepuk tangan.

Ini saatnya untuk menepati janji kepada Raisa, dengan menaiki angkutan umum Nadia menuju rumah Raisa.

“Emang dimana rumah kamu Raisa?” kata Nadia, Raisa hanya tersenyum dan membuka suara. “Kak nanti turun di margonda.” Ucap Raisa. Nadia yang tak ingin di sangka gila oleh orang-orang yang berada di dalam angkutan umum. Jadi Nadia hanya menjawab pertanyaan Raisa dengan anggukan kepala hal tersebut dimaklumi oleh anak itu.

 Raisa menyuruh Nadia turun di sebuah gang yang luas, di samping kanan gang ada jembatan untuk menyebrang jalan raya, sedangkan di sebelah kirinya ada café dan toko buku.

 Setelah membayar angkutan umum Nadia turun di gang yang dimaksud Raisa, dan menanyakan pada Raisa dimana rumahnya. Beruntung sekali ada Bapak-Bapak dengan kaos biru dan celana coklat hitam dengan kumis yang suka membantu motor, mobil, atau kendaraan lain keluar dari gang.

“Permisi Pak.” Ucap Nadia sopan.

“Eh iya Neng.” Ujar Bapak-Bapak yang sedang meminum kopi.

“Gini Pak saya mau ke rumah Om Darren, Bapak tahu?” tanya Nadia.

“Oh Pak Darren keluarga Renanta itu.” Ujar nya.

“Iya Pak.” Ucap Nadia yang tersenyum.

 “Ada perlu apa?” tanya Bapaknya. “Ini saya temannya Raisa kebetulan Ibu saya berteman dengan istrinya Om Darren, namanya Tante Sinta.” Bohong Nadia takut Bapak ini mengira Nadia adalah simpanan Om-Om dengan menggunakan seragam.

“Oh, lurus aja Neng dari sini nanti ada gang belok kiri dan disitu banyak rumah mewah, dan cari saja papan nama keluarganya. Keluarga…” Sebelum Bapak itu menyelesaikan kalimatnya tapi Nadia sudah lebih dulu pergi karena tangan ditarik Raisa.

“Oh, ya udah makasih Pak permisi.” Ujar Nadia.

“Iya Neng hati-hati.” Ucap Bapak-Bapak itu. Bapak itu heran dengan anak sekolah itu seperti membawa anak kecil dengan cuek Bapak itu mengakat bahunya.

Nadia berjalan lurus dengan dibantu Raisa dan benar saja saat memasuki area gang yang dimaksud bapak tadi mata Nadia membulat terkagum saat yang dilihat ialah banyak berjejer rumah mewah.

“Raisa mana rumah kamu?” tanya Nadia dengan bingung.

“Udah Kak Nadia nurut aja.” Lanjut Raisa yang masih setia menggandeng tangan Nadia. Gadis itu merasakan tangan Raisa sangat dingin sambil terus menarik tangannya menuju rumah Raisa.

“Itu rumah aku!!” ujar Raisa antusias. Raisa menunjuk rumah di dominasi warna coklat dan putih dengan gerbang kayu berwarna coklat.

Rumah tersebut menjulang tinggi seperti istana di negeri dongeng, Nadia mendekati rumah itu beruntung di depan ada satpam yang berjaga.

“Neng cari siapa?” tanya satpam itu yang sepertinya sudah paruh baya.

“Oh, saya mau ketemu Pak Darren dan Bu Sinta ada Pak?” ucapnya.

“Ada sebentar ya, Neng.” Satpam tersebut masuk dan tak lama Nadia baru boleh di persilahkan masuk.

 Nadia masuk dengan amat kagum semua tertata dengan sempurna, rumah bergaya perancis yang menjulang megah sungguh beruntung Raisa batin Nadia.

“Kak Nadia ini rumah aku?” ujar Raisa.

“Iya terus kamu mau ngomong apa sama orang tua kamu.” Raisa tersenyum lalu menarik tangan Nadia ke dalam rumah.

Episodes
1 PROLOG
2 Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3 Operasi usus buntu
4 Sebuah ilusi saat koma
5 lucid dream atau pertanda 2
6 Lucid Dream saat koma
7 Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8 BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9 BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10 BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11 Tersadar dari koma
12 BAB 11 : Sarah dan the black robe
13 BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14 BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15 BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16 BAB 15 : Masa lalu Raisa
17 BAB 16 : Masa lalu Raisa
18 BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19 BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20 BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21 Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22 Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23 Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24 Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25 Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26 BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27 BAB 26: Pemantapan Materi
28 BAB 27: Rencana
29 BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30 Ritual Pernikahan
31 Rencana memiliki anak
32 Cinta yang Sulit
33 Hantu Belanda Yang Posesif
34 Teman-teman Hanson
35 Gosip terbaru
36 BAB 35
37 BAB 36
38 BAB 37
39 BAB 38
40 BAB 39
41 BAB 40
42 BAB 41
43 BAB 42
44 BAB 43
45 BAB 44
46 BAB 45
47 BAB 46
48 BAB 47
49 BAB 48
50 BAB 49
51 BAB 50
52 BAB 51
53 BAB 52
54 BAB 53
55 BAB 54
56 BAB 55
57 BAB 56
58 BAB 57
59 BAB 58
60 BAB 59
61 BAB 60
62 akhir
63 EPILOG
64 Extra part
65 Sequel nya
Episodes

Updated 65 Episodes

1
PROLOG
2
Sebuah pertanda dan kehadiran si jubah hitam
3
Operasi usus buntu
4
Sebuah ilusi saat koma
5
lucid dream atau pertanda 2
6
Lucid Dream saat koma
7
Sebuah ilusi sekaligus pertanda
8
BAB 7 : Pertanda yang akan di pertemukan dengan Hanson
9
BAB 8 : Sebuah pertanda akhir sebelum sadar dari koma
10
BAB 9 : Lucid Dream saat koma
11
Tersadar dari koma
12
BAB 11 : Sarah dan the black robe
13
BAB 12 : Pulang dari rumah sakit
14
BAB 13 : Hantu anak kecil yang malang
15
BAB 14 : Hantu anak kecil bernama Raisa
16
BAB 15 : Masa lalu Raisa
17
BAB 16 : Masa lalu Raisa
18
BAB 17 : Akhir kisah hidup Raisa
19
BAB 18 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
20
BAB 19 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
21
Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang
22
Bab 21 : Awal bertemu Hanson di tempat sejarah
23
Bab 22: melepaskan roh dari tubuh
24
Bab 23: rumah yang penuh dengan hantu Belanda
25
Bab 24: Kehidupan tempo doeloe
26
BAB 25: Cowok genit yang bernama Budi
27
BAB 26: Pemantapan Materi
28
BAB 27: Rencana
29
BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg
30
Ritual Pernikahan
31
Rencana memiliki anak
32
Cinta yang Sulit
33
Hantu Belanda Yang Posesif
34
Teman-teman Hanson
35
Gosip terbaru
36
BAB 35
37
BAB 36
38
BAB 37
39
BAB 38
40
BAB 39
41
BAB 40
42
BAB 41
43
BAB 42
44
BAB 43
45
BAB 44
46
BAB 45
47
BAB 46
48
BAB 47
49
BAB 48
50
BAB 49
51
BAB 50
52
BAB 51
53
BAB 52
54
BAB 53
55
BAB 54
56
BAB 55
57
BAB 56
58
BAB 57
59
BAB 58
60
BAB 59
61
BAB 60
62
akhir
63
EPILOG
64
Extra part
65
Sequel nya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!