Besoknya Nadia terbangun jam empat pagi lantaran terlalu Lelah karena si jubah hitam terus datang di alam mimpi maupun di dunia nyata dan sekarang si jubah hitam atau the black robe julukan yang Nadia berikan, ada di hadapannya kali ini ia membawa palu berwarna silver di tangan kiri dan jam waktu kecil di tangan kanan.
Wajahnya di tutupi tudung hitam yang ia kenakan. Nadia terbungkam ia menoleh ke samping kanan melihat Ibunya yang tertidur pulas di atas karpet lantai, seolah Nadia ingin mengeluarkan satu ucapan tapi mulutnya rapat seperti di lem.
“Nadia Sabrina,” setelah mengatakan itu the black robe berubah menjadi kucing berwarna hitam, setelah itu ia menghilang entah kemana.
“Gua pasti kurang tidur. OMG.” Guman Nadia yang mulai meracau tak jelas.
Waktu menujukan pukul delapan pagi Nadia di gantikan pakaiannya dengan kaus dan celana kolor berwarna biru oleh Ibunya, “kalo gini 'kan gak kaya orang penyakitan.” Ucap sang Ibu.
Setelah itu wanita tersebut menyisiri rambut anaknya yang sedang bermain ponsel, tiba-tiba Sarah temannya datang menjenguk bersama Ibunya karena Ayahnya sedang ada tugas dinas.
“Nadia!” ucap Sarah.
“Eh Sarah.” Balas Nadia ramah.
“Gimana keadaan lu?” tanya Sarah, “bekas operasi gua masih sakit.” Ujar Nadia.
Mereka mengobrol bersama di saat waktu yang tepat Nadia memberi isyarat pada Sarah apa masalah sebenarnya yang sedang menimpa dirinya.
Sarah mengaggukan kepala mengerti ia menyentuh tangan kanan Nadia dan mulai mencari tahu masalah yang sedang menimpa Nadia.
Dalam waktu sekejap Sarah tahu apa yang sebenarnya terjadi dari penari, si Jepang, dan jubah hitam.
“Nanti gua kasih tahu lewat chat WA,” Nadia mengangguk paham apa yang dikatakan sahabatnya.
“Eh ngomong-ngomong anak lu pada kemana Pauline ama Hellene.” Ucap Nadia dengan berbisik sedangkan Ibu dari kedua gadis tersebut sedang asyiknya bercakap tanpa peduli dua gadis itu.
Biar sedikit di jelaskan disini kalo sebenarnya Sarah sudah memiliki seorang anak hantu dari hasil hubungannya dengan Hantu Belanda yang bernama Kapten Rudolf johanes van der zind, Sarah menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan suaminya di Surabaya saat diajak sang Ayah untuk ke rumah sang nenek yang memang ada di surabaya.
Besoknya Sarah di ajak berwisata bersama sepupu dan pamannya ke makam peneleh di Surabaya, Sarah yang tak menyadari jika dirinya ketempelan ia hanya merasa lengan kirinya sakit tanpa mau cerita kepada Ayahnya atau kerabatnya. Sarah juga pernah cerita ia di ikuti oleh si jubah hitam sebelum bertemu dengan kapten Rudolf mungkin the black robe membawa pesan.
Sarah juga jarang bercerita karena mengerti keadaan Ibunya yang sibuk sebagai seorang perawat, sedangkan Ayahnya sebagai polisi.
Sarah hanya akan cerita jika kedua orangtuanya berhasil membuatnya terpojok. sama seperti Nadia Sarah juga memiliki kemampuan indigo atau indera keenam dari lahir orangtuanya awalnya juga tak tahu soal ini sama seperti Nadia, soal bagaimana Pauline dan Hellene bisa lahir karena Sarah menjalankan kehidupannya lewat waktu dan dimensi yang berbeda saat ia tidur dan arwahnya di tarik keluar dari raganya dan menjalankan aktivitasnya di waktu lampau atau kolonial.
Sarah belum menceritakan semua ini dengan orangtuanya karena ia tahu kebahagiaannya sudah ia temui karena selama ini Sarah merasa kesepian hanya bersama kKakak dan neneknya saja di rumah saat kedua orang tuanya sedang bekerja, Kakaknya sama sekali tak punya kemampuan indigo hanya Sarah saja.
“Nad, gua pulang nanti gua jelasin semua lewat WA.” Nadi mengagguk sebagai jawabannya, Sarah tersenyum lalu melepaskan gengaman tangan sahabatnya, setelah pamit dengan Nadia dan Ibunya.
“Aku pulang ya Tante, asallamualaiku.” Ucap Sarah setelah Ibunya berpamitan. “walaikumsallam hati-hati,” kata Ibunya Nadia. Sarah dan Ibunya pulang. Nadia senang ia di bawakan makanan favoritnya oleh Sarah.
Nadia belum istirahat hanya memainkan ponselnya padahal sudah jam istirahat seharusnya waktunya ia istirahat karena tak sabar menunggu pesan dari Sarah lewat Whatsaap soal yang ingin ia jelaskan, sudah dua jam menunggu ternyata Sarah belum membalas pesannya Nadia putuskan untuk tidur saja.
Baru juga ia ingin menidurkan dirinya di atas brankar ternyata pnselnya berbunyi menandakan Sarah sudah mengiriminya pesan.
Nadia banyak bicara lewat WA bersama Sarah, dan sahabat dekatnya di sekolah. Sebelum menutup ponselnya Nadia sedikit terkejut dengan pesan yang di jelaskan oleh Sarah lantaran yang ia jelaskan soal the black robe.
Nadia dengan pasrah menaruh ponselnya di nakas samping brankar lalu menidurkan dirinya di atas brankar ia mentap langi-langit kamar sambil menunggu matanya terpejam tak lama ia membuka matanya kembali lantaran di langit-langit ia lihat seorang wanita sedang mengenakan pakaian perawat sedang merangkak di langit atas sontak Nadia berteriak histeris membuat sang Ibu dan pasien di samping dan di depannya yang hanya di batasi tirai gorden yang sedang istirahat ikut terbangun.
Ibunya yang ada di kamar mandi datang menghampirinya. “Kamu kenapa, Nadia?!” Nadia hanya mengeleng sebagai jawabannya, “Kenapa, Neng?” tanya Ibu yang berumur di hadapannya.
“Tahu ini...” Jeda. “Ya udah kamu tidur aja, ini minum dulu obatnya.” Nadia menganggukan kepala sebagai jawabanya. Ibunya meminumkan obat kepada Nadia agar rasa sakit bekas operasinya cepat membaik, sehabis itu Ibunya dengan penuh kasih menyelimuti Nadia, karena efek obat Nadia akhirnya terlelap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments